
Para pembesar istana Kadipaten Paguhan segera menyiapkan semua kebutuhan untuk acara penobatan Adipati Paguhan yang baru.
Mpu Janabajra, Dang Acharya ring Kasaiwan Kadipaten Paguhan membakar dupa dan kemenyan di balai pamujan. Berdoa kepada sang Siwa agar acara penobatan besok berlangsung lancar.
Para brahmana sibuk memercikkan air suci untuk menangkal semua roh jahat yang akan menggangu.
Sedangkan, para perempuan sibuk menyiapkan sesajen dan persembahan untuk acara itu. Di dapur istana, para dayang bahu membahu mengolah daging kerbau yang baru di sembelih para prajurit.
Sedangkan di balai paseban Kadipaten Paguhan, dihias dengan aneka bentuk janur kuning yang menandakan perayaan meriah.
Panji Watugunung berkeliling ke sekitar tempat penobatan Adipati. Dia tersenyum lebar melihat hasil pekerjaan para abdi yang cekatan merangkai bunga dan janur kuning.
Keesokan harinya, saat matahari mulai menyingsing di ufuk timur, suasana sakral dan khidmat tercipta di balai paseban Kadipaten Paguhan.
Hari ini, Lokananta di nobatkan menjadi penguasa Paguhan. Dengan penuh perasaan, Panji Watugunung memakaikan baju kebesaran Adipati dan Mahkota dari emas kepada Lokananta.
Dengan penuh haru, Lokananta duduk di singgasana Adipati Paguhan.
"Lokananta,
Sekarang kau adalah Adipati Paguhan. Ku titipkan rakyat Paguhan kepada mu. Sayangi mereka, seperti kau menyayangi keluarga mu.
Jangan menjadi sombong, jangan menjadi jumawa.
Setia lah kepada Panjalu, dan berbakti lah kepada Daha. Jadikan Gandakusuma sebagai contoh yang salah, agar kau tahu mana yang benar", nasehat bijak Panji Watugunung langsung membuat semua orang yang hadir tersenyum lebar.
Mpu Sukra diangkat menjadi Patih, sedangkan jabatan penasehat Adipati di berikan kepada Mpu Janapati, saudara Mpu Janabajra.
Usai melantik Adipati Lokananta diadakan pesta perayaan besar di istana Kadipaten Paguhan.
Berbagai jenis hiburan dan makanan tersaji di sasana boga. Di luar alun alun dibagikan berbagai jenis kebutuhan pangan kepada rakyat Paguhan yang kurang mampu. Semua orang bersuka cita menyambut kedatangan Adipati baru di istana Kadipaten Paguhan.
Keesokan paginya nya, Panji Watugunung dan pasukan Daha yang berjumlah 4200 prajurit meninggalkan Paguhan. Adipati Lokananta bahkan mengantar mereka sampai di batas kota Kadipaten.
"Seharusnya Gusti Pangeran lebih lama lagi tinggal di Paguhan. Kami akan sangat kehilangan sosok Gusti Pangeran yang seperti raja bijaksana dari Daha", ujar Sang Adipati Paguhan, Lokananta sambil membungkuk hormat.
"Kau sudah menjadi Adipati Paguhan, jangan sebentar sebentar membungkuk kepada ku.
Jaga martabat mu Lokananta", Panji Watugunung tersenyum tipis.
"Hamba patuh dengan nasehat bijak dari Gusti Pangeran.
Maaf hamba hanya bisa mengantarkan Gusti Pangeran sampai disini saja. Mohon berhati-hati dalam perjalanan pulang ke Daha", Adipati Lokananta tersenyum tipis sambil menunduk.
"Terimakasih Lokananta. Aku pamit dulu. Semoga nanti suatu saat kita bisa bertemu lagi", mendengar ucapan Panji Watugunung, Adipati Lokananta segera menyembah kepada Panji Watugunung.
Pasukan Daha dipimpin Panji Watugunung segera menggebrak kuda mereka menuju utara. Adipati Lokananta menatap kepergian mereka sampai menghilang di tikungan jalan.
Pasukan Daha terus bergerak cepat. Setelah melewati Padang Setubanda, mereka menuju Pakuwon Banjar kemudian berbelok ke kanan menuju wilayah Kadipaten Lasem dengan menyusuri jalan di utara sungai Bengawan Solo.
Menjelang senja, mereka berhenti di Pakuwon Kinanti yang terletak di kaki gunung Damalung atau yang disebut juga Gunung Pamrihan. Di ujung selatan Pakuwon Kinanti, terdapat sebuah pertapaan Meruabu yang terkenal dengan para pertapa sakti nya.
Panji Watugunung dan pasukan Daha langsung mendapat sambutan dari Pakuwon Kinanti, setelah Lawana yang mendapat tugas dari Adipati Agnibrata untuk mengawal Panji Watugunung sampai tapal batas wilayah Kalingga, menunjukkan lencana perak bergambar bunga cempaka kepada Akuwu Kinanti, Mpu Ugrasena.
Dengan tergopoh-gopoh, lelaki tua itu menyambut kedatangan Panji Watugunung.
"Selamat datang di Pakuwon Kinanti Gusti Pangeran, hamba Ugrasena memberi hormat", ujar Mpu Ugrasena sambil menyembah.
"Berdirilah Ki Kuwu. Aku yang berterima kasih kepada mu karena memberi tempat bermalam untuk pasukan Daha", jawab Watugunung dengan sopan.
"Gusti Pangeran tidak perlu sungkan. Di bandingkan perjuangan Gusti Pangeran, yang hamba lakukan bukanlah apa apa", Mpu Ugrasena memberi hormat.
Malam itu, Panji Watugunung dan keempat istrinya beristirahat di bangsal peristirahatan tamu Pakuwon Kinanti. Sedangkan para prajurit Daha berkemah di alun alun. Suasana menjadi begitu ramai di istana Pakuwon.
Keriuhan di istana Pakuwon Kinanti, memancing perhatian dari warga sekitar istana. Mereka berbondong-bondong datang ke istana Pakuwon Kinanti hanya untuk melihat para prajurit Daha yang baru saja membasmi pemberontak Paguhan.
Seorang lelaki muda bercaping dengan sedikit dandanan misterius turut mendekat kearah keramaian itu. Dengan dandanan layaknya seorang pendekar, dia mengamati situasi di alun alun. Setelah merasa cukup, dia beringsut mundur dari tempat itu menuju ke tempat dia menambatkan kuda nya.
Segera pemuda bercaping menepuk punggung kudanya dan kuda hitam itu melesat cepat menuju ke selatan. Dia menuju ke sebuah perguruan silat di lereng gunung Pamrihan.
Seorang lelaki tua berpakaian pertapa tampak duduk bersila di hadapan para murid saat si pemuda bercaping itu sampai disana.
"Kau baru dari mana Taranggana?", tanya sang kakek tua berpakaian pertapa itu.
"Maaf Guru, saya baru jalan jalan ke kota Pakuwon Kinanti untuk sekedar melihat keramaian kota", ujar pemuda bercaping yang bernama Taranggana itu segera.
"Hehehehe..
Terus apa yang kau lihat? Bukankah semuanya sama saja?", ujar kakek tua itu sambil tersenyum.
__ADS_1
"Saya melihat keramaian Guru, karena tadi saya dengar pasukan Daha yang baru membasmi pemberontak Paguhan bermalam di istana Pakuwon Kinanti.
Katanya mereka dipimpin oleh seorang pendekar muda yang juga seorang bangsawan Keraton Daha. Tapi saya rasa itu hanya dibesar-besarkan saja Guru, tidak mungkin seorang bangsawan yang biasanya manja akan berilmu tinggi", ujar Taranggana sambil melepaskan capingnya.
"Kau tidak tahu tingginya langit dan dalamnya samudra Taranggana..
Apa kau tidak pernah mendengar nama Prabu Airlangga yang terkenal sakti mandraguna? Dia bangsawan dan juga pendekar tiada tanding di masanya.
Jangan menilai seseorang hanya dari cangkang nya saja. Aku, Resi Wasista, sudah banyak makan asam garam kehidupan", nasehat bijak sang Guru membuat semua orang manggut-manggut. Namun tidak dengan Taranggana, baginya seorang bangsawan hanyalah anak manja yang menjadi terkenal karena kekayaannya, bukan karena kemampuan kanuragan nya.
Sebagai murid utama Perguruan Pedang Awan dari lereng Gunung Merbabu yang disebut juga juga Gunung Pamrihan atau Gunung Damalung, dia merasa tertantang untuk mencoba kemampuan beladiri sang bangsawan.
Maka, malam itu dia mengajak adik seperguruannya Wilapa dan Satrugna untuk menjajal kemampuan kanuragan mereka menghadapi bangsawan Daha yang menjadi pemimpin tertinggi pasukan Daha.
Lepas tengah malam, mereka bertiga diam diam turun gunung kemudian menuju ke kota Pakuwon Kinanti. Menjelang pagi mereka yang baru menambatkan kuda mereka, langsung melompat ke atas tembok istana Pakuwon.
Ludaka yang bertugas jaga malam di samping balai peristirahatan bersama Gumbreg dan Landung, langsung melempar senjata rahasia nya kearah tiga orang itu.
Sringggg sringgg sring!!
"Wilapa, Satrugna awas!", teriak Taranggana yang melihat serangan Ludaka. Tiga orang murid Perguruan Pedang Awan itu langsung berjumpalitan menghindari serangan senjata rahasia.
Ludaka langsung menendang bokong Gumbreg yang ketiduran sambil ngiler.
Bukkkkk
Gumbreg langsung melek saat tubuhnya jatuh dari tempat duduknya.
"Ada apa, ada apa? Mana malingnya?", ujar Gumbreg yang bangun dari tidurnya.
"Maling gundul mu itu.. Buka mata mu tuh, ada 3 tikus hendak cari masalah", Ludaka melotot tajam kearah Gumbreg.
Pria tambun itu segera mengucek matanya, saat melihat 3 orang bercaping itu dia langsung meraih pentung sakti nya.
"Kecoak bunting,
Mau apa kalian kemari ha?", teriak Gumbreg sambil mengacungkan pentungan nya kearah ketiga orang bercaping itu.
"Kami hanya ingin menjajal kemampuan putra bangsawan yang menjadi pemimpin pasukan Daha, tidak ada urusan dengan mu babi gendut", ujar Taranggana ketus.
"Apa kau bilang? Babi gendut?
Berani sekali kau menghina Bekel prajurit Daha.
Pertarungan sengit segera terjadi antara Gumbreg, Ludaka dan Landung melawan tiga orang bercaping.
Panji Watugunung yang mendengar suara ribut-ribut dari luar, segera menyingkirkan tangan Dewi Naganingrum yang sedang memeluknya, kemudian memakai pakaiannya dan bergegas keluar dari kamar tidur nya. Tak lupa dia menyambar Pedang Naga Api.
Di halaman balai peristirahatan Pakuwon Kinanti, Panji Watugunung melihat Gumbreg, Ludaka dan Landung sedang mengadu ilmu dengan tiga orang bercaping.
Tiga orang itu segera melompat mundur, saat melihat Panji Watugunung hadir disana.
"Maafkan kami sudah mengganggu istirahat Gusti Pangeran", ujar Ludaka sambil menghormat.
"Tidak apa-apa Ludaka, kau tenang saja.
Ada apa ini? Kenapa kalian ribut-ribut di pagi buta begini? Dan siapa mereka?", tanya Panji Watugunung segera.
"Hamba tidak tahu Gusti Pangeran, mereka hanya bilang ingin mencoba kehebatan Gusti Pangeran", jawab Ludaka sambil menghormat.
Hemmmm
"Begitu rupanya", ujar Panji Watugunung sambil mengelus hidungnya.
Tak berapa lama kemudian, ratusan prajurit Daha sudah mengepung tempat itu. Mereka hendak menangkap tiga orang bercaping itu, tapi teriakan Panji Watugunung segera menghentikan langkah kaki para prajurit.
"Tahan,
Jangan ada yang berani maju.
Mereka hanya ingin mencoba ilmu. Tidak salah jika di layani.
Saudara ku,
Sebelum dimulai, perkenalkan nama mu lebih dulu", Panji Watugunung menoleh ke arah tiga orang bercaping itu.
Taranggana segera melepas caping nya dan melempar ke tanah.
"Aku Taranggana, murid utama Perguruan Pedang Awan", ujar Taranggana sambil mencabut pedang nya.
__ADS_1
"Pendekar pedang rupanya,
Aku Watugunung, dari Padepokan Padas Putih. Biarkan aku yang melayani permainan pedang mu, Saudara Taranggana", Panji Watugunung lalu berjalan menuju ke Landung dan meminjam pedang Landung.
Mereka langsung memasang kuda-kuda jurus andalan masing-masing.
Taranggana segera meloncat ke udara dan turun sambil menyabetkan pedang nya. Panji Watugunung segera menangkis sabetan pedang Taranggana.
Tranggg..
Ilmu Pedang Awan yang terkenal lincah dan gesit melawan Ilmu Pedang Tanpa Bentuk berlangsung cepat dan menegangkan.
Gumbreg berbisik pelan pada Ludaka yang ada disampingnya.
"Sepertinya orang itu salah pilih lawan ya Lu".
Ludaka langsung menoleh ke arah Gumbreg.
"Benar Mbreg, menantang Gusti Pangeran Panji dalam ilmu pedang sama dengan cari mati", jawab Ludaka sambil tersenyum tipis menyaksikan pertandingan itu.
Taranggana mengayunkan pedangnya mengincar leher Panji Watugunung, namun Pangeran Daha itu dengan cepat mundur selangkah, kemudian menyabetkan pedang kearah kaki Taranggana.
Wheettttt
Taranggana segera meloncat ke udara menghindari sabetan pedang Panji Watugunung sambil mengayunkan pedangnya ke arah dada lawannya.
Sreeetttttt
Panji Watugunung berkelit menghindari sabetan pedang Taranggana, kemudian dia menjejak tanah dengan keras lalu melesat ke arah Taranggana yang baru menjejak tanah sambil menyabetkan pedang nya.
Taranggana yang gelagapan akibat sabetan pedang Panji Watugunung berusaha untuk menangkis.
Tringgg..
Namun Panji Watugunung segera melayangkan pukulan tangan kiri kearah dada lawannya. Taranggana segera menyongsong pukulan itu dengan tapak tangan kiri nya.
Blammmm!!
Taranggana terpental ke belakang. Saat tubuhnya hendak membentur tanah, sekelebat bayangan langsung menangkap tubuh Taranggana yang terluka dalam.
Rupanya itu adalah Resi Wasista. Laki laki tua itu segera segera menotok aliran darah Taranggana yang sudah batuk batuk yang mengeluarkan darah segar. Perlahan Resi Wasista menyalurkan tenaga dalam nya kepada Taranggana yang pucat wajah nya.
Perlahan wajah Taranggana berangsur memerah. Resi Wasista nampak lega. Pria berpakaian pertapa itu langsung tersenyum dan berdiri kemudian berjalan menuju ke arah Panji Watugunung. Dia membungkuk hormat kepada sang pangeran Daha.
"Mohon maafkan murid saya, pendekar muda"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁😁
__ADS_1
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit, ❤️ dan komentar 🗣️ nya
Selamat membaca kak 😁😁