
Dewa Tanah tersenyum sombong sambil menatap ke arah Panji Watugunung. Dia di sebut Dewa Tanah karena selama kulitnya menyentuh tanah, maka kakek tua itu akan tetap hidup meski babak belur.
Panji Watugunung melesat cepat sambil merapal mantra Ajian Tapak Dewa Api nya. Tangan kanannya berubah warna menjadi merah menyala setelah sinar kemerahan melingkupi seluruh tangan kanannya.
Chiyyyaaaattttt!!
Seberkas sinar kemerahan menerabas cepat dan menghantam dada Dewa Tanah dengan telak.
Blammmmm!!
Dewa Tanah terlempar jauh ke belakang, tubuh kakek tua bertubuh gemuk itu menghujam tanah dengan keras. Segera dia muntah darah segar akibat pukulan Tapak Dewa Api.
Namun meski dadanya gosong, kakek tua itu berdiri lagi dengan senyum pongah nya. Dengan cepat dia mengusap darah yang mengalir di sudut kiri bibirnya.
Panji Watugunung, Warigalit dan semua orang yang ada di tempat itu terkejut bukan main. Bagaimana tidak, Tapak Dewa Api yang ampuh luar biasa seperti tidak berpengaruh pada tubuh kakek tua bertubuh gemuk itu.
Melihat itu, Panji Watugunung kembali menerjang maju ke arah Dewa Tanah dan kembali menghantamkan pukulan keras Tapak Dewa Api tingkat akhir nya.
Kali ini, dengan bantuan Ajian Halimun nya, Panji Watugunung tiba-tiba lenyap dari pandangan semua orang dan kemudian muncul di belakang Dewa Tanah sambil menghantam punggung kakek tua bertubuh gendut itu segera.
Deshhhh
Blammmmm!!!
Dewa Tanah kembali terjungkal menyusruk tanah dengan keras. Kakek tua itu muntah darah segar lagi, namun dengan segera dia bangkit lagi dan tertawa terpingkal-pingkal sambil mengusap darah di bibirnya.
Panji Watugunung mulai gusar.
Dewi Kembang Wengi yang pernah berhutang nyawa pada Panji Watugunung segera berteriak keras.
"Pendekar muda,
Kekuatan nya adalah tanah. Dia memiliki ilmu Jangkar Bumi. Jangan biarkan dia menyentuh tanah agar kau bisa membunuhnya", Dewi Kembang Wengi terbatuk-batuk yang mengeluarkan darah. Sepertinya dia memang luka dalam cukup parah. Dewi Kamboja terus menyalurkan tenaga dalam nya.
"Perempuan busuk!
Mulut mu pantas ku jejali tanah", Dewa Tanah berteriak dengan geram. Dia murka Dewi Kembang Wengi membuka rahasia kekuatan nya.
Kakek tua bertubuh gendut itu menjejak tanah dengan keras, tanah merekah dan dengan cepat dia mencongkel dengan ujung jempol kaki lalu menendang tanah sebesar telapak kaki itu dengan keras. Tanah melayang cepat kearah Dewi Kembang Wengi.
Whuuuuttt!
Dewi Kenanga segera menebas tanah itu dengan pedangnya.
Dashhh!!!
Jlarr!
Tanah langsung hancur lebur terkena tebasan pedang Dewi Kenanga. Dewa Tanah mendengus keras dan menggeser letak kaki kiri dan menginjak-injak tanah dengan cepat. Tanah berhamburan, dan dengan cepat Dewa Tanah menendang bongkahan tanah yang melayang.
Whuuuuttt
Whuuuuttt
Whuuuuttt!
Puluhan bongkah tanah melesat cepat kearah Dewi Kembang Wengi. Wajah Dewi Kenanga langsung memucat melihat itu semua.
Panji Watugunung segera melesat cepat menghadang laju bongkahan tanah dengan Ajian Tameng Waja. Sinar kuning keemasan langsung melingkupi seluruh tubuhnya. Bongkahan tanah menghantam tubuh Panji Watugunung.
Blarrrr!
Bongkahan tanah langsung hancur lebur. Panji Watugunung tersenyum lebar. Dengan cepat, Panji Watugunung melesat ke arah Dewa Tanah sambil merapal Ajian Waringin Sungsang nya.
Sinar hijau kebiruan Ajian Waringin Sungsang langsung tercipta di dada dan leher Pangeran Daha itu. Kembali Tapak Dewa Api menghantam dada Dewa Tanah terlempar, namun sebelum menyentuh tanah Panji Watugunung segera mencengkeram erat leher Dewa Tanah agar tidak menyentuh tanah.
Sinar hijau kebiruan segera terlontar dari mulut Panji Watugunung dan masuk ke mulut dan hidung Dewa Tanah.
Aaaarrrggghhhh
Dewa Tanah meraung kesakitan. Setiap urat dan sendi nya terasa di tarik oleh sinar hijau kebiruan Ajian Waringin Sungsang.
Perlahan tubuh gemuk Dewa Tanah mengurus dengan cepat. Darah mengalir dari setiap lubang di tubuh Dewa Tanah. Tubuhnya lalu semakin kurus, tinggal menyisakan tulang dan kulit saja yang berubah warna menjadi kehitaman. Saat mencapai puncak, Panji Watugunung segera menghantam dada Dewa Tanah dengan keras.
Dhuuuaaaaarrrrrr!!!
Tubuh Dewa Tanah hancur lebur menjadi abu.
Semua orang terperangah melihat kehebatan dari Panji Watugunung tak terkecuali Dewi Api adik seperguruan Dewa Tanah.
Langit malam mulai berubah kemerahan di ufuk timur, pertanda pagi akan segera tiba.
Dengan mata penuh amarah, Dewi Api melesat cepat sambil mengibaskan rambutnya yang berubah menjadi api yang menyala.
Naganingrum yang sedari tadi hanya berdiam langsung melesat cepat menghadang kibasan rambut api dengan Ajian Chandra Buana nya.
Whuuussshh
Sinar kuning kebiruan bergulung menghantam rambut api yang mengincar Panji Watugunung.
Blammmmm!!
Dua perempuan itu segera terdorong ke belakang sejauh dua tombak. Luka dalam yang baru saja sembuh, langsung berdarah lagi. Dewi Api muntah darah segar. Sementara Naganingrum merasakan dadanya sedikit sesak.
"Hayu nini sepuh,
Sok atuh maju. Awewe lawan awewe", ujar Naganingrum sambil menggerakkan jemari tangannya, meminta Dewi Api untuk menyerangnya.
"Perempuan tengik,
Ku cabut nyawamu", teriak Dewi Api sambil menerjang maju ke arah Naganingrum. Meski dia sudah terluka dalam, tapi kemampuan beladiri nya masih tidak bisa dianggap enteng.
Melihat Dewi Api maju, Bhirawa, Darugeni dan Simbarmayura ikut menghambur ke medan pertarungan. Warigalit yang melihat itu, langsung memutar Tombak Angin nya menghadang tiga murid Dewa Tanah itu.
__ADS_1
Pertarungan sengit kembali berlanjut di pagi buta.
Dewi Api langsung memutar pedang pendek nya, sambil menggunakan rambut api nya untuk memberi serangan kejutan pada Naganingrum.
Namun murid Resi Buyut Gunung Galunggung itu bukan pendekar sembarangan. Dengan gerakan indah seperti menari, ilmu puncak Cakar Rajawali Galunggung yang bernama Tarian Rajawali Galunggung menyongsong serangan Dewi Api.
Whuuuuttt
Pedang pendek Dewi Api menyabet cepat kearah perut, Naganingrum berkelit dengan gemulai kearah yang berlawanan sambil mengayunkan cakar tangan kanannya yang keras seperti cakar Rajawali.
Mendapat serangan cakar, tangan kiri Dewi Api yang memegang pedang, langsung menebas tangan Naganingrum.
Sreeeetttt!
Perempuan cantik itu menarik tangan, memutar tubuhnya, dan melayangkan tendangan keras kearah pinggang Dewi Api.
Melihat itu, Dewi Api menjejak tanah dengan kaki kiri untuk mundur lalu memapak serangan Naganingrum dengan kaki kanan nya.
Deshhhh!!
Dua perempuan itu segera mundur dua langkah. Kaki mereka berdua terasa seperti mau patah.
"Nini peyot,
Sok atuh maju ka eneng geulis. Abdi jambak jambak eta rambut kumel", tantang Naganingrum sambil mencibir pada Dewi Api.
"Mulut mu pantas di hajar!", usai berteriak keras, Dewi Api melesat cepat kearah Dewi Naganingrum.
Namun kini Naganingrum melapisi tangan kanan dan kirinya dengan tenaga dalam tingkat tinggi.
Dewi Api dengan cepat menebaskan sepasang pedang pendek nya, mengincar dada Naganingrum. Tapi Putri bungsu Prabu Darmaraja dari Galuh Pakuan itu segera melompat tinggi ke udara dan turun tepat di belakang Dewi Api. Naganingrum dengan cepat memutar tubuhnya, dan segera menjambak rambut api perempuan tua itu.
Tangan yang sudah di lapisi tenaga dalam langsung meremas rambut kemudian menarik nya dengan keras.
Rambut api Dewi Api langsung putus. Dewi Api menjerit kesakitan. Rupanya rambut api adalah kekuatan sekaligus kelemahan Dewi Api.
Naganingrum segera melempar rambut yang sudah kembali putih di tangan kanannya, dan dengan cepat menghantam dada Dewi Api dengan pukulan Ajian Chandra Buana.
Blammmmm!!
Dewi Api terlempar jauh ke belakang dan menabrak dinding penginapan dengan keras.
Bruakkk
Perempuan itu seketika tidak bernyawa lagi. Dadanya remuk di hantam Ajian Chandra Buana nya Dewi Naganingrum.
"Rasakeun balukarna lamun mecakan narajang salaki abdi.
Dasar nini peyot", ujar Naganingrum sambil menendang tubuh Dewi Api dengan keras. Tubuh Dewi Api melayang menghantam lima murid Alas Larangan yang bersiap untuk menyerang.
Braakkkk
Dua orang murid Alas Larangan langsung tersungkur, sedang tiga orang melompat maju.
Sringg sringg sringg!
Crepp crepp creeppp..!!
Aaaarrrggghhhh!
Mereka langsung tersungkur seketika dengan mulut berbusa dan leher menghitam. Mereka tewas keracunan oleh jarum Racun Kelabang Neraka dari Dewi Srimpi.
"Eleuh eleuh si awewe beracun, sembarangan wae main lempar jarum.
Bikin kaget eneng geulis deui", ujar Naganingrum sambil melotot ke arah Dewi Srimpi. Tapi seperti biasa, selir Panji Watugunung itu hanya tersenyum tipis dan tidak menjawab.
Dewi Kembang Wengi dan para murid Perguruan Racun Kembang hanya menatap pertarungan di dermaga penyeberangan telah berakhir, saat Warigalit menombak dada Bhirawa. Darugeni dan Simbarmayura melompat kabur usai melihat Bhirawa tewas. Tubuh mereka berdua lenyap di balik pepohonan yang tumbuh di barat pemukiman dekat dermaga penyeberangan.
Panji Watugunung segera mendekati Dewi Kembang Wengi yang masih terduduk di tanah dengan Dewi Kamboja yang terus menyalurkan tenaga dalam nya.
"Pergilah kalian,
Sebelum para prajurit Pakuwon Berbek datang kemari", ujar Panji Watugunung yang menatap wajah pucat Dewi Kembang Wengi.
"Sebentar pendekar,
Guru ku masih terluka dalam. Dia tidak mungkin bertahan jika aku tidak menyalurkan tenaga dalam ku. Aku mohon berikan kami sedikit waktu lagi", ujar Dewi Kamboja dengan mimik wajah menghiba.
Panji Watugunung segera menoleh ke arah Dewi Srimpi.
Selir Panji Watugunung itu lalu mengambil sebutir pil berwarna merah darah dari botol keramik kecil yang ada di kantong baju nya. Dewi Srimpi segera mengulurkan benda itu pada Dewi Kantil.
"Benda apa ini?", tanya Dewi Kantil sambil mengamati pil berwarna merah darah yang ada di tangan kanannya.
"Itu obat luka dalam. Bila cepat berikan kepada gurumu, tak berapa lama lagi dia akan segera pulih", jawab Dewi Srimpi segera.
Buru-buru Dewi Kantil memberikan pil itu pada Dewi Kembang Wengi. Dengan cepat, perempuan itu segera menelan pil itu. Rasa hangat segera menyebar di perut Dewi Kembang Wengi.
Tiba-tiba..
Huuuoooogggghhh!
Dewi Kembang Wengi muntah darah kehitaman. Melihat itu Dewi Kantil langsung mencabut pedangnya.
"Kau meracuni guru ku", teriak Dewi Kantil yang berniat menyerang Dewi Srimpi.
"Tahan Kantil!", ucap Dewi Kembang Wengi.
Perempuan itu setelah muntah darah kehitaman, dadanya tidak terasa sesak lagi. Aliran darahnya juga lebih lancar.
"Guru, kau sudah baikan?", tanya Dewi Kenanga sambil memandang wajah Dewi Kembang Wengi yang mulai merona.
"Tentu saja akan baikan. Sekarang kalian harus segera pergi dari tempat ini", potong Panji Watugunung segera.
__ADS_1
Perlahan Dewi Kembang Wengi bangkit dari duduknya. Saat yang bersamaan, puluhan prajurit Pakuwon Berbek datang dan mengepung tempat itu.
Seorang bekel prajurit Pakuwon Berbek yang memimpin mereka, Bekel Karpo maju dengan congkak nya.
"Jadi kalian yang membuat keributan disini? Sudah bosan hidup kalian ha?", ujar Bekel Karpo dengan keras. Tapi begitu melihat Panji Watugunung, muka Bekel Karpo langsung pucat.
Langit yang semakin terang, membuat wajah Panji Watugunung terlihat jelas. Bekel Karpo yang pernah mengawal upeti bulu pametu dari Anjuk Ladang ke Kadiri melihat jelas bahwa yang dihadapinya adalah Yuwaraja Panjalu.
Segera perwira prajurit Pakuwon Berbek itu berlutut dihadapan Panji Watugunung.
"Mohon ampun Gusti Pangeran Jayengrana.
Hamba tidak tahu jika Gusti Pangeran ada disini", ujar Bekel Karpo sambil menyembah.
Melihat pemandangan itu, Dewi Kembang Wengi dan para murid Perguruan Racun Kembang terkaget-kaget bukan main.
"Jadi kau kau adalah Pangeran Jayengrana?", ujar Dewi Kantil yang berusaha mencari keyakinan atas apa yang baru dilihat nya.
"Jaga mulutmu baik baik, perempuan tengik.
Jangan lancang dengan asal menyebut", hardik Bekel Karpo dengan lantang.
"Sudahlah Bekel prajurit, jangan berlebihan.
Berdirilah", ujar Panji Watugunung segera.
"Terima kasih Gusti Pangeran Jayengrana.
Karpo patuh pada perintah Gusti Pangeran", Bekel Karpo langsung berdiri di samping Panji Watugunung dengan sedikit membungkuk dan ngapurancang dengan patuh.
Panji Watugunung segera menoleh kearah Dewi Kembang Wengi dan para murid Perguruan Racun Kembang.
"Sekarang pergilah. Aku jamin para prajurit Anjuk Ladang tidak akan memburu kalian saat ini.
Tapi kalau lain kali kalian membuat onar, para prajurit pasti dengan senang hati mencincang tubuh kalian", ujar Panji Watugunung dengan penuh wibawa.
"Terima kasih pendekar eh maksud ku Pangeran Jayengrana untuk budi baikmu.
Suatu saat budi baikmu akan ku balas. Kami mohon diri", ujar Dewi Kembang Wengi yang segera membungkuk hormat pada Panji Watugunung kemudian melangkah pergi dengan diikuti oleh anak murid Perguruan Racun Kembang.
Setelah kelompok Perguruan Racun Kembang pergi, Panji Watugunung segera memerintahkan kepada Bekel Karpo untuk mengurus mayat mayat anggota Alas Larangan yang ada disitu.
Dengan patuh, Bekel Karpo menjalankan perintah Panji Watugunung dengan baik. Sedangkan Panji Watugunung, Naganingrum, Dewi Srimpi, dan Warigalit segera menuju ke arah dermaga penyeberangan untuk kembali ke keputran Istana Daha.
Setelah menyebrang, Panji Watugunung dan ketiga pengikutnya mampir di sebuah warung makan yang ada di dekat dermaga barat Kota Dahanapura.
Saat matahari hampir diatas kepala, tiga biksu dari negeri Tiongkok sampai di dermaga penyeberangan. Banyak orang yang berkerumun di dekat penginapan membuat mereka ikut mendekat.
"Amithaba..
Ada apa ini saudara ku?", tanya Biksu Hong Ki sambil tersenyum tipis.
Seorang lelaki muda berbaju hitam segera menoleh kearah biksu itu.
"Tadi malam ada rajapati, biksu.
Orang dari Alas Larangan membuat ulah. Dan menurut berita yang aku dengar, Gusti Pangeran Jayengrana sendiri yang membantai mereka", ujar si lelaki berbaju hitam itu segera.
"Amithaba,
Rupanya di daerah Panjalu banyak terdapat jagoan ilmu beladiri. Bahkan seorang pangeran pun bisa memiliki kemampuan beladiri sebaik ini", ujar Biksu Hong Ki sambil mengelus jenggotnya.
"Kalian hendak kemana biksu?", tanya si pemuda itu dengan sopan.
Biksu Hong Ki segera membungkuk pada si pemuda itu, dan dengan cepat berkata.
"Kami ingin ke Kadiri, ingin beradu ilmu beladiri dengan seorang pendekar yang bernama Watugunung"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kira kira seperti apa reaksi si pemuda itu mendengar ucapan biksu Hong Ki? 😄
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author terus semangat menulis 😁
__ADS_1
Selamat membaca 🙏🙏🙏🙏