
Bukit Kombang yang di kenal juga dengan pertapaan Waruga adalah salah satu tempat pertapaan yang terkenal di daerah Tapan. Di tempat itu ratusan brahmana yang tengah memperdalam ilmu agama sedang mengikuti pengajaran yang di pimpin oleh Maharesi Mpu Astagina, salah satu dari beberapa pertapa yang tersohor dengan kemampuan beladiri dan dalam nya wawasan keilmuan agama Waisnawa di bekas wilayah Kahuripan.
Diantara ratusan brahmana itu, nampak seorang lelaki tua dengan rambut digelung dan memakai tusuk konde dari tembaga. Dia adalah Mpu Ganendra, bekas Adipati Bojonegoro yang sudah lengser keprabon atau mengundurkan diri dari singgasana Kadipaten Bojonegoro. Sebelum dia mundur dari jabatannya, putra sulungnya yang bernama Pangeran Rukmaseta diangkat menjadi Adipati Bojonegoro selanjutnya dengan gelar Adipati Tunggaraja.
Pengangkatan itu menjadi pangkal perselisihan antara Rukmaseta dan Rukmana. Rukmana merasa lebih mampu menjalankan tugas menjadi Adipati dengan kecerdasan dan kemampuan beladiri nya, sedang Rukmaseta terpilih hanya karena dia anak sulung. Namun Rukmana tidak berani secara langsung menentang kebijakan ayahnya. Dia diam diam mengumpulkan para pendekar pilih tanding dari berbagai wilayah di Jenggala untuk menyusun rencana pemberontakan nya terhadap sang kakak, Rukmaseta atau yang lebih dikenal sebagai Adipati Tunggaraja.
Maharesi Mpu Astagina menghentikan pengajaran nya.
Mata brahmana tua itu terus menatap ke arah Utara.
Para brahmana tua dan muda yang tengah mendengar pengajaran sang Maharesi, terlihat kebingungan karena sang Maharesi Mpu Astagina seperti tertegun melihat arah Utara.
Seorang brahmana muda memberanikan diri untuk bertanya kepada Sang Acharya Pertapaan Waruga.
"Mohon maaf, Oh Sang Dwija Agung..
Gerangan apa yang membuat Sang Dwija Agung menghentikan pencerahan terhadap kami yang haus ilmu pengetahuan ini?", tanya sang brahmana muda dengan begitu sopan.
Hehehehe
Tiba tiba Maharesi Mpu Astagina terkekeh kecil kemudian menatap ke arah para siswanya.
"Anak murid ku semuanya,
Kiranya pengajaran hari ini kita sudahi dulu sampai disini. Silahkan lanjutkan membaca lontar lontar penyucian dan menghafal mantra-mantra yang sudah aku ajarkan.
Hari ini kita kedatangan seorang tamu agung. Tolong jaga kesopanan kalian agar tidak menyinggung perasaan nya", ujar Mpu Astagina sambil tersenyum tipis.
Semua brahmana bertanya-tanya dalam hati masing-masing. Mereka masih berkumpul di serambi kediaman Maharesi Mpu Astagina, berharap bisa tau siapa tamu agung yang berkunjung kesana.
Dari arah untuk, perlahan beberapa ekor kuda mulai terlihat dari balik bayangan rimbun pepohonan. Nampak seorang wanita cantik berpakaian rakyat biasa diikuti seorang lelaki bercaping yang diapit oleh dua wanita berpakaian hijau dan putih. Di belakangnya masih ada 2 orang wanita berpakaian pendekar.
Maharesi Mpu Astagina tersenyum tipis melihat kedatangan mereka.
Rombongan itu terlihat semakin dekat. Setelah sampai di gapura Pertapaan Waruga, mereka melompat turun dari kuda mereka dan menambatkan pada tempat yang sudah di sediakan.
Ratna Pitaloka berjalan awal. Dengan tergesa di menuju ke serambi kediaman Mpu Astagina.
"Kakek...
Aku pulang", teriak Ratna Pitaloka sambil menubruk Maharesi Mpu Astagina. Semua orang terkejut melihat kejadian itu kecuali Mpu Ganendra yang nampak duduk di sudut ruangan.
Maharesi Mpu Astagina mengelus kepala Ratna Pitaloka yang sesenggukan sambil memeluk nya. Mata kakek tua itu berkaca kaca. Ada semerbak keharuan dalam hati resi tua ini.
Kakek tua berjenggot panjang berwarna putih dan jambang yang juga berwarna putih dengan rambut di gelung miring itu tersenyum saat Panji Watugunung dan para pengikutnya memasuki serambi kediaman Maharesi Mpu Astagina.
Usai menghaturkan sembah, mereka segera duduk bersila di lantai serambi.
"Pitaloka cucuku,
Sudahlah jangan menangis lagi. Ayo kita duduk nak", ujar Mpu Astagina sambil menenangkan Ratna Pitaloka.
Selir pertama Panji Watugunung itu menurut.
Maharesi Mpu Astagina adalah ayah dari Kaniraras, ibu Ratna Pitaloka. Sejak ibunya meninggal saat Ratna Pitaloka masih berusia 10 warsa, Ratna Pitaloka dititipkan pada Resi Mpu Sakri agar belajar ilmu kanuragan. Satu purnama setelah Panji Watugunung menjadi siswa Mpu Sakri. Warigalit sewarsa lebih awal dari Panji Watugunung, dan Sekar Mayang 3 purnama setelah Ratna Pitaloka.
"Nakmas Pangeran,
Selamat datang di Pertapaan Waruga. Terimakasih sudah berkenan untuk mampir kemari. Bukalah caping mu Nakmas", ujar Maharesi Mpu Astagina sambil menatap wajah Panji Watugunung yang masih tertutup caping.
Semua orang terkejut mendengar ucapan kakek Ratna Pitaloka itu, tak terkecuali Nyai Sati dan Rara Wulan.
Perlahan Panji Watugunung melepaskan caping nya. Nampak wajah tampan Sang Pangeran Daha itu tersenyum tipis.
Rara Wulan yang duduk di dekat Dewi Srimpi segera berbisik kepada sang selir ketiga Panji Watugunung.
"Dia benar seorang pangeran, Srimpi?", tanya Rara Wulan dengan penuh penasaran.
"Dia memang pangeran, Wulan. Bahkan ia adalah yuwaraja Panjalu sekarang", jawab Dewi Srimpi sambil tersenyum simpul.
Rara Wulan terkesiap mendengar ucapan Dewi Srimpi. Dalam hati nya ada perasaan aneh yang tengah berkecamuk.
"Terimakasih atas penyambutan nya Maharesi.
Saya tidak ingin ada keistimewaan hanya karena mengantar istri yang ingin berziarah ke makam mertua saya", ujar Panji Watugunung sambil tersenyum tipis.
"Kau adalah cucu mantu ku, Nakmas Pangeran.
Sudah sepantasnya kau mendapatkan perlakuan istimewa.
Ganendra,
Kau tidak menyambut keponakan mu?", Maharesi Mpu Astagina menatap ke arah Mpu Ganendra.
Bekas Adipati Bojonegoro itu segera mendekati Ratna Pitaloka.
"Selamat datang di Tapan, keponakan ku.
Walaupun sudah sangat terlambat, paman ingin meminta maaf kepada mu.
Ambillah nyawa ku sebagai ganti nyawa orang tua mu", Mpu Ganendra segera berlutut di hadapan Ratna Pitaloka. Air mata kakek tua itu perlahan mengalir membasahi pipinya yang sudah mulai keriput.
Ratna Pitaloka yang masih menyimpan dendam diam tak bergeming. Melihat itu, Panji menghela nafas panjang.
"Dinda Pitaloka,
__ADS_1
Menyimpan dendam itu tidak baik. Setiap manusia punya garis hidup masing-masing. Ayah dan ibu mu memang sudah digariskan untuk menghadap Jagat Dewa Batara dengan jalan seperti itu.
Memaafkan kesalahan orang tidak membuat kita menjadi rendah, justru akan menaikkan derajat mu", ucapan bijak Panji Watugunung menasehati Ratna Pitaloka.
"Tapi Kakang..."
Belum sempat Ratna Pitaloka meneruskan kalimatnya, Panji Watugunung segera memotong perkataan Ratna Pitaloka.
"Bukankah kau yang selalu menasehati ku untuk menjadi pemaaf? Mengapa kau sekarang tidak bisa berbuat seperti yang kau ucapkan?
Ingat Dinda,
Walau bagaimanapun, dia adalah kerabat mu. Saudara kembar ayahmu. Waktu kita menikah tempo hari, dia yang berhak menjadi wali mu.
Kakang minta kau memaafkan paman mu", Panji Watugunung tersenyum penuh arti.
Lama Ratna Pitaloka terdiam. Setelah menghembuskan nafas kuat kuat, Ratna Pitaloka menatap wajah sepuh Mpu Ganendra.
"Aku akan patuh pada perintah Kakang Watugunung.
Paman Ganendra,
Aku akan memaafkan semua hal yang sudah terjadi. Tapi ada syaratnya paman", ujar Ratna Pitaloka yang segera menatap wajah Mpu Ganendra.
"Apa syaratnya, keponakan ku? Cepat katakan, paman pasti akan memenuhi nya", Mpu Ganendra wajah nya cerah seketika.
"Anakmu yang bernama Rukmana, selalu mengganggu orang di wilayah Bojonegoro. Tempo hari bahkan dia menyerang kami di rumah makan. Tadi malam bahkan ada sekelompok pembunuh bayaran yang dikirim untuk membantai kami.
Urus dia,
Kalau sampai bertemu aku lagi dan masih mengganggu orang, jangan harap aku mengampuni nyawa nya", ujar Ratna Pitaloka.
"Dasar anak kurang ajar.
Akan ku urus dia, keponakan ku. Besok pagi kupastikan dia sudah ada disini dan meminta maaf kepada mu", Mpu Ganendra segera berdiri. Menghormat pada Maharesi Mpu Astagina dan mundur dari serambi kediaman Sang Acharya.
Maharesi Mpu Astagina menatap kepergian Mpu Ganendra dengan perasaan tak menentu. Lalu pandangan kakek tua itu beralih pada cucu dan cucu mantu nya.
"Nakmas Pangeran,
Malam ini beristirahatlah disini. Akan kuberikan sesuatu kepada mu. Anggap ini adalah hadiah pernikahan mu dengan cucu ku", ujar Maharesi Mpu Astagina sambil tersenyum tipis.
"Terimakasih atas semua nya Maharesi. Mohon ijin untuk mengantar Ratna Pitaloka ke makam orang tua nya", Panji Watugunung segera menghormat pada Mpu Astagina.
"Baiklah kalau begitu,
Wikalpa,
Antar mereka ke makam mantu ku dan putri ku", perintah Mpu Astagina pada salah satu muridnya yang bernama Wikalpa.
Mata Ratna Pitaloka kembali berkaca-kaca saat melihat dua nisan dari batu berukir di belakang sanggar pamujan.
Dengan perlahan, Ratna Pitaloka mendekati nisan yang berjejer rapi itu.
"Ayah, ibu..
Ini Pitaloka datang untuk menjenguk kalian", tangis Ratna Pitaloka langsung pecah setelah berkata demikian. Perempuan itu bersimpuh di depan kedua nisan batu. Air mata bercucuran dari kedua matanya.
Panji Watugunung segera berjongkok dan memeluk tubuh istrinya itu, berusaha untuk menenangkan nya.
Setelah agak tenang, Ratna Pitaloka segera membakar setanggi dan kemenyan di antara kedua nisan batu. Tak lupa menaburkan bebungaan di atas pusara orang tuanya, juga doa doa untuk ayah ibunya.
Panji Watugunung terus menemani Ratna Pitaloka di depan pusara orang tuanya sampai hari sore.
Setelah senja mulai berganti gelap malam, Panji Watugunung datang ke serambi kediaman Mpu Astagina. Resi sepuh itu sudah menunggunya disana.
"Ternyata cucu ku tidak salah memilih jodoh. Kau benar-benar ksatria sejati, Nakmas Pangeran", ucap Mpu Astagina sambil tersenyum.
"Hari ini, aku akan menurunkan ilmu kanuragan andalan ku kepadamu. Sebagai bekal untuk mu menjadi calon raja Panjalu selanjutnya.
Ilmu ini adalah ilmu kanuragan tingkat tinggi. Mampu menghancurkan dinding tebal tembok istana hanya dengan sekali pukulan.
Karena Pedang Naga Api memilih mu, maka Ajian ini cocok digunakan untuk menjadi pendukung pedang mu itu Nakmas", imbuh Maharesi Mpu Astagina.
"Terimakasih atas dukungannya Maharesi", ujar Panji Watugunung segera.
"Sekarang pejamkan matamu dan angkat tangan mu, Nakmas Pangeran", perintah Maharesi Mpu Astagina.
Panji Watugunung segera mengangkat tangan kanannya, Mpu Astagina langsung meraih telapak tangan Panji Watugunung.
Claaassshhhh!
Dua orang itu menghilang dari serambi kediaman Maharesi Mpu Astagina.
Diatas sebuah bukit, Panji Watugunung dan Maharesi Mpu Astagina tiba tiba muncul di sana.
Panji Watugunung yang masih memejamkan matanya, seperti dibakar tangannya dengan api yang sangat panas. Namun Panji Watugunung tidak juga melepaskan pegangan tangannya dari Maharesi Mpu Astagina.
Keringat bercucuran dari kening sang Pangeran Daha.
Setelah beberapa saat kemudian, terdengar suara Mpu Astagina.
"Sekarang buka mata mu Nakmas Pangeran".
Saat membuka matanya, tangan kanan Watugunung yang mengepal di liputi sinar kebiruan yang sangat panas.
__ADS_1
"Sekarang coba kau hantam batu besar di samping mu itu", perintah Maharesi Mpu Astagina.
Panji Watugunung segera melompat ke udara dan turun sambil menghantamkan tangan kanan nya pada batu besar.
Hiyaaaattt!!!!
Dhuarrrr!!!
Batu besar itu langsung meledak dan hancur berkeping keping.
"Apa nama ilmu ini Maharesi?", tanya Panji Watugunung sambil memandang kepalan tangannya yang di liputi sinar biru berhawa panas.
"Itu adalah Ajian Brajamusti, Nakmas Pangeran.
Jangan sembarangan menggunakan nya, jika tidak terdesak oleh lawan", jawab Maharesi Mpu Astagina sambil tersenyum simpul.
"Akan selalu aku ingat apa kata Maharesi", ujar Panji Watugunung segera.
Sekejap mata kemudian, mereka sudah sampai di serambi kediaman Maharesi Mpu Astagina.
Malam itu begitu tenang di Pertapaan Waruga. Suasana yang dingin sebagai tanda awal musim kemarau, benar benar menusuk tulang.
Pagi menjelang tiba. Suara kokok ayam jantan bersahutan membangunkan semua penghuni pertapaan Waruga.
Di serambi kediaman Maharesi Mpu Astagina, rombongan Panji Watugunung sedang dijamu makan pagi oleh Sang Acharya.
Pelbagai jenis masakan disajikan oleh 4 orang cantrik yang bekerja di kediaman Maharesi Mpu Astagina.
Kemeriahan makan mereka terganggu saat Mpu Ganendra datang bersama Adipati Tunggaraja yang di kawal dua punggawa Kadipaten Bojonegoro dan Pangeran Rukmana juga Sepasang Setan Putih pengawal pribadi nya.
"Maafkan saya Maharesi jika kedatangan saya mengganggu acara makan bersama Maharesi dan cucu", ujar Mpu Ganendra sambil menghormat pada Maharesi Mpu Astagina.
"Tidak apa-apa, Ganendra.
Kenapa kau sepagi ini datang kemari?", tanya Mpu Astagina sambil menatap wajah Mpu Ganendra.
"Maafkan saya Maharesi,
Kedatangan saya untuk menjelaskan duduk persoalannya antara keponakan Pitaloka dan putra ku Rukmana.
Rukmana,
Sini kau", perintah Mpu Ganendra pada Pangeran Rukmana.
"Iya Kanjeng Romo, ada apa memanggil ku?", tanya Pangeran Rukmana dengan wajah sopan nya.
Cihhhhh
"Mulut mu memang dilapisi madu tapi beracun.
Aku tanya pada mu, apa kau menyerang Ratna Pitaloka tempo hari di rumah makan? Jawab!", hardik Mpu Ganendra segera. Pangeran Rukmana langsung pucat mendengar ucapan ayahnya.
"Kalau permasalahan di rumah makan, itu murni kesalahpahaman antara kita Romo. Aku tidak sengaja melakukannya", Pangeran Rukmana membela diri nya.
"Baik,
Lantas apa penjelasan mu tentang Enam Malaikat Maut yang dikirim ke penginapan kemarin? Jangan bilang kau tidak tahu", Mpu Ganendra melotot tajam kearah Pangeran Rukmana.
"Ampun Romo, saya benar benar tidak tahu menahu soal itu", Pangeran Rukmana mulai ketakutan.
"Kau tidak tahu, lantas bagaimana dengan dua cecunguk di belakang mu itu?", teriak Mpu Ganendra yang segera mengalihkan pandangannya ke arah Sepasang Setan Putih.
Dua kakek tua itu pucat seketika.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya agar author terus semangat menulis yah 😁
Selamat membaca 🙏😁🙏😁🙏
__ADS_1