Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Tiga Kembang Desa


__ADS_3

Rombongan Panji Watugunung menggebrak kuda mereka mereka


Sudah nampak gapura wanua dari kejauhan


Wanua Sanggur terletak di batas Pakuwon Sengkapura dengan Kadipaten Seloageng. Daerah itu makmur karna lahan persawahan subur. Beras dan palawija melimpah ruah. Sayur mayur juga subur tumbuh di situ. Sebagian besar penduduk bertani, sebagian kecil menjadi pemburu hasil hutan dan pedagang.


Rombongan Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati berhenti tepat di depan gapura wanua yang di jaga 2 orang.


Panji Watugunung segera melompat turun dari kudanya, mendekati penjaga gapura


"Maaf Kisanak, boleh saya bertanya?


Apa di wanua ini ada tabib yang bisa mengobati luka?


Teman kami di serang serigala di hutan itu" tanya Watugunung sopan sambil menunjuk ke hutan serigala


Penjaga gapura itu mengernyitkan dahi


Melihat Panji Watugunung dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Sebelum aku jawab, aku ingin bertanya dulu kisanak. Mau apa kalian melewati daerah Sanggur ini?" tanya penjaga menyelidik


"Kami ingin menuju kadipaten Seloageng kisanak, kami dari Gunung Penanggungan"


"Hemm dari jauh ya..


Ada satu tabib disini. Kalian ikuti jalan ini, sampai di tikungan ada rumah dengan halaman luas dan pohon duku besar, di situ rumah tabib.


Namanya Ki Sambujana" jawab penjaga gapura sambil menunjuk arah


"Terimakasih kisanak, kami mohon pamit"


Selesai berkata, Panji Watugunung melompat ke atas kuda di belakang Dewi Anggarawati lalu menekan kuda agar berjalan pelan di jalan kampung


Setelah rombongan Panji Watugunung terlihat cukup jauh, penjaga gapura itu berbisik pada kawannya


"Kau jaga gapura, aku akan melapor pada Lurah Wanua kita"


Kawannya mengangguk tanda mengerti, lalu penjaga gapura itu bergegas menuju kediaman Rama atau Lurah Wanua


"Ki Garba Ki Garba" teriak penjaga gapura mengetok pintu rumah Lurah Wanua Sanggur yang bernama Ki Garbapati


Tak berapa lama,


Kriettttt.


Suara pintu terbuka


Seorang lelaki separuh baya bertubuh gempal dengan kumis tebal dan mata galak keluar dari dalam


"Ada apa kau teriak teriak seperti orang gila ha?" bentak Ki Garbapati pada penjaga gapura


"Ampun Ki,


Ada orang asing mencurigakan Ki,


Tampak nya beberapa orang sedang terluka,


Mereka sedang di rumah Ki Sambujana untuk berobat" ujar penjaga gapura


Hemmmm


"Panggil teman mu, ayo ikut aku ke rumah Sambujana"


Penjaga gapura segera bergegas memanggil semua semua penjaga kemudian bergerak menuju ke rumah Sambujana

__ADS_1


Sementara itu, Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati sedang menunggu pengobatan para pengawal kadipaten Seloageng di rumah tabib


"Itu mereka Ki " ujar penjaga gapura menunjuk Panji Watugunung begitu Ki Lurah Garbapati dan anak buahnya sampai di rumah Ki Sambujana


Hemmmm


'Melihat pakaian mereka, bisa di pastikan mereka bukan pengelana biasa' batin Ki Garbapati sambil mengamati rombongan Panji Watugunung


"Ayo kita tanya mereka"


Melihat ada rombongan lain menuju tempat itu, Panji Watugunung, Dewi Anggarawati dan Ki Saketi segera berdiri..


Diantara rombongan baru hadir, Watugunung mengenali salah satu dari mereka adalah penjaga gapura tadi


"Mohon maaf kisanak, ada perlu apa mendatangi tempat ini?", ujar Ki Saketi


"Aku Garbapati, Lurah Wanua Sanggur.


Aku ingin bertanya pada kalian.


Siapa kalian dan mau kemana?" Ki Garbapati bicara keras. Semua orang di kediaman Ki Sambujana seketika menoleh padanya


"Maaf Ki Lurah,


Nama saya Saketi, bekel prajurit dari kadipaten Seloageng. Ini putri bungsu Adipati Seloageng, Dewi Anggarawati. Kami dalam perjalanan pulang dari gunung Penanggungan ke kadipaten Seloageng" ujar Ki Saketi sambil menunjukkan lencana perak berlambang burung merak yang merupakan lambang kadipaten Seloageng


Mendengar nama Adipati Seloageng, nyali Lurah Garbapati ciut


Menyesal dia berkata keras kepada rombongan Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati


"Maafkan ketidak sopanan kami Ki Bekel, kami tidak menyangka pembesar Kadipaten Seloageng melewati wanua kami"


"Tidak apa-apa Ki Lurah, kami yang seharusnya minta maaf karna sudah memasuki wilayah mu tanpa ijin ke kediaman mu lebih dulu" ucap Ki Saketi


"Sebagai permintaan maaf dari kami, mohon rombongan Ki bekel dan Gusti Putri bersedia mampir ke kediaman saya Ki" , Garbapati memasang senyum terbaiknya agar Ki Saketi bersedia.


Melihat anggukan halus dari Anggarawati, Ki Saketi berkata " Baiklah kami bersedia"


Ki Garbapati lega


Segera dia pamit undur diri ke kediaman nya, menyiapkan hidangan untuk rombongan Panji Watugunung.


Seorang penjaga gapura di tinggal untuk menjadi penunjuk jalan menuju rumah Lurah Garbapati.


Sementara Panji Watugunung dan rombongan masih di rumah Ki Sambujana, Garbapati memanggil semua keluarga juga emban dan pelayan


Walaupun tampang Garbapati sangar, tapi dia punya 3 putri yang cantik bernama Sekarwangi,


Sekarwati dan Sekarsari. Jika di bandingkan dengan Dewi Anggarawati masih cantik Dewi Anggarawati, namun untuk ukuran wanua Sanggur, mereka adalah kembang desa


"Dengarkan aku, ada rombongan dari Seloageng yang akan menginap. Kalian bersikap yang sopan, jangan sampai memalukan ku.


Mengerti kalian? ", perintah Ki Lurah Garbapati


"Mengerti Ki lurah", jawab semua orang kompak


"Sekarang kerjakan tugas kalian, cepat!!


Menjelang tengah hari, rombongan Kadipaten Seloageng terlihat memasuki kediaman Lurah Garbapati. Semua pekerja dan keluarga ikut menyambut kedatangan rombongan


Namun, perhatian ketiga putri Lurah Garbapati malah tertuju pada seorang pemuda yang berjalan di belakang. Seorang pemuda tampan dan gagah dengan mata jernih dan berwibawa.


"Kangmbok Wangi, lihat pemuda itu,


Dia tampan sekali Kangmbok" bisik Sekarwati pada mbakyu nya dengan pandangan kagum

__ADS_1


Sekarwati memang paling ganjen diantara mereka


"Husst, kecilkan suara mu. Nanti orang dengar", potong Sekarwangi seraya melirik ke arah Panji Watugunung


Dalam hati dia mengakui kalau pemuda itu tampan


"Mari Ki Bekel, silahkan duduk disini.


Gusti Putri Monggo duduk disini" , ujar Garbapati ramah.


"Pelayan, segera hidangkan makanan untuk tamu agung kita"


Sore itu, suasana meriah di kediaman Lurah Garbapati. Para pelayan sibuk menghidangkan makanan.


"Mohon maaf Ki Lurah, aku ingin beristirahat" kata Dewi Anggarawati


"Silahkan Gusti Putri, biar putri hamba yang mengantar.


Sekarwangi


Sekarwati


Sekarsari


Antar Gusti Putri ke kamar tamu"


Segera ketiga putri Lurah Garbapati mengantar Dewi Anggarawati menuju kamar peristirahatan nya.


"Sudah, aku mau istirahat. Terima kasih sudah diantar. Kalian bisa kembali ke tempat perjamuan" ujar Dewi Anggarawati


"Maaf Gusti Putri, kalau hamba lancang..


Boleh hamba bertanya?", tiba tiba suara Sekarwati menghentikan langkah kaki Dewi Anggarawati


"Silahkan, ada pertanyaan apa?"


"Maaf kalau boleh tau, pengawal Gusti Putri itu namanya siapa? Itu loh, yang tampan dan gagah hihihi", tanya Sekarwati malu malu sambil tertawa kecil


Seketika wajah cantik Dewi Anggarawati menjadi sedikit cemberut. Namun dia masih berusaha untuk tenang


"Oh namanya Watugunung, murid dari Padepokan Padas Putih di gunung Penanggungan"


"Oh Watugunung namanya, pantas saja orangnya gagah dan perkasa seperti gunung hihihi.." ucap Sekarwati lirih namun jelas terdengar oleh telinga Dewi Anggarawati


"Ada apa? Kau suka dengannya?"


tanya Anggarawati sedikit ketus


"Ya kalau Kakang Watugunung mau, saya tak menolak kog Gusti Putri hehehehe" Sekarwati masih cengengesan


Kakak tertua nya segera menyikut pinggang nya


"Kau ini bikin malu saja", ujar Sekarwangi setengah berbisik


"Iya Kangmbok Wati urat malu nya sudah putus ya" Sekarsari menimpali


"Ya biarin, namanya juga usaha" ,


Sekarwati menjawab sedikit keras


Dewi Anggarawati mendelik tajam kearah Sekarwati


'Mau mendekati Kakang Watugunung?'


batin Anggarawati

__ADS_1


'Langkahi dulu mayatku'


*bersambung*


__ADS_2