Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Gerombolan Gagak Merah


__ADS_3

Adipati Karang Anom, Windupati terus bergegas menuju ke arah pintu gerbang istana Kadipaten Karang Anom untuk menyambut kedatangan Panji Watugunung dan rombongannya.


Nafasnya sampai tersengal akibat terlalu cepat berlari. Sesampainya di pintu gerbang istana, dia segera berjongkok dan menyembah pada Panji Watugunung.


"Selamat datang di Karang Anom, Gusti Pangeran.


Mohon maaf jika hamba tidak melakukan penyambutan sebagaimana mestinya", ujar Windupati dengan sopan.


Hemmmm


"Berdirilah Gusti Adipati.


Ada sesuatu hal yang harus ku bicarakan dengan mu", Panji Watugunung mengangkat tangan kanannya.


"Mari silahkan masuk ke dalam istana Karang Anom, Gusti Pangeran Jayengrana", ujar Adipati Windupati sambil membungkuk hormat.


Rombongan Panji Watugunung segera memasuki istana Kadipaten Karang Anom.


Keriuhan segera terjadi di dalam istana Kadipaten.


Adipati Windupati segera memerintahkan para juru masak istana untuk menyiapkan hidangan pada para tamu agung yang datang. Dua orang prajurit di utus untuk menjemput Patih Sengguruh dan Senopati Karang Anom, Mpu Yudhana.


Di balai paseban Kadipaten Karang Anom, Panji Watugunung duduk bersila di kelilingi para pengikutnya. Adipati Windupati pun ikut duduk di sebelah Senopati Warigalit.


Tak berapa lama kemudian, Patih Sengguruh dan Senopati Mpu Yudhana datang menghadap.


"Sembah bakti hamba pada Gusti Pangeran Jayengrana", dua orang pejabat istana Karang Anom itu berjongkok dan menyembah pada Panji Watugunung.


"Aku terima. Sekarang duduklah dengan tenang", ujar Panji Watugunung segera. Dua orang pejabat sepuh itu segera duduk di hadapan Panji Watugunung.


Setelah semua berkumpul, Panji Watugunung mulai membuka percakapan dengan mereka.


"Gusti Adipati Karang Anom,


Kedatangan ku kemari adalah untuk meminta bantuan kepada mu", ujar Panji Watugunung sambil menatap ke arah Adipati Windupati.


"Mohon ampun Gusti Pangeran,


Sekiranya bantuan apa yang bisa hamba berikan kepada Gusti Pangeran Jayengrana?", tanya Windupati dengan hati-hati.


"Aku mempunyai sebuah masalah yang melibatkan Karang Anom.


Kau tahu Akuwu Jungbiru bukan?", tanya Panji Watugunung segera.


"Akuwu Jungbiru, Rakryan Gana adalah adik sepupu dari ayah hamba Gusti Pangeran.


Ada masalah apa dengan dia kalau hamba boleh tau?", hati Windupati, sang Adipati Karang Anom berdebar kencang mendengar nama paman nya disebut oleh Panji Watugunung.


"Berarti putra Akuwu Jungbiru itu masih terhitung sepupu mu bukan?", pertanyaan Panji Watugunung sontak membuat Windupati berkeringat dingin. Pikirannya langsung membayangkan hal yang menakutkan.


"Be-benar Gusti Pangeran Jayengrana.


Ganajaya adalah sepupu hamba dari pihak ayah. Apa ada hal yang salah dengan sepupu hamba tersebut Gusti Pangeran?", tanya Windupati sambil tergagap.


Hemmmm


Panji Watugunung mendengus dingin.


"Apa kau tahu Ganajaya itu akan menikah?", Panji Watugunung menatap ke arah Windupati.


"Setahu hamba dia akan menikah dengan putri seorang Resi dari Lembah Hijau, Gusti Pangeran.


Hamba dengar pernikahan nya tinggal menunggu hari", jawab Windupati dengan hati-hati agar tidak menyinggung perasaan Panji Watugunung.


"Apa kau tahu bahwa Ganajaya diculik orang? Sebagai sepupunya, bagaimana kau tidak tahu masalah ini?


Sedangkan keluarga gadis yang akan dinikahi nya sudah menyiapkan acara, dan berita nya sudah tersebar. Coba kau pikir Gusti Adipati, bagaimana malu nya mereka jika sampai pernikahan mereka gagal karena calon pengantin pria di culik? Saudara macam apa kau ini?", mendengar pertanyaan Panji Watugunung, wajah Adipati Windupati pucat seketika.


Dalam pikirannya, calon mempelai wanita pasti ada sangkut pautnya dengan Pangeran Jayengrana ini.


"Mohon maaf Gusti Pangeran Jayengrana.


Hamba sama sekali tidak mengetahui apa yang telah terjadi", ujar Adipati Windupati dengan nada suara rendah.


Hemmmm


"Dengar Gusti Adipati Windupati,


Ganajaya di culik oleh Gerombolan Gagak Merah. Menurut berita, mereka bermarkas di wilayah Kadipaten Karang Anom ini.


Aku tidak mau tahu, besok pagi aku sudah harus menemukan markas mereka. Kalau tidak, jangan harap ada ampun untuk masalah ini. Karena calon pengantin wanita adalah kerabat ku", ucap Panji Watugunung segera.


Windupati, Patih Sengguruh dan Senopati Mpu Yudhana terkejut bukan main mendengar ucapan Panji Watugunung. Sedangkan Warigalit, Warigagung dan para istri Panji Watugunung tersenyum tipis saja.


"Ba-baik Gusti Pangeran Jayengrana..


Hamba akan memberikan apa yang Gusti Pangeran inginkan", ujar Adipati Windupati sambil tergagap.


"Paman Patih Sengguruh dan kau Senopati Yudhana,


Kerahkan seluruh telik sandi kita. Malam ini kalian harus menemukan tempat markas Gerombolan Gagak Merah berada.


Cepat!", perintah Windupati pada dua punggawa Kadipaten Karang Anom itu.


"Sendiko dawuh Gusti Adipati", dua orang punggawa Kadipaten Karang Anom itu segera menyembah pada Panji Watugunung lalu pada Adipati Windupati kemudian mundur dari balai paseban Kadipaten Karang Anom.


Setengah berlari mereka menuju kearah Ksatrian Karang Anom untuk mengerahkan para telik sandi.


Selepas dua orang punggawa itu pergi, puluhan dayang istana Kadipaten Karang Anom segera menghidangkan pelbagai jenis makanan untuk para tamu agung mereka.


Malam itu, Adipati Windupati mengantar mereka ke balai tamu Kadipaten Karang Anom.


Pagi menjelang tiba di istana Kadipaten Karang Anom. Sang mentari pagi mulai mengusir gelap malam yang sempat menguasai dunia. Kokok ayam jantan bersahutan menyambut kedatangan hangat sinar matahari pagi.

__ADS_1


Panji Watugunung sedang berdandan di bantu Ratna Pitaloka dan Naganingrum saat Dewi Srimpi masuk membawakan secangkir wedang jahe hangat dan beberapa makanan kecil.


Canda tawa terdengar dari kamar itu.


Seorang prajurit penjaga Kadipaten Karang Anom berdiri di luar kamar.


"Mohon ampun Gusti Pangeran,


Gusti Adipati sudah mendapatkan berita keberadaan markas Gerombolan Gagak Merah. Beliau menunggu Gusti Pangeran dan Gusti Permaisuri serta Gusti Selir di sasana boga", ujar si prajurit dengan sopan.


"Bilang pada Gusti Adipati, aku akan segera kesana", ujar Panji Watugunung yang masih membenarkan sumping telinganya yang berwujud sulur pakis dari emas.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", jawab si prajurit penjaga sambil menghormat pada Panji Watugunung dan segera kembali ke tempat Adipati Windupati.


Panji Watugunung melangkah ke sasana boga ditemani oleh Dewi Srimpi, Naganingrum dan Ratna Pitaloka.


Di sasana boga, Adipati Windupati sudah menunggu kedatangan mereka.


Setelah bersantap pagi, mereka menuju balai paseban Kadipaten Karang Anom untuk membicarakan tentang rencana penyerbuan ke markas Gerombolan Gagak Merah.


"Gusti Adipati,


Terangkan padaku, dimana letak markas mereka? Jangan sampai ada yang terlewati", tanya Panji Watugunung segera setelah mereka duduk di balai paseban Kadipaten Karang Anom.


"Menurut telik sandi yang melapor, markas Gerombolan Gagak Merah ada di timur Rawa Mas, Gusti Pangeran.


Jalan darat satu-satunya ke tempat itu hanya lewat sisi utara yang menghubungkan dengan wilayah Pakuwon Gempol meski hanya jalan setapak di tengah hutan Kaliwungu.


Kita bisa menyerbu mereka hanya lewat jalan itu karena Rawa Mas yang mengelilingi tempat itu penuh dengan buaya", jawab Adipati Windupati dengan cepat.


Hemmmm


"Kita harus cepat menyiapkan rencana untuk menghadapi mereka, aku tidak mau pernikahan kerabat ku tertunda karena ulah mereka", ujar Panji Watugunung segera.


Warigalit dan Warigagung tersenyum simpul mendengar ucapan Panji Watugunung.


Sementara itu, di sebuah pemukiman kecil yang terlindung bebatuan dan pohon besar seorang lelaki bertubuh gempal dengan wajah merah sedang asyik mengusap ayam jago nya dengan air.


Dialah Rambusoka atau yang lebih dikenal dengan sebutan Gagak Merah, pimpinan kelompok perusuh Gagak Merah yang membuat pusing pemerintah daerah di selatan Panjalu selama beberapa warsa terakhir.


Berbekal ilmu kanuragan tingkat tinggi yang di peroleh dari berguru kepada beberapa pendekar golongan hitam di wilayah selatan Panjalu, Gagak Merah menjadi dedengkot dunia hitam yang ditakuti.


Di tambah lagi, mereka memiliki beberapa tempat persembunyian yang berpindah-pindah sehingga menyulitkan bagi para prajurit pemerintah daerah Panjalu Selatan membasmi keberadaan mereka.


Rambusoka memiliki seorang anak gadis yang bernama Rara Murni yang berwajah buruk rupa. Meski berkulit putih, tapi perempuan itu memiliki taring yang panjang seperti taring harimau.


Suatu hari, saat mereka melintasi Pakuwon Jungbiru karena dikejar prajurit Kadipaten Wengker, Rara Murni melihat Ganajaya, putra Akuwu Jungbiru sedang asyik bercanda dengan para penggembala kerbau di tepi hutan. Rara Murni langsung jatuh cinta pada Ganajaya. Gadis itu lalu meminta Rambusoka alias Gagak Merah menculik Ganajaya.


Meski akhirnya mereka berhasil menculik Ganajaya, namun Ganajaya menolak mentah-mentah permintaan Rara Murni untuk menikahinya.


Hampir sepekan, setiap hari Rara Murni menyiksa Ganajaya agar mau menuruti keinginan nya, tapi Ganajaya tetap saja tidak mau mendengar permintaan Rara Murni.


Pagi itu kembali raut muka Rara Murni ditekuk usai keluar dari tempat penahanan Ganajaya. Laki laki itu kembali menolak nya. Setelah puas menyiksa Ganajaya, Rara Murni keluar dari tempat penahanan.


Cepat pikirkan caranya supaya Kakang Ganajaya mau menikahi ku. Jangan ayam terus yang kau pikirkan", teriak Rara Murni dengan keras.


"Anak gadis ku yang cantik,


Ini Romo mu juga lagi memikirkannya. Kau tidak usah khawatir. Cepat atau lambat, Ganajaya akan jadi suami mu", hibur Rambusoka seraya mengangkat ayam aduan nya itu dan memasukkan ke kandangnya.


"Huh Romo ini apanya yang dipikirkan?


Tiap hari ayam jago terus yang dipikir. Apa Romo mau kalau aku jadi perawan tua? Iya?", Rara Murni terus mengomel pada Rambusoka.


"Nduk Cah Ayu yang cantik nya sundul langit,


Kita harus menyiapkan rencana terbaik untuk masalah mu ini. Jangan main grusa-grusu.


Ingat Nduk, semua itu butuh perencanaan yang matang", ujar Rambusoka alias Gagak Merah sambil tersenyum tipis.


"Ah aku tidak mau tahu. Pokoknya besok Kakang Ganajaya harus jadi suami ku.


Hari ini Romo harus menemukan caranya", Rara Murni melengos pergi dari hadapan Rambusoka. Pria paruh baya bertubuh gempal itu hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak gadis nya itu.


Rara Murni memang memiliki watak keras kepala seperti ibunya.


Saat Rambusoka masih bingung memikirkan cara untuk membuat Ganajaya mau menikahi Rara Murni, seorang lelaki bertubuh tegap memakai topeng separuh wajah berlari menuju kearah nya.


Nafas lelaki itu ngos-ngosan seperti takut akan sesuatu.


"Lurah e..


Pasukan Kadipaten Karang Anom akan menyerbu kemari", ujar lelaki bertubuh tegap yang merupakan anggota Gerombolan Gagak Merah.


Raut muka Rambusoka langsung berubah bengis.


"Kroco kroco Karang Anom,


Mau apa mereka kemari? Apa sudah bosan hidup mereka?", mata Gagak Merah mendelik.


Pria bertubuh gempal itu sangat percaya diri karena kemampuan beladiri nya memang diatas para punggawa Kadipaten Karang Anom.


"Sepertinya mereka bukan hanya berasal dari Karang Anom lurah e,


Menurut berita, mereka berasal dari Daha", ujar si lelaki bertubuh tegap dengan pakaian hitam itu.


Hemmmm


"Aku tidak takut pada mereka.


Segera kumpulkan orang orang kita, cegat mereka di hutan. Jangan sampai mereka masuk ke tempat kita", perintah Rambusoka pada bawahannya itu.


"Baik Lurah e", si lelaki berbaju hitam dengan topeng merah itu segera bergegas menuju keluar dari kediaman Rambusoka.

__ADS_1


Dengan siulan panjang yang merupakan isyarat khas mereka, tak berapa lama kemudian sekitar 200 orang anggota Gerombolan Gagak Merah berkumpul di halaman kediaman Rambusoka.


"Ada apa Kakang Sura?


Kenapa pagi pagi begini kita dikumpulkan?", tanya seorang lelaki bertubuh gempal dengan jenggot lebat.


"Aku baru mendapat berita dari anak buah Nyi Lampet, pasukan Karang Anom akan menyerbu kemari. Lurah e meminta kita menghadang mereka di hutan.


Persiapkan diri kalian", ujar Sura, tangan kanan Rambusoka.


Seluruh anggota Gerombolan Gagak Merah segera mengangguk mengerti dan bergerak cepat menjalankan tugas masing-masing.


Selama ini, pergerakan Gerombolan Gagak Merah memang mendapat sokongan dari Nyi Lampet, bekas istri Patih Sengguruh yang tempo hari sempat bermasalah dengan Panji Watugunung dan para istrinya saat menjalankan tugas sebagai duta Maharaja Samarawijaya.


Gerombolan Gagak Merah menyediakan para gadis muda untuk dijadikan pelacur di tempat Nyi Lampet, dan sebagai timbal balik nya, selain uang, mereka menyediakan jasa berita tentang kegiatan di dalam istana Kadipaten Karang Anom.


Hubungan antara mereka benar benar saling melengkapi, sehingga Gerombolan Gagak Merah bisa leluasa bergerak di Kadipaten Karang Anom sampai ke Tanggulangin dan Wengker.


Berita tentang rencana penyerbuan itu pun bisa bocor karena salah seorang prajurit Kadipaten Karang Anom yang datang ke tempat pelacuran Nyi Lampet keceplosan bicara karena mabuk minuman keras.


Sementara itu para prajurit Karang Anom yang berjumlah 200 prajurit dengan di pimpin Senopati Mpu Yudhana mengiringi rombongan Panji Watugunung yang bergerak menuju markas Gerombolan Gagak Merah di selatan hutan Kaliwungu.


Menjelang tengah hari, mereka sudah memasuki wilayah hutan Kaliwungu. Hutan lebat itu hanya memiliki jalan setapak yang membelah nya menjadi dua bagian.


Suasana begitu sunyi.


Tidak ada suara burung maupun hewan di tempat itu. Panji Watugunung segera menarik tali kekang kudanya. Para pasukan segera berhenti.


Hemmmm


"Kakang Warigalit,


Sepertinya kedatangan kita sudah di ketahui mereka. Minta kepada para prajurit untuk waspada terhadap sergapan mendadak", ujar Panji Watugunung pada Warigalit yang berkuda di sampingnya.


"Baik Dhimas Pangeran..


Jarasanda,


Bawa pasukan Garuda Panjalu untuk memimpin di depan. Waspadalah", Warigalit menoleh ke arah Jarasanda yang berkuda di belakangnya.


Sepuluh prajurit Garuda Panjalu segera melompat turun dari kudanya dan berjalan ke depan sambil mencabut senjata mereka.


Perlahan mereka bergerak masuk ke dalam hutan Kaliwungu.


Tiba tiba..


Sringg sringg sringg!!!


Beberapa anak panah melesat cepat dari balik rimbun pohon yang ada di kanan jalan.


"Awas jebakan..!!!", teriak Jarasanda sambil melesat cepat kearah panah yang melesat cepat sambil menghantamkan tangan kanannya yang sudah di lapisi tenaga dalam.


Blarrrr!!


Beberapa anak panah berhasil di hancurkan, sedang yang lolos dari hadangan Jarasanda meluncur ke arah para prajurit Garuda Panjalu. Namun mereka adalah para prajurit pilihan yang memiliki kemampuan beladiri tangguh.


Dengan cepat mereka menangkis dengan menyabetkan senjata mereka.


Tranggg


Traakk!!


Hanya satu anak panah yang berhasil melukai seorang prajurit pasukan Garuda Panjalu.


"Pengecut!!


Keluar kalian. Jangan cuma bersembunyi seperti musang", teriak Jarasanda dengan geram.


Dari rimbun pepohonan, ratusan bayangan hitam melompat mengepung mereka.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author terus semangat menulis 😁


Selamat membaca 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2