Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Gerombolan Gagak Merah 2


__ADS_3

Hahahaha...


Terdengar suara tawa menggelegar memenuhi semua tempat itu. Tawa yang membuat sakit gendang telinga itu berasal dari Rambusoka, Si Gagak Merah yang menjadi pemimpin gerombolan pengacau di wilayah Panjalu Selatan.


Rambusoka dengan wajah merah nya, menyeringai lebar sambil berjalan mendekati rombongan pasukan Garuda Panjalu dan Karang Anom.


"Kroco kroco Karang Anom,


Mau apa kalian kemari?", tanya Rambusoka dengan nada membentak keras.


"Jadi kau Si Gagak Merah?", Panji Watugunung menatap ke arah Gagak Merah yang berkacak pinggang di hadapannya.


"Kalau iya, kau mau apa ha?", Rambusoka menggosok hidungnya dengan keras.


"Lepaskan Ganajaya, Gagak Merah. Sekarang aku meminta secara baik-baik, sebab kalau kau menolak, jangan salahkan aku bila bertindak tegas", Panji Watugunung menatap tajam ke arah Rambusoka alias Gagak Merah.


"Kau mengancam ku, bangsawan tengik?


Besar sekali nyali mu berani mengancam Rambusoka. Apa kau sudah bosan hidup ha?", hardik Rambusoka dengan keras. Mata pria paruh baya berbadan gempal itu melotot ke arah Panji Watugunung.


"Jaga mulutmu Gagak Merah!


Mana sopan santun mu? Dia adalah Gusti Pangeran Jayengrana, Yuwaraja Panjalu. Apa kau tidak pernah diajari tata krama oleh orang tua mu?", sahut Senopati Mpu Yudhana dengan cepat.


Phuihhhh


"Mau dia yuwaraja atau pun Maharaja Samarawijaya pun aku tidak peduli.


Siapapun yang berani mengganggu wilayah kekuasaan ku, akan pulang tanpa nyawa", ujar Rambusoka dengan keras.


"Lancang!


Mulutmu perlu di ajari adab kesopanan rupanya", usai berkata demikian, Mpu Yudhana segera melompat ke arah Rambusoka sambil menyabetkan pedang yang baru dicabut dari sarungnya.


Sreeeetttt


Pertarungan hidup mati antara para anggota Gerombolan Gagak Merah melawan Pasukan Panji Watugunung segera pecah di tengah hutan Kaliwungu.


Para pengepung dari Gerombolan Gagak Merah dengan penuh nafsu membunuh, menerjang maju ke arah pasukan Panji Watugunung.


Seorang anggota Gerombolan Gagak Merah menerjang ke arah Jarasanda. Wakil pimpinan Pasukan Garuda Panjalu itu menunduk menghindari sabetan pedang ke arah leher.


Whaaassshh


Dengan cepat, dia melompat turun dari kudanya dan balik menyerang anak buah Gagak Merah dengan tendangan keras nya.


Bukkkkk..


Ougghhh


Lelaki bertubuh gempal itu menjerit saat tendangan keras Jarasanda menghajar perutnya. Dia terhuyung mundur sambil memegangi perutnya yang sakit. Belum sempat dia berdiri tegak, Jarasanda sudah melesat sambil menghajar dada si lelaki itu dengan dengkul nya.


Deshhhh


Anak buah Gagak Merah itu langsung terlempar dan menabrak pohon sono yang ada dibelakangnya. Orang itu langsung roboh, setelah muntah darah segar


Melihat lawan roboh, Jarasanda segera mengalihkan perhatian pada lawan yang lain. Dengan mencabut Keris Kyai Klotok nya, Jarasanda menerjang ke arah para pangepung.


Seorang lelaki kurus yang memakai topeng kayu berwarna merah, dengan tombaknya melesat cepat kearah Ratna Pitaloka. Pria itu berusaha menusuk dada Selir pertama Panji Watugunung.


Whuuuuttt


Mendapat serangan itu, Ratna Pitaloka dengan menekan punggung kudanya, melenting tinggi ke udara, menghindari tusukan tombak anak buah Gagak Merah. Perempuan cantik itu kemudian mendarat tak jauh dari tempat kuda nya.


Melihat lawannya lolos, lelaki bertopeng kayu itu memburu Ratna Pitaloka.


Sambil mengayunkan gagang tombak nya kearah kaki Ratna Pitaloka, dia berusaha membongkar pertahanan Ratna Pitaloka.


Dengan lincah, Ratna Pitaloka mengangkat sebelah kakinya menghindari gebukan gagang tombak, lalu merubah kuda kuda nya dan menghantam perut lelaki bertopeng kayu.


Daaassshh


Lelaki bertopeng kayu itu terdorong mundur beberapa langkah. Setelah berhasil berdiri tegak, dia memutar tombak nya dan berlari cepat sambil menusukkan tombak nya kearah dada Ratna Pitaloka.


Selir pertama Panji Watugunung berkelit sedikit kesamping, lalu menangkap gagang tombak dan menariknya dengan cepat.


Shhheeppp..


Kuatnya pengaruh tarikan tombak, membuat lelaki bertopeng kayu itu ikut tertarik maju. Lalu dengan cepat, Ratna Pitaloka menghantam dada si lelaki bertopeng kayu itu dengan lengan tangan kanannya.


Deshhhh


Arrgghhhh!


Tombak terlepas, dan si lelaki bertopeng kayu itu terlempar ke belakang karena kerasnya hantaman lengan Ratna Pitaloka.


Belum sempat tubuh pria itu jatuh, sebuah jarum berwarna hitam melesat cepat kearah leher si pria bertopeng kayu.


Creeppp


Pria itu langsung menghantam tanah dan tak bergerak lagi. Dari mulutnya keluar darah bercampur busa keputihan berbau busuk.


Ratna Pitaloka mendelik ke arah Dewi Srimpi.


"Jangan ikut campur Srimpi, aku masih bisa mengalahkan nya", ujar Ratna Pitaloka yang disambut senyum manis Dewi Srimpi.


"Aku hanya mempercepat dia berangkat ke neraka Kangmbok", Selir ketiga Panji Watugunung tersenyum tipis.


Ratna Pitaloka hanya mendengus dingin, kemudian melesat maju kearah anak buah Gagak Merah dengan mencabut Pedang Bulan Kembar untuk mengobati kekesalannya. Perempuan itu segera mengamuk di sana.


Melihat itu, Naganingrum yang sedari tadi tenang saja ikut tertarik untuk bertarung.


Putri bungsu Prabu Darmaraja itu segera melompat tinggi ke udara dan menendang seorang lelaki bertubuh gempal yang hendak membokong Ratna Pitaloka.


Deshhhh


Melihat Naganingrum membantu nya, Ratna Pitaloka tersenyum simpul.


"Hayu Teh..


Kita hajar mereka!", ujar Naganingrum dengan memunggungi Ratna Pitaloka. Keduanya lantas saling beradu punggung, saling melengkapi dan menyerang dengan kompak.

__ADS_1


Panji Watugunung terus mengamati pergerakan Gagak Merah yang tengah berhadapan dengan Mpu Yudhana, Senopati Kadipaten Karang Anom.


Sabetan pedang pemimpin pasukan Karang Anom itu dengan mudah di hindari Rambusoka alias Gagak Merah.


Meski sudah berpuluh jurus, namun nampaknya kemampuan beladiri Mpu Yudhana memang di bawah Rambusoka.


Mpu Yudhana melompat mundur setelah sabetan pedang nya, berhasil di hindari. Laki laki paruh baya itu ngos-ngosan mengatur nafasnya.


"Cuma segitu kemampuan mu, Yudhana?


Cetek sekali ilmu kanuragan mu. Kau tidak pantas menjadi Senopati Karang Anom", ejek Rambusoka dengan cibiran yang begitu menghina.


Amarah Mpu Yudhana langsung naik mendapat hinaan Rambusoka.


"Kurang ajar!


Akan ku robek mulut mu, begal tengik", usai berkata demikian, Mpu Yudhana segera memusatkan tenaga dalam nya pada tangan kiri, kemudian dua jari nya mengusap mata pedang di tangan kanannya.


Seketika pedang itu memancarkan cahaya putih menyilaukan mata.


"Coba kau hadapi Ilmu Pedang Perak ku ini, berandal tua!", teriak Mpu Yudhana sambil melesat cepat kearah Rambusoka.


Sreeeetttt


Pedang yang menyilaukan mata itu terayun ke arah leher Rambusoka. Meski sedikit kaget, Rambusoka mampu menghindari sabetan pedang Mpu Yudhana.


"Huhhhhh...


Hanya permainan anak-anak kau pamerkan kepada ku, Yudhana..


Jadi cuma ini kemampuan beladiri terbaik mu? Sungguh mengecewakan", ejekan demi ejekan terus terucap dari mulut Rambusoka, membuat Senopati Mpu Yudhana semakin terpancing emosi nya.


"Bedebah!!


Akan ku cincang kau bangsat!!!", dengan penuh amarah, Mpu Yudhana terus memburu Rambusoka dengan serangan pedang perak nya.


Namun karena terlalu bernafsu, serangan demi serangan Senopati Mpu Yudhana bisa dihindari oleh Rambusoka.


Sreeeetttt


Sabetan pedang perak Senopati Mpu Yudhana meleset ke samping Rambusoka, yang berkelit ke kiri. Pimpinan Gerombolan Gagak Merah itu segera melihat pertahanan Mpu Yudhana yang rapuh dan dengan cepat menghantam dada Senopati Kadipaten Karang Anom itu dengan Ajian Cadasgeni nya.


Bukkkkk


Blarrrr!!!


Aughhhh..


Mpu Yudhana meraung keras saat pukulan telak Ajian Cadasgeni menghantam dada kirinya. Tubuh Senopati Kadipaten Karang Anom itu melayang jauh dan menabrak tubuh seorang prajurit Karang Anom yang tengah beradu senjata dengan anggota Gerombolan Gagak Merah.


Braakkkk


Keduanya roboh menghantam tanah. Mpu Yudhana segera muntah darah segar, pertanda bahwa dia menderita luka dalam cukup parah.


Warigalit yang hendak menyerang pada Gagak Merah, selalu di halangi oleh Suro, tangan kanan Gagak Merah, yang memiliki kemampuan kanuragan diatas rata rata pengikut Gagak Merah.


"Mau kemana kau, pria berkumis?


Kakak seperguruan Panji Watugunung itu mendengus keras, kemudian meraba Tombak Angin yang ada di punggungnya.


Melihat Warigalit juga bersenjata tombak pendek, Suro menyeringai lebar.


Selama ini dia belum pernah bertemu dengan lawan yang bersenjata sama dengan nya. Melawan Warigalit yang bersenjatakan tombak pendek, membuat dia sangat bersemangat.


Warigalit segera melompat maju sambil menusukkan tombaknya. Angin dingin berseliweran saat tombak pendek itu mengarah pada leher Suro.


Whuuussshh


Suro terkejut melihat kekuatan tombak pendek Warigalit, dan dengan cepat mundur setengah langkah sambil menangkis mata tombak yang mengincar nyawanya.


Tringgggg!


Saat tusukan tombak tertangkis, Warigalit dengan cepat menghantam perut Suro dengan tangan kiri nya.


Melihat lawan dengan kecepatan tinggi, Suro berusaha menghindari pukulan tangan kiri Warigalit dengan melompat tinggi ke udara.


Belum sempat dia mendarat dengan sempurna, Warigalit sudah memburunya dengan serangan cepat Tombak Angin yang di gabung dengan kecepatan gerak tubuh Ajian Sepi Angin.


Suro terus bertahan menghadapi gempuran bertubi-tubi dari Warigalit.


Melihat Warigalit masih tidak bisa lepas dari hadangan Suro, Panji Watugunung segera melesat cepat menghadang Rambusoka yang ingin menghabisi nyawa Senopati Mpu Yudhana yang tengah terluka dalam.


Sinar merah kekuningan yang terlontar dari tangan Rambusoka, di cegat oleh sinar putih kebiruan Ajian Guntur Saketi yang keluar dari tangan kanan Panji Watugunung.


Blammmmm!!!


Ledakan keras mengguncang seisi hutan Kaliwungu.


Rambusoka terkejut melihat itu semua. Sepanjang perjalanan hidupnya, hanya satu orang yang mampu menangkis serangan Ajian Cadasgeni tingkat akhir nya, yaitu gurunya sendiri.


Kini seorang bangsawan muda, berwajah tampan dengan gelar Yuwaraja Panjalu, dengan mudahnya mematahkan serangan ilmu kanuragan nya.


Mata Gagak Merah melotot ke arah Panji Watugunung.


"Lumayan juga ilmu kanuragan mu, bangsawan muda.


Katakan siapa guru mu?", tanya Rambusoka yang ingin tahu tentang siapa pengajar ilmu dari bangsawan muda ini.


"Siapa guru ku, itu tidak penting Gagak Merah.


Jika kau mau mengembalikan Ganajaya, mungkin nyawamu masih bisa ku ampuni", ujar Panji Watugunung dengan tenang.


Cuihhhhh..


"Baru sekali bisa mematahkan serangan ku, kau sudah jumawa, bangsawan tengik!


Kau jangan sombong dulu, aku masih banyak punya ilmu yang bisa diadu dengan mu", teriak Rambusoka dengan keras. Emosi nya meluap mendengar jawaban Panji Watugunung.


Rambusoka segera merentangkan kedua tangannya ke samping kiri dan kanan, kedua kaki bersilangan kemudian memutar tubuhnya. Telapak kedua tangan nya mengepal erat. Asap tipis mulai mengepul dari kepalan tangan Rambusoka.


'Hemmmm...

__ADS_1


Tapak Naga Beracun dari Padepokan Kalimati rupanya. Akan ku hadapi dengan Ajian Brajamusti ku', batin Panji Watugunung segera.


Tangan Panji Watugunung segera bergerak lurus ke atas kepala, kemudian kedua tangan mengatup di depan dada. Dengan semakin merendahkan tubuhnya ke kanan lalu ke kiri, sinar biru terang tercipta di tangan kanan Panji Watugunung.


Gagak Merah yang telah siap untuk menggunakan Ajian Tapak Naga Beracun, seketika melesat cepat kearah Panji Watugunung sambil menghantamkan tangan kanannya.


Sinar hijau disertai asap putih bergulung gulung dan berbau busuk menerabas cepat kearah Panji Watugunung.


Shiiiuuuuuuutttt!


Panji Watugunung menahan nafas sejenak, lantas menghantamkan tangan kanannya menyongsong serangan Rambusoka.


Sinar biru terang segera menabrak sinar hijau dari Ajian Tapak Naga Beracun si Gagak Merah.


Dhhhuuuuuaaaaarrrrr!!!!


Ledakan keras kembali terdengar dari benturan dua ajian andalan mereka. Rambusoka terlempar jauh ke belakang, sedangkan Panji Watugunung terdorong 3 langkah kebelakang.


Pimpinan Gerombolan Gagak Merah itu muntah darah segar. Dengan cepat dia menotok jalan darahnya dan kemudian memuntahkan lagi darah yang menyangkut di tenggorokan nya.


Huuoogghh!


Setelah muntah darah, nafas Rambusoka menjadi lega. Pria paruh baya itu segera mengusap darah yang mengalir di sudut kiri bibirnya, dan berdiri kembali.


Mata Gagak Merah mendelik tajam ke arah Panji Watugunung.


Rambusoka sangat geram dengan tindakan Panji Watugunung yang sudah dua kali menggagalkan dua ajian andalan nya. Sebelumnya, tak banyak pendekar baik dari golongan putih atau hitam di daerah Panjalu Selatan yang bisa menghadapi Ajian Cadasgeni. Kini Ajian Tapak Naga Beracun nya juga mental di hadapan bangsawan muda ini.


Dengan penuh amarah, Rambusoka segera merapal ajian pamungkas nya, Ajian Gagar Jati.


Tubuh Rambusoka segera diliputi oleh sinar hijau kekuningan yang berhawa beku.


Panji Watugunung yang melihat lawan masih memiliki kemampuan beladiri, segera merapal Ajian Waringin Sungsang nya. Tubuhnya segera diliputi oleh sinar hijau kebiruan.


Rambusoka segera melesat cepat kearah Panji Watugunung dengan menghantam dada Yuwaraja Panjalu itu.


Deshhhh


Tapi bukannya Panji Watugunung terlempar atau terpental ke belakang, namun justru tenaga penghancur Ajian Gagar Jati tersedot masuk ke dalam tubuh Panji Watugunung.


Rasa sakit seketika menyerang setiap sendi dan urat nadi Rambusoka.


AAAARRRGGGHHHH!!!


Jeritan keras Rambusoka membuat perhatian anggota Gerombolan Gagak Merah lengah. Suro yang sedang di gempur Warigalit, sedikit terlena oleh teriakan kesakitan Rambusoka.


Warigalit tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dan langsung menghantam dada Suro dengan Ajian Tapak Dewa Api nya.


Blammmmm


Aauuggghhhh!!


Suro meraung keras saat Ajian Tapak Dewa Api Warigalit melempar tubuhnya kearah batu besar yang ada disitu. Wakil pimpinan Gerombolan Gagak Merah itu langsung tewas dengan dada gosong seperti terbakar api.


Rambusoka terus meraung-raung kesakitan. Dari semua lobang yang ada di tubuhnya mengeluarkan darah.


Perlahan tubuh Rambusoka mengurus dengan cepat kemudian menghitam. Saat daya hidup Rambusoka sudah mencapai puncak, tangan kanan Panji Watugunung segera menghantam dada Rambusoka.


Hiyyyyaaatttt..


Blammmmm!!!


Tubuh Rambusoka langsung hancur lebur menjadi abu. Melihat pimpinan Gerombolan Gagak Merah tewas, seorang anak buah Rambusoka segera kabur menuju ke arah pemukiman mereka yang ada di selatan Hutan Kaliwungu.


Beberapa anak buah Gagak Merah berhasil kabur, tapi 14 orang berhasil dilumpuhkan oleh prajurit Kadipaten Karang Anom dan Pasukan Garuda Panjalu.


Para istri Panji Watugunung, Warigalit, Warigagung, dan Jarasanda segera mendekati Panji Watugunung.


Seakan tahu apa yang di pikiran para pengiringnya, Panji Watugunung segera berkata,


"Ayo kita selamatkan Ganajaya".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author terus semangat menulis 😁


Yang mau kasih bunga mawar 🌹 atau kopi ☕ author juga berterima kasih 😄

__ADS_1


Selamat membaca kak 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2