
Si Topeng kayu merah tercekat saat melihat tatapan mata Mapatih Jayakerti yang mengerikan. Selama ini dia tidak pernah melihat itu dari raut muka warangka praja Panjalu itu. Ada perasaan ngeri yang tidak biasa pada tatapan mata punggawa sepuh bertubuh kekar dengan keris pusaka teracung kepadanya.
Usai berkata demikian, Mapatih Jayakerti segera melesat cepat kearah si lelaki bertopeng kayu merah. Keris pusaka Kyai Tonggeng yang berlumuran darah terayun ke arah perut si topeng merah.
Whhhuuuggghhhh..
Dengan sigap, si topeng merah berkelit ke samping menghindari tusukan keris pusaka Kyai Tonggeng milik Mapatih Jayakerti. Pedang di tangan kanannya berputar cepat dan menyambar leher Mapatih Jayakerti.
Shreeeeettttthhh..!!
Mendapat serangan balasan, Mapatih Jayakerti rendahkan tubuh. Sambil merendah, kaki kanan nya dengan cepat menyapu kaki Si topeng merah segera.
Whhesssssttt...
Si Topeng merah melompat tinggi menghindari sapuan kaki Mapatih Jayakerti. Namun punggawa sepuh itu yang melihat serangan nya berhasil di hindari, dengan cepat merubah gerakan tubuhnya. Bertumpu pada tangan di tanah, loncatan kaki Mapatih Jayakerti langsung menghajar pinggang Si Topeng merah yang masih berada di udara.
Bhuuukkkhhh..
Ougghhh!!
Si Topeng Merah langsung terjungkal ke depan dan menyusruk tanah dengan keras. Pakaian nya kotor dengan tanah dan rumput halaman Istana Kepatihan.
Segera dia berusaha bangkit, namun Mapatih Jayakerti berkelebat cepat seraya menusukkan keris pusaka Kyai Tonggeng kearah dada Si Topeng Merah.
Melihat dia tidak punya cukup ruang untuk menghindari tusukan keris, Si Topeng Merah langsung memutar pedangnya untuk menangkis tusukan keris pusaka Kyai Tonggeng.
Thhraaaangggggggg!
Namun rupanya serangan itu hanya pengalih perhatian dari serangan sebenarnya dari Mapatih Jayakerti.
Tangan kiri perwira sepuh itu di liputi oleh sinar kehijauan berhawa dingin yang menakutkan. Dia mengerahkan Ajian Sukma Muksa ajaran guru nya, Resi Ranujaya dari Padepokan Gunung Semilir di kaki Gunung Kawi. Meski tidak sesempurna milik sang guru, namun Ajian itu tetap di takuti oleh para pendekar dunia persilatan baik dari golongan hitam maupun putih.
Dengan cepat, Mapatih Jayakerti menghantamkan tangan kiri nya kearah dada Si Topeng Merah yang perhatian nya tengah terpaku pada keris pusaka Kyai Tonggeng.
Whhhuuuuuttttthhhh!
Saat menyadari bahwa nyawa nya dalam bahaya, Si Topeng Merah segera mengerahkan seluruh tenaga dalam nya untuk menahan pukulan Ajian Sukma Muksa dari Mapatih Jayakerti.
Blllaaammmmmmmm!!
Ledakan dahsyat terdengar saat pukulan Ajian Sukma Muksa menghantam dada si Topeng Merah. Tubuh Topeng Merah langsung mencelat hampir 4 tombak ke belakang dan menghantam pohon jambu di halaman Istana Kepatihan Daha.
Huooooggghhhh!
Si Topeng Merah muntah darah segar. Dari sudut bibirnya, darah segar keluar membasahi baju yang dia kenakan. Meski masih sempat mengerahkan tenaga dalam nya, namun luka dalam yang di deritanya cukup parah.
"Aku tidak akan kalah dari mu, pria tua!", teriak Si Topeng Merah yang segera berdiri tegak.
Mendengar suara itu, Mapatih Jayakerti terkesiap kaget. Dia mengenali suara itu.
"Gilingwesi? Kau Gilingwesi?
Huhhhhh,
Jadi benar kau ingin membunuh ku Gilingwesi? Bagus sekali. Dengan begini besok semua kebusukan Pangeran Banjarsari dan Pangeran Suryanata akan terbongkar", ucap Mapatih Jayakerti sambil mengusap peluh yang menetes di dahi tua nya yang berkerut.
Merasa tidak perlu menyembunyikan diri lagi, Si Topeng Merah segera melepas topeng kayu yang menutupi wajahnya. Dan benar saja, dia adalah Tumenggung Gilingwesi, anak buah Pangeran Banjarsari. Dengan kasar, Tumenggung Gilingwesi melemparkan topeng nya ke tanah.
Pria berkumis tebal itu mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya dengan geram.
"Jangan harap kau bisa hidup sampai esok pagi, pria tua.
Tubuh mu yang bau tanah itu sebentar lagi akan menyusul istri mu ke neraka", ujar Tumenggung Gilingwesi yang segera merentangkan kedua tangannya ke samping. Kemudian kedua tangan bersilangan di depan dada lalu menangkup sempurna.
Tumenggung Gilingwesi rupanya hendak melepaskan Ajian andalannya, Ajian Tapak Dewa Kematian. Ajian itu sangat terkenal di daerah Kadipaten Kembang Kuning karena merupakan ajaran seorang pertapa sakti yang bernama Begawan Mpu Jampana.
Dari kedua telapak tangan Tumenggung Gilingwesi muncul asap putih lalu di susul oleh sinar merah menyala yang berhawa panas menyengat.
Melihat lawan menggunakan ilmu andalannya, Mapatih Jayakerti tak mau kalah. Segera dia menyarungkan Keris Kyai Tonggeng di pinggangnya dan merapal mantra Ajian Sukma Muksa tingkat akhir. Tangan kanan pria sepuh itu diliputi oleh sinar hijau terang yang dingin menakutkan seperti hawa kematian dari neraka.
Setelah Ajian Tapak Dewa Kematian sempurna, Tumenggung Gilingwesi segera melompat tinggi ke udara sambil menghantamkan tangan kanannya ke arah Mapatih Jayakerti.
"Mampus kau, pria tua!
Chiiiiaaaaaaaaaatttttttt........"
Seberkas sinar merah menyala berhawa panas menyengat menerabas cepat kearah Mapatih Jayakerti. Sinar yang terlontar dari tangan Tumenggung Gilingwesi itu disertai angin kencang yang panas.
Mapatih Jayakerti segera bersiap dan menyambut serangan itu dengan hantaman tangan kanannya. Sinar hijau terang berhawa dingin yang mengerikan menyongsong sinar merah menyala berhawa panas itu.
Whhhuuuggghhhh...
Dhhhhuuuaaaaaarrrrrrrhh!!!
Ledakan dahsyat terdengar hingga keluar Kepatihan. Ledakan itu menciptakan gelombang kejut yang membuat kedua orang yang tengah bertarung itu sama sama terpental jauh ke belakang. Tubuh tua Mapatih Jayakerti menghantam tanah dengan keras. Pria tua itu muntah darah kehitaman pertanda dia terluka dalam serius. Segera Mapatih Jayakerti duduk bersila untuk mengatur jalan nafas nya.
Sedangkan Tumenggung Gilingwesi terlempar jauh ke belakang. Tubuh pria berkumis tebal itu menghantam dinding tembok Kepatihan Daha dengan keras.
Bhuuummmmmh!
Luka dalam yang sempat di derita Tumenggung Gilingwesi semakin parah akibat hantaman gelombang kejut dari benturan tadi. Tumenggung andalan Pangeran Banjarsari itu muntah darah segar kembali. Dari kedua lobang hidung dan telinga juga keluar darah. Setelah kejang sebentar, Tumenggung Gilingwesi diam untuk selamanya. Dia tewas di tangan Mapatih Jayakerti.
Para prajurit pengawal pribadi Kepatihan Daha segera mendekati mayat Tumenggung Gilingwesi. Setelah memastikan bahwa Tumenggung Gilingwesi sudah tewas, mereka langsung menuju ke arah pria bertopeng kayu hijau yang pingsan di sudut halaman Istana Kepatihan Daha.
Bekel Somala segera memerintahkan kepada para prajurit untuk mengikat tubuh pria bertopeng kayu hijau itu ke pohon jambu yang ada di tengah halaman Istana Kepatihan. Lalu dia mendekati Mapatih Jayakerti yang tengah memulihkan diri.
"Tumenggung Gilingwesi dan satu teman nya sudah tewas Gusti Mapatih. Yang seorang lagi diikat para prajurit di pohon jambu.
Apa yang selanjutnya harus kita lakukan, Gusti Mapatih?", tanya Bekel Somala dengan cepat.
__ADS_1
"Bantu aku untuk ke bangsal Kepatihan. Tolong kalian bawa istri ku kesana..
Besok pagi akan ku laporkan kejadian ini pada Gusti Pangeran Jayengrana. Biar keadilan di tegakkan oleh beliau", perintah Mapatih Jayakerti yang segera membuat Bekel Somala bergegas membantu sang warangka praja Panjalu itu berdiri lalu berjalan menuju ke arah bangsal Kepatihan.
Para prajurit Kepatihan Daha segera membereskan jasad Nyi Sukesi yang tewas malam itu, menggotongnya ke balai paseban Kepatihan. Kemudian menutupi jasad Tumenggung Gilingwesi dan si Topeng biru dengan daun pisang.
Dua putra putri Mapatih Jayakerti langsung menangis tersedu-sedu melihat jasad sang ibu yang terbunuh malam itu. Suasana di Kepatihan Daha benar benar berduka cita.
Di sisi lain, di Keputran Daha, Panji Watugunung yang baru selesai bersantap malam bersama ketujuh istri nya merasakan hawa membunuh yang kuat dari arah barat Keputran Daha.
Ketujuh istri Panji Watugunung yang tengah bercengkerama bersama langsung terdiam saat Panji Watugunung mengangkat tangan kanannya.
"Ada apa Kangmas Panji?
Apa ada sesuatu yang menggangu pikiran mu?", tanya Dewi Anggarawati yang sangat memahami perubahan raut wajah sang suami.
"Dinda Anggarawati, Dinda Galuh..
Lindungi kedua putra ku. Cepatlah. Ada tamu tak diundang mempunyai niat tidak baik tengah menuju kemari.
Dinda Mayang, Dinda Sunti..
Jaga saudara kalian juga putraku. Jangan gegabah.
Dinda Pitaloka, Dinda Naganingrum dan Dinda Srimpi..
Kalian bertiga ikut aku menyambut kedatangan mereka", titah Panji Watugunung segera.
Ketujuh istri Panji Watugunung dengan cepat mengangguk mengerti. Mereka segera menjalankan tugas masing-masing.
Panji Watugunung melesat cepat kearah halaman Istana Keputran Daha diikuti oleh Dewi Srimpi, Dewi Naganingrum dan Ratna Pitaloka.
Keempat bayangan hitam yang bergerak dalam kegelapan malam menghentikan langkah mereka di sebuah bangunan di luar Istana Keputran Daha. Usai mendapat isyarat untuk maju, mereka menghunus pedang mereka masing-masing dan berkelebat cepat melompati tembok istana Keputran Daha.
Namun saat baru saja melintasi tembok istana itu, tiba tiba 4 pisau kecil berwarna hitam melesat cepat menyongsong kehadiran mereka.
Shrrriinnnggg shhhrriinggg!!
Keempat bayangan hitam itu terkejut dan buru buru merubah gerakan tubuhnya menghindari pisau beracun yang menyerang. Kemudian mereka berempat mendarat di halaman Istana Keputran Daha.
Jleeggg jleeggg!!
"Rupanya kedatangan kami sudah di ketahui. Keluarlah hai pangeran istana Daha", teriak si pria bertubuh gempal yang merupakan pemimpin dari mereka berempat.
Plokk plokk plookkkk!!
Tepuk tangan pelan membuat keempat orang itu menoleh ke arah sumber suara. Dari kegelapan malam, muncul keempat orang yang merupakan penguasa Istana Keputran Daha. Panji Watugunung terus menepuk tangan nya berjalan keluar diiringi oleh Dewi Naganingrum, Dewi Srimpi dan Ratna Pitaloka.
"Siapa kalian?
Mau apa malam malam begini menerobos masuk ke Istana Keputran Daha?", tanya Panji Watugunung sembari menatap ke arah empat orang penyusup itu dengan tajam.
Kau seharusnya tidak perlu melibatkan diri untuk berurusan dengan junjungan ku", ujar sang pemimpin keempat orang itu dengan sengit.
"Lancang sekali mulut mu, cecunguk bangsat.
Kau tidak pernah di ajari sopan santun oleh orang tua mu cara bersikap pada seorang pangeran ya?", caci Ratna Pitaloka yang marah mendengar jawaban dari orang itu.
Phuihhhh...
"Aku tidak perlu bersopan santun pada seorang pangeran yang sebentar lagi akan berangkat ke neraka.
Kalian semua cepat habisi mereka", teriak sang pemimpin keempat orang itu yang bernama Randupati itu lantang.
Ketiga orang penyusup di belakang Randupati segera melesat ke arah Panji Watugunung dan ketiga istrinya. Mereka mengarahkan senjatanya pada Panji Watugunung yang masih diam tak bergerak sedikitpun.
Ratna Pitaloka yang sudah geram sedari tadi, langsung menyongsong salah satu penyerang. Di susul Dewi Naganingrum yang mengerahkan ilmu silat Cakar Rajawali Galunggung nya. Dewi Srimpi tak mau kalah, segera dia menghadang laju pergerakan salah seorang penyusup itu dari arah kiri. Pertarungan sengit antara mereka tak bisa di hindari lagi.
Ratna Pitaloka segera membabatkan Pedang Bulan Kembar di tangan kanannya ke arah sang penyerang yang sudah terlebih dulu mengayunkan pedangnya.
Thriiiinnngggggg!
Benturan keras antara dua senjata mereka menciptakan bunga api kecil. Gerimis yang tengah turun di Kotaraja Daha tidak menghalangi mereka beradu ilmu beladiri.
Serangan demi serangan Ilmu silat Padas Putih yang di padukan dengan satu dari sepasang pedang milik Ratna Pitaloka membuat selir pertama Panji Watugunung itu perlahan mulai diatas angin.
Permainan pedangnya yang cepat mau tidak mau memaksa lawannya harus berguling ke tanah menghindari tusukan Pedang Bulan Kembar.
Di sisi lain, Cakar Rajawali Galunggung yang di keluarkan Dewi Naganingrum sudah mencabik beberapa bagian tubuh lawannya.
Shrraaaakkkkhhhh!
Aaauuuuggggghhhhh!
Si pria berbaju hitam itu menjerit keras saat sebuah cakaran Dewi Naganingrum merobek kulit punggungnya yang terbungkus baju hitam.
Pria berbaju hitam itu segera berguling ke tanah dan menjauh dari Dewi Naganingrum.
"Hayuk atuh, jalmi belet..
Maju anjeun lawan mojang geulis ti Tanah Sunda. Abdi cabik cabik badan anjeun", tantang Dewi Naganingrum sambil melemparkan kain yang ada di tangan kanannya.
Mendengar omongan Dewi Naganingrum, si pria berbaju hitam itu merasa di remehkan. Dengan cepat ia kembali menyerang maju ke arah Dewi Naganingrum yang sudah bersiap menyambut serangan nya. Mereka bertarung sengit.
Di sebelah kiri, Dewi Srimpi yang menggunakan Ajian Langkah Dewa Angin terus bergerak cepat menghindari sabetan dan tusukan pedang dari orang yang menjadi lawannya.
Shreeeeettttthhh...
Sebuah sabetan pedang terayun cepat kearah Dewi Srimpi namun perempuan cantik itu segera berkelit sembari melayangkan tendangan keras kearah pinggang lawan.
__ADS_1
Dhiiieeeessshh..
Ouuuuggghhhh!!
Sang lawan terjungkal dan menyusruk tanah dengan keras. Ada lumpur dan rumput yang masuk ke mulut nya. Dengan geram, dia segera meludahkan nya.
"Perempuan keparat!
Ku cincang tubuh mu bangsat!", teriak si lelaki berbaju hitam itu yang segera berdiri dan melesat ke arah Dewi Srimpi yang tetap tenang menyambut kedatangan serangan lawannya.
Melihat kawan-kawannya seakan menjadi mainan orang orang Panji Watugunung, Randupati merasa di remehkan. Utusan dari Suryanata dengan penuh nafsu membunuh, melesat cepat kearah Panji Watugunung sambil mengayunkan pedangnya kearah kepala Sang Yuwaraja Panjalu.
Shreeeeettttthhh!!
Dengan hanya menggeser posisi tubuhnya, Panji Watugunung berhasil menghindari sabetan pedang Randupati. Lalu dengan cepat pula, dia melesat sambil mengarahkan sikut nya kearah dada Randupati.
Dheeeeepppphhh!
Oouuggh!
Randupati melengguh kesakitan saat sikut Panji Watugunung telak menghajar dada nya. Pria bertubuh gempal itu terhuyung huyung mundur ke belakang. Dengan cepat Panji Watugunung segera merubah gerakan tubuhnya, sedikit merendah lalu menyapu kaki Randupati yang tengah terhuyung huyung.
Dhiesshhhhhhh...
Randupati langsung terpelanting ke tanah. Namun Randupati dengan cepat mengayunkan pedangnya kearah kaki Panji Watugunung yang membuat Yuwaraja Panjalu itu melompat mundur beberapa langkah ke belakang.
Segera Randupati berdiri sambil memegangi dadanya yang sesak.
"Kurang ajar!
Tak akan ku ampuni kau bajingan!", teriak Randupati yang segera menghantamkan tangan kiri nya.
Seberkas sinar kuning kemerahan berhawa panas melesat cepat kearah Panji Watugunung. Calon Raja Panjalu itu dengan cepat melompat tinggi menghindari serangan lawannya.
Shhhiiiuuuuuuutttt..
Blllaaammmmmmmm!!
Melihat lawan bisa menghindar, Randupati kembali menghantamkan tangan kiri nya kearah Panji Watugunung. Sinar kuning kemerahan kembali menerabas cepat kearah Panji Watugunung. Namun kali ini, Sang Yuwaraja Panjalu tidak menghindar melainkan menyongsong serangan itu dengan Ajian Tapak Dewa Api miliknya.
Dhhhhuuuaaaaaarrrrrrrhh!!
Ledakan dahsyat terjadi dan Randupati terlempar jauh ke belakang. Tubuhnya menghantam tanah dengan keras. Sementara itu Panji Watugunung masih tegak berdiri di tempatnya. Dengan berwibawa, Panji Watugunung berucap pada Randupati yang tengah merasakan nyeri di dadanya akibat luka dalam.
"Menyerahlah..
Akan ku ampuni nyawamu dengan satu syarat".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author semangat untuk terus menulis 😁
__ADS_1
Selamat membaca 😁🙏😁😁🙏😁