
Panji Watugunung menatap wajah cantik Dewi Anggarawati dengan sendu.
"Aku pasti kembali kepada mu Dinda".
Anggarawati tersenyum bahagia dan memeluk erat tubuh suaminya seakan tak ingin melewatkan waktu sedetik saja.
Pagi menjelang tiba di istana Kabupaten Gelang-gelang. Kokok ayam jantan bersahutan membangunkan semua orang di istana.
Panji Watugunung terbangun saat sentuhan lembut bibir mungil Anggarawati mendarat di pipi nya. Perempuan yang tengah hamil muda itu begitu cantik.
Pelan saja, Panji Watugunung mengalungkan tangannya ke leher Anggarawati dan menarik wajahnya hingga begitu dekat. Dan sebuah ciuman panas terjadi pagi hari itu di kamar Panji Watugunung.
Tok tok tok
Ketukan pintu kamar Panji Watugunung menghentikan ciuman panas mereka. Dewi Anggarawati segera turun dari ranjang dan membuka pintu.
Dewi Srimpi segera bergegas masuk. Setelah meletakkan air hangat untuk cuci muka dan secangkir wedang jahe, dia hendak keluar namun suara Panji Watugunung menghentikan langkahnya.
"Srimpi,
Panggil Kakang Warigalit dan Paman Saketi.
Aku menunggu mereka di serambi keputran".
Dewi Srimpi hanya mengangguk pelan dan segera bergegas keluar dari kamar Panji Watugunung.
Dia tidak ingin mengganggu waktu mesra Dewi Anggarawati dan Panji Watugunung.
Panji Watugunung segera turun dari ranjang nya dan segera mencuci muka. Dewi Anggarawati tersenyum sambil memijit pelan pundak suaminya itu.
Usai membersihkan diri, dan berganti baju di bantu Dewi Anggarawati, Panji Watugunung sudah di tunggu Ki Saketi dan Warigalit di serambi keputran Gelang-gelang.
"Paman Saketi, aku ingin paman dan Kakang Warigalit saja yang mengawal ku ke Istana Daha. Aku ingin para anggota pasukan Garuda Panjalu menikmati waktu luang mereka. Mereka sudah bertarung dengan gagah berani", ujar Panji Watugunung.
"Saya mengerti maksud Gusti Panji Watugunung", Ki Saketi memberi hormat.
"Aku sudah meminta bantuan Kanjeng Romo untuk mendirikan markas besar pasukan Garuda Panjalu di Sanggur. Nanti bantu awasi pembangunan nya paman saat aku menjalankan tugas dari Daha", sambung Panji Watugunung kemudian.
"Maaf adi Watugunung, boleh kah aku mengajak Ratri ke Daha? Dia pasti senang jika melihat keramaian ibukota Panjalu", potong Warigalit sambil tersenyum malu-malu.
"Silahkan Kakang, aku tidak keberatan", Panji Watugunung mengerti apa maksud dari perkataan Warigalit.
Usai bersiap siap, Rombongan Panji Watugunung berangkat ke istana Daha tanpa pengawalan dari pasukan Garuda Panjalu.
Dewi Anggarawati berusaha tersenyum saat melepas kepergian suaminya, walau sudut matanya berkaca-kaca. Dewi Pancawati mengelus kepala nya, dan mengerti apa yang dirasakan oleh Anggarawati.
Rombongan Panji Watugunung bergerak cepat meninggalkan istana Kabupaten Gelang-gelang. Setelah melewati Pakuwon Mamenang, mereka sampai di Kotaraja Dahanapura.
Sebagai pusat pemerintahan Panjalu, Kotaraja Dahanapura begitu ramai. Hiruk pikuk pedagang dari luar kota memenuhi seluruh wilayah kota. Pandai besi dan pedagang gerabah menghiasi beberapa sudut kota. Para pedagang asing juga tampak datang dan mengadu nasib disana.
Ratri, Dewi Srimpi, Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang tampak terpesona oleh keramaian Kotaraja Dahanapura.
Rombongan itu terus bergerak menuju ke arah Kepatihan yang ada di barat istana.
Sesampainya disana, seorang prajurit penjaga gerbang Kepatihan segera mengantar mereka menemui Mapatih Jayakerti.
Pria berusia 40 tahun itu tampak bersemangat menyambut kedatangan Panji Watugunung dan rombongannya.
"Mari silahkan masuk ke dalam, Gusti Pangeran. Gusti Putri silahkan", ujar Jayakerti ramah.
"Paman Jayakerti, aku penasaran dengan tugas apa yang di berikan Ayahanda Prabu Samarawijaya kepada Kangmas Panji Watugunung", ujar Ayu Galuh saat mereka sudah duduk di kursi Kepatihan.
"Ampuni hamba Gusti Putri, tugas ini bersifat rahasia. Hanya Gusti Prabu Samarawijaya sendiri yang akan mengatakan semua nya", Jayakerti menghormat.
"Baiklah, paman segera atur. Aku ingin menemui Ayahanda Prabu Samarawijaya segera", Ayu Galuh tidak sabaran.
"Akan hamba laksanakan Gusti Putri.
Penjaga,
Antar Gusti Putri dan Gusti Pangeran serta pengiringnya ke bangsal peristirahatan".
Dua orang penjaga segera menghormat pada Jayakerti dan mengantar rombongan Panji Watugunung ke bangsal peristirahatan sementara Jayakerti segera bergegas menuju kediaman pribadi Raja.
Menjelang sore, Panji Watugunung dan Ayu Galuh sudah menghadap Maharaja Samarawijaya di ruang pribadi raja di iringi Jayakerti.
"Sembah bakti kami kepada Sang Prabu Samarawijaya, penguasa Panjalu"
Samarawijaya tersenyum tipis melihat putri dan calon menantu sekaligus adik sepupu jauh nya itu menyembah.
__ADS_1
"Sudah sudah. Sembah bakti kalian aku terima".
"Terima kasih atas kebaikan hati Gusti Prabu Samarawijaya".
Panji Watugunung dan Jayakerti segera duduk bersila. Sedangkan Ayu Galuh duduk timpuh di sebelah kiri kaki ayahnya.
"Aku sudah mendengar kabar tentang keberhasilan mu menumpas gerombolan pengacau keamanan di wilayah perbatasan Panjalu Dhimas Panji. Aku berterimakasih kepada mu, kau benar-benar luar biasa", ujar Samarawijaya tersenyum tipis.
"Mohon ampun Gusti Prabu, saya hanya melaksanakan tugas yang saya emban dari Gusti Prabu. Tanpa bantuan bawahan yang ada, mustahil saya bisa menjalankan tugas", Panji Watugunung merendah.
"Hahahaha..
Aku suka sifat dan kejujuran mu Dhimas Panji.
Aku ingin memberi mu hadiah, apa yang kau minta Dhimas?", tanya Samarawijaya dengan tatapan mata menyelidik.
"Saya hanya ingin bawahan yang berjasa membantu saya mendapat ganjaran atas perjuangan mereka Gusti Prabu. Juga mohon bantuannya untuk mendirikan markas Pasukan Garuda Panjalu di wilayah Sanggur", Panji Watugunung segera menghormat.
"Masalah kecil. Nanti biar Jayakerti yang atur.
Oh ya Dhimas, aku ingin meminta bantuan mu sekali lagi. Ku harap kau tidak keberatan", Samarawijaya tersenyum penuh arti.
"Aku ingin kau menjadi utusan ku menghubungi penguasa daerah di wilayah Panjalu Selatan. Minta mereka mengirim prajurit untuk membantu ku menghadapi Garasakan".
Ayu Galuh tersentak mendengar ucapan sang Prabu Samarawijaya. Mengitari wilayah Panjalu Selatan itu butuh waktu lama, paling cepat satu setengah purnama. Panji Watugunung juga demikian.
"Maafkan saya Ayahanda Prabu, jika saya lancang. Ayu Galuh siap mengikuti kemana pun Kangmas Panji Watugunung pergi. Tapi apakah tidak ada Tumenggung atau perwira lain yang bisa menjadi utusan?", Ayu Galuh memelas.
"Ngger Cah Ayu, Ayahanda bukan mau menyengsarakan calon suami mu. Tapi ini aku lakukan untuk menjaga keselamatan wilayah Panjalu. Kalau Tumenggung yang berangkat, yang menjaga Kotaraja Dahanapura siapa? Wilayah kita luas, jadi para perwira prajurit sudah pasti memiliki kewajiban masing-masing. Lagipula jika calon suami mu bisa bergerak cepat, paling lama 1 purnama sudah kembali", ujar Prabu Samarawijaya.
"Tapi Ayahanda...."
"Panji Watugunung siap melaksanakan tugas dari Gusti Prabu Samarawijaya. Mohon maaf saya lancang.
Untuk Dinda Galuh, untuk sementara saya titipkan di keputren Daha jika di ijinkan Gusti Prabu", Panji Watugunung setelah memotong ucapan Ayu Galuh segera memberi hormat.
"Hahahaha, benar benar pintar.
Galuh, dengarkan apa kata suami mu itu", Samarawijaya tertawa kecil.
Ayu Galuh mendelik sewot ke arah Panji Watugunung. Namun dia tidak akan melepaskan kepergian Panji Watugunung dengan mudah.
"Baik, aku tidak ikut tidak apa-apa. Tapi Ayahanda harus menikahkan ku dengan Kangmas Panji Watugunung sebelum dia berangkat. Kalau tidak, jangan harap dia akan bertugas".
Hemmmm
"Baiklah, ayahanda setujui permintaan mu. Tapi kita tidak bisa membuat perayaan untuk pernikahan mu. Jika dengan perayaan, akan terlalu lama menunda waktu keberangkatan Dhimas Panji Watugunung".
Ayu Galuh segera tersenyum.
"Tidak ada perayaan juga tidak apa-apa ayahanda. Kalau ayahanda menginginkan Kangmas Panji Watugunung segera berangkat, ya segeralah menyiapkan upacaranya".
Panji Watugunung hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum tipis mendengar keras kepalanya Ayu Galuh.
"Jayakerti,
Besok pagi segera kau atur upacara pernikahan nya. Minta Dangacharya ring Kasaiwan yang memimpin", titah sang Maharaja Daha.
Seusai pertemuan, Panji Watugunung dan Ayu Galuh diantar Mapatih Jayakerti ke Keputran Daha.
Tak berapa lama, Warigalit, Ki Saketi, Ratri, Ratna Pitaloka, Sekar Mayang dan Dewi Srimpi menyusul kesana.
Malam itu, Panji Watugunung berbincang bincang dengan semua pengiringnya. Sedangkan Ayu Galuh ke keputren untuk menemui ibunya.
"Jadi apa tugas mu Kakang? ", Ratna Pitaloka penasaran.
Panji Watugunung lalu menjelaskan semuanya termasuk bantuan untuk markas pasukan Garuda Panjalu di Sanggur. Semua mendengarkan penjelasan dengan seksama.
"Lantas mengapa kakang Watugunung seperti memikirkan sesuatu?", tanya Sekar Mayang kemudian.
Hemmmm
"Ayu Galuh meminta agar kami dinikahkan sebelum berangkat menjalankan tugas", Panji Watugunung menghela nafas.
"APAAAAA???"
Semua istri Watugunung berteriak keras. Warigalit dan Ratri hanya tersenyum tipis sedangkan Ki Saketi sakit perut menahan tawa.
"Perempuan itu benar benar keterlaluan", Ratna Pitaloka menggerutu.
__ADS_1
"Rasanya ingin ku hajar saja dia", Sekar Mayang mengepalkan tangannya.
Hanya Dewi Srimpi saja yang diam, tapi bisa dilihat kalau dia sedang geram.
"Kalian jangan macam-macam. Ini istana Daha. Sekali dia terluka, panjang urusannya", ujar Panji Watugunung menenangkan mereka.
"Baik, kali ini kami mengalah. Tapi saat nanti di luar istana, akan ku balas dia", Ratna Pitaloka geram.
Dari gapura samping keputran, Ayu Galuh masuk di ikuti seorang dayang. Begitu sampai di serambi keputran, dayang itu kembali ke keputren.
"Kangmas Panji Watugunung, sudah malam. Ayo kita beristirahat", ujar Ayu Galuh sambil menarik tangan Watugunung menuju kamar tidur nya.
Tiga pasang mata selir Panji Watugunung menatap penuh emosi.
Malam segera berganti pagi. Suara burung bernyanyi di puncak pohon sawo di depan keputran Daha.
Pagi itu suasana keputran Daha menjadi sibuk. Para abdi dalem Keraton Daha dan dayang sibuk mengatur dan menghias tempat upacara pernikahan di serambi keputran. Janur kuning beraneka bentuk menghias setiap sudut keputran.
Janur kuning melengkung di gapura keputran. Setandan pisang, seikat padi, tebu, daun kluwih menghiasi masing-masing tugu gapura.
Saat matahari sepenggal naik, Sang Prabu Samarawijaya dan selirnya Larasati memasuki keputran di ikuti Mapatih Jayakerti, Ranggawangsa, Tumenggung Adiguna dan beberapa pejabat di lingkungan istana Daha.
Panji Watugunung dan Ayu Galuh yang sudah berdandan ala bangsawan keraton duduk berdampingan di singgasana pengantin. Dangacharya ring Kasaiwan mulai upacara pernikahan dengan membakar setanggi dan kemenyan.
Air mata Samarawijaya dan Larasati menetes saat Panji Watugunung dan Ayu Galuh melakukan sujud sungkem kepada mereka.
Menjelang tengah hari, upacara pernikahan ditutup dengan doa Dangacharya ring Kasaiwan. Selanjutnya diteruskan dengan perjamuan besar sampai malam. Mulai hari itu, Panji Watugunung resmi menjadi pangeran Daha.
Panji Watugunung yang sudah lelah beranjak menuju tempat tidurnya di ikuti Ayu Galuh.
Saat akan naik ke tempat tidur, tangan nya di tahan oleh Ayu Galuh.
"Kau mau apa?"
"Ya jelas apa mau ku Kangmas. Masak harus ku jelaskan?", Ayu Galuh kesal.
Panji Watugunung segera meraih kendi berisi arak tapi buru buru di tahan Ayu Galuh.
"Apalagi sih? Aku capek Galuh", Watugunung mulai kesal.
Ayu Galuh segera menyodorkan secangkir minuman berbau aneh.
"Minum ini dulu, baru nanti aku jelaskan apa mau ku Kangmas".
Dengan cepat, Panji Watugunung segera meminumnya. Tubuh nya terasa hangat.
"Sekarang jelaskan apa mau mu?"
Ayu Galuh tersenyum penuh arti dan mulai melepas bajunya satu persatu, kemudian mendorong tubuh Watugunung ke ranjang.
"Aku ingin anak darimu Kangmas"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aduh ampun deh 🤦🤦🤦
Ikuti terus kisah selanjutnya guys
__ADS_1
Jangan lupa untuk dukung author terus semangat menulis dengan like vote dan komentar nya.
Selamat membaca 😁😁