
**
Para pandita dan Resi mengucapkan mantra mantra puja Dewa Siwa. Bau harum menyeruak dari kepulan asap kemenyan yang di bakar. Setanggi pun turut menebar asap wangi di sekitar tempat upacara.
Aneka bunga wangi seperti mawar, melati, dan kenanga terus di taburkan oleh dayang istana pada sepasang pengantin yang duduk memakai kain putih serta sumping bunga kamboja pada telinga kiri.
Dang Acharya ring Kasaiwan atau Pejabat Pemuka Agama Siwa keraton Kawali terus menggerakkan tangannya yang memegang lonceng kecil saambil mengucapkan mantra doa. Lonceng kecil itu berdenting menambah suasana sakral dalam upacara pernikahan itu.
Tingg..
Tingg..
Prabu Darmaraja didampingi permaisuri Dewi Manikmaya dan keempat selirnya tampak tegang mengikuti jalannya upacara. 5 putra dan putri nya dari selir ikut mendampingi sang Raja Galuh Pakuan. Pangeran Langlangbumi, sang putra mahkota kerajaan Galuh Pakuan juga hadir bersama istri dan putranya. Resi Buyut Gunung Galunggung ikut berdoa dengan khusyuk membaca mantra mantra puja, di dampingi belasan murid Perguruan Gunung Galunggung.
Puluhan pejabat tinggi istana tampak duduk di belakang barisan Prabu Darmaraja dan keluarga nya. Beberapa Adipati nampak hadir di upacara pernikahan itu.
Dang Acharya ring Kasaiwan lalu berdiri, mengambil air suci yang sudah di doakan para brahmana, pertapa dan pandita. Dengan setangkai daun, dia mencipratkan air suci sambil mengelilingi Panji Watugunung dan Dewi Naganingrum yang duduk berdampingan sambil menangkupkan tangan di depan dada.
Usai ritual itu, Panji Watugunung dan Dewi Naganingrum lalu berdiri menuju sanggar pamujan sebagai akhir ritual upacara pernikahan mereka. Mereka kemudian bersujud kepada Lingga Yoni sebagai tanda tunduk pada kehendak Sang Siwa.
Kemudian mereka berdua segera menuju depan Prabu Darmaraja dan bersujud untuk pemberkatan pernikahan. Prabu Darmaraja segera mengangkat tangan dua orang itu. Setelah berdiri tegak, Prabu Darmaraja mengambil sujumput kapur putih kemudian dengan tiga jarinya mengoles dahi Panji Watugunung dan Dewi Naganingrum.
Usai itu dengan haru, dia memeluk tubuh putri bungsu dan menantunya itu segera.
Tepuk tangan terdengar meriah menandai berakhirnya upacara pernikahan putri bungsu Prabu Darmaraja, Dewi Naganingrum dengan pemuda dari Panjalu, Panji Watugunung.
Hiburan musik dan tari memeriahkan acara hari itu.
Aneka hidangan khas istana Kawali tersaji di meja makan.
"Selamat atas pernikahan mu murid ku. Kini kau benar benar menemukan sosok suami sempurna seperti yang kamu harapkan", ujar Resi Buyut Gunung Galunggung sambil tersenyum saat mendekati Dewi Naganingrum dan Panji Watugunung.
"Ah guru membuat ku malu saja,
Oh iya mana hadiah yang guru janjikan kepada ku?", tanya Dewi Naganingrum yang memang sedikit manja pada guru nya yang sudah dia anggap kakeknya sendiri.
Resi Buyut Gunung Galunggung tersenyum simpul kemudian merogoh kantong bajunya dan mengeluarkan sebuah batu berwarna merah menyala.
"Apa ini guru? Kog batu berwarna merah?", tanya Dewi Naganingrum penasaran. Panji Watugunung yang duduk di sampingnya hanya melirik sebentar pada batu di tangan Dewi Naganingrum kemudian dia menoleh lagi.
"Itu batu merah delima. Pakailah sebagai kalung. Itu akan melindungi mu dari serangan sihir yang keji", ujar Resi Buyut Gunung Galunggung sambil mengelus kepala Dewi Naganingrum.
Ketiga selir Panji Watugunung hanya menatap ke arah Panji Watugunung yang sedang duduk bersanding di pelaminan. Terlihat wajah Sekar Mayang yang tidak senang. Sedangkan Ratna Pitaloka dan Dewi Srimpi terlihat biasa saja.
Trajutrisna yang tidak pernah menikmati makanan dari istana, begitu semangat mencoba pelbagai jenis masakan yang disajikan.
"Lawana,
Ayo kita makan sepuasnya", ujar Trajutrisna sambil memegang piring yang sudah penuh dengan aneka lauk pauk. Nyaris tak ada tempat untuk menaruh lauk lagi.
"Kau makan saja. Melihat cara mu makan, aku langsung kenyang", jawab Lawana sambil menjauh. Dia malu dengan ulah kampungan Trajutrisna.
"Huh dasar angkuh..
Antos lamun kalaparan, rasakeun sorangan balukarna", gerutu Trajutrisna sambil menyambar paha ayam kemudian menumpuk di piring nya.
Menjelang sore, Tumenggung Rumpaksana sampai di Kawali setelah menempuh perjalanan hampir 2 hari 1 malam tanpa berhenti.
Melihat suasana di kota Kawali yang seperti baru melakukan perayaan, ada beberapa pertanyaan yang melintas di benak Tumenggung Rumpaksana. Apalagi penjor janur kuning melengkung itu terlihat seperti yang di pakai untuk acara pernikahan.
Di depan gerbang istana Raja, para prajurit masih memakai sumping bunga kamboja sebagai tanda mereka masih dalam suasana acara. Segera Tumenggung Rumpaksana turun dari kudanya diikuti oleh para pengikutnya.
"Sampurasun,
Saya utusan Paguhan. Ingin bertemu dengan Gusti Prabu Darmaraja", ujar Tumenggung Rumpaksana sambil menunjukkan lencana perak bergambar kembang cempaka pada prajurit penjaga gerbang istana.
Prajurit penjaga gerbang istana segera berbisik pada kawan nya, setelah temannya mengangguk, dia berkata dengan tegas.
"Kau tunggu disini, aku akan bertanya kepada Gusti Prabu Darmaraja apakah bersedia menerima tamu saat ini".
__ADS_1
Usai berkata, sang prajurit berlari masuk ke dalam istana Kawali.
Di ruang pribadi raja, Prabu Darmaraja sedang duduk bersama dengan Resi Buyut Gunung Galunggung, Pangeran Langlangbumi, Patih Ranawijaya, Panji Watugunung dan Dewi Naganingrum saat sang prajurit penjaga masuk.
"Mohon ampun Gusti Prabu,
Seorang utusan dari Paguhan ingin bertemu", ujar sang prajurit setelah menyembah kepada Prabu Darmaraja.
Hemmmm
"Persilakan dia masuk", ujar Prabu Darmaraja segera.
Tak berapa lama kemudian, Tumenggung Rumpaksana diiringi 2 bekel prajurit masuk ke dalam ruang pribadi raja diantar sang prajurit penjaga.
Tumenggung Rumpaksana menyembah, kemudian duduk bersila di lantai serambi ruang pribadi raja.
"Mohon ampun Gusti Prabu,
Hamba Rumpaksana, tumenggung dari Paguhan. Ingin menghaturkan nawala ini untuk Gusti Prabu", ujar Tumenggung Rumpaksana sambil mengangkat nawala dengan kedua tangannya. Patih Ranawijaya segera berdiri dari tempat duduknya dan mengambil surat itu kemudian menyerahkan pada Prabu Darmaraja.
Lalu dengan cepat, Prabu Darmaraja membaca surat dari daun lontar. Mukanya mengkerut seketika.
"Apa maksudnya Gandakusuma mengirim pesan seperti ini Tumenggung Rumpaksana?", tanya Maharaja Galuh Pakuan itu sambil menatap tajam ke arah Tumenggung Rumpaksana.
"Paguhan membutuhkan bantuan dari Galuh Pakuan, Gusti Prabu untuk mewujudkan cita-cita menjadi negeri merdeka.
Sumber daya Paguhan sudah di hancurkan oleh Kalingga. Maka jika Daha menyerbu Paguhan, maka pasti kami tidak akan bertahan lama", ujar Tumenggung Rumpaksana sambil menyembah. Pria muda itu terlihat sangar dengan kumis dan jambang tebalnya.
"Dengar hai utusan dari Paguhan.
Daerah mu adalah wilayah yang sudah di gariskan sejak raja raja sebelum aku menjadi wilayah Daha. Urusan Paguhan bukan urusan Galuh Pakuan meski Gandakusuma adalah saudara jauh ku.
Apalagi sekarang, Galuh juga memiliki hubungan kekerabatan dengan Daha, jadi kami tidak akan pilih kasih membantu salah satunya", ujar sang Prabu Darmaraja tegas.
"Apa maksudnya memiliki kekerabatan dengan Daha Gusti Prabu?", tanya Tumenggung Rumpaksana penasaran.
Maharaja Galuh Pakuan itu segera tersenyum.
Tumenggung muda itu segera menoleh ke arah Panji Watugunung. Dalam hati dia kesal karena perjalanan nya ke Galuh Pakuan menjadi sia sia karena pemuda itu.
"Akan hamba sampaikan berita ini pada Gusti Gandakusuma.
Hamba mohon diri Gusti Prabu", ujar Tumenggung Rumpaksana sambil menyembah kepada Prabu Darmaraja kemudian mundur dari serambi ruang pribadi raja.
Malam itu Panji Watugunung bermalam di saung khusus untuk mereka di Puri Keputran Kawali di temani Dewi Naganingrum.
Pagi menjelang tiba di istana Kawali.
Usai bersiap-siap, Panji Watugunung dan Dewi Naganingrum segera bersujud kepada Prabu Darmaraja dan Dewi Manikmaya untuk berpamitan.
"Watugunung,
Ku titipkan Putri kesayangan ku agar kau jaga dia seperti kau menjaga tubuh mu sendiri.
Kalau sampai aku mendengar kau membuat putri ku menderita, aku tidak segan-segan menabuh genderang perang melawan Panjalu untuk menghajar mu", titah sang Maharaja Galuh Pakuan dengan cepat.
"Ayahanda Prabu Darmaraja tidak perlu khawatir,
Akan ku jaga Dinda Naganingrum seperti menjaga daun telinga ku. Watugunung mohon pamit, mohon doa restu dari ayahanda", Panji Watugunung segera menyembah kepada Prabu Darmaraja dan Dewi Manikmaya.
Rombongan Panji Watugunung yang bertambah satu orang, meninggalkan istana Kawali menuju ke arah Kadipaten Madangkara di selatan.
**
Pasukan Daha bergerak cepat menuju Kalingga. Setelah sepekan melakukan perjalanan, mereka sampai di perbatasan Lasem dan Kalingga.
Setelah semalam berkemah di tepi sungai kecil itu, pagi itu mereka mulai membongkar tenda untuk bersiap melanjutkan perjalanan.
Warigalit berdiri di samping tepi sungai kecil, menatap ke langit barat. Rambutnya yang panjang berkibar tertiup angin lembah. Senopati Narapraja mendekati nya.
__ADS_1
"Saudara Warigalit,
Apa yang kau pikirkan?", ujar Senopati Narapraja sambil memandang wajah Warigalit.
"Maaf Gusti Senopati,
Saya khawatir dengan keadaan Dhimas Panji Watugunung. Saya dengar daerah kulon penuh dengan pendekar sakti", Warigalit menghela nafas panjang.
"Tapi aku percaya pada Gusti Pangeran, saudara Warigalit. Gusti Pangeran Panji Watugunung itu bukan pendekar kacangan yang mudah kalah.
Sangat sulit menemukan sosok yang mampu menandingi kemampuan kanuragan nya", ujar Senopati Narapraja sambil menepuk pundak Warigalit.
"Saya tahu itu, Gusti Senopati", jawab Warigalit sambil tersenyum tipis.
Sementara itu, Gumbreg yang mendapat tugas untuk memimpin pasukan perbekalan dengan berkacak pinggang berteriak lantang.
"Ayo cepat, waktu kita tidak banyak.
Jangan terlalu bersantai".
Semua prajurit Daha berusaha secepat mungkin mengemas tenda dan perlengkapan masak mereka ke dalam kereta kuda.
"Enak sekali kau main perintah, harusnya kau bantu mereka Mbreg", ujar Ludaka yang berdiri di samping kawan nya itu.
"Woo ya jelas, jadi pemimpin itu ya begini. Main tunjuk urusan beres. Gagah dan berwibawa", Gumbreg menepuk-nepuk telapak tangannya sambil tersenyum penuh arti.
"Untung mereka tidak tahu ya. Kalau sampai tau, mereka pasti tidak takut dengan mu lagi", Ludaka menggelengkan kepalanya.
"Tau apa Lu?", Gumbreg langsung menoleh ke arah Ludaka.
"Ya tau kalau pemimpinnya itu suami takut istri.
Sebentar sebentar tidur di luar rumah karena diamuk istrinya", ujar Ludaka sambil melangkah pergi.
Gumbreg melotot ke arah Ludaka.
"Awas jika mulut mu ember"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya guys 😁😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya
__ADS_1
Selamat membaca guys 😁😁😁🙏😁🙏