Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Perjanjian Sesat


__ADS_3

Panji Watugunung tersenyum tipis mendengar tantangan dari orang yang mengaku berjuluk Sepasang Pendekar Kapak Emas dari Gunung Mandrageni. Dia mengamati kedua orang di depannya dengan seksama.


"Jangan gampang naik darah, Kisanak.


Ingatlah kemarahan hanya akan menciptakan gelombang kehancuran untuk diri sendiri", ujar Panji Watugunung sambil terus memperhatikan gerak-gerik kedua orang itu.


"Ah banyak omong!


Baswara, cepat serang dia!", perintah si lelaki yang lebih tua pada adik seperguruan nya itu.


"Baik Kakang Anderpati", jawab si lelaki yang bernama Baswara itu dengan cepat memutar kapak besarnya dengan satu tangan lalu melesat cepat kearah Panji Watugunung.


Cempluk Rara Sunti yang sedari tadi menahan geram karena sikap mereka, langsung mencabut pedang yang tergantung di pinggangnya. Menggunakan Ilmu Pedang Tarian Badai Laut Selatan, gerakan gemulai Cempluk Rara Sunti seperti menari menghadang laju serangan Pendekar Kapak Emas.


Thrrriiinnnggggg!!


Bunyi nyaring terdengar saat pedang Cempluk Rara Sunti beradu daya dengan Kapak Emas milik Baswara.


Pria bertubuh kekar ini langsung memutar kapak nya. Lalu dengan sedikit memelintir gerakan tubuhnya, Baswara kembali ayunkan kapak besarnya ke kepala Cempluk Rara Sunti.


Whhhuuuuuttttthhhh..


Putri Warok Surapati itu dengan gemulai menghindari hantaman kapak emas hingga senjata pusaka itu menghantam tanah dengan keras.


Bhuuummmmmh!


Dengan gerakan gesit yang memikat, Cempluk Rara Sunti segera sabetkan pedangnya ke arah punggung Baswara yang baru saja menghantam tanah.


Pria berbaju merah tua itu mencoba menghindari sabetan pedang Cempluk Rara Sunti dengan berkelit ke samping kiri. Namun itulah yang di tunggu putri Warok Surapati dari Wengker itu.


Saat Baswara berkelit ke kiri, tangan kiri Cempluk Rara Sunti dengan cepat menghantam kearah pinggang Baswara yang pertahanan nya tengah terbuka.


Adik seperguruan Anderpati itu berusaha keras untuk bertahan dengan menghantamkan tangan kiri nya.


Blaaarrr!!!


Baswara terdorong mundur beberapa tombak. Pria bertubuh kekar itu batuk kecil beberapa kali karena merasakan sesak pada dadanya.


Sementara Cempluk Rara Sunti yang juga terdorong mundur 2 langkah hanya merasakan tangan kiri nya sedikit kebas saja.


'Perempuan ini bukan orang sembarangan. Aku tidak boleh main main lagi', batin Baswara yang segera bersiap mengeluarkan jurus pamungkas dari ilmu silat Kapak Emas nya, Jurus Kapak Membelah Matahari.


Baswara memutar cepat kapak besarnya. Perlahan kapak emas mengeluarkan sinar kuning keemasan yang menyilaukan mata.


Cempluk Rara Sunti pun tak tinggal diam. Putri Warok Surapati itu dengan cepat melenting tinggi ke udara sambil membuat gerakan memutar pedangnya dan mendarat di tanah dengan pedang yang berputar cepat hingga menciptakan angin menderu seperti badai yang berputar menakutkan.


Itu adalah jurus puncak Ilmu Tarian Pedang Badai Laut Selatan ciptaan Warok Surapati untuk putri kesayangannya itu.


Panji Watugunung terus mengawasi gerak-gerik Anderpati sambil sesekali melirik ke arah Cempluk Rara Sunti.


Baswara segera meloncat ke udara lalu melesat turun sembari mengayunkan kapak emas nya kearah Cempluk Rara Sunti.


Hiyyyyaaaaaaaatttttt!!!


Cempluk Rara Sunti dengan gemulai memutar tubuhnya. Pedang yang berputar cepat itu segera terayun ke atas. Angin kencang dingin yang berputar cepat laksana badai mengamuk menerabas cepat kearah Baswara yang ada di udara.


Whhhuuuusssssshhhhhh...


Blllaaammmmmmmm!!!


Baswara terpental ke belakang. Kapak emas nya terlepas dari tangannya. Anderpati yang melihat kapak emas jatuh dengan cepat berkelebat menyambar kapak emas Baswara lalu bergerak menghentikan laju tubuh Baswara yang terpental.


Hukkkk huooooggghhhh!


Baswara muntah darah segar. Angin dingin yang menghajar tubuhnya rupanya mengandung tenaga dalam tingkat tinggi. Dia luka dalam cukup parah.


Sedangkan Cempluk Rara Sunti yang juga terdorong mundur, dengan cepat di hentikan oleh Panji Watugunung yang sigap bergerak saat ledakan dahsyat tadi terjadi.


"Dinda Sunti,


Kau tidak apa-apa?", tanya Panji Watugunung segera saat melihat ada darah segar menetes dari sudut bibir Cempluk Rara Sunti.


"Tidak apa-apa Gusti Prabu.. Hanya luka ringan biasa", jawab Cempluk Rara Sunti sambil mengusap darah yang keluar.


"Hemmmmmmm..


Sudah kau beristirahat aja. Biar suami mu ini yang menyelesaikan ini semua. Kau mengerti?", ujar Panji Watugunung sembari tersenyum tipis.


"Baik Gusti Prabu. Cempluk mengerti", Cempluk mengangguk tanda setuju dengan ucapan Panji Watugunung.


"Dinda Srimpi kemarilah..


Rawat saudari bungsu mu. Aku percayakan dia kepada mu", ucap Panji Watugunung yang membuat Dewi Srimpi tersenyum simpul dan segera mengangguk mengerti.


Panji Watugunung segera berdiri dan berjalan mendekati Anderpati yang masih sibuk menyalurkan tenaga dalam pada Baswara yang terluka dalam cukup serius.


"Apa masih mau di teruskan atau cukup sampai disini, Pendekar Kapak Emas?", ujar Panji Watugunung yang membuat Anderpati geram seketika.


"Kurang ajar!


Kau meremehkan kemampuan kami rupanya. Baik, kau jangan menyesal karena sudah membuat ku marah", Anderpati segera bergegas memutar kapak emas nya.

__ADS_1


"Tunggu dulu, kisanak..


Kau memakai senjata sedangkan aku tidak. Tidak adil bukan? Biarkan aku mengambil senjata lebih dulu", kata Panji Watugunung yang segera merogoh sesuatu di udara. Tangan Raja Panjalu itu seperti menembus ruang dimensi berbeda lalu menarik sebuah pedang yang menjadi pusaka andalannya selama ini, Pedang Naga Api.


Melihat pergerakan lawan yang sangat aneh, Anderpati terkejut bukan main. Tanpa sadar dia mundur selangkah ke belakang.


'Bangsat!


Pria ini rupanya pendekar berilmu tinggi. Aku harus cepat. Kalau tidak bisa bisa aku kalah', batin Anderpati yang segera mengerahkan tenaga dalam tingkat tinggi nya sembari memutar kapak emas nya dengan cepat.


Sementara itu Panji Watugunung segera menghunus Pedang Naga Api dari sarungnya.


Hawa panas segera tersebar di sekitar tempat itu.


"Aku sudah siap kisanak. Majulah!", ucap Panji Watugunung segera.


Anderpati langsung melesat cepat kearah Panji Watugunung seraya mengayunkan kapak emasnya ke arah dada Sang Maharaja Panjalu.


Panji Watugunung segera menangkis ayunan kapak emas dengan Pedang Naga Api nya.


Thhraaaangggggggg!!


Melihat lawan bisa menangkis sabetan kapak emas nya, Anderpati bergerak cepat melancarkan serangan-serangan mematikan menggunakan ilmu silat Kapak Emas nya.


Panji Watugunung yang sudah lama tidak menggunakan Ilmu Pedang Tanpa Bentuk, melayani serangan demi serangan Anderpati yang ganas dan mematikan.


Thhhrriinnngggggg thriiiinnngggggg!!


Bunyi nyaring terus terdengar dari benturan dua senjata andalan masing masing.


Puluhan jurus telah terlewati namun Anderpati belum bisa menyarangkan satu pukulan pun pada Panji Watugunung.


Anderpati yang mulai kelelahan, gerakan tubuhnya mulai melambat seiring semakin terkurasnya tenaga dalam yang dia keluarkan. Ayunan kapak emas nya yang berat dan besar membuat tenaga Anderpati semakin habis.


Setiap serangan nya mampu di tepis, di tangkis dan di hindari oleh Panji Watugunung dengan baik.


Anderpati melompat mundur beberapa tombak ke belakang. Nafas Pendekar Kapak Emas itu ngos-ngosan setelah hampir 50 jurus beradu ilmu beladiri dengan Panji Watugunung.


"Bedebah!


Kau sengaja menguras tenaga ku rupanya. Tak akan ku ampuni", teriak Anderpati dengan berusaha keras mengatur pernafasan nya yang memburu.


"Ayo tunggu apalagi, kisanak?


Kita selesaikan ini segera. Masih banyak urusan yang menunggu ku", ujar Panji Watugunung sembari tersenyum tipis.


"Laknat!


Panji Watugunung tak bisa tenang saja. Dia segera merapal Ajian Tapak Dewa Api lalu menyalurkan pada Pedang Naga Api nya. Pamor merah pusaka itu semakin terlihat menyala dan berhawa panas menyengat.


"Mampus kau bajingan!


Chiiiiaaaaaaaaaatttttttt..."


Anderpati mengayunkan kapak emas nya ke arah Panji Watugunung. Sinar biru bercampur kuning keemasan menerabas cepat kearah Panji Watugunung. Raja Panjalu itu segera mengayunkan Pedang Naga Api nya menggunakan jurus Tebasan Pedang Dewa yang di lambari Ajian Tapak Dewa Api.


Dua sinar berbenturan di udara dan meledak dengan keras.


Dhhhhuuuaaaaaarrrrrrrhh!!!!!


Ledakan dahsyat itu terdengar hingga ke perkemahan para prajurit Panjalu. Senopati Dewangkara dan Senopati Warigalit yang tengah berbincang langsung terkejut.


Dua orang perwira tinggi prajurit Daha itu segera melesat cepat kearah sumber suara yang ada di barat perkemahan para prajurit Panjalu.


Saat mereka berdua sampai, sebuah pemandangan aneh terlihat. Panji Watugunung menyarungkan Pedang Naga Api sedangkan seorang lelaki berbaju merah tua tampak sedang kesakitan seraya muntah darah segar.


"Dhimas Prabu,


Kau baik baik saja?", tanya Senopati Warigalit segera.


"Aku baik baik saja Kakang, kau tenang saja", jawab Panji Watugunung seraya tangan kanannya bergerak menembus ruang dimensi berbeda di udara, kemudian Pedang Naga Api menghilang dari tangan kanannya.


Senopati Dewangkara yang baru saja melihat kejadian itu, terkejut bukan main. Dia pernah mendengar dari gurunya bahwa yang mampu menembus ruang dimensi berbeda adalah orang yang sakti mandraguna.


"Siapa dia Gusti Prabu? Kenapa dia ada disini?", Senopati Dewangkara menunjuk ke arah Anderpati dan Baswara yang masih terkapar di tanah.


Belum sempat Panji Watugunung menjawab, Dewi Srimpi dan Cempluk Rara Sunti mendekati mereka. Senopati Dewangkara dan Senopati Warigalit segera menghormat pada dua Selir Panji Watugunung itu.


"Mereka pendekar yang baru saja turun gunung, ingin menjajal kemampuan di dunia persilatan", ujar Dewi Srimpi sembari tersenyum tipis.


"Hehehe..


Kalian benar benar hebat. Berani menantang Gusti Prabu Jayengrana", Senopati Warigalit terkekeh kecil sambil menatap ke Anderpati yang meringis menahan rasa sakit pada dada nya.


"Gus-Gusti Prabu? Dia adalah raja?", tanya Anderpati yang kaget setelah mendengar ucapan Warigalit.


"Benar, beliau ini adalah Gusti Prabu Jayengrana. Maharaja Panjalu yang tersohor dengan ilmu kesaktiannya. Kau belum pernah dengar?", sahut Senopati Dewangkara segera. Anderpati dan Baswara terkejut bukan main mendengar ucapan Senopati Dewangkara. Mereka berdua segera bersujud kepada Panji Watugunung.


"Am-ampuni kami Gusti Prabu.. Kami mohon ampun beribu ampun Gusti", ujar Sepasang Pendekar Kapak Emas dari Gunung Mandrageni itu bersamaan.


"Sudahlah, tak perlu di perpanjang. Cukup sampai disini saja.

__ADS_1


Cuma satu nasehat bijak untuk kalian, ingatlah diatas langit masih ada langit. Sehebat apapun ilmu yang kalian miliki, masih ada orang lain yang lebih berilmu dari kalian.


Sekarang kalian boleh pergi", ucap Panji Watugunung yang membuat Sepasang Pendekar Kapak Emas itu segera berdiri. Kemudian dua orang itu berjalan tertatih menjauhi tempat itu. Tak berapa lama kemudian mereka berdua menghilang di balik rimbun pepohonan hutan yang lebat.


"Mari Dhimas Prabu kita kembali ke perkemahan prajurit.


Ada yang perlu kita bahas disana", ajak Warigalit yang segera disetujui oleh Panji Watugunung dan kedua istrinya. Mereka berlima segera berjalan kearah tenda besar yang menjadi tempat peristirahatan Panji Watugunung.


**


Di ruang pribadi Adipati Kembang Kuning.


Patih Harjamukti tengah duduk bersila di lantai ruang pribadi Adipati Kembang Kuning.


Laporan yang baru dia sampaikan membuat Adipati Mpu Pamadi mengelus kumis tipis nya. Sambil mondar-mandir di ruang pribadi nya, Adipati Kembang Kuning itu nampak berpikir keras.


"Apa sebaiknya aku terima tawaran dari Tumenggung Kertawahana, Harjamukti?


Selain untuk membantu pasukan kita, aku berpikir bahwa bantuan dari Nyi Suhita bisa melindungi ku dari ancaman Jayengrana", tanya Adipati Mpu Pamadi sembari menatap ke arah Patih Harjamukti yang duduk di bawahnya.


"Tapi Gusti Adipati,


Nyi Suhita itu berbahaya. Hamba dengar penyihir itu meminta tumbal 10 gadis perawan sebagai syarat untuk membantu kita.


Ini perjanjian sesat Gusti Adipati, jika kita menerimanya maka perempuan sihir itu pasti akan terus menerus meminta korban manusia lagi", jawab Patih Harjamukti yang kurang setuju dengan pemikiran Adipati Mpu Pamadi mengenai rencana bantuan dari Nyi Suhita.


"Apa Gusti Adipati kurang yakin dengan kemampuan para prajurit Kembang Kuning?", imbuh Patih Harjamukti kemudian.


"Aku sangat yakin dengan kemampuan beladiri para prajurit Kembang Kuning, Harjamukti. Yang aku khawatirkan adalah ilmu kesaktian Jayengrana. Sepak terjangnya di dunia persilatan tersohor sebagai pendekar pilih tanding.


Tapi aku juga tidak mau kalah dengan Jayengrana, Harjamukti..


Akan kulakukan semua cara yang diperlukan agar tujuan ku tercapai", ucap Adipati Mpu Pamadi dengan penuh semangat.


Patih Harjamukti hanya bisa diam saja mendengar ucapan Adipati Mpu Pamadi yang keras hati.


Sore itu, di temani Tumenggung Kertawahana, Adipati Mpu Pamadi mendatangi kediaman Nyi Suhita yang ada di salah satu lembah yang terkenal angker di selatan Kota Kadipaten Kembang Kuning. Mereka dibantu 100 prajurit untuk membawa 10 gadis perawan yang akan di jadikan sebagai tumbal untuk persembahan pada Batari Durga.


Para prajurit Kembang Kuning yang mengiringi Adipati Mpu Pamadi bergidik ngeri saat melihat Nyi Suhita di bantu cantrik nya membunuh 10 gadis perawan yang mereka bawa kesana.


Di rumah tua yang ada di lembah angker itu hanya di huni Nyi Suhita dan dua cantrik nya, Adipati Mpu Pamadi duduk bersila di depan kuali besar yang berisi darah segar 10 gadis yang menjadi korban persembahan dari Nyi Suhita kepada Batari Durga.


"Hihihihihihihi..


Apa kau sudah siap Adipati Kembang Kuning? Akan ku lumuri tubuh mu dengan darah perawan yang akan menjadi jimat kekebalan untuk mu. Kau tidak akan mempan di tusuk, di bacok, di iris oleh senjata apapun..


Tapi ingat, setiap bulan purnama, kau harus menyerahkan seorang gadis perawan sebagai tumbal untuk melanggengkan ilmu kebal mu ini hihihihi", Nyi Suhita tertawa seram sambil memperlihatkan gigi nya yang menghitam.


"Aku sudah siap, Nyi..


Apapun kulakukan asal aku bisa mengalahkan pasukan Panjalu dan Jayengrana", ujar Mpu Pamadi dengan cepat.


"Bagus...


Bersiaplah untuk menerima ilmu kebal, Adipati Kembang Kuning hihihihi...", tawa seram Nyi Suhita kembali berderai. Mulut penyihir itu lalu komat kamit membaca mantra.


Perlahan tangan perempuan tua itu mengambil gayung dan mulai menyiramkan darah perawan pada kepala Mpu Pamadi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya 😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁


Selamat membaca 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2