Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Perang Besar 2


__ADS_3

Senopati Wirondaya dengan cepat memacu kudanya menuju ke arah Pasukan Panjalu yang telah menggunakan gelar perang (wyuha) Chakra Baswara.


Demung Rajegwesi yang melihat pergerakan prajurit Jenggala dari sisi kiri dengan cepat memberikan aba aba.


"Bersiap...!!!!", ucap Demung Rajegwesi dengan lantang. Seluruh prajurit pemanah yang tersembunyi di balik dinding tameng yang mengelilingi seluruh kepala wyuha Chakra Baswara segera menarik tali busur panah mereka masing-masing.


Saat pasukan Jenggala sudah melewati batas jarak tembak anak panah, Rajegwesi segera mengayunkan tangan kanannya ke depan.


"Tembaaaakkkkk!!!", teriak Demung Rajegwesi dengan keras.


Shhhrriiinnngggg!


Shringg shringg shringg!!!


Ribuan anak panah yang terarah ke atas segera dilepaskan, dan berubah menjadi hujan anak panah yang melesat ke arah para prajurit Jenggala.


Senopati Wirondaya yang melihat kedatangan hujan anak panah dengan cepat berteriak keras.


"Awas anak panah!!", teriak Senopati Wirondaya sambil menyambut tameng yang tergantung di samping pelana kuda nya.


Para prajurit Jenggala yang tengah bergerak maju, begitu mendengar suara Senopati Wirondaya berusaha untuk meraih tameng yang mereka bawa. Sebagian berhasil, namun kebanyakan kalah cepat dengan jatuhnya anak panah yang mengincar nyawa mereka.


Creeppphhh creeppp creeppp!


Aughhhh ougghh!


Jerit kesakitan terdengar dari mulut para prajurit Jenggala yang terluka terkena anak panah yang di lepaskan oleh para prajurit Panjalu. Ratusan prajurit Panjalu tewas dan lainnya mengalami luka luka yang cukup serius.


Sisa prajurit Jenggala yang bisa bertahan terus bergerak menuju ke arah para prajurit Panjalu. Saat mereka hampir mendekati para prajurit Panjalu, ribuan anak panah kembali melesat cepat kearah mereka.


Senopati Wirondaya yang melihat anak buahnya berjatuhan menjadi korban anak panah dari pemanah Panjalu, menggeram marah.


Dengan memanfaatkan punggung kudanya, Senopati Wirondaya melompat tinggi ke udara dan menerjang maju ke arah barisan pasukan Panjalu.


Shreeeeeeeetttthhh..


Bruakkk!!


4 prajurit Panjalu langsung terpental terkena terjangan kaki Senopati Wirondaya. Perwira tinggi prajurit Jenggala itu terus merangsek masuk ke dalam wyuha Chakra Baswara.


Chrraaasssshhh


Dua prajurit Panjalu langsung tewas terkena sabetan pedang Senopati Keraton Kahuripan itu. Namun Senopati Wirondaya tidak sadar bahwa ia masuk ke dalam wyuha seorang diri. Para prajurit Panjalu yang gugur langsung digantikan oleh rekannya yang lain sehingga barisan wyuha Chakra Baswara tetap utuh. Semakin lama Senopati Wirondaya semakin masuk ke dalam wyuha Chakra Baswara. Dia bertekad untuk mengalahkan pimpinan Pasukan Panjalu seorang diri.


Setelah melewati lapis ketiga wyuha, Senopati Wirondaya berusaha untuk menembus baris selanjutnya.


Senopati Narapraja yang memimpin lapis lingkaran wyuha keempat segera melesat cepat saat Senopati Wirondaya mengayunkan pedangnya kearah seorang prajurit Panjalu.


Thriiiinnngggggg!!


Pedang Senopati Wirondaya berhasil di tangkis dengan Keris Kyai Pamegat Nyawa, pusaka andalan Senopati Narapraja. Bunyi nyaring yang terdengar dari benturan dua senjata mereka memekakkan gendang telinga sehingga para prajurit Panjalu memberikan ruang bagi mereka untuk bertarung.


"Siapa kau, hai wong Panjalu?


Minggir!


Aku hanya ingin bertarung melawan pimpinan Pasukan Panjalu, bukan melawan mu", teriak Senopati Wirondaya dengan keras.


"Huhhhhh..


Kalau kau ingin bertarung melawan Gusti Pangeran Jayengrana, hadapi dulu aku Senopati Narapraja dari istana Daha.


Kalau kau bisa mengalahkan ku, maka kau pantas menjadi lawan Gusti Pangeran Jayengrana", ucap Senopati Narapraja dengan terus menggerakkan keris pusaka di tangan kanannya.


"Hooo begitu rupanya..


Baik, akan ku langkahi mayat mu agar aku bisa bertarung melawan Si Jayengrana", ucap Senopati Wirondaya yang segera memutar pedangnya dengan cepat. Segera dia meloncat ke arah Senopati Narapraja yang sudah bersiap untuk menghadapi punggawa istana Kahuripan itu.


Senopati Wirondaya dengan cepat menyabetkan pedang kearah leher Senopati Narapraja.


Whhhuuuuuttttthhhh..


Segera Senopati Narapraja merendahkan tubuhnya dan Keris Kyai Pamegat Nyawa bergerak cepat kearah perut Senopati Wirondaya.


Punggawa Kahuripan itu segera berkelit ke samping kanan kemudian melayangkan tendangan keras usai merubah gerakan tubuhnya.


Sedikit mundur ke belakang untuk menghindari tendangan dari Senopati Wirondaya, Senopati Narapraja jejak tanah dengan keras dan melenting tinggi ke udara sambil menyabetkan keris pusaka nya ke arah pundak kanan Senopati Wirondaya.


Punggawa Kahuripan itu memutar pedangnya dan menyabetkan pedang nya ke arah Keris Kyai Pamegat Nyawa di tangan Senopati Narapraja.


Trrriiiiinnnnnngggg!


Benturan dua senjata mereka kembali terdengar. Mereka berdua segera melompat mundur beberapa langkah usai senjata pusaka mereka beradu.


'Brengsek!


Senopati Narapraja rupanya bukan orang sembarangan', batin Senopati Wirondaya sambil memutar senjata di tangan kanannya. Diam-diam Senopati Wirondaya merogoh dua pisau kecil berwarna hitam yang tersembunyi di balik pinggangnya.


Kemudian ia dengan cepat melempar dua pisau berwarna hitam itu yang merupakan pisau beracun kearah Senopati Narapraja.


Shringg shringg!!


Bersamaan dengan pisau beracun melesat, Senopati Wirondaya merangsek maju ke arah Senopati Narapraja. Rupanya dia ingin membuat celah pada pertahanan Senopati Narapraja dengan tiga serangan sekaligus.


Namun Senopati Narapraja yang waspada, segera menghantamkan tangan kiri nya yang sudah di lambari tenaga dalam kearah dua pisau berwarna hitam itu dengan cepat.


Whhhuuusshhh...

__ADS_1


Lalu setelah itu memutar tubuhnya, Senopati Narapraja melesat cepat menyongsong ke arah Senopati Wirondaya.


Trakkk taakkkk!!!


Pisau berwarna hitam hancur berkeping keping di udara sebelum menyentuh kulit Senopati Narapraja. Bersamaan dengan itu, tusukan Keris Kyai Pamegat Nyawa mengincar ulu hati Senopati Wirondaya yang kaget karena dua senjata rahasia nya di hancurkan oleh Senopati Narapraja.


Dengan sekuat tenaga, Senopati Wirondaya berusaha menangkis tusukan Keris Kyai Pamegat Nyawa namun meski tusukan keris pusaka itu sedikit melenceng tapi masih melukai dada kiri Senopati Wirondaya yang segera melompat menjauhi Senopati Narapraja.


Perang antara prajurit Jenggala dan Panjalu berlangsung sengit. Sayap kiri pasukan Jenggala yang ditinggal Senopati Wirondaya kocar kacir. Demung Gumpa yang mencoba mengatur pergerakan prajurit Jenggala kewalahan menghadapi gempuran bertubi-tubi dari para prajurit Panjalu.


Sambil membekap luka di dada kiri nya, Senopati Wirondaya segera merapal mantra ajian andalan nya.


Pedang Senopati Wirondaya segera tersarung di pinggangnya. Tangan kanannya seketika diliputi oleh sinar hijau dari Ajian Daya Jati andalannya, membuat hawa dingin yang menakutkan.


Senopati Narapraja tak mau kalah. Segera dia merapal Ajian Geledek Sewu nya. Tangan kiri nya dengan cepat di liputi oleh sinar biru keputihan, layaknya warna terang dari sambaran petir.


Sambil berteriak lantang, Senopati Wirondaya menerjang maju kearah Senopati Narapraja seraya menghantamkan tangan kanannya.


Hembusan angin dingin yang membekukan mengiringi pukulan Ajian Daya Jati.


Whhhuuusshhh..


Senopati Narapraja segera mengayunkan tangan kirinya yang dilambari Ajian Geledek Sewu.


Dhuuuaaaaarrrrrr!!


Ledakan keras terdengar dari benturan dua ajian andalan itu. Senopati Narapraja terdorong mundur beberapa langkah kebelakang sedangkan Senopati Wirondaya terpental jauh ke belakang. Tubuh Senopati Istana Kahuripan itu terbanting ke tanah dengan keras.


Huuoogghh..


Senopati Wirondaya muntah darah kehitaman pertanda bahwa dia menderita luka dalam serius. Meski demikian, ia berusaha bangkit dari tempat jatuhnya.


Sedangkan Senopati Narapraja yang merasakan sesak nafas segera menata nafas nya, lalu berkelebat cepat kearah Senopati Wirondaya yang baru berdiri.


Dengan cepat ia menusukkan Keris Kyai Pamegat Nyawa ke ulu hati Senopati Wirondaya.


Jleepppp!!


Aauuggghhhh!


Senopati Wirondaya melotot saat merasakan ada benda tajam menusuk ulu hati nya. Perlahan tubuhnya limbung dan roboh ke tanah usai Senopati Narapraja mencabut kerisnya. Punggawa Kahuripan itu tewas dengan luka menganga di ulu hati nya.


Senopati Narapraja menyeka darah yang menetes dari sudut bibirnya lalu ia menghambur ke arah pertempuran.


Sementara itu di kalangan prajurit Jenggala yang menggunakan wyuha Garuda Nglayang, korban tewas terus berjatuhan karena wyuha Chakra Baswara dari Pasukan Panjalu bergerak memutar yang mengikis pertahanan prajurit Jenggala terus menerus.


Prabu Mapanji Garasakan segera mengangkat tangan kiri nya.


Thuuuuuuuuutttttthhhh


Terompet tanduk kerbau dari pasukan Jenggala berbunyi nyaring. Pasukan sayap kanan Jenggala yang dipimpin oleh Senopati Mpu Sadewa bergerak maju kearah kiri wyuha Chakra Baswara. Senopati Warigalit yang memimpin lapis lingkaran kelima wyuha Chakra Baswara, melihat kedatangan lawan segera menyiapkan pasukan di lapis lingkaran luar untuk menghadapi mereka. Tombak yang sudah di siapkan, langsung bersiap diantara tameng prajurit.


Jleepppp..


Ougghhh!!


Mereka menjerit memilukan hati saat tubuh mereka terluka. Meskipun demikian, mereka tetap bergerak maju. Sedikit demi sedikit mereka mulai membongkar pertahanan para prajurit Panjalu.


Melihat Senopati Mpu Sadewa yang masih duduk di atas kudanya sambil menyabetkan pedang nya kearah para prajurit Panjalu, Warigalit yang merasa kesal segera menjejak punggung kudanya. Tubuh kakak seperguruan Panji Watugunung itu segera melenting tinggi ke udara dan dengan cepat ia memutar Tombak Angin di tangan kanannya. Segera dia melayang cepat kearah Senopati Mpu Sadewa sambil mengayunkan tombak nya.


Mpu Sadewa menyadari nyawanya dalam bahaya, dengan cepat menangkis sabetan Tombak Angin nya Warigalit.


Tringgggg!!


Akibat serangan itu, keduanya terjatuh ke tanah. Segera dua jagoan dari dua kerajaan berbeda itu berdiri tegak sambil menatap tajam satu sama lain.


"Wong Panjalu,


Menyerang lawan saat lawan tak siap. Hebat sekali kau", ucap Senopati Mpu Sadewa sambil memutar senjata di tangan kanannya. Senopati berambut hitam campur uban itu menatap tajam pada wajah Warigalit. Kumis perwira paruh baya itu terlihat menyeramkan dengan ujung yang melengkung ke atas.


"Kau pun bertindak lebih kejam, perwira Jenggala.


Hanya membantai para prajurit rendahan, apa itu batas kemampuan mu?", Senopati Warigalit tersenyum sinis pada Senopati Mpu Sadewa.


"Bangsat!


Jangankan kau, pimpinan mu yang masih ingusan itu juga mampu ku ***** dengan tangan ku bedebah", Mpu Sadewa marah mendengar ejekan Warigalit.


"Jumawa..


Tong kosong nyaring bunyinya. Orang bodoh dan bebal biasanya banyak bicara", ucap Senopati Warigalit sambil tersenyum tipis.


"Kurang ajar!


Mulutmu itu pantas mendapat pelajaran", geram Mpu Sadewa yang segera bergerak cepat menuju Warigalit seraya mengayunkan pedangnya.


Whhhuuuggghhhh..


Senopati Warigalit segera memutar Tombak Angin di tangan kanannya dan melompat ke udara menghindari sabetan pedang Mpu Sadewa. Kakak seperguruan Panji Watugunung itu segera mendarat satu tombak di belakang Senopati Mpu Sadewa.


Melihat lawan bisa menghindar dari serangan nya, Mpu Sadewa segera membalik badan nya dan kembali melesat cepat kearah Warigalit. Kali ini dia mengincar kaki Warigalit.


Kali ini Senopati Kadiri itu tidak menghindar namun menangkis sabetan pedang Mpu Sadewa dengan Tombak Angin nya.


Thrrraaannnnggggg!!


Pedang Senopati Mpu Sadewa melenceng dari tujuan semula. Warigalit segera memutar tubuhnya lalu dengan cepat sikut tangan kiri nya menghantam punggung Mpu Sadewa.

__ADS_1


Dhieeesssshhhhh!!


Mpu Sadewa nyaris terjungkal ke depan kalau saja pedangnya tidak di gunakan untuk menumpu tubuhnya. Dengan menggeram marah, Mpu Sadewa membalik tubuh nya dan menyabetkan pedang nya ke arah leher Warigalit.


Warigalit mundur selangkah ke belakang lalu setelah memutar tombak nya, dia menusukkan tombaknya kearah dada Mpu Sadewa.


Perwira tinggi prajurit Jenggala itu menjatuhkan tubuhnya ke tanah sambil membabatkan pedang nya ke arah kaki Warigalit.


Dengan cepat Warigalit melompat menghadapi babatan pedang Mpu Sadewa sambil menghantamkan tangan kanannya yang sudah di lapisi tenaga dalam tingkat tinggi ke arah Mpu Sadewa. Angin panas berhembus kencang kearah Senopati Kahuripan itu.


Whhhuuuuuttttthhhh...


Senopati Mpu Sadewa terkejut dan segera menepak tanah dengan keras untuk menghindari hantaman angin panas dari Warigalit. Tubuh Senopati Mpu Sadewa melenting ke belakang sejauh dua tombak.


Blaaammmmmmmm!!


Hantaman angin panas dari Warigalit menciptakan ledakan keras dan membuat sebuah lobang besar di tanah.


Melihat kemampuan lawan yang dihadapi, Senopati Mpu Sadewa segera melempar pedangnya ke tanah dan segera merapal mantra ajian kedigdayaan andalannya.


Pada kedua tangan nya tercipta bulatan merah menyala seperti api. Itulah Ajian Gumbolo Geni yang menjadi puncak kekuatan kanuragan Mpu Sadewa.


Warigalit segera memutar tombak nya. Angin dingin menderu kencang tercipta dari putaran Tombak Angin. Semakin cepat putaran tombak, semakin kencang angin yang berhembus. Tangan kiri Senopati Warigalit berubah warna menjadi merah menyala akibat Ajian Tapak Dewa Api.


Segera Mpu Sadewa melemparkan bulatan merah yang panas itu kearah Warigalit.


Shiiiuuuuuuutttt...


Blammmmm!!


Karena terganggu oleh angin kencang dari Tombak Angin, hantaman bola merah menyala menjadi melenceng dari tujuan.


Kembali Senopati Mpu Sadewa melemparkan beberapa bola api yang menyala itu kearah Warigalit, namun Senopati Kadiri itu mampu bergerak cepat menghindarinya sambil memutari Mpu Sadewa.


Angin yang tercipta dari gerakan Tombak Angin yang diputar Warigalit yang bergerak mengelilingi tempat berdiri Senopati Mpu Sadewa, membuat perhatian Mpu Sadewa kacau balau. Dia terus menyerang Warigalit dengan membabi buta.


Saat ada celah, Warigalit segera menghantamkan tangan kiri nya yang sudah berubah warna menjadi merah menyala seperti api ke arah punggung Mpu Sadewa.


Blaaammmmmmmm!!


AAAARRRGGGHHHH!


Mpu Sadewa meraung keras. Hantaman Ajian Tapak Dewa Api membuat nya terjungkal ke depan dan menyusruk tanah dengan keras. Sebentar saja Mpu Sadewa mendongak ke arah Warigalit lalu kepalanya lemas terkulai. Dia tewas dengan mulut mengeluarkan darah dan punggung gosong seperti terbakar api.


Peperangan terus berkobar dengan sengit.


Di sisi lain, pasukan gerak cepat Jenggala yang di pimpin oleh Tumenggung Mandalika dan Rakryan Samarotsaha yang bergerak memutar mulai mendekati medan tempur.


Kedatangan mereka dari arah Utara, di ketahui oleh Jarasanda dan Senopati Ringkasamba.


Jarasanda segera mencabut Keris Kyai Klotok nya dan langsung memacu kudanya menghadang laju pergerakan pasukan Tumenggung Mandalika. Pasukan Garuda Panjalu langsung mengikuti langkah sang wakil pimpinan.


Tumenggung Mandalika yang kaget melihat kedatangan para pasukan Panjalu langsung berteriak pada Rakryan Samarotsaha yang berkuda di sampingnya.


"Celaka Gusti Pangeran,


Kita ketahuan"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya 😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya

__ADS_1


Selamat membaca 🙏🙏🙏


__ADS_2