
Senopati Ragasingha menoleh ke 4 orang pengawal yang di tunjuk oleh Tumenggung Ludaka, kemudian mengalihkan pandangannya pada perwira tinggi prajurit Panjalu itu dengan penuh pertanyaan.
"Mengapa Kisanak Utusan Kerajaan Panjalu ingin mengajak mereka?
Apa Kisanak tidak percaya dengan keamanan diri kisanak jika mereka tidak ada?", tanya Senopati Ragasingha sambil menatap ke arah Tumenggung Ludaka.
"Mohon maaf Senopati Ragasingha. Jujur saja aku tidak percaya dengan jaminan perlindungan dari kalian", jawab Tumenggung Ludaka segera.
Hemmmmmmm..
"Mereka boleh masuk, tapi senjata mereka harus ditinggalkan.
Bagaimana Kisanak?", kembali Senopati Ragasingha bertanya.
Satu anggukan kepala halus dari Panji Watugunung membuat Tumenggung Ludaka segera mengangguk.
"Tidak masalah, mereka juga hebat dalam pertarungan tangan kosong", jawab Tumenggung Ludaka sambil berjalan ke arah gapura Istana Kadipaten Singhapura.
Senopati Ragasingha pun segera melangkah menuju ke dalam istana Kadipaten Singhapura diikuti Tumenggung Ludaka, Tumenggung Landung dan keempat pengawal pribadi yang merupakan penyamaran dari Panji Watugunung, Dewi Srimpi, Cempluk Rara Sunti dan seorang Bekel Prajurit yang bernama Rukmaka.
Di ruang pribadi adipati Singhapura, tengah terjadi pertemuan antara Adipati Damar Galih, Patih Mpu Sogatan, Tumenggung Mardeya dan Ramadyaksa Mpu Dampa.
Mereka tengah memikirkan bagaimana cara agar Panjalu kembali membuka perdagangan dengan mereka, sekaligus meredakan ketegangan perbatasan akibat banyaknya prajurit Seloageng dan Tanah Perdikan Lodaya yang berkemah disana. Meski tidak ada ancaman atau peringatan dari dua wilayah tetangga itu, namun tetap saja hadirnya ribuan prajurit mereka membuat resah para penduduk Kadipaten Singhapura.
"Apa kau sudah menemukan cara nya, Romo Patih?
Kita tidak bisa begini terus-terusan", ujar Adipati Damar Galih sambil mengelus kumis tipis nya.
"Aku juga bingung Nakmas Adipati. Apa sebaiknya kita mengirim utusan ke Seloageng dan Tanah Perdikan Lodaya untuk mengetahui apa mau mereka?", Mpu Sogatan mengelus jenggotnya yang memutih.
"Kalau itu kulakukan, maka mereka akan tahu kita sedang ketakutan dengan gelar pasukan mereka.
Aku tidak mau di cap pengecut oleh Adipati Seloageng maupun Pangeran Lodaya", balas Adipati Damar Galih sembari mengerutkan keningnya pertanda dia sedang berpikir keras.
"Menurut hamba, usul Gusti Patih itu ada benarnya Gusti Adipati. Kita sedang dalam posisi terjepit karena perdagangan kita yang lumpuh.
Kalau dalam jangka sepekan ke depan tidak ada pemecahan masalah ini, hamba khawatir para pedagang akan berpindah ke wilayah lain Gusti Adipati baik ke Panjalu atau ke wilayah lain Kerajaan Jenggala.
Ini bisa menghancurkan mata pencaharian masyarakat Kadipaten Singhapura yang umumnya adalah petani karena tidak ada pembeli untuk hasil bumi mereka", ujar Ramadyaksa Mpu Dampa sambil menghormat pada Adipati Damar Galih.
Saat para pembesar istana Kadipaten Singhapura tengah berembuk mengenai upaya mereka dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi, dari depan Senopati Ragasingha datang bersama 6 orang. Mereka segera menyembah pada Adipati Damar Galih lalu duduk bersila di lantai ruang pribadi adipati.
"Senopati Ragasingha,
Siapa mereka? Dan mau apa mereka kemari?", tanya Adipati Damar Galih segera.
"Mohon ampun Gusti Adipati,
Mereka adalah utusan Prabu Jayengrana yang ingin bertemu dengan Gusti Adipati", jawab Senopati Ragasingha sambil menghormat pada penguasa Kadipaten Singhapura itu.
Semua orang yang ada di tempat itu saling berpandangan mendengar laporan Senopati Ragasingha. Berbagai pertanyaan melintas di benak mereka masing-masing.
Hemmmmmmm
Adipati Damar Galih segera mengangkat tangan kanannya pertanda dia menerima kedatangan utusan dari Panjalu. Senopati Ragasingha bergeser duduk ke samping kiri. Tumenggung Ludaka segera menghormat pada Adipati Damar Galih.
"Mohon maaf jika kehadiran kami tidak ada pemberitahuan lebih dulu, Gusti Adipati.
Saya Tumenggung Ludaka, utusan dari Maharaja Panjalu Sri Jayengrana ingin memberikan nawala dari Yang Mulia Maharaja Panjalu untuk Gusti Adipati Singhapura.
Mohon diterima", ujar Tumenggung Ludaka sambil menoleh ke arah Tumenggung Landung yang ada di sampingnya. Perwira tinggi prajurit Panjalu itu langsung mengulurkan sebuah kantong kain berwarna merah yang merupakan pembungkus nawala dari Panji Watugunung. Tumenggung Ludaka menerimanya kemudian menghaturkan nawala pada Adipati Damar Galih dengan kedua tangan.
Patih Mpu Sogatan segera berdiri dan mengambil nawala di tangan Tumenggung Ludaka kemudian menyerahkannya kepada Adipati Damar Galih.
Dengan sedikit tergesa, Adipati Singhapura itu segera membuka kain penutup nawala dan segera membacanya.
"Aum swasty astu..
Aku Sri Maharaja Panjalu, Sri Jayengrana Digjaya Saptaprabu,
Meminta agar Adipati Singhapura Bathara Damar Galih,
Menyerahkan buronan pemerintah Panjalu,
Mpu Rikmajenar sang Mahamantri durjana,
Agar bisa diadili sebagaimana mestinya.
Jika Adipati Singhapura Bathara Damar Galih menolak,
Jangan salahkan aku jika memerintahkan kepada Adipati Seloageng,
Dan Penguasa Tanah Perdikan Lodaya,
Untuk bergerak melaksanakan apa yang menjadi keinginan ku,
Aum swasty astu.."
Pucat wajah Adipati Damar Galih membaca surat yang di haturkan Tumenggung Ludaka.
"Jadi.. Jadi bala tentara yang ada di perbatasan kami adalah persiapan Prabu Jayengrana untuk menyerbu Singhapura?
__ADS_1
Hanya demi seorang Mpu Rikmajenar?", ujar Adipati Damar Galih dengan nada bergetar. Senopati Ragasingha, Mpu Sogatan, Mpu Dampa dan Tumenggung Mardeya terkejut mendengar penuturan Adipati Damar Galih.
"Itu benar Gusti Adipati. Jika Gusti Adipati menolak untuk menyerahkan Mpu Rikmajenar, maka Gusti Prabu Jayengrana sudah menyiapkan 20 ribu prajurit Panjalu untuk berangkat kemari, selain para prajurit dari Tanah Perdikan Lodaya dan Seloageng.
Gusti Adipati bisa memperkirakan sendiri apa yang akan terjadi dengan Kadipaten Singhapura selanjutnya", Tumenggung Ludaka langsung bicara terus terang. Mendengar ucapan itu, Mpu Sogatan Patih Kadipaten Singhapura segera berdiri dari tempat duduknya.
"Kurang ajar!
Kau berani mengancam Kadipaten Singhapura di kandang kami sendiri? Apa kau tidak takut mati?", geram Mpu Sogatan sambil menunjuk pada Tumenggung Ludaka.
"Tentu saja saya takut mati, Gusti Patih. Apa Gusti Patih ingin menahan saya? Atau ingin membunuh saya?
Silahkan saja. Namun Gusti Patih harus ingat, jika saya tidak kembali dengan selamat esok pagi di perbatasan Singhapura, bersiaplah untuk menerima kedatangan para prajurit Panjalu di bawah pimpinan Gusti Prabu Jayengrana sendiri", Tumenggung Ludaka menyeringai lebar.
Suasana di ruangan itu langsung tegang.
"Tunggu dulu Utusan,
Aku mau bertanya. Apa sebenarnya kesalahan Mpu Rikmajenar hingga Prabu Jayengrana begitu ingin menghukum nya?", tanya Adipati Damar Galih segera. Raut mukanya benar benar berubah menjadi pucat. Ancaman Tumenggung Ludaka tidak main-main.
"Mpu Rikmajenar terbukti telah melakukan serangkaian upaya untuk menggulingkan pemerintahan Kerajaan Panjalu dengan menghasut Pangeran Banjarsari dan Pangeran Suryanata untuk memberontak, mengirimkan dukungan pada Adipati Mpu Pamadi dari Kadipaten Kembang Kuning untuk makar pada pemerintah Panjalu, menyewa para pembunuh untuk menghabisi nyawa Gusti Prabu Jayengrana di Hutan Soka, dan yang terakhir mendalangi pembakaran Istana Daha.
Apakah kesalahan seperti ini masih layak diampuni, Gusti Adipati?", Tumenggung Ludaka menatap wajah Adipati Damar Galih yang tersentak ketika mendengar kesalahan yang dilakukan oleh Mpu Rikmajenar.
'Separah itu kelakuan nya? Kalau dia bercokol di Kadipaten Singhapura, pasti dia pun akan mencoba menggulingkan kekuasaan ku.
Tidak!
Ini tidak boleh terjadi', batin Adipati Damar Galih.
Adipati Damar Galih segera menoleh ke arah Patih Mpu Sogatan. Dia kesal karena mertuanya itu telah membohongi dirinya.
"Kanjeng Romo Patih,
Tega-teganya Kanjeng Romo membohongi putra mantu mu sendiri hanya untuk menyelematkan seorang buronan negara dari Kerajaan Panjalu?
Kita ini sekarang sedang susah Kanjeng Romo, karena tindakan pemberhentian perdagangan dengan pihak Panjalu. Aku juga yakin Prabu Jayengrana yang melakukan ini karena tindakan kita menerima kedatangan Mpu Rikmajenar.
Apa Kanjeng Romo lebih suka satu Kadipaten Singhapura hancur karena hanya melindungi seorang buronan?", Adipati Damar Galih menatap geram pada Mpu Sogatan.
"Aku juga tidak tahu kalau kejahatannya separah ini Nakmas Adipati. Aku mohon maaf", ujar Patih Mpu Sogatan dengan perasaan bersalah.
"Sekarang Kanjeng Romo Patih pilih, tetap melindungi Mpu Rikmajenar atau tetap menjadi mertua ku?
Aku tidak segan-segan untuk meninggalkan Yayi Dewi Lesmanawati jika disuruh memilih antara rakyat Kadipaten Singhapura atau keluarga mu", tantang Adipati Damar Galih dengan tegas.
"Jangan Nakmas Adipati,
"Baik kalau begitu..
Utusan dari Panjalu, sekarang kalian ikut kami ke Kepatihan. Mpu Rikmajenar ada disana. Kita tangkap dia bersama-sama", Adipati Damar Galih segera berdiri dari kursi kebesarannya. Di kawal oleh para pembesar istana Singhapura, juga Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Landung berserta para pengawal dari Panjalu, Adipati Damar Galih bergegas menuju ke arah Kepatihan.
Para prajurit penjaga Kepatihan yang melihat kedatangan Adipati Damar Galih beserta para pembesar istana Singhapura langsung memberi jalan kepada penguasa daerah Singhapura itu segera.
Mereka dengan cepat mengepung balai tamu yang menjadi tempat tinggal Mpu Rikmajenar selama di Kepatihan.
Mpu Sogatan segera mengetuk pintu bilik kamar tidur milik Mpu Rikmajenar usai mendapat perintah dari Adipati Singhapura.
Tokk thok thokkk!!
"Adhi Rikmajenar,
Bukakan pintu nya dhi, aku kakak mu ingin bicara", teriak Mpu Sogatan dengan sedikit keras.
Krrriiiiieeeeeeeeetttthhhh!!
Wajah seorang wanita bangsawan sepuh muncul dari dalam pintu. Dia menatap wajah Mpu Sogatan dengan sedikit muka kebingungan.
"Kakang Patih,
Ada apa kemari?", tanya perempuan sepuh itu segera.
"Dimana Adhi Rikmajenar, Saraswati? Katakan saja dia dimana?", Mpu Sogatan menatap wajah sepuh perempuan bangsawan itu.
"Aku tidak tahu Kakang Patih. Dia hanya bilang mau ke rumah Mpu Warak di tapal batas kota ini. Aku juga tidak tahu itu dimana", jawab Nyi Saraswati, istri Mpu Rikmajenar segera.
Patih Mpu Sogatan segera menoleh ke arah Senopati Ragasingha. Melihat anggukan kepala dari perwira tinggi prajurit Kadipaten Singhapura itu, dia segera berbalik arah. Nyi Saraswati hanya bisa menatap kepergian para pembesar istana Singhapura itu dengan penuh pertanyaan.
"Gusti Adipati,
Mpu Warak itu punya ratusan murid. Kalau kita kesana tanpa bala bantuan, maka dia pasti menggunakan murid-murid nya untuk mengancam kita.
Sebaiknya kita membawa prajurit untuk berjaga jaga", usul Senopati Ragasingha sambil menghormat pada Adipati Damar Galih begitu mereka keluar dari Kepatihan.
Adipati Damar Galih mengangguk mengerti. Mpu Warak adalah pemimpin Perguruan Gunung Semilir. Muridnya banyak dan kemampuan ilmu kanuragan nya tinggi. Selama ini para perwira prajurit Kadipaten Singhapura tidak berani mengusiknya. Namun kali ini, karena lebih takut dengan ancaman dari Prabu Jayengrana juga demi tetap berjalannya roda kehidupan masyarakat Kadipaten Singhapura, mau tidak mau Adipati Damar Galih terpaksa mendatangi markas Perguruan Gunung Semilir.
Ratusan prajurit Kadipaten Singhapura langsung bergerak cepat. Di pimpin sendiri oleh Adipati Damar Galih, mereka bergerak cepat menuju ke markas Perguruan Gunung Semilir di luar tapal batas kota Kadipaten Singhapura.
Mpu Warak dan Mpu Rikmajenar tengah duduk berhadapan di serambi kediaman Mpu Warak.
"Kisanak Rikmajenar tidak perlu khawatir. Kisanak sudah memberikan banyak bantuan untuk kami disini..
__ADS_1
Tentu saja kami pun tahu cara membalas budi baik ini. Adipati Damar Galih pun tidak berani macam-macam dengan ku. Jadi selama di Kadipaten Singhapura, aku berani menjamin keselamatan mu Kisanak", ujar Mpu Warak sambil tersenyum lebar. Pria paruh baya berbadan besar dengan dua anting besar pada telinga kiri nya itu sangat yakin dengan kemampuan beladiri nya.
"Aku sangat bergantung pada perlindungan Mpu Warak. Mohon bantuannya dengan sangat", Mpu Rikmajenar menunduk hormat.
"Hahahaha..
Tak perlu sungkan saudara ku. Jika Adipati Singhapura itu berani macam-macam dengan mu, aku Mpu Warak yang akan menghajar nya sampai mampus", ucap Mpu Warak sambil menepuk dadanya.
Saat mereka tengah asyik berbincang, seorang penjaga gerbang markas Perguruan Gunung Semilir berlari ke arah mereka.
"Mohon ampun Guru,
Ratusan prajurit Kadipaten Singhapura datang kemari", lapor sang penjaga gerbang dengan nafas memburu. Mpu Warak dan Mpu Rikmajenar segera berdiri dari tempat duduknya.
"Kurang ajar Damar Galih..
Cari mampus dia! Ayo kita kesana", teriak Mpu Warak sambil berjalan ke arah pintu gerbang markas Perguruan Gunung Semilir. Mpu Rikmajenar segera memberikan isyarat kepada 4 pendekar sewaannya untuk mengikuti nya menuju ke arah pintu gerbang.
Mpu Warak dengan pongah berjalan mendekati Adipati Damar Galih yang baru melompat turun dari kudanya. Begitu pula Mpu Sogatan, Senopati Ragasingha, Tumenggung Mardeya dan para utusan dari kerajaan Panjalu.
"Mau apa kau kemari, Adipati Damar Galih?
Ingin membuat kekacauan di tempat ku? Besar sekali nyali mu sekarang. Bapak mu saja tidak berani mengusik ketenangan tempat ku ini", Mpu Warak mendengus dingin.
"Maaf Mpu Warak,
Sebenarnya aku tidak ingin mengganggu tempat mu ini. Hanya aku ingin membawa Mpu Rikmajenar untuk ku serahkan pada Prabu Jayengrana", ujar Adipati Damar Galih dengan penuh kehati-hatian. Mpu Rikmajenar yang di belakang langsung menyeruak ke depan Adipati Damar Galih begitu mendengar perkataan sang penguasa Kadipaten Singhapura itu.
"Gusti Adipati,
Kenapa Gusti mengingkari janji untuk memberikan perlindungan kepada saya dari orang orang Panjalu. Atas dasar apa Gusti Adipati bertindak demikian?", tanya Mpu Rikmajenar dengan nada tinggi.
"Atas dasar kau telah berbuat kerusakan di Panjalu. Juga atas kelakuan mu menyuruh orang membakar istana Daha", jawab Tumenggung Ludaka sambil melangkah maju ke depan Mpu Rikmajenar.
Lelaki sepuh itu segera mundur selangkah. Dia terkejut melihat kehadiran Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Landung diantara para pembesar istana Singhapura. Usai mengatasi kekagetannya, Mpu Rikmajenar menyeringai lebar.
"Antek antek Jayengrana,
Kau pikir mudah untuk menangkap ku ha? Bahkan jika Jayengrana sendiri yang datang kemari aku tidak takut", ucap Mpu Rikmajenar dengan pongahnya.
Belum sempat Tumenggung Ludaka menjawab terdengar suara berat dari belakang.
"Oh benarkah demikian Mpu Rikmajenar? Kau tidak takut bila Prabu Jayengrana sendiri yang datang mencari mu?"
Semua orang segera menoleh kearah sumber suara. Seorang lelaki bertubuh tegap dengan caping bambu menutupi hampir seluruh wajahnya berjalan maju ke arah Mpu Rikmajenar.
Perlahan dia membuka caping bambu nya hingga wajah tampan dengan kumis tipis menyembul dari balik caping bambu. Mata Mpu Rikmajenar langsung melotot lebar melihat siapa orang yang di depan nya.
"Pra... Prabu Jayengrana??", gumam Mpu Rikmajenar dengan lirih. Meskipun dia berucap lirih namun suaranya masih bisa di dengar oleh semua orang.
APAAAAAA???!!!!!
Semua orang terkejut bukan main mendengar ucapan Mpu Rikmajenar termasuk Adipati Damar Galih. Semua perhatian langsung tertuju pada seorang lelaki bertubuh tegap dengan pakaian pengawal di samping Tumenggung Ludaka.
"Sekarang apa kau masih tidak takut, Mpu Rikmajenar?".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mulai Minggu depan author ada pekerjaan lapangan.
Jadi kalau update episode selanjutnya tidak tentu waktunya mohon dimaklumi.
Tetap semangat, jaga kesehatan.
IG author : ebez2812
__ADS_1