
Senopati Warigalit dengan cepat menangkupkan kedua telapak tangan di dada lalu mendorong kedua telapak tangan di depan wajah, begitulah cara menyembah pada seorang raja.
Usai perintah di berikan pada seluruh punggawa maka pisowanan agung segera di bubarkan.
Semua orang bergegas menuju ke tempat masing-masing dimana tugas dan wewenang mereka menanti.
Hanya nampak seorang punggawa Istana Daha yang terlihat tengah memikirkan sesuatu hal. Pria sepuh itu nampak mengelus kumis dan jenggotnya yang bercampur uban. Karena tak memandang jalan yang di lalui usai keluar dari Balai Paseban Agung, kakek tua itu menabrak seorang prajurit penjaga gerbang istana Daha.
Brrruuukkk..
Si lelaki tua yang tak lain adalah Mpu Rikmajenar, Rakryan Mahamantri Kanuruhan, jatuh terjengkang.
"Aduuuuhhhh...!", rintih orang tua itu sambil memegang pantatnya yang sakit.
"Walah Gusti Mahamantri,
Kog bisa jatuh ya?", tanya si prajurit penjaga gerbang berbadan gempal yang di tabrak oleh Mpu Rikmajenar. Dia segera menaruh tameng dan tombaknya ke bawah gapura lalu menolong Mahamantri Mpu Rikmajenar segera.
"Kau ini, badan besar malah di tengah jalan. Menghalangi jalan orang, tahu!", gerutu Mpu Rikmajenar sambil berdiri dari tempat jatuhnya. Pria sepuh itu menepuk-nepuk jarit nya yang kotor terkena tanah.
Si prajurit penjaga gerbang hanya diam saja tak menjawab omongan Mpu Rikmajenar. Sebab kalau sampai menjawab bakal panjang urusan nya. Karena bagaimanapun seorang prajurit penjaga gerbang akan tetap kalah dari seorang Rakryan Mahamantri Kanuruhan.
Mpu Rikmajenar segera berdiri tegak sambil menunjuk ke arah si prajurit penjaga gerbang itu.
"Lain kali, kalau berjaga jangan di tengah jalan. Untung hanya aku yang jatuh jadi kau selamat. Coba kalau punggawa yang lain, sudah di hukum kau.
Apa kau mengerti?", ucap Mpu Rikmajenar yang tetap menyalahkan si prajurit penjaga gerbang istana.
"Hamba mengerti Gusti Mahamantri", ujar si prajurit penjaga gerbang istana Daha itu dengan patuh.
Sambil bersungut-sungut, Mahamantri Mpu Rikmajenar meninggalkan pintu gerbang istana menuju ke kediaman nya di sisi timur istana Daha.
Si prajurit penjaga gerbang istana hanya mengelus dada sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan pejabat tinggi itu.
Mpu Rikmajenar segera mendudukkan diri di kursi kayu di serambi kediaman nya. Lelaki sepuh itu tampak terus memikirkan sesuatu yang mengganjal pikiran nya. Tiba tiba dia ingin menulis surat untuk keponakannya di Pakuwon Campaka di Kadipaten Lasem. Segera lelaki bertubuh gempal itu memanggil pengalasan atau abdi pribadinya.
"Jong Bajong...
Kemari kau", ucap Mpu Rikmajenar sedikit keras.
"Sendiko dawuh Gusti Mahamantri, ada tugas untuk hamba?", ujar Bajong, lelaki bertubuh gemuk pendek itu segera mendekat kepada Mpu Rikmajenar.
"Ambilkan aku daun lontar dan tinta tulis. Jangan lupa pena bulu nya", perintah Mpu Rikmajenar dengan cepat. Mendengar perintah dari junjungannya, Pengalasan Bajong segera bergegas menuju ke belakang. Tak perlu waktu lama, Bajong sudah kembali dan membawa apa yang diminta oleh Mpu Rikmajenar.
Perlahan Mpu Rikmajenar menarik kursi kayu nya ke dekat meja yang ada disana. Lalu kakek tua itu mulai menulis surat kepada keponakannya di Pakuwon Campaka.
Usai menulis, Mpu Rikmajenar memasukkan daun lontar ke dalam kantong kain berwarna hitam. Lalu menyerahkan kantong kain itu pada Bajong.
"Dengar Jong..
Antar surat ini kepada Akuwu Campaka. Jangan sampai orang lain tahu mengenai surat ini ataupun isi surat ini selain Martayuda, Akuwu Campaka.
Berangkatlah sekarang dan ini untuk bek perjalanan mu", perintah Mpu Rikmajenar seraya melemparkan sekantong sedang kain hitam.
Bajong segera menangkap kantong kain hitam itu. Buru buru dia membuka kantong untuk melihat isinya. Begitu melihat puluhan kepeng perak di dalam kantong kain hitam itu, mata Bajong langsung melebar. Belum pernah dia melihat uang sebanyak itu.
Segera Bajong menghormat pada Mahamantri Mpu Rikmajenar lalu bergegas menuju ke kandang kuda. Di temani Sampung dan Gombang, Bajong memacu kudanya menuju ke arah Kadipaten Lasem.
Berbekal beberapa pasang pakaian dan duit beberapa puluh kepeng perak, Bajong dan kedua temannya terus menggebrak kudanya. Usai melewati Pakuwon Watugaluh, mereka menyeberangi sungai Brantas dengan menumpang perahu dari dermaga Wanua Klakah. Mereka menggebrak kudanya ke Utara.
**
Di Utara Istana Daha, Demung Gumbreg tampak sibuk mengarahkan para prajurit perbekalan. Ya, semenjak Panji Watugunung dinobatkan sebagai penguasa Panjalu, Gumbreg memang ikut pindah bertugas di Daha atas permintaan Panji Watugunung. Sementara rumah dan keluarga nya ada di Kadiri. Dia tidak mau memindahkan Juminten, Besur dan Wirama ke Daha karena keluarga nya terlanjur kerasan di Kadiri. Untungnya jarak Daha dan Kadiri hanya dipisahkan oleh 4 wanua jadi Gumbreg bisa bolak balik pulang ke Kadiri dengan cepat.
"Leng,
Coba kau hitung berapa banyak tumpukan padi di pedati yang itu.. Bila sudah selesai, kamu jumlahkan semuanya ya", perintah Demung Gumbreg pada Weleng bawahannya sambil menunjuk sebuah pedati besar yang di tarik oleh 2 ekor sapi besar.
Weleng segera menjalankan tugas dengan teliti. Pria bertubuh gempal itu nampak serius menghitung ikatan demi ikatan padi dibantu oleh Widarba.
Sementara Weleng dan Widarba asyik menghitung, lain halnya dengan Gubarja yang memanggul untaian jagung kering ke dalam sebuah pedati lainnya.
Di bantu 30 prajurit dan pengangkut, mereka terus mengebut persiapan perbekalan yang hendak di pakai untuk perjalanan ke Kembang Kuning.
"Bagaimana Mbreg? Sudah beres tugas mu?", tanya Senopati Warigalit yang tiba-tiba muncul mengagetkan Demung Gumbreg yang baru saja mendudukkan pantatnya di kursi kayu.
"Setan alas jabang bayi amit amit!!
Gusti Senopati ini gemar sekali ya membuat aku kaget? Kalau jantungku copot bagaimana?", protes Gumbreg sambil mengelus dadanya.
"Ya di pasang lagi Mbreg.. Gampang kan?", celetuk Tumenggung Ludaka yang muncul di belakang sang senopati.
"Sontoloyo..
__ADS_1
Memang kau pikir jantungku ini gagang pedang bisa di copot dan di pasang lagi sesuka hati? Dasar teman tak bermoral", omel Gumbreg panjang kali lebar. Suami Juminten ini menggerutu tidak ada habisnya sambil mondar-mandir di depan Senopati Warigalit dan Tumenggung Ludaka.
"Sudah belum ngomel mu Mbreg,?", tanya Warigalit sambil mengusap kumis tipis nya.
Tanpa sadar Demung Gumbreg sedikit membentak saat menjawab pertanyaan Senopati Warigalit.
"Tentu saja belum. Enak saja bikin kaget aku sembarang. Untung saja aku baik baik saja, coba kalau aku tiba tiba jatuh sakit dan..."
"Mbreg, beraninya kau..!!!", bentak Tumenggung Ludaka yang membuat Gumbreg seketika tersadar dari ulahnya.
Wajah Demung perbekalan itu mendadak pucat saat berbalik ke arah Senopati Warigalit yang menatap tajam ke arah nya.
"Eeh Gusti Senopati,
Maafkan sikap saya ya Gusti. Anu tidak sengaja kog. Mohon ampun saya", ujar Gumbreg dengan raut muka memelas. Dia benar-benar ketakutan. Jika Panji Watugunung masih bisa diajak bercanda, lain halnya dengan Warigalit yang terkenal disiplin dan keras.
"Makanya kerja yang benar Mbreg, jangan melamun saja.
Kalau sampai nanti sore tidak beres pekerjaan mu, akan ku laporkan pada Dhimas Prabu Jayengrana bahwa kau yang menghambat rencana beliau ke Kembang Kuning.
Mau kau seperti itu?", ancam Senopati Warigalit sambil mendelik ke arah Gumbreg.
"Yah yah gitu saja marah... Ja-jangan marah dong Gusti Senopati. Saya minta maaf", ujar Gumbreg tergagap karena ketakutan setengah mati.
"Kalau sampai sore aku kesini ini semua masih belum beres juga, heeeeekhhhhhh", Senopati Warigalit menarik jari telunjuknya seakan memotong leher nya. Senopati andalan Kadiri itu segera berlalu meninggalkan tempat itu.
Demung Gumbreg bergidik ngeri sampai berkeringat dingin. Masih untung dia tidak mengompol di celana nya tadi.
Sementara itu Tumenggung Ludaka yang melihat roman muka Gumbreg yang ketakutan, sekuat tenaga menahan diri untuk tidak tertawa saat Senopati Warigalit disitu. Begitu pemimpin tertinggi prajurit Panjalu itu pergi, tawa Tumenggung Ludaka langsung pecah seketika.
"Huahahahahahaha......"
"Kampret kau Lu..
Lihat teman sengsara malah tertawa terbahak bahak seperti orang gila", gerutu Gumbreg yang kesal melihat Ludaka justru tertawa melihat dia ketakutan.
"Makanya kalau ngomel-ngomel, lihat yang di dekat mu itu siapa Mbreg..
Kau tahu sendiri Gusti Senopati Warigalit seperti apa masih juga ngomel panjang lebar. Kalau kena marah begitu, kau sendiri yang repot bukan?", tutur Tumenggung Ludaka yang masih cekikikan karena Gumbreg kena marah.
"Lha salah nya juga mengagetkan ku Lu..
Kau tau sendiri aku orang nya seperti apa? Coba kalau datang nya baik-baik pasti aku tidak ngomel", jawab Demung Gumbreg yang masih tak mau kalah.
Gusti Prabu Jayengrana?
Atau kau Gusti Mapatih Jayakerti?
Ingat Mbreg, kita itu hanya bawahan. Ada tata krama yang harus kita lakukan untuk menghormati para atasan kita. Disini kita itu abdi negara yang harus patuh pada Raja dan punggawa Istana diatas kita", Tumenggung Ludaka menasehati Demung Gumbreg panjang lebar. Dia sebetulnya sayang pada kawan karibnya ini sejak masih menjadi anggota Pasukan Garuda Panjalu di bawah pimpinan Panji Watugunung. Hanya saja kadang kelakuan konyol Gumbreg yang membuat nya gerah.
"Iya iya aku mengerti Lu..
Kau kog malah ceramah seperti Dang Hyang Dharmadyaksa ring Kasaiwan Lu? Apa tidak pegal bibir mu ngomong terus?", ujar Demung Gumbreg pada Tumenggung Ludaka yang duduk tak jauh dari tempat duduknya.
Mendengar ucapan itu, Tumenggung Ludaka kesal. Dia berdiri dari tempat duduknya dan hendak melangkah pergi.
"Kau mau kemana Lu?
Disini saja menemani ku" , ucap Demung Gumbreg segera.
"Mau melapor pada Gusti Senopati Warigalit bahwa kerja mu malas-malasan. Biar Gusti Senopati memberi mu hukuman", jawab Tumenggung Ludaka sekenanya sambil berlalu menuju lorong yang menghubungkan antara pergudangan dan Ksatrian.
"Yahh jangan Lu.. Tega kau sama teman..
Lu.. Ludaka teman ku..
Luuu...", teriak Gumbreg namun tak di gubris dengan Tumenggung Ludaka. Gumbreg pasrah saja akhirnya.
**
Seorang perempuan paruh baya berpakaian pertapa berjalan menuju ke arah istana Dahanapura. Meski sudah berumur, namun aura keagungan dan gurat kecantikan masih tersisa jelas di wajah perempuan itu. Pakaian putih putih tanpa hiasan yang menandakan bahwa dia adalah seorang pertapa berkibar di tiup angin semilir sore itu.
Dia adalah Dewi Sanggramawijaya, putri sulung Prabu Airlangga dengan permaisurinya Dewi Laksmi yang juga merupakan kakak kandung Prabu Samarawijaya. Seharusnya dulu dia lah yang menjadi Ratu Kahuripan karena sempat menjadi putri mahkota kerajaan Medang namun dia memilih untuk melepaskan diri dari segala kehidupan duniawi dan memilih untuk menjadi pertapa di Gunung Pucangan.
Awal mulanya Sanggramawijaya berharap bahwa keputusan nya akan mampu menenangkan gejolak di kalangan bangsawan dan punggawa Medang namun justru keputusan nya untuk melepaskan diri dari segala urusan duniawi malah menyebabkan terpecahnya Medang menjadi dua kerajaan yaitu Panjalu dan Jenggala yang terus bermusuhan hingga saat ini.
Saat kedua saudara nya telah mangkat, Sanggramawijaya atau yang lebih dikenal dengan sebutan Dewi Kilisuci memutuskan untuk mendamaikan kedua kerajaan tersebut agar di kemudian hari tidak terjadi perang saudara yang menyebabkan pertumpahan darah di kalangan masyarakat.
Dari lereng gunung Pucangan Dewi Kilisuci di temani oleh dua cantrik nya yang setia yang bernama Uttapaksi dan Ganapasu. Setelah hampir 2 pekan berjalan kaki dari Gunung Pucangan, akhirnya ketiga orang itu tiba di istana Daha.
4 orang prajurit penjaga gerbang istana Daha segera menghentikan langkah Dewi Kilisuci saat mereka tiba di depan gerbang istana. Dengan tombak menyilang sebagai tanda larangan masuk ke dalam istana.
"Berhenti!
__ADS_1
Melihat dari cara berpakaian kalian, maka pasti kalian adalah pertapa. Ada maksud apa kalian kemari, hai pertapa wanita?", tanya seorang prajurit penjaga gerbang istana dengan sopan. Sudah menjadi tata krama umum bagi masyarakat Panjalu bahwa kaum brahmana, pandita, pertapa, biksu dan biksuni mendapat perlakuan istimewa dari para kaum kasta ksatria.
Dewi Kilisuci tersenyum tipis.
"Aku ingin bertemu dengan Raja baru Panjalu. Katakan saja padanya bahwa aku Dewi Kilisuci ingin menemuinya", ujar Dewi Kilisuci dengan lembut namun berwibawa.
"Aku mengerti Dewi Kilisuci.
Tunggulah sebentar disini, saya akan menghadap Gusti Prabu Jayengrana untuk memberi tahu kepada beliau tentang kedatangan Dewi", ucap sang prajurit penjaga gerbang istana Daha. Dewi Kilisuci mengangguk mengerti.
Lalu sang prajurit penjaga gerbang istana itu bergegas menuju ke dalam istana Daha, menuju ruang pribadi Raja.
Panji Watugunung sedang bercakap cakap dengan Mapatih Jayakerti dan Mpu Gangga sang Nayakapraja saat sang prajurit penjaga gerbang istana masuk kesana.
Usai menyembah pada Panji Watugunung, sang prajurit penjaga gerbang istana duduk bersila di lantai ruang pribadi Raja.
"Katakan padaku, ada apa hingga kau masuk kemari tanpa aku panggil?", tanya Panji Watugunung dengan tegas dan berwibawa.
"Mohon ampun Gusti Prabu,
Seorang pertapa wanita mengaku bernama Dewi Kilisuci ingin menghadap pada Gusti Prabu. Saat ini dia menunggu di gerbang istana Daha", lapor sang prajurit penjaga gerbang segera.
Panji Watugunung terhenyak mendengar laporan itu. Raja Panjalu itu segera berdiri dari tempat duduknya.
"Cepat antarkan Dewi Kilisuci kemari", perintah Panji Watugunung segera.
Mapatih Jayakerti dan Mpu Gangga sang Nayakapraja saling berpandangan. Mereka juga tak menduga bahwa hari ini mereka akan bertemu dengan putri Prabu Airlangga itu disini.
Tak berapa lama kemudian, Dewi Kilisuci datang bersama para cantrik nya, Uttapaksi dan Ganapasu di temani oleh prajurit yang melapor tadi.
Panji Watugunung segera berlutut di depan Dewi Kilisuci, begitu pula Mapatih Jayakerti dan Mpu Gangga sang Nayakapraja begitu Putri Prabu Airlangga itu memasuki ruang pribadi Raja.
"Sembah sujud kami Kanjeng Bibi Dewi Kilisuci, Jayengrana menghaturkan hormat", ujar Panji Watugunung sembari menyembah pada Dewi Kilisuci.
"Bangunlah Dhimas Jayengrana..
Seorang raja tidak patut berlutut dihadapan para kawula nya", ucap Dewi Kilisuci dengan lembut dan penuh kasih.
"Terimakasih atas petuah bijak dari Bibi Dewi.
Mari silahkan duduk", ujar Panji Watugunung dengan penuh hormat.
Dewi Kilisuci atau juga Sanggramawijaya segera duduk di lantai ruang pribadi Raja. Panji Watugunung pun mengikuti langkah Sang Putri Prabu Airlangga dengan duduk bersila di sampingnya.
"Bagaimana kabarmu Bibi Dewi? Mohon maaf aku tidak menyambut kedatangan Bibi Dewi dengan selayaknya", tanya Panji Watugunung kemudian.
"Ah kau ini. Kabar ku baik baik saja, Sang Hyang Wisnu selalu melindungi setiap langkah kaki ku.
Aku ini hanya pertapa biasa. Tidak perlu kau sambut mewah layaknya seorang bangsawan", tutur Dewi Kilisuci dengan lembut namun berwibawa.
"Puja Dewa Wisnu..
Kalau boleh tau, angin apa yang membawa Bibi Dewi hingga sampai di Dahanapura ini?", tanya Panji Watugunung segera. Dewi Kilisuci menghela nafas panjang sebelum berbicara.
"Dhimas Jayengrana,
Ada yang ingin aku minta darimu".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁
Selamat membaca 😁🙏😁
__ADS_1