
Api terus membakar kayu kering yang menjadi penyucian jiwa Nyi Polok. Mpu Sukrasana terus berdiri di depan api sampai api mengecil karena kayu dan jasad Nyi Polok telah menjadi abu.
Setelah itu, Mpu Sukrasana mengumpulkan semua abu jasad Nyi Polok ke dalam gendok tanah liat.
Dengan berbagai macam perasaan campur aduk menjadi satu, Mpu Sukrasana melangkah menuju ke serambi kediaman Lurah Wanua Padelegan dengan menenteng gendok tanah liat yang sudah dibungkus kain putih.
Di dalam rumah, semua orang sudah menunggu kedatangan kakek tua itu. Mereka hanya terdiam tanpa bicara apa-apa.
"Ada apa Gusti Pangeran? Kenapa semua orang terdiam seperti ini? Apa ada masalah?", tanya Mpu Sukrasana setengah kebingungan.
"Semua turut berdukacita Guru Resi, jadi mereka memilih untuk diam", jawab Watugunung sambil tersenyum tipis.
Hehehehe
"Buat apa bersedih hati Gusti Pangeran? Kita semua akan mati. Toh sekarang Nyi Polok sudah tenang bersama putra kami.
Hamba hanya sesaat merasa bersalah pada dia, tapi mungkin ini sudah takdir Dewata pada nasib bekas istri hamba ini", ujar Mpu Sukrasana sambil tersenyum tipis seraya melirik gendok tanah liat yang ada di tangan nya.
Semua orang menarik nafas lega setelah mendengar ucapan Mpu Sukrasana.
Malam itu mereka beristirahat dengan tenang, meski ketiga istri Panji Watugunung sempat ribut dengan urusan jatah waktu menemani tidur sang Yuwaraja Panjalu tapi akhirnya selesai juga dengan tidur bersama di satu tempat tidur.
Pagi menjelang tiba di wanua Padelegan. Matahari mulai menampakkan diri kepada sang bumi setelah semalam bersembunyi dibalik gelap malam. Burung burung berkicau riang di ranting pohon nangka di depan rumah Lurah Wanua Padelegan. Cuaca begitu cerah, secerah senyum warga Wanua Padelegan yang telah terbebas dari pagebluk yang melanda wanua mereka.
Pagi itu seluruh warga wanua Padelegan berduyun-duyun datang ke rumah Mpu Guritno. Mereka duduk bersila di halaman rumah kediaman Lurah Wanua Padelegan itu dengan tenang.
Dua prajurit yang berjaga meminta mereka untuk duduk dengan tertib.
Panji Watugunung yang baru selesai berdandan layaknya seorang bangsawan, langsung di dekati Warigalit yang baru dari serambi depan.
"Dhimas Pangeran,
Sebaiknya kau segera keluar ke serambi depan", ujar Warigalit seraya tersenyum tipis.
Belum sempat Panji Watugunung menjawabnya, dari dalam kamar tidur, tiga istri Panji Watugunung muncul dan mendekati suami mereka.
"Ayeu naon Senopati Warigalit?
Pagi pagi sudah kemari mencari Akang Kasep", tanya Naganingrum sambil mendekat ke arah Panji Watugunung. Perempuan cantik itu segera membenarkan sumping sulur pakis emasnya Panji Watugunung yang sedikit miring.
"Maaf Gusti Permaisuri Ketiga,
Saya hanya menyampaikan kabar kalau warga Padelegan ingin bertemu dengan Dhimas Pangeran", jawab Warigalit dengan sopan.
"Memang ada apa mereka mencari Kakang Watugunung, Kakang Warigalit?", tanya Sekar Mayang sambil menatap ke arah Warigalit.
"Kakang kurang tahu Mayang, mereka hanya bilang ingin bertemu dengan Gusti Pangeran Panji Jayengrana", jawab Warigalit segera.
"Sudahlah, ayo kita lihat saja.
Kalau tidak keluar, kita tidak tahu apa mau mereka", ujar Panji Watugunung sambil berjalan menuju ke serambi depan. Tiga istri nya mengekor di belakangnya, serta Warigalit yang mengikuti langkah sang pemimpin.
Saat Panji Watugunung sudah berdiri di depan pintu serambi, seorang lelaki tua berpakaian lusuh segera berjongkok dan menyembah kepada Panji Watugunung.
"Sembah bakti hamba untuk Gusti Pangeran Panji Jayengrana, Sang Yuwaraja Panjalu", ujar lelaki tua itu segera.
Seluruh orang disitu segera mengikuti langkah si lelaki tua tadi. Mereka segera berjongkok dan menyembah.
"Berdirilah.
Jangan terus menyembah kepada ku", Panji Watugunung segera mengangkat tangan kanannya sebagai tanda bahwa dia menerima kedatangan mereka.
"Terimakasih Gusti Pangeran", ujar si lelaki tua itu yang segera duduk bersila di hadapan Panji Watugunung. Semua orang warga Padelegan mengikuti langkah si lelaki tua itu.
Dua orang prajurit segera mengangkat sebuah kursi kayu sebagai tempat duduk Panji Watugunung. Tiga orang istri nya segera duduk bersimpuh di samping kaki kanan dan kiri Panji Watugunung, diikuti oleh Warigalit, Mpu Guritno dan dua orang prajurit pengawal. Sedangkan Mpu Soma dan Mpu Sukrasana berdiri di belakang kursi.
"Ada apa kalian kemari? Apa kalian tidak memiliki pekerjaan di sawah dan ladang kalian?", pandangan mata Panji Watugunung menyapu ke halaman yang penuh dengan warga Wanua Padelegan.
"Mohon ampun beribu ampun Gusti Pangeran,
Saya Ki Kangka, salah satu sesepuh Wanua Padelegan ini. Pertama kami ingin mengucapkan terima kasih banyak atas bantuan Gusti Pangeran dan rombongan yang telah membebaskan wanua ini dari pagebluk yang melanda.
Tanpa bantuan Gusti Pangeran tentu kami sudah menyusul teman teman kami menjadi korban pagebluk itu", ujar lelaki tua yang bernama Ki Kangka itu sambil menghormat.
"Sudah menjadi kewajiban ku, sebagai Yuwaraja Panjalu untuk melindungi setiap warga yang bermukim di Kayuwarajan Kadiri khususnya dan Panjalu umumnya.
Aku secara pribadi meminta maaf kepada kalian semua karena lambat nya kedatangan kami.
Sebab jika kami lebih cepat bertindak, mungkin korban pagebluk tidak sebanyak yang sudah jatuh", ujar Panji Watugunung segera.
__ADS_1
Semua warga Padelegan tersenyum penuh arti. Yuwaraja Panjalu itu memang benar benar seperti yang di ceritakan kepada mereka.
"Gusti Pangeran tidak perlu meminta maaf kepada kami. Kedatangan Gusti Pangeran sudah memberi banyak manfaat kepada kami.
Kami juga benar-benar bangga, bahwa seorang warga Padelegan bersanding dengan Calon Maharaja Panjalu", Ki Kangka tersenyum simpul.
Mendengar itu, Sekar Mayang segera berdiri dari duduknya. Perempuan cantik berwajah bulat telur itu terharu mendengar ucapan Ki Kangka yang mewakili warga Wanua Padelegan. Dulu dia di cap sebagai pembawa sial, namun kini dia menjadi kebanggaan masyarakat Padelegan.
Semua warga Padelegan tersenyum penuh arti memandang kearah Sekar Mayang. Mpu Guritno yang duduk juga tersenyum bangga.
"Ki Lurah,
Saat kembali dari hutan di timur desa, aku melihat ada mata air besar yang mengalir ke sungai kecil.
Di barat Wanua ini, hanya ada ladang dan bukan sawah. Kenapa itu tidak di manfaatkan?", tanya Panji Watugunung segera.
"Mohon ampun Gusti Pangeran,
Selama ini warga Padelegan takut memasuki tepi hutan angker itu Pangeran. Jadi terpaksa membiarkan mata air itu terbuang percuma ke sungai kecil", ujar Mpu Guritno sambil tersenyum kecut.
Hemmmm
"Aku ingin rakyat di Padelegan ini menjadi makmur.
Mulai besok, kita akan membuat saluran air untuk mengubah ladang menjadi persawahan.
Setiap warga yang bekerja akan mendapat upah 5 kepeng perunggu untuk satu hari kerja dan jatah makan satu kali", ucapan Panji Watugunung segera mendapat tepuk tangan dari warga Padelegan. Mereka benar benar bahagia. Bukan hanya karena ladang mereka yang akan berubah menjadi sawah, tapi mereka juga mendapatkan upah dari pembuatan saluran air itu.
Dari arah gerbang barat Wanua, pasukan pengawal Demung Gumbreg datang bersama 4 pedati bahan makanan yang akan di bagikan kepada warga Wanua Padelegan. Panji dan para pengikutnya segera berdiri melihat kedatangan Gumbreg.
Para warga yang berkumpul segera memberi jalan kepada Gumbreg yang datang bersama Weleng dan Gubarja, serta 20 prajurit pengawal.
"Gumbreg,
Cepat sekali kau sampai kemari", tanya Warigalit sesaat setelah Demung Gumbreg turun dari kudanya dan menyembah kepada Panji Watugunung.
"Hehehehe,
Iya Gusti Senopati, begitu mendapat perintah dari Gusti Pangeran, saya sendiri yang langsung menyiapkan bahan makanan yang akan di bawa kemari. Begitu beres, tanpa menunggu lama, saya berangkat hari itu juga agar cepat sampai", ujar Gumbreg yang kumat sombongnya.
"Alah paling juga main perintah. Tunjuk sini tunjuk sana seperti biasanya", ucap Sekar Mayang dengan ketus.
"Lha Gusti Selir kog bisa tahu?", Gumbreg langsung menatap wajah Sekar Mayang.
Weleng dan Gubarja terkekeh geli mendengar omelan Sekar Mayang, sedang Warigalit hanya geleng-geleng kepala menatap Gumbreg yang kusut wajah nya habis kena semprot selir kedua Panji Watugunung itu.
Mulai hari itu, Panji Watugunung mengatur persiapan pembangunan saluran air untuk mengairi lahan persawahan baru di wanua Padelegan.
Karena banyaknya dukungan warga Padelegan terhadap pembangunan saluran air itu, dalam tempo dua pekan sebuah saluran air tercipta dari tepi hutan angker menuju ke ladang yang diubah menjadi persawahan. Mereka juga membangun bendungan kecil atau dawuhan di sekeliling mata air.
Mpu Soma yang diminta oleh Panji Watugunung untuk tetap tinggal sementara waktu, memimpin upacara sedekah dawuhan atau sumber air di tepi hutan sebagai tanda awal musim tanam baru mereka yang dialiri air dari mata air hutan angker.
Ratusan warga wanua Padelegan menghadiri upacara itu dengan membawa aneka hasil bumi mereka sebagai persembahan kepada Hyang Tunggal agar memberikan berkah dan hasil panen yang melimpah pada musim tanam kali ini.
Aneka sesajen bebungaan dan ayam ingkung menjadi salah satu dari bagian ritual upacara. Mpu Soma berkomat-kamit membaca mantra sambil menaburkan kemenyan pada bara arang kayu di anglo tanah liat.
Semua orang terlihat khusyu mengikuti ritual upacara sedekah dawuhan, termasuk Panji Watugunung dan ketiga istrinya. Gumbreg yang berdiri di belakang Warigalit, sibuk menepuk nyamuk yang mengerubungi nya.
Plakkkk
"Duh ini nyamuk kenapa sih hanya aku yang digigit?", gerutu Gumbreg sambil terus menepak seekor nyamuk yang hinggap di lengan nya.
"Pasti karena Gusti Demung belum mandi tadi pagi", bisik Weleng yang ada disampingnya.
"Sembarang kalau ngomong. Aku setiap pagi mandi Leng, enak saja", omel Gumbreg sambil melotot ke arah Weleng.
"Lha tadi pagi Gusti Demung kan bangun kesiangan. Wong cuma cuci muka habis itu langsung lari mengikuti Gusti Pangeran", ujar Weleng mengingatkan.
"Kalau tadi pagi, ya memang gak. Itu adalah salah mu karena tidak segera membangunkan ku", hardik Gumbreg pada Weleng dengan suara berisik.
"Kog jadi saya yang salah, saya sudah membangunkan Gusti Demung 7 kali. Tapi masih tetap ngorok", Weleng tidak mau kalah.
"Pokoknya itu salah mu, gara gara kau aku ja..
Wadaaww!!!", Warigalit yang sudah tidak tahan mendengar suara berisik Gumbreg, langsung menginjak jempol kaki Gumbreg yang cantengan.
Mulanya Gumbreg hendak membuka mulut, tapi setelah melihat mata Warigalit melotot ke arah nya, seketika itu juga Gumbreg membekap mulutnya erat-erat meski merasakan sakit luar biasa pada jempol kaki nya yang berdarah.
Weleng dan Gubarja mengulum senyumnya.
__ADS_1
**
Seorang lelaki muda berkepala gundul dengan enam titik hitam di dahinya melompat menghindari sapuan kaki seorang pendekar muda berbaju biru tua.
Whussss
Pria bermata sipit itu segera mendarat dan dengan cepat memutar tubuhnya sambil melayangkan tendangan keras ke arah pinggang si pendekar berbaju biru tua.
Melihat lawan menyerang, si pendekar berbaju biru tua segera menjatuhkan tubuhnya ke tanah sambil menghantamkan tangan ke arah kaki si pria gundul itu.
Sreeetttttt
Pria bermata sipit itu segera menarik kaki, merubah gerakan tubuhnya dan melayangkan tumit kaki kanan nya kearah dada si pendekar berbaju biru tua dengan cepat.
Dengan bantuan kedua tangannya, si pendekar berbaju biru tua melesat menjauh dari si pria gundul bermata sipit itu. Setelah menjejak tanah dengan keras, si pendekar berbaju biru tua melayangkan pukulan tangan kanan nya yang sudah di lambari tenaga dalam mengincar dada si pria yang berpakaian serba kuning dan merah layaknya seorang biksu.
Whuuuutt
Dengan tenang, si pria gundul itu melenting tinggi ke udara dan dengan cepat kaki kanan nya menghajar bahu kiri si pendekar berbaju biru tua.
Deshhhhh
Oughhh
Si pendekar berbaju biru tua terjungkal ke tanah dan muntah darah segar. Seorang lelaki tua yang berpakaian pertapa segera mendekati si pendekar berbaju biru tua itu.
"Kau tidak apa-apa Taranggana?", ujar kakek tua yang tak lain adalah Resi Wasista, guru Padepokan Pedang Awan.
"Aku baik baik saja Guru, biksu keparat itu tinggi ilmunya", Taranggana memegangi bahunya yang seperti baru di timpa batu besar. Darah segar mengalir dari sudut bibir Taranggana.
Hemmmm
Resi Wasista mendengus panjang mendengar ucapan Taranggana.
"Amithaba...
Bagaimana Tuan Resi? Apa kau sudah mengakui keunggulan ilmu beladiri kami?", ujar seorang kakek tua berjenggot hitam panjang dengan kepala gundul. Dia adalah Biksu Hong Ki dari daratan Tiongkok. Sebagai salah satu jagoan kungfu sebuah Kuil di daratan Tiongkok, Biksu Hong Ki yang sedang belajar ilmu agama Buddha di wilayah Kalingga, ingin menjajal kemampuan beladiri para pendekar tanah Jawa. Bersama kedua muridnya yang bernama Biksu Hong Jian dan Biksu Hong Yi, dia terus berkeliling mendatangi beberapa Padepokan dan perguruan silat yang ada di Kalingga. Ilmu beladiri yang tinggi, membuat mereka dengan mudah mengalahkan para jagoan silat di padepokan dan perguruan tingkat menengah yang mereka datangi.
"Kalau kau ingin diakui sebagai pendekar berilmu tinggi di negeri kami, kau harus bisa mengalahkan seorang lelaki yang bernama Watugunung berjuluk Pendekar Pedang Naga Api.
Kalau kau bisa mengalahkan nya, baru kami akan mengakui bahwa ilmu beladiri kalian lebih hebat daripada ilmu silat kami", jawab Resi Wasista sambil tersenyum simpul.
"Baik baik,
Asal kau tunjukkan arahnya pasti kami akan mendatangi dan mengalahkannya Tuan Resi", ujar Biksu Hong Ki sambil tersenyum penuh percaya diri. Biksu Hong Jian yang baru mengalahkan Taranggana segera mendekati mereka.
Resi Wasista sambil tersenyum tipis, langsung berkata,
"Carilah dia di kota Kayuwarajan Kadiri.
Dia ada disana"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
__ADS_1
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya agar author terus semangat menulis yah 😁
Selamat membaca 🙏😁🙏