
Panji Watugunung menghela nafas panjang. Mangkat nya Prabu Samarawijaya yang begitu tiba-tiba membuat permasalahan yang dihadapi tidak semudah kelihatannya. Walaupun pada saat terakhir, Prabu Samarawijaya memberikan keputusan bahwa Panji Watugunung yang akan menjadi raja selanjutnya, pasti akan ada pihak yang menentang.
"Kita urus dulu upacara penyucian jiwa untuk Gusti Maharaja Samarawijaya, Paman Mapatih.
Selepas 40 hari masa berkabung, kita adakan pertemuan keluarga untuk membahas tentang Raja Panjalu selanjutnya. Walaupun Gusti Prabu Samarawijaya sudah menunjuk ku sebagai penerus nya, tapi kita juga tidak bisa mengabaikan anggota keluarga yang lain", ujar Panji Watugunung seraya mengelus kumis tipis nya. Yuwaraja Panjalu itu nampak memikirkan sesuatu.
"Hamba mematuhi ucapan Gusti Pangeran Jayengrana. Karena titah terakhir Sang Maharaja Samarawijaya adalah menunjuk Gusti Pangeran Jayengrana sebagai Raja Panjalu selanjutnya, maka dengan ini hamba menyatakan dukungan dan kesetiaan pada Gusti Pangeran Jayengrana", ucap Mapatih Jayakerti sambil menghormat pada Panji Watugunung.
Keesokan harinya, saat matahari mulai sepenggal naik di ufuk timur, suasana di alun alun Kotaraja Daha terlihat sibuk. Hampir semua warga Kotaraja Daha berkumpul di alun alun istana.
Semua warga Kotaraja Daha dalam suasana berkabung. Dengan mengenakan kain putih tanda duka cita, mereka turut berbelasungkawa atas meninggalnya Prabu Samarawijaya yang dipandang sebagai Raja yang adil dan bijaksana.
Hari itu, di alun alun Kotaraja, puluhan prajurit Panjalu nampak menata kayu kering sebagai sarana perabuan Prabu Samarawijaya. Sementara para pandita dan cantrik nya sibuk menyiapkan ubo rampe yang menjadi peralatan upacara penyucian jiwa.
Wangi kemenyan dan dupa turut membuat suasana begitu sakral. Bunga bunga yang baru di petik dari taman sari keraton sudah tertata rapi diatas nampan nampan.
Maharesi Mpu Soma dari Pertapaan Ranja diundang oleh Panji Watugunung untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk melakukan upacara ini. Lelaki sepuh berjenggot panjang itu tampak bersemedi di depan jasad Prabu Samarawijaya. Mulut nya berkomat kamit membaca mantra mantra Yadnya.
Tepat di belakang Sang Maharesi, Panji Watugunung nampak duduk bersila dengan tenang. Yuwaraja Panjalu itu turut memejamkan mata. Kain putih yang dipakai nya, menambah kewibawaan sang Yuwaraja Panjalu.
Para anggota keluarga Kerajaan Panjalu berkumpul di belakang sang resi. Sang Permaisuri Dyah Kirana dan para selir raja termasuk Ibunda Ayu Galuh, Larasati nampak berlinang air mata. Kepergian Sang Maharaja yang begitu mendadak menimbulkan rasa duka yang mendalam di hati masing-masing orang.
Para putri dan menantu Prabu Samarawijaya yang lain, termasuk Wiramukti dan Suryanata turut hadir diantara para keluarga. Semua tunduk dalam rasa duka cita mendalam. Ketujuh istri Panji Watugunung turut hadir diantara mereka.
Seluruh punggawa istana hadir disana, termasuk para Adipati dan pemimpin daerah yang menjadi kekuasaan Panjalu.
Maharesi Mpu Soma membuka mata nya, pertanda mantra mantra Yadnya sudah selesai di bacakan. Perlahan pandita dari Pertapaan Ranja di Seloageng itu menggeser duduknya kemudian menghadap ke arah Panji Watugunung.
"Nakmas Pangeran Jayengrana,
Mantra Yadnya sudah selesai hamba bacakan. Kita bisa mulai melakukan upacara penyucian jiwa ini", ujar Sang Maharesi Mpu Soma dengan lembut.
Mendengar itu, Panji Watugunung segera menoleh ke arah Mapatih Jayakerti. Dengan cepat ia mengangkat tangan kanannya. Mapatih Jayakerti segera mengangguk. Lalu empat orang prajurit bertubuh kekar segera mendekat ke arah tandu jasad Prabu Samarawijaya.
Mereka berempat dengan sigap segera mengangkat tandu itu ke tengah alun alun Kotaraja Daha. Para dayang istana menaburkan bunga-bunga di sepanjang langkah mereka.
Setelah meletakkan tandu diatas tumpukan kayu kering yang sudah di tata sedemikian rupa, keempat prajurit segera menjauh.
Para putri Prabu Samarawijaya segera berdiri dan menaburkan bunga bunga di sekitar jasad Sang Maharaja Panjalu dengan linangan air mata. Ayu Galuh hampir pingsan saat menaburkan bunga ke jasad ayahnya. Panji Watugunung yang melihat kejadian itu, dengan cepat membopong tubuh sang permaisuri kedua dan mendudukkan nya di bawah balai paseban agung.
"Dinda Galuh,
Ikhlaskan kepergian Gusti Prabu Samarawijaya. Jalan hidup manusia hanya dewata yang tahu. Kita manusia hanyalah wayang untuk setiap cerita yang diatur oleh Nya.
Relakan Gusti Prabu Samarawijaya menghadap Hyang Widhi Wasa. Jangan tangisi kepergian nya, agar tidak ada beban yang memberatkan perjalanan Gusti Prabu Samarawijaya di alam keabadian", nasehat Panji Watugunung yang membuat Ayu Galuh segera merangkul tubuh sang suami.
Dari arah belakang, Maharesi Mpu Soma membawakan obor dan mendekati Panji Watugunung.
"Nakmas Pangeran Jayengrana,
Sudah saatnya", ujar Maharesi Mpu Soma sambil menyerahkan obor kepada Panji Watugunung.
Sebelum Panji Watugunung menerima obor dari Mpu Soma, Yuwaraja Panjalu itu menoleh ke arah Ayu Galuh. Putri sulung Prabu Samarawijaya mengangguk perlahan. Setelah melihat itu, Panji Watugunung segera menerima obor dari Mpu Soma dan berjalan menuju ke tumpukan kayu kering di bawah jasad Prabu Samarawijaya.
"Aku, Panji Watugunung..
Di depan jasad Gusti Prabu Samarawijaya berjanji akan menjaga Panjalu hingga akhir hayat dengan segenap jiwa dan raga ku", teriak Panji Watugunung dengan lantang.
Usai berkata demikian, Panji Watugunung menyembah pada jasad Prabu Samarawijaya sebagai penghormatan terakhir kepada putra Prabu Airlangga itu lalu menyulutkan api dari obor yang di pegang nya pada tumpukan kayu kering.
Dengan cepat api berkobar membakar kayu kering sebagai sarana penyucian jiwa untuk Prabu Samarawijaya. Semua orang segera menunduk tanda mereka berbelasungkawa.
Menjelang tengah hari, api mulai mengecil dan jasad Prabu Samarawijaya telah diperabukan dengan sempurna.
Semua orang kembali ke tempat mereka masing-masing, tak terkecuali Panji Watugunung dan ketujuh orang istri nya. Mereka berdiam diri saja. Masih ada raut kedukaan yang mendalam di wajah Ayu Galuh membuat mereka juga turut bersimpati kepada permaisuri kedua Panji Watugunung itu.
"Yang tabah ya Dinda Galuh,
Semua yang hidup pasti akan mati. Doakan saja agar Gusti Prabu Samarawijaya tenang di nirwana", hibur Dewi Anggarawati sambil menepuk pundak Ayu Galuh.
"Benar ucapan Kangmbok Anggarawati, Yunda Galuh..
Kita tidak bisa menolak takdir dari Sang Hyang Widhi Wasa. Kita hanya bisa pasrah terhadap semua keputusan kahyangan", sahut Cempluk Rara Sunti, si selir bungsu Panji Watugunung.
Ayu Galuh mengangguk mengerti dengan maksud mereka berdua. Perempuan cantik itu mulai tersenyum tipis.
"Ingat Putri Liar,
__ADS_1
Kau masih memiliki kewajiban merawat Mapanji Jayawarsa. Jangan sampai kesedihan mu membuat mu melupakan tanggung jawab mu", timpal Sekar Mayang yang menyusul duduk di dekat Dewi Anggarawati.
"Aku mengerti, Kangmbok Mayang.
Memang tidak akan mudah menghilangkan kesedihan ku karena kepergian Kanjeng Romo Prabu Samarawijaya. Namun sebagai putri beliau, aku juga memiliki kewajiban untuk menjaga negeri ini seperti pesan terakhir Kanjeng Romo Prabu Samarawijaya kepada ku", ujar Ayu Galuh sembari tersenyum tipis melihat kearah para madu nya itu.
Panji Watugunung tersenyum simpul melihat kerukunan antar istri nya.
Hari berganti hari. Tak terasa hampir sepekan sudah, Prabu Samarawijaya menuju ke alam Swargaloka. Kesedihan di istana Daha berangsur mereda. Tak ada lagi tangis dan linangan air mata mengalir dari para putri Prabu Samarawijaya.
Namun kini suasana ketenangan Keraton Daha berganti dengan adanya suasana persaingan di antara para menantu Prabu Samarawijaya. Permasalahan ini di picu oleh tidak adanya putra laki laki yang di lahirkan oleh permaisuri. Dyah Kirana tidak melahirkan seorang keturunan pun untuk menjadi putra mahkota. Semua keturunan Samarawijaya di lahirkan oleh para selir dan itu semua menjadi masalah besar bagi kelangsungan Kerajaan Panjalu.
Meski Prabu Samarawijaya telah menunjuk Panji Watugunung sebagai penerus nya, namun para menantu Prabu Samarawijaya yang lain juga merasa berhak untuk menjadi Raja Panjalu selanjutnya.
Yang paling berambisi untuk menjadi Raja adalah suami Ayu Retnosari, Pangeran Suryanata.
Sebagai putra Adipati Rajaputra, Suryanata merasa lebih cakap dan layak untuk menjadi Raja Panjalu selanjutnya. Dia sama sekali tidak mengetahui silsilah keluarga Prabu Samarawijaya, merasa penunjukan Panji Watugunung sebagai penerus tahta kerajaan Panjalu terlalu gegabah.
Sore itu di kediaman Ayu Retnosari, Suryanata tengah duduk sambil menatap langit barat yang memerah. Rupanya lelaki itu tengah melamun saat seorang prajurit penjaga gerbang kediaman Ayu Retnosari memanggilnya.
"Mohon ampun Gusti Pangeran,
Tumenggung Gilingwesi ingin menghadap pada Gusti Pangeran", lapor sang prajurit penjaga gerbang setelah menghormat pada Suryanata.
'Gilingwesi? Bukankah dia tangan kanan Pangeran Banjarsari? Mau apa dia kemari?', batin Suryanata penuh pertanyaan. Setelah mempertimbangkan masak-masak, akhirnya Suryanata memberikan perintah.
"Suruh dia masuk", ucap Suryanata yang membuat sang prajurit mundur dari balai kediaman Suryanata. Tak berapa lama kemudian, Tumenggung Gilingwesi masuk ke dalam balai kediaman pribadi Ayu Retnosari.
Usai menghormat, lelaki berewok bertubuh gempal itu duduk bersila di lantai balai kediaman Suryanata.
"Ada hal apa yang membuat mu datang kemari, Tumenggung Gilingwesi?
Apa kau di utus oleh adik Banjarsari?", tanya Suryanata sambil menatap wajah Gilingwesi.
"Benar Gusti Pangeran,
Hamba diutus oleh Gusti Pangeran Banjarsari untuk mengantarkan sepucuk surat untuk Gusti Pangeran", jawab Tumenggung Gilingwesi sambil mengeluarkan sebuah kain berwarna merah lalu menyerahkannya kepada Suryanata.
Pangeran Banjarsari juga salah satu dari ke 6 menantu Prabu Samarawijaya. Asalnya dari Kadipaten Kembang Kuning di barat laut Kerajaan Panjalu. Dia masih terhitung kerabat jauh ibunda Prabu Samarawijaya. Dengan menikahi Rara Wulandari, putri ke 5 Prabu Samarawijaya dari selir Rara Purbawati, Pangeran Banjarsari juga memiliki hak atas tahta lewat istri nya.
"Bagus,
Rupanya adik Banjarsari turut mendukung ku untuk menjadi penerus Romo Prabu Samarawijaya. Dengan ini kekuatan ku di keluarga istana Daha akan menjadi lebih kuat", ujar Suryanata sambil menggenggam erat surat di tangan nya.
"Menurut Gusti Pangeran Banjarsari, Gusti Pangeran Suryanata lebih pantas menjadi raja Panjalu di banding dengan Watugunung yang hanya seorang putra Bupati.
Gusti Pangeran Banjarsari berharap, agar Gusti Suryanata tidak melupakan dukungan dari Gusti Banjarsari ke depannya", ujar Tumenggung Gilingwesi sambil menghormat pada Pangeran Suryanata.
"Tentu saja,
Sebagai sesama orang dari wilayah Panjalu Kulon, aku lebih suka menggabungkan kekuatan agar bisa memerintah kerajaan ini. Aku berjanji, jika perjuangan ku untuk duduk di singgasana Panjalu berhasil, maka ku pastikan bahwa Adik Banjarsari akan ku angkat sebagai Mapatih Kerajaan Panjalu", ucap Suryanata dengan berapi-api.
Demikianlah, suasana istana Panjalu semakin memanas karena adanya dua kubu yang saling berseberangan. Para pendukung Panji Watugunung meliputi Mapatih Jayakerti, Pangeran Wiramukti suami dari Dewi Gitarukmi yang merupakan putri kedua Prabu Samarawijaya, Pangeran Sambu suami dari putri bungsu Prabu Samarawijaya, Mpu Gangga sang Nayakapraja, beserta Ibu Suri Dyah Kirana.
Sedangkan para pendukung Suryanata kebanyakan orang orang dari Panjalu Kulon seperti Pangeran Banjarsari suami Rara Purbawati putri kelima Prabu Samarawijaya, Tumenggung Gilingwesi, Pangeran Mangkubumi suami Dyah Sitoresmi putri keempat Prabu Samarawijaya, Mahamantri Mpu Rikmajenar dan beberapa Selir Prabu Samarawijaya.
Mereka semua saling beradu pendapat mengenai siapa yang lebih layak untuk dijadikan sebagai Raja Panjalu selanjutnya.
Sore itu di kediaman Pangeran Suryanata, nampak Pangeran Banjarsari dan Tumenggung Gilingwesi sedang duduk bersila berhadapan di serambi kediaman mereka.
"Kangmas Suryanata,
Besok adalah peringatan 40 hari meninggalnya Kanjeng Romo Prabu Samarawijaya. Selepas esok akan diadakan sidang keluarga untuk menentukan siapa yang akan di mahkotai sebagai Raja Panjalu selanjutnya.
Aku sangat khawatir Kangmas", ujar Pangeran Banjarsari dengan nada rendah namun masih terdengar jelas di telinga Pangeran Suryanata.
"Apa maksud dari ucapan mu, Dhimas Banjarsari?
Apa yang begitu merisaukan hatimu? Bukankah kita sudah memiliki dukungan yang kuat dari para kerabat istana Daha?", tanya Pangeran Suryanata dengan penuh keheranan.
"Maaf Kangmas Suryanata,
Pendukung Pangeran Jayengrana adalah orang orang kuat di pemerintahan Kerajaan Panjalu. Aku yakin kita tidak akan mudah untuk memenangkan dukungan dari kerabat yang masih belum berpihak kepada kita atau kepada mereka. Yang aku khawatirkan, dengan tekanan yang diberikan oleh para punggawa itu maka kerabat istana yang belum berpihak, akan memberikan dukungannya kepada Pangeran Jayengrana", jawab Pangeran Banjarsari dengan nada pasrah.
"Masuk akal juga ucapan mu, Dhimas Pangeran Banjarsari.
Lantas kau punya usul apa untuk menghadapi masalah ini?", Pangeran Suryanata menatap wajah Pangeran Banjarsari segera.
__ADS_1
Sebuah senyum tipis tersungging di bibir Pangeran Banjarsari. Siasat adu domba nya berjalan lancar. Dia memang menginginkan tahta Kerajaan Panjalu tapi merasa tidak akan mampu mengalahkan Panji Watugunung dan Suryanata sekaligus. Maka dengan berpihak pada Suryanata, dia berharap mengalahkan Suryanata dan Panji Watugunung tanpa harus bersusah payah.
"Kita harus menyingkirkan Mapatih Jayakerti agar tidak ada dukungan kuat pada Panji Watugunung.
Dengan begitu, kedudukan Panji Watugunung dan kita akan berimbang di sidang dewan mahkota nanti", jawab Pangeran Banjarsari dengan cepat.
Hemmmm...
"Kau benar, Dhimas Pangeran Banjarsari.
Tapi lelaki tua itu bukan orang sembarangan. Dia adalah seorang ksatria yang pilih tanding. Tidak mudah untuk membunuh nya", ujar Suryanata sambil mengernyitkan keningnya. Nampak dia tengah berpikir keras.
"Kenapa Kangmas Suryanata repot?
Suruh saja itu abdi setia mu dari Kembang Kuning yang melakukannya. Aku tahu dia berilmu tinggi.
Tapi setelah melakukan nya, dia harus meninggalkan istana ini Kangmas untuk menutupi jejak kita", ucap Pangeran Banjarsari sambil menunjuk pada seorang lelaki bertubuh gempal yang sedang duduk di dekat pintu gerbang kediaman Suryanata.
Hemmmm..
"Kalau hanya Mapatih Jayakerti, aku rasa Gandra akan mudah melakukan tugasnya. Aku yakin itu.
Tapi aku rasa membunuh Mapatih Jayakerti tidak akan menyelesaikan masalah ini, Dhimas Pangeran Banjarsari", jawab Suryanata sembari mengelus hidungnya.
Pangeran Banjarsari mengernyitkan keningnya tanda dia tak mengerti.
"Apa maksud mu Kangmas Suryanata? Aku tidak mengerti sama sekali", tanya Pangeran Banjarsari sambil menatap ke arah Suryanata.
Suami Ayu Retnosari itu segera menyeringai lebar, lalu berkata pelan namun penuh dengan ancaman.
"Bagaimana kalau kita bunuh Panji Watugunung?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁
Selamat tinggal 2021 🎉🎉🎉🎉🎉
Selamat datang 2022 🎆🎆🎆🎆🎆
Author doakan semoga semua reader setia BNL tetap sehat, murah rejeki dan di mudahkan segala urusannya di tahun baru ini..
Selamat membaca 😁😁🙏😁🙏😁😁
__ADS_1