Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Resep Ibu Mertua


__ADS_3

Usai berkata demikian, Rara Sunti segera menyusul ke arah Panji Watugunung dan Dewi Srimpi juga Dewi Naganingrum.


Dewi Ambarwati yang sedang terluka dalam parah, hanya bisa memandang kr arah Panji Watugunung dan para istri nya yang berlalu menuju ke dalam istana Kabupaten Gelang-gelang.


"Bagi siapa saja yang berbuat onar di tempat ini, akan mendapat hukuman berat.


Mengerti kalian?", Senopati Sancaka menatap ke arah para anak murid Perguruan Pedang Perak juga Puspa Abang dan Puspa Putih.


Jayaseta langsung membungkuk hormat pada Senopati Sancaka. Dengan cepat ia memimpin anak buah nya untuk meninggalkan tempat itu. Begitu pula Puspa Abang dan Puspa Putih segera membawa Dewi Ambarwati meninggalkan tempat itu dengan berlainan arah.


Luka dalam cukup parah yang di derita Dewi Ambarwati membuat perempuan itu harus cepat menemukan tempat yang tepat untuk beristirahat dan memulihkan kondisi tubuh nya.


Ajian Waringin Sungsang dari Rara Sunti benar benar membuat tenaga dalam putri Rakeh Pamintihan itu terkuras habis.


Setelah cukup jauh dari kota Kabupaten Gelang-gelang, mereka bertiga berhenti di sebuah pondok kayu di tepi hutan kecil yang ada di sisi barat kota Kabupaten Gelang-gelang.


Puspa Abang segera mendudukkan tubuh Dewi Ambarwati di dipan kayu.


Dengan sikap bersemedi, Dewi Ambarwati menata nafas nya juga alur tenaga dalam nya yang berantakan akibat Ajian Waringin Sungsang yang nyaris merenggut nyawanya.


Puspa Abang dengan cepat duduk bersila di belakang Dewi Ambarwati dan menyalurkan tenaga dalam melalui punggung perempuan cantik itu.


Rasa hangat segera menyebar ke seluruh tubuh Dewi Ambarwati lewat punggung nya.


Huuoogghh


Dewi Ambarwati muntah darah kehitaman. Setelah darah itu keluar, nafasnya yang sesak menjadi lega.


Puspa Abang terus menyalurkan tenaga dalam nya untuk memulihkan kondisi tubuh majikannya itu secepat mungkin. Karena sangat mungkin anak buah Perguruan Pedang Perak akan menuntut balas atas kekalahan Bomantara alias si Pedang Kilat, pemimpin generasi ke empat perguruan aliran putih itu. Jika sampai itu terjadi, dan kondisi tubuh Dewi Ambarwati belum sepenuhnya pulih, maka sudah pasti nyawa mereka terancam.


Puspa Abang dan Puspa Putih terus bergantian menyalurkan tenaga dalam nya pada Dewi Ambarwati.


Sementara itu di istana Gelang-gelang, Panji Watugunung segera menuju kearah istana pribadi sang Bupati.


Mendengar kedatangan putra nya, Panji Gunungsari dan Dewi Pancawati segera menyambut nya.


"Selamat datang di istana Gelang-gelang, Nakmas Pangeran Jayengrana", ujar Dewi Pancawati sambil tersenyum simpul.


"Kanjeng Romo, Kanjeng Ibu..


Watugunung menghaturkan sembah bakti kepada kalian berdua", ujar Panji Watugunung yang segera berjongkok dan menyembah pada Panji Gunungsari dan Dewi Pancawati.


Ketiga istrinya juga segera mengikuti langkah sang suami.


"Aduh kau ini Ngger,


Cepat bangun. Seorang Yuwaraja Panjalu tidak boleh berlutut dihadapan seorang Bupati. Kau hanya boleh berlutut pada Maharaja Samarawijaya saja", ujar Dewi Pancawati segera.


"Aku ini masih putra mu, Kanjeng Ibu.


Mau aku menjadi pangeran mahkota atau Maharaja sekalipun, aku tetap Watugunung yang kemarin", ucap Panji Watugunung sambil tersenyum tipis.


Mendengar ucapan Panji Watugunung, baik Dewi Pancawati maupun Panji Gunungsari tersenyum bahagia. Putra mereka benar-benar berbakti kepada mereka.


Dewi Anggraeni, adik tiri Panji Watugunung yang baru saja mengetahui kedatangan sang kakak, berlari dari Keputren Gelang-gelang. Segera dia memeluk tubuh Panji Watugunung.


"Kakang,


Aku sangat merindukanmu", ujar Dewi Anggraeni dengan senyum manisnya.


"Gadis baik,


Kakang juga merindukanmu", jawab Panji Watugunung segera.


"Sekarang Kakang sombong, mentang-mentang sudah menjadi Yuwaraja, jadi jarang mengunjungi kami di sini", ucap Dewi Anggraeni sambil mengerucutkan bibirnya.


"Bukan sombong, Adik ipar.


Tapi Kakang Watugunung memang sibuk mengatur wilayah Kayuwarajan Panjalu agar menjadi makmur", sahut Rara Sunti yang berdiri di samping Panji Watugunung.


"Eta benar, Awewe geulis..


Akang Kasep teh sibuk menata dan membangun Kayuwarajan Panjalu", timpal Dewi Naganingrum sambil tersenyum manis.


"Ihh para istri Kakang Watugunung semua selalu membela suaminya sendiri.


Sebal jadi nya", sungut Dewi Anggraeni.


"Sudahlah Ngger Cah Ayu,


Jangan merajuk. Kakang mu memang bukan hanya putra Bupati Gelang-gelang, tapi juga Yuwaraja Panjalu jadi tugas dan tanggung jawabnya lebih besar, bahkan lebih besar daripada tugas dan wewenang ayahmu. Kau harus memahami itu", ujar Dewi Pancawati sambil tersenyum tipis.


"Ayo semua, kita masuk ke dalam.


Jangan hanya berbincang saja. Mari kita ke sasana boga. Aku sudah lapar ini", ujar Panji Gunungsari mengalihkan perhatian mereka.


Segera keluarga Panji Watugunung menuju ke sasana boga untuk makan siang.

__ADS_1


Selepas itu, para wanita mengikuti langkah Dewi Pancawati menuju ke arah Keputren Gelang-gelang.


Naganingrum yang ingin dekat dengan ibu mertua nya, terus menempel pada Dewi Pancawati.


"Ada apa Naganingrum? Apa ada yang kau inginkan dari ku?", tanya Dewi Pancawati sambil tersenyum melihat tingkah laku permaisuri ketiga Panji Watugunung itu.


"Maafkeun eneng ya Ambu..


Naganingrum teh hanya ingin dekat dengan ibu Akang Kasep. Naganingrum pengen Ambu Ratu ngabagi resep agar di sayang salaki", ucap Dewi Naganingrum sambil tersenyum malu-malu kucing.


Mendengar jawaban itu, Dewi Pancawati tersenyum penuh arti.


"Kau ingin cepat punya momongan, Naganingrum?", tanya Dewi Pancawati segera.


Putri Prabu Darmaraja itu segera mengangguk.


"Nanti ibu ajari resepnya, biar kamu di sayang oleh suami mu", ujar Dewi Pancawati yang sedari tadi terus memberikan perhatian kepada para mantunya itu.


Sedangkan Panji Watugunung dan Panji Gunungsari bercakap di serambi keputran Gelang-gelang mengenai masalah pernikahan Dewi Anggraeni dengan putra Penguasa Lodaya.


"Apa sudah ada kata sepakat dengan Pangeran Arya Prabu, Romo?", tanya Panji Watugunung yang segera menatap wajah ayahnya.


"Mereka sudah mengajukan lamaran tempo hari, tapi Pangeran Arya Tanggung belum juga datang kemari.


Adikmu tidak mau menikah jika belum melihat langsung wajah Arya Tanggung.


Itulah masalah yang kita hadapi sekarang", jawab Panji Gunungsari sambil menatap ke arah langit sore yang mulai berwarna jingga.


"Bagaimana kalau aku dulu yang ke Lodaya untuk melihat Arya Tanggung?


Paling hanya dua hari sudah cukup untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya", usul Panji Watugunung yang sedari tadi melihat kekhawatiran ayahnya.


"Apa tidak merepotkan mu Watugunung?


Kau ini seorang Yuwaraja Panjalu, tugas dan tanggung jawab mu besar", ujar Panji Gunungsari sambil menatap wajah putranya itu.


"Kanjeng Romo lupa, kalau aku adalah kakak Anggraeni?


Sudah kewajiban ku untuk membahagiakan adik dan keluarga ku", Panji Watugunung tersenyum simpul.


Mendengar jawaban Panji Watugunung, Bupati Gelang-gelang segera mengangguk mengerti.


Sore itu, usai makan bersama, mereka segera menuju ke tempat peristirahatan yang sudah disediakan untuk mereka.


Malam itu adalah jatah Naganingrum menemani sang suami.


Perempuan cantik itu segera meneguk minuman yang dapat dari Dewi Pancawati.


"Jamu Akang Kasep..


Resep dari Ambu Ratu, untuk membuat suami Eneng bahagia", jawab Dewi Naganingrum sambil tersenyum penuh arti.


"Kog aku tidak pernah dengar Kanjeng Ibu punya resep jamu.


Jamu apa itu Dinda?", tanya Panji Watugunung yang penasaran.


"Eta jamu khusus awewe.


Hayuk kita buktikan Akang Kasep", jawab Dewi Naganingrum sambil menarik tangan Panji Watugunung ke arah ranjang.


Tak berapa lama kemudian, yang terdengar hanya suara desah nikmat dan erang kenikmatan di kamar itu.


Pagi menjelang tiba. Langit timur perlahan berubah cerah kemerahan. Burung burung berkicau riang di ranting pepohonan. Kokok ayam jantan bersahutan membangunkan para penghuni Istana Gelang-gelang.


Panji Watugunung membuka matanya perlahan. Saat pandangan nya mulai jelas, dia melihat tangan Dewi Naganingrum melingkar di leher nya.


Mengingat kejadian semalam, Panji Watugunung tersenyum penuh arti.


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan di pintu kamar Panji Watugunung. Segera Yuwaraja Panjalu itu memakai celana dan turun dari ranjang tidur nya. Lalu dia menuju ke arah pintu kamar.


Saat pintu terbuka, wajah teduh Dewi Srimpi terlihat lebih segar hari itu. Perempuan cantik itu membawa sebuah nampan berisi secangkir wedang jahe hangat dan beberapa makanan kecil.


"Kenapa kau selalu memanjakan ku Dinda Srimpi?", tanya Panji Watugunung yang mengikuti langkah Dewi Srimpi yang menuju kearah meja kecil yang ada disamping ranjang.


"Sudah kewajiban ku Denmas, ini juga tugas dari Kangmbok Anggarawati untuk selalu memperhatikan keadaan mu", jawab Dewi Srimpi sambil tersenyum manis.


Panji Watugunung terharu mendengar jawaban dari Dewi Srimpi.


Pagi itu mereka berempat segera bersiap untuk menuju ke arah Tanah Perdikan Lodaya.


Namun kali ini mereka tidak memakai pakaian kebesaran mereka. Mereka menyamar sebagai pendekar begitu juga dengan Demung Rakai Sanga dan para pengawal prajurit yang bertugas menyamar sebagai petani.


Rombongan Panji Watugunung bergerak menuju ke selatan lantas berbelok ke timur menuju ke Pakuwon Ganter di wilayah Kadipaten Seloageng.


Menjelang tengah hari, rombongan itu sudah sampai di dermaga penyeberangan sungai Brantas yang ada di wilayah Ganter.

__ADS_1


Seorang lelaki paruh baya berbadan tegap mendekati Panji Watugunung dan rombongannya.


"Permisi Kisanak,


Apa kalian ingin menyeberang ke Lodaya?", tanya lelaki berambut hitam yang mulai tumbuh uban itu.


"Benar paman, kami ingin ke Lodaya. Apa paman bisa membantu kami?", Panji Watugunung menatap ke arah wajah lelaki paruh baya itu segera.


"Bisa kisanak.


Biayanya 1 kepeng perak untuk satu orang sekali jalan. Kalau tambah kuda, tambah 5 kepeng perunggu", jawab si lelaki paruh baya itu sambil tersenyum.


Rara Sunti yang memegang uang segera membayar biaya menyeberang sungai Brantas.


Perahu penyeberangan mulai bergerak menuju ke seberang sungai. Perahu besar itu membelah arus sungai Brantas yang berwarna keruh kecoklatan karena hujan yang mulai turun di wilayah hulu.


Begitu sampai di seberang sungai, rombongan Panji Watugunung segera turun dari perahu penyeberangan dan menuntun kudanya menuju ke sebuah warung makan yang ada di samping jalan masuk dermaga penyeberangan.


Dua pasang mata menatap ke arah kedatangan mereka.


"Pemuda keparat itu rupanya kemari lagi,


Aku akan melapor kepada Guru", gumam seorang lelaki bertubuh tegap itu segera melompat ke atas kuda nya, dan memacu nya kearah sisi barat kota Lodaya. Sementara si pemuda bertubuh kurus mengikuti rombongan Panji Watugunung dari kejauhan.


Panji Watugunung dan rombongannya telah selesai makan siang. Usai membayar makanan, mereka segera menuju ke arah kota Lodaya yang ada di selatan dermaga penyeberangan.


Setelah melewati hutan yang luas di Utara kota Lodaya, menjelang sore Panji Watugunung dan rombongannya sudah sampai di kota Lodaya. Mereka semua terus memacu kuda menuju rumah Nyi Kembang Jenar.


Begitu melihat Panji Watugunung masuk ke rumah Nyi Kembang Jenar, si lelaki bertubuh kurus itu segera memutar kudanya menuju ke sebuah rumah yang ada di dekat sebuah hutan bambu yang rimbun di barat kota Lodaya.


"Wanila,


Bagaimana? Mereka bermalam dimana?", tanya si lelaki bertubuh tegap itu pada lelaki bertubuh kurus yang bernama Wanila itu.


"Mereka bermalam di rumah Nyi Kembang Jenar, Ken Sora.


Seperti nya mereka punya hubungan dekat dengan Nyi Kembang Jenar", ujar Wanila sambil menatap ke arah seorang lelaki muda yang memakai baju loreng seperti kulit macan.


Lelaki itu adalah Gana alias Si Macan Cilik yang tempo hari berhasil kabur saat bertarung melawan Panji Watugunung dan kawannya.


Hemmmm


"Pemuda itu bukan orang sembarangan, Sora.


Guru ku Macan Alas Lodaya saja kalah melawan mereka. Kalau ingin balas dendam kepada mereka, hanya satu caranya", ujar Gana alias Si Macan Cilik sambil menghela nafas panjang.


"Apa itu kang?", tanya Ken Sora dengan penasaran.


Gana mendengus keras kemudian menatap langit yang mulai berubah kemerahan.


"Minta bantuan pada paman Guru".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁

__ADS_1


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author terus semangat menulis 😁


Selamat membaca kak 🙏🙏🙏


__ADS_2