
Rombongan Panji Watugunung memacu kudanya. Usai menyeberang sungai Citanduy, mereka bergerak cepat menuju ke arah selatan menyusuri jalan besar menuju Kadipaten Madangkara di tenggara Kawali. Angin dingin dari selatan mengiringi langkah kaki kuda mereka mencecah jalan.
Sesampainya di Wanua Karang Kamulyan, mereka kemudian berhenti di rumah Ki Buyut Permana, sesuai janji Panji Watugunung pada sang Lurah Wanua itu.
Usai menambatkan tali kekang kuda pada tempat yang di sediakan, Trajutrisna mendahului langkah menuju serambi rumah Ki Buyut Permana.
"Sampurasun", ucap Trajutrisna di depan pintu serambi.
"Rampes...", jawab suara seorang lelaki dari dalam rumah, yang tidak lain adalah Surawisesa, cucu Ki Buyut Permana.
"Eh Kang Trajutrisna, silahkan masuk Kang..", Surawisesa memperhatikan ada tambahan seorang wanita muda lagi di rombongan itu.
"Punten Akang Trajutrisna,
Aya peryogi naon nya Kang?", tanya Surawisesa dengan sopan.
"Itu Kang, kami mau berpamitan pada Ki Buyut Permana sesuai janji Gusti Pangeran Panji tempo hari", jawab Trajutrisna yang menjadi juru bicara Panji Watugunung selama di wilayah Galuh Pakuan.
"Oh sakedap nya Kang, saya panggilkan dulu Aki di belakang", ujar Surawisesa yang kemudian segera bergegas menuju ke arah belakang. Tak berapa lama kemudian, dia kembali dengan Ki Buyut Permana.
Kakek tua itu tersenyum tipis melihat kedatangan rombongan Panji Watugunung.
"Ahhh ternyata Gusti Pangeran adalah orang yang menepati janji. Terimakasih banyak sudah merendah dengan mau berkunjung kemari Gusti Pangeran", ucap Ki Buyut Permana segera.
"Ki Buyut jangan seperti itu. Watugunung hanya pengelana biasa. Datang kesini untuk menepati janji sekaligus mohon pamit. Kami akan pulang ke Daha", Panji Watugunung menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Aki punya sesuatu untuk Gusti Pangeran, mohon diterima untuk bekal perjalanan hidup Gusti Pangeran", Ki Buyut Permana kemudian duduk bersila dengan tenang. Udara di sekitar tempat itu menjadi dingin.
Panji Watugunung segera duduk bersila kemudian merapal mantra Ajian Ngrogoh Sukma ajaran Warok Suropati.
Zhheeetttthh...
"Mari ikut aku Gusti Pangeran", ujar sukma Ki Buyut Permana yang langsung menarik tangan sukma Panji Watugunung. Mereka memasuki alam kasat mata.
"Aki akan memberikan Ajian Halimun kepada Gusti Pangeran. Ilmu kanuragan ini dapat digunakan untuk berpindah tempat dalam waktu singkat sesuai keinginan si pemakai ilmu. Juga menghilang dari pandangan lawan, dan menangkal serangan mahluk halus", timpal sukma Ki Buyut Permana kemudian.
"Terimakasih banyak Ki Buyut Permana sudah memberikan pegangan untuk ku", Sukma Panji Watugunung menghormat pada Ki Buyut Permana.
Segera tangan sukma Ki Buyut Permana di letakkan pada kening sukma Panji Watugunung. Sinar biru pekat bergulung melingkupi seluruh tubuh Panji Watugunung segera. Tubuh pangeran Daha itu bergetar hebat. Para pengiringnya terkejut melihat kejadian itu.
Tak berapa lama kemudian, kemudian Panji Watugunung segera membuka matanya nya saat sukma nya kembali ke raganya usai Ajian Halimun masuk ke tubuhnya.
Ki Buyut Permana tersenyum penuh arti.
"Gusti Putri,
Hamba berpesan agar Gusti Putri menjaga diri. Panjalu tempat orang sakti dengan berbagai jenis ilmu kanuragan nya", ujar Ki Buyut Permana sambil menatap ke arah Dewi Naganingrum yang berpakaian biasa.
"Terimakasih atas nasehat bijak Ki Buyut. Mohon doa restunya nyah Aki, doakeun semoga eneng bahagia sama akang kasep", jawab Dewi Naganingrum segera.
Usai berbincang hangat sementara waktu, Panji Watugunung dan rombongannya segera memacu kuda mereka. Di simpang jalan, mereka berbelok ke kiri menuju wilayah Kadipaten Gunatiga. Menjelang senja, mereka sampai di Pakuwon Wanareja di barat Kali Serayu yang menjadi batas wilayah Panjalu dan Galuh Pakuan.
Rombongan Panji Watugunung berhenti di sebuah penginapan di tepi kota Pakuwon Wanareja.
"Akang Kasep,
Naha urang uereun di dieu?? Kenapa kita tidak ke istana Pakuwon Wanareja?", tanya Dewi Naganingrum segera.
"Hai putri ular,
Kita ini dalam penyamaran. Jangan samakan dengan kebiasaan mu yang selalu hidup enak di istana ya", sahut Sekar Mayang yang tidak tahan untuk bicara. Dari kemarin dia sudah memendam perasaan kesal pada Dewi Naganingrum yang lengket terus dengan Panji Watugunung.
"Benar ucapan Dinda Mayang, Dinda Naganingrum.
Kita tidak bisa untuk tetap tinggal di tempat mewah. Sekarang kita masih beruntung bisa tidur di ranjang. Kalau kita kemalaman di jalan, kita harus bersiap untuk beristirahat dimana saja", Panji Watugunung segera memberikan pengertian kepada Dewi Naganingrum.
"Asal dengan Akang kasep, Naganingrum teh siap tidur dimana saja", ujar Dewi Naganingrum yang segera turun dari kudanya mengikuti langkah Panji Watugunung memasuki penginapan.
"Huh dasar penjilat..", gerutu Sekar Mayang yang di dengar oleh Ratna Pitaloka dan Dewi Srimpi.
__ADS_1
"Kita harus segera memberikan pengertian kepada Naganingrum, Mayang. Kalau tidak, dia akan semakin menjadi jadi", ujar Ratna Pitaloka yang segera di balas anggukan kepala dari Dewi Srimpi.
7 orang istri Panji Watugunung memang memiliki sifat seperti 7 hari dalam saptawara. Raditya atau Radite diwakili oleh Sekar Mayang yang gampang panas berapi-api, Soma diwakili oleh Dewi Naganingrum yang manja, Anggara menggambarkan sifat Dewi Anggarawati yang penuh kasih sayang, Buda di tempati oleh Cempluk Rara Sunti yang penuh cita cita dan harapan, Respati atau Wrespati di wakili Ratna Pitaloka yang hangat, Sukra di gambarkan dalam wujud Dewi Srimpi yang dingin dan penuh misteri, sedang Tumpak atau Sanaiscara di gambarkan dalam wujud Ayu Galuh yang ingin selalu berkuasa dan pencemburu.
Usai mandi dan berganti pakaian, mereka bersiap untuk makan malam bersama. Panji Watugunung, Lawana dan Trajutrisna sudah bergegas menuju tempat makan. Sementara itu, ketiga selir Panji Watugunung mendatangi kamar Dewi Naganingrum.
"Dengar Putri ular,
Kita semua adalah istri Kakang Watugunung. Kau juga harus bisa mengerti dengan yang lain. Jangan mentang-mentang kau anak raja jadi seenak jidat mu menguasai Kakang Watugunung", hardik Sekar Mayang.
"Memang salah ya Naganingrum dekat dengan Akang kasep?", Naganingrum menjawab dengan tegas.
"Tidak salah kita dekat dengan suami Naganingrum, tapi kau juga harus ingat bahwa bukan hanya kau istri Kakang Watugunung. Aku, Mayang, Srimpi, Ayu Galuh, Anggarawati dan Rara Sunti juga istri Kakang Watugunung.
Kau harus mengerti, juga belajar mengerti", ujar Ratna Pitaloka sambil tersenyum tipis.
"Sebelum ada kau, kami tidak pernah ribut urusan waktu bersama Kakang Watugunung, bahkan Galuh si putri liar itu saja mengerti.
Kami bertiga masih berbaik hati memberikan waktu kepada mu karna kau pengantin baru. Kalau tidak sudah ku hajar kau dari kemarin", sahut Sekar Mayang berapi-api.
"Mari kita keluar, Denmas Panji pasti sudah menunggu kedatangan kita di meja makan", kali ini Dewi Srimpi angkat bicara untuk menengahi suasana.
Mereka kemudian bergegas menuju ke arah meja makan di warung makan yang menjadi satu dengan penginapan.
Sepasang mata menatap tajam ke arah meja makan yang di kelilingi oleh Panji Watugunung dan rombongannya. Setelah merasa yakin, sepasang mata itu beringsut mundur dari tempat makan nya dan menghilang di kegelapan malam.
Malam semakin larut. Dewi Naganingrum dengan tersenyum manis melirik ke arah Panji Watugunung yang merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Setelah mencabut tusuk konde nya, Dewi Naganingrum segera menyusul Panji Watugunung. Perlahan dia merebahkan tubuhnya di samping sang suami yang sudah memejamkan matanya.
"Akang Kasep..", panggil Dewi Naganingrum lirih.
"Hemmmm
Ada apa Dinda?", tanya Panji Watugunung yang tetap menutup matanya.
"Eta kang, ehhhh naon nya Kang...", Dewi Naganingrum grogi dan tak meneruskan kalimatnya.
"Ada apa sih Dinda?", kali ini Panji Watugunung membuka matanya perlahan dan menoleh kearah Dewi Naganingrum. Malam kemarin mereka memang tidak melakukan apa apa karena kecapekan dengan acara pernikahan.
Cuppp..
Kemudian dengan cepat dia menarik selimut untuk menutupi wajahnya.
Panji Watugunung yang kaget segera tersenyum manis. Perlahan dia menarik selimut yang menutupi wajah Dewi Naganingrum. Saat wajah cantik Dewi Naganingrum tersembul keluar dari selimut, terlihat rona merah disana.
Saat Panji Watugunung mengelus wajah nya, jantung Dewi Naganingrum berdetak kencang. Bulu roma nya berdiri seketika. Perlahan Panji Watugunung mendekatkan wajahnya ke wajah Naganingrum. Dengan lembut, dia memagut bibir mungil Naganingrum segera.
Selanjutnya hanya terdengar suara desah nafas dan erangan kenikmatan yang memenuhi kamar itu. Panji Watugunung segera memeluk tubuh Naganingrum yang polos tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh nya.
Sementara itu, dari arah barat daya sekelompok bayangan hitam melesat cepat menuju kearah penginapan tempat Panji Watugunung dan rombongannya bermalam.
"Kau yakin itu dia Bargawa?", ujar si bayangan hitam yang terus melompat diantara atap bangunan dengan gerakan ringan.
"Hamba yakin Gusti, itu adalah dia", jawab si bayangan hitam yang di sebut Bargawa oleh orang tadi.
Mereka terus bergerak cepat.
Sesampainya di penginapan mereka berpencar menjadi tiga kelompok kecil. Dan mengepung penginapan dari 3 sisi berbeda.
Dewi Naganingrum yang sedang asyik menciumi bibir Panji Watugunung, kaget saat Panji Watugunung melepaskan pelukannya. Panji Watugunung mendengar atap bangunan penginapan seperti di injak seseorang meskipun gerakan mereka sangat ringan.
"Ada apa Akang Kasep?", terdengar suara kecewa dari mulut Naganingrum.
"Sssttt...
Ada beberapa orang berada di atap bangunan penginapan Dinda. Mereka jelas berniat tidak baik", ujar Panji Watugunung sambil beringsut memakai pakaiannya yang berserakan di lantai kamar. Setelah menyambar Pedang Naga Api, dengan perlahan dia membuka pintu kamar.
Diluar pintu kamar, ketiga selir Panji Watugunung sudah bersiap. Rupanya mereka juga mendengar suara mencurigakan dari atap penginapan. Keempat nya melesat cepat berpencar. Panji Watugunung dan Dewi Srimpi melompat ke atas atap penginapan, sedang Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang melesat ke pintu belakang penginapan.
Dewi Naganingrum yang kesal karena kedatangan mereka mengganggu waktu nya bersama Panji Watugunung segera memakai pakaian nya, melesat cepat menuju keluar lewat jendela kamar tidur.
__ADS_1
Diatas atap bangunan penginapan, 2 orang berpakaian hitam dengan penutup wajah dari kain hitam, nampak sudah bersiap dengan pedang terhunus. Di bawah sinar bulan yang hampir purnama, bisa terlihat jelas pantulan dari pedang mereka.
"Siapa kalian?
Ada urusan apa kalian kemari?", tanya Panji Watugunung sambil memandang tajam ke arah 2 orang itu.
Tanpa menjawab, dua orang itu segera melesat cepat sambil mengayunkan pedang nya.
Sreeetttttt...
Dengan gerakan lincah, Panji Watugunung dan Dewi Srimpi segera berpencar menghindari sabetan pedang. Pertarungan antara mereka segera berlangsung sengit.
Naganingrum menerjang kearah 2 orang lain yang mengepung dari arah luar penginapan. Seperti kilat, dia melesat melayangkan tendangan keras ke perut salah seorang lelaki itu.
Deshhhhh
Si lelaki itu terpental karena tidak sempat menghindar. Usai menendang, Dewi Naganingrum langsung memutar tubuhnya kemudian melesat cepat sambil menyambar dada seorang lelaki di sebelah nya dengan jurus silat Cakar Rajawali Galunggung.
Krashhhttt..
Aughhhhh
Si pria terhuyung mundur. Dadanya robek terkena cakaran tangan Dewi Naganingrum.
"Rasakeun balukarna lamun ngaganggu reureuh abdi. Enak kan?", ujar Dewi Naganingrum sambil tersenyum sinis.
Sementara itu, dari atap bangunan di seberang penginapan, seorang lelaki muda berkumis tebal dengan jambang lebat menatap tajam ke arah pertarungan mereka diapit 4 bayangan hitam.
Dia adalah Tumenggung Rumpaksana.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya ya 😁😁
Yang suka cerita ini silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya
__ADS_1
Selamat membaca guys 😁😁😁