
**
Di saat Kota Daha tengah merayakan kedatangan raja baru yang merupakan pahlawan besar sekaligus pemimpin cakap dalam peperangan, jauh di timur tepatnya di wilayah Jenggala Maharaja Jenggala Mapanji Alanjung tengah memeriksa para prajurit dan perwira yang di persiapkan untuk merebut kembali kota Kahuripan dari tangan para prajurit Panjalu.
Hari itu, Maharaja Jenggala yang dinobatkan sebagai penguasa Jenggala di daerah pengasingan itu nampak sedang menerima kedatangan para prajurit dari Kadipaten Pasuruhan dan Lamajang.
Para prajurit Kadipaten Pasuruhan di pimpin oleh Senopati Galih Kelor yang merupakan bekas pendekar ternama di wilayah Jenggala Timur. Lelaki berusia 4 warsa separuh yang pernah berjuluk " Si Tangan Guntur dari Gunung Penanggungan" itu datang dengan membawa 3 ribu prajurit Kadipaten Pasuruhan. Di bawah nya, ada Tumenggung Kalamaruta dan Demung Konda yang merupakan adik seperguruan Si Tangan Guntur dari Gunung Penanggungan.
Sedangkan para prajurit dari Lamajang di pimpin oleh Tumenggung wanita yang bernama Nyi Rantini. Meski wanita, perempuan berusia 4 warsa itu bukan orang sembarangan. Dia adalah seorang pendekar wanita sakti yang pernah menggegerkan dunia persilatan karena bertarung seimbang melawan Si Pedang Iblis, salah satu pentolan Padepokan Bukit Jerangkong yang telah mati di tangan Panji Watugunung. Nama perempuan itu begitu di takuti oleh pendekar golongan hitam maupun putih karena kedigdayaannya. Julukan "Dewi Sriti Gunting dari Gunung Bromo" bukanlah isapan jempol belaka. Terbersit kabar bahwa perempuan itu pernah menghadapi ratusan anggota perampok Bukit Tunggal seorang diri dan menyelamatkan nyawa Adipati Lamajang, Arya Sudana hingga akhirnya ia diangkat menjadi tumenggung andalan Lamajang.
Bersama dengan kedatangan Nyi Rantini, Lamajang mengirim 3 ribu prajurit siap tempur dengan dibantu oleh Demung Kumbolo dan Bekel Mangun Wijoyo.
Usai para prajurit di istirahatkan, Senopati Galih Kelor, Tumenggung Kalamaruta dan Demung Konda menemui Maharaja Alanjung di kediaman nya. Tak berapa lama kemudian, Tumenggung Nyi Rantini, Demung Kumbolo dan Bekel Mangun Wijoyo pun ikut menghadap pada Maharaja Jenggala.
Di dampingi oleh Rakryan Samarotsaha selaku Mahamantri i Halu dan Mpu Baratwana sebagai Rakryan Mapatih, Mapanji Alanjung menerima kedatangan mereka dengan penuh suka cita.
Semangat merebut kembali kota Kahuripan begitu membara di hati Mapanji Alanjung usai mendengar berita kematian Prabu Samarawijaya. Hanya di ibukota Kahuripan dia merasa menjadi Maharaja Jenggala yang seutuhnya.
"Selamat datang di kediaman ku, wahai para prajurit Jenggala..
Aku sangat senang kalian bergabung bersama ku untuk merebut kembali kota Kahuripan", ujar Maharaja Jenggala
"Sembah bakti kami Gusti Prabu..
Hamba Galih Kelor, utusan dari Gusti Adipati Dadung Manila. Kami siap membantu Gusti Prabu untuk menegakkan kembali kerajaan Jenggala di ibukota Kahuripan", ucap Senopati Galih Kelor sambil menyembah pada Mapanji Alanjung.
"Aku terima niat baik dari Adipati Pasuruhan dengan penuh ucapan terima kasih. Semoga kita bisa segera merebut kembali kota Kahuripan agar nama Jenggala kembali harum di tanah Jawa", senyum manis tersungging di bibir Mapanji Alanjung mendengar penuturan Senopati Galih Kelor.
"Yang di samping itu, kalian darimana?", imbuh Mapanji Alanjung seraya mengalihkan perhatian nya pada Nyi Rantini dan kedua pengiringnya.
"Kami dari Lamajang, Gusti Prabu.
Sebelumnya perkenankan saya menghaturkan sembah bakti kami kepada Gusti Maharaja Jenggala.
Hamba Nyi Rantini, tumenggung utusan dari Kanjeng Adipati Arya Sudana dari Kadipaten Lamajang. Kami siap membantu Gusti Prabu untuk merebut kembali kota Kahuripan dari tangan pasukan Panjalu", ujar Tumenggung Nyi Rantini seraya menyembah pada Mapanji Alanjung.
Mapanji Alanjung manggut-manggut senang hati dengan kedatangan mereka berdua. Ini berarti sudah terkumpul 15 ribu prajurit untuk menggempur pertahanan prajurit Panjalu di kota Kahuripan. Sebentar lagi mereka akan siap menyerbu kesana.
"Paman Samarotsaha,
Bagaimana dengan para prajurit kita yang sudah lebih dulu bersiap? Apa ada hal yang perlu kau laporkan?", tanya Raja Jenggala itu pada Rakryan Samarotsaha yang duduk di sebelah kiri nya.
"Mohon ampun Nakmas Prabu,
Para prajurit kita sudah menyiapkan diri di hutan timur kota Kahuripan. Mereka tinggal menunggu perintah dari Nakmas Prabu untuk bergerak", jawab Rakryan Samarotsaha sambil menghormat pada Mapanji Alanjung.
"Bagus..
Paman Baratwana, bagaimana dengan persiapan perbekalan untuk para pasukan kita? Apa sudah tertata rapi?", Mapanji Alanjung mengalihkan perhatian nya pada Mpu Baratwana, sang Rakryan Mapatih Jenggala.
"Sudah separuh lebih persiapan perbekalan kita yang tertata Gusti Prabu.. Kita tinggal menunggu kedatangan perbekalan yang di kirim oleh Adipati Dinoyo dan Keling..
Jika dalam waktu 2 pekan mereka telah sampai, maka kita sudah memiliki persiapan matang untuk menyerbu ke Kahuripan", lapor Mpu Baratwana seraya menghormat pada Mapanji Alanjung.
Hemmmmmmm..
"Dua pekan lagi ya?
Baiklah Paman Mapatih, kita tunggu kedatangan para pembawa bahan makanan dari Keling dan Dinoyo. Jika mereka sampai, kita serbu pasukan Panjalu di Kahuripan", ujar Maharaja Jenggala itu segera.
"Sendiko dawuh Gusti Prabu", ucap semua orang yang hadir di tempat itu bersama-sama.
Demikianlah, para prajurit Jenggala terus melakukan persiapan untuk merebut kembali ibukota Jenggala.
**
Sementara itu di luar istana Daha, seorang lelaki sepuh berjenggot putih panjang nampak tengah menatap ke arah pintu gerbang istana Daha.
Peluh nampak membasahi dahi nya yang sudah keriput di makan usia. Sesekali ia membenarkan buntalan kain kecil yang yang membebani punggung nya yang mulai bungkuk. Tubuh lelaki tua berpakaian pandita itu masih nampak kekar, pandangan mata nya terlihat teduh dan menenangkan.
Dengan langkah pasti, lelaki sepuh itu menuju ke arah pintu gerbang istana Daha. 8 orang prajurit penjaga gerbang istana langsung menghadang langkah kaki si lelaki sepuh berjenggot putih itu segera.
"Berhenti, pandita..
Yang tidak berkepentingan di larang masuk ke dalam istana Daha", ujar sang prajurit penjaga gerbang istana Daha seraya menyilangkan tombak sebagai tanda larangan bagi kakek tua itu untuk masuk.
"Mohon maaf, Gusti Prajurit..
Saya ingin bertemu dengan Gusti Prabu Jayengrana. Ada yang perlu saya berikan kepada beliau. Saya sudah berjanji pada beliau sebelumnya", ujar pandita tua itu dengan santun.
__ADS_1
Sekilas prajurit penjaga gerbang istana Daha itu memandang pandita dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Kalau begitu, aku akan menghadap pada Gusti Prabu Jayengrana. Dan maaf kau harus menunggu disini terlebih dulu pandita, nanti akan kalau aku sudah kembali dan mendapat ijin dari Gusti Prabu, maka akan ku antar kau kesana. Itu aturan baku di istana Daha.
Siapa nama mu pandita?", tanya si prajurit penjaga gerbang istana.
"Saya Begawan Sulapaksi dari Wanua Klakah di wilayah Pakuwon Watugaluh", jawab si pandita sepuh itu dengan senyum simpul.
"Baiklah Begawan Sulapaksi, kau tunggu disini sebentar. Aku akan menghadap Gusti Prabu Jayengrana lebih dulu", ujar si prajurit penjaga gerbang istana Daha itu seraya berlalu menuju ke dalam istana.
Panji Watugunung tengah berbincang dengan Mapatih Jayakerti di ruang pribadi Raja bersama Senopati Warigalit dan Senopati Tunggul Arga.
"Apa maksud ucapan mu Paman Jayakerti? Coba jelaskan pada ku", tanya Panji Watugunung sambil mengusap dagu nya.
"Hamba memiliki kecurigaan yang cukup beralasan Gusti Prabu.
Semenjak Pangeran Banjarsari dan Pangeran Suryanata menjadi menantu Gusti Prabu Samarawijaya, Adipati Mpu Pamadi dari Kadipaten Kembang Jenar dan Adipati Panduwinata dari Rajapura adalah orang paling dekat dengan pemerintah pusat di Daha. Mereka berdua seakan bersaing satu sama lain untuk merapat ke Daha.
Namun semenjak dua orang itu terbukti melakukan tindakan makar dan Suryanata menjadi buron, dua adipati itu menjauh dari pemerintah pusat di Dahanapura. Bahkan sampai di acara penobatan Gusti Prabu kemarin, mereka hanya mengirimkan seorang tumenggung.
Ini sudah merupakan tindakan tidak patuh pada aturan di kerajaan Panjalu", jawab Mapatih Jayakerti yang menerangkan ujung pangkal kecurigaannya.
Hemmmmmmm
"Masuk akal juga ucapan mu Paman Mapatih.
Apa kita punya telik sandi yang ada di dua kadipaten itu Paman?", ujar Prabu Jayengrana segera. Sebuah pemikiran melintas di kepala raja Panjalu itu.
"Setidaknya ada satu kelompok telik sandi Daha yang ada di masing-masing Kadipaten itu Gusti Prabu.
Kalau hamba boleh tau, apakah ada hal yang mengganggu pemikiran Gusti Prabu?", tanya Mapatih Jayakerti segera.
"Kirim kabar ke mereka untuk mengawasi pergerakan Adipati dan para bawahannya. Usahakan agar cepat memberi kabar jika ada pergerakan mencurigakan", titah Panji Watugunung segera.
Belum sempat Mapatih Jayakerti memberi jawaban, dari arah luar seorang prajurit penjaga gerbang istana berjalan mendekat ke ruang pribadi Raja. Begitu masuk, si prajurit penjaga berjalan jongkok dan menyembah pada Prabu Jayengrana lalu duduk bersila di lantai ruang pribadi Raja.
Panji Watugunung segera mengangkat tangan kanannya sebagai tanda ijin untuk si prajurit penjaga gerbang istana.
"Mohon ampun Gusti Prabu jika kedatangan hamba mengganggu percakapan Gusti Prabu.
Ada seorang pandita tua yang mengaku bernama Begawan Sulapaksi dari Wanua Klakah di wilayah Pakuwon Watugaluh ingin bertemu dengan Gusti Prabu", lapor sang prajurit segera.
"Hemmmm..
"Kalau begitu, ijinkan hamba mohon diri Gusti Prabu. Hamba akan melaksanakan tugas dari Gusti Prabu Jayengrana sesegera mungkin", ucap Mapatih Jayakerti yang segera menyembah pada Panji Watugunung. Pria sepuh itu segera mundur dari ruang pribadi Raja diikuti oleh Senopati Tunggul Arga dan menyisakan Panji Watugunung dan Senopati Warigalit di ruang pribadi Raja.
Si prajurit penjaga gerbang istana datang bersama Begawan Sulapaksi. Begitu sampai di ruang pribadi Raja, si prajurit penjaga gerbang istana menyembah pada Panji Watugunung sedangkan Begawan Sulapaksi menghormat dengan sedikit membungkukkan badannya pada Panji Watugunung.
Memang begitulah aturan yang berlaku. Seorang pandita, brahmana, resi, biksu dan biksuni tidak menghormat pada Raja dengan menyembah melainkan dengan sedikit membungkukkan badannya. Ini karena kaum Agamawan adalah kasta tertinggi dalam agama Siwa dan Budha. Kasta ksatria adalah kasta dibawah mereka. Tapi kepada para ksatria yang dihormati seperti Raja, kaum Agamawan tetap harus menghormati meski tidak dengan menyembah.
"Selamat datang di istana Daha, Begawan Sulapaksi.
Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu Begawan? Juga bagaimana kabar Paman Sriti Lanang di wanua Klakah?", tanya Panji Watugunung dengan santun.
"Puja dewa Wisnu, hamba dalam keadaan sehat Gusti Prabu Jayengrana.
Kabar Sepasang Sriti Perak juga baik baik saja. Mereka sempat menitipkan salam hormat kepada Gusti Prabu Jayengrana. Mereka baru di karuniai seorang putri Gusti Prabu, jadi tidak bisa ikut sowan ke Daha", ujar Begawan Sulapaksi sambil tersenyum simpul.
"Sungguh suatu kabar yang menggembirakan.
Suatu saat nanti aku ingin mengunjungi mereka di wanua Klakah.
Lantas angin apa yang membawa mu kemari Begawan?", tanya Panji Watugunung kemudahan. Tidak mungkin pandita tua itu jauh jauh dari Wanua Klakah ke Kotaraja Daha tanpa ada hal penting.
Begawan Sulapaksi segera tersenyum simpul sebelum berbicara.
"Gusti Prabu memang bijaksana.. Kedatangan hamba kemari karena janji yang pernah hamba ucapkan pada Gusti Selir Ratna Pitaloka tempo hari.
Jika Gusti Prabu telah menjadi penata Tanah Jawadwipa, maka Gusti Selir berhak mendapatkan hadiah berupa keturunan dari Gusti Prabu Jayengrana", ucap Begawan Sulapaksi seraya menghormat pada Panji Watugunung.
Mendengar jawaban itu, Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana tersenyum simpul.
"Terimakasih atas berkah yang kau berikan padaku, Begawan Sulapaksi.
Para selir ku pasti bahagia mendengar berita ini", ujar Panji Watugunung segera.
Usai berkata demikian, Panji Watugunung mengajak Begawan Sulapaksi menuju ke arah istana selir dimana Ratna Pitaloka, Sekar Mayang, Dewi Srimpi dan Cempluk Rara Sunti tinggal. Karena searah dengan istana permaisuri, Panji Watugunung dan Begawan Sulapaksi terlebih dahulu memasuki nya. Sedangkan Senopati Warigalit diijinkan untuk kembali ke kediamannya di luar tembok istana pribadi Raja.
Saat melewati lorong menuju ke Istana Selir, Dewi Naganingrum yang tengah duduk di taman sari Keraton Daha berniat untuk menyapa suaminya. Namun tiba-tiba kepala putri Prabu Darmaraja itu pusing hingga dia terjatuh.
__ADS_1
Seorang dayang istana yang menemani sang permaisuri ketiga langsung berteriak minta tolong.
Keributan itu membuat Panji Watugunung dan Begawan Sulapaksi segera bergegas mendekat.
"Ada apa ini? Kenapa Dinda Naganingrum mendadak pingsan begini?", tanya Prabu Jayengrana pada dayang istana yang ada di dekat Dewi Naganingrum.
"Mohon ampun Gusti Prabu,
Tadi Gusti Permaisuri Ketiga baik baik saja. Tiba tiba saat berdiri beliau jatuh. Hamba tidak tahu apa apa Gusti Prabu", jawab sang dayang istana dengan wajah takut di salahkan dengan pingsannya Putri Prabu Darmaraja itu.
"Cepat kau panggil tabib istana kemari", perintah Panji Watugunung segera. Sang dayang istana segera menghormat pada Panji Watugunung dan berlari menuju ke arah prajurit penjaga yang tengah bertugas.
Panji Watugunung segera membopong tubuh Dewi Naganingrum ke kamarnya. Tak berapa lama sang tabib istana datang dan segera memeriksa keadaan Dewi Naganingrum.
Dengan bantuan sang tabib istana, Dewi Naganingrum tersadar dari pingsannya. Perempuan cantik itu segera menemui Panji Watugunung yang tengah menunggu di serambi depan kamarnya bersama sang tabib istana.
"Selamat Gusti Prabu,
Gusti Permaisuri Ketiga tengah berbadan dua", ujar sang tabib istana yang membuat Dewi Naganingrum tersenyum bahagia. Tanpa malu-malu, Putri Prabu Darmaraja itu langsung memeluk tubuh Panji Watugunung di depan orang banyak.
"Akang Kasep,
Sekarang teh abdi tengah hamil anak Akang Kasep. Akang teh harus lebih sayang pada abdi", ujar Dewi Naganingrum sambil menciumi pipi Panji Watugunung.
"Dinda Naganingrum,
Jaga sikap mu. Lihat kita sedang jadi tontonan mereka", ucap Panji Watugunung yang berusaha menjaga jarak dengan Permaisuri Ketiga nya itu karena malu sendiri dengan ulah Dewi Naganingrum.
"Aih bodo teuing..
Yang penting mah abdi sedang gembira atuh dengan kehamilan ini Akang", ujar Dewi Naganingrum sembari mengelus perutnya yang masih rata.
"Iya gembira sih gembira, tapi jaga sikap juga Dinda Naganingrum", mendengar suara itu, Dewi Naganingrum segera menoleh kearah sumber suara. Dewi Anggarawati, sang pemimpin para istri Panji Watugunung menatap tajam kearah Dewi Naganingrum, membuat perempuan cantik itu segera melepaskan pelukannya pada Panji Watugunung.
Rupanya berita pingsannya Dewi Naganingrum terdengar oleh Dewi Anggarawati hingga putri Adipati Seloageng itu bergegas menuju ke tempat nya. Namun melihat sikap Naganingrum yang kolokan membuat ibu Panji Tejo Laksono itu risih juga.
"Maaf atuh Teh,
Naganingrum terbawa suasana. Hampura atuh", ujar Dewi Naganingrum sambil menunduk.
Mendengar itu, Dewi Anggarawati segera mendekati madu nya dan segera memeluknya.
"Teteh hanya bercanda, Nyimas..
Teteh tidak marah kog, cuma lain kali Nyimas harus menjaga wibawa Kangmas Prabu Jayengrana. Sekarang dia seorang raja Nyimas. Kau harus menjaga calon putra ketiga Prabu Jayengrana ini dengan baik ya", tutur lembut Dewi Anggarawati yang membuat Dewi Naganingrum mengangguk mengerti.
Dari arah belakang, muncul Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang yang kebetulan tengah lewat.
"Ada apa ini?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
__ADS_1
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁
Selamat membaca 😁🙏😁😁🙏😁