
Panji Watugunung yang baru datang mengedarkan pandangannya ke sekeliling orang yang berkerumun di tempat itu.
Semua orang langsung menoleh ke arah Panji Watugunung dan ketiga istrinya juga para prajurit pengawal nya. Senopati Sancaka segera mendekat ke arah Panji Watugunung dan segera menyembah.
"Mohon ampun Gusti Pangeran,
Mereka membuat keributan disini Gusti Pangeran, hamba hanya menertibkan keamanan", ujar Senopati Sancaka dengan hormat.
Dewi Ambarwati yang melihat kedatangan Panji Watugunung sedikit pangling dengan dandanan pria tampan itu. Namun setelah meyakinkan pandangan nya, gadis cantik itu segera mendekati Panji Watugunung yang baru saja turun dari kudanya.
"Kakang Watugunung,
ini benar kamu kan?", ujar Dewi Ambarwati sambil melangkah menuju ke arah Panji Watugunung.
Tiga langkah sebelum sampai, para prajurit Kayuwarajan Panjalu segera mencabut pedangnya masing-masing dan mengarahkan pada Dewi Ambarwati.
"Jangan mendekat nisanak..
Berhenti!", perintah Demung Rakai Sanga.
"Apa maksudnya ini Kakang? Apa kau sudah melupakan ku?", tanya Dewi Ambarwati sambil menatap wajah Panji Watugunung dan segera menghentikan langkahnya.
"Maaf nisanak,
Kau ini siapa? Maaf, aku lupa lupa ingat dengan dirimu", ujar Panji Watugunung sambil menatap ke arah Dewi Ambarwati.
"Dia itu perempuan yang dihajar Kangmbok Pitaloka di perjalanan ke Wengker dulu, Denmas..
Putri Akuwu Sukowati yang ganjen itu", sahut Dewi Srimpi sambil mencibir pada Dewi Ambarwati.
"Oh iya ya.. Aku ingat sekarang, Dinda Srimpi.
Ada apa kau kemari Gusti Putri? Kenapa kau berbuat onar di tempat ini?", tanya Panji Watugunung segera.
"Aku jauh jauh datang dari Kurawan ke Gelang-gelang hanya ingin bertemu dengan mu Kakang.
Aku hanya ingin Kakang Watugunung menikahi ku", jawab Dewi Ambarwati sambil tersenyum manis.
Chuihhhh
"Ternyata hanya perempuan murahan", cibir Bomantara sambil meludah ke tanah.
"Jaga mulutmu, kakek busuk!
Jangan ikut campur jika kau tidak ingin menanggung akibatnya", ancam Dewi Ambarwati sambil mengacungkan pedangnya kearah Bomantara atau Pendekar Pedang Kilat.
"Nyatanya aku melihat seperti itu, gadis tengik.
Kau tidak lebih dari perempuan murahan yang menjajakan diri", ucap Bomantara dengan nada menghina.
"Dasar kakek tua keparat!
Mulut mu pantas untuk di hancurkan", teriak Dewi Ambarwati yang segera melesat cepat kearah Si Pedang Kilat sambil menyabetkan pedang nya.
Tringgggg
Si Pedang Kilat yang sedikit kaget, langsung menangkis sabetan pedang Dewi Ambarwati dengan cepat. Dewi Ambarwati yang marah, langsung menghantamkan tangan kiri nya ke arah Si Pedang Kilat.
Pemimpin Perguruan Pedang Perak itu dengan cepat menjejak tanah dengan keras, dia melenting tinggi ke udara.
Namun sepertinya itu hanya siasat Dewi Ambarwati.
Saat Bomantara masih di udara, Dewi Ambarwati segera memutar tubuhnya dan dengan cepat merapal Ajian Gelap Ngampar andalannya.
Tubuh putri Rakeh Pamintihan itu melesat cepat kearah Si Pedang Kilat sambil menghantam punggung laki laki paruh baya itu.
Whuuuuttt
Blammmmm!!
Bomantara yang tidak siap, hanya bisa menjerit keras saat pukulan tangan Ajian Gelap Ngampar menghantam punggungnya.
Tubuh pria paruh baya itu langsung menyusruk tanah dengan keras. Bomantara muntah darah segar akibat luka dalam serius.
Melihat pemimpin mereka jatuh, anak murid Perguruan Pedang Perak segera mencabut pedangnya dan melompat maju ke arah Dewi Ambarwati yang sudah di temani kedua pengiringnya.
Tatkala bentrokan antara mereka hampir terjadi, sebuah suara keras menghentikan langkah mereka.
"Berhenti!"
Semua orang langsung terdiam di tempatnya masing-masing.
"Apa kalian ingin menguji kesabaran ku?", ucap Panji Watugunung dengan nada geram.
Para anak murid Perguruan Pedang Perak hanya saling memandang satu sama lain tanpa bicara.
Sementara itu Dewi Ambarwati perlahan mendekati Panji Watugunung.
"Maafkan aku Kakang,
Aku tidak bermaksud untuk membuat keributan disini. Aku hanya membela diri, karena kemarin mereka merendahkan ku", ujar Dewi Ambarwati segera.
Huhhhhh
"Dasar ulat bulu..
Pengen eneng geulis hajar eta awewe", gerutu Dewi Naganingrum pelan tapi masih terdengar di telinga Dewi Srimpi.
Perempuan cantik yang menjadi selir ketiga Panji Watugunung itu segera mendekati Naganingrum kemudian berbisik lirih.
"Dia memang ingin merebut Denmas Panji, Permaisuri Ketiga.
Apa kau rela Denmas Panji menikahi perempuan itu dan meninggalkan kita semua?", ucap Dewi Srimpi sambil tersenyum tipis.
"Eleuh eleuh..
Sok hadapkeun ka Eneng dulu dia mah, nanti abdi cakar eta awewe biar kapok ngagoda salaki abdi", ucap Dewi Naganingrum yang mulai terpancing emosi dengan bisikan Dewi Naganingrum.
"Maafkan aku Gusti Putri..
Aku sudah tidak berminat untuk menikah lagi. Sudah cukup aku mempunyai 7 istri", ujar Panji Watugunung sambil tersenyum tipis.
"Tapi kata gadis desa itu, kalau aku bisa menjadi pendekar tangguh, aku akan pantas bersanding denganmu Kakang..
Selama dua tahun ini, aku sudah mengasah kemampuan beladiri ku hanya agar aku pantas menjadi istri mu", Dewi Ambarwati menatap ke arah Panji Watugunung segera.
"Gadis desa?
__ADS_1
Siapa yang kau maksud Gusti Putri?", tanya Panji Watugunung dengan keheranan.
"Maksudnya adalah Kangmbok Pitaloka, Denmas.
Bukankah dulu yang mengalahkannya adalah Kangmbok Pitaloka? Denmas ingat tidak?", sahut Dewi Srimpi segera.
Hemmmm
"Jadi kau kemari hanya karena percaya dengan ucapan Dinda Pitaloka?", Panji Watugunung segera memandang wajah Dewi Ambarwati.
Perempuan cantik itu segera mengangguk.
"Aku tidak mengatakan kalau ucapan Dinda Pitaloka adalah sebuah kebohongan, Gusti Putri.
Tapi itu tidak berasal dari ku. Namun karena itu adalah ucapan istri ku, maka sebagai suami aku wajib untuk menghadapi segala situasi nya.
Dinda Srimpi, Dinda Naganingrum, Dinda Sunti..
Karena Dinda Pitaloka adalah saudara tertua kalian, maka kalian juga wajib untuk menghadapi permasalahannya.
Karena perempuan ini menuntut ucapan Dinda Pitaloka yang mengatakan bahwa jika dia menjadi pendekar tangguh, maka aku akan menikahinya. Kita harus bertanggung jawab atas ucapan itu.
Dengar titahku,
Jika salah satu dari kalian ada yang bisa mengalahkan Gusti Putri Ambarwati, maka ucapan Dinda Pitaloka menjadi gugur. Jika dia bisa mengalahkan salah satu dari kalian, maka dia akan ku nikahi sesuai ucapan Dinda Pitaloka", ujar Panji Watugunung yang membuat semua orang langsung terdiam beberapa saat.
"Kami mengerti", ucap Dewi Srimpi, Dewi Naganingrum dan Rara Sunti bersamaan.
"Nah, Gusti Putri Ambarwati karena kau tamu, maka kau tentukan siapa yang akan kau pilih sebagai lawan mu", Panji Watugunung segera menatap wajah Dewi Ambarwati.
Wajah Dewi Ambarwati langsung berbinar seketika mendengar ucapan sang Pangeran Daha. Mata perempuan itu segera menelisik ke arah 3 perempuan cantik yang ada di samping Panji Watugunung.
Melihat dari tampilan mereka, dengan yakin Dewi Ambarwati menunjuk pada Rara Sunti.
Putri Warok Suropati itu segera melangkah menuju ke tengah halaman warung makan dengan langkah lembut nya.
Sementara itu, Dewi Srimpi langsung menepuk jidatnya.
"Duh kenapa dia pilih Sunti? Kalau sampai Denmas Panji kawin lagi, Kangmbok Pitaloka bisa marah besar pada ku", gumam Dewi Srimpi dengan perasaan tidak nyaman.
"Eta awewe sengaja, Teh Srimpi.. Dia ingin menang dengan mudah", sahut Dewi Naganingrum sambil memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing.
Saat Dewi Srimpi dan Dewi Naganingrum pusing pada pemikiran mereka masing-masing, Rara Sunti dengan tenang maju ke arena pertandingan.
"Kau sudah siap Dinda Sunti?
Kau sudah siap Gusti Putri?", tanya Panji Watugunung sambil menatap kedua wanita muda itu bergantian.
Dua wanita cantik itu mengangguk mengerti.
Panji Watugunung segera menoleh ke arah seorang prajurit yang memegang bende. Melihat tatapan mata sang Yuwaraja Panjalu, si prajurit segera memukul bende nya.
Duuunnnngggggghh!!
Mendengar bende di tabuh, Dewi Ambarwati segera melesat cepat kearah Rara Sunti karena ingin mengakhiri pertandingan ini dengan cepat.
Tangan kanan Dewi Ambarwati melayang cepat kearah dada Rara Sunti. Perempuan yang biasa disebut Cempluk itu, hanya menggeser sedikit posisi tubuhnya untuk menghindari pukulan Dewi Ambarwati.
Gerakan Rara Sunti yang kalem, terlihat cantik menyambut kedatangan serangan Dewi Ambarwati yang ganas dan membunuh.
Itulah Ilmu silat Kembang Cempaka yang terkenal karena gerakannya yang lemah lembut namun mematikan.
Whuuuuttt
Putri Warok Suropati itu segera menjejak tanah lalu melenting tinggi ke udara.
Melihat itu, Dewi Ambarwati segera memburu Rara Sunti dengan serangan cepat dengan tapak tangan bertubi-tubi.
Settt sheettthh!
Dengan tenang, Cempluk memutar tubuhnya menghindari serangan Dewi Ambarwati sambil sesekali menangkis serangan tapak dari putri Rakeh Pamintihan itu.
Dashhh dashhh!
Rara Sunti menjejak tanah, lalu memutar tubuhnya dan ganti melesat cepat kearah Dewi Ambarwati.
Selir bungsu Panji Watugunung segera melayangkan pukulan ke arah perut Dewi Ambarwati yang baru saja turun ke tanah.
Dewi Ambarwati terkaget melihat kedatangan lawan yang begitu cepat.
Dia berusaha untuk menghalau serangan Rara Sunti dengan menghantamkan tapak tangan kanannya kearah kepalan tangan Rara Sunti.
Blarrrr!
Akibat benturan dua tenaga dalam yang melambari serangan mereka berdua, ledakan keras terdengar. Dua wanita cantik itu terdorong mundur beberapa langkah.
Dewi Ambarwati merasakan telapak tangannya kebas kesemutan, sedang Rara Sunti hanya sedikit linu.
Melihat permainan silat Rara Sunti, Dewi Srimpi dan Dewi Naganingrum mulai merasa lega.
"Rupanya ilmu beladiri dari Wengker. Kau boleh juga, nisanak", ujar Dewi Ambarwati yang segera mempersiapkan dirinya.
"Kau juga hebat. Namun sayangnya tujuan mu salah.
Menyerahlah,
Sebelum kau terluka nisanak", Cempluk Rara Sunti tersenyum tipis.
"Ilmu silat Kembang Cempaka memang hebat.
Tapi aku masih belum kalah nisanak", ucap Dewi Ambarwati sambil mencabut pedangnya.
"Terserah padamu, nisanak.
Kalau nanti kau terluka, aku setidaknya sudah memperingatkan mu agar kau menyerah", ujar Rara Sunti yang masih memegang sarung pedangnya.
"Aku tidak akan pernah menyerah untuk mengejar mimpi ku, meski harus membantai mu", usai berkata demikian, Dewi Ambarwati segera melesat cepat kearah Rara Sunti dengan menyabetkan pedang nya.
Sreeeetttt
Sabetan pedang yang di ikuti angin dingin tenaga dalam mengincar leher Rara Sunti.
Putri Warok Suropati itu segera menangkis dengan pedang nya.
Tringgggg!!!
Bunga api kecil tercipta dari benturan dua senjata mereka. Dengan cepat kaki kanan Rara Sunti menyapu kaki kanan Dewi Ambarwati.
__ADS_1
Perempuan cantik itu segera melompat tinggi ke udara, dan merubah gerakan tubuhnya. Dengan kaki di atas dan kepala di bawah, Dewi Ambarwati mengayunkan pedangnya kearah Rara Sunti dengan gerakan cepat.
Rara Sunti menjatuhkan diri ke tanah, dengan kaki kiri menjejak tanah dengan keras.
Tubuh ramping perempuan itu segera melesat mundur sambil menangkis sabetan pedang Dewi Ambarwati yang cepat.
Tranggg..
Trangg..
Tranggg!!
Dewi Ambarwati segera menepuk tanah dengan ujung pedang, merubah gerakan tubuhnya dan mendarat dengan sempurna, sementara Rara Sunti segera memutar tubuhnya dan menjejak tanah dengan pedang siap menyerang di depan dada.
Kali ini, Rara Sunti mulai bersiap dengan jurus Tarian Pedang Badai Laut Selatan.
Dengan gerakan tubuh yang gemulai dan halus, Rara Sunti mulai bergerak lincah seperti menari. Angin dingin mulai berseliweran saat pedang Rara Sunti membelah udara. Semakin cepat gerakan Rara Sunti, semakin besar angin dingin yang tercipta.
Diam diam Dewi Ambarwati sedikit ngeri melihat jurus lawannya.
Saat Rara Sunti melesat cepat kearah Dewi Ambarwati, perempuan itu berusaha keras untuk menangkis sabetan pedang Rara Sunti yang disertai angin kencang.
Tringgggg!
Sabetan pedang Rara Sunti terus berkelebat cepat menghujani tubuh Dewi Ambarwati yang mulai keteteran meladeni permainan pedang Rara Sunti, selir bungsu Panji Watugunung.
Gabungan antara kecepatan langkah kaki, tusukan dan tebasan pedang mematikan, dan angin kencang berhawa dingin benar benar merepotkan Dewi Ambarwati.
Setelah 5 jurus, dua sayatan kecil pada lengan kiri dan pinggang Dewi Ambarwati mulai berdarah. Rasa perih akibat luka itu cukup membuat Dewi Ambarwati mulai kehilangan kontrol pertahanan tubuh nya dari serangan Rara Sunti.
Dewi Ambarwati segera menunduk saat sabetan pedang Rara Sunti mengincar leher nya, namun itu membuat pertahanan nya rapuh.
Rara Sunti tidak menyia-nyiakan kesempatan, langsung menghantam dada kanan Dewi Ambarwati dengan tangan kiri nya.
Deshhhh
Ougghhh
Putri Rakeh Pamintihan itu terpental ke belakang dan jatuh terduduk di tanah. Dada kanan nya sakit bukan main seperti mau pecah.
Seteguk darah segar keluar dari mulutnya beberapa saat kemudian.
Huuoogghh!
Usai muntah darah, Dewi Ambarwati segera berdiri, pedangnya dia lempar ke tanah. Dia dengan cepat membuka kedua kakinya, lalu memutar kedua tangan nya kearah yang berlawanan.
Sinar biru kemerahan tercipta di kedua tangan Dewi Ambarwati. Rupanya dia merapal Ajian Gelap Ngampar andalannya.
Rara Sunti yang sempat di ajari ilmu Ajian Waringin Sungsang oleh Warok Suropati hanya tersenyum tipis. Meski tidak sampai tahap akhir, namun setengah ilmu itu sudah cukup untuk menghajar pendekar dengan kemampuan beladiri tinggi.
Dengan perlahan, Rara Sunti merapal mantra Ajian Waringin Sungsang. Sinar hijau kebiruan segera melingkupi seluruh tubuh Rara Sunti.
Dewi Ambarwati segera menghantamkan tangan kanannya.
Siiiiiuuuuuuutttt
Rara Sunti melesat cepat kearah Dewi Ambarwati setelah berhasil menghindari sinar biru kemerahan dari tangan kanan Dewi Ambarwati.
Perempuan itu tiba-tiba muncul di hadapan Dewi Ambarwati. Putri Rakeh Pamintihan itu dengan cepat menghantam dada Rara Sunti.
Deshhhh
Tapi Rara Sunti hanya tersenyum saja. Tiba-tiba saja, tenaga dalam yang ada pada Dewi Ambarwati di sedot ke tubuh Rara Murni.
Aaaarrrggghhhh
Dewi Ambarwati menjerit kesakitan. Seluruh urat nadi dan sendi tubuh terasa sakit. Perempuan itu mulai mengeluarkan darah segar dari mulutnya.
"Cukup Dinda Sunti!", teriak Panji Watugunung yang segera membuat Rara Sunti menghentikan ilmu Ajian Waringin Sungsang nya.
Rara Sunti menata nafas nya, meninggalkan Dewi Ambarwati yang roboh ke tanah. Puspa Abang dan Puspa Putih segera mendekati majikannya itu.
"Gusti Putri,
Kau sudah kalah. Kembalilah ke Kurawan", ujar Panji Watugunung yang segera berlalu menuju ke arah pintu gerbang istana Gelang-gelang dengan diikuti oleh Dewi Srimpi dan Dewi Naganingrum.
Rara Sunti menoleh ke arah Dewi Ambarwati yang masih terduduk di tanah kemudian dengan cepat dia berkata,
"Tidak ada cerita istri ke delapan".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
__ADS_1
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author terus semangat menulis kelanjutan cerita ini 😁
Selamat membaca 🙏🙏🙏