Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Pertarungan Di Bawah Hujan


__ADS_3

"Kang kita bisa dapat uang banyak dari menjual kuda kuda ini", ucap seorang berbadan kurus sambil berusaha membuka ikatan kekang kuda pada pohon perdu.


"Jangan banyak omong. Cepat sedikit. Nanti ada orang melihat kita", potong lelaki bertubuh gemuk dengan perut buncit.


Ratna Pitaloka mendengus kesal dan dengan cepat melesat menendang dada pencuri berbadan kurus.


Bukkkk...


Aughhhhh..


Pencuri berbadan kurus terpelanting ke belakang. Dadanya terasa sangat sesak.


Panji Watugunung menyusul di belakang Ratna Pitaloka kemudian.


Si pencuri berbadan gemuk yang terkejut dengan serangan mendadak itu segera melompati mundur, juga kawan nya yang berkumis tebal begitu melihat si badan kurus terpelanting.


"Siapa kau? Mengapa kau menyerang kawan ku?", teriak si badan gemuk waspada.


"Kau mau merebut kuda kuda itu ya?", timpal si kumis tebal.


"Berani sekali kau mau mencuri kuda ku? Sudah bosan hidup hah??", Ratna Pitaloka geram.


"Mana buktinya kalau itu kuda mu? Tidak ada nama mu di kuda ini", si kumis tebal menyanggah.


"Kalian kalau tidak di hajar dulu, tidak akan kapok".


Ratna Pitaloka melesat cepat menuju si badan gemuk. Karena kecepatan tinggi itu tak biasa, si badan gemuk tak siap ketika pukulan Ratna Pitaloka menghajar perut nya.


Deshh


Si badan gemuk terhuyung huyung ke belakang. Perutnya sakit, serasa lambung nya berpindah tempat.


Dengan memutar tubuhnya, Ratna Pitaloka menjejak tanah dengan kaki kiri dan melayangkan tendangan keras ke si kumis tebal. Gerakan yang sukar di ikuti mata, membuat tendangan keras Ratna Pitaloka telak menghajar dada si kumis tebal.


Bakkkk..


Oughhh


Teriakan si kumis tebal menyertai terpental tubuh nya ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Si kumis tebal muntah darah segar.


"Jangan di bunuh Dinda", teriak Panji Watugunung saat Ratna Pitaloka hendak menginjak dada si kumis tebal.


Ratna Pitaloka mendengus dingin.


"Untung suami ku baik hati, kalau tidak kalian sudah ku kirim ke neraka".


"Ampuni kami pendekar, kami tobat. Tidak berani mencuri lagi. Tolong ampuni kami", teriak si kurus sambil bersujud kepada Ratna Pitaloka.


"Kalau sampai aku melihat kalian mencuri lagi, jangan harap aku mengampuni nyawa kalian", Ratna Pitaloka mendelik tajam.


"Kami tidak berani kami tidak berani", ujar si badan gemuk sambil berlutut.


"Sekarang pergi kalian, sebelum aku berubah pikiran. Cepat!", teriak Ratna Pitaloka.


Si gemuk buru buru bangun dan memapah si kumis tebal. Si badan kurus ikut memapah tubuh si kumis tebal. Dengan tertatih tatih mereka meninggalkan tempat itu dan menghilang di rimbun pohon yang mulai gelap.


Panji Watugunung segera melompat ke atas kuda nya, di ikuti Ratna Pitaloka. Mereka berdua memacu kuda mereka melesat cepat menuju ke arah Pakuwon Randu.


Di Pakuwon Randu, Dewi Anggarawati yang tidak melihat suaminya pergi kebingungan mencari tahu. Semua orang memang tidak tahu kecuali Landung dan Gumbreg yang melihat Panji Watugunung dan Ratna Pitaloka keluar dari gerbang istana Pakuwon.


"Maaf Gusti Putri, tadi sore saya melihat Gusti Panji dan Selir Ratna Pitaloka berkuda bersama menuju ke arah timur", ujar Gumbreg sambil menunduk.


Dewi Anggarawati baru menyadari bahwa Ratna Pitaloka memang tidak nampak dari tadi.


Hemmmm


'Mau kemana mereka?', batin Anggarawati.


"Ya sudah, terimakasih untuk berita nya ya prajurit gendut", ujar Dewi Anggarawati tersenyum dan kembali masuk ke bangsal tamu.


"Uh gendut gendut begini aku juga prajurit pilihan", gerutu Gumbreg bersungut-sungut sambil berjalan ke arah tenda perbekalan.


"Kau mau di pancung lehermu Mbreg??", ucap Ludaka menakuti Gumbreg.


Gumbreg langsung bergidik ngeri.


"Kau ini Lu, sedikit sedikit pancung sedikit sedikit penggal. Kau senang ya aku di penggal kepala ku?".


"Ya tidak, tapi gerutuan mu itu kalau di dengar Gusti Putri, bisa bisa habis nyawa mu. Gusti Putri itu walaupun cantik tapi tak sebaik Gusti Panji Watugunung. Tau kau?", sahut Ludaka.


"Masak iya? Waduh aku harus hati-hati kalau ngomong", ujar Gumbreg sambil menepuk bibir nya sendiri.


Dari arah gerbang Pakuwon Randu, Panji Watugunung dan Ratna Pitaloka terlihat menarik kekang kudanya.


Landung dan Weleng segera menarik kuda mereka ke kandang. Sementara Panji Watugunung dan Ratna Pitaloka segera menuju ke bangsal tamu. Dewi Anggarawati memandang tajam kearah mereka berdua.


"Darimana Kangmas? Kog malam hari baru pulang?".


Belum sempat Panji Watugunung menjawab, Ratna Pitaloka sudah mendahului.


"Kencan lah".


"Jangan dengarkan omongan dia Dinda, nanti aku jelaskan.


Sekarang aku mau mandi dulu", ucap Panji Watugunung yang berjalan menuju tempat mandi di ikuti Dewi Srimpi.

__ADS_1


Dewi Anggarawati menekuk wajahnya.


Usai membersihkan diri dan berganti baju, Panji Watugunung memanggil Ki Saketi dan Akuwu Randu.


"Paman Saketi, aku dan Dinda Pitaloka baru saja dari markas mereka. Jumlah mereka lumayan banyak".


"Maafkan saya Gusti Panji, apa langkah kita selanjutnya?", ujar Ki Saketi sambil menunggu perintah.


"Ki Kuwu, berapa banyak prajurit Pakuwon Randu yang ada?", Panji Watugunung mengalihkan pandangannya pada Mpu Kebi.


"Ampun Gusti, ada sekitar 200 orang prajurit pakuwon Randu, tapi di istana tidak ada separuh. Karna semua saya sebar untuk berpatroli di setiap wanua di Pakuwon ini", Mpu Kebi menjelaskan.


Hemmmmm..


"Begini, separuh prajurit pakuwon Randu yang di istana aku pinjam. Pilih yang memiliki kemampuan beladiri tangguh untuk aku ajak besok. Kau mengerti?", sahut Panji Watugunung.


Mpu Kebi mengangguk tanda mengerti.


"Hamba mengerti Gusti".


Malam itu, mereka menyiapkan segala sesuatunya.


**


Pagi menjelang tiba. Mendung tebal menyelimuti seluruh langit.


Namun tidak menghalangi pasukan Garuda Panjalu dan prajurit pakuwon Randu bergerak cepat menyerbu markas para pengacau keamanan di timur wilayah pakuwon Randu.


Jalan sedikit becek karna gerimis tadi malam tidak menyurutkan semangat mereka.


Sesampainya di timur hutan, Rajegwesi dan Arimbi segera melompat ke atas pohon besar, sedangkan Laras dan Ludaka bergerak ke samping. Sebagai pemanah jitu, tugas mereka melindungi kawan kawan mereka dari senjata jarak jauh.


Para penjaga gapura melihat kedatangan puluhan prajurit Pakuwon Randu, segera memukul kentongan tanda bahaya.


Puluhan orang berbaju merah segera keluar dari rumah rumah yang ada di situ.


Seorang pria berambut putih keperakan keluar dari sebuah rumah di tengah perkampungan.


Dialah Iblis Rambut Perak, salah satu sesepuh Alas Larangan yang merupakan pemimpin kelompok pengacau keamanan di wilayah pakuwon Randu.


Di belakangnya, ada 3 Siluman Bunga dan Langkir, seseorang yang berhasil kabur saat penyerangan di Padepokan Anggrek Bulan.


Hahahaha


Tawa Iblis Rambut Perak menggema di tempat itu.


"Rupanya antek antek Samarawijaya sudah tidak sabar ingin mengantar nyawa".


"Iblis tua, jadi kau ternyata pemimpin mereka. Pantas saja prajurit pakuwon Randu tidak mampu menghadapi mu", ujar Ki Saketi. Wakil pimpinan pasukan Garuda Panjalu itu memang pernah bertarung dengan Iblis Rambut Perak.


"Hemmmm begundal Tejo Sumirat rupanya.


Kalian semua!


Bantai mereka jangan ada yang tersisa", teriak Iblis Rambut Perak yang membuat seluruh anak buah nya berlari menyerang pasukan Garuda Panjalu.


Ki Saketi segera tidak tinggal diam. Langsung mencabut pedang nya dan seluruh prajurit segera menyongsong anak buah Iblis Rambut Perak. Pertarungan sengit segera terjadi.


"Kakang Rambut Perak, perempuan di samping bangsawan muda itu bagian kami", ujar Siluman Bunga Mawar, pemimpin 3 Siluman Bunga dari Perguruan Racun Bunga.


Iblis Rambut Perak mengangguk tanda setuju, 3 Siluman Bunga melesat cepat menuju kearah Panji Watugunung dan ketiga gadis nya.


"Pemuda tampan, sebaiknya kau menyerah. Jumlah kami lebih banyak dari pasukan mu. Kalau kau menyerah, kau akan kami jadikan pelayan nafsu untuk kami hihihi", ujar Siluman Bunga Mawar tertawa binal.


"Iya Kangmbok, aku yakin pasti dia mampu memuaskan kita", Siluman Bunga Melati menimpali sambil tersenyum genit. Siluman Bunga Kenanga ikut tertawa.


Ratna Pitaloka geram mendengar ucapan menggoda dari 3 Siluman Bunga, segera mencabut Pedang Bulan Kembar nya.


"Dasar jalang..


Akan ku robek mulut kalian".


Usai berkata, Ratna Pitaloka melesat cepat menebaskan pedangnya.


Sekar Mayang yang ikut panas mendengar suaminya di goda, melompat menyusul maju.


Dewi Anggarawati yang hendak ikut serta, di tahan tangan nya oleh Dewi Srimpi.


"Biarkan saya yang maju Gusti Putri".


Usai berkata, Dewi Srimpi segera melesat menyusul dua adik seperguruan Watugunung.


Hujan kembali turun dari langit, membasahi pertempuran sengit di timur hutan kecil.


Ratna Pitaloka yang menghadapi Siluman Bunga Mawar, segera melompat menebaskan pedangnya ke arah leher musuhnya. Siluman Bunga Mawar segera melompat mundur, dan menangkis sabetan pedang dengan pedang nya.


Tringgg..


Mendapat tangkisan, Ratna Pitaloka menyabetkan pedang di tangan kiri kearah perut Siluman Bunga Mawar. Serangan cepat Ratna Pitaloka, membuat Siluman Bunga Mawar melompat ke atas dan bersalto di udara.


Belum sempat Siluman Bunga Mawar menyentuh tanah, Ratna Pitaloka segera merangsek maju dengan tebasan pedang cepat.


Siluman bunga mawar yang terkejut, segera melepaskan serangan tapak kiri nya, mengincar dada Ratna Pitaloka.


Whuttt

__ADS_1


Blammm!


Ratna Pitaloka berguling ke samping kanan dan melepaskan jurus Pedang Bulan Kembar dari pedang di tangan kanan nya..


'Tebasan Dewi Bulan...'


Whutttt


Blarrrrr


Siluman Bunga Mawar yang belum menjejak tanah dengan cepat menjatuhkan diri ke tanah. Tebasan Pedang Bulan meluncur lurus menghajar anak buah Iblis Rambut Perak di belakang dan memotong tubuh orang itu menjadi dua bagian..


Air hujan membasahi tubuh Ratna Pitaloka dan Siluman Bunga Mawar.


'Keparat tengik ini ilmu nya berbahaya, aku harus hati-hati', batin Siluman Bunga Mawar.


Ratna Pitaloka segera mengumpulkan tenaga dalam nya, Pedang Bulan Kembar di kedua tangan nya bersinar kuning redup seperti cahaya bulan purnama.


Siluman Bunga Mawar segera mengambil kuda kuda nya, pedangnya berubah warna menjadi merah dan berbau wangi mawar.


"Dinda Pitaloka, hati hati dengan pedang nya, pedang nya beracun", teriak Panji Watugunung yang terus mengamati pertarungan.


Ratna Pitaloka mengangguk, kemudian menyilang Pedang Bulan Kembar di depan dada nya.


Dua cahaya kuning redup bersilangan meluncur cepat dari Pedang Bulan Kembar saat Ratna Pitaloka menebaskan pedangnya ke arah Siluman Bunga Mawar.


Whungggg...


Siluman Bunga Mawar menebaskan pedangnya. Sinar merah menyongsong sinar kuning redup bersilangan dari pedang Ratna Pitaloka.


Blammmm!


Ledakan keras terjadi akibat benturan tenaga dalam pedang namun sinar kuning redup yang menyusul di belakang terus menerabas cepat kearah Siluman Bunga Mawar.


Crashhhh


Aughhhhh


Hanya itu yang keluar dari mulut Siluman Bunga Mawar saat dadanya tertebas sinar kuning redup dari pedang Ratna Pitaloka. Perempuan genit itu tewas seketika dengan dada menganga.


Melihat Siluman Bunga Mawar tewas, Siluman Bunga Melati yang sudah puluhan jurus bertarung dengan Sekar Mayang, menjadi geram. Dengan gerakan membabi buta, dia menyabetkan cambuk nya kearah Sekar Mayang. Sekar Mayang segera melompat ke samping, dan menyabetkan selendang es nya.


Angin dingin dari Selendang Es, melesat cepat seperti pedang mengincar pinggang Siluman Bunga Melati.


Perempuan itu menarik cambuk nya dan melenting ke udara setelah mencambuk tanah.


Namun itulah yang di tunggu Sekar Mayang.


Tangan kiri Sekar Mayang berubah merah menyala seperti api, lalu melepaskan Tapak Dewa Api tingkat 3...


Dhuarrrr!!


Tubuh Siluman Bunga Melati melayang jauh akibat benturan Tapak Dewa Api. Dan berhenti setelah menabrak rumah di markas pengacau. Tubuh nya gosong seperti terbakar api. Diam dan tidak bergerak lagi.


Iblis Rambut Perak marah besar melihat dua adik seperguruannya tewas, melesat mengincar Ratna Pitaloka. Panji Watugunung yang waspada langsung menghadang dengan kepalan tangan memancar seperti petir.


Blammmm!


Benturan keras Tinju Guntur dan Tapak Kilat dari Iblis Rambut Perak membuat keduanya terdorong mundur.


"Lawan mu adalah aku"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


*Hiiihh bantai terus mereka...


Author ikutan semangat kalau pas episode berantem kayak gini 😁😁😁😁


Jangan lupa untuk dukung author menulis dengan cara like vote dan komentar nya ya

__ADS_1


Buat yang sudah berbaik hati meninggalkan jejak, author mengucapkan terima kasih banyak


Selamat membaca guys 🙏🙏🙏*


__ADS_2