Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Macan Alas Lodaya


__ADS_3

Panji Watugunung terkejut dengan jawaban kakek tua itu. Segera dia menaikkan tubuh tua renta itu ke atas kudanya dan memacu kudanya meninggalkan tempat itu bersama rombongan nya. Menjelang senja, rombongan mereka memasuki wilayah kota Tanah Perdikan Lodaya.


Meski tidak seramai Gelang-gelang, kota ini lumayan besar. Panji Watugunung segera bergegas menanyai salah satu penduduk yang kebetulan lewat mencari rumah tabib.


Usai mendapatkan arahan, mereka segera menuju kesana.


Di halaman rumah besar dengan beberapa bangunan kecil di sekitarnya, mereka berhenti. Tampak beberapa cantrik wanita muda sedang menata orang yang berobat. Setidaknya ada 4 orang yang sedang mengantri disana.


Usai menambatkan kuda mereka, Panji Watugunung dan Warigalit memapah tubuh kakek tua itu ke serambi kediaman sang tabib.


Sementara Ratri dan ketiga selir Panji Watugunung menunggu di luar.


Setelah menunggu beberapa saat, giliran kakek tua itu di periksa. Panji Watugunung dan Warigalit memapah kakek tua itu masuk.


Seorang wanita paruh baya berpakaian serba putih segera memeriksa keadaan tubuh kakek tua itu.


"Ini bukan cakaran harimau biasa", ujar si tabib wanita yang bernama Nyi Kembang Jenar.


"Apa maksudmu Nyi? Bukan harimau biasa? Apa maksud Nyi dia di serang harimau jadi-jadian?", tanya Panji Watugunung penasaran.


"Benar, dalam sepekan ini sudah 3 orang yang menjadi korban. Mereka semua tidak di bunuh, hanya di lukai. Sepertinya ada orang yang baru belajar ilmu sesat hendak pamer kemampuan", jawab Nyi Kembang Jenar seraya menatap ke arah Panji Watugunung. Ada sesuatu yang menarik perhatian Nyi Kembang Jenar dari pendekar muda itu.


"Lantas menurut Nyi sendiri, apa kakek tua ini bisa di sembuhkan?", Warigalit yang sedari tadi hanya diam, ikut berbicara.


"Dia hanya bisa di tolong dengan darah harimau dan kembang dewandaru. Aku punya kembang itu tapi tidak darah harimau", jawab Nyi Kembang Jenar menghela nafasnya dalam-dalam.


"Lantas dimana kami bisa mendapatkan darah harimau itu Nyi? Kita tidak mungkin membiarkan kakek tua ini mati begitu saja", Panji Watugunung menatap wajah sepuh kakek tua yang tergeletak tak berdaya.


"Ada sebuah goa di hutan sebelah selatan kota yang menurut cerita orang orang merupakan tempat tinggal harimau. Kalian bisa mendapatkan darah harimau itu disana. Aku akan mengobati luka kakek tua ini, tapi obat ku hanya mampu bertahan hingga besok sore", Nyi Kembang Jenar menatap ke arah Panji Watugunung segera.


"Kami pengelana Nyi, kalau sampai sampai harus bermalam, mesti mencari tempat peristirahatan lebih dulu", ujar Panji Watugunung.


"Kalian bisa bermalam di tempat ku ini, kalau kalian tidak keberatan", Nyi Kembang Jenar menawarkan bantuan.


"Kalau begitu, kami mengucapkan terima kasih sebelumnya Nyi atas bantuannya", Panji Watugunung menghormat pada Nyi Kembang Jenar.


Malam itu mereka beristirahat di tempat Nyi Kembang Jenar.


**


Di markas pasukan Garuda Panjalu, Ki Saketi sedang berbincang hangat dengan Jarasanda, Landung, Ludaka dan Gumbreg.


"Jarasanda, besok kau pergi ke Seloageng. Kawal sumbangan pangan dan obat yang di berikan Gusti Adipati Tejo Sumirat".


"Baik Ki, besok aku akan berangkat pagi-pagi sekali", jawab Jarasanda.


"Ajak Gumbreg dan Ludaka. Kalian harus bergerak cepat. Usahakan jangan lebih dari 3 hari kalian sudah sampai kesini", Ki Saketi menatap wajah Jarasanda.


Jarasanda sang putra Akuwu Argamanik mengangguk tanda mengerti. Gumbreg langsung mendekat ke arah Ludaka.


"Lu, besok pagi tolong kau bangunkan aku ya.


Aku takut bangun kesiangan".


"Kalau sampai kau susah ku bangunkan, ku siram air bekas cucian beras", ancam Ludaka.


"Kau jangan terlalu kejam Lu, kita ini kan kawan baik", Gumbreg mendelik sewot.


"Alah, kawan baik sih kalau kau ada mau nya. Kalau tidak, kau seenaknya saja menjelekkan aku di depan si Juminten agar kau terlihat lebih baik dari aku", Ludaka sengit.


Pagi menjelang tiba.


Gumbreg yang tidur seperti kerbau mati akhirnya di siram dengan air cucian beras oleh Ludaka. Meskipun sempat mencak mencak karena dongkol, akhirnya Gumbreg bisa bangun pagi dan mengikuti Jarasanda dan Ludaka menuju ke Kadipaten Seloageng.


**


Panji Watugunung di temani Warigalit serta Ratna Pitaloka dan Dewi Srimpi segera melesat cepat ke arah selatan kota yang di tunjukkan oleh Nyi Kembang Jenar. Ratri dan Sekar Mayang diminta menjaga si kakek tua itu.


Hutan yang dituju adalah hutan lebat dengan pohon besar yang menjulang tinggi, tidak bisa di lalui dengan berkuda.


Dengan ilmu meringankan tubuh mereka, mereka bergerak lincah diantara dahan pohon besar yang menutupi wilayah hutan itu.


Saat matahari diatas sepenggal naik, Panji Watugunung segera menghentikan gerakan nya di sebuah pohon beringin besar yang menjulang tinggi. Warigalit segera menghampirinya di ikuti Dewi Srimpi dan Ratna Pitaloka.


Dari atas pohon beringin, kelihatan sebuah tebing batu dengan sedikit tanah lapang di bawah nya. Sebuah goa besar menganga lebar di tebing batu. Pandangan Panji Watugunung tertuju pada seekor harimau besar yang sedang memangsa kijang. Tak lama kemudian tiga ekor harimau yang lebih muda, mendekati harimau besar itu.


"Sepertinya itu tempat kita tuju Kakang Warigalit", ujar Panji Watugunung sambil menunjuk ke arah harimau itu.


"Benar adik. Sebenarnya aku tidak mau membunuh harimau itu, tapi kita butuh darah nya untuk mengobati kakek tua", Warigalit menatap ke arah harimau yang sedang memakan daging kijang.

__ADS_1


Panji Watugunung segera melompat turun dari pohon beringin besar keatas pohon yang lebih rendah, kemudian melompat lagi dengan cepat menuju ke arah harimau besar itu. Warigalit mengikuti gerakan Panji Watugunung di sertai Dewi Srimpi dan Ratna Pitaloka.


Auuummmmm...


Harimau besar itu segera mengaum keras saat mencium bau manusia mendekat.


Mendengar auman keras itu, dua bayangan berpakaian loreng melesat dari dalam goa dan berdiri di samping harimau besar. Tiga harimau muda menatap ke arah Panji Watugunung dan ketiga pengiringnya yang melayang turun dari pohon randu alas.


"Siapa kalian? Mau apa ketempat ini?", teriak seorang lelaki paruh baya berbaju loreng seperti kulit macan.


"Maaf Kisanak, kami kesini untuk mengambil darah harimau untuk mengobati teman kami", ujar Panji Watugunung.


"Bangsat!


Besar sekali nyali mu mau mengambil peliharaan ku.


Apa kau belum pernah dengar nama Macan Alas Lodaya ha?", teriak lelaki paruh baya itu garang.


"Guru, biar aku yang menghadapi mereka", si pemuda berbaju loreng menghormat pada Macan Alas Lodaya.


"Hati hati Gana. Ilmu meringankan tubuh mereka sangat baik. Mereka pasti bukan orang sembarangan", ujar Macan Alas Lodaya sambil melirik Panji Watugunung dan rombongannya.


Gana alias Macan Cilik segera mengambil kuda kuda. Jari jari tangannya segera membentuk cakar seperti cakar harimau.


Macan Cilik segera melompat kearah Panji Watugunung. Warigalit segera menghadang nya.


Cakar Macan Cilik menyambar dada Warigalit. Kakak seperguruan Panji Watugunung itu segera menghindar dengan melompat ke samping, dengan cepat dia memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan ke arah pinggang Gana.


Macan Cilik segera berguling ke tanah menghindar. Kemudian dengan cepat melesat mencakar perut Warigalit.


Dengan mudah, Warigalit melompat ke udara dan menghantam bahu kanan Macan Cilik dengan pukulan tangan kanan nya.


Macan Cilik kembali berguling ke tanah menghindari serangan Warigalit. Gerakan lincah nya mirip gerakan harimau menyerang yang dengan cepat menerkam mangsanya.


Warigalit segera menjatuhkan tubuhnya ke tanah, dan dengan cepat satu kaki nya menendang perut Macan Cilik.


Bukkkkk


Macan Cilik terlempar 2 tombak dan tubuh nya berguling-guling di tanah. Darah segar mengalir keluar dari sudut bibirnya.


Melihat murid nya terpojok, Macan Alas Lodaya bersiul keras. 4 macan peliharaan nya segera melompat menerkam kearah Warigalit.


Aumm!


Aumm...


Dua harimau bergerak menyerang Dewi Srimpi dari dua arah berbeda. Namun dengan Ajian Langkah Kelabang Sewu nya, selir termuda Panji Watugunung dengan mudah menghindari terkaman harimau itu sambil menghantam tubuh seekor harimau yang menyerang dari depan.


Bukkk


Tubuh harimau itu melayang menabrak pohon. Seketika harimau itu diam seperti mati. Namun beberapa saat kemudian harimau itu berdiri kembali dan menyerang Dewi Srimpi.


Pepatah yang mengatakan bahwa harimau memiliki sembilan nyawa sepertinya benar.


Sementara itu Macan Cilik segera berdiri, dadanya terasa sesak. Segera dia memejamkan matanya, merapal Ajian Macan Siluman. Perlahan perubahan wujud terjadi. Kuku kuku Macan Cilik memanjang layaknya kuku harimau. Wajahnya pun berubah menjadi harimau dengan gigi taring memanjang dan bulu berwarna kuning loreng hitam.


Warigalit segera melompat mundur dua langkah. Sambil merapalkan Ajian Sepi Angin tingkat tinggi nya, dia mencabut Tombak Angin yang tergantung di punggung nya.


Dengan Ajian Macan Siluman, kecepatan Macan Cilik meningkat 2 kali lipat. Macan Cilik segera melesat cepat menuju ke arah Warigalit sambil mengayunkan tangan nya.


Tombak Angin Warigalit segera berputar cepat menangkis sabetan cakar Macan Cilik.


Tringgg


Benturan cakar Macan Cilik dan Tombak Angin Warigalit, seperti benturan 2 senjata tajam.


Panji Watugunung terus mengamati situasi pertarungan. Macan Alas Lodaya pun sama.


Ratna Pitaloka terus menghindari 2 harimau yang menyerangnya berganti dengan cepat sambil sesekali melayangkan serangan.


Saat ada kesempatan, Pedang Bulan Kembar Ratna Pitaloka segera membabat leher harimau besar yang menerkam kearah nya.


Crashhhh


Kepala harimau besar itu terpisah dari badannya, dan roboh ke tanah.


Dewi Srimpi pun tak kalah. Saat harimau yang menerkamnya lengah, dengan cepat dia melempar jarum berwarna putih mengincar tubuh harimau itu.


Creeppp

__ADS_1


Harimau itu goyah. Tak berapa lama kemudian roboh dengan mulut berbusa.


Macan Alas Lodaya murka. Harimau peliharaan nya selama puluhan tahun tewas di tangan Ratna Pitaloka dan Dewi Srimpi.


Pria paruh baya itu segera melesat cepat menuju ke arah Ratna Pitaloka yang baru saja menghindari terkaman harimau.


Panji Watugunung segera melompat menghadang serangan Macan Alas Lodaya dengan pukulan tangan nya.


Deshhhhh


Benturan pukulan tangan dan cakar membuat mereka segera melompat mundur dua langkah kebelakang.


Tangan kanan Macan Alas Lodaya kesemutan, sedangkan Panji Watugunung hanya tersenyum tipis.


'Bedebah ini rupanya memiliki kesaktian tinggi, aku harus hati hati', batin Macan Alas Lodaya.


Laki laki paruh baya itu segera merapal mantra Ajian Macan Siluman. Dia tau bermain main dengan pemuda itu sama sekali tidak menguntungkan baginya.


Perlahan tubuh Macan Alas Lodaya berubah menjadi harimau. Jauh lebih sempurna dari Macan Cilik yang masih setengah manusia setengah harimau.


Dengan gerakan cepat, dia melesat mencakar dada Panji Watugunung. Panji Watugunung berusaha mundur namun cakar Macan Alas Lodaya masih sempat melukai dada kanannya walau tidak dalam.


Panji Watugunung seketika murka melihat darah mengalir dari lukanya.


Seketika dia merapal mantra Ajian Waringin Sungsang ajaran Warok Suropati. Tubuhnya segera diliputi oleh sinar hijau kebiruan.


Macan Alas Lodaya yang baru melukai dada kanan Panji Watugunung, langsung melompat lagi dengan menyerang dengan dua tangan nya sekaligus.


Saat cakar Macan Alas Lodaya menyentuh kulit Panji Watugunung, tiba tiba cakar nya seperti melekat erat pada tubuh Panji Watugunung.


Perlahan tenaga dalam Macan Alas Lodaya tersedot ke dalam tubuh Panji Watugunung. Sekeras apapun Macan Alas Lodaya melepaskan diri, dia tidak bisa berbuat banyak.


Aaaarrrggghhh


Teriak kesakitan Macan Alas Lodaya saat tenaga dalam nya semakin lama semakin habis. Wujud Siluman Harimau nya perlahan menghilang seiring habisnya tenaga dalam macan tua itu.


Saat mencapai titik penghabisan, tangan kanan Watugunung yang sudah berubah warna menjadi merah menyala seperti api karena Ajian Tapak Dewa Api menghantam dada Macan Alas Lodaya.


Dhuarrrr!!


Tubuh Macan Alas Lodaya terpental jauh akibat hantaman Tapak Dewa Api dan menabrak pohon. Tubuh nya meledak keras dan terbakar.


Macan Cilik yang sudah terluka akibat tusukan Tombak Angin Warigalit melihat guru nya tewas segera melompat kabur dari pertarungan bersama seekor harimau yang masih hidup. Dia menghilang di balik rimbun pepohonan hutan itu.


Panji Watugunung segera mengambil kendil tanah liat yang di bawa Dewi Srimpi tadi pagi, dan mengambil darah harimau yang terbunuh oleh Ratna Pitaloka.


"Ayo kita kembali ke tempat Nyi Kembang Jenar"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Author mengucapkan SELAMAT HARI LEBARAN untuk semua umat Islam di Indonesia 🙏🙏🙏🙏


Jangan lupa untuk dukung author terus semangat menulis dengan like vote dan komentar nya ya guys 👍👍👍👍

__ADS_1


Selamat membaca 😁😁😁


__ADS_2