
"Jangan takut, Tumenggung..
Kita pasti bisa mengalahkan mereka", ujar Rakryan Samarotsaha sambil menggebrak kudanya menuju ke arah Pasukan Garuda Panjalu yang dipimpin oleh Jarasanda.
Tumenggung Mandalika berusaha mengejar kuda Rakryan Samarotsaha yang bergerak cepat kearah musuh. Para prajurit Jenggala pun mengikuti langkah sang pemimpin untuk menyerang lawan.
Begitu kedua pasukan berkuda bertemu, perang segera pecah di bagian belakang.
Para prajurit Jenggala yang dipimpin oleh Tumenggung Mandalika dan Rakryan Samarotsaha berusaha untuk mengacaukan sisi belakang wyuha Chakra Baswara yang merupakan gelar perang dari Pasukan Panjalu, namun hadangan dari pasukan Garuda Panjalu membuat mereka kesulitan mendekati sisi belakang wyuha.
Senopati Ringkasamba dengan segera mengarahkan kudanya ke arah Rakryan Samarotsaha begitu pula Jarasanda yang segera menggebrak kudanya menuju Tumenggung Mandalika.
Kedua punggawa pasukan Panjalu itu tahu bahwa dua orang yang mereka tuju adalah pucuk pimpinan Pasukan Jenggala.
Sambil menggebrak kudanya, sabetan pedang Senopati Ringkasamba membabat leher seorang prajurit Jenggala yang menghadang laju pergerakan kudanya.
Crasshhh..!!
Si prajurit Jenggala yang naas langsung roboh dan tewas bersimbah darah. Sabetan demi sabetan pedang Senopati Ringkasamba terus memakan korban jiwa dari pihak Jenggala.
Sebagai perwira tinggi prajurit Kurawan, Ringkasamba memang hebat dalam pertarungan memakai kuda.
Satu persatu prajurit Jenggala roboh dengan luka bekas sabetan pedang nya.
Rakryan Samarotsaha yang melihat kehebatan Senopati Ringkasamba, dengan cekatan meraih sebuah tombak yang tertancap di tanah.
Dengan sekuat tenaga ia melemparkan tombak itu kearah Senopati Ringkasamba.
"Mampus kau!", teriak Rakryan Samarotsaha dengan gusar.
Whuuuuuuuttttthhh..
Tombak meluncur cepat kearah Senopati Ringkasamba. Pemimpin prajurit Kurawan yang baru saja menghabisi nyawa seorang prajurit Jenggala, melihat serangan tombak buru buru melompat tinggi ke udara menghindari tombak.
Dia selamat, namun kuda tunggangan nya tak urung menjadi korban lemparan tombak Rakryan Samarotsaha dan turun sambil menyepak kepala seorang prajurit Jenggala yang sial.
Jleeeeppppph..
Hiieeeekkkkhhh...!!
Kuda hitam yang merupakan kuda kesayangan Senopati Ringkasamba meringkik keras sebelum akhirnya roboh ke tanah. Kuda itu sempat meregang nyawa sebentar sebelum akhirnya mati dengan tombak tertancap di lehernya.
Senopati Ringkasamba menatap sebentar ke arah kuda nya, sebelum akhirnya menoleh ke arah Rakryan Samarotsaha. Pandangan perwira tinggi prajurit Daha itu berubah menjadi bengis.
"Akan ku balas kematian mu, Ireng!", teriak Senopati Ringkasamba yang dengan cepat melesat ke arah Rakryan Samarotsaha. Setelah membantai seorang prajurit Jenggala, dia menjejak tanah dengan keras lalu dengan gerakan cepat mengayunkan pedangnya kearah leher Rakryan Samarotsaha.
Whuuussshh
Putra angkat Prabu Airlangga itu segera menjatuhkan tubuhnya ke samping kudanya. Kedua orang punggawa itu lalu berhadapan.
Tanpa banyak bicara, Senopati Ringkasamba segera melesat ke arah Rakryan Samarotsaha. Ayunan pedang nya mengincar kepala sang punggawa Kahuripan.
Rakryan Samarotsaha segera mengayunkan pedangnya, menangkis sabetan pedang Senopati Ringkasamba.
Tringgggg!!!
Melihat lawan bisa menangkis sabetan pedang nya, dengan cepat Senopati Ringkasamba mengubah arah pedangnya kearah leher dari sisi kiri.
Tringgggg tringgggg tringgggg..!!!
Benturan pedang mereka terdengar nyaring. Senopati Ringkasamba terus bertubi-tubi melancarkan serangannya ke arah Rakryan Samarotsaha. Namun Rakryan Samarotsaha pun berusaha sekuat tenaga untuk mengimbangi permainan pedang Senopati Kurawan itu.
Dua puluh jurus telah berlalu, dan nampak nya kemampuan permainan pedang mereka berdua berimbang.
Peluh telah menetes dari dahi Rakryan Samarotsaha begitu pula dengan Senopati Ringkasamba. Dengan gusar dia mengatur nafasnya yang tersengal akibat banyaknya tenaga yang dia keluarkan.
'Brengsek,
Orang Jenggala ini hebat juga ternyata. Aku harus cepat menyelesaikan pertarungan ini, kalau tidak aku akan kalah', batin Senopati Ringkasamba. Pikiran yang sama juga melintas di benak Rakryan Samarotsaha.
Perlahan Senopati Ringkasamba memusatkan tenaga dalam nya pada pedang nya. Rupanya dia ingin menggunakan ilmu Pedang Sembrani yang merupakan puncak dari ilmu berpedang nya.
Pamor kehitaman berhawa dingin segera tercipta dari pedang di tangan kanan Senopati Ringkasamba.
Usai berhasil membuat pamor kehitaman pada pedangnya, Senopati Ringkasamba segera melesat cepat kearah Rakryan Samarotsaha. Pedangnya terayun ke leher sang punggawa Kahuripan.
Whuuuggghhh..
Rakryan Samarotsaha yang tidak memperhatikan perubahan pada pedang Senopati Ringkasamba, segera menangkis sabetan pedang itu memakai pedangnya.
Thhraaaangggggggg..
Takkkkkkkk..!!!
Pedang Rakryan Samarotsaha patah. Melihat itu, Rakryan Samarotsaha terkejut bukan main dan melompat mundur beberapa langkah kebelakang, namun Senopati Ringkasamba terus memburu nya. Segera Rakryan Samarotsaha melemparkan sisa pedang di tangan nya ke arah Senopati Ringkasamba.
Shreeeeeeeetttthhh!
Senopati Ringkasamba menunduk sedikit menghindari lemparan Rakryan Samarotsaha. Namun laju gerakannya sama sekali tidak berubah. Sabetan pedang nya kembali mengincar leher sang putra angkat Prabu Airlangga.
Wheeeeessshhh..
Dengan cepat, Rakryan Samarotsaha berkelit ke samping kanan kemudian menghantamkan tangan kanannya ke arah punggung kiri Senopati Ringkasamba.
Perwira tinggi prajurit Daha itu dengan sigap berkelit ke kanan, lalu dengan cepat melayangkan tendangan keras kearah perut Rakryan Samarotsaha yang kehilangan keseimbangan tubuhnya.
Dhiesshhhhhhh..
__ADS_1
Aauuggghhhh!
Rakryan Samarotsaha meraung keras. Tubuh tegap nya terdorong mundur beberapa langkah kebelakang. Senopati Ringkasamba yang melihat kesempatan, tidak menyia-nyiakan nya.
Dengan cepat ia memutar pedangnya, dan berlari cepat kearah Rakryan Samarotsaha yang tengah limbung. Pedang di tangan kanannya mengarah ke leher perwira Jenggala.
Tumenggung Mandalika yang berada tak jauh dari tempat itu, dengan cepat melesat menghadang sabetan pedang Senopati Ringkasamba.
Thrrriiinnnggggg!!
Akibat tangkisan itu, Senopati Ringkasamba urung menghabisi nyawa Rakryan Samarotsaha. Senopati dari Kurawan itu melompat mundur beberapa langkah kebelakang. Dengan sorot mata tajam, dia menatap ke arah Tumenggung Mandalika yang segera membantu Rakryan Samarotsaha berdiri.
"Hati hati Tumenggung Mandalika,
Kemampuan beladiri orang itu hebat. Pedang ku hancur saat berbenturan dengan pedangnya", ucap lirih Rakryan Samarotsaha dengan meringis menahan sakit pada perut nya yang terkena tendangan keras dari Senopati Ringkasamba.
"Kalau begitu kita sebaiknya mengeroyoknya, Gusti Pangeran.
Jika tidak, kita akan mati konyol di sini", balas Tumenggung Mandalika dengan ucapan lirih pula.
"Kalau begitu, kau bergerak dari kanan dan aku dari kiri.
Ayo cepat!", ujar Rakryan Samarotsaha yang segera mencabut keris di pinggangnya, membuat Tumenggung Mandalika segera memutar arah dan menerjang maju ke arah Senopati Ringkasamba. Sedangkan Rakryan Samarotsaha bergerak menuju arah sebaliknya.
Dengan kompak, Tumenggung Mandalika menyabetkan pedang ke arah leher Senopati Ringkasamba sedangkan Rakryan Samarotsaha menusukkan keris nya ke arah perut.
Senopati Ringkasamba langsung meloncat dan memutar tubuhnya diantara dua ayunan pedang dan keris yang mengincar nyawanya.
Tumenggung Mandalika yang melihat itu, bergerak cepat ke samping kanan dan menendang punggung Senopati Ringkasamba dengan keras.
Dessshhhhh..
Ougghhh!!
Senopati Ringkasamba terjungkal ke depan dan dengan cepat membuat gerakan jungkir balik di tanah kemudian menjauh 2 tombak dari pengeroyok nya itu. Segera dia berusaha berdiri sambil mengusap bibirnya yang mengeluarkan darah.
Jarasanda yang baru saja menghabisi nyawa seorang bekel prajurit Jenggala, langsung menerjang ke arah Tumenggung Mandalika yang baru saja menendang punggung Senopati Ringkasamba.
Sabetan Keris Kyai Klotok bergerak cepat kearah leher Sang Tumenggung.
Whuuuggghhh..
Angin dingin yang menyertai gerakan Keris Kyai Klotok membuat Tumenggung Mandalika tersadar bahwa nyawanya dalam bahaya. Dengan cepat ia bergerak ke samping kanan, namun hantaman tangan kiri Wakil Pimpinan Pasukan Garuda Panjalu membuat nya terpental ke samping Rakryan Samarotsaha.
Aaarrghhh!!
Jerit keras terdengar saat tubuh Tumenggung Mandalika jatuh ke tanah di samping Rakryan Samarotsaha. Dada kanan nya terasa sakit seperti baru ditimpa batu besar.
Jarasanda segera mendekati Senopati Ringkasamba.
"Aku tidak apa-apa, Saudara Jarasanda.
Mereka berdua dengan licik mengeroyok ku", ujar Senopati Ringkasamba dengan sorot mata penuh amarah.
"Sekarang kita berdua akan menghajar mereka, Senopati Ringkasamba.
Ayo kita lakukan", ucap Jarasanda yang segera menoleh ke arah Tumenggung Mandalika dan Rakryan Samarotsaha.
"Baik Saudara Jarasanda", jawab Senopati Ringkasamba dengan mengangguk mengerti.
Mereka berdua segera menyiapkan kuda kuda ilmu beladiri mereka, lalu beriringan melesat ke arah Tumenggung Mandalika dan Rakryan Samarotsaha.
Keris Kyai Klotok nya Jarasanda menusuk ke arah Rakryan Samarotsaha, sedang pedang Senopati Ringkasamba terarah pada leher Wirondaya.
Dua punggawa Kahuripan itu segera menangkis serangan dari Jarasanda dan Senopati Ringkasamba.
Pertarungan sengit segera terjadi.
Jurus demi jurus mereka lewati, setidaknya sudah lebih dari 15 jurus. Tumenggung Mandalika mulai keteteran meladeni permainan pedang Senopati Ringkasamba yang cepat dan berbahaya.
Begitu pula dengan Rakryan Samarotsaha. Dua kali sudah Keris Kyai Klotok nya Jarasanda nyaris merenggut nyawanya.
Antara Senopati Ringkasamba dan Jarasanda seperti saling melengkapi. Mereka unggul dalam pertahanan dan penyerangan.
Dengan Ilmu Pedang Sembrani, gerakan cepat membuat beberapa luka sayat pada tangan dan bahu Tumenggung Mandalika. Sedangkan keris Jarasanda sudah mengoyak beberapa bagian baju mewah Rakryan Samarotsaha.
Jarasanda yang baru saja menyabetkan Keris Kyai Klotok, melihat celah pada pertahanan putra angkat Prabu Airlangga itu. Dengan cepat, tendangan keras nya terarah pada perut Rakryan Samarotsaha.
Deshhhh...
Oouugggggghhhh!!
Punggawa Istana Kahuripan itu menjerit keras. Saat yang bersamaan, Senopati Ringkasamba berhasil menjatuhkan Tumenggung Mandalika dengan hantaman tangan kirinya.
Tubuh Tumenggung Mandalika terpelanting ke samping Rakryan Samarotsaha.
Jarasanda yang tak ingin membuang kesempatan, langsung melesat ke arah mereka.
Rakryan Samarotsaha yang panik, segera menyambar tubuh Tumenggung Mandalika untuk di jadikan tameng saat Keris Kyai Klotok menghujam ke arah nya.
Jllleeeeppppphhh...
Aaaarrrggghhhh!!!
Mata Tumenggung Mandalika melotot lebar saat keris Jarasanda menusuk ulu hati nya. Dia tidak menyangka bahwa Rakryan Samarotsaha akan tega mengorbankan nyawa nya agar Samarotsaha selamat.
Usai menusuk ulu hati Mandalika, Jarasanda segera mencabut keris pusaka nya dan melompat menjauh dari tubuh Tumenggung Mandalika.
__ADS_1
Punggawa Istana Kahuripan itu muntah darah. Dengan sisa nafas di lehernya, dia menunjuk ke arah Rakryan Samarotsaha.
"K-k-kau..... Ba-ba...jingan!!!", usai berkata demikian Tumenggung Mandalika terkulai lemas kepalanya. Dia tewas dengan luka menganga lebar di ulu hati nya.
Rakryan Samarotsaha segera melirik ke sekelilingnya. Para prajurit Jenggala sudah kocar kacir menghadapi pasukan Garuda Panjalu. Melawan mereka berdua justru akan membuat dia mengantar nyawa nya sia-sia. Setelah melihat kesempatan, Rakryan Samarotsaha segera melemparkan mayat Tumenggung Mandalika kearah Senopati Ringkasamba seraya menghantamkan tangan kiri nya yang sudah di lambari Ajian Suryapati.
Hawa panas menyertai sinar kemerahan melesat cepat kearah Senopati Ringkasamba dan Jarasanda.
"Awas Saudara Jarasanda!", teriak Senopati Ringkasamba sambil mendorong tubuh Jarasanda. Akibatnya Ajian Suryapati menghantam dada Senopati Ringkasamba.
Blarrrrrr!
Aauuggghhhh..!!!
Tubuh Senopati Ringkasamba terpelanting ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Bersamaan dengan itu, Rakryan Samarotsaha melompat ke atas kuda seorang prajurit Jenggala yang baru saja tewas di tusuk tombak. Dia menggebrak kuda itu, kabur meninggalkan medan pertempuran.
Melihat sang pemimpin melarikan diri, para prajurit Jenggala yang tersisa segera berupaya untuk menyusul Rakryan Samarotsaha. Namun para prajurit Garuda Panjalu tidak semudah itu membiarkan mereka lolos. Dari sekitar seribu prajurit Jenggala yang tersisa, hanya sepertiga nya saja yang bisa meloloskan diri.
Jarasanda segera berlari ke arah Senopati Ringkasamba.
"Senopati Ringkasamba, bangun lah..
Cepat bangun", teriak Jarasanda dengan menggoyangkan tubuh Senopati Ringkasamba. Perwira prajurit Kurawan itu membuka mata dengan perlahan, kemudian tersenyum tipis dengan bibir yang memucat. Darah terus mengalir dari sudut bibirnya.
Perlahan Senopati Ringkasamba menutup mata. Dia gugur sebagai bunga kerajaan Panjalu.
Jarasanda yang dikenal sebagai pria berhati dingin, hari itu menjatuhkan air mata menangisi kematian sang perwira dari Kurawan. Demung Marakeh yang ikut bergabung dengan pasukan Garuda Panjalu, langsung mendekati nya.
"Sudahlah Jarasanda,
Kematian Senopati Ringkasamba memang duka untuk kita semua. Aku tau dia telah menyelamatkan nyawa mu.
Jangan sia-siakan pengorbanan nya. Perang masih belum selesai. Ayo kita kalahkan Mapanji Garasakan", ucapan Demung Marakeh membuat semangat tempur Jarasanda kembali bergelora.
Dia segera berdiri.
"Kau dan kau,
Urus jenazah Senopati Ringkasamba", perintah Jarasanda pada dua prajurit bawahannya. Mereka berdua segera mengangguk mengerti.
Setelah berpandangan sejenak, Jarasanda dan Demung Marakeh segera melompat ke atas kuda mereka masing-masing dan memacu kuda mereka menuju ke arah medan tempur di depan.
Panji Watugunung terus mengamati jalannya pertempuran. Saat itu dia melihat pergerakan prajurit Jenggala yang mulai kacau balau karena dua sayap wyuha Garuda Nglayang mereka telah di kalahkan.
Ratna Pitaloka yang berkuda di dekatnya, segera berbisik lirih pada Panji Watugunung. Mendengar itu,Panji Watugunung tersenyum lebar.
Tangan kanannya segera terangkat ke atas. Dengan isyarat 2 jari terbuka, prajurit peniup terompet tanduk kerbau mengerti.
Thuuuuuuuuutttttthhhh.
Thuuuuuuuuutttttthhhh!!!
Mendengar suara terompet tanduk kerbau, para pimpinan kelompok pasukan Panjalu mengerti. Mereka segera memecah wyuha Chakra Baswara menjadi dua bagian sama besar dan bergerak mengepung para prajurit Jenggala yang tersisa.
Panji Watugunung tersenyum lebar melihat perubahan wyuha Chakra Baswara. Dengan bersemangat dia berkata.
"Saatnya untuk siasat terakhir"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya
Selamat membaca 🙏🙏🙏
__ADS_1