Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Tuduhan


__ADS_3

Rombongan orang orang Panjalu terus menggebrak kudanya menuju menuju ke arah Kota Kadipaten Singhapura. Usai meninggalkan hutan kecil tempat mereka membantai para perampok Alas Peteng, mereka melewati setidaknya 3 wanua besar sebelum sampai di kota Kadipaten Singhapura.


Saat memasuki tapal batas kota Kadipaten Singhapura, matahari telah sepenggal naik di langit timur hampir diatas kepala.


Di depan sebuah rumah makan agak sepi, Panji Watugunung menarik tali kekang kudanya.


Hiiiieeeekkkkkhhh..


Kuda hitam itu langsung menghentikan larinya. Para anggota rombongan itu pun ikut menarik tali kekang kuda masing-masing.


"Ada apa Kakang? Kenapa berhenti disini?", tanya Dewi Srimpi sembari berbisik pada Panji Watugunung.


"Aku lapar Dinda Srimpi..


Ayo kita cari makan dulu", ajak Panji Watugunung yang segera melompat turun dari punggung kudanya. Semua orang di rombongan itu segera mengikuti langkah Panji Watugunung.


Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Landung yang berpakaian pejabat istana langsung mendahului melangkah menuju ke dalam warung makan itu.


Panji Watugunung yang memakai pakaian prajurit Panjalu mengekor di belakang mereka bersama Dewi Srimpi dan Cempluk Rara Sunti. Mereka menjalankan peran itu dengan hati-hati agar tidak ketahuan oleh telik sandi maupun orang orang Kadipaten Singhapura.


Seorang pelayan warung makan segera menyambut kedatangan mereka dengan ramah. Melihat pakaian mewah juga perhiasan emas yang menandakan bahwa yang datang adalah bangsawan membuat mereka sangat gembira.


"Selamat datang di warung makan kami, Ndoro Bangsawan..


Mari saya antar ke meja terbaik untuk Ndoro Bangsawan berdua", ujar si pelayan warung makan itu dengan penuh sopan santun.


Tumenggung Ludaka melirik ke arah Panji Watugunung, namun satu isyarat dari Raja Panjalu itu membuat Tumenggung Ludaka menghembuskan nafas panjang sebelum menjawab.


Hemmmmmm..


"Jangan hanya ramah kepada ku, tapi juga orang orang ku. Mereka berhak untuk mendapatkan pelayanan yang sama.


Berikan kami makanan paling enak di tempat ini kepada semua orang orang ku. Masalah harga kau tak perlu khawatir. Kantong ku masih cukup tebal", jawab Tumenggung Ludaka sambil menatap ke sekeliling ruangan itu. Rombongan itu langsung mencari tempat duduk sesuai dengan keinginan masing-masing. Panji Watugunung memilih meja makan yang ada di sudut ruangan bersama Cempluk Rara Sunti dan Dewi Srimpi.


Mendengar ucapan itu sang pelayan langsung tersenyum lebar.


"Tentu saja Ndoro Bangsawan tentu..


Ndoro Bangsawan sangat benar memilih tempat kami untuk bersantap. Mohon tunggu sebentar, biarkan kami menyiapkan hidangan enak untuk Ndoro Bangsawan..


Saya permisi dulu ke belakang", ujar sang pelayan warung makan itu sambil berlalu menuju ke arah dapur.


Dua orang yang makan di dekat pintu keluar langsung menyelesaikan makan nya. Sikap mereka yang terburu-buru membuat Panji Watugunung mengernyitkan dahi nya.


'Ada yang tidak beres dengan dua orang itu', batin Panji Watugunung.


Tak berapa lama kemudian sang pelayan warung makan datang membawa pelbagai jenis hidangan yang merupakan makanan khas daerah Kadipaten Singhapura. Di temani oleh 2 orang kawannya, si pelayan warung makan itu segera menghidangkan makanan pada Panji Watugunung dan para pengikutnya.


Panji Watugunung sendiri memilih ikan bakar dengan sambal segar di tambah nasi putih sebagai sarapan nya pagi ini. Para anggota rombongan itu makan dengan lahap.


Saat mereka hampir menyelesaikan makan pagi nya, dari arah pintu warung makan muncul beberapa orang berpakaian layaknya para prajurit dan perwira. Sepertinya mereka adalah orang-orang Kadipaten Singhapura melihat dari pakaian mereka yang berwarna merah tua.


Seorang lelaki bertubuh gempal dengan kumis tebal menatap ke arah rombongan Panji Watugunung. Dia menatap ke arah Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Landung yang memakai pakaian para perwira tinggi prajurit Panjalu.


"Hai kau orang berpakaian bagus,


Siapa kalian dan mau apa di tempat ini?", tanya si pria bertubuh gempal yang sepertinya adalah perwira menengah prajurit Kadipaten Singhapura pada Tumenggung Ludaka yang tengah menikmati ayam panggang kesukaan nya.


Si pelayan warung makan yang mendengar suara lantang si pria bertubuh gempal langsung berlari mendekati lelaki itu.


"Mohon ampun Gusti Juru Gandapati. Apa ada yang bisa hamba bantu?


Mohon maaf para tamu saya baru saja makan. Mohon Gusti Juru tidak menggangu kenyamanan mereka", ujar si pelayan warung makan itu dengan ketakutan.


"Tutup mulut mu, Jembung...


Aku tidak punya urusan dengan mu. Ada orang yang melapor pada ku bahwa ada orang asing yang di curigai sebagai mata-mata Tanah Perdikan Lodaya.


Sekarang kau minggir sana", hardik pria gempal yang bernama Gandapati itu dengan keras. Perwira menengah ini berpangkat Juru, setingkat di atas Bekel namun masih di bawah Demung.


Si pelayan warung makan yang di panggil Jembung itu langsung minggir sebab dia tahu watak Gandapati seperti apa.


Tumenggung Ludaka segera meletakkan tulang ayam panggang ke piring lalu berdiri tegak sebelum menoleh ke arah Juru Gandapati.


"Apa seperti ini cara orang orang Kadipaten Singhapura bertanya kepada orang asing dengan menuduh sebagai mata-mata?


Kau berani sekali bertindak lancang pada utusan Raja Panjalu", ucap Tumenggung Ludaka sambil menatap tajam ke arah Juru Gandapati.


Mendengar ucapan itu, Juru Gandapati sedikit terkejut. Lalu dia segera berteriak lantang.


"Apa buktinya kalau kau adalah utusan dari Kerajaan Panjalu? Jangan berani berpura-pura di depan ku", ujar Juru Gandapati sambil menatap tajam ke arah Tumenggung Ludaka.


"Kau ingin bukti? Kau ini siapa? Apa kau Adipati Singhapura?


Ya baiklah,


Kalau kau ingin bukti bahwa aku utusan dari kerajaan Panjalu, buka mata mu lebar dan lihat lencana ini", Tumenggung Ludaka segera merogoh kantong baju nya dan mengeluarkan lencana perak bergambar burung garuda. Lalu mengangkatnya ke depan wajah Juru Gandapati.


Juru Gandapati melotot lebar sebentar melihat lencana perak bergambar burung garuda itu. Dia yang tak ingin kehilangan kewibawaan nya di depan para prajurit nya karena salah tanya orang akibat laporan dua orang tadi, segera berdalih.


"Apa itu asli? Jangan jangan itu palsu..


Aku curiga kau adalah mata-mata yang di kirim oleh Tanah Perdikan Lodaya untuk mencari tahu kekuatan pasukan Kadipaten Singhapura", Juru Gandapati tetap memaksakan kehendaknya.


"Asli atau palsu, biar Adipati Singhapura sendiri yang memastikan.

__ADS_1


Keroco seperti mu tidak berhak menilai utusan dari kerajaan Panjalu", Tumenggung Ludaka yang sudah geram sedari awal sudah tidak bisa menahan diri lagi.


"Kurang ajar!


Kau berani menghina perwira prajurit Kadipaten Singhapura? Kau sungguh bernyali besar", ujar Juru Gandapati sambil bersiap memberi perintah kepada para prajurit bawahannya.


Jembung, sang pelayan warung makan langsung berlutut kepada Juru Gandapati.


"Gusti Juru,


Hamba mohon untuk tidak membuat keributan di warung makan ini. Kalau sampai tempat ini hancur, anak istri hamba mau makan apa?


Hamba mohon Gusti Juru", ujar Jembung dengan penuh harap. Mendengar permohonan Jembung, Juru Gandapati sedikit pun tak bergeming. Malah dengan cepat dia menendang dada Jembung dengan keras.


Bhuuukkkhhh..


Auuuggghhhhh!!


Tubuh Jembung melayang ke belakang dan menabrak meja makan di belakangnya. Meja makan langsung hancur dan Jembung langsung muntah darah segar kemudian pingsan.


"Para prajurit Kadipaten Singhapura,


Sekarang tangkap mata-mata ini. Jangan sampai mereka lolos", teriak Juru Gandapati yang membuat para prajurit Kadipaten Singhapura dengan cepat menyerbu masuk ke dalam warung makan.


Seorang prajurit bertubuh besar segera menerjang ke arah Tumenggung Ludaka sambil mengayunkan pedangnya.


Shreeeeettttthhh..


Perwira tinggi prajurit Panjalu itu dengan tenang menggeser tubuhnya sedikit lalu memutar tubuhnya dan dengan cepat menendang punggung prajurit itu sekeras mungkin.


Dhhheeeppppphhh..


Si prajurit bertubuh besar itu langsung terjungkal ke depan dan menubruk meja makan. Membuat meja makan warung itu langsung hancur berantakan.


Pertarungan antara prajurit Panjalu dan orang orang Singhapura berlangsung sengit. Namun karena para pengawal pribadi Raja yang menyamar itu berilmu beladiri di atas rata-rata, satu persatu prajurit Kadipaten Singhapura mulai dilumpuhkan.


Seorang prajurit Kadipaten Singhapura menghambur ke arah Panji Watugunung sambil membacokkan pedang nya. Namun Dewi Srimpi dengan cepat melesat serta menyikut perut si prajurit bertubuh kerempeng itu.


Dheesssshhh..


Mulut si prajurit itu langsung menganga karena tak melihat serangan cepat kearah nya. Panji Watugunung dengan jahilnya menjejalkan kepala ikan bakar ke mulut si prajurit yang menganga merasakan sakit pada perut nya.


Hephhhhh!


Cempluk Rara Sunti menggunakan kursi kayu tempat duduknya sebagai tumpuan lalu melayangkan tendangan keras pada kepala si prajurit kerempeng itu dengan keras.


Bhhhuuuuuuggggh...


Si prajurit bertubuh kerempeng itu langsung melayang dan menabrak temannya yang hendak ikut menyerang. Mereka berdua seketika terjatuh ke lantai warung makan dengan keras.


Tumenggung Landung yang menghadapi dua prajurit Kadipaten Singhapura menggunakan sarung pedang nya sebagai senjata melawan mereka. Dua orang prajurit Kadipaten Singhapura bersamaan membacokkan pedang mereka kearah Tumenggung Landung.


Thrrraaaakkkk...


Tangan kiri nya yang sudah di lambari tenaga dalam tingkat tinggi langsung menghantam perut kedua prajurit itu dengan keras.


Bhuukk bhhhuuukkkkkhhh!!


Ooouuugggghhhhh!!


Dua orang prajurit itu langsung terpental keluar dari warung makan usai menabrak jendela dari kayu. Tubuh mereka menghantam tanah halaman warung makan dengan keras.


Keributan di warung makan itu memantik laporan seorang warga pada prajurit penjaga gerbang istana Kadipaten Singhapura.


Juru Gandapati yang melihat anak buah nya berjatuhan di hajar para pengawal pribadi Panji Watugunung langsung naik pitam.


Laki laki bertubuh gempal itu segera mencabut pedangnya dan melesat cepat kearah Tumenggung Ludaka. Ayunan pedang tajam dari Juru Gandapati mengincar leher orang yang dia tuduh sebagai mata-mata Tanah Perdikan Lodaya itu.


Whuuussshh..


Tumenggung Ludaka berkelit menghindari tebasan pedang Juru Gandapati sambil merunduk. Melihat serangan nya mentah, Juru Gandapati kembali mengayunkan pedangnya kearah kaki perwira Panjalu itu secepat mungkin.


Dengan mengangkat satu kaki, Tumenggung Ludaka menghindari sabetan pedang Juru Gandapati. Lalu kaki yang terangkat dengan cepat menginjak bilah pedang yang menancap di lantai warung makan. Secepat kilat Tumenggung Ludaka mengayunkan dengkul kaki kanan nya ke arah dada Juru Gandapati.


Dhiiieeeessshh..


Aaauuuuggggghhhhh!!


Juru Gandapati langsung meraung keras saat dengkul kaki kanan Tumben Ludaka telak menghajarnya dada nya. Tubuh besarnya terpental dan menyusruk lantai warung makan hingga ke depan pintu.


Juru Gandapati meremas dadanya yang sakit seperti mau pecah. Nafas nya sesak dan seteguk darah segar mengalir dari sudut bibirnya.


Segera dia bangkit bersiap untuk menyerang lagi namun sebuah teriakan keras membuatnya menoleh.


"Gandapati!


Apa yang sedang kau lakukan?!", teriak seorang lelaki bertubuh kekar dengan jambang lebat dan kumis tebal. Rambutnya yang gondrong dengan hidung yang sedikit mendongak membuat muka orang itu mirip dengan singa. Dia adalah Senopati Ragasingha, pucuk pimpinan prajurit Kadipaten Singhapura.


Dia segera datang ke tempat itu usai mendapatkan laporan dari prajurit penjaga gerbang istana tentang keributan di warung makan karena serbuan Juru Gandapati.


Melihat kedatangan Senopati Ragasingha, Juru Gandapati segera menghormat pada perwira tinggi prajurit Singhapura itu. Para prajurit Singhapura yang bertarung pun langsung menghentikan gerakannya.


"Mohon ampun Gusti Senopati,


Hamba berniat untuk menangkap mereka. Hamba curiga mereka adalah mata-mata Tanah Perdikan Lodaya Gusti", ucap Juru Gandapati sambil menunduk hormat.

__ADS_1


Hemmmmmmm


"Apa kau punya bukti mereka itu mata-mata seperti yang kau bilang?", tanya Senopati Ragasingha sambil menatap tajam ke arah Juru Gandapati. Dia sudah hapal betul kelakuan bawahannya yang satu ini.


"Eh itu..


Ya mereka membawa lencana perak bergambar burung garuda Gusti Senopati dan mengaku sebagai utusan dari Kerajaan Panjalu.


Itu jelas tidak mungkin bukan Kerajaan Panjalu mengutus seorang un...."


Belum sempat Juru Gandapati menyelesaikan omongannya, Senopati Ragasingha langsung melayangkan tamparan keras ke pipi kirinya.


Plllaaakkkkk!!!


Juru Gandapati langsung terhuyung huyung mundur akibat kerasnya tamparan Senopati Ragasingha.


"Dasar bodoh!


Kau ingin pasukan Panjalu menyerbu kemari ha? Otak mu kau taruh dimana? Bagaimana kalau Prabu Jayengrana tersinggung dengan ulah mu ini?


Lencana perak bergambar burung garuda itu lambang resmi Kerajaan Panjalu tolol. Dasar tidak berguna", umpat Senopati Ragasingha yang membuat Juru Gandapati langsung pucat seketika. Dia tidak menyangka bahwa kebodohannya ini bisa berakibat fatal bagi Kadipaten Singhapura.


Senopati Ragasingha sambil mendekati Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Landung.


"Mohon maafkan kebodohan bawahan ku Kisanak. Ke depannya dia akan ku ajari dengan baik.


Apakah kisanak berdua adalah utusan dari Kerajaan Panjalu?", tanya Senopati Ragasingha dengan santun.


Tumenggung Ludaka tak langsung menjawab pertanyaan Senopati Ragasingha melainkan kembali merogoh kantong baju nya dan mengulurkan lencana perak bergambar burung garuda itu pada Senopati Ragasingha.


Pucuk pimpinan prajurit Kadipaten Singhapura itu langsung tahu bahwa itu adalah lencana asli dari Kerajaan Panjalu. Segera dia mengulurkan lencana perak itu kepada Tumenggung Ludaka.


"Sekali lagi mohon maafkan kebodohan bawahan saya, wahai utusan dari kerajaan Panjalu.


Kalau boleh tau, apa tujuan kalian kemari?", tanya Senopati Ragasingha dengan sopan.


"Aku diutus oleh Gusti Prabu Jayengrana untuk menyampaikan surat kepada Adipati Singhapura", jawab Tumenggung Ludaka yang melirik ke arah Panji Watugunung yang sedari tadi hanya diam di sudut ruangan warung makan. Anggukan kepala halus dari Sang Maharaja Panjalu itu langsung membuat Tumenggung Ludaka menjawab pertanyaan Senopati Ragasingha.


"Kalau begitu, mari aku antar wahai Utusan Kerajaan Panjalu. Gusti Adipati Damar Galih pasti senang dengan kedatangan kalian", ujar Senopati Ragasingha dengan ramah. Pimpinan prajurit Kadipaten Singhapura itu yakin, pasti Adipati Damar Galih akan memanfaatkan ini untuk meminta penghentian perdagangan antara Kadipaten Singhapura dengan wilayah Panjalu bisa di batalkan oleh Maharaja Jayengrana agar roda perdagangan di Kadipaten Singhapura bisa pulih seperti sedia kala.


"Baik,


Aku bersedia meneruskan tugas dari Gusti Prabu Jayengrana untuk ke Istana Singhapura. Tapi aku tidak mau dia ikut mengawal ku ke istana, dan dia harus bertanggung jawab atas kerusakan warung makan ini.


Kalau dia tidak mau, lebih baik aku pulang ke Kadiri dan melaporkan kejadian ini pada Gusti Prabu Jayengrana.


Kau tahu sendiri akibatnya seperti apa kan kisanak?", ujar Tumenggung Ludaka yang tegas namun penuh ancaman.


"Aku Senopati Ragasingha berjanji akan memastikan bahwa anak buah ku ini melakukan permintaan kisanak. Mari kita berangkat ke istana Singhapura.


Dan kau Gandapati,


Jangan injak istana Singhapura jika kau belum memperbaiki tempat ini", Senopati Ragasingha menoleh ke arah Juru Gandapati dengan tatapan penuh ancaman.


"Ba-baik Gusti Senopati", ujar Juru Gandapati sambil menunduk hormat.


Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Landung langsung melompat ke atas kuda mereka masing-masing beserta 20 pengawal yang diantaranya adalah Panji Watugunung, Dewi Srimpi dan Cempluk Rara Sunti. Mereka segera menggebrak kuda mereka menuju istana Singhapura mengikuti langkah Senopati Ragasingha.


Di depan gerbang istana Singhapura, mereka segera menghentikan kuda mereka masing-masing lalu turun.


Sesuai dengan adat yang berlaku di Singhapura, para pengawal utusan di larang ikut masuk ke dalam istana. Melihat itu, Tumenggung Ludaka segera berujar pada Senopati Ragasingha.


"Aku mau mereka berempat ikut masuk ke dalam istana".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Nih author kasih tambahan chapter selanjutnya daripada di tuduh pelit update 😁😁😁


Author bukan pelit ya kak reader sekalian, cuma ingin menghadirkan cerita yang berkualitas saja tanpa harus di kejar crazy up🤣🤣🤣


Well, terimakasih atas semua dukungan dari kakak reader semua sejauh ini, author sangat berterimakasih loh 🙏🙏

__ADS_1


Salam BNL ⚔️🗡️⚔️🗡️


IG author : ebez 2812


__ADS_2