Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Resi Tunggak dan Resi Tunggul


__ADS_3

"Berani sekali mulut mu mengatai kami sebagai dua tikus, Kisanak!


Apa kau tidak kenal dengan nama Sepasang Pendekar Maut dari Gunung Agung ha?", bentak Resi Tunggul dengan lantang. Kakek tua berpakaian pertapa dengan selempang kain biru itu memang gampang naik darah.


"Oh jadi kalian pendekar rupanya..


Salah kalian sendiri kenapa mengganggu waktu istirahat kami dengan melompat ke atas atap rumah tempat kami menginap?


Apa kalian ingin mencuri sesuatu?", ujar Panji Watugunung sambil tersenyum tipis. Dia sengaja memancing kemarahan dua orang kakek tua itu.


"Bangsat!


Mulut mu layak mendapat pelajaran kisanak. Biar kau tahu dalam nya lautan dan tingginya langit yang tidak bisa kau jangkau", usai berkata demikian, Resi Tunggul segera melesat cepat kearah Panji Watugunung sambil membuka kedua tangan nya.


Dewi Srimpi dan Cempluk Rara Sunti melompat mundur beberapa langkah untuk memberi ruang bagi Panji Watugunung meladeni permainan silat dari Resi Tunggul.


Whuuthhh..


Satu hantaman tangan mengarah pada kepala Panji Watugunung. Raja Panjalu itu dengan cepat menggeser tubuhnya sedikit kesamping hingga serangan itu hanya menghajar udara kosong.


Resi Tunggul memutar tubuhnya lalu melayangkan cakaran tangan beserta tendangan melingkar pada Panji Watugunung.


Whhhuuuggghhhh..


Dengan Ajian Sepi Angin, Panji Watugunung mudah menghindari serangan Resi Tunggul yang gencar. Mereka terus mengadu kepandaian ilmu beladiri tangan kosong dengan terus mencoba untuk menjajaki seberapa tinggi kemampuan kanuragan lawan.


Resi Tunggak terus mengamati jalannya pertarungan adik seperguruan dengan cermat. Dia tak menduga bahwa lawan adiknya yang masih muda sanggup meladeni permainan silat tangan kosong Resi Tunggul yang mematikan.


'Pendekar ini tak bisa diremehkan', gumam Resi Tunggak sembari terus waspada.


Di sisi lain, anak murid Padepokan Gunung Agung terus membantai para prajurit Pakuwon Gedangan yang berkepandaian di bawah mereka. Satu persatu prajurit Pakuwon Gedangan roboh.


Dewi Srimpi yang melihat kekejaman Wisastra langsung melesat cepat kearah pimpinan Padepokan Gunung Agung itu menghentikan ulahnya.


Sementara Cempluk Rara Sunti terus memegang gagang pedang nya, berjaga jaga bila Resi Tunggak membokong Panji Watugunung.


Panji Watugunung segera menyongsong serangan tapak tangan Resi Tunggul yang mengincar dadanya dengan tapak tangan kanan nya.


Bllarrrrrrr!!


Resi Tunggul terdorong mundur hampir 3 tombak. Tangan nya terasa panas seperti terkena api. Sedangkan Panji Watugunung hanya terdorong mundur selangkah.


Melihat adiknya terdorong mundur, Resi Tunggak segera mengeluarkan sebuah gada yang tidak terlalu besar namun bergagang panjang lalu melesat ke arah Panji Watugunung sembari mengayunkan gada nya yang berwarna kemerahan.


Whuuussshh..


Angin dingin menderu kencang saat gebukan gada merah Resi Tunggak mengarah ke kepala Panji Watugunung. Putra Bupati Gelang-gelang itu segera merunduk menghindar. Resi Tunggak tak mau kalah langsung memutar tubuh kurus nya sambil menendang ke arah perut lawan.


Panji Watugunung segera menjejak tanah lalu tubuhnya melayang mundur menghindari tendangan keras Resi Tunggak.


Melihat lawan bisa menghindar dari gebukan gada merah nya, melesat ke arah Panji Watugunung sambil menggebuk kearah kaki.


Whuuuugggggggh!


Raja Panjalu itu dengan cepat melompat tinggi ke udara menghindari gebukan gada merah Resi Tunggak dan mendarat beberapa langkah di belakang Resi Tunggak.


Kakek tua itu menggeram keras melihat serangan nya selalu bisa di hindari oleh Panji Watugunung.


Tangan kiri Resi Tunggak yang berwarna kebiruan langsung menghantam kepala punggung Panji Watugunung yang baru saja mendarat.


Shiiiuuuuuuuuttttt...


Selarik sinar biru menerabas cepat kearah Panji Watugunung membuat Raja Panjalu itu segera melesat cepat menghindar serangan yang dilancarkan oleh Resi Tunggak.


Blammmmm!!


Ledakan keras dan saat sinar biru menghantam pohon randu di dekat rumah Ki Ranu yang biasanya di pakai untuk menambatkan kuda.


Krreeeeekkkkkk bruakkkk!!


Pohon waru langsung terbakar dan akhirnya roboh dengan kulit hangus. Panji Watugunung pun mendengus lantas merapal Ajian Tameng Waja karena lawan benar benar menginginkannya kematiannya.


Sinar bulan yang mendekati purnama tak mampu membuat pandangan semua orang jelas apalagi pandangan tua Resi Tunggak yang tak melihat warna kuning keemasan yang menyelimuti seluruh tubuh Panji Watugunung.


Resi Tunggak melesat cepat kearah Panji Watugunung seraya gebukan gada merah nya kearah dada. Kali ini Raja Panjalu itu tidak berusaha menghindar sedikitpun.


"Mampus kau!", teriak Resi Tunggak yang merasa senang Panji Watugunung tidak bergerak.


Thrrraaannnnggggg!


Terdengar bunyi seperti dua logam keras berbenturan saat gada merah Resi Tunggak menghantam dada Panji Watugunung dengan keras. Mata Resi Tunggak melotot lebar melihat itu semua. Begitu juga mata Resi Tunggul yang melihat dari jarak tidak terlalu jauh.


Kepalan tangan kanan Panji Watugunung langsung menghantam dada Resi Tunggak dengan keras.


Dhiiieeeessshh..


Oouuggh!!


Seperti di hantam dengan balok kayu besar, Resi Tunggak terpelanting ke belakang dan jatuh dekat saudara seperguruannya. Gada merah nya nyaris terlepas dari tangannya andai dia tidak erat menggenggam nya karena benturan gada merah dan Ajian Tameng Waja membuat tangan kakek tua itu kebas dan ngilu bukan main.


Cempluk Rara Sunti tersenyum lebar melihat lawan suaminya terjatuh.


'Gusti Prabu Jayengrana tidak butuh bantuan ku', batin Cempluk Rara Sunti sambil melompat ke arah Dewi Srimpi yang tengah di kepung oleh anak murid Padepokan Gunung Agung yang menghalanginya untuk mendekati Wisastra atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pendekar Seribu Pedang.


Resi Tunggak meludahkan darah segar ke tanah. Kakek tua yang juga merupakan guru Pangeran Suryanata itu segera bangkit dari tempat jatuhnya. Resi Tunggul segera mendekati nya


"Kau tidak apa-apa Kakang Tunggak?", tanya Resi Tunggul sambil menatap wajah keriput Resi Tunggak yang sedikit meringis menahan sakit pada dadanya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Adhi Tunggul.


Orang ini tidak bisa diremehkan begitu saja. Kita harus bekerjasama jika ingin mengalahkan dia", jawab Resi Tunggak sambil menatap tajam ke arah Panji Watugunung.


"Aku lihat Kakang Tunggak sepertinya terpental saat menghantam dada nya dengan gada merah mu.


Apa dia pakai baju besi pelindung?", kembali Resi Tunggul bertanya pada kakaknya itu.


"Aku tidak melihatnya, tapi pasti ada sesuatu yang membentur gada merah ku tadi.


Ayo kita kepung dia!", ajak Resi Tunggak sambil memutar gada merah di tangan kanannya.


Mendengar ucapan itu, Resi Tunggul segera mengeluarkan sebuah rantai yang ujungnya terdapat bandul berbentuk segi enam dengan masing masing sisi nya tajam seperti pedang. Itu adalah pusaka pemberian gurunya yaitu Senjata Rante Bumi.


Resi Tunggul segera memutar senjata rantai nya. Angin dingin berdesir menciptakan bunyi aneh di putaran rantai nya.


Sementara itu Resi Tunggak terus memutar gada merah nya yang makin lama semakin cepat hingga menciptakan angin kemerahan yang menakutkan.


Segera Resi Tunggul melemparkan ujung rantai nya kearah Panji Watugunung. Angin dingin menderu kencang bersamaan dengan ujung rantai yang berbentuk segi enam melesat cepat kearah Panji Watugunung.


Whhhuuuuuttttthhhh..


Dengan mudah, Panji Watugunung bergerak ke samping hingga ujung rantai Resi Tunggul menghantam tanah.


Blllllaaaarrrrrrrhhhh!!


Saat Panji Watugunung bergerak itulah, Resi Tunggak melesat cepat sembari mengepruk kepala Panji Watugunung dengan gada merah nya.


Dhhhhaaannnnngggg...


Saat gada merah membentur kepala Panji Watugunung yang di liputi oleh sinar kuning keemasan dari Ajian Tameng Waja, getaran kuat akibat benturan membuat Resi Tunggak terlempar ke belakang. Senjata andalannya itu terlepas dari tangannya karena getaran yang tak mampu di tahan Resi Tunggak.


Melihat serangan saudara nya gagal, Resi Tunggul yang baru saja menarik senjata rantai nya kembali melemparkan ujung rantai kearah Panji Watugunung yang hendak menuju ke arah Resi Tunggak.


Whuuthhh...


Sedikit terkejut, Panji Watugunung melompat mundur beberapa langkah. Niatnya untuk menghabisi nyawa Resi Tunggak terpaksa tertunda karena serangan Resi Tunggul.


Blllaaaaaarrr!


Dengan gerakan cepat, Panji Watugunung melesat ke arah Resi Tunggul sambil hantamkan tangan kanannya yang sudah berubah menjadi merah menyala seperti api. Hawa panas menyeruak mengikuti serangan Panji Watugunung.


Resi Tunggul segera mengalirkan tenaga dalam tingkat tinggi pada senjata rantai nya. Sinar biru terang menjalar ke seluruh rantai. Kemudian kakek tua bertubuh kurus segera memutar rantai di sekeliling tubuhnya. Rantai berputar cepat membentuk bola kebiruan yang melindungi tubuh Resi Tunggul.


Whuuussshh..


Blaaammm!!!


Ledakan dahsyat terdengar dari benturan dua ilmu kanuragan tingkat tinggi yang mereka miliki. Panji Watugunung melompat mundur beberapa langkah dan melihat putaran rantai Resi Tunggul yang berputar cepat melindungi tubuh kakek tua itu dengan sempurna. Hebatnya lagi, rantai itu tidak putus meski Ajian Tapak Dewa Api menghantam nya.


Tangan kiri kakek tua itu diliputi sinar biru yang merupakan perwujudan Ajian Tambak Segara andalan mereka.


Thhraaaangggggggg...


Saat gada merah mengepruk kepala Panji Watugunung, tangan kiri Resi Tunggak menghantam dada Panji Watugunung dengan Ajian Tambak Segara.


Blllaaammmmmmmm!!


Panji Watugunung terdorong mundur sejauh 2 tombak. Meski Ajian Tameng Waja melindungi seluruh tubuh nya dengan sempurna, tapi kuatnya Ajian Tambak Segara membuat Raja Panjalu itu terdorong mundur dengan cepat.


Panji Watugunung yang mulai geram, menutup mata sebentar lalu tangan kanannya merogoh sesuatu di udara di depan nya. Dimensi ruang terbuka dan tangan Panji Watugunung mengambil Pedang Naga Api yang tersimpan di sana.


Sinar bulan yang cerah tak mampu menutupi keterkejutan Resi Tunggak dan Resi Tunggul melihat itu semua.


"I-itu Pedang Naga Api..


Darimana sebenarnya dia? Setau ku hanya Si Tangan Api yang memiliki pedang pusaka itu Kakang Tunggak", ujar Resi Tunggul yang terkejut setengah mati melihat Pedang Naga Api di tangan Panji Watugunung pada kakak seperguruan nya.


Resi Tunggak yang baru menyerang maju pun memilih menjajari adiknya untuk mempersiapkan serangan berikutnya.


"Aku tidak tahu Adhi Tunggul, tapi yang pasti pertarungan ini tidak akan mudah.


Kau gunakan putaran senjata rantai mu dari depan, aku akan mencari celah dari belakang nya. Cepat!", ucap Resi Tunggak sembari melesat ke arah belakang Panji Watugunung yang menghunus Pedang Naga Api nya.


Hawa panas segera tersebar di seluruh tempat itu. Para anggota Padepokan Gunung Agung yang ada di dekat sana memilih menjauh karena tak kuat panasnya suhu udara di tempat itu.


Mata Wisastra atau Pendekar Seribu Pedang langsung melebar melihat cahaya merah menyala seperti api yang berasal dari pedang di tangan Panji Watugunung. Meski dari tempat yang jauh dia bisa melihat kehebatan pedang pusaka itu.


Dua jarum kecil berwarna hitam melesat cepat kearah Wisastra, seketika membuyarkan kekaguman nya pada Pedang Naga Api.


Shrrriinnnggg shhhrriinggg!!


Dengan cepat Wisastra mencabut salah satu pedang di punggungnya dan menangkis jarum beracun yang mengincar nyawanya.


Thhraaaangggggggg trakkk!!


Jarum beracun Dewi Srimpi hancur terkena tebasan pedang Wisastra.


"Tak perlu kau terpana dengan pedang nya, hai penyusup..


Sebentar lagi kau akan mati", ucap Dewi Srimpi sembari menatap tajam ke arah Wisastra.


"Rupanya ada perempuan cantik yang ingin bermain main dengan ku.


Akan ku ladeni kemauan mu. Majulah", ujar Wisastra sambil mencabut sebilah pedang lagi di punggungnya.


Dewi Srimpi segera melesat ke arah Wisastra sembari mengayunkan Pedang Kelabang Neraka di tangan kanannya. Wisastra mendesis dingin sambil memutar pedangnya untuk menangkis sabetan pedang Dewi Srimpi.

__ADS_1


Panji Watugunung segera menjejak tanah dengan keras lalu melompat tinggi ke udara. Pedang Naga Api dia angkat tinggi tinggi dan melayang turun dengan cepat kearah Resi Tunggul yang melindungi tubuh nya dengan rantai berwarna biru yang berputar cepat.


Hiyyyyaaaaaaaatttttt....


Tebasan Pedang Naga Api membabat Rantai Tugu Resi Tunggul segera.


Thrrriiinnnggggg....


Rantai berwarna biru itu langsung putus terkena tebasan Pedang Naga Api yang lantas menebas tubuh Resi Tunggul.


Chhrrrraaaaaassss..


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Resi Tunggul menjerit keras. Dada kiri hingga pinggang kanannya menganga lebar akibat tebasan Pedang Naga Api. Kakek tua bertubuh kurus itu langsung roboh bersimbah darah. Dia tewas seketika.


"Adhi Tungguuuuuullllllllllll......", teriak Resi Tunggak melihat adiknya tewas bersimbah darah. Guru Pangeran Suryanata itu segera melesat cepat kearah Panji Watugunung sambil menghantamkan tangan kiri nya yang berwarna biru.


Shiiiuuuuuuuuttttt...


Panji Watugunung segera melompat menghindari sinar biru yang berhawa dingin itu. Dia mundur beberapa tombak ke belakang tubuh Resi Tunggul yang sudah tak bernyawa.


Blaaarrrhhh!!


Resi Tunggak yang melihat adiknya tewas langsung bersimpuh di depan mayat saudaranya. Dari sudut matanya ada air mata yang menetes perlahan.


"Adhi Tunggul,


Maafkan aku yang tak bisa menolong mu. Kau tenang saja akan ku balas kematian mu saudara ku", usai berkata demikian Resi Tunggak segera bangkit dari depan mayat Resi Tunggul.


"Kau harus menemani adik ku ke alam baka, bangsat!


Serahkan nyawa mu!", teriak Resi Tunggak dengan amarah memuncak sembari melesat cepat kearah Panji Watugunung. Gada merah di tangan kanannya diliputi oleh sinar biru dari Ajian Tambak Segara yang dialirkan pada gada merah.


Panji Watugunung segera bersiap. Menggunakan jurus dari Ilmu Pedang Tanpa Wujud, Panji Watugunung segera melesat menyongsong ayunan gada merah Resi Tunggak.


Thrrraaannnnggggg trakkk..


Gada merah Resi Tunggak yang di lambari Ajian Tambak Segara nyatanya tidak mampu membendung keampuhan Pedang Naga Api. Senjata itu langsung hancur berkeping keping dan Pedang Naga Api membabat leher Resi Tunggak.


Chrraaasssshhh!!!


Kepala Resi Tunggak langsung menggelinding ke tanah saat tubuh nya roboh. Darah segar memancar dari batang leher Resi Tunggak yang putus. Malam itu Sepasang Pendekar Maut dari Gunung Agung tewas bersimbah darah di tangan Panji Watugunung.


Suara ledakan dahsyat dari pertarungan antara Panji Watugunung dan Sepasang Pendekar Maut memancing perhatian para prajurit Panjalu yang dipimpin oleh Tumenggung Ludaka. Satu persatu mulai berdatangan dan membangun para prajurit Pakuwon Gedangan yang semakin sedikit. Pertarungan sengit antara pasukan Panjalu dan anak murid Padepokan Gunung Agung berlangsung sengit.


Sementara itu Tumenggung Landung berpatroli sambil membawa 10 prajurit Panjalu. Dia takut suara ledakan keras tadi hanya untuk mengalihkan perhatian mereka.


Tumenggung Landung langsung memberikan isyarat kepada para prajurit Panjalu untuk bersembunyi ketika menyadari bahwa ada yang bergerak di ujung jalan Wanua Cenggini.


Suasana tegang benar benar terasa saat beberapa bayangan hitam berjalan mendekati mereka di jalan menuju ke arah Utara dermaga penyeberangan.


Srekk srekk srekkk..


Langkah mereka semakin lama semakin dekat. Para prajurit Panjalu semuanya bersiap dengan menggenggam erat gagang pedang masing masing.


Setelah dekat, Tumenggung Landung dan para prajurit Panjalu langsung muncul menghadang mereka. Membuat beberapa bayangan hitam itu langsung berhenti.


"Mau apa kalian keluyuran malam malam begini?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya 😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁


Selamat membaca 😁🙏😁

__ADS_1


__ADS_2