
Malam semakin larut.
Panji Watugunung segera beristirahat di tenda yang sudah di bangun Gumbreg khusus untuk nya dan para istri menghabiskan waktu.
Pagi menjelang tiba. Mentari pagi mulai muncul di ufuk timur. Langit malam yang gelap berangsur cerah, secerah senyum Ayu Galuh yang menemani sang suami menghabiskan malam berdua.
Putri Samarawijaya itu membelai lembut bibir sang suami, saat Dewi Srimpi masuk ke dalam tenda.
Ehemmmm ehemmm
Deheman Dewi Srimpi segera membuyarkan kemesraan Ayu Galuh. Perempuan cantik itu langsung melengos kesal dengan ulah Dewi Srimpi.
"Apa tidak bisa masuk dengan pemberitahuan lebih dulu?", Ayu Galuh mendelik sewot kearah Dewi Srimpi.
"Tidak, saat menjalankan tugas keliling kemarin, aku juga tidak pernah memberi tahu Kangmbok Pitaloka dan Kangmbok Mayang kalau aku masuk. Mereka tidak protes", jawab Dewi Srimpi acuh tak acuh.
"Kau..."
"Ada apa dengan kalian? Pagi-pagi sudah ribut saja", potong Panji Watugunung yang membuat keributan itu berhenti seketika. Putra Bupati Gelang-gelang itu bangun sambil mengucek matanya dan menguap lebar.
"Ti-tidak ada apa apa Kangmas", Ayu Galuh tergagap berbicara, takut kena marah suami nya. Sementara Dewi Srimpi hanya mengulum senyumnya.
Usai mencuci muka dan berganti baju, Panji Watugunung segera keluar dari dalam tenda peristirahatan nya.
Panji Watugunung memecah pasukannya menjadi dua bagian. Pasukan Daha yang di pimpin Senopati Narapraja dalam jumlah besar bergerak menuju ke istana Kadipaten Lasem, sedang pasukan Garuda Panjalu Utara dan Selatan yang di pimpin oleh Panji Watugunung dan Balapati bergerak cepat menuju ke timur ke hutan di timur kota Kadipaten Lasem.
Senopati Mpu Tandi baru saja keluar dari kamar tidur nya saat Tumenggung Suralaya berlari ke arah nya.
"Gusti Senopati,
Pasukan Daha mengepung istana, bagaimana ini??", lapor Tumenggung Suralaya setelah ngos-ngosan mengatur nafas nya.
"Apa kau bilang?!!!
Bukankah mereka sudah mundur ke perbatasan Anjuk Ladang kemarin? Bagaimana bisa mereka berani mengepung istana ini?", Mpu Tandi kaget bukan main.
"Itulah yang membuat hamba heran Gusti Senopati, dan yang aneh tidak ada laporan dari mata mata kita yang ada di pasukan mereka", Tumenggung Suralaya kebingungan dengan situasi yang sedang terjadi.
Hemmmm
"Ini gawat!
Pasukan bantuan dari istana Kahuripan belum datang, kalau begini kita hanya bisa bertahan di dalam istana sambil menunggu bantuan datang, Suralaya", ujar Mpu Tandi kemudian.
"Apa mata mata kita sudah ketahuan oleh mereka Gusti Senopati?", Tumenggung sepuh itu segera menatap wajah Mpu Tandi seakan meminta jawaban.
"Bisa jadi seperti itu Suralaya,
Segera ajak Kencak untuk memperkuat pertahanan. Jangan sampai gerbang istana di jebol oleh mereka.
Cepat!!", perintah Senopati Mpu Tandi.
Tumenggung Suralaya segera menghormat dan bergegas mundur dari serambi utama ruang pribadi Adipati Lasem yang sekarang di tempati Senopati Jenggala itu.
Dua tumenggung itu langsung menata pasukan Jenggala untuk bertahan di ketiga pintu gerbang istana Kadipaten Lasem.
Sementara itu di luar tembok istana, Pasukan Daha terus bergerak untuk menakuti pasukan Jenggala yang masih bertahan di dalam istana.
300 pemanah segera menarik busur panah mereka saat Senopati Narapraja memerintahkan agar melepaskan anak panah nya.
Sringgg sring sringggg
Hujan anak panah melesat cepat menuju ke balik pintu gerbang istana barat yang dijaga ketat oleh ribuan prajurit Jenggala.
Creeppp crep creeppp!!
Aarrgghhh argh aughhhhh!!
Mendapat serangan tiba-tiba itu, para prajurit Jenggala yang tidak siap langsung menjadi korban anak panah pasukan Daha. Jerit kesakitan segera terdengar dari mulut mereka.
"Persiapkan tameng kalian,
Cepaaatt!!!", teriak Tumenggung Suralaya yang menjaga gerbang barat.
Para prajurit langsung mengangkat tameng mereka untuk melindungi diri dari hujan anak panah.
Namun hujan anak panah yang di tunggu tidak muncul juga.
Di gerbang selatan istana, hujan anak panah juga membuat ratusan prajurit Jenggala terluka, namun setelah mereka memakai tameng, serangan selanjutnya tidak ada.
Pasukan Daha benar mempermainkan Pasukan Jenggala layaknya kucing mempermainkan tikus yang baru di tangkap.
Seorang prajurit yang nekat memanjat pohon besar untuk melihat suasana di luar tembok istana, langsung menjadi sasaran empuk anak panah yang melesat dari bidikan prajurit pemanah Panjalu.
Sringggg..
Creppp
Aughhhhh
Prajurit itu langsung tewas usai anak panah menembus dadanya, dan dia jatuh kemudian.
Suasana di dalam istana Lasem semakin kacau.
Sementara itu, Panji Watugunung dan pasukannya langsung bergerak menyebar di tepi hutan.
Rajegwesi segera naik ke atas pohon besar di ikuti oleh semua anggota pasukan pemanah.
Panji Watugunung kemudian memecah lagi pasukannya menjadi dua bagian. Dua ribu prajurit yang memiliki kemampuan beladiri tangguh dan kuat dalam berkuda dipimpin Warigalit dan Balapati, bertugas memancing mereka masuk ke dalam hutan, sementara 2500 prajurit bersiap menyergap mereka usai pasukan pemanah melakukan tugasnya sebagai pemukul.
Dari arah timur, pasukan Jenggala yang dipimpin oleh Tumenggung Dresta dan Demung Jumena bergerak menuju ke arah kota Kadipaten Lasem.
Terompet tanduk kerbau berbunyi nyaring dua kali.
Thutttttt...
__ADS_1
Tutttttt...
Pasukan Jenggala segera menghentikan pergerakan nya.
Demung Jumena langsung menyambar bendera putih yang di bawa oleh seorang prajurit di belakang nya. Dengan di ikuti oleh seorang bekel prajurit, adik Tumenggung Dresta itu menepuk punggung kudanya menuju ke arah pasukan Daha.
Balapati dan Warigalit segera menepuk punggung kudanya dan mendekati Demung Jumena dan Bekel Warsa yang sudah ada di tengah padang rumput di timur hutan kecil itu.
"Mau apa pasukan Jenggala datang ke Lasem?
Apa kalian ingin berperang melawan kami?", ujar Balapati sambil tersenyum sinis.
"Kami datang atas undangan penguasa Lasem, Mpu Tandi", jawab Demung Jumena sambil memandang kearah pasukan Daha yang menghadang perjalanan mereka.
"Mpu Tandi bukan penguasa Lasem. Kalian salah bila berniat ke sana. Pulang saja ke Jenggala", Balapati menghardik Demung Jumena.
"Kami datang sebagai undangan, pantang mundur sebelum bertemu Mpu Tandi", teriak Demung Jumena sambil menyeringai lebar. Dia sudah bisa memperkirakan berapa banyak pasukan Daha yang menghadang pasukan Jenggala.
"Kalau kalian ingin tetap ke Lasem, bersiap lah untuk berperang", Balapati segera menarik kekang kudanya dan kembali ke arah pasukannya bersama Warigalit.
Demung Jumena juga kembali ke tempat pasukannya berhenti.
Bende pasukan Garuda Panjalu segera berbunyi nyaring. Satu tiupan terompet tanduk kerbau langsung membuat pasukan Garuda Panjalu yang di pimpin Warigalit dan Balapati bergerak cepat menuju ke arah pasukan Jenggala.
"Serang mereka!!!", teriak Warigalit keras melecut semangat para prajurit yang menerjang maju.
Perang sengit segera pecah.
Balapati langsung menebaskan pedangnya ke arah leher prajurit Jenggala yang ada di dekat nya.
Trassssshhh
Kepala prajurit Jenggala langsung putus dan menggelinding ke tanah.
Warigalit memutar Tombak Angin nya dan segera menusuk dada seorang prajurit Jenggala yang hendak menebas kakinya.
Creeppp
Arghhhhh
Tusukan Tombak Angin yang tajam langsung menembus dada sang prajurit. Dia tewas bersimbah darah.
Balapati dan Warigalit terus mengamuk bersama di tengah pertempuran.
Demung Jumena yang geram melihat keberingasan dua orang itu langsung memecut kudanya menuju mereka berdua.
Melihat pancingan nya berhasil, Warigalit dan Balapati langsung memutar kudanya dan menggebrak kuda mereka menjauh.
"Munduuuuurrrrr!!!!!!", teriak Balapati lantang. Pasukan Garuda Panjalu langsung mengikuti langkah pemimpin mereka untuk mundur.
Melihat itu, Demung Jumena yang terlanjur marah langsung memacu kudanya melesat cepat mengejar Balapati dan Warigalit.
"Kejar mereka!
Jangan sampai lolos", teriak Demung Jumena pada pasukan Jenggala. Melihat adiknya memacu kudanya mengejar lawan, Tumenggung Dresta mengikuti langkah sang adik memburu pasukan Garuda Panjalu.
Saat prajurit paling belakang melewati batas tembakan panah, tiba tiba....
Singggg sringggg sringgg...
Hujan anak panah menyerang pasukan Jenggala.
"Celaka!
Pakai tameng kalian semua!
Cepaaatt!!!!", teriak keras Tumenggung Dresta melihat hujan anak panah melesat ke arah pasukannya.
Aarrgghhh!
Argh!
Ough!
Prajurit yang cepat menarik tamengnya bisa berlindung dari hujan anak panah itu, tapi yang gugup dan terlambat langsung menjadi sasaran empuk anak panah pasukan Rajegwesi.
Jerit memilukan hati akibat hujan anak panah terdengar dari pasukan Jenggala.
Hujan anak panah terulang lagi, meski korban tewas tidak sebanyak serangan awal tadi namun tetap saja korban tewas terus berjatuhan.
Tumenggung Dresta mengibaskan tangannya saat anak panah melesat ke arah nya.
Wushhhhhh
Trakkk
Anak panah langsung hancur berkeping-keping saat angin dingin tenaga dalam tingkat tinggi menghalau.
Pasukan Jenggala sudah kehilangan sepertiga jumlah pasukannya.
Nafsu membunuh Demung Jumena semakin tinggi untuk membantai pasukan Garuda Panjalu yang semakin masuk ke dalam hutan.
Tiba tiba pasukan Garuda Panjalu berhenti dan berbalik arah saat bende berbunyi nyaring dua kali.
Demung Jumena yang merasa memiliki harapan menang, berteriak keras sambil memacu kudanya.
"Bagus kalian tidak lari lagi,
Akan ku kirim kalian semua ke neraka!"
Balapati langsung menyeringai lebar sambil mengacungkan pedangnya ke arah Demung Jumena.
Ribuan prajurit Panji Watugunung segera melompat dari balik rimbun pepohonan yang rindang begitu bende berbunyi nyaring dua kali.
Tumenggung Dresta langsung pucat seketika.
__ADS_1
"Jumena!!!!
Kita di kepung!"
Teriakan keras Tumenggung Dresta membuat Demung Jumena segera menarik tali kekang kudanya.
Dia melihat di sekitar tempat mereka berhenti, ribuan prajurit Panjalu muncul dengan senjata masing-masing.
Pucat pasi wajah Demung Jumena seketika.
"Bagaimana ini Kakang?", ucap Demung Jumena dengan suara bergetar.
Hemmmm
"Kita adalah kesatria Jumena, lebih baik mati di tangan musuh daripada kita menjadi tawanan", ucap Tumenggung Dresta sambil menghela nafas panjang. Perwira tinggi prajurit Jenggala itu langsung mencabut pedang nya dan melesat cepat menuju ke arah Panji Watugunung yang sedang berjalan mendekat.
"Habisi mereka semua!", teriak Tumenggung Dresta sambil mengayunkan pedangnya mengincar leher Panji Watugunung.
Whuttttt
Panji Watugunung segera mundur setengah langkah menghindari sabetan pedang dari Tumenggung Dresta.
Perang tidak berimbang antara kedua pasukan segera terjadi.
Tumenggung Dresta terus bernafsu membunuh Panji Watugunung, namun semua serangan nya hanya menghajar udara kosong.
10 jurus sudah dilewati.
Tak ingin berlama-lama di pertarungan itu, Panji Watugunung segera merapal mantra Ajian Tameng Waja. Sinar kuning keemasan segera menutupi seluruh tubuhnya.
Sedangkan di tangan kanan, sinar putih kebiruan segera muncul sebagai wujud Ajian Guntur Saketi ajaran Mpu Narasima.
Tumenggung Dresta melihat Panji Watugunung tidak bergerak, langsung menyabetkan pedang nya mengincar leher sang pemimpin pasukan Daha.
"Mati kau!", teriak Tumenggung Dresta saat pedangnya menyentuh kulit leher Panji Watugunung.
Tranggg!!!
Mata tumenggung istana Kahuripan itu melotot menyaksikan pedang nya tak mampu menembus kulit Panji Watugunung.
Tangan kanan Watugunung yang sudah berubah warna menjadi putih kebiruan langsung menghajar dada kiri Tumenggung Dresta.
Dhuarrrr!!!
Ledakan keras terdengar dari benturan tangan dan dada kiri. Tubuh Tumenggung Dresta langsung terpental ke belakang dan menyusruk tanah dengan keras. Dada Tumenggung Dresta bolong tembus punggung. Dia tewas seketika.
Melihat kakaknya tewas, Demung Jumena yang sedang menghadapi Balapati marah besar. Serangan nya menjadi kacau.
Saat sedikit lengah, sabetan pedang Balapati langsung merobek perut Demung Jumena.
Sreeetttttt
Aaaarrrggghhh!!
Demung Jumena terhuyung mundur sambil memegangi perutnya yang sobek. Balapati tidak berhenti sampai disitu, langsung melesat cepat dan menebas leher Demung Jumena.
Crashhhh
Kepala Demung Jumena langsung terpenggal dan jatuh ke tanah. Dia tewas bersimbah darah.
Bersamaan dengan tewasnya dua pemimpin pasukan Jenggala itu, para prajurit Daha juga sudah menyelesaikan tugas mereka.
Pasukan Daha kehilangan 1000 prajurit, sedangkan 5 ribu prajurit Jenggala tewas. Siasat Panji Watugunung berhasil membuat pasukan Garuda Panjalu kehilangan sedikit anggota mereka.
Para prajurit Daha segera menguburkan mayat mayat prajurit Daha. Sedangkan untuk mayat-mayat pasukan Jenggala mereka menumpuk jadi beberapa tempat dan membakarnya.
Panji Watugunung menatap kobaran api yang membakar mayat mayat pasukan Jenggala.
"Ada apa Kakang?", tanya Ratna Pitaloka sambil mendekati suaminya itu.
"Hanya melihat bantuan dari Kahuripan yang tak pernah sampai ke Lasem", ujar Panji Watugunung sambil tersenyum tipis dan segera melompat ke atas kuda nya.
"Ayo kita rebut kembali Lasem"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya ya guys 😁😁
Ayo kakang reader tersayang semuanya, tinggalkan jejak kalian lewat like vote dan komentar nya 👍👍
__ADS_1
Yang sudah kasih jejak, author mengucapkan beribu terima kasih atas dukungannya ❤️❤️
Oke, Selamat membaca guys 😁😁