Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Prabu Jitendrakara Parakrama Bhakta


__ADS_3

Dyah Wijayawarman melesat cepat kearah Panji Watugunung sambil membabatkan pedang nya kearah leher lawan.


Whhhuuuusssssshhhhhh..


Panji Watugunung segera berkelit menghindari tebasan pedang menghantamkan tangan kiri nya ke arah rusuk Dyah Wijayawarman yang membuat pria asal Suwarnadwipa itu memutar badan nya dan mendarat di samping kiri Panji Watugunung.


Serangan demi serangan menggunakan ilmu silat terus terjadi di antara mereka. Masing-masing memiliki kemampuan beladiri yang tinggi hingga membuat jual beli serangan mereka berlangsung sengit. Para prajurit Panjalu maupun para prajurit Pakuwon Lwaram memilih membuat jarak dengan pertarungan dua pimpinan tertinggi masing-masing pasukan yang tengah bertikai.


Janasamba yang melihat dua orang perempuan cantik mengiringi Panji Watugunung segera melesat cepat kearah mereka.


"Oh rupanya ada dua kucing manis disini..


Sebentar lagi kalian akan menjadi putri tawanan. Lebih baik kalian menyerah sekarang karena sebentar lagi Dang Hyang Wijayawarman akan menghabisi nyawa Prabu Jayengrana", senyum cabul Janasamba tersungging lebar di wajahnya.


Dewi Srimpi dan Cempluk Rara Sunti yang baru saja menghabisi nyawa lawan mereka, mendelik tajam ke arah Janasamba.


"Atas dasar apa kau berani mengatakan Gusti Prabu Jayengrana akan kalah melawan junjungan mu, hai orang asing?


Bukankah mereka baru saja bertarung?", Dewi Srimpi mendengus keras sambil bersiap untuk mengadu ilmu kanuragan.


"Dyah Wijayawarman adalah orang paling sakti di wilayah selatan Sriwijaya. Dalam 20 jurus pasti dia mampu mengalahkan Prabu Jayengrana.


Lebih baik kalian cepat menyerah agar tidak terjadi pertumpahan darah di tempat ini", Janasamba berkata dengan penuh percaya diri.


"Mulut mu bau sekali. Apa yang kau makan pagi ini, orang aneh?


Melihat perawakan mu seperti nya kau baru saja sarapan daging tikus ya?", ujar Cempluk Rara Sunti sambil menatap tajam ke arah Janasamba.


"Kucing liar rupanya!


Akan ku ringkus kalian agar tidak menggangu kemenangan kami mengalahkan pasukan Panjalu", usai berkata demikian Janasamba langsung melesat cepat kearah Cempluk Rara Sunti sambil mencabut sabit panjang yang ada di punggungnya.


Sabetan sabit Janasamba langsung terarah pada leher Cempluk Rara Sunti.


Shrraaaakkkkhhhh..


Dengan menggunakan ilmu silat Cempaka, Cempluk Rara Sunti mengayunkan pedang nya ke arah tebasan sabit panjang Janasamba.


Thrrriiinnnggggg!!!


Bunga api kecil tercipta dari benturan dua senjata mereka. Masing-masing mengeluarkan tenaga dalam tinggi hingga mereka mesti terdorong mundur beberapa langkah.


"Oh rupanya kau memiliki kemampuan, kucing manis..


Aku tidak akan sungkan lagi", ucap Janasamba sambil kembali melesat cepat kearah Cempluk Rara Sunti sambil mengayunkan sabit panjang di tangan kanannya.


Gerakan cepat Janasamba yang terus membabatkan sabit panjang nya secara brutal kearah Cempluk Rara Sunti terus di ladeni putri Warok Surapati itu dengan tenang. Berkali kali anak buah Dyah Wijayawarman itu mencoba membongkar pertahanan Cempluk Rara Sunti namun perempuan cantik dari Kadipaten Wengker itu terus saja mampu memberikan perlawanan yang sengit.


Sabit panjang Janasamba kembali terayun kearah leher Cempluk Rara Sunti.


Shreeeeettttthhh..


Cempluk Rara Sunti segera menangkis sabetan sabit panjang Janasamba dengan Ilmu Tarian Pedang Badai Laut Selatan nya. Gerakan gemulai bak penari langsung menyambut serangan lawan dengan cepat.


Thrrraaannnnggggg..


Janasamba terpental. Cempluk Rara Sunti yang menyalurkan tenaga dalam tingkat tinggi membuat sabetan pedang nya benar benar menakutkan karena memiliki kemampuan yang luar biasa. Anak buah Dyah Wijayawarman itu langsung bangkit dari tempat jatuhnya. Seteguk darah dia muntahkan akibat benturan tenaga dalam tingkat tinggi yang dia terima.


Tak mau kalah, Janasamba berdiri tegak. Dia segera memusatkan perhatiannya. Tenaga dalam tingkat tinggi nya di salurkan pada pedang di tangan kanannya. Rupanya dia ingin mengeluarkan ilmu kanuragan andalan nya, Pedang Seribu Bayangan. Tangan Janasamba berputar perlahan di sekitar tubuhnya. Hebatnya bayangan pedang tercipta dari setiap jengkal gerakan tangan nya hingga ratusan pedang tercipta.


Cempluk Rara Sunti sedikit terkejut melihat kemampuan beladiri lawan. Dia segera bersiap dengan tahap puncak Ilmu Tarian Pedang Badai Laut Selatan nya.


"Perempuan busuk!


Mampus kau!", teriak Janasamba sambil menggerakkan tangan kanannya ke arah Cempluk Rara Sunti. Ratusan pedang yang ada di sekitar Janasamba langsung melesat cepat kearah putri bungsu Warok Surapati itu.


Whuuthhh whuuussshh!!!


Cempluk Rara Sunti mundur selangkah kemudian berputar cepat dengan gerakan nya yang gemulai. Angin kencang menderu layaknya badai yang tengah mengamuk tercipta dari gerakan tubuhnya seperti perisai diri yang membentengi dirinya dari serangan ratusan pedang Janasamba.


Thhhrriinnngggggg thriiiinnngggggg!!


Pedang pedang Janasamba bermentalan terhalang oleh angin dingin yang menderu-deru di sekitar Cempluk Rara Sunti.


Melihat serangan nya berhasil di tangkis oleh Cempluk Rara Sunti, Janasamba menggeram keras. Dengan gusar dia mengerahkan seluruh tenaga dalam nya hingga menciptakan ratusan pedang yang semakin lama semakin banyak. Sekali hentak, ratusan pedang kembali melesat cepat kearah Cempluk Rara Sunti yang tubuhnya terbungkus oleh benteng angin dingin yang menderu-deru.


Thhraaaangggggggg thhraaaangggggggg!!


Sia sia serangan Janasamba karena pedangnya hancur berantakan tak mampu menembus pertahanan Cempluk Rara Sunti. Wajah anak buah Dyah Wijayawarman itu langsung pucat seketika saat Cempluk Rara Sunti melesat ke arah nya. Kendati Janasamba terus menerus melemparkan pedangnya namun semuanya tidak ada gunanya.


"Sial sial sial.....!!!


Mati lah kau perempuan laknat!", maki Janasamba sambil terus berupaya keras untuk menjauh dari Cempluk Rara Sunti sambil melemparkan pedangnya kearah selir bungsu Panji Watugunung.


Satu tusukan pedang Cempluk Rara Sunti mengakhiri perlawanan Janasamba.


Jleeeeppppph!


Mata Janasamba melebar ketika merasakan sesuatu yang dingin menembus jantung nya hingga tembus punggung. Dia sempat hendak bicara namun pedang Cempluk Rara Sunti yang di cabut dari dadanya membuat Janasamba roboh. Anak buah Dyah Wijayawarman itu meregang nyawa sebentar sebelum diam untuk selamanya. Dia tewas bersimbah darah.


Di sisi lain, Dewi Srimpi yang mengadu ilmu dengan seorang anak buah Dyah Wijayawarman yang bernama Kartikeya terus melemparkan jarum beracun nya kearah lawan.


Kartikeya yang bersenjatakan gada besar itu dengan cepat memutar gada nya untuk menangkis lemparan jarum beracun Dewi Srimpi. Meski badan nya besar, Kartikeya mampu bergerak cepat. Sudah dua kali Dewi Srimpi menghantam dada Kartikeya namun sepertinya Kartikeya memiliki semacam ilmu kebal yang mampu menahan pukulan tangan kosong.


Thrrraaannnnggggg trakkk thaakkkk!!

__ADS_1


Wajah Kartikeya menyeringai lebar menatap ke arah Dewi Srimpi.


"Perempuan cantik!


Sebaiknya kita tidak usah bertarung lagi. Kau akan jadikan istri ku yang keempat. Menyerahlah, aku jamin kau akan bahagia dengan ku", ujar Kartikeya sambil menjilat sudut mulut nya.


"Dasar kerbau mesum!


Tak sudi aku punya suami seperti kerbau macam kau! Majulah, jangan banyak mulut", ejek Dewi Srimpi yang langsung membuat Kartikeya naik darah.


"Bangsat!


Di kasih hati malah minta jantung! Kau memang cantik tapi mulut mu pantas di robek. Aku tidak akan segan lagi", teriak Kartikeya sambil melesat cepat kearah Dewi Srimpi sambil mengayunkan gada besar nya.


Whhhuuuggghhhh..


Dewi Srimpi langsung melompat menjauh saat hantaman gada Kartikeya mengancam kepalanya.


Bhhuuuuummmmmmhh!!!


Lobang besar tercipta saat gada Kartikeya menghantam tanah dengan keras. Saat Kartikeya mendongak, 4 jarum kecil berwarna hitam melesat cepat kearah nya dari Dewi Srimpi yang di lemparkan saat selir ketiga Panji Watugunung itu melompat menjauh. Kartikeya dengan cepat mengayunkan gada besar di tangan kanannya menangkis lemparan jarum.


Thrrraaannnnggggg trakkk!!!


Usai menangkis jarum beracun Dewi Srimpi, Kartikeya dengan cepat melesat ke arah Dewi Srimpi. Namun sayangnya gerakan selir ketiga Panji Watugunung itu jauh lebih cepat karena menggunakan Ajian Langkah Dewa Angin untuk menjauhi Kartikeya.


'Orang ini selain cepat, juga punya tubuh yang keras. Aku harus menemukan cara untuk mengalahkannya', batin Dewi Srimpi.


Sebuah pemikiran melintas di kepala Dewi Srimpi.


Selir ketiga Panji Watugunung langsung merogoh kantong kulit lembu di pinggangnya dan meraih dua buah bola kecil berwarna kuning. Dengan cepat ia melemparkan nya ke arah Kartikeya yang terus memburunya.


Shrrriinnnggg shhhrriinggg!!


Melihat serangan Dewi Srimpi, Kartikeya segera mengayunkan gada besar nya untuk menangkis lemparan bola kecil berwarna kuning yang melesat ke arah nya.


Jllarrr!!


Bola kuning langsung meledak hancur terkena hantaman gada besar Kartikeya. Bubuk bola kuning itu menyebar ke udara, menebarkan aroma harum yang aneh.


Tiba-tiba saja Kartikeya merasakan lehernya seperti tercekik oleh sesuatu yang menyumbat saluran pernapasan nya. Anak buah Dyah Wijayawarman itu langsung mendarat sambil memegangi lehernya.


Dewi Srimpi yang mendarat 3 tombak di depannya tersenyum simpul.


"Perempuan ******!


Apa yang sudah kau lemparkan tadi ha?", mata Kartikeya melotot ke arah Dewi Srimpi.


"Hanya Racun Kumbang Emas. Itu sudah cukup untuk mencabut nyawa mu, kerbau mesum", ucap Dewi Srimpi sambil tersenyum lebar.


"Keparat!


Dewi Srimpi langsung menebaskan Pedang Kelabang Neraka ke Kartikeya yang sudah tidak punya tenaga. Tebasan pedang beracun itu mengarah pada leher Kartikeya.


Chrraaasssshhh..


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Darah segar langsung menyembur keluar dari luka di batang leher Kartikeya. Pria bertubuh besar itu terhuyung huyung mundur sambil memegangi lehernya yang terus mengeluarkan darah. Kartikeya roboh dengan luka menganga lebar pada lehernya. Dia tewas bersimbah darah. Usai melihat lawan tewas, Dewi Srimpi segera melompat tinggi ke udara kearah kerumunan prajurit Lwaram yang tengah menghadapi amukan Gumbreg.


Panji Watugunung dan Dyah Wijayawarman terdorong mundur beberapa tombak ke belakang usai keduanya mengadu telapak tangan yang bertenaga dalam tingkat tinggi.


"Rupanya kau boleh juga, Prabu Jayengrana..


Tapi kali ini aku tidak akan kalah dari mu", ujar Dyah Wijayawarman sambil tersenyum sinis.


"Kau boleh mencoba nya. Majulah", ujar Panji Watugunung yang segera merapal mantra Ajian Tameng Waja nya. Sekujur tubuh Raja Panjalu itu segera diliputi oleh sinar kuning keemasan yang menyilaukan mata.


Dyah Wijayawarman segera merapal mantra ilmu kanuragan andalan nya. Matanya terpejam dan kedua tangan membentuk sikap mudra di depan dada. Perlahan di sekeliling tubuhnya tercipta hawa panas yang berwarna kuning keemasan. Sebuah bayangan Budha Amoghapasa raksasa tercipta dari mantra yang terucap dari bibir Dyah Wijayawarman. Bayangan Budha itu seperti terbentuk dari tenaga dalam tingkat tingginya.


Ilmu andalan Dyah Wijayawarman memang berakar pada ajaran para biksu yang datang dari negeri Tiongkok kala itu. Dyah Wijayawarman sendiri adalah salah satu murid paling berbakat dari Biksu Yun Hai yang tengah menimba ilmu keagamaan di Sriwijaya.


Mata Dyah Wijayawarman segera terbuka bersamaan dengan mata bayangan Budha Amoghapasa di atasnya.


"Tapak Budha Amoghapasa..


Chhhiiiaaaaaaaaaaaaatttt.....!!!!!"


Bayangan Budha Amoghapasa langsung menghantamkan tangan kanan raksasanya ke arah Panji Watugunung yang memiliki tubuh berwarna kuning keemasan. Angin panas berseliweran mengikuti hantaman tangan raksasa.


Blllaaammmmmmmm!!!!


Ledakan dahsyat terdengar saat hantaman bayangan Budha Amoghapasa raksasa menabrak tubuh Panji Watugunung. Asap tebal bercampur debu beterbangan membuat pandangan mata terhalang oleh nya.


Dyah Wijayawarman tersenyum lebar sembari menatap ke arah kepulan asap tebal bercampur debu beterbangan di depan nya.


"Huhhhhh ternyata ilmu mu hanya sedalam kuku jari ku, Jayengrana!", ucap Dyah Wijayawarman sambil menyeringai lebar.


Namun saat asap tebal mulai menghilang, mata Dyah Wijayawarman langsung melebar ketika melihat Panji Watugunung masih tegak berdiri di tempatnya tanpa bergeser sedikit pun.


"Ba-bagaimana mungkin kau bisa bertahan? Ini adalah ilmu beladiri puncak di Sriwijaya", Dyah Wijayawarman terkejut bukan main.


"Diatas langit masih ada langit. Kehebatan ilmu mu memang luar biasa, tapi aku masih bisa menahannya", Panji Watugunung tersenyum lebar.


"A-aku tidak percaya...

__ADS_1


Bangsat!!! Aku akan membunuhmu!", teriak Dyah Wijayawarman sambil menghantamkan kedua tangan nya bertubi-tubi kearah Panji Watugunung.


Kembali tapak tangan Budha Amoghapasa raksasa menghantam kearah Panji Watugunung bertubi-tubi.


Blllaaammmmmmmm blammmmm..


Dhuuaaaaaaarrrrrr!!!


Ledakan keras beruntun terdengar dari serangan Dyah Wijayawarman. Para prajurit Panjalu maupun Lwaram memilih menjauh dari arena pertarungan sengit antara mereka.


Sambil menerima serangan Dyah Wijayawarman, Panji Watugunung mengeluarkan Pedang Naga Api yang tersimpan di dalam ruang hampa. Raja Panjalu itu dengan cepat menghunus Pedang Naga Api dari sarungnya.


Hawa panas menyeruak ke udara di sekeliling tempat itu. Sinar merah menyala seperti api yang berkobar-kobar membuat Dyah Wijayawarman terperanjat melihat Panji Watugunung yang berjalan keluar dari asap tebal dengan Pedang Naga Api di tangan nya. Penampilan Panji Watugunung ibarat malaikat maut yang berjalan mendekati dalam pandangan Dyah Wijayawarman. Nyali Dyah Wijayawarman langsung ciut seketika.


Dyah Wijayawarman bermaksud untuk melarikan diri. Dia segera menghantamkan tangan kanannya ke arah Panji Watugunung kembali. Tapak tangan Budha Amoghapasa raksasa kembali menerabas cepat kearah Panji Watugunung. Namun kali ini Raja Panjalu itu segera melompat tinggi ke udara menghindari serangan Tapak Budha Amoghapasa dari Dyah Wijayawarman.


Pemimpin pemberontak Lwaram itu langsung berbalik arah hendak melarikan diri. Namun tusukan Pedang Naga Api dari Panji Watugunung segera menghentikan langkahnya.


Jllleeeeeppppphhh...


AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!


Dyah Wijayawarman menjerit keras saat Pedang Naga Api menembus punggung hingga dada kirinya. Keturunan wangsa Syailendra itu tewas dengan dada bolong hingga punggungnya.


Akuwu Wiryamukti yang menyaksikan kematian Dyah Wijayawarman langsung melesat cepat kearah sisi selatan benteng pertahanan prajurit Lwaram. Bersama 200 prajurit Lwaram dia berhasil melarikan diri dari tempat itu.


Sisa sisa prajurit Lwaram yang melakukan perlawanan berakhir dengan tewas bersimbah darah. Sebanyak 1000 prajurit yang terakhir memilih untuk meletakkan senjata mereka setelah melihat kematian Dyah Wijayawarman dan orang orang dari Suwarnadwipa.


Senopati Tunggul Arga langsung mendekat ke arah Panji Watugunung yang baru saja menghabisi nyawa Dyah Wijayawarman.


"Mohon ampun Gusti Prabu,


Akuwu Wiryamukti berhasil melarikan diri lewat sisi selatan benteng ini dengan perahu", lapor Senopati Tunggul Arga dengan cepat.


"Kejar mereka! Jangan sampai lolos", perintah Panji Watugunung segera.


"Sendiko dawuh Gusti Prabu", usai berkata demikian, Senopati Tunggul Arga segera memimpin 1000 prajurit Panjalu untuk mengejar pelarian Akuwu Wiryamukti.


****


Selepas pemberontakan Dyah Wijayawarman yang di sokong oleh Akuwu Lwaram Wiryamukti dan orang orang Jenggala, Panji Watugunung kembali melanjutkan Pemerintahan Kerajaan Panjalu di Kota Kadiri.


Akuwu Wiryamukti sendiri tertangkap oleh Senopati Tunggul Arga di daerah Mataji di wilayah Kadipaten Anjuk Ladang dengan bantuan para penduduk Wanua Mataji. Mereka langsung di hukum mati di kawasan hutan jati di wilayah itu.


Panji Watugunung sendiri memerintah dengan adil dan bijaksana. Di bantu ke tujuh istri nya beserta para sahabat dan rekan seperjuangan, Kerajaan Panjalu aman dan sentosa.


Dari pernikahan nya, Panji Watugunung memiliki delapan anak. Dengan Dewi Anggarawati, Panji Watugunung memiliki putra Mapanji Tejo Laksono. Dari Ayu Galuh, Panji Watugunung mendapat putra Mapanji Jayawarsa dan Dewi Sekar Kedaton. Dari Dewi Naganingrum, Panji Watugunung memiliki putra Mapanji Jayagiri.


Sedangkan dari selir-selirnya, Panji Watugunung memperoleh putri Dewi Wulan Sumekar dari Ratna Pitaloka, Dewi Sekar Tanjung dari Sekar Mayang, Mapanji Manggala Seta dari Dewi Srimpi dan Dewi Kencanawangi dari Cempluk Rara Sunti.


Atas usulan Mpu Soma dari Pertapaan Ranja, Panji Watugunung akhirnya menggunakan gelar baru yang tercatat dalam prasasti yang tersebar di seluruh wilayah Panjalu.


Prabu Jitendrakara Parakrama Bhakta.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa.


Akhirnya selesai sudah perjalanan Panji Watugunung dan ketujuh istri nya.


Terimakasih banyak author ucapkan kepada semua reader setia BNL yang sudah meluangkan waktunya untuk menemani perjalanan Panji Watugunung.


Semoga semua nya selalu sehat.

__ADS_1


Sampai jumpa di cerita author selanjutnya.


🙏🙏🙏🙏🙏😁😁😁😁🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2