
Randupati yang kesakitan berusaha berdiri tegak namun dia limbung hingga kembali terduduk.
Dengan sorot mata penuh kebencian, pengalasan Pangeran Suryanata memandang ke arah Panji Watugunung yang perlahan mulai berjalan mendekatinya.
"Syarat?
Syarat apa yang kau inginkan?", tanya Randupati yang perlahan tangan kanannya bergerak menuju pinggang nya. Dia ingin menghabisi nyawa Panji Watugunung saat pria itu mendekat ke arah nya.
"Katakan padaku, siapa yang menyuruh mu berbuat seperti ini pada ku?
Kalau kau jujur, akan ku ampuni nyawa mu dan ku jamin keselamatan mu tapi kalau kau berdusta jangan harap kau bisa melihat matahari terbit esok pagi", ujar Panji Watugunung sambil terus mendekati Randupati tanpa menurunkan kewaspadaan nya.
Phuihhhh!
"Lebih baik aku mati daripada mengkhianati kepercayaan junjungan ku!", usai berkata demikian, Randupati sekuat tenaga melompat ke arah Panji Watugunung sembari menusukkan keris nya. Senjata pusaka berwarna hitam legam itu terarah tepat pada perut Panji Watugunung.
Sang Pangeran Daha yang terkenal sakti mandraguna itu hanya berkelit sedikit saja, hingga tusukan keris Randupati hanya merobek baju mewah sang pangeran.
Dengan satu gerakan cepat, dengkul Panji Watugunung menghantam perut Randupati yang dalam keadaan tidak siap.
Dhiiieeeessshh..
Oouuggh!!
Randupati langsung melengguh keras bagai sapi di sembelih saat dengkul Panji Watugunung telak menghajar perutnya. Terasa semua organ dalam nya nyeri bukan main. Randupati meringkuk seperti udang sambil membekap perutnya yang sakit.
Di saat yang bersamaan, ketiga temannya juga sudah tak berdaya di tangan ketiga istri Panji Watugunung. Mereka sudah terkapar di tanah dengan tubuh memar dan penuh luka-luka. Ketiga istri Panji Watugunung sengaja tidak membunuhnya mereka karena ingin mengorek keterangan dari mulut mereka.
Dewi Srimpi menyeret lawannya kemudian melemparkannya ke dekat Randupati. Begitu pula dengan Dewi Naganingrum. Putri Prabu Darmaraja itu sengaja menendang keras lawan nya agar berkumpul menjadi satu dengan Randupati. Ratna Pitaloka pun juga melakukan hal yang sama.
Saat mereka berempat sudah terkumpul di satu tempat, Panji Watugunung perlahan mendekati mereka tanpa mengurangi rasa waspada terhadap segala kemungkinan.
"Aku tanya sekali lagi. Jika kalian menolak untuk menjawab pertanyaan ku, jangan harap kalian berempat bisa hidup sampai esok pagi.
Siapa yang menyuruh kalian berbuat seperti ini?", tanya Panji Watugunung dengan keras.
Belum sempat Randupati dan kelompoknya menjawab, puluhan prajurit Istana Daha berdatangan ke tempat itu. Rupanya, Ratri sang pelayan Ayu Galuh yang meminta bantuan kepada para prajurit penjaga gerbang istana Keputran Daha saat Panji Watugunung dan keempat istri nya tengah menghadapi Randupati dan kelompoknya.
Di pimpin oleh Bekel Gandakusuma, mereka segera membentuk pagar betis untuk mengepung halaman Istana Keputran Daha.
Gandakusuma buru-buru mendekat ke arah Panji Watugunung.
"Mohon ampun bila hamba terlambat datang Gusti Pangeran Jayengrana", ujar Bekel Gandakusuma sembari menghormat pada Panji Watugunung.
Panji Watugunung tidak menjawab hanya mengangkat tangan kanannya pertanda bahwa dia memaklumi.
Gandakusuma yang merasa bersalah hanya kembali menghormat pada Panji Watugunung lalu mengalihkan pandangan nya ke arah Randupati dan kelompoknya.
"Kenapa masih diam?
Cepat jawab pertanyaan Gusti Pangeran Jayengrana", hardik Bekel Gandakusuma dengan mata melotot ke arah Randupati.
Namun Randupati masih tetap diam seribu bahasa. Rupanya dia berniat untuk tutup mulut mengenai pertanyaan itu. Bekel Gandakusuma yang kesal langsung melesat cepat kearah Randupati kemudian menampar pipi Randupati dengan keras.
Plaaaakkkk!!
Randupati melotot lebar menahan sakit saat tamparan keras Bekel Gandakusuma membuat dua gigi nya tanggal dan bibirnya pecah. Meski kesakitan, Randupati hanya bisa menahan diri. Puluhan prajurit yang mengepung mereka tidak mungkin membiarkan mereka lolos, jika dia berani melawan.
Mendapati Randupati masih bungkam, Bekel Gandakusuma dengan cepat menendang perut sang pengalasan Pangeran Suryanata itu dengan keras.
Bhhhuuukkkkkhhh..
Ougghhh!!
Bekel prajurit itu tidak segan segan menyiksa Randupati dan kelompoknya tanpa ampun. Dia terus memukuli, menampar dan menghajar mereka satu persatu sampai Randupati dan kelompoknya yang berusaha keras untuk bertahan mulai goyah pendiriannya. Rasa sakit yang mereka rasakan mulai membuat mereka berfikir untuk menyerah.
Seorang diantara mereka berempat merangkak untuk meminta ampun kepada Panji Watugunung.
"Ampuni nyawa hamba Gusti Pangeran. Mohon ampun Gusti Pangeran", hiba salah satu dari kelompok Randupati sambil merangkak ke arah Panji Watugunung.
Randupati yang tengah kesakitan segera bergerak mendekati temannya itu.
"Adik, jangan pernah coba untuk berkhianat. Majikan ku tak akan mengampuni nyawa mu", ancam Randupati dengan keras.
"Aku tidak mau mati konyol Randupati, Gusti Pangeran Jayengrana sudah menjamin keselamatan ku.
Minggir kau, jangan halangi jalan ku", ujar si lelaki bertubuh gempal yang babak belur wajah nya akibat di hajar Bekel Gandakusuma. Dia mendorong tubuh Randupati yang mencekal lengan nya.
Merasa tidak bisa mencegah terjadinya pengkhianatan terhadap majikannya, Randupati diam diam merogoh pisau kecil di balik bajunya. Lantas dengan cepat dia menusuk perut kawannya itu.
Jleeeeppppph..
Aaaarrrgggggghhhhh!!
Si kawan menjerit keras. Dia tidak menduga bahwa Randupati yang selama ini di hormati nya tega menyerang nya. Dia langsung tersungkur ke tanah.
"Bangsat kau Randupati!
__ADS_1
Kau akan mati mengenaskan", maki si lelaki bertubuh gempal itu sambil membekap luka di perutnya. Tak berapa lama kemudian dia meregang nyawa. Dia tewas di tangan kawannya sendiri.
Kejadian itu begitu cepat membuat Bekel Gandakusuma terkejut. Dengan cepat ia menendang tangan Randupati hingga pisau kecil itu mencelat dari tangan nya. Segera dia melayangkan pukulan kearah dada Randupati yang membuat lelaki itu segera terjengkang dan menabrak tubuh kawannya yang masih bersimpuh di tanah.
"Rupanya kau benar-benar cari mati", hardik Bekel Gandakusuma dengan geram. Saat Bekel Gandakusuma hendak bergerak, dari arah gerbang istana Keputran Daha dua orang prajurit pengawal Kepatihan berlari menuju ke arah Panji Watugunung dan keempat istri nya. Itu membuat Bekel Gandakusuma tidak meneruskan gerakan nya.
"Mohon ampun Gusti Pangeran Jayengrana.
Kepatihan Daha telah di serang. Gusti Ayu Sukesi terbunuh dan Gusti Mapatih Jayakerti terluka", lapor sang prajurit pengawal Kepatihan sambil menghormat pada Panji Watugunung.
Panji Watugunung terkejut mendengar laporan itu, begitu pula dengan ketiga istrinya.
"Apaa? Bagaimana bisa itu terjadi? Siapa yang melakukannya?", tanya Panji Watugunung segera.
"Mereka ada tiga orang Gusti Pangeran. Salah satunya adalah Tumenggung Gilingwesi", jawab sang prajurit segera.
"Tumenggung Gilingwesi?
Bukankah dia adalah orang dekat Pangeran Banjarsari, suami Rara Wulandari?", Panji Watugunung mengelus dagunya. Kecerdasan pemikiran nya langsung menghubungkan peristiwa penyerangan di Kepatihan dengan yang terjadi sekarang di Istana Keputran Daha.
"Benar ucapan Gusti Pangeran Jayengrana. Namun Tumenggung Gilingwesi dan orang-orang nya sudah tewas di tangan Gusti Mapatih Jayakerti meski harus di bayar dengan luka dalam yang cukup serius Gusti Pangeran.
Ehhh, bukankah dia adalah pengalasan Pangeran Suryanata?", ucap sang prajurit yang mengenali Randupati. Sontak saja ujaran itu membuat semua orang menoleh ke arah Randupati.
"Darimana kau tahu kalau orang itu adalah pengalasan Pangeran Suryanata, wahai prajurit Kepatihan?", tanya Ratna Pitaloka yang berjalan mendekati Panji Watugunung.
"Mohon ampun Gusti Selir,
Tempo hari hamba pernah mengawal Gusti Mapatih Jayakerti ke Istana Gusti Ayu Retnosari. Maka dari itu, hamba tahu bahwa dia adalah seorang pengalasan Pangeran Suryanata", jawab sang prajurit Kepatihan seraya menghormat pada Ratna Pitaloka.
Hemmmm..
"Jadi begitu rupanya", ucap Panji Watugunung yang segera menyadari hubungan peristiwa ini dengan kejadian di Kepatihan Daha.
"Bekel Gandakusuma,
Panggil Senopati Warigalit dan Tumenggung Adiguna kemari secepatnya. Malam ini juga kita tangkap Pangeran Banjarsari dan Pangeran Suryanata atas tuduhan percobaan pembunuhan dan menggulingkan pemerintahan Kerajaan Daha. Aku Yuwaraja Panjalu bertindak atas nama Maharaja Panjalu untuk menertibkan hukum dan keamanan kerajaan.
Cepat kau berangkat", titah Pangeran Jayengrana yang membuat Bekel Gandakusuma segera menyembah pada Panji Watugunung. Ucapan Yuwaraja Panjalu adalah perintah hukum tertinggi setelah Raja karena Yuwaraja adalah Raja muda Kerajaan Panjalu.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", ucap Bekel Gandakusuma dengan cepat lalu meninggalkan tempat itu untuk memanggil Senopati Warigalit dan Tumenggung Adiguna.
"Bagaimana dengan mereka Kakang?", tanya Ratna Pitaloka seraya menunjuk ke arah Randupati dan kedua temannya yang masih bersimpuh di tanah.
"Masukkan mereka ke penjara. Biar mereka merasakan hukuman atas perbuatan mereka.
Bawa mereka bertiga ke penjara Kotaraja Daha", perintah Panji Watugunung segera. Randupati segera di gelandang ke penjara Kotaraja Daha, sementara kawannya yang tewas diurusi oleh para prajurit Keputran Daha.
Malam itu suasana istana Daha gempar dengan peristiwa yang terjadi.
Senopati Warigalit yang baru saja datang, langsung di perintahkan oleh Panji Watugunung untuk menangkap Pangeran Banjarsari di kediamannya. Bersama Tumenggung Ludaka dan ratusan orang prajurit segera bergerak cepat menuju Puri Rara Wulandari di barat kotaraja Daha. Sedangkan Tumenggung Adiguna beserta Tumenggung Landung mengikuti langkah Sang Yuwaraja Panjalu bergerak cepat menuju ke arah Puri Ayu Retnosari yang ada di sisi selatan Kotaraja Daha.
Kedatangan para prajurit Panjalu dalam jumlah banyak membuat para penjaga Puri Ayu Retnosari terkesiap kaget.
"Mohon ampun Gusti Tumenggung,
Ada apa gerangan hingga membawa banyak prajurit ke tempat ini?", tanya seorang prajurit penjaga gerbang Puri kediaman Ayu Retnosari pada Tumenggung Adiguna.
"Bilang saja pada Pangeran Suryanata untuk menemui kami sekarang. Jika tidak, jangan salahkan kami jika memaksa kami untuk masuk ke dalam Puri", jawab Tumenggung Adiguna sambil memilin kumisnya yang memutih. Meski sudah sepuh, tapi Tumenggung Adiguna adalah salah satu dari sekian orang yang ikut berjasa dalam menata Panjalu di awal masa berdirinya hingga membuat banyak orang menghormatinya.
Mendapat perintah seperti itu, apalagi melihat Pangeran Jayengrana ada di belakang sang tumenggung membuat si prajurit penjaga Puri Ayu Retnosari segera beringsut mundur lalu masuk ke dalam Puri.
Di dalam Puri ternyata hanya tinggal Ayu Retnosari saja. Karena begitu kabar penyerangan terhadap Keputran Daha tersebar, Pangeran Suryanata langsung kabur dari Puri Agung itu. Ayu Retnosari yang ketakutan hanya memeluk tubuh putri kecilnya.
Sang prajurit penjaga Puri Agung Ayu Retnosari segera kembali ke arah pintu gerbang dan melaporkan kejadian itu pada Tumenggung Adiguna.
Mendengar laporan itu, Tumenggung Adiguna tidak serta merta percaya begitu saja. Dia segera memerintahkan kepada para prajurit Panjalu untuk menggeledah Puri Agung. Puluhan prajurit bergerak sesuai perintah Tumenggung Adiguna. Mereka menggeledah seisi Puri Agung Ayu Retnosari namun tidak juga menemukan Pangeran Suryanata.
"Mohon ampun Gusti Tumenggung,
Sepertinya Pangeran Suryanata sudah kabur. Seorang dayang melihat melompat ke atas tembok barat Puri Agung ini", lapor seorang prajurit pada Tumenggung Adiguna.
"Kerahkan pasukan kita. Kejar pengkhianat negara itu. Cari dia hidup atau mati", perintah Tumenggung Adiguna yang membuat 10 prajurit Istana Daha segera bergegas bergerak mengejar arah pelarian Suryanata.
Tumenggung Adiguna lantas menggiring Ayu Retnosari untuk menemui Panji Watugunung dan para perwira tinggi prajurit Daha.
"Nyimas Retnosari,
Katakan terus terang saja kemana perginya suami mu Suryanata?", tanya Panji Watugunung dengan nada suara rendah.
Ayu Retnosari yang ketakutan hanya bisa menangis sesenggukan sambil memeluk tubuh putri kecilnya yang baru berusia satu Surya Sengkala.
"Aku... Aku tidak tahu Kangmas Pangeran.
Tadi sore dia masih disini, makan malam bersama ku. Setelah itu menidurkan keponakan mu ini. Lalu tiba-tiba saja kau datang bersama para prajurit kemari.
Apa yang sebenarnya terjadi?", tanya Ayu Retnosari yang memang tidak tahu apa-apa.
__ADS_1
Usai menghela nafas panjang, Panji Watugunung lalu menerangkan peristiwa yang terjadi di Keputran Daha juga hal yang menimpa Mapatih Jayakerti. Ayu Retnosari terkejut bukan main mendengar ucapan Panji Watugunung. Segera dia bersujud kepada Panji Watugunung.
"Ampuni aku Kangmas Pangeran Jayengrana. Aku sama sekali tidak tahu menahu tentang apa yang dilakukan oleh Kangmas Suryanata.
Aku mohon, ampuni aku Kangmas Pangeran Jayengrana", ujar Ayu Retnosari sambil menangis tersedu-sedu. Melihat itu Panji Watugunung segera berdiri dan menegakkan tubuh saudari iparnya itu.
"Sudahlah Nyimas Retnosari, aku tahu kau tidak bersalah. Permasalahan ini hanya suami mu saja, tidak melibatkan mu.
Namun untuk saat ini, aku minta kau tetap tinggal di Puri Agung mu ini. Akan ku tempatkan penjaga khusus untuk menjaga kemungkinan Suryanata kembali", ucap Panji Watugunung yang membuat Ayu Retnosari menghaturkan terimakasih berulang kali.
Sementara itu di barat tapal batas Kotaraja Daha, seorang lelaki bertubuh tegap mengenakan pakaian hitam yang lusuh dengan sebagian penutup kepala kain bolong bolong nampak terus berlari menuju ke arah dermaga sungai Brantas. Sebentar sebentar dia menoleh ke arah belakang seperti ketakutan.
Begitu sampai di dermaga Sungai Brantas, dia segera melompat ke atas sebuah sampan kecil yang tertambat di dermaga penyeberangan itu. Seorang lelaki bertubuh gempal yang berada di atas sampan langsung mendayung sampan kecil bergerak menjauhi dermaga penyeberangan.
Bersamaan dengan itu, 10 orang prajurit istana Daha yang mengejar sampai di tepi sungai Brantas. Mereka yang membawa obor melihat sebuah sampan kecil bergerak langsung mengenali bahwa itu adalah Pangeran Suryanata.
"Hai itu dia!", teriak seorang prajurit sambil menunjuk ke arah sampan kecil yang hampir sampai ke tengah Sungai Brantas.
Seorang prajurit segera melemparkan tombak nya kearah sampan kecil itu.
Whhhuuuuuttttthhhh
Namun si lelaki bertubuh gempal yang mendayung sampan kecil itu dengan cepat memutar dayung sampan nya lalu menangkis tombak yang mengincar nyawa mereka.
Traaakkkkkkk!!
Tombak berbelok arah dan masuk ke sungai Brantas. Karena gelap malam yang memangkas jarak pandang, sampan kecil itu menghilang di balik gelapnya malam dan riuh arus sungai Brantas.
Para prajurit Istana Daha memutuskan untuk kembali ke istana sementara sampan kecil yang lolos dari serangan tombak mulai menepi di seberang sungai.
Lelaki berbaju hitam lusuh itu yang tak lain adalah Suryanata segera naik ke daratan diikuti oleh orang yang mengiringi perjalanan nya. Mereka buru buru menuju ke sebuah warung makan yang ada di barat dermaga. Seorang lelaki tua nampak muncul dari kegelapan malam sambil menuntun sepasang kuda.
Mereka berdua segera melompat ke atas kuda mereka masing-masing. Sebelum menggebrak kudanya, Suryanata menatap ke seberang sungai Brantas, ke arah Kotaraja Daha.
"Jayengrana,
Suatu hari nanti aku akan datang untuk membuat perhitungan dengan mu".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author semangat untuk terus menulis cerita ini 😁😁
Selamat membaca 😁🙏😁
__ADS_1