Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Guru Baru


__ADS_3

Pagi menyapa Pakuwon Bandar..


Meski mendung menggelayut manja di langit, namun suasana pagi begitu sejuk.


Ratna Pitaloka tersenyum manis, tak henti hentinya dia memandang wajah tampan yang dia temani tidur tadi malam. Meski tidak berhubungan intim, namun itu sudah lebih dari cukup membuktikan bahwa pemuda tampan itu juga menyukainya.


Dengan lembut, gadis cantik itu menundukkan wajahnya dan mengecup mesra bibir Panji Watugunung.


Cuppp


Ciuman itu serta merta membangunkan Panji Watugunung dari tidurnya. Melihat Ratna Pitaloka masih memandangi wajah nya, Watugunung segera berucap,


"Sudah puas belum memandang wajah ku?"


Wajah cantik Ratna Pitaloka seketika merah.


Panji Watugunung tersenyum manis..


Tok tok tok..


Ketukan pintu dari luar membuyarkan kemesraan mereka.


Panji Watugunung segera beranjak dari tempat tidur nya, dan berjalan menuju pintu kamar.


Saat pintu kamar terbuka, wajah cantik Sekar Mayang tersenyum simpul.


Cihhhhh


'Dasar penggangu'


"Tumben sekali pagi hari kau sudah bangun Mayang, biasanya kau tidur seperti kebo", ejek Ratna Pitaloka yang masih kesal karna di ganggu.


"Ow tentu aku harus bangun pagi Kangmbok, karna hari ini adalah giliran ku bersama Kakang Watugunung", senyum lebar merekah di bibir Sekar Mayang.


Walaupun masih kesal, tapi Ratna Pitaloka juga sadar dengan kesepakatan yang telah mereka buat.


Setelah membersihkan diri dan bersiap, mereka turun ke rumah makan.


Terlihat wajah wajah mereka yang segar terutama Ratna Pitaloka dan Dewi Anggarawati.


Hari ini mereka berdandan cantik. Ratna Pitaloka memakai kemben kuning muda berpadu celana pendek selutut ala pendekar nya. Sedangkan Dewi Anggarawati memakai kemben hijau pupus nya dengan paduan celana selutut warna serupa.


Seusai makan, mereka membayar biaya menginap dan rumah makan. Pelayan rumah makan itu sangat senang setelah mendapat tip 1 kepeng perak.


Mereka semua segera melompat ke atas kuda dan menepuk kuda mereka agar jalan perlahan.


"Kakang Watugunung, berhenti sebentar".


Teriakan Dewi Anggarawati saat mereka melewati pasar yang sedang ramai.


"Ada apa Dinda?", Panji Watugunung menoleh ke Anggarawati.


"Iya ada apa? Apa kau ingin mengganggu waktu mesra ku putri manja?", timpal Sekar Mayang


Cihhhh


'Siapa juga yang mau ganggu ', gerutu Dewi Anggarawati dalam hati.


"Kakang Watugunung, aku ingin memberikan oleh oleh untuk Resi Mpu Sakri dan Kakang Warigalit. Boleh kan?", Anggarawati tersenyum tipis.


Panji Watugunung mengacungkan jempol tanda setuju.


Ratna Pitaloka segera melompat turun dari kudanya.


"Aku ikut".


Sekar Mayang juga ikut melompat turun dari belakang Panji Watugunung.


"Ratri, ayo ikut juga", teriak Sekar Mayang pada Ratri yang masih diatas kuda.


Ratri tampak ingin ikut tapi dia sadar tidak punya cukup uang.


"Jangan khawatir, nanti belanja mu aku yang bayar", teriak Sekar Mayang lagi.


Wajah Ratri berbinar seketika, dan melompat turun mengikuti Sekar Mayang masuk ke pasar.

__ADS_1


Tinggal Ki Sima dan Panji Watugunung yang di luar pasar.


Matahari semakin mendekat diatas kepala, tapi mereka belum juga kembali.


'Dasar perempuan, lupa waktu kalau urusan belanja', gumam Panji Watugunung kesal.


Dari dalam pasar berturut mereka keluar. Dewi Anggarawati menenteng sebuah buntalan kain, Ratna Pitaloka membeli beberapa bahan makanan, sedangkan Sekar Mayang dan Ratri membeli baju baru.


Melihat Panji Watugunung bersungut-sungut kesal, mereka tidak berani bertanya dan langsung mengikuti langkah Panji Watugunung memacu kudanya.


Kuda kuda pilihan mereka memang jempolan. Dengan cepat melesat menuju Padepokan Padas Putih.


Lewat tengah hari, mereka sudah sampai di gerbang Padepokan Padas Putih. Penjaga gerbang yang mengenali Watugunung dan ketiga gadis itu segera mempersilakan masuk.


Suasana Padepokan Padas Putih masih tidak berubah meskipun hampir 3 purnama mereka tinggalkan.


Mereka bergegas menuju kediaman Mpu Sakri yang ada di bagian barat padepokan.


Di halaman kediaman Mpu Sakri, nampak Warigalit, kakak seperguruan tertua, sedang asyik berlatih jurus tombaknya.


"Kakang Warigalit...", teriak Ratna Pitaloka keras menghentikan latihan Warigalit.


Warigalit segera berlari mendekati rombongan Panji Watugunung.


"Jagat Dewa Batara, kalian kembali", Warigalit matanya berkaca-kaca.


"Tentu Kakang, Watugunung kan bilang hanya sementara perginya", Panji Watugunung tersenyum tulus.


"Kakang Warigalit tampak lebih berotot ya sekarang", ujar Sekar Mayang..


Dari dalam rumah, Mpu Sakri yang mendengar suara ribut-ribut di halaman rumah nya, segera bergegas keluar.


Lelaki sepuh itu tertegun sejenak melihat murid-murid kesayangan nya sudah kembali.


Namun yang mengejutkan bukan itu saja bagi resi sepuh.


'Hemmmm rupanya dia juga disini'.


"Guru mana Kakang Warigalit?", potong Ratna Pitaloka.


"Aku ada disini".


"Kau tidak ingin kesini Kakang Narasima?, ujar Mpu Sakri lembut.


Cihhhhh


"Kalau bukan karena pesan dari menantu ku untuk meninggalkan Kalingga, aku tak sudi kembali kesini", ujar kakek Sima.


"Masuklah Kakang, kita bicara di dalam rumah", ujar Mpu Sakri tersenyum lega.


Semua orang terkejut. Mereka tak menyangka bahwa guru mereka dan kakek tua Sima saling mengenal.


Setelah Kakek Sima dan cucu nya masuk ke serambi kediaman Mpu Sakri, mereka duduk melingkar di atas lantai. Kecuali Dewi Anggarawati dan Sekar Mayang yang bergegas ke dapur menyiapkan makanan.


"Bagaimana kabarmu Kakang? sepertinya kau tampak lebih muda 10 tahun dari ku", ucap Mpu Sakri.


"Kabar ku baik. Sepertinya Padepokan Padas Putih menjadi lebih besar daripada saat terakhir aku disini", jawab kakek Sima.


"Hehehehe iya Kakang, murid disini sudah mencari angka 400 lebih. Walau tidak sebesar Perguruan Pedang Suci di Lembah Hijau, tapi perguruan ini termasuk besar di dunia persilatan", jelas Mpu Sakri.


"Guru maaf menyela pembicaraan. Kakek Sima ini dulu juga anggota Padas Putih ya?", tanya Watugunung penasaran.


"Hahahaha, biar aku yang menjawab Sakri..",


Kakek Sima menghela nafas panjang.


"Namaku sebenarnya Narasima, murid Resi Bagaspati, pendiri pertama Padepokan Padas Putih.


Murid Resi Bagaspati hanya ada 5. Kakang Wanabaya, Mpu Rungkat, Aku, Dadung Awuk dan Sakri.


Mpu Sasi itu murid Mpu Tantribala, adik seperguruan Resi Bagaspati saat berguru di gunung Penanggungan, yang tewas saat membantu Prabu Airlangga menumpas Ratu Hitam dari Selatan.


Selepas pertarungan dengan Ratu Hitam, Resi Bagaspati menarik diri dari keduniawian dan mendirikan Padepokan Padas Putih.


Setelah guru meninggal, terjadi perpecahan di antara murid-murid Resi Bagaspati. Kakang Wanabaya, kami pilih menjadi pemimpin. Dadung Awuk yang tidak terima menantang duel dan kalah.

__ADS_1


Walaupun Dadung Awuk kalah, tapi kami berharap bisa rujuk. Tapi ternyata tidak. Dadung Awuk memilih pergi dari Padas Putih dengan membawa dendam kekalahan.


Lalu Mpu Sasi datang atas permintaan kakang Wanabaya.


Aku sudah tidak tahan lagi dengan keadaan di Padas Putih memilih pergi meninggalkan Padas Putih dan berkelana hingga ke Kalingga".


Kakek Sima atau Mpu Narasima menghela nafasnya. Guratan kesedihan terlihat jelas di matanya.


"Sudahlah kakek, jangan sedih lagi. Bukankah seharusnya kakek sudah senang kita ada disini?", ujar Ratri yang banyak diam tiba tiba bicara.


Mpu Narasima menghela nafasnya dalam-dalam.


"Sakri, tujuan ku pulang sebenarnya pesan almarhum menantu ku. Dia bilang ingin abu jenazah nya di tanam di lereng Penanggungan".


"Tidak apa-apa Kakang, lebih baik di semayamkan di sanggar pamujan lebih dulu", jawab Mpu Sakri tersenyum.


Bau wangi masakan membuyarkan pembicaraan mereka. Ratna Pitaloka segera bergegas menuju ke dapur. Tak lama kemudian Ratna Pitaloka, Sekar Mayang dan Dewi Anggarawati keluar sambil membawa nampan berisi nasi dengan lauk pauk nya.


"Resi, mari makan. Sudah lama kita tidak makan bersama", ujar Dewi Anggarawati sambil meletakkan kendi air minum dan beberapa jenis masakan.


Mereka semua makan dengan lahap. Masakan Anggarawati memang enak, jauh lebih enak dari masakan Ratna Pitaloka atau Sekar Mayang.


"Masakan mu sangat enak. Pantas Watugunung suka padamu", ujar Mpu Narasima.


Dewi Anggarawati tersenyum manis sambil malu-malu. Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang hanya cemberut saja karena mereka juga mengakui kalau masakan Anggarawati memang lebih enak dari masakan mereka.


Usai bersantap, mereka bercakap-cakap kembali, sedangkan para gadis sibuk membereskan perkakas.


"Sakri, aku punya permintaan", ujar Mpu Narasima


"Apa itu Kakang? Kalau bisa pasti ku kabulkan", jawab Mpu Sakri sambil mengelus jenggotnya.


"Aku ingin mengangkat murid mu ini sebagai murid ku", tukas Mpu Narasima sambil menepuk pundak Watugunung.


"Ajian Sepi Angin nya sudah tingkat 7, sudah sangat sempurna. Tapi kalau dia mempelajari Ajian Tameng Waja ku, di jamin dia akan menjadi pendekar pilih tanding".


Mpu Sakri tersenyum, lalu berkata, "Silahkan Kakang, selama itu berguna untuk Panji Watugunung, aku tidak keberatan".


Para gadis sudah kembali dari dapur. Mereka kembali ikut duduk mendengarkan guru mereka.


"Tapi ada syaratnya Sakri", sambung Mpu Narasima kemudian.


"Gadis itu harus masak enak setiap hari"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hehehehe dari perut naik ke hati..


Author juga suka makan enak

__ADS_1


Apalagi kalau gratis wkwkwkwk..


Happy reading guys 😁😁😁😁


__ADS_2