Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Teman Seperjalanan


__ADS_3

Ratna Pitaloka tersenyum manis menatap wajah Panji Watugunung yang terlihat masih capek.


"Lain kali Dinda,


Kita harus memulihkan kembali tenaga para prajurit dan menata ulang kembali kehidupan di Muria", jawab Watugunung sambil tersenyum tipis.


"Bukan pesta perayaan kemenangan kita Kakang, tapi pesta kita berempat", jawab Ratna Pitaloka dengan merona merah wajah nya.


"Ceu Pitaloka,


Akang Kasep pasti masih capek ya. Kita tunda pesta nya nanti kalau sudah pulang ke Katang-katang saja atuh", sahut Dewi Naganingrum yang ikut menyambut kedatangan Panji Watugunung.


Ratna Pitaloka segera menoleh ke arah Dewi Srimpi, tapi melihat Dewi Srimpi menggelengkan kepalanya, selir pertama Panji Watugunung itu segera berkata.


"Baiklah,


Aku ikut saran kalian. Tapi ada syaratnya Kakang. Nanti pulang aku ingin ke Tapan mengunjungi makam ibu dan ayahku", Ratna Pitaloka menatap wajah Panji Watugunung seakan meminta jawaban.


Sambil tersenyum simpul, Panji Watugunung menganggukkan kepalanya.


Wajah cantik Ratna Pitaloka langsung sumringah seketika. Dia sudah lama ingin berziarah ke makam ibundanya di Tapan, namun nyaris tidak ada waktu karena kesibukan membantu Panji Watugunung menyelesaikan tugas nya sebagai yuwaraja Panjalu.


Suasana di istana Kadipaten Muria mulai berangsur membaik.


Hampir sepekan, Panji Watugunung dibantu Senopati Narapraja dan Maitreya melakukan pembenahan besar besaran di dalam istana Kadipaten Muria.


Para prajurit Kadipaten Muria yang menyerah, di pindahkan ke Kadipaten Lasem untuk memberikan rasa aman bagi semua pihak.


Sedangkan untuk mengisi kekosongan keprajuritan, selain menerima prajurit baru, Panji Watugunung menempatkan 500 prajurit Kadipaten Lasem sebagai penjaga sementara.


Beberapa pembesar istana Kadipaten diangkat untuk menjalankan roda pemerintahan. Mereka merupakan Akuwu dari beberapa wilayah Muria yang sudah bersumpah setia pada Panjalu.


Sebagai Yuwaraja, Panji Watugunung memang berhak mengangkat pejabat istana mewakili Gusti Prabu Samarawijaya.


Tepat sepekan setelah peristiwa berdarah itu Balapati datang ke Muria. Di temani oleh wakil pimpinan pasukan Garuda Panjalu Utara, mereka menghadap pada Panji Watugunung di balai paseban Kadipaten Muria.


"Ada apa kau kesini, saudara Balapati?


Apa kau ingin menuntut balas atas kematian ayah dan Paman mu?", tanya Panji Watugunung yang segera menatap wajah Balapati.


"Ampun Gusti Pangeran,


Kedatangan hamba kemari semata mata hanya ingin melihat keadaan ibunda hamba Gusti Pangeran.


Tidak ada niat atau keinginan untuk membalas dendam. Dari awal Ayahanda Ratnapangkaja sudah hamba peringatkan agar tidak mengikuti anjuran paman Ranggawangsa. Namun ayahanda tidak menggubris perkataan hamba sama sekali. Malah hamba diusir dari Muria oleh beliau", ujar Balapati sambil menghormat.


Hemmmm


"Ibu mu baik baik saja, saudara Balapati. Dia tetap di dalam istana Kadipaten ini.


Walaupun kau tidak terlibat dalam masalah ini, tapi kau sebagai putra nya harus ikut bertanggung jawab.


Apa kau sanggup saudara Balapati??", Panji Watugunung menatap tajam ke arah Balapati.


"Hamba siap di hukum Gusti Pangeran jika memang dianggap ikut bersalah karena perbuatan ayah hamba", Balapati langsung menunduk.


Mendengar jawaban Balapati, Panji Watugunung tersenyum tipis.


"Baiklah,


Sebagai anggota pasukan Garuda Panjalu, kau harus bersikap layaknya seorang ksatria, Saudara Balapati.


Aku menjatuhkan hukuman untuk mu untuk menjaga Kadipaten Muria ini sampai akhir hayat mu", mendengar ucapan Panji Watugunung, Balapati yang sudah pasrah menerima hukuman, langsung terperangah.


"Apa maksud ucapan Gusti Pangeran?", tanya Balapati dengan kebingungan.


"Kau akan ku angkat menjadi Adipati Muria, namun dengan syarat", jawab Watugunung sambil tersenyum tipis.


"Apa syaratnya Gusti Pangeran?", Balapati sangat penasaran.


"Selama satu warsa, kau harus bersikap patuh pada perintah ku. Setiap 3 purnama sekali kau harus datang ke Istana Katang-katang sebagai tanda kepatuhan mu pada ku.


Upeti dan pajak bumi tetap kau haturkan ke Daha. Prajurit Muria tidak boleh lebih dari 2 ribu prajurit. Dan aku akan menempatkan seorang Demung yang akan mengawasi mu selama 1 warsa ini.


Jika kau bisa melakukan hal ini, aku akan mengangkat mu menjadi Adipati Muria.


Satu hal lagi, kau harus bersumpah setia pada Panjalu", Panji Watugunung menatap wajah Balapati.


"Apapun syarat dari Gusti Pangeran hamba terima. Terimakasih sudah mengampuni nyawa hamba", Balapati langsung bersujud kepada Panji Watugunung.


Dan demikianlah, Balapati akhirnya di lantik menjadi Adipati Muria menggantikan peran ayah nya. 3 setelah pengangkatan, Pasukan Daha mulai meninggalkan istana Kadipaten Muria.


Panji Watugunung meminta Warigalit memimpin Pasukan Garuda Panjalu untuk ke kembali ke Sanggur sedangkan dia dan ketiga istrinya akan ke Tapan untuk mengunjungi makam orang tua Ratna Pitaloka.


Usai kapal besar yang mereka tumpangi merapat di pelabuhan Yuwana, dengan pakaian menyamar, mereka berempat memacu kuda mereka menuju Kadipaten Bojonegoro yang merupakan wilayah Jenggala.

__ADS_1


Setelah memacu kuda setengah hari, mereka sampai di Pakuwon Bulu yang merupakan batas wilayah Jenggala dan Panjalu.


Di tepi hutan kecil dengan sungai kecil yang menjadi batas nya mereka berhenti sejenak.


"Kakang,


Kita bermalam disini saja. Aku lelah", ujar Ratna Pitaloka yang memang terlihat lelah.


Mendengar suara itu, Panji Watugunung segera menarik tali kekang kudanya. Mereka kemudian segera turun dari kuda dan menambatkan nya pada pohon perdu di tepi hutan kecil itu.


Ratna Pitaloka mengumpulkan kayu kering untuk membuat api unggun, sedang Naganingrum menata tempat tidur untuk mereka berlindung malam ini. Di tambi pohon besar, menjadi tempat tidur mereka.


Semua itu, Panji Watugunung dan Dewi Srimpi bergerak cepat menuju dalam hutan kecil untuk mencari sesuatu yang bisa mengganjal perut mereka.


Dua ekor ayam hutan sedang asyik mengorek dedaunan.


Panji Watugunung segera melempar dua buah kerikil yang dilambari tenaga dalam.


Sringggg sringgg..


Pletak!


Dua ekor ayam hutan itu langsung terkapar tak bernyawa. Panji Watugunung segera memungut 2 ekor ayam hutan itu dan mengikat kaki mereka dengan tali dari tumbuhan merambat.


'Ini sudah cukup untuk mengganjal perut', gumam Panji Watugunung sambil melangkah menuju ke tempat mereka bermalam. Dari arah belakang, Dewi Srimpi juga membawa 3 ekor ayam hutan yang sudah dicabut bulu nya.


Ratna Pitaloka segera membersihkan ayam hutan itu di sungai kecil yang ada di dekat tempat mereka bermalam.


Setelah bersih, segera dia berikan pada Panji Watugunung untuk di panggang karena Naganingrum sudah menyalakan api ke ranting kayu kering.


Senja kemerahan baru saja menghilang di langit barat, berganti gelap malam yang berhias bintang.


Aroma wangi ayam panggang tercium oleh dua orang yang kebetulan lewat. Dari kejauhan mereka melihat api unggun yang menyala terang di bawah pohon besar di tepi hutan. Segera dua orang itu bergegas menuju ke arah api unggun.


Panji Watugunung yang tajam pendengarnya, segera menoleh ke arah suara langkah kaki kuda yang mendekati mereka.


Setelah dekat, baru kelihatan kalau mereka adalah seorang wanita paruh baya yang rambutnya di gelung dengan pakaian berwarna biru. Satu lagi seorang gadis muda yang cantik dengan baju biru muda.


Dilihat dari sudut manapun, mereka jelas adalah pendekar. Ada pedang bergantung di pinggang kedua orang itu.


"Permisi Kisanak,


Bolehkah kami ikut berdiang disini? Kami kemalaman di tempat ini", ujar si wanita paruh baya dengan sopan.


"Silahkan Nyai..


Ketiga istri Panji Watugunung juga memberi ruang untuk mereka berdua. Panji Watugunung yang selesai memanggang 2 ekor ayam hutan itu segera menyerahkan pada Ratna Pitaloka dan Naganingrum.


Kriiuuukkkkk


Terdengar bunyi perut dari si gadis cantik berbaju biru muda. Muka si gadis berbaju biru langsung memerah menahan malu.


Panji Watugunung tersenyum tipis dan menyerahkan seekor ayam hutan yang sudah matang kepada gadis itu.


"Ini untuk mengganjal perut kalian nisanak. Maaf hanya ini yang bisa kami berikan kepada kalian", ujar Panji Watugunung segera.


"Terimakasih kisanak. Maaf kami merepotkan kalian saja", ujar si wanita paruh baya itu sambil tersenyum tipis.


"Sudahlah Nyai, sesama pengelana wajib saling membantu.


Oh iya, kalian hendak kemana Nyai?


Perkenalkan, Aku Watugunung, ini Pitaloka, itu Naganingrum dan yang berbaju putih itu Srimpi", Panji Watugunung memperkenalkan dirinya.


"Nama ku Nyai Sati, ini murid ku Rara Wulan. Kami dari Perguruan Bukit Wadang di barat perbatasan Lwaram.


Tujuan kami adalah ke Kambang Putih yang menjadi ibukota baru Bojonegoro", jawab perempuan paruh baya yang bernama Nyai Sati.


"Apakah daerah Tapan searah dengan arah mereka Dinda Pitaloka?", tanya Panji Watugunung pada Ratna Pitaloka yang asyik mengunyah daging ayam hutan panggang.


"Iya Kakang, itu memang searah. Kambang Putih ada di timur Tapan", jawab Ratna Pitaloka sambil terus makan.


"Bagaimana kalau kita berjalan bersama Nyai? Kalau sudah sampai di Tapan, kita berpisah", tawar Panji Watugunung pada Nyai Sati. Perempuan paruh baya itu nampak berpikir sejenak, kemudian dia mengangguk tanda setuju.


Malam itu mereka berbincang hangat. Saat malam semakin larut, Panji Watugunung segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang sudah di tata Naganingrum. Ketiga istrinya segera berebut untuk tidur di pelukan sang suami.


Nyai Sati dan Rara Wulan melongo melihat kejadian itu.


Malam berganti pagi. Suasana begitu cerah dengan suara burung berkicau di pepohonan hutan kecil.


Panji Watugunung yang baru membasuh muka dengan air sungai kecil itu. Benar benar terasa segar. Ketiga istrinya juga ikut membersihkan diri mereka.


Usai merapikan pakaian dan perbekalan, Panji Watugunung dan ketiga istrinya beserta Nyai Sati dan Rara Wulan segera meninggalkan tempat itu. Mereka menyusuri jalan setapak di tepi hutan kecil itu menuju wilayah Bojonegoro barat, Pakuwon Manik.


Di kota pakuwon mereka masuk ke sebuah rumah makan. Mereka segera menuju sebuah meja makan yang kosong.

__ADS_1


Seorang pelayan segera mendekati mereka.


"Mau pesan apa kisanak?", tanya si pelayan dengan ramah.


"Berikan kami makanan yang enak kisanak. Apa saja yang penting enak", ujar Panji Watugunung segera. Si pelayan segera mundur menuju dapur.


Seorang lelaki muda berpakaian mewah, masuk ke rumah makan diiringi oleh 2 orang tua berpakaian serba hitam.


Melihat kedatangan mereka, para pelanggan warung makan itu segera menghambur keluar dari tempat itu.


"Hai, kenapa kalian masih disini?


Cepat keluar atau kau akan kami lempar keluar", ujar si kakek berjanggut putih itu sambil mendelik tajam kearah Panji Watugunung dan rombongannya yang tidak beranjak dari tempat duduknya.


"Kami ingin makan. Kami sudah memesan makanan. Apa salahnya jika kami menunggu pesanan kami?", jawab Nyai Sati acuh tak acuh.


"Nenek sinting,


Berani sekali kau berkata seperti itu kepada kami. Apa kau tidak tahu siapa kami?", si kakek tua berkumis tebal ikut bicara.


"Memang siapa kalian, hingga begitu jumawa disini?", tanya Nyai Sati dengan suara keras. Kali ini perempuan paruh baya itu berdiri dari tempat duduknya.


"Kami adalah Sepasang Setan Putih. Apa kau sudah takut mendengar nama kami?", teriak si kakek berjanggut putih itu dengan cepat.


Phuihhh


"Hanya dua cecunguk dari Padepokan Bukit Gandarwa. Apa yang perlu aku takutkan?", cibir Nyai Sati dengan senyum menghina.


"Nenek busuk,


Mulut mu perlu di robek rupanya", teriak Setan Kumis Putih yang segera melesat cepat menuju Nyai Sati. Teman seperjalanan Panji Watugunung itu segera bersiap untuk bertarung.


Dengan cepat Nyai Sati menendang kursi yang ada di dekat nya. Kursi langsung melayang cepat kearah Setan Kumis Putih yang tengah melesat kearah Nyai Sati. Melihat itu, tangan kanan Setan Kumis Putih langsung menghantam kursi kayu itu.


Bruakkk


Kursi kayu langsung hancur berkeping-keping saat di hantam pukulan Setan Kumis Putih. Nyai Sati dengan cepat langsung melayangkan pukulan kearah kepala Setan Kumis Putih.


Whussss


Setan Kumis Putih segera menghindar dengan cepat. Jual beli pukulan segera terjadi antara mereka berdua. Beberapa meja dan kursi rumah makan sudah hancur berantakan akibat pertarungan mereka.


Setan Kumis Putih segera melayangkan pukulan keras mengincar dada Nyai Sati, namun perempuan paruh baya itu berkelit ke samping lantas melepaskan tendangan keras ke arah perut Setan Kumis Putih.


Bukkkkk


Oughhh


Setan Kumis Putih langsung terpental ke belakang dan menabrak meja makan dengan keras.


Brakkkk


Setan Jenggot Putih segera mendekati adiknya yang muntah darah segar. Melihat itu, Setan Janggut Putih murka.


"Nenek tengik,


Kubunuh kau!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁

__ADS_1


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya agar author terus semangat menulis 😁😁😁


Selamat membaca 🙏🙏


__ADS_2