Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Senjakala Pakuwon Lwaram


__ADS_3

Sementara itu pasukan Panjalu yang dipimpin langsung oleh Panji Watugunung terus bergerak cepat menuju ke arah Pakuwon Lwaram.


Bersama dengan gabungan 8 ribu prajurit dari Kadipaten Matahun, Kadipaten Bojonegoro dan Kotaraja Kadiri mereka bergerak ibarat air bah yang menakutkan. Begitu mendekati wilayah Kota Lwaram tepatnya di timur tapal batas kota ini, pasukan Panjalu menghentikan laju pergerakan nya.


Saat bersamaan, pasukan Panjalu di sebelah barat juga telah sampai. Berkat bantuan dari Pasukan Lowo Bengi, mereka dengan cepat membangun mendirikan tenda dan membangun rencana disana.


Melihat puluhan ribu prajurit mengepung kota Lwaram menjadi panik. Kenangan buruk saat kota itu di serang Prabu Airlangga masih membekas jelas dalam ingatan mereka. Dulu Prabu Airlangga juga menggunakan taktik perang Supit Urang seperti ini untuk melumpuhkan kota Lwaram saat masih berada dalam kekuasaan raja bawahan, Aji Wurawari.


"Kang, apa kau dengar bahwa bagian barat kota ini sudah di kepung oleh prajurit Panjalu?


Kenapa perasaan ku tidak enak ya dengan rencana Gusti Akuwu untuk menuntut kemerdekaan dari Panjalu?", ujar seorang lelaki bertubuh kurus dengan kumis yang memutih.


"Bukan hanya sebelah barat, tapi juga sebelah timur kota ini sudah di kepung puluhan ribu prajurit dari Panjalu.


Kejadian ini mengingatkan ku pada masa pemerintahan Aji Wurawari", si lelaki sepuh berjenggot panjang dengan ikat kepala hitam tampak seperti tengah memikirkan sesuatu.


"I-ini tidak boleh terulang lagi Kang...


Aku tidak mau sanak saudara ku menjadi korban ambisi dari orang yang tidak bertanggungjawab. Sekalipun kita para penduduk Lwaram hanya bisa mengikuti perintah Akuwu Wiryamukti, tapi bisa jadi kita di cap ikut memberontak terhadap pemerintah Panjalu karena berada di dalam kota", Si lelaki bertubuh kurus dengan kumis memutih menjawab dengan terbata-bata. Terbayang dalam benak nya bagaimana nanti perlakuan para prajurit Panjalu jika mereka ikut di cap sebagai pembangkang pemerintah.


"Akan ku cari cara agar kau keluar dari dalam benteng pertahanan, Karmo..


Sisanya cari markas pasukan Panjalu dan temui pemimpin tertinggi mereka. Ceritakan semua keadaan benteng ini", ujar si lelaki sepuh berjenggot panjang itu segera.


"Baik Kakang", ujar lelaki bertubuh kurus itu segera.


Dengan di bantu saudaranya, mereka berdua menipu para prajurit Lwaram yang bertugas di gerbang benteng pertahanan itu, Karmo berhasil keluar dari dalam kota Lwaram. Kemudian lelaki bertubuh kurus itu segera bergegas menuju ke arah perkemahan para prajurit Panjalu yang terletak di timur kota Lwaram.


Kedatangan Karmo sempat menimbulkan rasa curiga di kalangan para prajurit Panjalu yang tengah berjaga di sekitar tempat perkemahan mereka. Namun karena tidak melihat niat jahat di wajah Karmo mereka segera mengantarnya ke tenda besar yang ada di dalam perkemahan.


Panji Watugunung tengah bercakap-cakap dengan Senopati Warigalit dan Senopati Narapraja saat dua orang prajurit menghadap pada nya.


"Mohon ampun Gusti Prabu..


Ada seorang lelaki bernama Ki Karmo ingin menghadap pada Gusti Prabu. Katanya dia adalah salah seorang penduduk kota Lwaram", lapor sang prajurit sambil menghormat pada Panji Watugunung.


"Persilakan dia masuk", ujar Panji Watugunung segera.


Dua orang prajurit penjaga segera menghormat pada Panji Watugunung dan segera keluar dari tenda besar. Tak berapa lama kemudian mereka kembali dengan seorang lelaki sepuh bertubuh kurus.


Usai mereka menyembah, mereka segera duduk bersila di lantai tenda besar di hadapan Panji Watugunung, Senopati Warigalit dan Senopati Narapraja.


"Siapa nama mu Ki? Ada tujuan apa kau kemari?", tanya Panji Watugunung sambil menatap wajah sepuh Ki Karmo.


"Mohon ampun beribu ampun Gusti Prabu.


Hamba Ki Karmo, penduduk Kota Lwaram. Hamba bisa keluar dari dalam kota dengan bantuan kakak saya yang bernama Ki Ronggot.


Mewakili sebagian besar penduduk Kota Lwaram, hamba mohon agar pasukan Panjalu tidak membantai para penduduk Kota Lwaram. Kami semua terjebak oleh para penguasa kota yang ingin melakukan makar terhadap Kerajaan Panjalu sementara kami sudah merasa nyaman dengan pemerintah Panjalu yang sekarang.


Mohon itu Gusti Prabu Jayengrana pertimbangkan", jawab Ki Karmo dengan panjang lebar seraya menyembah pada Panji Watugunung.


Mendengar penuturan Ki Karmo, Panji Watugunung mengernyitkan keningnya.


"Kalau kalian ingin aku mempercayai bahwa kalian tidak mendukung upaya Akuwu Wiryamukti untuk berkhianat terhadap kerajaan Panjalu, apa kalian bisa memberikan bukti?", Panji Watugunung kembali bertanya.


"Mohon ampun Gusti Prabu,


Yang kami bisa berikan sebagai bukti bahwa kami masih setia dengan Kerajaan Panjalu adalah kami akan memberi tahu titik lemah maupun tempat tempat pertahanan prajurit Lwaram", mendengar jawaban itu Panji Watugunung tersenyum lebar.


Setelah menguraikan secara rinci tentang tembok benteng pertahanan prajurit Lwaram, Ki Karmo diijinkan untuk membantu para prajurit perbekalan yang di pimpin oleh Demung Gumbreg. Sedangkan Panji Watugunung beserta para perwira tinggi prajurit Panjalu mulai menyusun rencana untuk menggempur pertahanan para pemberontak Lwaram.


Keesokan paginya saat fajar mulai menyingsing di langit timur, bunyi nyaring terdengar dari tiupan terompet tanduk kerbau yang menandakan bahwa pasukan Panjalu mulai bergerak maju.


Thhhhuuuuuuuuuuuuuutttttttth!


Panji Watugunung membagi tugas diantara Senopati Narapraja yang memimpin pasukan bersamanya dari arah timur sedangkan Senopati Warigalit di bantu Jarasanda dan Tumenggung Landung menggempur pertahanan Lwaram dari arah Utara yang merupakan titik terlemah benteng pertahanan mereka. Pasukan Lowo Bengi yang bertugas untuk membawa perintah dari Panji Watugunung segera memberikan berita pada Senopati Tunggul Arga dan Tumenggung Sindupraja untuk mengepung benteng dari arah barat. Mereka bergerak cepat membentuk pola perang Wyuha Chandra yang mengepung benteng pertahanan Lwaram dari segala penjuru.


Saat mencapai titik terjauh anak panah dari benteng pertahanan, pasukan Panjalu berhenti. Para prajurit pejalan kaki yang menggunakan tameng besi segera membentuk pertahanan diri.


Di belakangnya, ribuan prajurit pemanah pimpinan Demung Rajegwesi segera bersiap untuk membidik benteng pertahanan prajurit Lwaram yang terbuat dari kayu kayu gelondongan sebesar betis orang dewasa.


Panji Watugunung segera menoleh ke arah prajurit yang bertugas meniup terompet tanduk kerbau.


Thuuuuuuuuutttttthhhh!!!


Demung Rajegwesi segera memberi isyarat kepada para prajurit pemanah untuk mencelupkan mata anak panah khusus ke dalam minyak jarak kemudian menyulutnya dengan api.


"Tembaaaakkkkkk.....!!!!!", teriak Demung Rajegwesi dengan lantang.


Ribuan panah berapi langsung melesat cepat kearah benteng pertahanan prajurit Lwaram.


Shrrriinnnggg shhhrriinggg!!!


Chhreepppppph crreepppphhh!


Perlahan kebakaran mulai terjadi di seputar benteng pertahanan prajurit Lwaram. Meski mendapat serangan panah berapi, pasukan Lwaram terus bertahan di dalam benteng pertahanan.

__ADS_1


Mereka terus berupaya untuk memberikan serangan balasan berupa serangan panah dari atas benteng pertahanan pada dua sisi, timur dan barat.


Sementara itu, para prajurit Panjalu yang dipimpin oleh Senopati Warigalit dan Tumenggung Landung menggempur pertahanan prajurit Lwaram dari arah Utara. Serangan kejutan mereka segera membuat kacau barisan pasukan Lwaram.


"Apa katamu? Mereka menyerang dari sisi Utara?", Akuwu Wiryamukti terperanjat mendengar laporan anak buah nya.


"Benar Gusti Akuwu,


Mereka berusaha membongkar pertahanan kita dengan membakar pagar yang kita buat", si prajurit melaporkan situasi yang tengah mereka hadapi.


"Kurang ajar!


Ini tidak bisa di biarkan. Semua ayo kita buka gerbang timur untuk menghadapi Jayengrana", teriak Dyah Wijayawarman sambil mengepalkan tangannya.


Para prajurit dari Suwarnadwipa langsung bergegas mengikuti langkah sang pemimpin menuju ke arah gerbang timur benteng pertahanan.


Dyah Wijayawarman segera memerintahkan kepada para prajurit Lwaram untuk untuk membuka pintu gerbang benteng pertahanan. Begitu benteng pertahanan prajurit Lwaram terbuka, para prajurit Lwaram langsung bergerak cepat menuju ke pasukan Panjalu yang langsung menyambut mereka dengan senjata terhunus.


Perang di Lwaram langsung pecah dengan sengit.


Mpu Danda langsung melesat cepat kearah pasukan Panjalu. Pria paruh baya berbadan kekar itu langsung menghantam kepala seorang prajurit Panjalu yang menghadang di depan nya.


Prrraaaakkkkkkk!!


Si prajurit langsung tersungkur dengan kepala pecah berlumur darah segar. Melihat itu, Senopati Narapraja yang berada di dekat Panji Watugunung segera melesat cepat kearah Mpu Danda sembari membabatkan pedang nya ke arah leher sang penasehat Dyah Wijayawarman.


Whhhuuuggghhhh...


Angin dingin berdesir kencang kearah leher Mpu Danda. Namun pria sepuh itu bukan pendekar kemarin sore. Namanya terkenal di dunia persilatan Sriwijaya dengan gelar Tangan Guntur dari Timur. Segera dia mengelak dari sabetan pedang Senopati Narapraja.


Kakek tua itu dengan cepat melayangkan hantaman keras kearah dada Senopati Narapraja. Perwira tinggi prajurit Panjalu itu dengan cepat melompat mundur.


Mpu Danda langsung melesat cepat mengejar ke arah Senopati Narapraja. Namun sabetan pedang Senopati Narapraja memaksa nya untuk berguling ke tanah menghindar.


Shrraaaakkkkhhhh...


Tebasan pedang Senopati Narapraja hanya menghajar udara kosong. Mpu Danda kembali melesat cepat sembari menghantamkan tangan kanannya yang berwarna hijau gelap. Bau busuk menyengat bercampur amis darah mengiringi selarik sinar yang keluar dari tangan Mpu Danda yang menerabas cepat kearah Senopati Narapraja.


Whuuussshh...


Senopati Narapraja terpaksa harus berguling ke tanah menghindari serangan Mpu Danda.


Blllaaammmmmmmm!


Ledakan keras terdengar saat sinar hijau gelap menghantam tanah tempat berpijak Senopati Narapraja.


Mpu Danda langsung melesat cepat kearah Senopati Narapraja. Perwira tinggi prajurit Panjalu itu pun tak mau kalah langsung menyongsong serangan Ajian Tapak Penghancur Sukma dari Mpu Danda.


Dhuuaaaaaaarrrrrr!!!


Ledakan keras terdengar saat dua ajian berbenturan. Mpu Danda terpental ke belakang begitu juga Senopati Narapraja. Mpu Danda langsung muntah darah kehitaman. Kakek tua itu segera berusaha keras untuk bangkit. Begitu berhasil, dia kembali melesat cepat kearah Senopati Narapraja yang masih terkapar.


Dengan tangan kanannya yang berwarna hijau gelap, Mpu Danda kembali melayangkan pukulan keras kearah Senopati Narapraja.


Saat yang genting itu, sebuah bayangan berkelebat cepat kearah Mpu Danda sambil mengayunkan pedangnya.


Chhrrrraaaaaassss!!


Aaaarrrgggggghhhhh!!!!


Mpu Danda menjerit keras saat tebasan pedang memotong lengan nya. Lengan kanannya jatuh ke tanah dan darah segar memancar keluar dari luka potong yang dia terima. Lelaki sepuh itu terhuyung mundur beberapa langkah sembari menotok jalan darah nya untuk menghentikan pendarahan.


"Keparat!


Berani nya membokong ku! Apa begini cara perwira Panjalu berperang?", maki Mpu Danda sambil meringis menahan rasa sakit pada luka nya.


"Aku bertugas untuk menjaga agar kawan-kawan ku tetap hidup dan mengabdi kepada negara ini, kakek tua..


Salahkan saja nasib buruk mu karena berpihak pada pemberontak", ujar bayangan hitam yang tak lain adalah Tumenggung Ludaka.


"Dasar keparat!


Jelas-jelas pengecut masih juga berdalih. Aku bunuh kau!", usai berkata demikian, Mpu Danda langsung melesat cepat kearah Tumenggung Ludaka sembari menghantamkan tangan kiri nya.


Selarik sinar hijau gelap merangsek maju ke arah Tumenggung Ludaka.


Whhhuuuusssssshhhhhh..


Dengan trengginas, Tumenggung Ludaka segera berkelit menghindar lalu melesat rendah sambil menyapu kaki Mpu Danda. Penasehat Dyah Wijayawarman itu segera melompat tinggi ke udara namun itulah yang di harapkan Tumenggung Ludaka.


Pemimpin Pasukan Lowo Bengi itu langsung merogoh kantong baju nya kemudian melemparkan 4 pisau kecil ke arah Mpu Danda yang masih di udara.


Shrrriinnnggg shhhrriinggg!


Kakek tua itu gelagapan dengan serangan senjata rahasia Tumenggung Ludaka. Dia memutar tubuhnya untuk menghindar pisau-pisau kecil itu. Namun sayangnya, dua pisau kecil itu berhasil menancap di pinggang dan paha kirinya.


Chhreepppppph crreepppphhh..

__ADS_1


Aaaarrrgggggghhhhh!!


Mpu Danda langsung turun dengan terhuyung huyung. Saat yang bersamaan, Tumenggung Ludaka melesat cepat kearah Mpu Danda sembari membabatkan pedang pendek nya kearah leher Mpu Danda.


Chhrrrraaaaaassss!!


Tanpa sempat bersuara, Mpu Danda tewas dengan kepala terpisah dari badannya. Tubuhnya roboh seketika itu juga.


Melihat lawan sudah tewas, Tumenggung Ludaka segera melesat cepat kearah Senopati Narapraja yang masih terduduk di tanah.


"Gusti Senopati Narapraja,


Sebaiknya kita menepi dari tempat ini", ujar Tumenggung Ludaka yang segera memapah Senopati Narapraja ke tepi medan pertempuran.


Di sisi lain, Dyah Wijayawarman yang menggunakan sebilah pedang terus mengayunkan pedangnya kearah para prajurit Panjalu. Satu persatu para prajurit Panjalu yang di hadapi nya tewas bersimbah darah. Kemampuan ilmu berpedang Dyah Wijayawarman memang diatas rata rata.


Panji Watugunung yang melihat pembantaian itu langsung melesat cepat kearah Dyah Wijayawarman usai menepuk punggung kudanya sebagai tumpuan untuk melompat.


Tangan kanannya yang berwarna merah menyala seperti api menghantam ke arah Dyah Wijayawarman.


Selarik sinar merah menyala seperti api menerabas cepat kearah pimpinan orang-orang Suwarnadwipa itu.


Whhhuuuusssssshhhhhh!!


Angin panas menyengat yang mengarah ke punggung Dyah Wijayawarman membuat lelaki itu segera melompat menghindari nya.


Blllaaammmmmmmm!!


Panji Watugunung segera mendarat di depan pimpinan pemberontak Lwaram itu sambil menatap tajam ke arah Dyah Wijayawarman.


"Siapa kau?


Kenapa ikut campur urusan ku ha?", bentak Dyah Wijayawarman segera. Matanya melotot lebar melihat kearah Panji Watugunung.


"Aku adalah Jayengrana, Raja Panjalu..


Aku hanya tidak suka kau membantai orang orang ku seenak perut mu", ujar Panji Watugunung segera.


"Oh jadi kau rupanya Raja Panjalu. Kebetulan sekali bertemu disini, jadi aku tidak perlu repot-repot mencari mu ke Daha.


Jayengrana,


Serahkan tahta kerajaan Mataram Lama yang di curi oleh Mpu Sindok leluhur mu. Aku adalah pewaris sah tahta kerajaan Mataram Lama. Hari ini aku menuntut pengembalian tahta", ucap Dyah Wijayawarman sambil menatap wajah Panji Watugunung.


"Apa aku tidak salah dengar?


Kau menuntut hak atas tahta kerajaan Mataram Lama? Kau pasang telinga mu baik-baik.


Mataram Lama sudah musnah. Leluhur mu memilih untuk kabur ke Suwarnadwipa daripada menyelamatkan rakyat yang tertimpa bencana. Leluhur ku Mpu Sindok bersusah payah untuk mendirikan kembali pemerintahan di Tanah Jawadwipa ini. Dan sekarang kau minta? Apa kau sudah tidak waras?


Tidak!


Wangsa Syailendra sudah musnah. Kerajaan Mataram Lama hanya tinggal sejarah. Kalau kau ingin berkuasa di Tanah Jawadwipa ini, langkahi dulu mayat ku", ujar Panji Watugunung dengan tegas. Mendengar jawaban itu, Dyah Wijayawarman mendengus keras sambil berkata,


"Akan ku rebut kembali kekuasaan Kerajaan Mataram Lama.


Kau bersiaplah untuk mati!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Yang masih setia dengan BNL mana suaranya? 😁😁😁😁🙏🙏🙏✌️✌️✌️

__ADS_1


__ADS_2