
Panji Watugunung segera bergegas masuk ke serambi keputran Seloageng. Tiga selir nya terus masuk, melihat keadaan kamar mereka. Dewi Srimpi segera bergegas menuju ke dapur istana. Meminta emban dayang untuk menyiapkan makan malam. Sekar Mayang menata kamar tidur utama, sedangkan Ratna Pitaloka dan Ratri menuju ke tempat mandi.
"Ada perkembangan apa selama aku tidak ada, Jarasanda?", tanya Panji Watugunung segera setelah mereka duduk melingkar di serambi keputran Seloageng.
"Ampun Gusti Panji, selama hampir dua purnama ini kami membangun markas besar pasukan Garuda Panjalu di Sanggur. Untuk keseluruhan bangunan sudah selesai, tinggal menata tempat tempat pendukung seperti tempat mandi dan tempat tamu yang berkunjung. Gudang senjata dan makanan hampir rampung, sementara kandang kuda dan pagar markas sudah selesai", lapor Jarasanda.
"Bagus. Lalu bagaimana dengan bantuan dari Daha? Apa mereka membantu pelaksanaan pembangunan itu?", tanya Panji Watugunung yang tersenyum tipis sambil memandang kearah Warigalit yang juga tersenyum.
"Beberapa hari yang lalu, Gusti Putri Ayu Galuh datang ke markas Gusti Panji, menyerahkan sejumlah bantuan makanan dan obat-obatan. Dari awal mereka membantu sepenuhnya pelaksanaan pembangunan ini.
Namun Gusti Putri juga meminta sebuah bangunan terpisah untuk kediaman pribadi nya. Sudah hampir selesai", Jarasanda meneruskan laporan nya.
Hemmmm
'Ternyata dia bisa juga memudahkan pekerjaan ku'.
"Lantas kenapa kalian kesini? Apa ada hal penting?", Panji Watugunung menatap ke arah Jarasanda.
"Kami kesini atas perintah Ki Saketi. Dua pekan yang lalu, seorang utusan dari Seloageng mengunjungi markas kita dan mengatakan bahwa Gusti Adipati Tejo Sumirat bersedia membantu kebutuhan pangan untuk pekerja yang membangun markas kita.
Kami di utus Ki Saketi mengawal bantuan yang di berikan", Jarasanda menghormat pada Panji Watugunung.
Saat mereka masih berbincang hangat, di pintu Keputran Seloageng, Adipati Tejo Sumirat masuk sambil di ikuti oleh Nararya Candradewi.
Melihat mertua nya datang, Panji Watugunung segera berdiri dan menyambut kedatangan mereka.
"Salam hormat Kanjeng Adipati, Kanjeng Ibu".
"Hahahaha,
Kau ini masih saja seperti orang lain saja. Aku ini ayah mertua mu, bisa juga kau anggap ayah kandung mu Cah Bagus", Adipati Tejo Sumirat terkekeh kecil.
"Iya Ngger Cah Bagus, kami ini orang tua kedua mu. Jangan terlalu menjaga jarak dengan kami", timpal Nararya Candradewi.
"Maafkan jika sikap saya kurang berkenan di hati Kanjeng Romo Adipati dan Kanjeng Ibu.
Mari kita berbincang di dalam", Panji Watugunung mempersilakan Tejo Sumirat dan Nararya Candradewi berjalan lebih dulu.
Tejo Sumirat segera duduk di kursi yang ada di keputran begitu mereka masuk. Nararya Candradewi pun sama.
Sementara itu Panji Watugunung, Warigalit, Jarasanda, Ludaka dan Gumbreg duduk bersila di lantai serambi keputran.
"Bocah Bagus,
Ada hal yang mengganjal di hati ku sejak kau tiba tadi", Tejo Sumirat membuka percakapan mereka.
"Kalau boleh saya tau, apa itu Kanjeng Romo Adipati?", Panji Watugunung menghaturkan sembah nya.
"Kenapa kau tidak bersama Anggarawati? Dimana kau tinggal dia?", Tejo Sumirat menatap wajah Panji Watugunung.
Panji Watugunung segera tersenyum tipis.
"Maafkan saya Kanjeng Romo Adipati. Dalam tugas ini saya tidak bisa mengajak Dinda Anggarawati. Selain berbahaya dan jauh, juga tidak memungkinkan untuk kesehatan tubuh nya.
Saya menitipkan Dinda Anggarawati di Gelang-gelang", Panji Watugunung menghela nafasnya.
"Tidak memungkinkan untuk kesehatan tubuh nya? Apa maksudmu Bocah Bagus? Apa putri ku sedang sakit?", Tejo Sumirat penasaran.
"Kanjeng Romo Adipati jangan salah sangka dulu. Saya tidak mengajak Dinda Anggarawati karena Dinda Anggarawati sedang hamil muda", Panji Watugunung tersenyum penuh arti.
Adipati Tejo Sumirat segera tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Panji Watugunung. Nararya Candradewi juga tersenyum lebar.
"Hahahaha,
Yayi kau dengar. Aku akan jadi seorang kakek. Dan kau akan jadi nenek", Tejo Sumirat memandang Nararya Candradewi.
"Iya Kangmas. Aku bahagia sekali mendengar nya",ujar Nararya Candradewi sambil berkaca-kaca. Dia begitu terharu, putri kecilnya akan menjadi seorang ibu.
"Karena itu, selepas dari Seloageng, saya ingin cepat cepat pulang ke Gelang-gelang Kanjeng Romo Adipati. Saya kangen sekali dengan Dinda Anggarawati", Panji Watugunung tersenyum malu-malu.
"Hahahaha baiklah baiklah.. Aku mengerti apa yang kau minta Cah Bagus.
Aku sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan Samarawijaya itu. Seloageng selalu siap membantu Daha.
Ini surat untuk Prabu Samarawijaya. Besok pagi kalian bisa langsung berangkat ke Gelang-gelang", ujar Tejo Sumirat yang segera menyerahkan surat untuk Raja Daha.
Panji Watugunung segera menerima surat itu dan menyimpan di balik bajunya.
Malam semakin larut.
Warigalit, Ratri, Jarasanda, Ludaka dan Gumbreg beristirahat di bangunan samping Keputran Seloageng, sedangkan Panji Watugunung dan ketiga selir nya di bangunan utama.
__ADS_1
Malam itu Dewi Srimpi segera menutup pintu kamar Panji Watugunung begitu mereka masuk. Dari tepi ranjang, laki laki itu menatap ke arah Dewi Srimpi.
"Kenapa Denmas menatapku seperti itu?", tanya Dewi Srimpi yang segera duduk di sebelah suami nya itu.
"Tidak apa-apa, hanya saja kau terlihat cantik sekali malam ini Srimpi",Panji Watugunung tersenyum tipis.
"Denmas jangan merayuku. Aku hapal semua rayuan gombal Denmas", Dewi Srimpi tersenyum genit.
Panji Watugunung tersenyum kecut mendengar ucapan Srimpi.
"Jangan patah semangat begitu Denmas, malam ini aku menginginkan mu", Srimpi segera mendorong tubuh Watugunung ke ranjang.
Dan malam itu, Dewi Srimpi benar benar menjadi kucing liar diatas ranjang. Nyaris tanpa berhenti sampai hampir pagi.
Panji Watugunung terbangun saat kokok ayam jantan bersahutan pertanda pagi telah datang. Setelah mengucek matanya, dia memperhatikan sekitarnya. Dewi Srimpi tidak ada disana.
Kriettttt
Suara pintu terbuka lebar dari luar. Dewi Srimpi segera masuk sambil membawa nampan berisi wedang jahe dan segendok air hangat daun sirih untuk mencuci muka suaminya.
Panji Watugunung segera bergegas ke meja kecil dan segera mencuci muka.
Pagi itu rombongan Panji Watugunung meninggalkan istana kadipaten Seloageng setelah berpamitan pada Adipati Tejo Sumirat. Bersamaan dengan Panji Watugunung, rombongan Jarasanda juga bergerak meninggalkan istana kadipaten.
Debu beterbangan mengiringi perjalanan mereka ke Gelang-gelang.
Saat mereka sudah mencapai perbatasan Seloageng dan Gelang-gelang, mereka berpisah.
"Kakang Warigalit,
Aku merepotkan Kakang lagi. Tolong kakang berangkat lebih dulu ke markas pasukan Garuda Panjalu di Sanggur. Nanti aku segera menyusul kesana", Panji Watugunung memandang kearah Warigalit.
"Baik Dhimas, berhati-hatilah dalam perjalanan ke kota Gelang-gelang", Warigalit segera menarik kekang kudanya dan berbelok ke arah markas pasukan Garuda Panjalu di ikuti Ratri, Jarasanda, Ludaka dan Gumbreg serta pasukan pembawa bantuan dari Seloageng.
Panji Watugunung segera bergegas memacu kudanya melesat cepat menuju kota Gelang-gelang di ikuti oleh ketiga selir nya. Menjelang sore hari mereka sudah sampai di istana Gelang-gelang.
Dewi Anggarawati sedang duduk di taman keputren Gelang-gelang. Wanita cantik yang sedang hamil muda itu tampak sedang mengelus perutnya sambil tersenyum.
Tiba-tiba..
Happp..
Sepasang tangan menutup mata Dewi Anggarawati dari belakang.
Saat tangan itu melepaskan dekapannya, Dewi Anggarawati segera berbalik. Di depan nya, sesosok lelaki tampan sedang tersenyum manis.
Dewi Anggarawati mengucek matanya seakan tak percaya.
"Kang-Kangmaassss...."
Anggarawati segera melompat ke arah Panji Watugunung dan memeluk tubuh suaminya itu dengan erat.
Rasa rindu yang tertahan selama satu setengah purnama, rasanya terlampiaskan sudah hari ini. Dengan cepat, perempuan cantik itu menciumi wajah Panji Watugunung.
Cihhhhh
"Dasar putri manja. Baru berpisah 1 purnama saja sudah seperti setahun".
Gerutuan Sekar Mayang membuat Dewi Anggarawati menoleh kearah mereka bertiga. Rupanya ketiga selir Panji Watugunung juga mengikuti langkah Panji Watugunung kearah keputren.
"Hehehehe, bodo amat. Aku tidak peduli. Pokoknya hari ini Kangmas Panji Watugunung hanya milikku, tidak ada dari kalian yang menggangu", ujar Dewi Anggarawati tersenyum penuh kemenangan.
"Tidak bisa begitu, urutan harus tetap berjalan", protes Ratna Pitaloka.
"Apa aku perlu menghitung jumlah urutan yang aku lewatkan selama perjalanan ini Kangmbok Pitaloka?", Anggarawati tersenyum licik.
Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang terdiam seketika. Sedangkan Dewi Srimpi hanya tersenyum tipis saja melihat dua selir Panji Watugunung itu kalah omongan.
"Pokoknya jangan ada yang berani mengganggu. Awas saja kalau ada yang berani. Aku sudah lama menahan kerinduan seorang istri pada suami nya", ancam Dewi Anggarawati sambil mendelik tajam kearah mereka bertiga.
Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang melongo mendengar kata kata Anggarawati.
'Kenapa dia galak sekali? Apa karena pengaruh jabang bayi yang ada di perutnya?', batin Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang.
Selepas itu, Anggarawati lengket terus dengan Panji Watugunung. Bahkan saat Panji Watugunung menghadap ke Panji Gunungsari untuk menyampaikan surat dari Gusti Prabu Samarawijaya, Anggarawati tanpa malu menggelayut mesra di lengannya.
"Dinda Anggarawati, ada Kanjeng Romo. Malu Dinda", bisik Panji Watugunung.
"Gak peduli. Kanjeng Romo juga pernah muda, jadi juga pernah mengalami hal yang sama.
Iya kan Kanjeng Romo?", Anggarawati segera menatap wajah Panji Gunungsari seakan meminta bantuannya.
__ADS_1
Bupati Gelang-gelang itu tersenyum.
"Iya Ngger Cah Ayu".
"Tuh dengar Kangmas, Kanjeng Romo saja tidak keberatan. Jadi Kangmas Panji Watugunung jangan banyak alasan ya", Dewi Anggarawati kembali menggelayut mesra.
Panji Watugunung segera bergegas mohon diri ke Keputran Gelang-gelang. Dia jengah dengan ulah Anggarawati yang kolokan.
Bupati Gelang-gelang hanya tersenyum-senyum sendiri.
Malam itu, nyaris tak satupun selir Panji Watugunung bisa mendekati suami mereka. Bahkan sudah sejak malam baru turun, Dewi Anggarawati sudah menarik tangan Watugunung menuju kamar tidur nya.
"Kangmas, aku merindukanmu", ucap Dewi Anggarawati tersenyum nakal. Perempuan itu segera melepas pakaiannya dan menarik Panji Watugunung ke atas ranjang nya.
Panji Watugunung segera meladeni kemauan istrinya itu. Lenguhan panjang dan rintih kenikmatan memenuhi seluruh ruangan di kamar itu. Berulang kali mereka berdua bercinta.
Pagi menjelang tiba di istana Kabupaten Gelang-gelang. Suara burung bernyanyi di dahan pohon menyambut sang mentari.
Panji Watugunung tersenyum tipis sambil melirik tubuh polos Anggarawati yang sedang tidur pulas dengan memeluk nya. Pergulatan semalam suntuk dengan istri nya itu, membuat Panji Watugunung merasa letih.
Saat hendak turun dari ranjang, tangan Anggarawati segera menahan tubuh Panji Watugunung.
"Mau kemana Kangmas?", ucap Anggarawati sambil tersenyum tipis tanpa membuka matanya.
"Mandi Dinda, sudah pagi ini", jawab Watugunung seraya menatap wajah cantik Dewi Anggarawati.
"Belum boleh. Kangmas masih belum menuntaskan kangen ku sama Kangmas", Anggarawati tersenyum genit. Perempuan itu melirik ke arah bawah perut Panji Watugunung.
"Masih mau lagi?", tanya Panji Watugunung.
"1 kali lagi Kangmas", Anggarawati tersenyum penuh arti.
Pagi itu Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati berbagi cinta satu kali lagi.
**
Sementara itu di Padepokan Bukit Jerangkong, si Pedang Iblis tampak sedang menghadap pada gurunya itu.
"Guru bagaimana langkah kita selanjutnya?".
"Dengar Janamerta, Gusti Maharaja Mapanji Garasakan sudah memerintahkan kepada ku untuk mulai membuat perang kecil sebelum penyerangan besar besaran di mulai.
Persiapkan seluruh anggota Padepokan Bukit Jerangkong untuk bergerak, Kalajengking Biru dan Lembah Hantu akan menunggu kedatangan kita di Tamwelang".
"Baik Guru", Janamerta alias si Pedang Iblis menyembah kepada Iblis Bukit Jerangkong.
Kakek tua bertubuh kurus itu segera berdiri.
Dengan bengis dia berkata,
"Kita serbu Watugaluh".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Duh dah mau mulai perang nih.
Ikuti terus kisah selanjutnya guys 😁😁
Jangan lupa untuk dukung author terus semangat menulis dengan like vote dan komentar nya 👍👍👍
__ADS_1
Selamat membaca 😁😁