Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Akhir Riwayat Ranggawangsa


__ADS_3

Ranggawangsa segera berlari menuju ke kamarnya, dengan cepat dia menyambar keris pusaka nya yang tergantung di tempat senjata yang ada di ruangan tempat tidur nya.


Dengan cekatan, Ranggawangsa segera menyelipkan keris pusaka itu di pinggangnya kemudian segera bergegas menuju ruang pribadi Adipati Muria.


Nafas lelaki tua itu terengah-engah akibat berlari tanpa peduli dengan keadaan sekitar nya.


Suasana istana Kadipaten Muria kacau balau.


Ranggawangsa berhenti di depan ruang pribadi Adipati. Nampak Adipati Ratnapangkaja Sang Ranawijaya sedang berdiri sambil bersiap untuk bertarung. Di sekelilingnya ratusan prajurit Muria menjadi pagar betis sedangkan di tengah ada para pembesar istana yang sudah mencabut pedang dan senjata masing-masing.


Dari sisi timur, pasukan Daha terus merangsek maju ke arah istana pribadi Adipati.


Jarasanda menyambar seorang prajurit Muria yang ada di depannya. Keris Kyai Klotok nya sudah bermandi darah puluhan prajurit yang tewas di tangan nya.


Sreeetttttt


Si prajurit Muria mencoba menangkis sabetan keris Jarasanda, namun karena kalah cepat dia tersabet pada dadanya. Sambil meringis menahan sakit, si prajurit Muria mengayunkan pedangnya mengincar leher Jarasanda.


Putra Akuwu Argamanik itu menunduk sedikit lalu memutar gagang keris Kyai Klotok, kemudian dengan memutar tubuhnya, dia menghujamkan keris pusaka itu ke ulu hati lawannya.


Jleppp


Aarrgghhh


Keris Kyai Klotok telak menghujam ulu hati sang prajurit Muria. Pria itu meraung keras sesaat sebelum tewas meregang nyawa. Usai mencabut kerisnya, Jarasanda langsung menerjang maju ke arah pasukan Muria.


Gumbreg yang mengekor di belakang Ratna Pitaloka, melihat seorang prajurit Muria yang hendak membokong istri Panji Watugunung itu segera berlari ke arah si prajurit dengan menabraknya.


Brukkk


Si prajurit itu segera terpental jauh akibat kerasnya tabrakan tubuh Gumbreg yang mirip di seruduk kerbau.


"Bangsat!


Beraninya membokong ku", ujar si prajurit sambil bangkit dari jatuhnya.


Phuihhh


"Maling teriak maling.


Kau yang mau membokong pimpinan kami, jadi kalau aku menabrak mu, itu masih terhitung aku berbaik hati", cibir Gumbreg sambil memutar pentung sakti nya.


"Dasar kebo!


Sikap mu bukan ksatria, tapi mirip kebo edan", maki si prajurit Muria itu sambil bersiap menyerang.


"Bajingan!


Maju kau biar tau rasanya di seruduk kerbau itu rasanya bagaimana. Ayo jangan banyak omong", Gumbreg langsung bersiap saat si prajurit Muria melompat maju sambil mengayunkan pedangnya.


Sreeetttttt


Gumbreg berkelit ke samping, sambil menghantam punggung si prajurit dengan tangan kirinya yang mirip pangkal bambu betung namun si prajurit segera menjatuhkan tubuhnya ke tanah.


Melihat lawannya lolos, Gumbreg segera menghantamkan pentungan nya kearah kepala si prajurit.


Whhuuuugghh


Si prajurit Muria terpaksa berguling ke tanah menghindari gebukan pentungan Gumbreg. Dia berhasil menghindar namun tubuhnya penuh tanah dan rumput.


Gumbreg langsung berdiri dan mengejek si prajurit Muria itu dengan ucapan menghina.


"Sekarang kau apa aku yang kebo?", Gumbreg menyeringai lebar melihat mulut si prajurit penuh rumput.


Phuihhh


"Tentu saja kau tolol", teriak si prajurit Muria dengan meludahkan rumput di mulut nya.


Hahahaha


"Yang makan rumput itu kau sinting, bukan aku.


Dan yang makan rumput itulah kebo nya", tawa Gumbreg langsung pecah.


Dengan muka merah padam, si prajurit Muria segera berlari ke arah Gumbreg sambil membabatkan pedang nya.


Dengan cepat Gumbreg langsung menangkis serangan lawannya dengan pentung sakti nya.


Trangg


Gumbreg memutar tubuhnya kemudian dengan kepalan tangannya menampar pipi si prajurit Muria.


Plakkkk


Kepala si prajurit Muria seperti dihantam balok kayu, 3 gigi nya langsung tanggal. Dengan terhuyung huyung dia mundur sambil meludahkan gigi nya yang rontok bercampur darah.


Belum sempat dia sadar, Gumbreg sudah berlari ke arah nya dan menggebuk kepalanya dengan pentung sakti nya.


Praaakkkk


Kepala si prajurit Muria langsung pecah terhantam pentung Gumbreg. Dia tewas seketika dengan kepala hancur berantakan.


Gumbreg langsung mendelik dengan meludah ke arah mayat si prajurit Muria itu sambil berkata,


"Kau yang sekarang jadi kebo mati", ujar Gumbreg yang kemudian segera bergegas menuju medan laga di depan nya. Seperti kerbau gila, Gumbreg langsung mengayunkan pentungan nya kearah seorang prajurit Muria yang serangan nya baru saja di hindari Ratna Pitaloka.


Prakkk


Si kepala prajurit Muria langsung hancur akibat


kerasnya gebukan Gumbreg.


Ratna Pitaloka segera menoleh kearah Gumbreg dan mengacungkan jempol nya. Merasa mendapat perhatian dari istri pimpinan, Gumbreg semakin bersemangat untuk bertarung. Dengan tubuh tambun nya, Gumbreg terus mengamuk.


Ludaka yang berada di dekatnya nyaris terkena gebukan pentungan Gumbreg yang ingin mengepruk kepala seorang prajurit Muria tapi si prajurit berhasil menghindar.


Whhuuuugghh

__ADS_1


Dengan cepat, Ludaka melompat ke samping. Matanya mendelik sewot kearah Gumbreg.


"Eh kebo bunting,


Kalau ngamuk lihat kawan dong", teriak Ludaka sambil cemberut.


"Ya maaf Lu,


Lagi semangat ini", ujar Gumbreg sambil cengar-cengir mirip kebo. Mereka kini beradu punggung untuk saling melindungi.


"Semangat kepala mu, kau nyaris menggebuk ku kebo bunting..


Untung aku cepat menghindar", gerutu Ludaka sambil memutar pedangnya.


"Ayo cepat kita selesaikan mereka, nanti kalian aku traktir makan enak", teriak Jarasanda yang baru menusuk dada seorang prajurit Muria.


Mendengar suara Jarasanda, mereka berdua segera menerjang maju ke arah lawan. Pertempuran di dalam istana Kadipaten Muria berlangsung sengit.


Seorang prajurit Muria menggebrak kuda nya dengan cepat menuju ke arah Pelabuhan Kapur.


Dengan tergesa-gesa dia terus memacu kuda hitam nya.


Senopati Mpu Pala yang baru bangun tidur terkejut melihat seorang prajurit yang sedang berlari menuju ke arahnya. Prajurit itu adalah prajurit penjaga pos di tepi pelabuhan Kapur.


"Mohon ampun Gusti Senopati,


Ratusan kapal berbendera merah merapat ke dermaga pelabuhan", lapor sang prajurit penjaga itu dengan raut muka pucat. Dia benar ketakutan melihat ribuan prajurit yang sudah bersiap untuk berperang diatas kapal yang baru merapat itu.


"Jadi mereka sudah sampai rupanya,


Panggil Tumenggung Napi dan Tumenggung Ardi segera. Cepat!", perintah sang Senopati pada seorang prajurit penjaga.


Tak berapa lama kemudian, Tumenggung Napi dan Tumenggung Ardi datang tergopoh-gopoh.


"Ardi, Napi ..


Siapkan bala tentara kita, bersiap untuk berangkat menghadang pasukan Daha yang sudah sampai di pelabuhan", titah sang Senopati Muria segera.


Dua Tumenggung itu segera saling berpandangan sejenak. Mereka tidak menyangka bahwa akan berperang di pagi buta begini.


Baru mereka hendak melaksanakan perintah Senopati Mpu Pala, seorang prajurit Istana Muria yang baru melakukan perjalanan dari kota Kadipaten Muria langsung melompat turun dari kudanya dan segera berlari menuju ke arah Senopati Mpu Pala.


"Ketiwasan Gusti Senopati,


Istana Muria diserbu oleh para prajurit Daha. Mereka sudah berhasil masuk ke dalam istana", lapor sang prajurit dengan nafas ngos-ngosan.


Haaaaaaaahhhh


Pucat wajah Senopati Mpu Pala. Dia langsung pusing mendengar laporan dari dua prajurit Muria yang menghadap kepada nya.


Jika dia bergerak menuju ke istana Kadipaten Muria, maka sudah pasti wilayah Kapur takluk hari itu juga kepada Daha. Namun jika dia berangkat ke Kota Kadipaten Muria, belum tentu dia akan cukup waktu untuk menolong pasukan Muria yang ada di dalam istana Kadipaten.


Ibarat kata, semua pergerakan nya bagai di kunci dari segala arah.


"Bagaimana Gusti Senopati?


Hemmmm


"Orang yang mengatur serangan ini benar benar cerdas. Dia tahu bahwa tidak mungkin aku menenangkan dua sisi pertempuran secara bersamaan.


Baiklah,


Kita hadapi prajurit Daha dengan semua kemampuan kita, Tumenggung Ardi.


Dan kau prajurit, pergilah ke Bendo. Minta Demung Suta untuk berangkat ke Kota Kadipaten Muria.


Kalau kami sudah mengalahkan pasukan Daha, kami akan menyusul ke istana", perintah Senopati Mpu Pala.


Mereka segera membubarkan diri untuk melaksanakan tugas masing-masing.


Sementara itu di istana Kadipaten Muria, Pasukan Daha dengan cepat menghancurkan pasukan Muria yang bertahan di istana.


Mereka kini sudah mengepung ruang pribadi Adipati.


"Ranggawangsa, Ratnapangkaja..


Menyerahlah.


Kalian sudah tidak mungkin bisa melarikan diri dari kami", teriak Senopati Narapraja sambil menatap Ranggawangsa dan Ratnapangkaja yang ada di tengah pagar betis prajurit Muria.


Cahaya kemerahan mulai terlihat di langit timur. Tanda pagi sudah menjelang tiba. Suasana begitu cerah namun terasa muram bagi Ranggawangsa.


Sejauh ini, semua usaha nya untuk berkuasa selalu berhasil meski dengan segala cara.


Cihhhhh


"Narapraja,


Rupanya kau yang memimpin pasukan pengecut ini. Menyerang musuh saat musuh tidak siap. Benar benar memalukan", ucap Ranggawangsa sambil meludah.


Senopati Narapraja hanya tersenyum tipis.


"Pengecut atau bukan, bukan itu yang dinilai orang. Tapi keberhasilan menumpas pemberontak seperti kalian akan diingat orang sepanjang jaman", jawab Narapraja sambil menatap tajam ke arah Ranggawangsa.


Hahahaha


Tiba-tiba saja terdengar tawa keras dari Ranggawangsa.


"Aku sudah menyerahkan seluruh hidupku kepada Airlangga, lalu kepada Samarawijaya. Tapi apa balasan yang aku dapatkan? Hanya karena aku anak rakyat jelata, maka kekuasaan yang seharusnya aku dapat, malah di berikan kepada Jayakerti.


Keponakan ku yang seharusnya menjadi yuwaraja Panjalu, hanya menjadi Sentana Daha yang tidak punya kuasa apa apa.


Lantas apa salahnya jika aku menuntut hak ku atas kekuasaan yang seharusnya aku dapat?", teriak Ranggawangsa sambil tersenyum sinis.


"Kau benar-benar mabuk kekuasaan, Ranggawangsa.


Gusti Samarawijaya sudah memberikan kedudukan tinggi kepada mu. Tapi kau masih saja ingin lebih.

__ADS_1


Sekarang kau pilih,


Menyerah atau mati?", ujar Panji Watugunung yang hanya diam tak bersuara dari tadi.


Ranggawangsa segera menoleh ke arah pria bercaping itu.


"Suara mu tidak asing.


Siapa kau sebenarnya?", teriak Ranggawangsa segera.


Perlahan Panji Watugunung melepaskan caping yang menutupi wajah nya.


Melihat Panji Watugunung, Ranggawangsa gemeretak gigi nya.


"Dasar kau bajingan,


Aku tidak sudi menyerah kepada mu bangsat!", maki Ranggawangsa sambil mencabut kerisnya.


"Tangkap mereka semua,


Hidup atau mati!", teriak Senopati Narapraja.


Para prajurit Daha langsung menerjang kearah pagar betis prajurit Muria.


Pertarungan sengit kembali terjadi di istana pribadi Adipati.


Ranggawangsa yang sudah memendam rasa benci, segera melompat ke udara dan menerjang kearah Panji Watugunung sambil menusukkan kerisnya.


Panji Watugunung tetap tenang dan diam tak bergerak. Dia merapal Ajian Tameng Waja.


Melihat lawan nya tidak bergerak, dan dipastikan dia akan tertusuk keris pusaka, Ranggawangsa berteriak lantang.


"Mampus kau!"


Tringgg


Mata Ranggawangsa melotot melihat kerisnya tidak bisa melukai kulit Panji Watugunung. Pria yang paling dibenci Ranggawangsa itu malah tersenyum lebar.


Saat Panji Watugunung membuka mulutnya, sinar hijau kebiruan segera melompat ke tubuh Ranggawangsa. Itulah kekuatan Ajian Waringin Sungsang.


Aaaarrrggghhh


Teriak Ranggawangsa yang kesakitan akibat daya hidup dan tenaga dalam nya di sedot ajian andalan Panji Watugunung ini.


Semakin lama semakin sakit terasa menyelimuti seluruh tubuh Ranggawangsa. Perlahan tubuhnya mulai mengering. Darah segar mengalir dari mata, hidung, telinga dan mulut Ranggawangsa.


Melihat sekutu yang juga kakak iparnya dalam bahaya, Adipati Ratnapangkaja yang tengah melayani serangan Tumenggung Wiguna segera melompat hendak menarik tubuh Ranggawangsa.


Namun sebelum itu terjadi, Keris Kyai Pamegat Nyawa Senopati Narapraja segera menghujam jantung Adipati Ratnapangkaja.


Jleppp


Aughhh


Adipati Ratnapangkaja segera membekap dadanya yang bolong. Darah segar keluar dari lukanya itu. Perlahan, dia roboh bersimbah darah.


Tubuh Ranggawangsa semakin menghitam. Tinggal menyisakan kulit keriput. Panji Watugunung segera menghantam dada Ranggawangsa.


Bruakkk


Blammmm!!


Tubuh Ranggawangsa meledak dan hancur menjadi abu. Itulah akhir riwayat Ranggawangsa yang menjadi buta karena keserakahan.


Melihat Ranggawangsa tewas, para pasukan Muria yang tersisa segera melempar senjatanya ke tanah sebagai tanda menyerah.


Para prajurit Daha langsung bersorak gembira.


"Jangan lengah, perjuangan kita masih belum berakhir!", teriak Panji Watugunung segera. Pasukan Daha segera menghentikan kegembiraan mereka, dan bersiap untuk menghadapi situasi yang belum sepenuhnya terkendali. Mereka segera membawa pasukan yang menyerah ke tahanan Kadipaten Muria untuk menunggu keputusan Pamegat ring Muria Dwipa.


Dari arah selatan, 1500 prajurit Muria yang dipimpin Demung Suta dan Akuwu Narpati dari Pakuwon Bendo bergerak menuju ke arah istana Kadipaten Muria. Di dalam istana Kadipaten Muria, pasukan Daha yang sudah bersiap, menghadang laju mereka di luar tembok istana.


Warigalit segera berdiri dari tempat duduknya dan mengacungkan Tombak Angin nya kearah para prajurit Muria.


"Berhenti kalian!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya


Selamat membaca 😁😁🙏😁🙏

__ADS_1


__ADS_2