Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Kembali ke Gelang-gelang


__ADS_3

Gumbreg mendelik sewot kearah Ludaka. Perutnya yang biasanya terisi penuh benar benar keroncongan sekarang. Gara gara masalah si Juminten, dia tidak menyentuh makanan sama sekali. Sekarang masalah si Juminten beres, sate kambing muda nya malah di lahap Ludaka.


Dengan gontai, dia menuju ke dapur. Berharap menemukan sisa makanan. Si Juminten melihat tingkah Gumbreg langsung mendekat.


"Ada apa Kang? Kog sewot begitu".


"Sate ku di makan Ludaka. Masih ada lagi gak dhek satenya?", si Gumbreg menatap penuh harap.


"Yah habis kang. Makanan yang lain juga habis. Itu tinggal kuah sama nasi", Si Juminten menunjukkan bakul nasi sama kuah di kuali.


Gumbreg langsung lemas seketika.


Sementara itu Panji Watugunung usai makan bersama seluruh penduduk Wanua Klakah dan pasukannya, mundur dari serambi.


Dewi Srimpi segera bergegas mengikuti. Cuma Ratna Pitaloka yang sedikit melirik. Karna malam ini jatahnya Dewi Srimpi, dia tidak berani mengacau.


Panji Watugunung membuka pintu kamar nya, Dewi Srimpi buru buru menutup pintu kamar. Di meja kecil, tersedia arak beras pemberian Jarasanda. Untuk menghilangkan pikiran pusing katanya.


Begitu duduk di kursi, Panji Watugunung meraih cangkir. Dewi Srimpi segera menuangkan arak beras dari kendi.


Rasa manis bercampur pahit membuat wajah Panji Watugunung sedikit memerah. Dia jarang menyentuh minuman keras, jadi sedikit kaget. Sehabis cangkir nya kosong, Dewi Srimpi segera menuangkan arak beras lagi.


Pengaruh minuman keras membuat Panji Watugunung sedikit liar menatap istrinya yang cantik. Selepas menikah, cadar hitam gadis itu memang sudah tidak dipakai lagi. Membuat kecantikan wanita itu benar-benar terlihat.


Pelan, Panji Watugunung meraih tangan Dewi Srimpi dan menarik nya hingga mendekat. Panji Watugunung segera berdiri.


"Kau cantik sekali malam ini Srimpi".


"Apa sebelum nya aku tidak cantik Denmas?", tanya Dewi Srimpi pura pura merajuk.


"Cantik, tapi malam ini kamu terlihat lebih cantik", senyuman manis Panji Watugunung tersungging di bibirnya.


Dengan lembut, Panji Watugunung meraih dagu lancip selir termuda nya. Dan mengecup bibir mungil berwarna merah muda Dewi Srimpi.


Cuppp


Wajah cantik Dewi Srimpi merona merah. Matanya melirik ke arah ranjang. Panji Watugunung tersenyum tipis. Dia hapal betul watak istri nya ini.


Segera dia menarik tangan Dewi Srimpi menuju ranjang. Dan lembut dia mendorong tubuh ramping perempuan itu kesana.


Malam begitu dingin, namun suasana begitu panas di dalam kamar Panji Watugunung.


**


Sang Prabu Samarawijaya sedang duduk di kursi nya di ruang pribadi raja.


Mapatih Jayakerti dan penasehat utamanya Rakryan Ranggawangsa duduk di lantai dengan bersila.


Kepala Raja Daha itu sedang pusing. Laporan telik sandi yang disampaikan Mapatih Jayakerti membuat kepalanya sakit.


"Paman Ranggawangsa, apa saran mu? Coba aku ingin dengar".


"Ampun Gusti Prabu, sebaiknya kita bergerak cepat. Kita harus segera mengumpulkan dukungan dari adipati adipati daerah. Bila tidak cepat, takutnya Garasakan sudah bergerak lebih dulu", ujar Ranggawangsa sambil menghormat.


"Maaf Gusti Prabu, melihat gelagat ini sebaiknya usul Paman Ranggawangsa segera dilakukan. Walaupun Garasakan belum bergerak terang-terangan, tapi mempersiapkan diri hamba rasa lebih baik", Mapatih Jayakerti menimpali.


"Aku sebenarnya tidak ingin berperang dengan Garasakan, mengingat Kanjeng Romo Airlangga mendirikan pertapaan di Pucangan", ujar Sang Prabu Samarawijaya sambil memijat keningnya.


"Kita hanya mempertahankan diri Gusti Prabu, bagaimana pun juga Panjalu adalah amanat Gusti Airlangga agar warisan Dinasti Isyana tetap berdiri di bumi Jawa ini Gusti Prabu", Ranggawangsa menerangkan tentang maksud Airlangga.


Hemmmm


"Lantas, siapa utusan yang bisa kita gerakkan ke daerah wilayah kita? Tumenggung dan Senopati jelas tidak mungkin kita utus", tanya Sang Prabu Samarawijaya sambil memandang dua orang kepercayaan nya itu.


"Hamba dengar, Panji Watugunung sudah berhasil menumpas gerombolan perampok yang di dalangi Gunung Kematian. Bukankah dia bisa kita manfaatkan sebagai utusan ke wilayah kita di selatan? Sedangkan untuk wilayah utara, Balapati dari Pasukan Garuda Panjalu Utara bisa kita utus ke daerah Muria, Medang, Lewa, Dieng,Kalingga sampai ke Bumi Sambara", Ranggawangsa menghaturkan sembah.


"Benar usulan Paman Ranggawangsa Gusti Prabu, untuk sementara pasukan Garuda Panjalu hanya perlu berpatroli di sepanjang perbatasan Panjalu, sedangkan Panji Watugunung bisa kita utus ke Seloageng, Gelang-gelang, Karanganom, Tanggulangin, Wengker, sampai ke Anjuk Ladang.


Tanpa membawa banyak pengikut, gerakan nya bisa lebih cepat. Untuk keamanan, kita tak perlu ragu dengan kemampuan nya"


Sang Prabu Samarawijaya menganggukkan kepalanya.


"Baiklah..


Jayakerti, kirim utusan untuk menemui nya".

__ADS_1


"Sendiko dawuh Gusti Prabu Samarawijaya", Mapatih Jayakerti menghaturkan sembah kepada Sang Maharaja Daha.


**


Pagi menjelang tiba di Wanua Klakah. Cuaca musim akhir penghujan ini sedikit mendung.


Dewi Srimpi masih memeluk tubuh suaminya, meski sudah bangun dia enggan beranjak dari ranjang. Badannya capek setelah semalaman bercumbu dengan Panji Watugunung. Berulang kali mereka berdua melakukan nya sampai nyaris pagi.


Di tatapnya wajah Panji Watugunung dengan penuh perasaan.


'Suami ku ini benar-benar tampan'


Ingin rasanya memiliki Panji Watugunung seorang diri, tapi dia juga sadar ada wanita lain yang lebih dulu hadir di kehidupan putra mahkota Gelang-gelang itu.


Tanpa sadar, tangannya mengelus wajah lelaki itu.


"Sudah puas belum melihatnya?".


Ucapan Watugunung seketika mengagetkan Dewi Srimpi. Seketika wajah cantiknya merona merah. Dia tidak sadar suaminya sudah bangun dari tadi. Buru buru dia menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami.


Panji Watugunung tersenyum penuh arti.


Tok tok tok


Ketukan pintu kamar segera membuyarkan kemesraan mereka. Dewi Srimpi buru buru memakai pakaiannya dan bergegas membuka pintu kamar. Dia sudah paham siapa yang datang.


Ratna Pitaloka tersenyum manis melihat Panji Watugunung masih diatas ranjang nya. Dewi Srimpi segera bergegas keluar kamar menuju tempat mandi yang ada di belakang rumah.


Ratna Pitaloka segera mendekati ranjang Panji Watugunung dan duduk di tepi ranjang.


Laki laki itu tersenyum tipis.


"Ada apa Dinda Pitaloka? Tumben pagi pagi sudah kemari?".


"Ya gak ada apa apa Kakang. Cuma kangen saja pada suamiku. Tidak boleh ya?", Ratna Pitaloka mengerucutkan bibirnya.


Panji Watugunung hapal betul kelakuan selir pertama nya ini. Segera dia menarik tubuh Ratna Pitaloka ke pelukannya. Dengan cepat dia sudah mencium bibir merah merona Ratna Pitaloka.


Perempuan itu gelagapan dengan ulah suami nya. Hampir tidak bernafas dengan serangan cepat nya.


Ratna Pitaloka menunduk malu. Tak disangka, rajukan nya berbuah ciuman panas pagi hari itu.


"Masih ngambek tidak?", kembali ucapan Watugunung membuat Ratna Pitaloka menggelengkan kepalanya.


"Itu hukuman buat istri yang ngambek pada suami pagi hari".


Ehemmmm


Deheman Dewi Srimpi yang baru selesai mandi membuat Ratna Pitaloka dan Panji Watugunung saling melepaskan diri.


Perempuan itu masuk dengan membawa air hangat untuk cuci muka sang suami lengkap dengan secangkir wedang jahe.


Panji Watugunung segera bergegas memakai celana nya, dan mencuci muka dengan air hangat. Segar sekali rasanya.


Selepas itu, dia segera membersihkan diri dan berganti baju di bantu dua selirnya.


Hari ini, mereka akan meninggalkan Wanua Klakah dan ke Watugaluh untuk berpamitan. Saat mereka bertiga memasuki serambi, seluruh anggota pasukan Garuda Panjalu dan penduduk Wanua Klakah sudah menanti mereka.


Setelah berpamitan pada Begawan Sulapaksi, rombongan Panji Watugunung meninggalkan Wanua Klakah menuju istana Pakuwon Watugaluh. Begawan Sulapaksi dan Sepasang Sriti Perak mengantar mereka sampai ke gerbang Wanua Klakah.


Pasukan Garuda Panjalu terus bergerak menuju istana Pakuwon Watugaluh. Saat matahari sepenggal naik, mereka di sambut Akuwu Hangga Amarta di paseban Pakuwon Watugaluh.


Dewi Anggarawati mendengar suami nya datang langsung menghambur ke Panji Watugunung. Dia mendekap erat tubuh suaminya tak peduli ratusan pasang mata menatap mereka.


Panji Watugunung mengelus rambut hitam Anggarawati dan tersenyum.


"Ki Kuwu, aku mengucapkan terima kasih atas bantuannya. Setelah ini, kami mohon pamit pulang ke Gelang-gelang", ujar Panji Watugunung setelah mereka duduk di serambi peristirahatan Pakuwon Watugaluh.


"Kami yang harus berterima kasih Gusti Pangeran. Keamanan Pakuwon Watugaluh menjadi terkendali. Para pedagang tidak takut lagi karna ada jaminan keamanan", Akuwu Watugaluh tersenyum dan menghormat.


"Sudah kewajiban kami Ki Kuwu, sebagai sesama abdi Daha kita wajib saling membantu", Panji Watugunung tersenyum.


Dari arah gapura istana, seorang prajurit berlari ke arah serambi peristirahatan.


"Mohon maaf Ki Kuwu, utusan dari istana Daha ingin bertemu dengan Gusti Pangeran Panji Watugunung".

__ADS_1


"Persilakan mereka masuk ke paseban Pakuwon Watugaluh", ujar Akuwu Watugaluh.


Akuwu segera bergegas menyambut kedatangan utusan sedangkan Panji Watugunung menyuruh semua anggota pasukan Garuda Panjalu mempersiapkan diri untuk keberangkatan. Dewi Anggarawati di bantu Sekar Mayang dan Dewi Srimpi segera menyiapkan keperluan mereka.


Gumbreg pun menata perbekalan di bantu anggota nya. Juminten yang menunggu nya, menambah semangat Gumbreg.


Lalu Panji Watugunung menyusul Akuwu Watugaluh ke paseban Pakuwon Watugaluh di temani Ayu Galuh, Ki Saketi dan Warigalit.


Di balai paseban Pakuwon Watugaluh, Akuwu Watugaluh sedang berbincang dengan utusan dari istana Daha saat Panji Watugunung datang.


"Mohon ampun Gusti Pangeran, hamba Tumenggung Wiguna, utusan Kanjeng Mapatih Jayakerti. Atas perintah Yang Mulia Gusti Maharaja Samarawijaya, meminta agar Gusti Panji Watugunung dan Gusti Putri Ayu Galuh segera menghadap ke istana Daha", Tumenggung Wiguna menghaturkan sembah pada Panji Watugunung dan Ayu Galuh.


"Ada masalah apa Tumenggung Wiguna? Bukankah seharusnya kami menyelesaikan tugas dari ayahanda dengan baik?", tanya Ayu Galuh menyelidik.


"Hamba kurang mengerti Gusti Putri, hanya sebatas itu yang hamba terima dari Gusti Mapatih Jayakerti".


Panji Watugunung dan Ayu Galuh saling berpandangan sejenak. Setelah ada anggukkan kepala dari Panji Watugunung, Ayu Galuh segera berkata,


"Baiklah, aku dan suamiku akan segera pulang ke istana Daha. Kau boleh pulang lebih dahulu".


"Sendiko dawuh Gusti Putri".


Usai menyembah, Tumenggung Wiguna dan 4 orang prajurit Daha segera mundur dari balai paseban Pakuwon Watugaluh. Dengan cepat mereka meninggalkan istana Pakuwon Watugaluh.


"Ki Kuwu, aku ingin meminta bantuan mu. Seorang lelaki telah ku pilih untuk menjadi lurah Wanua Klakah. Dia adalah salah satu jagoan dunia persilatan yang ingin menetap. Apa kau keberatan?", ujar Watugunung kemudian.


"Hamba tidak keberatan, malah bersyukur atas bantuan dari Gusti Pangeran. Setidaknya wanua Klakah akan aman di bawah pengawasan orang itu", Akuwu Watugaluh tersenyum tipis.


Usai berbincang hangat, rombongan Panji Watugunung segera bergegas meninggalkan istana Pakuwon Watugaluh. Karena Dewi Anggarawati sedang hamil muda, mereka membawa kereta kuda untuk Dewi Anggarawati dan Ayu Galuh serta selir selir Panji Watugunung.


Sepasang mata Dewi Tunjung Biru berkaca-kaca saat rombongan itu meninggalkan istana Pakuwon Watugaluh.


"Kemana tujuan kita adi Watugunung?", tanya Warigalit yang berkuda di samping Panji Watugunung.


Panji Watugunung menoleh ke arah kereta kuda, kemudian berkata,


"Kita kembali ke Gelang-gelang"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Tuh kan pulang dulu ke Gelang-gelang..


Apa rencana mu kang Panji??


Ikuti terus kisah perjalanan Panji Watugunung dan jangan lupa untuk dukung author terus semangat menulis dengan like vote dan komentar nya 👍👍👍


Selamat membaca guys 😁😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2