
**
Pagi menjelang tiba di kota Kadipaten Anjuk Ladang. Suara riuh ayam jantan berkokok bersahutan menjadi pertanda bahwa pagi telah tiba. Burung burung malam bergegas kembali menuju sarangnya. Kalong dan kelelawar pun bergegas menuju goa tempat tinggal mereka, setelah semalaman mereka berjuang mencari makan.
Cempluk Rara Sunti menatap ke arah taman sari Istana Kadipaten Anjuk Ladang. Selir bungsu Panji Watugunung itu dari semalam tidak bisa tidur nyenyak. Dia yang terbiasa tidur di tempatnya, tidak bisa nyaman bila harus tidur di tempat baru. Itu sudah tabiat perempuan cantik asal Kadipaten Wengker itu.
Krrriiiiieeeeeeeeetttthhhh..
Pintu kamar tidur Panji Watugunung terbuka dan wajah kusut namun cantik Dewi Srimpi tersembul di sana.
"Loh kamu sudah bangun, Sunti?", tanya Dewi Srimpi sambil berusaha tersenyum tipis melihat madu nya sudah bangun lebih pagi.
"Iya Kangmbok Srimpi.
Semalam suntuk aku hampir terjaga tanpa bisa memejamkan mata. Aku sulit untuk tidur di sembarang tempat Kangmbok", jawab Cempluk Rara Sunti yang terlihat masih mengantuk.
Dewi Srimpi tersenyum simpul mendengar keluhan dari Cempluk Rara Sunti.
"Dengar Sunti, kita harus bisa menyesuaikan diri terhadap segala keadaan yang ada. Aku memaklumi karena kau tidak terbiasa bertualang yang mengharuskan kita tidur dimana saja. Sekarang Denmas Prabu hanya punya kita untuk mengurus kebutuhan nya selama keluar dari istana.
Para istrinya yang lain juga tidak bisa meninggalkan istana karena keadaan. Jadi kau harus mulai membiasakan diri untuk siap dalam keadaan apapun bersama Denmas Prabu.
Apa kau mengerti?", tanya Dewi Srimpi seraya tersenyum simpul.
"Aku mengerti Kangmbok Srimpi..
Eh Gusti Prabu Jayengrana belum bangun tidur ya Kangmbok??", tanya Cempluk Rara Sunti seraya melirik ke arah kamar tidur Panji Watugunung.
Sssssttttttttt...
"Jangan keras-keras suara mu, Sunti..
Sepertinya suami kita kecapekan karena semalam suntuk dia tidak tidur. Arak khusus yang ku buat membuat dia betah berlama-lama di tempat tidur", jawab Dewi Srimpi sembari mengedipkan sebelah matanya ke arah Cempluk Rara Sunti. Terbayang dalam benak perempuan cantik itu betapa suaminya semalam tak capek-capek mengajaknya bercinta.
"Ihhhh Kangmbok Srimpi curang deh..
Nanti malam aku juga minta arak khusus nya Kangmbok. Biar Gusti Prabu juga buas seperti macan hehehe", ujar Cempluk Rara Sunti yang terkekeh geli mendengar jawaban Dewi Srimpi.
Putri Kelabang Koro itu mengacungkan jempol nya pertanda setuju dengan permintaan Cempluk Rara Sunti.
Dua istri Panji Watugunung itu segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Usai mandi, mereka menuju ke kamar tidur Panji Watugunung yang ternyata masih juga belum terbangun dari tidurnya.
Perlahan Dewi Srimpi naik ke atas ranjang kemudian mengelus pipi Panji Watugunung.
Merasa ada sesuatu yang menempel di pipinya, Panji Watugunung segera membuka mata. Dua istri nya ada di kanan dan kiri nya.
"Dinda berdua sudah bangun dari tadi? Kenapa tidak membangunkan ku?", tanya Panji Watugunung segera. Raja Panjalu itu lalu mengucek matanya setelah menguap lebar.
"Aku takut mengganggu istirahat mu Denmas Prabu,
Sepertinya Denmas sangat kecapekan", jawab Dewi Srimpi seraya tersenyum nakal.
"Tak ku sangka, perempuan cantik dan pendiam ini bisa nakal juga", ujar Panji Watugunung yang lalu memencet cuping hidung bangir selir ketiganya itu dengan lembut. Dewi Srimpi hanya meringis manja saja.
"Gusti Prabu, nanti malam aku juga mau seperti Kangmbok Srimpi.
Harus adil pokoknya", Cempluk Rara Sunti menggunakan lengan kiri Panji Watugunung sebagai bantal.
"Iya iya Dinda Cempluk..
Kakang berjanji akan adil dengan semua istri", ucap Panji Watugunung yang disambut senyum manis oleh Cempluk Rara Sunti.
Usai mandi dan berganti baju, Panji Watugunung keluar dari kamar tidur di temani oleh Dewi Srimpi dan Cempluk Rara Sunti. Di depan balai peristirahatan Kadipaten Kurawan, Adipati Gunawarman sudah menunggu.
"Selamat pagi Gusti Prabu Jayengrana. Sudah waktunya kita sarapan.
Mari ke sasana boga. Gusti Senopati Warigalit dan Tumenggung Sindupraja sudah menunggu kedatangan Gusti Prabu dan Gusti Selir berdua", ujar Adipati Gunawarman dengan penuh hormat.
Panji Watugunung mengangguk dan mereka segera berjalan menuju ke arah sasana boga Kadipaten Anjuk Ladang yang ada di barat dapur istana. Disana sudah menunggu Senopati Warigalit, Tumenggung Sindupraja, Patih Anjuk Ladang Reksapraja, Senopati Anjuk Ladang Mpu Koncar, dan Tumenggung Anjuk Ladang Gubar Wratsangka.
Mereka segera bersantap bersama dengan tenang.
Usai makan pagi, mereka segera berpamitan kepada Adipati Gunawarman karena harus melanjutkan perjalanan ke arah Kadipaten Kembang Kuning.
Adipati Gunawarman mengantar mereka hingga tapal batas kota Anjuk Ladang.
Rombongan pasukan Panjalu kemudian bergerak menuju ke barat daya melalui perbatasan antara Kurawan dan Bojonegoro.
Usai menyeberangi Sungai Bengawan Solo, menjelang sore pasukan Panjalu beristirahat di daerah Pakuwon Pancakusumo yang merupakan titik batas selatan antara Kadipaten Bojonegoro dan Kadipaten Lasem.
Keesokan harinya dengan menyusuri Utara sungai Wulayu atau yang dikenal sebagai Bengawan Solo, rombongan pasukan Panjalu terus bergerak menuju ke arah barat.
Sesampainya di Pakuwon Gelatik, para prajurit Panjalu berhenti untuk beristirahat. Mereka segera membangun perkemahan besar di sebuah padang rumput luas yang dikenal dengan nama Padang Rumput Sampar Angin.
__ADS_1
Demung Gumbreg dan para prajurit perlengkapan dengan cekatan membangun tenda tenda untuk bermalam para prajurit di padang rumput itu. Dibantu oleh para prajurit dari Kurawan, mereka dengan cepat mampu membuat tempat berteduh untuk seluruh prajurit.
Setelah senja menghilang dan berganti malam, para perwira tinggi dari prajurit Panjalu berkumpul di tenda besar yang ada di tengah.
Tenda itu adalah tenda untuk Panji Watugunung dan kedua istrinya.
Senopati Warigalit membuka sebuah kulit kambing yang cukup lebar diatas lantai tenda besar. Para perwira menatap rangkaian gambar yang merupakan denah wilayah di sekitar tempat itu.
"Dhimas Prabu Jayengrana,
Menurut berita telik sandi, sebagian besar prajurit Kembang Kuning berpusat di lereng gunung Damalung ini. Beberapa tersebar di beberapa Pakuwon di perbatasan dengan Lasem. Kemungkinan besar mereka bersiap untuk bergerak melewati batas Kadipaten Kembang Kuning dan Lasem.
Nah, pasukan Lasem sudah menunggu kita di Pakuwon Cempaka Gusti Prabu", ujar Senopati Warigalit sambil menunjuk gambar yang tertera pada kulit kambing itu.
Hemmmmmmm...
"Melihat arah yang kau tunjukkan Kakang Warigalit, seperti nya arah pergerakan prajurit kita sudah di tetapkan seperti itu. Ini terlalu mudah juga terlalu mencurigakan.
Begini saja,
Kita bagi pasukan menjadi tiga. Bagian pasukan Panjalu yang berjalan kaki tetap berada di jalur menuju Pakuwon Cempaka. Aku dan Kakang Warigalit serta Tumenggung Sindupraja akan ke Pakuwon Cempaka.
Sedangkan pasukan Garuda Panjalu dan pasukan berkuda dari Kurawan akan bergerak menuju ke Pakuwon Jati yang ada di selatan Pakuwon Cempaka. Tumenggung Jarasanda, Senopati Mpu Koncar dari Anjuk Ladang dan Senopati Sanggalangit dari Kurawan akan bergerak ke tempat itu.
Tumenggung Ludaka dan kau Tumenggung Landung,
Bawa Pasukan Lowo Bengi mu bergerak dalam diam di perbatasan dua Pakuwon ini. Begitu terjadi bentrokan antara Pasukan Panjalu dan Kembang Kuning, tugas mu adalah membagi dua pasukan Lowo Bengi mu. Separuh berangkat ke tempat peperangan, dan sebagian lagi menghubungi pasukan yang tidak berperang agar bisa membantu daerah yang lain.
Apa kalian mengerti dengan maksud ku?", ucap Panji Watugunung yang segera menatap ke arah para perwira tinggi prajurit Daha yang dipimpinnya.
"Kami mengerti Gusti Prabu Jayengrana", ucap seluruh perwira yang hadir di tempat itu bersamaan.
Malam semakin larut. Udara dingin yang turun dari Gunung Lawu membuat suasana menjadi sepi. Para prajurit yang bertugas berjaga, berkeliling di perkemahan mereka dengan penuh kewaspadaan.
Matahari mulai terbit di ufuk timur. Cahaya hangat Sang Hyang Surya perlahan mulai menghangatkan seisi bumi.
Pagi itu pasukan Panjalu mulai bergerak menuju ke arah yang sudah di tentukan oleh Panji Watugunung. Mereka membagi pasukan menjadi 3 bagian. 7 ribu prajurit bergerak cepat menuju ke arah Pakuwon Jati dengan tiga perwira tinggi yang memimpin yaitu Tumenggung Jarasanda, Senopati Sanggalangit Senopati Mpu Koncar.
1000 pasukan Lowo Bengi bergerak dengan cepat diantara pepohonan hutan yang menjadi tameng perlindungan hingga kehadiran mereka nyaris tak terdengar oleh orang ramai. Dengan pimpinan Tumenggung Ludaka dan Landung, mereka bergerak dalam diam menuju tempat yang ditentukan.
Sedangkan 9 ribu prajurit Panjalu yang dipimpin langsung oleh Panji Watugunung bergerak perlahan menuju Pakuwon Cempaka. Mereka sengaja bergerak lambat agar kehadiran mereka di ketahui oleh para telik sandi Kembang Kuning yang tersebar di beberapa wilayah perbatasan dengan Lasem.
Pimpinan tertinggi pasukan Lasem, Senopati Dewangkara sedang duduk di serambi balai tamu Pakuwon Cempaka. Pria bertubuh gempal dengan tahi lalat di bawah bibir sebelah kanan itu nampak sedang menikmati minuman dari legen air kelapa saat seorang prajurit Lasem mendekat ke arah nya.
Ribuan prajurit Panjalu yang dipimpin langsung oleh Gusti Prabu Jayengrana mulai terlihat di perbatasan kota Pakuwon Cempaka", lapor sang prajurit yang membuat Senopati Dewangkara segera berdiri dari tempat duduknya.
"Dasar bodoh!
Kenapa tiba-tiba saja kau melapor nya? Kemana saja kalian yang bertugas menyambut kedatangan Gusti Prabu?
Ayo cepat, antar aku kesana!", teriak Senopati Dewangkara sambil berlari menuju ke arah kuda tunggangan nya. Dengan terburu-buru, Senopati Lasem itu menggebrak kudanya menuju ke arah tapal batas kota Pakuwon Cempaka bersama beberapa orang prajurit Lasem.
Begitu melihat Panji Watugunung tengah menaiki kuda hitam di barisan depan, Senopati Dewangkara segera mendekat.
"Sembah bakti hamba Gusti Maharaja Jayengrana.
Hamba, Senopati Dewangkara, dari Kadipaten Lasem siap menerima perintah dari Gusti Prabu Jayengrana", ujar Senopati Dewangkara segera.
"Hemmmmmmm..
Sembah bakti mu aku terima. Sekarang katakan pada ku, dimana para prajurit Lasem yang di janjikan oleh Adipati Pranaraja? Aku ingin melihat nya", tanya Panji Watugunung segera.
"Mohon ampun Gusti Prabu,
Para prajurit Lasem sudah mendirikan kemah di barat Kota Pakuwon Cempaka ini sejak perintah Gusti Prabu Jayengrana turun ke Lasem.
Hamba yang mengaturnya sendiri", ujar Senopati Dewangkara dengan cepat. Senopati Lasem itu memang berambisi untuk masuk ke jajaran punggawa Istana Daha karena sehebat apapun Senopati Kadipaten itu hanya setara dengan seorang Demung di Kotaraja Daha.
"Hemmmm bagus..
Berapa banyak prajurit Lasem yang sudah kau siapkan?", Panji Watugunung menatap ke arah Senopati Dewangkara yang mengenakan baju perang mewah.
"Sesuai perintah Gusti Prabu, hamba siapkan 4000 prajurit terlatih yang terdiri dari 1000 prajurit pemanah, 2000 prajurit berkuda dan 1000 prajurit berjalan kaki.
Kalau Gusti Prabu masih menginginkan, hamba bisa mengatur tambahan 2 ribu prajurit Lasem lagi untuk membantu", ujar Senopati Dewangkara dengan penuh semangat. Dia benar-benar berusaha menjilat Panji Watugunung.
"Sementara 4 ribu prajurit Lasem saja sudah cukup. Sekarang antar aku kesana, biar para prajurit ku juga bisa beristirahat", perintah Panji Watugunung segera.
"Sendiko dawuh Gusti Prabu", usai menghormat, Senopati Dewangkara segera menjadi pemandu para prajurit Panjalu ke tanah lapang di barat Pakuwon Cempaka tempat para prajurit Lasem mendirikan tenda.
Sepasang mata menatap tajam ke arah Panji Watugunung yang memimpin para prajurit Panjalu.
Usai Pasukan Panjalu menjauh, dua orang bertubuh gempal itu segera melompat ke atas kuda mereka masing-masing dan menggebrak tunggangan nya menuju ke kota Kadipaten Kembang Kuning.
__ADS_1
**
Dua orang berpakaian merah tua nampak berjalan kaki melintasi jalan raya menuju ke arah Kota Pakuwon Cempaka.
Melihat dari dandanan nya, mereka adalah dua orang yang baru turun gunung menimba ilmu beladiri. Seorang lelaki bertubuh kekar dengan rambut panjang dengan mata besar dan kumis tipis berjalan di depan. melihat roman muka nya, lelaki itu berusia kurang lebih 4 warsa lebih sedikit. Pakaian nya yang awut awutan membuatnya terlihat lebih tua dari usia sebenarnya. Di sampingnya, seorang lelaki yang lebih muda namun terlihat lebih kurus berdandan dengan pakaian berwarna senada dengan orang yang lebih tua. Masing-masing dari mereka memanggul sebuah kapak besar yang berwarna kuning keemasan.
Begitu melihat keramaian di barat kota Pakuwon Cempaka, mereka segera berkelebat cepat dan bersembunyi di rimbun pepohonan yang ada di hutan dekat tanah lapang tempat para prajurit Panjalu berkemah.
Panji Watugunung sore itu berjalan-jalan di sekitar tempat perkemahan para prajurit Panjalu. Meski tanpa memakai dandanan bangsawan, Raja Panjalu itu tetap terlihat gagah.
Di temani kedua istrinya, Panji Watugunung menikmati keindahan pemandangan alam di wilayah barat Pakuwon Cempaka.
Tanpa sengaja, mata Panji Watugunung melihat sepasang bayangan tengah bersembunyi di antara rimbun pepohonan.
Kaki Panji Watugunung segera menendang sebuah batu kerakal yang ada dibawahnya.
Daaashhhh...
Batu kerakal itu dengan cepat meluncur kearah sepasang bayangan hitam. Si lelaki yang lebih tua melihat batu melesat cepat kearah nya seketika segera menarik tangan lelaki yang lebih muda.
"Adik, awaaassss!!!"
Dua bayangan itu dengan gesit menghindari batu kerakal yang mengincar mereka.
Jllaaarrrrr!!
Ledakan kecil terdengar dan batu kerakal itu menancap pada sebatang pohon yang ada di samping tempat mereka bersembunyi.
Dua bayangan hitam itu saling berpandangan. Melihat dalamnya batu kerakal menancap pada pohon randu alas itu membuat mereka terperangah.
"Kalau kalian berniat baik, tak sepatutnya mengintip seperti maling", ucap Panji Watugunung dengan cepat. Suara yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi itu sampai di telinga mereka meski hanya pelan terucap.
Mendengar suara itu dan merasa tidak terima di sebut maling, dua orang berbaju merah tua itu segera melesat cepat kearah Panji Watugunung.
Whuuussshh..
Jleeggg jleeggg!!
"Baru punya ilmu sedikit, sudah sombong kau!
Apa kau tidak pernah mendengar nama kami di dunia persilatan ha?", hardik si lelaki bertubuh gempal dengan pongahnya.
"Kau... Beraninya...", belum sempat Cempluk Rara Sunti menyelesaikan omongannya, Panji Watugunung memegang lengan kanan selir bungsu nya itu segera. Gelengan kepala halus dari Panji Watugunung membuat putri Warok Surapati dari Wengker itu diam.
"Bukan aku sombong, tapi tindakan kalian mengintip para prajurit itu bisa menimbulkan salah paham..
Aku memang tidak mengenal kalian. Kalau kalian memang berniat baik, seharusnya tidak usah sembunyi sembunyi di balik pohon seperti tadi", ujar Panji Watugunung sambil tersenyum tipis. Si lelaki bertubuh gempal itu marah besar mendengar ucapan Panji Watugunung. Dia menuding Panji Watugunung sambil berbicara lantang.
"Bangsat!!
Tak pernah ada seorang pun berani menghina Sepasang Pendekar Kapak Emas dari Gunung Mandrageni.
Kau harus aku beri pelajaran!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁😁
__ADS_1
Selamat membaca 🙏😁😁🙏