Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Mendapat Gelar


__ADS_3

Dari jauh puluhan orang menyaksikan pertarungan kelompok Muka Setan dan Panji Watugunung, sambil menahan nafas.


Setan marah besar melihat Alis Setan tewas memgenaskan.


Sementara dia membantu mengobati luka dalam Setan Kurus akibat adu tenaga dalam dengan Sekar Mayang, dua adik seperguruannya malah di bantai oleh selir Panji Watugunung lainnya.


Segera dia melompat dan membabatkan pedang besar nya ke arah Panji Watugunung dan ketiga gadis nya.


Serangkai angin dingin tenaga dalam tingkat tinggi melesat, mengancam nyawa. Panji Watugunung mencabut Pedang Naga Api, menggeser posisi tubuhnya, dan menyongsong serangan Muka Setan dengan sabetan angin berhawa panas berwarna merah.


Benturan tenaga dalam tingkat tinggi meledak keras.


Dhuarrrr.....


Panji Watugunung mundur selangkah sedangkan Muka Setan terpental tiga langkah. Tanda tenaga dalam Panji Watugunung 2 tingkat lebih tinggi dari Muka Setan.


'Bocah tengik ini ilmu nya tinggi. Pantas Mahesa Rangkah bisa dia bunuh. Aku harus lebih hati-hati', batin Muka Setan sambil merubah posisi kuda kuda nya.


Setelah menjejak tanah, Muka Setan merangsek maju. Dia ingin bertarung dengan jarak pendek. Tapi lagi-lagi dia tertegun saat Panji Watugunung sudah ada di hadapannya, dan menyabetkan pedang ke pinggang.


Muka Setan memutar tubuhnya, melenting ke udara dan menusuk cepat kearah kepala Watugunung. Kaki Watugunung menjejak tanah, melesat ke samping dan tangan kiri mengancam dada Muka Setan.


Wajah codet Muka Setan pias, mecoba menangkis tapak Watugunung.


Plak deshhhhh...


Benturan tapak membuat Muka Setan terlempar 2 tombak. Tangan kiri Muka Setan panas bukan main. Dadanya sesak tanda dia luka dalam.


Sedangkan Panji Watugunung setelah benturan tapak, melompat mundur dan seketika menjejak tanah dengan cepat lalu melesat kearah Muka Setan.


Melihat Muka Setan terluka, Setan kurus nyali nya ciut seketika. Saat Panji Watugunung melesat maju, Setan Kurus melesat pergi dan hilang di rimbun pepohonan.


Muka Setan kaget melihat tiba tiba Setan Kurus kabur, lalu tebasan pedang Watugunung mengancam leher pria bengis itu.


Tanpa sempat menghindar, kepala Muka Setan menggelinding ke tanah. Tubuh nya ambruk. Dan tewas.


"Sekarang kau jadi setan beneran", ucap Panji Watugunung sambil menendang kepala Muka Setan yang melayang jauh.


Lalu Panji Watugunung segera mendekati ketiga calon istri nya.


Ratna Pitaloka segera membisiki Panji Watugunung,


"Kakang aku lapar".


"Ayo kita cari makan, pasti masih ada warung makan di wilayah sini", ujar Panji Watugunung disambut anggukan ketiga gadis cantik nya.


Tepuk tangan dan sorak sorai warga Kunjang bersahutan melihat kelompok Muka Setan yang terkenal sakti dan suka menindas orang itu tewas.


Seorang sesepuh kampung segera mendekati kelompok Panji Watugunung.


Pria tua berambut putih dan berjenggot panjang itu tergopoh-gopoh menghampiri mereka.


"Tuan Pendekar Pedang Naga Api,terima kasih sudah menolong warga Kunjang. Kami benar-benar bersyukur atas bantuan pendekar sekalian"


"Pendekar Pedang Naga Api??,


Siapa dia?", jawab Dewi Anggarawati..


"Nona pendekar, bukankah tuan ini yang sudah membantai penyusup di Gelang-gelang?


Dari omongan yang tersebar, Pendekar Pedang Naga Api yang menyelamatkan Gelang-gelang dari kekacauan", jawab sesepuh kampung.


Hmmmmmm


"Tapi siapa yang memberi gelar seperti itu?


Ah sudahlah, kenapa juga di pikirkan.


Oh ya sesepuh, apa ada warung makan lain?


Kami tadi belum sempat makan sudah di ganggu orang orang itu?", tanya Watugunung sambil garuk-garuk kepala.


"Mari tuan Pendekar Pedang Naga Api, saya akan mengajak pendekar ke rumah saya. Saya ingin menjamu pendekar muda yang sudah menolong kami", jawab sesepuh kampung.


Setelah beberapa orang datang dan meminta Panji Watugunung dan ketiga gadis nya untuk dijamu, akhirnya mereka mau mengiyakan dengan catatan tidak merepotkan.


Sorak sorai warga kembali terdengar.


"Hidup Pendekar Pedang Naga Api..


Hidup Pendekar Pedang Naga Api..


Hidup Pendekar Pedang Naga Api.."


Setelah mendapat jamuan dari sesepuh kampung Kunjang, Panji Watugunung dan ketiga gadis nya mohon pamit untuk meneruskan perjalanan.


Sesepuh kampung Kunjang dan warga Kunjang mengantar mereka sampai di gapura wanua.


Sore harinya mereka sudah memasuki wilayah Pakuwon Watugaluh dari arah selatan.


"Dinda Anggarawati,sebaiknya kita bermalam di kota ini saja. Bagaimana?", ujar Watugunung pada Anggarawati yang berkuda di sebelahnya.


"Aku sih terserah Kakang Watugunung saja, coba tanya ke Kangmbok Pitaloka atau Kangmbok Mayang??"


Watugunung melambatkan laju kudanya, dan sekarang diantara kuda Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang.


"Dinda Pitaloka, kita menginap di sini saja ya?", tanya Watugunung. Ratna Pitaloka hanya mengangguk begitu pula Sekar Mayang.

__ADS_1


Akhirnya mereka berhenti di sebuah penginapan besar, mereka berhenti dan masuk.


Setelah Dewi Anggarawati membayar 4 kamar, mereka segera masuk untuk beristirahat.


Selesai mandi dan berganti baju, Panji Watugunung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Pertarungan di Kunjang tadi cukup menguras tenaga dalam nya.


'Aku harus melatih tenaga dalam ku, supaya tidak kerepotan jika nanti menghadapi musuh berbahaya'


Panji Watugunung segera bersemedi. Memusatkan tenaga dalam dan mengolah nya.


Aura kemerahan tampak menyelimuti tubuh pemuda tampan itu.


Tak tau berapa lama Panji Watugunung mengolah tenaga dalam.


Tiba tiba pintu di ketok.


Tok tok tok


tok tok tok


Watugunung membuka matanya.


"Masuk saja tidak di kunci"


Dewi Anggarawati tersenyum sambil membawa nampan berisi makanan dan sebumbung arak dari nira kelapa.


"Kakang Watugunung, makan dulu. Berlatih boleh tapi perut harus tetap di isi", Anggarawati menata makanan sambil melirik ke arah Panji Watugunung yang masih duduk bersila.


Segera dia turun dari ranjangnya, dan mendekat ke Anggarawati. Setelah makan, Anggarawati menuangkan arak dari nira kelapa kepada Watugunung.


Saat menenggaknya, wajah Watugunung menjadi merah.


"Apa ini Dinda?", tanya Watugunung penasaran karna rasa manis, asam dan pahit bercampur jadi satu.


Kemarin saat di istana Gelang-gelang, di perayaan, ayahnya sudah memberikan arak dari beras. Kata Panji Gunungsari anaknya sudah cukup berumur untuk meminumnya. Panji Watugunung hanya mencoba 2 cawan saja.


"Kata pelayan itu arak dari nira kelapa Kakang, untuk menenangkan diri sejenak", jawab Anggarawati sambil mengisi lagi cawan Watugunung yang kosong.


Panji Watugunung menenggak minuman itu, rasa hangat bercampur pahit membuat wajah nya bertambah merah.


Anggarawati juga meminumnya. Wajah cantik Anggarawati merah.


"Kakang, aku merindukan mu..", Anggarawati menatap hangat Panji Watugunung.


"Dinda, bukankah kita selalu bersama? Kenapa kau bilang merindukanku?", Panji Watugunung sedikit bingung dengan sikap Anggarawati.


"Iya bersama sih bersama, tapi tidak hanya berdua", Dewi Anggarawati cemberut dan membuang mukanya.


Panji Watugunung segera mendekat, menggeser kursi nya.


Anggarawati menoleh ke Panji Watugunung dan bergerak cepat duduk diatas paha Watugunung.


Jarak mereka dekat, dan wangi tubuh Dewi Anggarawati begitu menenangkan.


Watugunung menatap mata Dewi Anggarawati lekat. Ada sesuatu yang aneh. Ada debaran rasa tak biasa memacu jantung Panji Watugunung.


Perlahan tapi pasti, wajah mereka saling mendekat. Sampai bibir mungilnya Anggarawati menempel di bibir tipis Panji Watugunung.


Hangat dan lembut.


Perlahan tangan Dewi Anggarawati melingkar di leher Panji Watugunung, kecupan mesra nya sudah menjadi ciuman panas yang menggelora.


Tangan Watugunung bergerilya di area sensitif Dewi Anggarawati.


Dan,


Brakkk....


Pintu kamar terbuka dari luar. Seketika menyadarkan Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati.


Cihhhh


'Dasar pengacau'


Anggarawati menggeram dalam hati.


Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang berkacak pinggang dan mendelik tajam kearah mereka berdua.


"Apa apaan kalian??", teriak Ratna Pitaloka. Sekar Mayang ikut ikutan memandang tajam.


Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati tersenyum kecut sambil merapikan baju mereka yang acak acakan.


"Anggarawati, pintar sekali kau mencuri kesempatan", geram Ratna Pitaloka.


"Aku kangen Kakang Watugunung, jadi aku ya kemari", Anggarawati menjawab tanpa rasa bersalah.


"Kau pikir Kakang Watugunung hanya milikmu seorang?"


"Ya tidak juga sih, tapi kan aku kasian Kakang Watugunung hanya sendiri tidak ada teman"


Selagi Ratna Pitaloka dan Dewi Anggarawati masih ribut, Sekar Mayang beringsut menuju Panji Watugunung. Lalu Sekar Mayang mendekatkan wajahnya ke Panji Watugunung dan mencium pipi lelaki tampan itu.


Tetapi, perbuatan Sekar Mayang itu terlihat oleh Ratna Pitaloka dan Dewi Anggarawati yang sedang ribut.


"Mayaaaaanggggg!!! ", teriak mereka berdua.


"Kalian kalau mau ribut, ya ribut saja terus. Biar kakang Watugunung sama aku", Sekar Mayang santai.

__ADS_1


"Kauuuu....", kembali Ratna Pitaloka dan Dewi Anggarawati teriak kompak.


"Sudah diam!! Kalian ribut terus!,


Bisa tidak kalian rukun ha? Aku lelah, pengen istirahat, paham kalian?", suara Panji Watugunung seketika membuat mereka bertiga diam.


"Sekarang kalian semua keluar dari kamar ku", hardik Panji Watugunung.


Mereka dengan menundukkan kepalanya segera keluar dari kamar Panji Watugunung.


Panji Watugunung bergegas ke ranjang.


Beberapa saat kemudian mereka bertiga kembali lagi. Kali ini mereka bersujud di depan ranjang Watugunung.


"Kakang, mewakili Anggarawati dan Mayang aku minta maaf ya. Kakang Watugunung jangan marah lagi. Kami menyesal ribut hiks hiks", Ratna Pitaloka menangis, Sekar Mayang dan Anggarawati juga.


"Kami sangat mencintai mu kakang, jangan marah lagi ya hikss"


Semarah-marahnya hati lelaki, pasti luluh dengan air mata wanita.


Buru buru Panji Watugunung segera melompat turun, dan memeluk tubuh ketiga gadis nya.


"Hei sudah sudah, kakang Watugunung sudah tidak marah. Maafkan kakang ya, sudah jangan menangis lagi", kata Watugunung.


Panji Watugunung menarik ketiga gadis nya duduk di tepi ranjang.


"Kalian janji tidak ribut lagi?"


Ketiga gadis itu mengangguk.


"Janji bisa rukun?"


Ketiga gadis itu mengangguk lagi.


"Sekarang kalian kembali ke kamar masing-masing"


Ketiga gadis itu menggeleng.


"Aku tidur disini", jawab Anggarawati.


Sekar Mayang pun berkata", Aku juga tidur disini".


"Aku pengen tidur peluk Kakang", jawab Ratna Pitaloka.


Huhhhhhh


Jadilah pose tidur kemarin malam terulang lagi.


Pagi menjelang.


Suara kokok ayam jantan bersahutan dari rumah penduduk.


Watugunung membuka matanya dengan malas.


"Selamat pagi Kakang", suara Sekar Mayang sambil membuka jendela kamar.


"Kakang basuh muka dulu dengan air hangat biar segar ya?", Ratna Pitaloka mendekat ke arah Panji Watugunung.


Dewi Anggarawati menata sarapan pagi


"Kakang Watugunung, ayo sarapan dulu"


Watugunung tersenyum melihat tingkah laku mereka bertiga.


Lalu..


tok tok tok


tok tok tok


"Masuk..."


Seorang pelayan tergopoh-gopoh menuju Panji Watugunung dan ketiga gadis nya.


"Maaf mengganggu tuan. Anda di cari prajurit Pakuwon Watugaluh".


.


.


.


.


.


.


.


Apa yang terjadi?


Mengapa prajurit Pakuwon Watugaluh mencari Panji Watugunung?


Tunggu episode selanjutnya ya..


Happy reading guys 😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2