
Benar saja, bayangan yang berkelebat cepat itu adalah Dewi Srimpi.
Saat Panji Watugunung masih bertarung melawan Wikalpa alias Pendekar Pisau Dewa Terbang, Dewi Srimpi telah sampai di pintu gerbang istana Matahun. Dia segera berdiri di samping Tumenggung Ludaka yang baru saja mundur dari pertarungan.
Dewi Srimpi terus mengawasi jalannya pertarungan sengit antara Panji Watugunung dan Pendekar Pisau Dewa Terbang, juga gerak gerik Rara Janggi yang mengikuti langkah adik seperguruan Adipati Danaraja itu.
Saat melihat Panji Watugunung mengalahkan Wikalpa dan gerakan cepat Rara Janggi, Dewi Srimpi dengan cepat mencabut Pedang Kelabang Neraka nya dan melesat cepat menghadang serangan kipas besi Rara Janggi.
Rara Janggi nampak murka melihat serangan nya di hadang Dewi Srimpi. Perempuan itu segera memutar kipas besi nya, dengan gerak tipu cepat, tangan kirinya menghantam ke arah dada Dewi Srimpi.
Whuuuuttt...
Dewi Srimpi segera berkelit ke samping kemudian memutar tubuhnya dan dengan cepat dia menekuk lutut nya ke arah kaki Rara Janggi. Dengan gerak cepat, dia menyapu kaki putri Resi Wanamarta itu.
Shrreeetttt...
Rara Janggi melompat ke udara menghindari sapuan kaki Dewi Srimpi seraya mengibaskan kipas besi nya.
Whuuussshh!
Serangkai angin dingin bertenaga dalam berhembus kencang kearah Dewi Srimpi. Dewi Srimpi segera melompat ke belakang sejauh mungkin dan segera meraih jarum beracun dari kantong kulit kecil yang ada di pinggangnya.
Usai mendarat dengan sempurna, Dewi Srimpi segera melempar dua jarum beracun nya kearah Rara Janggi yang juga baru menjejak tanah.
Shrrrinnngggg sringg!!
Jarum Racun Kelabang Neraka melesat cepat kearah Rara Janggi. Melihat itu, Rara Janggi segera putar kipasnya, dan dengan penuh tenaga, Rara Janggi mengibaskan senjata pusaka di tangan kanannya.
Whhhuuuggghhhh..
Kibasan angin kipas besi Rara Janggi mampu menghentikan laju pergerakan Jarum Racun Kelabang Neraka milik Dewi Srimpi. Jarum Racun Kelabang Neraka berjatuhan ke tanah.
Melihat lawan menggunakan angin untuk menghadapi nya, Dewi Srimpi segera memutar pedangnya. Dengan Ajian Langkah Kelabang Sewu nya, selir ketiga Panji Watugunung itu segera melesat cepat kearah Rara Janggi.
Dengan memutar kipas besi nya, Rara kembali mengayunkan senjata pusaka nya kearah Dewi Srimpi.
Whuuuuttt whutttt..
Dua kibasan angin dingin tenaga dalam yang tajam menerabas cepat kearah Dewi Srimpi. Istri Panji Watugunung itu terpana sekejap namun segera memutar tubuhnya di udara saat angin tajam seperti pedang itu menderu kearah nya.
Satu angin bisa di hindari namun angin kedua berhasil merobek baju di pundak kiri Dewi Srimpi.
Dewi Srimpi marah besar. Perempuan cantik itu segera melompat tinggi ke udara usai menjejak tanah dengan keras lalu melesat cepat kearah Rara Janggi sambil melempar puluhan jarum beracun nya.
Shringg shringg!!
Selir ketiga Panji Watugunung itu segera mendarat turun kemudian berlari cepat kearah Rara Janggi sambil kembali melempar 3 jarum Racun Kelabang Neraka andalannya.
Shrrrinnngggg sringg!!
Rara Janggi berusaha untuk menghalau serangan jarum yang dari atas dengan kibasan angin kipas besi nya, dan itu berhasil namun 3 jarum yang mengarah dari arah depan membuat dia harus berguling ke tanah untuk menghindari nya.
Dia lupa bahwa Dewi Srimpi juga ikut menerjang ke arah nya. Saat Rara Janggi baru saja bangun dari tempat berguling nya, tiba-tiba saja tendangan keras dari Dewi Srimpi menghajar dadanya.
Dhieeesssshhhhh..
Aaarrghhh!!
Rara Janggi terpental ke belakang dan jatuh ke tanah dengan keras. Rupanya tendangan keras Dewi Srimpi membuat Rara Janggi terluka dalam. Perempuan itu muntah darah segar.
Saat Dewi Srimpi hendak menghabisi nyawa Rara Janggi, Panji Watugunung segera menyambar lengan selir ketiga nya itu dengan cepat.
"Sudah cukup, Dinda Srimpi.
Perempuan itu hanya ikut ikutan saja. Kita lepaskan saja dia", ujar Panji Watugunung segera.
"Baik Denmas,
Aku patuh dengan semua perintah Denmas", jawab Dewi Srimpi sambil menghela nafas panjang.
Sambil membekap dadanya yang sesak, Rara Janggi berdiri dari tempat jatuhnya. Panji Watugunung segera memberi isyarat kepada para prajurit Panjalu yang mengepung untuk memberi jalan keluar pada perempuan itu.
Rara Janggi menatap ke arah mayat Wikalpa sejenak, kemudian beralih ke arah Panji Watugunung dan Dewi Srimpi lalu melangkah meninggalkan tempat itu ke arah selatan.
Panji Watugunung segera memerintahkan kepada Tumenggung Ludaka untuk segera mengurus mayat Wikalpa dan 2 prajurit penjaga gerbang istana Matahun yang tewas.
Menjelang tengah hari, para prajurit Panjalu yang hendak berangkat ke arah Kahuripan sudah bersiap siap.
Malam harinya, Panji Watugunung memanggil bekas pembesar istana Matahun di serambi balai peristirahatan. Dengan di dampingi oleh Senopati Narapraja, Senopati Maitreya dan Senopati Warigalit, Rakryan Saka dan Mpu Janapada yang telah di bebaskan dari tahanan Kadipaten Matahun segera duduk di hadapan Panji Watugunung usai menghaturkan sembah.
"Mohon ampun Gusti Pangeran,
Ada perintah apa kepada kami?", tanya Rakryan Saka dengan cepat. Mantan punggawa Kadipaten Matahun itu sangat bingung dengan sikap Panji Watugunung yang menurutnya sangat aneh.
"Jangan terburu buru, Rakryan Saka..
__ADS_1
Ada hal penting yang perlu aku bicarakan dengan mu.
Begini Rakryan Saka,
Besok aku akan bertolak dari Matahun ke Kahuripan. Pemerintahan di Matahun harus tetap berjalan sebagaimana mestinya. Untuk sementara, kepemimpinan di Matahun aku serahkan pada Senopati Maitreya. Kau tetap menjabat sebagai patih Matahun, begitu juga kau Mpu Janapada yang akan menjadi pemimpin prajurit Kadipaten Matahun.
Aku berharap agar kalian menjalankan tugas yang ku berikan dengan baik. Kalau kalian sampai lalai atau berani membangkang terhadap perintah ku, aku sendiri yang akan membinasakan kalian", titah Panji Watugunung dengan nada tegas.
Rakryan Saka dan Mpu Janapada segera saling berpandangan sejenak. Kemudian kedua punggawa Kadipaten Matahun itu segera menyembah pada Panji Watugunung.
"Kami patuh dengan semua perintah Gusti Pangeran", ujar kedua orang tua itu bersamaan.
"Baik,
Akan ku lihat sampai dimana ucapan kesetiaan kalian mampu lakukan.
Senopati Maitreya,
Aku titipkan pada mu Kadipaten Matahun. Jaga dan lindungi tempat ini dengan segenap jiwa dan raga mu", ujar Panji Watugunung pada Senopati Maitreya yang duduk di sebelah Senopati Narapraja.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", ucap Senopati Maitreya dengan cepat.
Jauh di selatan kota Matahun, Rara Janggi nampak memacu kudanya menuju ke arah Gunung Welirang. Dengan masih membekap dadanya yang sakit, perempuan itu terus menggebrak tunggangannya.
"Paman Wikalpa,
Bersabarlah sejenak. Kematian mu dan kematian Paman Adipati Danaraja pasti akan terbalaskan.
Ayah pasti tidak akan berdiam diri saja mendengar berita ini", ucap Rara Janggi dengan meringis menahan sakit.
Kuda Rara Janggi terus melesat ke arah selatan. Tanpa mempedulikan keadaan nya, Rara Janggi justru semakin bernafsu untuk sampai di padepokan Resi Wanamarta di kaki Gunung Welirang.
Malam segera turun menyelimuti bumi. Dunia yang terang segera di ganti gelap yang membuat pandangan menjadi terbatas. Namun sinar bulan yang mendekati purnama membuat malam itu menjadi cerah.
Rara Janggi terus menggebrak kudanya menembus gelap malam.
Seorang lelaki sepuh berambut gelung seperti pertapa nampak sedang duduk bersila di serambi luas yang menjadi tempat utama Padepokan Gunung Welirang. Rambut lelaki bertubuh tegap dengan otot otot yang menonjol itu nampak memutih pertanda bahwa dia sudah berumur panjang. Bibir lelaki itu nampak berkomat kamit membaca doa diikuti oleh puluhan siswa yang duduk di hadapannya.
Dialah Resi Wanamarta, seorang tokoh persilatan terkemuka yang berjuluk Wong Agung Welirang. Dia adalah pemegang salah satu dari 7 senjata pusaka ampuh dunia persilatan yaitu Tombak Kahyangan. Kakak seperguruan Adipati Danaraja dan Wikalpa itu tersohor dengan kemampuan beladiri nya yang tinggi.
Resi Wanamarta nampak tenggelam dalam khusyuk mantra puja yang dia ucapkan bersama para muridnya.
Tiba-tiba saja kekhusyukan acara itu di buyarkan oleh teriakan seorang wanita dari gerbang Padepokan Gunung Welirang.
Resi Wanamarta segera menghentikan mantra-mantra nya dan menoleh ke arah gerbang Padepokan Gunung Welirang karena dia sangat mengenal suara itu. Resi Wanamarta segera berdiri dari tempat duduknya dan melesat cepat kearah gerbang diikuti oleh para siswanya.
"Janggi,
Kau kenapa?", tanya Resi Wanamarta begitu mendapati putri nya nampak pucat dengan bekas darah yang mengering di bajunya.
Rara Janggi berusaha untuk turun dari kudanya namun karena dia kelelahan, perempuan itu limbung. Resi Wanamarta segera menyambar tubuh putri nya itu.
"Pa-paman Wikalpa tewas Romo,
Paman Danaraja juga sudah di bunuh", ujar Rara Janggi dengan terbata-bata.
"Sudah tenangkan diri mu lebih dulu,
Nanti kau ceritakan semuanya setelah kau pulih", ucap Resi Wanamarta menutupi kekagetannya. Lelaki sepuh itu segera membopong tubuh Rara Janggi ke arah kediaman nya.
Dengan segenap kemampuan nya, Resi Wanamarta memulihkan tubuh Rara Janggi. Tak berapa lama kemudian, raut wajah Rara Janggi yang memucat berangsur pulih.
"Sekarang ceritakan padaku apa yang sebenarnya telah terjadi, Janggi", perintah Resi Wanamarta begitu melihat keadaan Rara Janggi membaik.
Rara Janggi lalu menceritakan semua kejadian yang baru saja dialaminya mulai dari kedatangan nya bersama Wikalpa alias Pendekar Pisau Dewa Terbang ke Matahun sampai dia di hajar oleh seorang pendekar wanita cantik yang mengawal sosok lelaki yang membunuh Wikalpa.
Hemmmm...
Resi Wanamarta mendengus dingin setelah Rara Janggi menyelesaikan cerita nya. Laki laki itu terdiam beberapa saat lamanya.
"Kematian Danaraja oleh raksasa merah yang kau ceritakan, itu sama dengan manusia melawan dewa. Setau ku, hanya Gusti Prabu Airlangga saja yang memiliki ilmu kesaktian itu karena dia adalah titisan Dewa Wisnu. Sedangkan Gusti Prabu Airlangga sudah moksa ke nirwana. Bisa jadi pemilik ilmu kedigjayaan itu adalah titisan Dewa Wisnu pula.
Sedangkan Wikalpa, dia tidak memakai otaknya untuk berpikir panjang. Menantang penguasa Kadipaten Matahun sekarang, membuat kerusuhan di sana, hanya karena amarahnya. Dia tidak berpikir panjang bahwa orang orang itu berilmu tinggi.
Namun karena Danaraja dan Wikalpa adalah adik seperguruan ku, maka aku akan ke Matahun untuk menanyakan kejelasan masalah ini", ucap Resi Wanamarta dengan menghela nafas panjang.
Rara Janggi tersenyum puas mendengar jawaban ayahnya.
Malam segera berganti pagi. Sinar matahari pagi perlahan mulai muncul di ufuk timur. Cahaya nya yang cerah menembus ranting pohon pohon di halaman Padepokan Gunung Welirang.
Pagi itu Resi Wanamarta berniat untuk menuju ke Kadipaten Matahun.
"Aku ikut Romo", pinta Rara Janggi dengan cepat.
"Tidak usah.
__ADS_1
Kau tunggu saja disini, aku akan berangkat ke sana sendiri", tegas Resi Wanamarta. Rara Janggi yang hafal dengan sikap ayahnya memilih diam, karena membantah omongan ayahnya juga percuma.
Dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh nya yang tinggi, Resi Wanamarta segera melesat cepat keatas pepohonan dan bergerak bagai terbang diatas dedaunan pohon. Sekejap saja tubuh sepuh lelaki itu menghilang.
"Waruga,
Kau selaku yang tertua di padepokan ini, jaga keselamatan adik seperguruan mu. Aku akan menyusul romo ke Matahun", perintah Rara Janggi pada seorang lelaki muda bertubuh gempal yang bernama Waruga itu.
"Baik Nyimas,
Akan ku lakukan semua perintah mu", jawab Waruga dengan penuh hormat.
Segera Rara Janggi melompat ke atas kuda nya dan menggebrak hewan tunggangan itu menuju ke arah Kadipaten Matahun.
Sementara itu dari istana Matahun, Panji Watugunung beserta para prajurit Panjalu mulai bergerak menuju ke arah Kahuripan. Mereka terbagi menjadi tiga kelompok besar yang sudah di tata sebelumnya.
Para penduduk kota Matahun memilih untuk menepi dari jalan raya agar para prajurit Panjalu leluasa bergerak. Rombongan besar itu terus bergerak menuju ke arah timur.
Senopati Maitreya selaku pucuk pimpinan prajurit Panjalu di Matahun, mengantar Panji Watugunung sampai di tapal batas kota Matahun.
Dengan jumlah 20 ribu prajurit, pasukan Panjalu bergerak bagai air bah yang menerjang. Para Akuwu di wilayah yang di lewati lebih memilih untuk tidak bersinggungan dengan mereka.
Menjelang sore pasukan Panjalu yang dipimpin oleh Panji Watugunung sudah meninggalkan Kadipaten Matahun dan mulai memasuki wilayah Kadipaten Hujung Galuh yang merupakan wilayah penyangga Kotaraja Kahuripan.
Di batas barat daya Kadipaten Hujung Galuh, para prajurit Panjalu mendirikan perkemahan mereka. Gumbreg dan para prajurit perbekalan dengan cepat menata perkemahan yang akan menjadi tempat peristirahatan para prajurit Panjalu setelah satu hari melakukan perjalanan.
Sementara itu di istana Matahun, Resi Wanamarta telah tiba. Kedatangan resi sepuh itu membuat kehebohan tersendiri bagi para prajurit Panjalu yang dipimpin oleh Senopati Maitreya.
Karena Resi Wanamarta memasuki istana Kadipaten Matahun dengan melayang seperti terbang.
Jlegggh!
Resi Wanamarta mendarat dengan ringan di halaman bangsal paseban agung. Para prajurit Panjalu segera mengepungnya.
Senopati Maitreya yang memimpin pisowanan para punggawa istana Matahun terkejut saat mendengar laporan seorang prajurit yang berjaga.
Segera dia bergegas menuju ke halaman bangsal paseban agung diikuti oleh Tumenggung Wiguna yang di tugaskan untuk membantu melancarkan tugas yang diembannya.
Para prajurit Panjalu yang mengepung Resi Wanamarta segera membuka jalan begitu Senopati Maitreya datang ke halaman di temani oleh Tumenggung Wiguna. Para punggawa Kadipaten Matahun seperti Rakryan Saka dan Mpu Janapada juga ikut hadir di sana.
"Ada maksud apa kau datang kemari, wahai pertapa?", tanya Senopati Maitreya dengan cepat. Sorot mata Senopati Panjalu itu nampak menyelidik.
Resi Wanamarta atau juga dikenal sebagai Wong Agung Welirang menatap ke sekeliling nya sebentar kemudian menatap ke arah Senopati Maitreya.
"Aku mencari orang yang membunuh Wikalpa"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁
Selamat membaca 🙏🙏🙏
__ADS_1