
Panji Watugunung dan Warigalit terus memacu kuda mereka menuju ke Istana Katang-katang.
Saat memasuki wilayah kota, semua orang yang berpapasan dengan mereka segera menepi dan membungkuk hormat. Walaupun Panji Watugunung sudah sering meminta mereka untuk tidak melakukan nya, tapi mereka tetap saja berbuat seperti itu. Ini karena selama di wilayah kota Kadiri, mereka selalu merasa aman. Tidak pernah ada kejahatan yang meresahkan masyarakat. Kalaupun ada, prajurit Kayuwarajan selalu bertindak cepat mengatasi masalah.
Para pembesar istana juga melakukan pekerjaan mereka dengan baik.
Demung Gumbreg yang mengurus lumbung pangan istana, dan masuknya pajak dan upeti dari 3 wilayah Kayuwarajan Kadiri sangat teliti meski dibantu Weleng dan Gubarja yang setia menemani tugas sang Demung.
Tumenggung Ludaka yang bertugas menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah Kayuwarajan Kadiri juga tidak kalah sigap dalam pengamanan. Setiap ada masalah kecil seperti pencurian dan pemalakan, selalu di tangani dengan penuh kebijaksanaan.
Patih Saketi selaku warangka Kayuwarajan Kadiri pun menjalankan roda pemerintahan dengan penuh tanggung jawab. Dia merasa begitu beruntung bisa dekat dengan Pangeran Panji Jayengrana. Dulu dia hanya bekel prajurit di istana Kadipaten Seloageng, sekarang dia adalah Patih di wilayah Kayuwarajan Kadiri yang merupakan wilayah penting dalam tata laksana pemerintah Panjalu. Mendampingi seorang Yuwaraja atau putra mahkota sama sekali tidak pernah ada dalam mimpinya, namun sekarang dia berada di dekat Panji Watugunung. Maka dari itu, dia tidak pernah lalai menjalankan tugas nya.
Mpu Gondho Lukito dan Rakeh Kepung pun sama. Mereka merasa beruntung bisa menjadi penasehat Sang Yuwaraja Panjalu. Itu artinya suara mereka akan di dengar oleh putra mahkota kerajaan Panjalu.
Begitu Panji Watugunung dan Warigalit memasuki pintu gerbang istana, 4 orang prajurit yang menjaga gerbang istana segera membungkuk hormat kepada sesembahan mereka dan membuka jalan kepada dua orang pembesar istana Kayuwarajan Kadiri itu.
Begitu turun dari kuda, Panji Watugunung dan Warigalit segera berjalan menuju ke puri pribadi Sekar Mayang yang ada disamping barat bangunan utama. Para pekatik kuda segera membawa kuda mereka menuju kandang untuk memandikan kuda kuda junjungan mereka.
Sekar Mayang yang sedang asyik menyulam kain, langsung menoleh ke arah Panji Watugunung dan Warigalit saat langkah kaki mereka terdengar.
Wajah bulat telur Sekar Mayang langsung berhias senyum manis.
"Kakang Watugunung,
Kau datang kemari", ujar Sekar Mayang dengan wajah sumringah.
"Iya Dinda Mayang,
Ada sesuatu yang ingin ku tanyakan pada mu. Ayo kita duduk dulu", ajak Panji Watugunung yang segera bergegas duduk bersila di lantai serambi Puri pribadi Sekar Mayang. Warigalit segera mengikuti langkah sang pemimpin.
"Ada apa Kakang? Seperti nya ada sesuatu yang penting sekali", buru buru Sekar Mayang ikut Panji Watugunung duduk dan menatap wajah suaminya itu dengan penuh penasaran.
Panji Watugunung tersenyum tipis.
"Dinda Mayang,
Apa kau mengenal Nini Sumbi?", tanya Panji Watugunung segera.
Raut wajah Sekar Mayang langsung terkejut seketika.
"Da-darimana Kakang Watugunung tau Nini Sumbi?", tanya Sekar Mayang dengan terbata-bata.
"Tadi ada seorang wanita tua dengan pakaian compang camping pingsan di jalan. Ada seorang pemuda yang menolong nya. Kami yang kebetulan lewat, melihat ke wanita tua itu. Dia mengaku bernama Nini Sumbi, pelayan Mpu Guritno dari Wanua Padelegan", sahut Warigalit segera.
Raut wajah Sekar Mayang langsung berubah muram.
"Dia adalah pelayan ayahku Kakang. Sejak ibu ku meninggal karena melahirkan ku, hanya dia yang merawat ku.
Ayah menyalahkan ku atas kematian ibu hingga dia tidak pernah sayang kepada ku. Dia selalu menjaga jarak dengan ku karena aku dianggap sebagai pembawa sial untuk nya.
Setelah aku berumur 10 tahun, ayah mengirim ku ke Padepokan Padas Putih untuk menuntut ilmu. Tentu Kakang ingat bukan waktu pertama kali kita bertemu di Padepokan Padas Putih waktu itu?
Tapi itu hanya alasan agar aku tidak menggangu kehidupan asmara nya dengan Nyi Pundi yang merupakan kembang tledek keliling di wilayah Kunjang. Perempuan itu dinikahi oleh ayah saat aku baru saja diantar ke padepokan.
Aku benci ayah sejak saat itu. Karena itu aku tidak mau sampai Kakang Watugunung mengenal orang tua ku. Aku mau bercerita karena Nini Sumbi yang datang mencari ku, kalau tidak selamanya aku akan menutup mulut ku rapat-rapat", cerita Sekar Mayang yang mulai berkaca-kaca matanya. Kepahitan dan luka hidup di masa lalu seakan disiram dengan air garam.
Panji Watugunung segera memeluk selir keduanya itu dengan penuh kasih sayang. Dia pun akhirnya memahami apa yang membuat perangai Sekar Mayang yang pemarah dan seenaknya sendiri. Itu semua untuk menutupi kerapuhan hatinya yang terpuruk di kehidupan masa lalu nya.
"Kau tidak boleh begitu, Dinda Mayang.
Bagaimanapun dia tetap ayahmu. Kita tidak bisa membenci orang tua kita hanya karena perbuatannya. Jangan menjadi picik hanya karena dibutakan oleh perasaan benci", ujar Panji Watugunung sambil tersenyum tipis.
"Iya Kakang aku mengerti, tapi ayah..", belum sempat Sekar Mayang meneruskan kalimatnya, Panji Watugunung segera merogoh kantong bajunya dan mengeluarkan sebuah cincin bermata biru.
Mata Sekar Mayang langsung terbelalak melihat cincin bermata biru di tangan Panji Watugunung itu.
"I-ini cincin ayah. Bagaimana bisa ada di tangan mu Kakang?", gugup sudah Sekar Mayang.
"Nini Sumbi memberikan ini kepada ku. Katanya wanua Padelegan sedang dalam masalah. Seluruh penduduk terkena wabah penyakit aneh. Menurut Nini Sumbi, ini karena ibu tiri mu bersekutu dengan setan", jawab Watugunung sambil memandang kearah Sekar Mayang.
"APAAAAA?!!!
Ini tidak boleh dibiarkan Kakang. Aku mohon tolong ayahku Kakang", air mata bening langsung tumpah dari mata Sekar Mayang.
"Menghadapi ilmu teluh dan guna-guna, hanya satu orang yang pas untuk mengatasinya.
Kau tenang saja Dinda Mayang, aku tidak akan tinggal diam.
Kakang Warigalit,
Aku minta tolong, jemput Mpu Soma dari Ranja. 3 hari lagi kita bertemu di Pakuwon Kunjang. Aku tunggu kedatangan mu disana", perintah Panji Watugunung segera.
__ADS_1
"Sendiko dawuh Dhimas Pangeran", jawab Warigalit sambil menghormat. Suami Ratri itu segera bergegas mundur dari Puri pribadi Sekar Mayang dan pulang ke kediaman nya di luar istana Katang-katang.
Setelah berpamitan pada Ratri, dengan ditemani oleh 4 prajurit pilihan Warigalit segera memacu kuda nya menuju ke Pertapaan Ranja di Seloageng tenggara.
Setelah sehari semalam melakukan perjalanan, melewati Pakuwon Randu, Palah, Ganter dan Bedander, Warigalit dan pengiring nya tiba di pertapaan Ranja.
Resi Mpu Soma menyambut kedatangan Warigalit dengan penuh sukacita.
Setelah berbincang-bincang sejenak, dan mendengar cerita Warigalit, Mpu Soma mengerutkan keningnya.
"Hemmmm..
Aku dulu pernah mendengar, di timur Kunjang ada seorang dukun wanita yang katanya merupakan murid Nyai Calon Arang, seorang Ratu ilmu hitam dari wilayah sekarang menjadi Kadipaten Karang Anom yang sempat mengalahkan Prabu Airlangga.
Menurut berita yang ku dengar, dukun itu mampu memporak-porandakan sebuah kampung hanya dalam waktu satu malam.
Kalau tidak salah, namanya Nyi Polok. Dia sangat sakti dan berbahaya. Kalau sampai benar ibu tiri Gusti Selir bersekutu dengan dia, maka pagebluk akan melanda wilayah Padelegan", ujar Mpu Soma sambil mengusap jenggotnya.
"Lantas bagaimana langkah kita selanjutnya Resi?", tanya Warigalit kemudian.
"Aku akan mengajak adik seperguruan ku. Dia lebih pintar dalam memusnahkan ilmu hitam daripada aku yang hanya bisa meramal dan memasang pelindung.
Hari ini juga kita berangkat ke Kunjang", jawab Mpu Soma sambil tersenyum tipis.
Hari itu juga, Warigalit mengawal Mpu Soma dan adik seperguruannya yang bernama Mpu Sukrasana berkuda menuju Pakuwon Kunjang.
Karena daya linuwih dari Mpu Soma, kuda mereka tetap bugar semasa perjalanan jauh itu. Pun para prajurit yang mengawal sama sekali tidak merasakan letih sehingga dalam waktu sehari semalam mereka telah sampai di Kunjang.
Sementara itu, Panji Watugunung yang hendak berangkat berdua dengan Sekar Mayang ke Kunjang, terpaksa mengijinkan Naganingrum dan Dewi Srimpi untuk ikut karena Naganingrum mogok makan jika tidak diajak, sementara Dewi Srimpi berangkat atas usulan Dewi Anggarawati yang khawatir dengan wabah yang merebak.
Mereka berempat sampai di Pakuwon Kunjang saat tengah hari bersamaan saat Warigalit, Mpu Soma, Mpu Sukrasana dan prajurit pengiringnya sampai di Istana Pakuwon Kunjang.
"Ah kebetulan sekali kita datang bersamaan, Dhimas Pangeran Panji", ujar Warigalit yang segera melompat turun dari kudanya.
"Sudah di atur oleh Hyang Agung, Kakang Warigalit.
Guru Resi,
Kita bertemu lagi", ujar Panji Watugunung sambil tersenyum.
"Nakmas Pangeran,
Kita memang benar-benar berjodoh. Datang ke Kunjang pun bersamaan", Mpu Soma tersenyum tipis.
Si kakek tua itu segera membungkuk hormat kepada Panji Watugunung.
"Mari kita berbincang di dalam saja Gusti Pangeran", ujar Rakeh Bango, sang Akuwu Kunjang yang menyambut kedatangan mereka.
Panji Watugunung segera mengikuti langkah sang Akuwu ke balai peristirahatan Pakuwon Kunjang diikuti ketiga istrinya, dua Resi Pertapaan Ranja dan Warigalit serta keempat pengiringnya.
Setelah mereka duduk bersila di lantai serambi bangsal peristirahatan tamu Pakuwon, Panji Watugunung segera membuka percakapan.
"Ki Kuwu,
Aku mau bertanya. Apa Wanua Padelegan masih merupakan wilayah Pakuwon Kunjang?", tanya Panji Watugunung segera.
"Benar Gusti Pangeran, Padelegan masih wilayah Pakuwon Kunjang.
Memang ada apa Gusti Pangeran?", Rakeh Bango menghormat pada Panji Watugunung.
Hemmmm
"Aku dengar wilayah itu terserang wabah penyakit aneh. Apa kau tidak tahu masalah ini?", Panji Watugunung menatap ke arah Rakeh Bango segera.
"Mohon ampun beribu ampun Gusti Pangeran,
Pada pisowanan para Rama tempo hari, tidak ada laporan mengenai masalah ini kepada hamba, Gusti Pangeran. Mpu Guritno juga tidak berbicara apa apa mengenai masalah ini", Rakeh Bango menunduk tak berani menatap ke arah Panji Watugunung.
"Berarti masalah ini terjadi baru baru saja.
Aku minta padamu, untuk menyiapkan bahan makanan dan obat-obatan untuk di kirim ke Padelegan. Padelegan masih wilayah mu, jadi semua tanggung jawab ada pada mu. Besok pagi aku dan para Resi ini akan kesana untuk melihat keadaan masyarakat yang ada disana", titah Panji Watugunung segera.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", ujar Rakeh Bango sambil menyembah kepada Panji Watugunung.
Malam itu, mereka beristirahat di balai peristirahatan Pakuwon Kunjang. Sekar Mayang yang mendapat giliran jatah menemani tidur sang suami, tersenyum manis sambil menggandeng tangan Panji Watugunung menuju kamar peristirahatan nya.
"Kakang Watugunung,
Terimakasih banyak karena kakang mau mendengarkan ku dan menuruti keinginan ku", ujar Sekar Mayang yang menyenderkan kepalanya di pundak sang suami.
"Sudah kewajiban ku Dinda Mayang,
__ADS_1
Kau adalah istri ku, kesedihan mu juga kesedihan ku. Yang penting Dinda berdoa kepada Hyang Agung agar ayahmu baik baik saja", jawab Panji Watugunung segera. Sekar Mayang menatap wajah Panji Watugunung dengan penuh perasaan cinta.
Perlahan dia mulai mendorong tubuh Watugunung ke ranjang. Dan malam itu dia melayani Panji Watugunung sepenuh hati dan jiwa nya.
Pagi menjelang tiba di Pakuwon Kunjang. Suara kokok ayam jantan riuh bersahutan membangunkan semua penghuni istana Pakuwon Kunjang. Langit timur mulai memerah pertanda sang matahari sebentar lagi muncul. Nyanyian ceria para burung yang hinggap di dahan pohon semakin menggeliatkan suasana pagi hari itu.
Panji Watugunung segera terbangun saat sebuah kecupan mesra mendarat di pipi kanan nya.
Pangeran Daha itu mengucek matanya sebentar, kemudian dengan jelas melihat bahwa Sekar Mayang sudah berdandan cantik di samping peraduannya.
"Tumben kau bangun pagi sekali Dinda,
Ada angin apa yang membuat mu begitu bersemangat?", Panji Watugunung tersenyum dan segera bangkit dari ranjang tidur nya.
"Kakang Watugunung ini, aku bangun pagi sekali saja sudah di sindir. Besok-besok aku bangun siang lagi saja", ujar Sekar Mayang sambil mengerucutkan bibirnya.
Hehehehe
"Begitu saja sudah marah. Kakang hanya bercanda Dinda", Panji Watugunung segera turun dari ranjang nya dan menuju ke tempat mandi. Sekar Mayang terus menatap ke arah Panji Watugunung sampai menghilang di balik pintu lorong tempat mandi.
Seusai mandi dan bersiap-siap, Panji Watugunung dan ketiga istrinya segera menemui Warigalit dan dua Resi Pertapaan Ranja serta keempat prajurit pengawal. Mereka kemudian meninggalkan Pakuwon Kunjang usai berpamitan kepada Akuwu Rakeh Bango. Dengan penuh semangat, mereka memacu kuda mereka menuju ke Wanua Padelegan.
**
Seorang wanita cantik berusia 30 warsa sedang duduk di depan seorang wanita yang memakai tudung merah seperti darah. Di depan wanita itu, berbagai sesajen bebungaan dan sekuali darah segar seperti baru di teteskan.
Perempuan cantik itu adalah Nyi Pundi, istri kedua Lurah Wanua Padelegan yang juga merupakan ibu tiri Sekar Mayang.
"Bagaimana Nyi Polok?
Apakah pelayan busuk itu sudah kau temukan?", tanya Nyi Pundi pada perempuan bertudung merah darah itu.
Hemmmm
"Dia sudah sampai di kota Kadiri, Nyi Lurah. Sepertinya tujuannya untuk bertemu dengan Pangeran Jayengrana sudah berhasil", jawab perempuan bertudung merah darah itu segera.
"Celaka!
Kalau sampai pangeran Daha itu turun tangan, rencana ku balas dendam pada penduduk Wanua Padelegan bisa hancur, Nyi", raut wajah cemas terpancar dari wajah Nyi Pundi.
Hihihihii..
Tawa Nyi Polok terdengar menakutkan. Perempuan itu segera menaburkan sejumput kembang pada darah di kuali, kemudian menaburkan kemenyan pada bara arang di anglo tanah liat.
Bau harum kemenyan memenuhi tempat itu.
"Kau tenang saja Nyi Lurah, teluh ku tak mudah di atasi. Lagipula aku sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi mereka", ujar perempuan bertudung merah darah itu sambil tertawa kecil.
Mulut perempuan itu berkomat-kamit membaca mantra. Tiba tiba darah segar di kuali bergolak lalu membentuk 4 bola darah yang melayang menjauhi Nyi Polok.
Perlahan dari bola darah itu muncul asap pekat kehitaman disertai angin kencang. Lalu 4 mahkluk mengerikan muncul.
"Ada apa kau memanggil kami, Nyi Polok?", suara seram dari seorang mahkluk besar hitam dengan dua tanduk besar terdengar.
"Ada beberapa orang yang hendak masuk ke Padelegan. Halangi mereka!", perintah Nyi Polok segera.
Empat mahkluk mengerikan itu segera menghilang dari pandangan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya agar author terus semangat menulis yah 😁
__ADS_1
Selamat membaca 🙏😁🙏