
Dewi Kantil dan Dewi Kenanga membawa mereka ke tempat persembunyian dan segera menyalurkan tenaga dalam nya untuk mengobati luka dalam Dewi Seruni dan Dewi Melati. Sedangkan Dewi Kamboja menjaga tempat mereka.
Malam semakin larut. Suasana semakin dingin saat hujan mengguyur wilayah Pakuwon Watugaluh.
Menjelang pagi, hujan mulai reda tapi berganti hawa pembunuh pekat dirasakan Panji Watugunung yang sedang bersemedi. Segera dia beranjak di ranjangnya. Warigalit sudah menunggu di serambi kediaman nya.
"Sepertinya tamu yang kita tunggu sudah datang kakang", Panji Watugunung terus menatap dermaga Wanua Klakah.
"Benar adik.. Apa yang harus kita lakukan?", Warigalit menunggu jawaban.
"Utus Manahil ke istana Pakuwon Watugaluh, Kakang. Aku akan membangunkan Srimpi dan Dinda Pitaloka", ujar Panji Watugunung yang di sambut anggukan kepala oleh Warigalit. Mereka bergerak cepat.
Tak berapa lama kemudian, semua orang sudah berkumpul di serambi kediaman Panji Watugunung. Setelah mendapat perintah, mereka menyebar ke arah yang di tunjukkan.
Dari kejauhan nampak sebuah perahu besar dengan bendera merah Alas Larangan. Pelan tapi pasti perahu besar itu mendekat ke arah dermaga Wanua Klakah.
Setelah tertambat sempurna di dermaga Wanua Klakah, dari dalam perahu bermunculan puluhan orang berbaju merah di pimpin seorang lelaki tua yang berbaju hijau gelap. Dialah Dewa Angin, sang tangan kanan Pangeran Alas Larangan.
"Kenapa suasana di tempat ini sepi sekali? Kemana Setan Muka Bopeng dan yang lainnya? Mencurigakan sekali", ujar Dewa Angin sambil berjalan pelan.
"Benar Kakang, sepertinya ada yang aneh dengan tempat ini", ujar seorang lelaki tua berbaju biru, adik seperguruan Dewa Angin yang berjuluk Dewa Langit.
30 orang itu terus berjalan masuk ke wanua Klakah.
Tiba tiba..
Sringggg sringgg..
"Awas Kakang, senjata rahasia..".
Teriakan Dewa Langit membuat semua pengikut nya segera melompat menghindar.
Dua jarum berwarna hitam menancap di tanah lalu mengeluarkan asap hitam tipis.
"Racun Kembang Wengi", gumam Dewa Angin.
Hahahaha..
Suara tawa seorang wanita menggema di langit malam yang mulai berubah kemerahan. Sepuluh bayangan hitam berkelebat cepat menghadang langkah Dewa Angin dan pengikutnya.
"Mata mu masih awas rupanya Kalajati, tidak sia sia julukan besar mu", ujar Dewi Kembang Wengi memanggil nama asli Dewa Angin.
Lelaki tua itu menyeringai lebar.
"Rupanya pemimpin Perguruan Racun Kembang yang menyambut kedatangan ku.
Apa kau masih merindukan sentuhan ku Dewi Kembang Wengi?
Hahahaha".
"Bangsat!
Bajingan tua seperti mu tidak layak hidup. Hari ini ku kirim kau ke neraka", Dewi Kembang Wengi geram. Dendam masa lalu nya saat di perkosa Dewa Angin seperti disiram air garam.
"Kalian hebat sekali, berani membuat ribut di tempat ini".
Suara seorang pemuda membuat orang orang Alas Larangan dan Racun Kembang segera menoleh.
Panji Watugunung, di iringi Warigalit, Ratri, Ratna Pitaloka, Dewi Srimpi, Ki Saketi, Sepasang Sriti Perak, dan Jarasanda muncul dari sisi lain tempat itu.
"Siapa kau anak muda? Jangan ikut campur urusan kami kalau tidak ingin mampus", hardik Dewa Angin kasar.
Phuihhh
"Kakek tua, sudah bau tanah tapi masih juga sombong. Apa kau ingin cepat menyusul Setan Muka Bopeng ke neraka?", Panji Watugunung acuh tak acuh memandang tajam kearah Dewa Angin.
"Kurang ajar!
Rupanya kau yang membunuh murid ku.
Akan ku balaskan dendam nya hari ini!".
Usai berkata, Dewa Angin melesat cepat ke arah Panji Watugunung. Namun bayangan hitam melesat cepat menyabetkan pedang kearah Dewa Angin.
Kakek tua itu terkejut dan segera mundur menghindari sabetan pedang.
"Urusan mu dengan ku belum selesai Kalajati", teriak Dewi Kembang Wengi yang segera melesat cepat ke arah Dewa Angin sambil mengayunkan pedang nya.
Sementara itu, Dewi Melati berbisik pada Dewi Kantil yang ada di dekat nya.
"Itu pemuda yang melukai ku Kangmbok".
__ADS_1
Dewi Kantil segera melirik ke arah Panji Watugunung yang sedang memandang pertarungan Dewi Kembang Wengi dan Dewa Angin.
'Pantas saja, pemuda itu tampan. Mereka berdua pasti ceroboh karna terpesona dengan ketampanan nya', batin Dewi Kantil sambil tersenyum.
Langit pagi begitu cerah dan dingin. Namun suasana di Wanua Klakah tengah panas.
Gumbreg dan yang lainnya berkeliling cepat ke rumah rumah penduduk untuk memberi tahu agar jangan keluar rumah. Rakai Sanga dan Marakeh menjaga gapura Utara dan Weleng serta Gubarja menjaga gapura selatan.
"Apa yang kalian tunggu? Bunuh orang orang Alas Larangan itu!", teriak Dewi Kembang Wengi sambil menyabetkan pedang nya kearah Dewa Angin.
Seketika sepuluh orang wanita berwajah cantik itu melesat cepat menuju rombongan orang orang Alas Larangan.
Pertarungan sengit segera terjadi. Hanya Dewa Langit yang terus mengawasi gerak-gerik Panji Watugunung dan rombongannya.
"Gusti Panji Watugunung, apa yang sebaiknya kita lakukan?", Ki Saketi berbisik-bisik menunggu jawaban.
"Tahan diri Paman, mereka dari golongan hitam. Racun Kembang tidak ada masalah dengan kita, biarkan mereka mengurangi jumlah anggota Alas Larangan. Itu akan meringankan beban kita", jawab Watugunung tenang.
Ki Saketi mengangguk tanda mengerti.
Setelah 30 jurus, nampak nya Dewi Kembang Wengi mulai terdesak oleh Dewa Angin.
Tebasan golok besar nya membuat Dewi Kembang Wengi terpaksa berguling ke tanah untuk menghindar. Saat golok itu hampir menebas leher Dewi Kembang Wengi, sebuah bayangan berkelebat cepat dan menangkis sabetan golok dengan tombak.
Tranggg...
Dewa Angin terdorong ke belakang akibat benturan tenaga dalam dari dua senjata, sedang si pemilik tombak pendek juga terdorong mundur 2 langkah.
Dewa Angin segera melompat maju dan adik seperguruannya, Dewa Langit yang bersenjata tombak ikut menerjang kearah Warigalit.
Dewi Kembang Wengi berdiri sambil mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Matanya menatap tajam ke arah Dewa Angin.
Melihat Warigalit di keroyok, Panji Watugunung segera melompat menerjang kearah pertarungan sambil menghantamkan tangan kanan nya yang sudah berubah warna menjadi merah menyala seperti api ke arah Dewa Angin dan Dewa Langit.
Dhuarrrr!!
Dua orang itu menghindari sinar merah dahsyat berhawa panas dengan melompat mundur sejauh 2 tombak. Sinar merah menyala menghantam tanah dengan menciptakan lobang besar di tanah akibat ledakan keras.
Dewa Angin dan Dewa Langit terkejut melihat akibat sinar merah itu.
'Tapak Dewa Api'
"Pemuda tengik, apa hubungan mu dengan Si Tangan Api?", teriak Dewa Langit.
Dewi Kembang Wengi yang terkejut, segera menyadari kemampuan beladiri tangguh dari dua pemuda yang baru menyelamatkan nyawa nya. Segera dia bersujud kepada Panji Watugunung.
"Pendekar muda, bantu kami membereskan bajingan tua itu. Racun Kembang tidak akan melupakan budi kalian".
"Bedebah tua!
Kau memancing ikan di air keruh", teriak Dewa Langit gusar.
"Tidak ada salahnya. Baik kami bantu kalian, perhitungan nya nanti setelah mereka beres", ujar Panji Watugunung sambil melirik ke arah Dewi Kembang Wengi. Wanita itu mengangguk tanda setuju.
Panji Watugunung segera mengangkat tangan kanannya. Seketika semua pengikut nya menyerang anggota Alas Larangan, membantu anggota Racun Kembang yang tinggal 5 orang.
Mendapatkan bantuan, semangat murid murid perguruan Racun Kembang membara lagi. Mereka bahu membahu dengan pengikut Panji Watugunung menerjang kearah anak buah Alas Larangan.
Pertarungan sengit kembali terjadi.
Dewa Langit yang geram segera melompat ke udara dan menusukkan tombak nya ke arah dada Dewi Kembang Wengi, namun Tombak Angin Warigalit memotong serangan itu.
Tranggg..
Benturan dua tombak pusaka menimbulkan suara nyaring.
Baik Warigalit dan Dewa Langit sama sama terdorong mundur. Warigalit dengan cepat memakai Ajian Sepi Angin, dan melesat cepat menerjang Dewa Langit dengan Tombak Angin nya.
Angin dingin menderu kencang kearah Dewa Langit. Kakek tua itu segera melenting ke udara dan mendarat di atap rumah.
Warigalit tersenyum tipis dan segera memutar tubuhnya saat serangan nya di hindari. Begitu menjejak tanah, tubuh melesat cepat ke udara bagai terbang dan melayang turun sambil menusukkan tombak nya.
Dewi Kembang Wengi yang terluka dalam akibat pertarungan tadi, sekuat tenaga mengerahkan tenaga dalam nya untuk mengobati diri. Pandangan matanya terus mengamati pertarungan Warigalit dan Dewa Langit.
Sementara itu gabungan pengikut Panji Watugunung dan Racun Kembang terus merangsek ke arah anggota Alas Larangan.
Satu persatu anggota Alas Larangan tewas bersimbah darah. Teriak kesakitan mereka memilukan hati.
Jarasanda dengan keris Kyai Klotok nya berhasil menusuk dada seorang anggota Alas Larangan. Orang itu tewas dengan mata melotot menahan sakit. Ki Saketi pun sama, pedang nya berhasil memenggal kepala salah satu anggota Alas Larangan. Baju mereka berlumuran darah lawan.
Sepasang Sriti Perak bergerak lincah bertarung dengan kombinasi serangan cepat mereka. Ratna Pitaloka terus membantai lawan nya dengan Pedang Bulan Kembar nya. Sedangkan Dewi Srimpi dan Ratri bahu membahu dalam menyerang dan bertahan.
__ADS_1
Seorang anggota Alas Larangan melompat cepat hendak menebas leher Dewi Seruni yang lengah. Namun sebuah anak panah melesat cepat menghajar dada kiri orang itu.
Whutttt
Creppp
Ouch
Orang itu tewas seketika. Dari atas pohon krombang, Rajegwesi tersenyum tipis.
Dewi Seruni terkejut dengan bantuan tak terduga itu.
"Tenang adik, sepertinya pemanah itu adalah pengikut mereka", teriak Dewi Kenanga yang terus menyerang anggota Alas Larangan.
Dewi Seruni segera bangkit dan menerjang kearah musuh.
Pertarungan sengit terus terjadi di pagi hari itu.
Dewa Langit terus menerus menyerang Warigalit. Tombak nya dengan gagang lebih panjang, menjaga jarak dari serangan Warigalit.
Pengalaman bertarung nya selama puluhan tahun, menjadi keuntungan tersendiri. Gerakan nya sangat sempurna dalam menyerang dan bertahan.
Warigalit yang kesulitan mendekati Dewa Langit, terus menerus bergerak cepat dengan Ajian Sepi Angin nya. Mencoba membuat peluang untuk mendekat.
Panji Watugunung terus mengamati gerak-gerik Dewa Angin yang menatap tajam ke arah pertarungan Warigalit dan Dewa Langit.
Saat Warigalit menusukkan tombak nya ke arah punggung Dewa Langit, kakek tua itu melompat ke kiri, sambil menyapu kaki Warigalit dengan tombaknya. Namun pijakan kaki Dewa Langit menginjak atap rapuh, membuat kaki nya terperosok dan sedikit celah pertahanan nya yang terbuka tidak di sia-siakan Warigalit.
Dengan gerakan cepat, Warigalit melayangkan pukulan tangan kiri nya ke arah perut Dewa Langit. Kakek tua itu terkejut dan segera menyambut pukulan tangan kiri Warigalit dengan tapak kirinya.
Blammmm!
Akibat benturan tenaga dalam tingkat tinggi dua orang itu terlempar ke bawah. Warigalit bersalto di udara dan mendarat di tanah. Dadanya sedikit sesak.
Sedangkan Dewa Langit menghantam tanah. Kakek tua itu segera berdiri namun luka dalam yang di deritanya membuat nya tak siap saat Warigalit melesat cepat dan menusukkan Tombak Angin nya ke dada kanan Dewa Langit.
Dewa Angin yang melihat kejadian itu, bermaksud menolong Dewa Langit dengan menghantamkan tangan kanan nya kearah Warigalit.
Panji Watugunung berkelebat cepat menghadang pukulan Dewa Angin dengan Ajian Tameng Waja.
Dhuarrrr!!
Tepat saat ledakan dahsyat terjadi, Warigalit sudah menusukkan tombak nya ke dada Dewa Angin. Kakek tua itu melotot sesaat kemudian roboh dengan dada berlubang.
Dewa Angin menyeringai lebar saat ledakan keras terjadi, namun seketika senyuman nya menghilang saat asap ledakan keras itu tertiup angin.
Tubuh Panji Watugunung di liputi sinar kuning keemasan tanda Ajian Tameng Waja. Wajahnya tersenyum lebar. Tangan kiri nya menunjuk Dewa Angin sambil berkata,
"Kau berikutnya"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Duh ikut tegang pas episode berantem 😎😎
Ikuti terus kisah selanjutnya guys 🙏🙏
__ADS_1
Jangan lupa untuk dukung author terus semangat menulis dengan like vote dan komentar nya ya 👍👍👍👍
Selamat membaca 😁😁😁😁