
Panji Watugunung segera merapal mantra Ajian Sepi Angin nya. Saat sabetan pedang pusaka dari Senopati Socawarma hampir mengenai lehernya, dengan cepat dia mundur selangkah.
Sabetan pedang hanya dua ruas jari di depan leher.
Secepat kilat, Panji Watugunung segera melesakkan pukulan keras ke perut Senopati Socawarma.
Pemimpin pasukan Jenggala itu langsung memapas pukulan dengan tapak tangan kiri nya.
Blarr!!
Ledakan keras terdengar dari benturan dua serangan tangan kosong. Keduanya mundur dua langkah ke belakang.
"Sebelum ku cabut nyawa mu, terakhir kali aku peringatkan..
Menyerahlah anak muda..
Perlawanan mu hanya sia-sia saja", ujar Senopati Socawarma jumawa.
"Kakek tua renta,
Sudah bau tanah tapi masih tetap sombong. Jangan kau pikir karena kau punya Ajian Suryapati, maka aku akan takut padamu..
Phuihhh
Majulah, jangan banyak bicara", Panji Watugunung mulai gusar.
"Darimana kau tau aku punya Ajian Suryapati, setan cilik??", Senopati Socawarma langsung terkejut saat mendengar ucapan Panji Watugunung.
"Paman Guru ku, Mpu Wanabaya dari Padas Putih juga punya ilmu itu", Panji Watugunung tersenyum tipis.
Senopati Socawarma langsung terkaget mendengar ucapan Panji Watugunung. Gurunya, Mpu Dharma, mengatakan bahwa kakak seperguruannya yang bernama Resi Bagaspati mendirikan sebuah padepokan bernama Padas Putih di lereng Gunung Penanggungan. Kalau benar demikian, berarti asal mula ilmu mereka berasal dari orang yang sama.
Ajian Tapak Dewa Api merupakan penyempurnaan dari Ajian Suryapati. Ajian Suryapati merupakan ilmu yang diciptakan Maharesi Suryapati dari Poh Pitu, guru dari Resi Bagaspati dan Mpu Dharma. Maka saat berbenturan tadi, Ajian Suryapati kalah dari Ajian Tapak Dewa Api, yang merupakan tahap lanjutan dari Ajian Suryapati.
Senopati Socawarma mengutuk dalam hati.
Sekar Mayang langsung menerjang maju ke arah pasukan Jenggala. Selendang Es nya langsung mencabut nyawa seseorang prajurit Jenggala yang sial.
Dewi Srimpi pun tak kalah. Selir termuda Panji Watugunung langsung melesat cepat menuju medan perang. Jarum beracun nya langsung di lemparkan begitu dia maju. Tiga prajurit Jenggala langsung tewas keracunan.
Di sisi lain, Ratna Pitaloka yang mengamuk di sayap kanan kagapati benar benar membuat prajurit Jenggala tak berdaya.
Sekali gebrak pasti akan ada nyawa prajurit Daha yang melayang.
Melihat seorang wanita cantik bertarung dengan gagah berani, Demung Sadana dari Singhapura melesat cepat menghadang.
"Wanita cantik, hentikan sepak terjang mu!", teriak sang Demung muda itu segera.
Crashhhh
Kepala seorang prajurit Jenggala menggelinding ke tanah. Ratna Pitaloka segera menoleh ke arah suara.
Si pemilik suara, Demung Sadana tersenyum mesum.
"Siapa kau??
Apa urusannya dengan mu?", Ratna Pitaloka menatap tajam kearah Demung Sadana.
"Aku Sadana, Demung dari Singhapura. Hentikan pembantaian yang kau lakukan. Lalu ikut aku ke Singhapura.
Kupastikan hidupmu bahagia", jawab Demung Sadana sambil tersenyum menggoda.
Cihhhhh
"Baru menjabat Demung saja sudah berani menggoda istri orang.
Apa kau sudah pengen mati?", Ratna Pitaloka mulai geram.
"Hahahaha cantik cantik tapi galak..
Aku suka yang seperti ini. Ayo maju kesini wanita cantik, akan kubawa kau terbang ke surga", Demung Sadana mengedipkan sebelah matanya.
"Baik, ku kabulkan keinginan mu. Akan kuantar kau ke neraka".
Usai berkata, Ratna Pitaloka segera mencabut Pedang Bulan Kembar yang sebelah kiri. Lalu setelah menjejak tanah dengan keras, tubuh ramping Ratna Pitaloka melenting tinggi ke udara, lalu melesat turun ke arah Demung Sadana.
Sabetan Pedang Bulan Kembar mengincar leher dan bahu Demung Sadana.
Sreeetttttt,,
Demung muda itu langsung menangkis sabetan pedang Ratna Pitaloka dengan golok besarnya.
Tranggg..
Begitu menjejak tanah, pedang di tangan kiri Ratna Pitaloka segera berputar arah dan menusuk ke arah perut lawan.
Demung Sadana mundur dua langkah, kemudian memutar tubuhnya sambil mengayunkan golok nya ke arah kaki Ratna Pitaloka.
Srett..
Selir tertua Panji Watugunung itu segera melompat ke udara dan dengan cepat melayangkan tendangan ke arah bahu kiri sang Demung.
Bukkkkk
__ADS_1
Demung Sadana terjengkang ke belakang. Ratna Pitaloka segera melompat mundur dua tombak ke belakang. Wajah cantik nya menyunggingkan senyuman mengejek.
Demung Sadana merasakan bahunya sakit, segera berdiri.
"Bangsat!!
Akan ku cincang tubuh mu perempuan laknat", teriak Demung Sadana geram. Bahunya seperti ketiban batu besar.
"Coba saja kalau mampu", ejek Ratna Pitaloka.
Mendapat ejekan dari Ratna Pitaloka, Demung Sadana marah besar. Dia segera melesat ke arah Ratna Pitaloka sambil menyabetkan golok besarnya.
Pertarungan sengit segera terjadi di antara mereka. Ratna Pitaloka yang baru merapal Ajian Sepi Angin nya bergerak lincah menghindari setiap sabetan senjata Demung Sadana sambil sesekali melayangkan serangan. Terlihat seperti kucing mempermainkan tikus.
20 jurus sudah berlalu. Nafas Demung Sadana sudah terengah-engah akibat lamanya pertarungan dan juga tenaga dalam yang terkuras.
Melihat lawan sudah mulai melemah, Ratna Pitaloka segera menyarungkan kembali pedang di tangan kiri nya.
Demung Sadana kembali melesat cepat sambil membabatkan golok besarnya ke arah leher Ratna Pitaloka.
Selir Panji Watugunung segera menyongsong dengan pedang di tangan kanan nya.
Trangggg...
Saat benturan senjata terjadi, tangan kiri Ratna Pitaloka yang sudah berwarna merah menyala akibat Ajian Tapak Dewa Api menerabas kearah dada lawannya. Demung Sadana yang masih bisa melihat serangan dari Ratna Pitaloka segera memukul tapak tangan kiri Ratna Pitaloka.
Blammmm!!!
Ratna Pitaloka dan Demung Sadana sama sama terdorong mundur beberapa langkah akibat benturan ajian andalan mereka masing-masing.
Tangan kiri Ratna Pitaloka terasa kebas, sedang Demung Sadana tangannya gosong. Demung muda itu menjerit kesakitan. Ratna Pitaloka segera melesat cepat menuju ke arah Demung Sadana, lalu dengan gerakan memutar, Pedang Bulan Kembar nya menebas leher lawan.
Crashhhh
Kepala Demung Sadana terpisah dari badan nya. Badan itu ambruk dan bersimbah darah. Ratna Pitaloka segera menendang kepala itu dengan keras. Kepala melayang menghantam seorang prajurit Jenggala.
Bukkkkk
Si prajurit naas langsung pingsan akibat kerasnya tendangan Ratna Pitaloka pada kepala Demung Sadana yang telak menghajar dada nya.
Pasukan Daha terus bertarung dengan gagah berani. Beberapa perwira Daha, seperti Bekel Majaya dan Tumenggung Surontanu gugur sebagai pahlawan.
Panji Watugunung langsung merapalkan Ajian Tameng Waja saat Senopati Socawarma melompat ke udara dan sinar merah kebiruan menerabas cepat kearah nya.
Siuuuttttt..
Blammmm..
Ledakan keras terdengar saat sinar merah kebiruan menghajar tubuh Panji Watugunung. Senopati Socawarma langsung menyeringai lebar melihat serangan nya telak menghantam Panji Watugunung.
Seringai Socawarma langsung menghilang saat asap mulai menghilang. Bibir Panji Watugunung hanya tersenyum tipis. Sinar kuning keemasan dari Ajian Tameng Waja melindungi tubuh Panji Watugunung dengan sempurna.
Senopati Socawarma segera mencabut pedang nya lagi. Kali ini dia akan mencoba bertarung dari jarak dekat.
Lelaki tua itu segera menerjang kearah Panji Watugunung sambil mengayunkan pedangnya mengincar dada.
Panji Watugunung hanya berkelit mundur selangkah, kemudian tangan kiri nya langsung memukul maju.
Sreeetttttt..
Angin panas yang mengikuti sinar merah menyala dari Ajian Tapak Dewa Api menerabas cepat kearah Senopati Socawarma.
Kakek tua itu buru buru menjatuhkan tubuhnya untuk menghindari lalu berguling ke tanah agak jauh.
Panji Watugunung segera mencabut Pedang Naga Api nya. Hawa panas seketika menyelimuti seluruh tempat itu. Para prajurit yang bertenaga dalam rendah memilih menjauh.
Senopati Socawarma melotot melihat pedang pusaka di tangan Panji Watugunung. Dia sadar akan bahaya yang mengancam nyawanya.
"Apa boleh buat, akan kubawa kau mati bersama ku", teriak Senopati Socawarma.
Senopati Socawarma langsung bersila sambil merapal Ajian Dewandaru. Ajian terlarang yang hanya bisa digunakan sekali. Karna setelah dipakai, tubuh sang pengguna akan meledak seketika.
Perlahan tubuh Senopati Socawarma berubah warna menjadi biru. Matanya berubah merah seperti darah. Perlahan dia bangkit dari duduknya dan menatap ke arah Panji Watugunung layaknya seorang iblis dari neraka.
Panji Watugunung segera merapal mantra Ajian Waringin Sungsang. Tubuhnya yang sudah di lapisi sinar kuning keemasan kini bertambah dengan sinar hijau kebiruan.
Senopati Socawarma langsung melesat cepat menuju ke arah Panji Watugunung dan menyabetkan pedang nya. Panji Watugunung menangkis sabetan pedang itu dengan Pedang Naga Api nya.
Tranggg
Traakkk
Pedang Senopati Socawarma langsung hancur berkeping-keping saat berbenturan dengan Pedang Naga Api.
Seketika Senopati Socawarma mencabut keris dari pinggang dan bermaksud menusuk perut Panji Watugunung.
Tingggg!!!
Senopati Socawarma kaget melihat keris pusaka nya tidak bisa menembus kulit Panji Watugunung.
Tangan kiri Watugunung langsung menangkap tangan kiri Senopati Socawarma. Selanjutnya sinar hijau kebiruan mulai menyedot daya hidup sang pemimpin pasukan Jenggala.
Rasa sakit yang meremukkan tulang dan otot langsung dirasakan Senopati Socawarma.
__ADS_1
Arrgghhhh!!
Jerit Senopati Socawarma segera. Perlahan tubuhnya mengering dan menghitam akibat daya hidup nya di sedot Ajian Waringin Sungsang.
Panji Watugunung lalu melempar tubuh kurus itu ke udara dan menebas pinggang nya dengan Pedang Naga Api.
Crashhhh
Dhuarrrr!!!
Tubuh Senopati Socawarma langsung meledak dan terbakar. Sementara Panji Watugunung terdorong mundur beberapa langkah akibat ledakan dahsyat itu.
Melihat pemimpin mereka tewas terbunuh, nyali para prajurit Jenggala langsung ciut. Tumenggung Larantapa, satu-satunya perwira tinggi Jenggala yang masih hidup segera melompat mundur dari pertarungan nya dengan Tumenggung Sancaka.
Tumenggung itu menatap pasukan Jenggala yang tinggal sekitar 2500 prajurit.
"Mundur, kita mundur!!", teriak Tumenggung Larantapa dengan keras.
Terompet tanduk kerbau berbunyi nyaring dua kali. Bende pasukan Jenggala di pukul bertalu-talu.
Pasukan Jenggala segera berlari menuju ke seberang Kali Aksa. Mereka berusaha meninggalkan medan tempur secepat mungkin.
Pasukan Daha bermaksud untuk mengejar mereka, tapi teriakan keras Panji Watugunung segera menghentikan langkah mereka.
"Tahan, jangan dikejar!!".
Senopati Narapraja segera mendekati Panji Watugunung.
"Kenapa tidak kita kejar Gusti Pangeran?", tanya Senopati Narapraja penasaran.
"Karena pasukan kita hanya untuk bertahan, bukan untuk menaklukkan wilayah Jenggala", jawab Panji Watugunung segera.
Senopati Narapraja segera memahami maksud ucapan Panji Watugunung.
Sang putra Bupati Gelang-gelang itu menatap ribuan mayat prajurit Jenggala dan Panjalu yang bergelimpangan dimana-mana.
Hatinya begitu sedih melihat kekejaman perang.
Senopati Narapraja segera memerintahkan kepada seluruh prajurit untuk mengumpulkan mayat-mayat yang ada disana dan membakarnya.
Tumenggung Surontanu dari Wengker, Tumenggung Juru dari Karang Anom, Bekel Majaya, dan Bekel Rukma dari Kurawan gugur sebagai pahlawan Jenggala.
Tumenggung Adiguna, luka serius.
Tumenggung Bayucandra, Marakeh, Jarasanda, Ludaka, Gumbreg , Tumenggung Koncar dan Tumenggung Ringkasamba luka ringan.
Hanya Tumenggung Setyaka, Tumenggung Wiguna, Tumenggung Gati, Ki Saketi, Warigalit, Panji Watugunung dan ketiga selir nya yang masih baik baik saja.
2500 prajurit Daha gugur, 300 prajurit luka serius, 200 prajurit luka ringan.
Perang di Kali Aksa tercatat sebagai perang awal antara Jenggala dan Panjalu paling awal dengan korban tewas lebih dari 10 ribu prajurit.
Menjelang sore, Panji Watugunung dan ketiga selir nya berkuda pelan menuju ke istana Pakuwon Bedander. Rasa lelah menyergap tubuh mereka setelah bertempur seharian.
Sesampainya di istana Pakuwon Bedander, Ayu Galuh yang sudah menerima berita kemenangan Panji Watugunung menyambut kedatangan suami nya. Sindupati sang Akuwu juga hadir di sana.
"Selamat atas kemenangan mu Kangmas, aku bahagia sekali", Ayu Galuh segera melompat dan memeluk tubuh Panji Watugunung.
Dia tidak peduli meski ada banyak orang yang mengiringi langkah suaminya.
Tiga selir Panji Watugunung mendelik tajam kearah Ayu Galuh.
Mereka segera membersihkan diri dan berganti pakaian.
Panji Watugunung duduk di serambi peristirahatan Pakuwon Bedander di kelilingi oleh keempat istrinya.
"Apa langkah kita selanjutnya Kangmas"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author mengucapkan beribu terima kasih atas dukungannya kakak reader tersayang semuanya pada cerita perjalanan Kang Panji ini yak 👍👍👍
__ADS_1
Lophe pul deh ❤️❤️❤️
Selamat membaca 😁😁