Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Serang Mereka!!


__ADS_3

"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", jawab Tumenggung Ludaka segera sambil menghormat pada Panji Watugunung. Hari itu juga Ludaka, Rajegwesi dan Pasukan Lowo Bengi menyamar dengan dandanan penduduk biasa. Ludaka mengenakan jarik lompong kali serta ikat kepala hitam, sedang Rajegwesi memakai jarik kuning masam dengan udeng kecoklatan dan tidak memakai baju.


Dengan membentuk kelompok kecil yang terdiri dari tiga orang, mereka menyebar keempat arah mata angin di seputar Tamwelang yang menjadi tempat berkumpulnya para prajurit Jenggala.


Tumenggung Ludaka, Rajegwesi dan seorang anggota pasukan Lowo Bengi bergerak menuju sisi Utara perkemahan para prajurit Jenggala.


Mereka menyusuri jalan setapak di hutan kecil di utara perkemahan para prajurit Jenggala dan menemukan sesuatu yang menarik disana.


Di Utara hutan kecil itu terdapat sebuah perkampungan penduduk yang merupakan bagian dari Wanua Mangku yang berada di wilayah selatan Tamwelang. Disana Ludaka melihat puluhan prajurit Jenggala menjaga sebuah rumah kecil yang terlihat ada di selatan wanua itu.


"Rajegwesi,


Seperti itu pergudangan mereka", ujar Tumenggung Ludaka pelan sambil menunjuk ke arah rumah.


"Benar Tumenggung,


Tapi kita tidak boleh melakukan nya sekarang. Nanti malam kita bergerak", jawab Ludaka sambil menunduk.


"Sebaiknya kita berkeliling di sekitar tempat ini. Siapa tahu masih ada lumbung pangan lain yang harus kita hancurkan", ujar Tumenggung Ludaka sambil menjawil anggota pasukan Lowo Bengi yang mengikuti nya. Mereka bertiga bergerak meninggalkan tempat itu untuk mencari tahu keberadaan kemungkinan adanya lumbung pangan lainnya.


Seharian berkeliling, mereka menemukan setidaknya 2 lumbung pangan lainnya di wanua Mangku.


Cahaya matahari telah menghilang di langit barat. Berganti cahaya bulan redup di langit timur. Malam mulai menggelapkan wilayah Tamwelang.


Sesuai perintah Panji Watugunung, Pasukan Lowo Bengi bergerak usai malam hari tiba. Dengan cepat mereka membakar gudang penyimpanan makanan yang menjadi penopang utama perbekalan para prajurit Jenggala.


Dengan panah api, Rajegwesi menembak ke arah atap rumah penyimpanan makanan yang di jaga oleh para prajurit Jenggala usai mendapat persetujuan dari Tumenggung Ludaka. Api dengan cepat membakar atap rumah yang terbuat dari alang-alang kering. Dengan semilir angin, api segera menghanguskan seluruh rumah.


Para prajurit Jenggala berusaha keras untuk memadamkan api. Namun usaha mereka sia-sia karena angin yang berhembus mempercepat api membakar tempat pergudangan itu.


Melihat seorang bekel prajurit Jenggala yang bertugas menjaga tempat itu segera berlari menuju ke arah tempat perkemahan para prajurit Jenggala.


Di dalam tenda besar, Senopati Jambuwana sedang duduk berhadapan dengan Tumenggung Adyaksa dari Matahun, Tumenggung Mpu Kajar dari Ujung Galuh, Senopati Pungging dari Pasuruhan dan Demung Kalyana dari Dinoyo saat si bekel prajurit penjaga gudang berlari masuk ke tenda besar.


"Mohon ampun Gusti Senopati,


Kita dalam masalah besar", lapor sang bekel prajurit Jenggala dengan ketakutan.


"Lekas katakan,


Ada masalah apa? Jangan berbelit-belit", bentak Senopati Jambuwana dengan keras. Sorot mata Senopati Jenggala itu tajam ke arah si bekel prajurit.


"Ampun Gusti Senopati,


Gudang penyimpanan makanan kita di wanua Mangku, ketiganya di bakar orang", ujar si Bekel Prajurit dengan penuh ketakutan.


"APAAAAAA??!!!!


Bagaimana bisa itu terjadi ha? Apa tugas kalian disana? Tidur?", Senopati Jambuwana berdiri dari tempat duduknya. Mata Senopati Jenggala itu membeliak geram ke arah si Bekel Prajurit.


Belum sempat si Bekel Prajurit melakukan pembelaan diri, dari belakang muncul 3 orang bekel prajurit yang menjaga tiga tempat gudang penyimpanan makanan yang lain.


Ketiganya menghadap Senopati Jambuwana dengan nafas tersengal sengal akibat terburu buru kemari.


"Ada apa dengan kalian?


Mengapa kalian juga kemari ha?", tanya Senopati Jambuwana dengan keras.


"Mohon ampun Gusti Senopati, saya ingin melaporkan bahwa gudang penyimpanan makanan kita di Turun Hyang di bakar orang", ujar si bekel prajurit yang berkumis tebal itu.


"Di Wanua Gondorukem juga Gusti Senopati", sambung si bekel prajurit yang bertubuh kurus.


"Begitu pula dengan gudang penyimpanan makanan di Wanua Songgeng Gusti Senopati, mereka membakar semuanya", imbuh bekel prajurit yang di belakang.


"Kurang ajar!!!


Apa kalian tidak menjaga gudang penyimpanan makanan dengan baik? Apa pekerjaan kalian disana ha?", murka sudah Senopati Jambuwana. Gudang penyimpanan makanan di keempat Wanua itu adalah bekal peperangan mereka. Jika itu musnah, prajurit Jenggala yang dipimpin nya, tidak akan bertahan lebih dari 3 hari karena perbekalan yang mereka miliki sangat sedikit.


Dengan gusar, Senopati Jambuwana mencabut pedangnya dan hendak menebas leher bekel prajurit yang bertugas di Wanua Mangku. Senopati Pungging dari Pasuruhan yang masih kerabat dekatnya, segera melompat ke arah Senopati Jambuwana untuk menghentikan tindakan sang pemimpin tertinggi prajurit Jenggala itu.


"Tahan Kakang,


Jangan membuat keputusan di saat marah. Tenangkan dulu pikiran mu Kakang, jangan gegabah", ujar Senopati Pungging dengan cepat sambil memegang tubuh Senopati Jambuwana.


"Bagaimana aku bisa tenang, Adhi Pungging?


Semua itu adalah bekal kita untuk menyerbu Daha dari arah Timur. Kalau sampai kita kehilangannya, dengan apa kita berperang melawan Daha?", tanya Senopati Jambuwana dengan keras.


"Dinginkan dulu kepala mu, Kakang.


Sekarang coba kau lihat, keempat gudang penyimpanan makanan kita di bakar bersamaan.


Apa ini tidak mencurigakan bagimu?", Senopati Pungging menatap ke arah Sang pemimpin tertinggi pasukan Jenggala itu dengan penuh hormat.


Hemmmm...

__ADS_1


"Benar juga omongan mu, Pungging..


Kalau begitu pasti ini ulah para prajurit Panjalu yang sekarang berada di wilayah Kunjang. Lantas apa saran mu, Pungging?", Senopati Jambuwana menatap ke arah adik sepupu nya itu.


"Tahan serangan kita ke Daha, Kakang..


Kalau kita memaksa maju, maka dengan perbekalan yang sedikit ini, pasti pasukan Panjalu akan mudah melemahkan kita. Sebaiknya Kakang mengirimkan utusan ke Kahuripan. Minta kepada Gusti Maharaja Garasakan untuk mengirimkan bahan makanan kepada kita secepatnya.


Aku khawatir jika pasukan Panjalu bergerak sedangkan keadaan kita masih seperti ini, maka kita tidak akan mampu melawan mereka", saran Senopati Pungging dengan cepat.


"Baiklah Pungging, aku setuju usulan mu.


Demung Kalyana,


Aku minta kau berangkat ke istana Kahuripan malam ini juga. Jelaskan keadaan kita pada Gusti Mapatih Bayunata. Dalam waktu 2 hari kau harus sudah kembali kemari", perintah Senopati Jambuwana pada perwira prajurit dari Dinoyo itu.


"Akan ku laksanakan, Gusti Senopati", ujar Demung Kalyana sambil menghormat pada Senopati Jambuwana. Pria bertubuh ceking itu segera mundur dari tenda besar, dan bergegas menuju ke tempat kuda nya. Dengan diiringi sepuluh prajurit, Demung Kalyana menuju ke Kahuripan untuk meminta bantuan kepada Prabu Mapanji Garasakan.


Sementara itu di istana Pakuwon Kunjang, Tumenggung Ludaka, Demung Rajegwesi dan para prajurit Lowo Bengi melaporkan hasil kerja mereka kepada Panji Watugunung.


"Semuanya telah habis kami bakar, Gusti Pangeran", ujar Ludaka sambil menghormat pada Panji Watugunung.


"Bagus, Tumenggung Ludaka..


Dengan begini, mereka akan lebih memikirkan isi perut daripada berperang.


Gumbreg,


Tata pasukan perbekalan. Besok sore kita berangkat ke Tamwelang. Persiapkan obor sebagai suluh kita di perjalanan.


Jarasanda,


Siapkan pasukan Garuda Panjalu. Buat menjadi satu barisan pasukan. Bergeraklah menuju kearah timur laut untuk mengatasi kemungkinan bantuan yang diberikan kepada pasukan Jenggala.


Ludaka, Rajegwesi,


Terus lakukan pengawasan terhadap setiap gerakan pasukan Jenggala", perintah Panji Watugunung pada para bawahannya.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", ujar keempat bawahan Panji Watugunung segera.


"Dan kalian para pemimpin pasukan dari daerah,


Persiapkan pasukan kalian. Besok sore kita mulai bergerak", titah Panji Watugunung pada Senopati Janadi, Tumenggung Rakai Wangi, Tumenggung Wiramaya dan Senopati Taradipa.


Para pemimpin pasukan dari daerah itu segera menyembah pada Panji Watugunung dan segera mundur dari serambi balai tamu Pakuwon Kunjang.


"Sebentar lagi kita akan berperang, Kakang.


Apa kita harus terus berperang melawan Jenggala untuk melindungi tanah air kita?", tanya Ratna Pitaloka dengan sendu.


"Sebenarnya aku tidak mau untuk terus berperang melawan Jenggala, Dinda Pitaloka.


Tapi kalau kita diam saja, maka sudah pasti keamanan di wilayah Panjalu akan menjadi taruhannya. Sepertinya kita harus menahklukan Prabu Mapanji Garasakan agar Jenggala tidak lagi mengganggu kedamaian Panjalu", jawab Panji Watugunung seraya menatap ke arah langit malam yang gelap.


"Perang memang menyengsarakan rakyat Kakang,


Tapi apakah tidak ada jalan lain kecuali perang untuk menciptakan kedamaian di tanah Jawa ini?", Ratna Pitaloka menatap wajah Panji Watugunung dengan penuh perasaan sendu.


"Kalau Prabu Mapanji Garasakan mengerti maksud pembelahan Kahuripan menjadi dua bagian, seharusnya tidak ada yang namanya perang di tanah Jawa.


Tapi keserakahan nya pada wilayah luas, membuat nya buta akan maksud Gusti Prabu Airlangga. Maka dari itu, kita harus memerangi mereka Dinda, dan itu adalah satu satunya jalan", ujar Panji Watugunung sambil menghela nafas panjang.


Malam segera berganti pagi. Cuit burung burung berkicau riang di ranting pohon beringin di depan balai tamu Pakuwon Kunjang. Matahari pagi perlahan muncul di ufuk timur.


**


Jauh di selatan, tepatnya di wilayah tepi Kali Aksa.


Senopati Mpu Mardewa dari Jenggala mengangkat tangan kanannya. Di belakangnya sepuluh ribu prajurit Jenggala berhenti.


Pandangan Senopati tua itu nanar menatap ke sekeliling tempat itu.


"Apa sebaiknya kita berkemah disini saja Gusti Senopati?", tanya Tumenggung Arundaya dari Keling dengan penuh hormat.


"Apa maksud perkataan mu, Arundaya?


Coba jelaskan", ucap Mpu Mardewa sambil menatap ke arah Tumenggung Arundaya.


"Begini Gusti Senopati,


Kita tidak tahu seperti apa keadaan di wilayah Panjalu. Mata mata yang kita kirim belum juga kembali. Akan sangat berbahaya jika tiba-tiba saja muncul serangan dari prajurit Panjalu", ujar Tumenggung Arundaya yang memiliki firasat buruk.


"Jangan bilang kau takut pada prajurit Panjalu, Tumenggung Arundaya.


Sebagai prajurit Jenggala, kita hanya boleh takut pada Gusti Prabu Garasakan", sahut Tumenggung Wimana dari Tumapel sedikit mengejek pada Tumenggung Arundaya.

__ADS_1


"Benar kata Tumenggung Wimana, Arundaya..


Kita harus siap mati kapan saja demi membela Jenggala", timpal Senopati Danapati dari Blambangan yang menjajarkan kuda nya di samping Mpu Mardewa.


"Sudah jangan ribut,


Kita masuk ke wilayah Panjalu sekarang", perintah Senopati Mpu Mardewa yang segera menepak punggung kudanya agar berjalan pelan memasuki air Kali Aksa.


Sepuluh ribu prajurit Jenggala, menyeberangi kali yang kedalamannya hanya selutut kuda. Pasukan besar itu dengan penuh kehati-hatian mulai memasuki wilayah Panjalu.


Di hutan lebat di barat Kali Aksa, Senopati Warigalit telah menyiapkan pasukan Panjalu yang dipimpin nya.


Para prajurit bersembunyi di balik gelapnya rimbun pepohonan yang tumbuh subur di barat sungai itu.


Ratusan jebakan yang tersembunyi rapi di jalan yang membelah hutan lebat itu. Jauh jauh hari, para pasukan Panjalu yang dipimpin oleh Senopati Warigalit sudah mempersiapkan segala sesuatunya.


Di bantu oleh Senopati Gati dari Seloageng, Senopati Sancaka dari Gelang-gelang, Tumenggung Nagaraja dari Karang Anom, Tumenggung Palgunadi dari Tanggulangin dan Demung Warok Nggotho dari Wengker, pasukan Panjalu membentuk pertahanan berlapis. Dari arah selatan sungai Brantas, para prajurit Lodaya yang dipimpin oleh Senopati Rangga Suta sudah menyiapkan diri begitu mendapat perintah dari atasan mereka untuk membantu pasukan Panjalu.


Suasana hutan lebat itu terasa sunyi dan mencekam.


Mpu Mardewa yang sudah di tengah barisan, terus menajamkan indera penglihatan nya ke sekeliling hutan yang lebat.


Saat pasukan Jenggala sudah separuh lebih memasuki hutan, tiba-tiba saja ratusan anak panah melesat cepat kearah mereka.


Shrrrinnngggg.....!


Shinggg shiinnggggg!!!!


"Awas sergapan!", teriak seorang prajurit yang berada di depan pasukan.


Para prajurit Jenggala yang gugup, tidak segera memakai tameng yang mereka pegang. Akibatnya ratusan anak panah itu menghajar kearah mereka.


Creeppp creeppp..


Chrreeeppphh..!!


Aughhhh ougghh!!


Jerit kesakitan segera terdengar memenuhi tempat itu. Yang selamat dari hujan anak panah, berusaha berlindung di balik pepohonan yang tumbuh di kanan kiri jalan itu. Namun, aneka jebakan sudah menunggu mereka.


Ada yang terperosok ke dalam lubang yang berisi kayu kayu tajam, ada yang terhantam balok kayu besar, ada yang terjerat tali yang membelit tubuh mereka. Semuanya membuat pasukan Jenggala kacau balau.


Para perwira tinggi prajurit berusaha mengendalikan para prajurit nya, namun usaha mereka nampak nya sia sia belaka karena para prajurit Jenggala sibuk menyelamatkan nyawa mereka masing-masing.


Dari arah ujung barat jalan, Senopati Warigalit dengan menaiki kuda hitam yang gagah berdiri menghadang seorang diri dengan Tombak Angin di tangan kanannya. Perlahan di belakangnya, ribuan prajurit Panjalu muncul.


Seorang prajurit yang membawa terompet tanduk kerbau segera meniup terompet nya.


Thhhuuuuuttttttthhh...!!!


Dari balik rimbun pepohonan, para prajurit Panjalu muncul satu persatu mengepung para prajurit Jenggala yang kacau.


Dengan berteriak lantang, Warigalit mengacungkan Tombak Angin nya ke arah pasukan Jenggala.


"Serang mereka!!!!!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya 😁

__ADS_1


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya


Selamat membaca 🙏🙏🙏


__ADS_2