
Sima Lodra mendelik tajam ke arah Dewi Naganingrum.
"Perempuan busuk,
Sombong sekali mulutmu menantang ku. Akan ku robek mulut busukmu itu bangsat", teriak Sima Lodra sambil berlari cepat kearah Dewi Naganingrum.
Naganingrum segera menyiapkan kuda kuda Ilmu Silat Cakar Rajawali Galunggung nya. Tangan kanannya di tekuk ke depan dada, membentuk cakar 4 jari sedang tangan kiri nya terangkat ke atas dengan mengepal.
Sima Lodra langsung menghantamkan tangan kanannya ke arah wajah cantik Dewi Naganingrum.
Sreeeetttt..
Naganingrum mundur selangkah, dan menjejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi ke udara. Setelah itu, istri ketiga Panji Watugunung itu segera memutar tubuhnya dan melesat turun dengan mengayunkan cakar nya. Dia menggunakan Jurus Rajawali Berburu Mangsa.
Whuuuuttt whutttt..
Cakar Rajawali Galunggung memaksa Sima Lodra untuk melesat mundur setelah menjejak tanah dengan kaki kanan nya. Namun Dewi Naganingrum tidak memberikan kesempatan untuk mundur dengan mudah.
Cakar tangan kanan dan kiri perempuan cantik itu terus bertubi-tubi menyerang ke arah Sima Lodra dari udara.
Gerakan cepat Naganingrum membuat Sima Lodra kelabakan. Dengan ngawur dia berusaha menangkis cakaran Dewi Naganingrum.
Putri Prabu Darmaraja itu segera bersalto di udara kemudian dengan cepat dia mendarat di belakang punggung Sima Lodra.
Pria paruh baya itu terus menangkis cakaran yang sudah tidak menyerangnya dengan mata terpejam. Saat Sima Lodra membuka mata nya, Dewi Naganingrum yang sedari tadi sudah di belakang nya, langsung menghantam pinggang Sima Lodra dengan keras.
Deshhhh
Ougghhh
Sima Lodra menjerit keras. Pemimpin Kelompok perusuh itu jatuh tengkurap di tanah. Wajah nya menghantam tanah dan mulut nya penuh dengan rumput.
"Sedap euy makan rumputnya aki peyot", sindir Naganingrum sambil tersenyum simpul melihat mulut lawan nya.
Phuihhhh
"Wanita sinting keparat!
Ku cabik-cabik tubuh mu", ujar Sima Lodra setelah meludahkan rumput di mulutnya.
Tangan Sima Lodra segera merentang perlahan. Tiba-tiba saja kuku nya memanjang seperti kuku singa yang hendak menerkam mangsanya. Itulah Ajian Sima Wana, ilmu warisan keluarga Sima Lodra.
Dengan cepat Sima Lodra melesat cepat kearah Dewi Naganingrum sambil mengayunkan tangannya yang berkuku panjang.
Whuuuuttt
Sambaran cakar tangan kanan Sima Lodra mengincar leher Dewi Naganingrum. Dengan cepat, Naganingrum berkelit ke kiri. Sima Lodra ganti cakar tangan kiri bergerak.
Dengan sigap, Naganingrum menangkis cakaran tangan kiri Sima Lodra menggunakan lengan kanannya dan segera menghantam perut lelaki paruh baya berambut gimbal itu.
Deshhhh
Sima Lodra terdorong mundur dua langkah. Pria itu segera melompat sambil mengayunkan cakar tangan kanan kearah wajah Dewi Naganingrum.
Istri ketiga Panji Watugunung itu segera menekuk lutut, untuk menghindari serangan Sima Lodra. Sambil menghindar, Naganingrum mencakar perut lelaki berambut gimbal itu dengan cepat.
Shrraaakkkkk..
Aaarrghhh!!
Sima Lodra menjerit keras saat cakar Dewi Naganingrum merobek perutnya. Meski tidak dalam, namun luka yang dialaminya mengeluarkan darah segar. Laki laki itu segera menjauh dari Naganingrum sambil membekap perutnya yang berdarah.
Segera dia melepas bajunya yang berwarna kuning kecoklatan untuk membalut luka di perutnya.
Usai mengikat luka, Sima Lodra mendelik tajam ke arah Naganingrum.
"Kau sudah melukai ku. Jangan harap kau bisa melihat mentari esok pagi, perempuan bangsat!", teriak Sima Lodra sambil mengangkat tangan kanannya ke arah kepala.
"Eleuh sombongnya..
Buktikeun omongan mu aki sepuh, ulah ngan tiasa ngancem enteu buktinya", ujar Naganingrum sambil berkacak pinggang menantang Sima Lodra.
Sima Lodra yang merapal Ajian Tapak Surya semakin geram mendengar ucapan Naganingrum. Tangan kanannya berubah warna menjadi kuning kemerahan seperti sinar matahari dari sinar yang bergulung-gulung di sana.
Hiyyyyaaatttt...
Siiiiiuuuuuuutttt!!
Sinar kuning kemerahan seperti matahari melesat cepat kearah Dewi Naganingrum. Dengan ilmu meringankan tubuh nya, Dewi Naganingrum melompat tinggi menghindari sinar kuning kemerahan dari Ajian Tapak Surya yang dilepaskan oleh Sima Lodra.
Blammmmm!!
Ledakan keras terdengar saat sinar kuning kemerahan menghantam pohon beringin yang ada di belakang Dewi Naganingrum. Pohon itu langsung patah dan terbakar.
Melihat lawan bisa menghindar, Sima Lodra kembali menghantamkan tangan kanannya ke arah putri bungsu Prabu Darmaraja itu.
Siiiiiuuuuuuutttt..
Blammmmm!!!
Lagi lagi Dewi Naganingrum berhasil menghindari sinar Ajian Tapak Surya nya Sima Lodra setelah bersalto di udara saat melompat tinggi.
Naganingrum segera merapal Ajian Chandra Buana nya. Tangan kanannya segera diliputi oleh sinar kuning kebiruan. Saat Sima Lodra menghantamkan tangan kanannya ke arah Naganingrum, perempuan itu dengan cepat menghantamkan tangan kanannya.
Whuuuuttt
Dhuuuaaaaarrrrrr!!!
Ledakan keras terdengar akibat benturan dua ajian andalan mereka. Sima Lodra yang tak menyangka kalau Naganingrum akan memapak serangan nya, terpental jauh ke belakang sejauh 4 tombak dan menghantam tanah dengan keras.
Huuoogghh
Sima Lodra langsung muntah darah segar. Dadanya seperti dihantam kayu besar.
Sedangkan Dewi Naganingrum juga terdorong mundur beberapa langkah. Dada Naganingrum sedikit sesak, dia juga terluka dalam meski tidak separah Sima Lodra.
Phuihhhh..
Naganingrum meludah. Air ludah nya bercampur darah. Perempuan cantik itu segera bersiap menghabisi nyawa Sima Lodra. Dengan cepat dia melesat ke arah Sima Lodra yang berusaha bangkit dari tempat jatuhnya.
Randu Laweyan yang baru membantai seorang bekel prajurit Lodaya, melihat nyawa kawan nya dalam bahaya, segera melempar dua pisau kearah Naganingrum.
__ADS_1
Sringg sringg!!
Rara Sunti yang waspada, segera memotong serangan Randu Laweyan dengan tebasan pedang nya.
Tranggg!!!
Pisau terpental akibat sabetan pedang Rara Sunti. Satu pisau melesat ke arah seorang prajurit pasukan Sima Lodra, satu lagi menancap pada sebatang pohon sawo.
Naganingrum terus bergerak menuju Sima Lodra. Dengkul kanannya menghantam rahang Sima Lodra.
Dashhh!
Ougghhh
Sima Lodra kembali terpelanting ke belakang dan menyusruk tanah. Dia langsung tewas dengan rahang hancur.
Melihat Sima Lodra tewas, Randu Laweyan dengan cepat melemparkan pisau pisau kecil yang menjadi senjata andalan nya. Pisau kecil melesat cepat kearah Dewi Naganingrum yang baru menghabisi nyawa Sima Lodra.
Shrrrinnngggg!
Sringg!
Sringg!!!
Cempluk Rara Sunti segera menggunakan ilmu Tarian Pedang Badai Laut Selatan nya. Selir bungsu Panji Watugunung itu menghadang laju pisau kecil dari Randu Laweyan.
Tringgggg!
Tringggg!
Tringgggg!!
Gerakan lemah gemulai seperti menari dari Cempluk Rara Sunti mampu menangkis puluhan pisau kecil yang dilemparkan oleh Randu Laweyan.
Pria berwajah tirus menyeramkan itu segera menggenggam dua pisau besar di tangan nya dan melesat cepat kearah Cempluk Rara Sunti.
Randu Laweyan dengan cepat menyabetkan pisau besar nya kearah leher Rara Sunti.
Whuuussshh
Rara Sunti segera menangkis dengan pedang nya. Melihat serangan yang kandas, Randu Laweyan ayunkan pisau di tangan kirinya kearah perut Rara Sunti.
Dengan cepat Rara Sunti melompat mundur beberapa langkah kebelakang. Randu Laweyan terus memburu nya dengan serangan pisau bertubi-tubi.
Ilmu Tarian Pedang Badai Laut Selatan memang hebat. Sekalipun terlihat lemah gemulai, tapi mampu mengimbangi permainan pisau Randu Laweyan yang ganas dan mematikan.
Dua puluh jurus sudah berlalu, dan Rara Sunti sudah mendaratkan dua sayatan pada tubuh Randu Laweyan.
Pria berwajah tirus menyeramkan itu mulai ngos-ngosan mengatur nafasnya. Luka yang di dapatkan nya terus mengeluarkan darah.
"Perempuan busuk,
Rupanya kau ingin mengulur waktu ku. Aku tidak sebodoh yang kau kira", teriak Randu Laweyan sambil menyarungkan pisau di tangan kanannya.
Adik seperguruan Sima Lodra itu merapal mantra Ajian Tapak Surya yang di dapatnya saat berguru pada Pandita Jaladara dari wilayah Singhapura di selatan Tumapel.
Tangan kanan Randu Laweyan segera berubah warna menjadi kuning kemerahan. Pria berwajah tirus menyeramkan itu segera melompat ke arah Cempluk Rara Sunti yang juga sudah menyiapkan Ajian Waringin Sungsang nya.
Chiyyyaaaattttt!!
Blammmmm!!
Aaaarrrggghhhh!!
Randu Laweyan menjerit kesakitan saat daya hidup dan tenaga dalam nya tersedot ke dalam tubuh Cempluk Rara Sunti. Rasa sakit begitu menusuk ke setiap sendi tubuh dan tulang Randu Laweyan.
Darah mulai mengalir dari lubang hidung, telinga, mulut dan mata Randu Laweyan yang tak berdaya.
Tak ingin berlama-lama dalam pertarungan itu, Cempluk Rara Sunti segera menebas leher Randu Laweyan.
Crasshhh
Kepala Randu Laweyan langsung terpisah dari badan nya yang kemudian menggelinding ke tanah. Wakil pimpinan kelompok perusuh itu tewas dengan badan terpisah.
Melihat Arya Prabu yang tengah di keroyok para pasukan pemberontak, Rara Sunti segera menendang kepala Randu Laweyan dengan keras.
Dashhh!!
Kepala Randu Laweyan melayang cepat kearah salah seorang anggota pasukan pemberontak.
Bruakkk
Si pasukan pemberontak yang naas langsung pingsan karena kepala Randu Laweyan menghantam dada nya.
Rara Sunti dan Naganingrum segera berpandangan sejenak, lantas melesat cepat kearah Pangeran Arya Prabu yang kerepotan melawan 6 pasukan pemberontak yang mengeroyoknya.
Pertempuran di malam itu benar benar mengerikan.
Meski anak buah Sima Lodra dan Randu Laweyan bertempur dengan penuh semangat, tapi para prajurit Lodaya juga bertarung habis-habisan melawan mereka.
Mayat-mayat mulai jatuh bergelimpangan di seputar jalan masuk menuju balai paseban Lodaya.
Pertarungan sengit terjadi di setiap sudut istana Lodaya.
Retnaningsih yang tengah mencari keberadaan Arya Prabu terus melempar jarum beracun yang merupakan senjata rahasia andalannya.
Sringg!!
Sringg!!!
Jarum melesat cepat kearah para prajurit Lodaya yang menghalangi jalan Retnaningsih.
Creeppp!
Creeppp!!!
Aaarrghhh...!
Jerit kesakitan terdengar saat senjata beracun itu menancap di tubuh para prajurit Lodaya.
Setelah mereka roboh dengan mulut berbusa, Retnaningsih melihat Pangeran Arya Prabu yang tengah mengayunkan pedangnya kearah para pasukan pemberontak .
__ADS_1
Perempuan paruh baya itu segera melesat cepat kearah Pangeran Arya Prabu.
Retnaningsih yang menyimpan dendam kesumat pada Arya Prabu langsung melempar jarum beracun nya kearah orang orang yang menghalanginya, tak peduli kawan atau pun lawan.
Para pengeroyok Arya Prabu langsung tersungkur ke tanah akibat racun penghancur tenaga dalam yang mengenai tubuh mereka.
"Arya Prabu!
Kali ini akan ku bunuh kau dengan tangan ku sendiri", teriak Retnaningsih dengan keras sambil menunjuk ke arah Arya Prabu.
"Kau....
Siapa kau sebenarnya?", tanya Arya Prabu yang pangling dengan penampilan Retnaningsih. Meskipun samar-samar terlihat seperti seorang teman lama, tapi Pangeran Arya Prabu benar benar lupa nama perempuan itu.
"Huhhhhh, dasar bajingan.
Kau sudah melupakan ku rupanya. Baiklah, akan ku segarkan ingatan mu, Arya Prabu.
Aku adalah Retnaningsih, putri Lurah Wanua Ranti Jayakrama. Sudah ingat kau?", ujar Retnaningsih sembari menatap ke arah Arya Prabu.
"Oh begitu rupanya..
Jadi kau Retnaningsih. Kenapa kau bisa berubah seperti ini Retnaningsih?", tanya Pangeran Arya Prabu segera. Lelaki paruh baya yang masih terlihat tampan itu menatap ke arah Retnaningsih yang tampak marah besar kepada nya.
"Ini semua karena kau, Arya Prabu.
Kau menolak cinta ku, membuat ku kena marah karena menolak lamaran Ronosastro, putra Lurah Wanua Embul Soka. Kanjeng Romo Jayakrama mengusir ku, karena aku tidak bisa melupakanmu. Aku menderita dan terlunta-lunta karena mencintaimu, bajingan!
Hari ini akan ku balas sakit hati ku karena ulah mu", teriak Retnaningsih dengan penuh amarah.
"Kau tidak bisa menyalahkan ku atas penderitaan mu, Retnaningsih.
Sudah ku bilang aku tidak bisa meninggalkan Rayung Wulan. Kau yang tidak mengerti apa itu cinta, Retnaningsih.
Seharusnya kau sadar bahwa cinta tak harus memiliki", ucap Arya Prabu dengan bersungguh-sungguh.
"Tutup mulut mu bangsat!
Hari ini akan ku buat kau menyesali perbuatan mu kepada ku!", teriak Retnaningsih yang segera melompat tinggi ke udara dan melempar puluhan jarum beracun ke arah Pangeran Arya Prabu.
Sringg sringg sringg!!!
Tiba-tiba dari arah yang berlainan, sebuah bayangan berkelebat cepat dan segera melempar puluhan jarum berwarna merah untuk menghadang serangan Dewi Racun Selatan pada Arya Prabu.
Tranggg traakk!!!
Blarrrr..!!
Ledakan kecil terdengar saat dua senjata rahasia berbenturan di udara.
Retnaningsih alias Dewi Racun Selatan terhenyak sejenak melihat serangan nya berhasil di gagalkan seseorang. Mata Retnaningsih menatap tajam ke arah seorang wanita muda yang memakai baju putih.
"Siapa kau?
Mengapa kau menghalangi jalan ku?", Retnaningsih alias Dewi Racun Selatan mendelik tajam ke arah si wanita muda yang tak lain adalah Dewi Srimpi.
"Kau sudah berbuat onar di tempat ini.
Kami yang bertamu menjadi tidak nyaman karena ulah mu. Sudah sepantasnya bagi kami untuk membantu calon besan mertua kami", ujar Dewi Srimpi segera.
Hemmmm
"Sepertinya hari ini aku menemukan lawan yang pintar menggunakan racun.
Kita lihat, seberapa hebat kau mampu mengimbangi permainan racun dari Dewi Racun Selatan", senyum sinis tercipta di bibir Retnaningsih yang sangat yakin dengan kemampuan racunnya.
Perempuan itu segera merogoh kantong dari kulit lembu yang tergantung di pinggangnya.
"Permaisuri ketiga,
Tolong bawa Gusti Pangeran Arya Prabu untuk menjauh dari tempat ini", ujar Dewi Srimpi pada Naganingrum yang sedari tadi berusaha melindungi Arya Prabu bersama Rara Sunti.
Naganingrum segera mengangguk mengerti dengan maksud Dewi Srimpi. Bersama Rara Sunti, Naganingrum memaksa Pangeran Arya Prabu menjauhkan arena pertarungan Dewi Srimpi dan Retnaningsih.
Retnaningsih segera melesat cepat kearah Dewi Srimpi, lalu melempar dua jarum beracun nya kearah perempuan cantik itu.
Sringg sringg!!
"Matilah kau!!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author terus semangat menulis 😁
__ADS_1
Dirgahayu Republik Indonesia yang ke 76
Merdeka!!!✊✊