Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Benteng Pertahanan Prajurit Kembang Kuning 2


__ADS_3

"Huuuhhhhhh...


Kau kira aku takut dengan mu, wong Lasem?


Dasar antek Daha yang tak punya otak.


Phuihhhh...


Jijik aku melihat kelakuan mu yang mirip anjing penjilat", ejek Demung Harsawijaya sembari meludah dengan kasar ke tanah.


Mendengar ejekan itu, darah Senopati Dewangkara langsung mendidih.


"Bedebah!


Mulut mu layak aku robek-robek pemberontak", teriak Senopati Dewangkara yang segera melesat ke arah Demung Harsawijaya sembari ayunkan pedang besarnya.


Shreeeeettttthhh!


Demung Harsawijaya segera memutar tongkat besi nya lalu dengan cepat menggunakan tongkat sebagai tumpuan untuk melenting tinggi ke udara sembari melakukan tendangan ke bahu kiri Senopati Dewangkara.


Dheesssshhh..


Senopati Dewangkara nyaris terjungkal andai tidak cepat menggunakan pedang besarnya sebagai penyangga. Bahu kirinya sakit seperti di timpa kayu besar.


Sambil menggeram, Senopati Dewangkara langsung berbalik arah dan berlari cepat kearah Demung Harsawijaya yang baru saja menapak tanah. Senopati Dewangkara langsung melompat sembari membacokkan senjata andalan nya itu.


Mendapat serangan itu, Demung Harsawijaya langsung menyilangkan tongkat besi ke atas kepala saat sabetan pedang Senopati Dewangkara mengincar kepala nya.


Thhraaaangggggggg..


Kuat nya tenaga Senopati Dewangkara membuat kaki Demung Harsawijaya amblas di atas mata kaki ke dalam tanah.


Lalu Senopati Dewangkara segera mendepak dada perwira prajurit Kadipaten Kembang Kuning itu sekeras mungkin.


Bhhhuuukkkkkhhh..


Ooouuugggghhhhh!!


Demung Harsawijaya terpental ke belakang sejauh 2 tombak. Melihat kesempatan untuk menyingkirkan Demung Harsawijaya, Senopati Dewangkara segera melesat sembari membabatkan pedang besarnya.


Whuuutt..


Demung Harsawijaya buru-buru berguling ke samping untuk menghindari sabetan pedang lawan yang mengancam nyawa nya hingga sabetan pedang Senopati Dewangkara hanya menghajar tanah.


Dengan meringis menahan rasa sesak di dada, Demung Harsawijaya segera bangkit. Dia meremas dadanya yang terasa sesak.


Senopati Dewangkara tersenyum menyeringai lebar melihat lawan nya kesakitan.


"Baru juga satu tendangan, kau sudah meringis begitu macam kera mendapat pisang.


Ayo majulah, wong Kembang Kuning!", ujar Senopati Dewangkara sambil memutar pedangnya.


"Dasar anjing penjilat!


Akan ku hancurkan kesombongan mu", teriak Demung Harsawijaya yang segera mempersiapkan ilmu beladiri andalannya.


Kedua telapak tangan memegang erat tongkat besi senjatanya keatas kepala. Perlahan muncul sinar kebiruan pada kedua ujung tongkat besi.


Ilmu Tongkat Naga Angin adalah ilmu beladiri yang menggunakan seluruh daya manusia hingga sanggup menghancurkan sebuah batu besar sekali gebuk. Sinar biru yang muncul di sertai angin dingin yang berputar.


Dengan cepat, Demung Harsawijaya memutar tongkat besi nya hingga menciptakan angin menderu kencang.


Perwira tinggi prajurit Kadipaten Kembang Kuning itu segera melesat ke arah Senopati Dewangkara yang bersiap dengan Ilmu Pedang Pembelah Gunung. Pedang besar Senopati Dewangkara diliputi sinar kuning kemerahan.


"Hancur batok kepala mu,


Chiiiiaaaaaaaaaatttttttt...."


Dengan berteriak lantang untuk memompa semangat dan tenaga dalam, Demung Harsawijaya segera menggebukan tongkat besi nya ke kepala Senopati Dewangkara.


Sabetan pedang besar Senopati Dewangkara menangkis ayunan tongkat besi Demung Harsawijaya.


Thrrriiinnnggggg..


Blllaaammmmmmmm!!


Saat kedua senjata pusaka mereka beradu, bunga api terpercik dari benturan dua ilmu kanuragan tingkat tinggi mereka. Di susul ledakan dahsyat berserta angin kencang yang menderu.


Para prajurit Kembang Kuning maupun Panjalu memilih mengambil jarak jauh dari arena pertarungan sengit dua petinggi pasukan itu.


Ledakan demi ledakan dahsyat terus susul menyusul kemudian hingga menciptakan lobang besar di tanah.


Pertarungan sengit itu berimbang, namun tenaga dalam Senopati Dewangkara satu tingkat lebih tinggi di banding Demung Harsawijaya.


Senopati Dewangkara segera babatkan pedangnya kearah pinggang lawan nya. Demung Harsawijaya dengan cepat menghadang dengan tongkat terpegang kedua tangan. Senopati Dewangkara memutar tubuhnya lalu melayangkan tendangan keras dengan tumit kaki.


Dhiiieeeessshh..


Aaauuuuggggghhhhh!!


Demung Harsawijaya menjerit keras bersamaan dengan tubuhnya yang terhuyung ke samping kanan. Melihat pertahanan Demung Harsawijaya yang rapuh, Senopati Dewangkara segera sabetkan pedangnya kearah tangan kiri perwira prajurit Kadipaten Kembang Kuning itu segera.


Crrhaassss..


Aaaarrrgggggghhhhh!!


Tangan kiri Demung Harsawijaya putus dan jatuh ke tanah. Darah segar segera menyembur dari luka potong di lengan kiri nya. Saat Demung Harsawijaya masih merasakan kesakitan karena tangannya yang putus, Senopati Dewangkara langsung berkelebat cepat kearah samping Demung Harsawijaya dan menebas leher sang perwira prajurit Kembang Kuning.


Chhreepppppph...


Kepala Demung Harsawijaya langsung terpisah dari badan. Kemudian tubuhnya roboh dan menyemburkan darah segar yang memancar ke arah Senopati Dewangkara. Seketika baju Senopati dari Lasem itu menjadi merah berlumuran darah segar.


"Huhhhhh..

__ADS_1


Mampus kau sekarang", umpat Senopati Dewangkara. Karena kesal bajunya kotor berlumur darah, Senopati Dewangkara menyepak kepala Demung Harsawijaya dengan keras.


Dhaassss!


Kepala Demung Harsawijaya melayang cepat kearah Tumenggung Wirasakti yang tengah menghadapi Tumenggung Sindupraja.


Bhuuukkkhhh..


Ouuuuggghhhh!


Tumenggung Wirasakti melengguh keras saat potongan kepala Demung Harsawijaya menghantam punggungnya.


Kuda-kuda nya menjadi goyah, dia nyaris terjungkal ke depan dan itu di manfaatkan dengan baik oleh Tumenggung Sindupraja.


Perwira Istana Daha itu segera menusukkan kerisnya ke ulu hati Tumenggung Wirasakti yang lengah.


Jleeeeppppph..


Aaaarrrgggggghhhhh!!


Mata Tumenggung Wirasakti melotot lebar saat keris Tumenggung Sindupraja menembus ulu hati hingga punggung. Dia tak menyangka bahwa kemampuan beladiri nya yang dua tingkat diatas Tumenggung Sindupraja tak mampu menyelamatkan nyawa nya.


Tumenggung Sindupraja segera mencabut keris luk 13 nya dan tubuh Tumenggung Wirasakti roboh ke tanah. Darah segar segera menggenang di bawah tubuh perwira prajurit Kadipaten Kembang Kuning itu. Dia meregang nyawa dan akhirnya tewas bersimbah darah.


Pertarungan antara para prajurit Panjalu dan Kembang Kuning terus berlangsung sengit. Karena kalah jumlah dan beberapa perwira tinggi telah gugur, membuat prajurit Kembang Kuning semakin terdesak.


Mayat mayat bergelimpangan dimana-mana. Bau anyir darah manusia berbaur dengan jerit kesakitan yang memilukan hati terdengar di dalam benteng pertahanan prajurit Kembang Kuning.


Demung Kombang mengamuk dengan gerakan tubuhnya yang ringan. Sesuai dengan namanya, perwira tinggi prajurit Kadipaten Kembang Kuning itu memiliki Ajian Kumbang Jati yang membuat tubuhnya bisa bergerak cepat bagai kumbang jati yang lincah. Bersenjatakan sebatang besi lancip sepanjang satu depa yang mirip jarum, Demung Kombang membantai para prajurit Panjalu.


Racun Kumbang Merah yang di oleskan pada ujung besi lancip yang di beri nama Cundrik Kalayaksa itu sangat cepat membunuh lawannya. Puluhan prajurit Panjalu meregang nyawa terkena tusukan Cundrik Kalayaksa.


Senopati Warigalit yang melihat para prajurit Panjalu berguguran, langsung menghadang laju pergerakan Demung Kombang. Sambil memutar Tombak Angin, kakak seperguruan Panji Watugunung itu menusukkan mata Tombak Angin yang tipis ke dada Demung Kombang.


Angin dingin berdesir kencang mengikuti ayunan tombak sang Senopati Panjalu.


Whuuussshh!!


Sadar dirinya dalam keadaan bahaya, Demung Kombang segera melompat menjauh dari tusukan Tombak Angin hingga serangan Senopati Warigalit hanya menghajar udara kosong.


'Rupanya ada juga yang berilmu tinggi diantara perwira prajurit Panjalu, aku harus lebih hati-hati', batin Demung Kombang. Meski Tombak Angin berhasil dia hindari, namun angin tajam yang menderu masih bisa merobek baju Demung Kombang hingga terasa perih. Demung Kombang melirik ke arah dada nya dan sebuah sayatan kecil ada di sana. Ini adalah bukti bahwa lawannya berilmu tinggi.


Tanpa banyak basa-basi, Senopati Warigalit segera menjejak tanah dengan keras lalu tubuhnya melesat cepat kearah Demung Kombang.


Melihat kecepatan lawan yang menggunakannya Ajian Sepi Angin, Demung Kombang gelagapan. Karena sekejap saja, Warigalit sudah ada di depan Demung Kombang sambil menusukkan Tombak Angin kearah perut perwira prajurit Kadipaten Kembang Kuning itu segera.


Tak ada pilihan lain bagi Demung Kombang selain membenturkan Cundrik Kalayaksa untuk menangkis tusukan Tombak Angin.


Thrrriiinnnggggg!!


Pertahanan kiri Demung Kombang terbuka dan Warigalit dengan cepat hantamkan tangan kirinya kearah dada Demung Kombang.


Dhiiieeeessshh..


Aaauuuuggggghhhhh!!!


Demung Kombang segera bangkit. Dada kanannya sakit. Beberapa tulang iga nya pasti ada yang retak. Segera dia menata jalan napas nya sambil memutar senjatanya.


Pria bertubuh kurus itu segera bergerak cepat menuju Senopati Warigalit sambil menggunakan Ajian Kumbang Jati nya dengan gerakan cepat yang tidak beraturan mengepung Warigalit.


Senopati Panjalu itu menajamkan penglihatan mata nya sembari memutar Tombak Angin nya yang menciptakan angin tajam yang menderu kencang.


Merasa memperoleh kesempatan, Demung Kombang menusukkan Cundrik Kalayaksa ke arah pinggang kakak seperguruan Panji Watugunung itu. Namun angin yang mengikuti gerakan Cundrik Kalayaksa membentur angin tajam dari Tombak Angin. Senopati Warigalit yang sudah memahami perubahan gerakan angin dari Tombak Angin, menggeser tubuhnya sedikit kesamping kiri.


Lalu tangan kiri nya menghantam pinggang Demung Kombang segera.


Bhuuukkkhhh...


Auuuggghhhhh!


Hantaman tangan kiri yang bertenaga dalam tinggi langsung membuat Demung Kombang terpelanting. Belum sempat dia berdiri tegak, Warigalit yang mengunakan Ajian Sepi Angin melesat cepat sambil menusukkan mata bilah Tombak Angin yang tipis ke leher Demung Kombang.


Jleeeeppppph!


Eeeemmmmpppphhhfff!


Hanya itu yang terdengar dari mulut Demung Kombang sesaaat sebelum Warigalit mencabut Tombak Angin dari leher perwira prajurit Kadipaten Kembang Kuning itu. Dia langsung tewas dengan leher nyaris putus.


Pertempuran semakin mendekati titik akhir. Ribuan mayat bergelimpangan di dalam maupun di luar benteng pertahanan prajurit Kembang Kuning. Terlihat jelas bahwa pasukan Panjalu jauh lebih unggul dibandingkan dengan pasukan Kembang Kuning.


Patih Harjamukti segera melompat tinggi ke udara sambil menghantamkan tangan kanannya yang berwarna merah menyala kearah para prajurit Panjalu.


Whuuussshh whuuussshh!!


Blammmmm blammmmm!!!


Ledakan dahsyat terdengar dan puluhan prajurit Panjalu langsung tewas terkena Ajian Asta Geni.


Tak puas sampai di situ, Patih Harjamukti terus menerus menghantamkan tangan nya kearah para prajurit Panjalu yang mengepung para prajurit Kadipaten Kembang Kuning yang terjepit.


Whhhuuuuuttttthhhh whhhuuuggghhhh!!


Bllarrrrrrr blaaarrr...


Blllaaammmmmmmm!!!


Puluhan prajurit Panjalu langsung menemui ajalnya karena terkena imbas dari Ajian Asta Geni nya Patih Harjamukti.


Panji Watugunung atau juga disebut sebagai Prabu Jayengrana yang melihat itu tidak bisa tinggal diam. Segera dia menggunakan Ajian Halimun nya. Lalu menghadang sinar merah Ajian Asta Geni dari Patih Harjamukti dengan Ajian Tameng Waja nya.


Kemunculan Panji Watugunung yang tiba-tiba mengejutkan Patih Harjamukti. Namun dia tersenyum lebar ketika melihat Panji Watugunung menghadang ilmu kesaktiannya itu.


Blllaaammmmmmmm!!!

__ADS_1


Ledakan dahsyat terdengar. Dari tubuh Panji Watugunung mengepul asap tebal menutupi. Saat asap mulai menghilang, senyum di bibir Patih Harjamukti langsung menghilang.


Para prajurit Panjalu langsung memberi ruang bagi Panji Watugunung untuk bertindak. Mereka mundur beberapa tombak namun tetap dalam posisi mengepung pasukan Kembang Kuning yang sudah terjepit.


Panji Watugunung tersenyum tipis melihat kearah Patih Harjamukti yang terperangah melihat ilmu kedigdayaan nya tidak mampu menggores kulit Panji Watugunung.


Perlahan Panji Watugunung berjalan mendekati Patih Harjamukti. Patih sepuh Kadipaten Kembang Kuning itu diam diam merasa takut meski tidak mundur dari tempat nya berdiri.


"Aku beri kau kesempatan untuk terakhir kalinya, Patih Harjamukti..


Menyerahlah maka kau dan para prajurit Kembang Kuning akan ku ampuni", ucap Panji Watugunung dengan tegas.


Phuihhhh..


"Kau pikir aku takut pada mu, Jayengrana??


Lebih baik aku terbunuh oleh mu daripada harus mengemis pengampunan dari mu", jawab Patih Harjamukti seraya menatap tajam ke arah Panji Watugunung.


"Kalau begitu jangan salahkan aku jika bertindak tegas terhadap kalian", ujar Panji Watugunung segera.


Patih Harjamukti segera melesat cepat kearah Panji Watugunung seraya menghantamkan tangan kanannya yang berwarna merah menyala seperti api. Dia mengincar dada Raja Panjalu itu.


Panji Watugunung diam diam merapal mantra Ajian Waringin Sungsang nya.


Saat tangan Patih Harjamukti hampir menghantam dada Panji Watugunung, seberkas sinar kuning keemasan melingkupi seluruh tubuh sang Raja Panjalu.


Jlllaaaarrrrrr..


Ledakan keras terdengar. Tubuh Patih Harjamukti yang hendak terpental langsung di pegang oleh Panji Watugunung pada lengan kirinya.


Dari mulut Panji Watugunung yang terbuka keluar sinar hijau kebiruan yang segera mengikat tubuh tua Patih Harjamukti.


Warangka praja Kembang Kuning itu merasakan sakit pada seluruh sendi sendi tubuhnya. Ajian Waringin Sungsang menghisap daya hidup dan tenaga dalam nya.


AAAARRRGGGHHHH!!!


Patih Harjamukti menjerit keras merasakan sakit pada setiap jengkal tubuh nya. Lama kelamaan tubuh nya semakin mengering dan menghitam hingga menyisakan tulang dan kulit.


Panji Watugunung segera menghantam dada Patih Harjamukti.


Hiyyyyaaaaaaaatttttt...


Blllaaammmmmmmm!!!


Tubuh Patih Harjamukti langsung hancur lebur menjadi abu. Panji Watugunung menghela nafas panjang sesaat sebelum menoleh ke arah para prajurit Kembang Kuning.


"Kalian memiliki kesempatan terakhir.


Menyerah pada kami atau mati", ujar Panji Watugunung sambil menatap ke arah ribuan prajurit Kembang Kuning.


Tumenggung Gunapati, satunya perwira prajurit Kadipaten Kembang Kuning yang tersisa dari seluruh perwira tinggi yang ada di benteng pertahanan itu mendengus keras lalu melesat cepat kearah Panji Watugunung.


"Lebih baik aku mati daripada mengkhianati kepercayaan junjungan kami, Jayengrana!


Hiyyyyaaaaaaaatttttt!!!"...


Dewi Srimpi yang sedari tadi hanya menyaksikan pertempuran langsung melesat cepat bagi kilat kearah Tumenggung Gunapati usai menepuk punggung kudanya sebagai pijakan. Dengan Ajian Langkah Dewa Angin, kecepatan perempuan itu nyaris tak terlihat oleh mata biasa.


Dengan memakai Pedang Kelabang Neraka, Dewi Srimpi segera menebas perut Tumenggung Gunapati.


Chhrrrraaaaaassss...


Perwira tinggi prajurit Kembang Kuning itu hanya merasakan perih di perutnya sebelum menyadari bahwa perutnya telah robek dan ususnya terburai keluar.


Mata Tumenggung Gunapati melotot seakan tak percaya sebelum akhirnya dia tewas bersimbah darah.


Dewi Srimpi segera bergerak cepat menuju ke arah Panji Watugunung dan berdiri di sampingnya. Cempluk Rara Sunti pun ikut melesat dan menjajari madu nya itu.


Melihat kehebatan ilmu kanuragan para perwira tinggi Panjalu, para prajurit Kadipaten Kembang Kuning yang tersisa segera melemparkan senjata mereka ke tanah sebagai tanda menyerah tanpa syarat terhadap prajurit Panjalu.


Sorak sorai segera terdengar dari mulut para prajurit Panjalu sebagai pertanda bahwa benteng pertahanan prajurit Kembang Kuning telah jatuh ke tangan mereka.


Sepasang mata yang menyaksikan pertarungan itu dari kejauhan perlahan bergerak meninggalkan tempat persembunyian nya. Setelah cukup jauh dari tempat persembunyiannya, dia menuju ke semak belukar. Disana seekor kuda hitam tertambat pada pokok pohon serut. Segera dia melepaskan ikatan tali kekang kuda lalu melompat ke atas kuda nya.


Dia dengan keras menggebrak kudanya menuju ke arah barat. Tujuan nya hanya satu.


Istana Kadipaten Kembang Kuning.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya 😁

__ADS_1


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁😁


Selamat membaca 😁🙏😁


__ADS_2