Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Serangan Diam-diam


__ADS_3

Usai berkata demikian, Patih Harjamukti segera duduk bersila dengan Senopati Purbaya yang sangat sedikit pengalaman perangnya. Senopati Purbaya diangkat menjadi pemimpin para prajurit Kembang Kuning usai Senopati terdahulu gugur dalam membantu peperangan antara Panjalu dan Jenggala. Lagipula dia menjadi senopati Kembang Kuning karena kakaknya merupakan selir termuda Adipati Mpu Pamadi yang memang mempunyai banyak selir.


Dari segi kemampuan beladiri, dia seimbang dengan Senopati Dewangkara dari Lasem atau Mpu Koncar dari Anjuk Ladang. Tapi dalam segi tata keprajuritan, dia tidak lebih baik dari Demung Gumbreg.


"Apa langkah kita selanjutnya, Paman Patih? Jujur saja aku tidak percaya diri menghadapi Pasukan Panjalu ini, Paman", tanya Senopati Purbaya yang memang masih muda. Usia nya baru menginjak 2 setengah warsa.


"Kau tenang saja, Purbaya. Aku sudah menyiapkan puluhan rencana untuk kita menahan pergerakan prajurit Panjalu.


Cuma yang kita butuhkan sekarang ini adalah tambahan prajurit.


Semoga saja Demung Bulukumba segera membawa bantuan yang kita minta tepat waktu", ujar Patih Harjamukti, seorang sepuh yang telah berpengalaman puluhan surya sengkala dalam menghadapi lawan.


Senopati Purbaya hanya manggut-manggut saja mendengar penjelasan Patih Harjamukti.


Sementara itu Demung Bulukumba terus menggebrak kudanya diikuti ke arah Kota Kadipaten Kembang Kuning yang berjarak setengah malam perjalanan dari Pakuwon Semanding.


Saat meninggalkan tapal batas antara Pakuwon Semanding dan Pakuwon Lembayung, seorang lelaki bertubuh tegap yang memakai pakaian rakyat biasa dan membawa sepikul rumput segar menatap kepergian Demung Bulukumba yang di kawal oleh 2 orang prajurit.


"Hemmmmmmm..


Itu prajurit Kembang Kuning mau kemana? Pasti ada sesuatu yang tidak beres ini", gumam lelaki bertubuh tegap itu yang segera melesat di antara pepohonan di tepi Kali Serang yang menjadi batas Pakuwon Semanding dan Pakuwon Lembayung. Gerakan tubuh orang itu terlihat lincah bergerak menuju ke sebuah gubuk kayu yang terletak di balik Bukit Pegunungan Kendeng.


Di dalam gubuk kayu itu nampak 3 orang sedang duduk bersama menikmati singkong rebus dan sekendi air minum yang dingin. Mereka tampak lahap menyantap makanan yang tersaji.


"Kakang Guwarsa,


Aku melihat 3 orang prajurit Kadipaten Kurawan memacu kuda mereka kearah kota Kadipaten. Salah seorang diantara nya adalah perwira. Kalau dilihat dari pakaian yang dikenakan dia berpangkat Demung atau Rakryan Mantri", lapor si lelaki bertubuh tegap yang membawa rumput tadi.


Laki laki berumur 4 warsa dengan rambut hitam yang mulai di tumbuhi uban itu sedikit terkejut. Nyaris saja dia tersedak jika tak segera menyambar kendi air minum untuk melarutkan makanan yang menyangkut di tenggorokannya.


"Bocah gemblung,


Kalau kasih berita pas orang makan itu jangan seperti itu. Bisa bisa orang yang dengar berita begitu mati tersedak. Awas jika kau ulangi lagi.


Apa orang yang berpakaian Demung itu bertubuh kurus dengan mata cekung?", tanya Guwarsa kemudian.


"Iya Kang, persis seperti itu", jawab lelaki bertubuh tegap itu segera.


Hemmmmmmm..


"Demung Bulukumba...


Mau apa dia ke Kota Kadipaten Kembang Kuning? Jangan jangan...


Gawat!


Kalian berdua cepat kirim pesan ke para telik sandi di kota Kembang Kuning. Minta mengabarkan kabar terbaru pergerakan Demung Bulukumba. Aku akan melapor kepada Gusti Tumenggung Ludaka di tempat kumpul. Kau jaga tempat ini.. Dan kau ikut aku ke tempat markas Pasukan Lowo Bengi.


Ayo cepat!", usai membagi tugas, Guwarsa segera melesat cepat kearah timur di temani oleh seorang pemuda berjambang lebat. Mereka berdua bergerak dalam lindungan bayangan pepohonan yang tumbuh lebat di lereng perbukitan itu.


Tumenggung Ludaka nampak membaca puluhan surat telik sandi yang sudah di kirim ke markas pergerakan Pasukan Lowo Bengi. Dia mencoba menghubungkan semua surat itu menjadi satu alur pergerakan prajurit Kembang Kuning.


Ludaka tersenyum simpul menatap puluhan gulungan kain kecil di hadapannya.


Dari luar pondok kayu yang menjadi tempat pergerakan Pasukan Lowo Bengi, Guwarsa dan pemuda berjambang lebat telah sampai. Mereka segera bergegas menuju ke arah tempat Tumenggung Ludaka membaca surat para telik sandi.


"Mana Gusti Tumenggung Ludaka, Lembuwana?", tanya Guwarsa pada seorang prajurit anggota Pasukan Lowo Bengi yang tengah duduk di beranda gubuk kayu itu bersama 5 kawannya.


"Ada di dalam Guwarsa.. Apa ada berita penting?", jawab Lembuwana seraya menatap heran kearah Guwarsa.


Tanpa menjawab, Guwarsa langsung masuk ke dalam pondok kayu yang telah menjadi markas pergerakan Pasukan Lowo Bengi selama 3 hari.


Tumenggung Ludaka yang sedang duduk kaget melihat kedatangan Guwarsa yang tiba-tiba. Tumenggung andalan Panji Watugunung itu segera berdiri dari tempat duduknya.


"Ada apa Guwarsa?


Kenapa kau datang kemari? Bagaimana dengan tugasmu?", berondongan pertanyaan datang dari Tumenggung Ludaka.


"Ampun Gusti Tumenggung..


Hamba kemari karena ada pergerakan prajurit Kembang Kuning. 1 orang Demung dan orang prajurit berangkat menuju ke kota Kadipaten Kembang Kuning dari Pakuwon Semanding. Kalau menurut perhitungan hamba, kemungkinan besar mereka meminta bantuan pasukan pada istana Kembang Kuning karena para perwira tinggi di Semanding tahu kekuatan pasukan Panjalu yang bergerak dari Pakuwon Cempaka", lapor Guwarsa dengan cepat.


Tumenggung Ludaka terkesiap mendengar laporan dari Guwarsa.


"Ini tidak boleh dibiarkan. Kalau datang pasukan bantuan dari istana Kembang Kuning, itu akan menghambat pergerakan prajurit Panjalu yang akan mengepung kota itu.


Ini akan mengacaukan taktik yang sudah disiapkan oleh Gusti Prabu Jayengrana sebelumnya.


Guwarsa,


Panggil semua orang kemari. Cepat!!", perintah Tumenggung Ludaka sambil menggaruk kepalanya.


Guwarsa segera keluar dan memanggil para anggota Pasukan Lowo Bengi untuk berkumpul. Di tempat itu ada 600 orang prajurit anggota Pasukan Lowo Bengi yang siap menerima perintah.


"Dengarkan aku!

__ADS_1


Sepertinya ada perubahan rencana untuk kita semua. Kita semua harus bersiap untuk bertarung lebih dulu melawan Pasukan Kembang Kuning jika diperlukan.


Guwarsa,


Pimpin 500 prajurit kita, atur jebakan di sepanjang jalur yang akan di lewati oleh bala bantuan dari istana Kembang Kuning.


Lembuwana,


Sampaikan pada Tumenggung Jarasanda untuk menggerakkan pasukan Garuda Panjalu dan pasukan Kurawan menuju tapal batas Pakuwon Semanding dan Pakuwon Lembayung.


Sampung,


Berangkatlah ke arah pasukan Gusti Prabu Jayengrana untuk mengabarkan berita ini.


Aku akan menemui Tumenggung Landung dan menata pasukan di tepi Kali Serang.


Titik pertemuan kita di tepi Kali Serang sebelah barat", perintah Tumenggung Ludaka segera.


"Sendiko dawuh Gusti Tumenggung", ujar para anggota Pasukan Lowo Bengi. Dengan cepat mereka bergerak menuju tempat tempat yang menjadi tugas mereka.


Guwarsa memimpin kawan-kawan nya bergerak menuju ke tepi jalan raya yang menghubungkan wilayah Pakuwon Lembayung dan Semanding. Meski harus menyeberangi Kali Serang yang dalamnya hanya setengah dengkul kuda, tapi jalan itu adalah jalan tercepat menuju ibukota Kembang Kuning.


Para anggota Pasukan Lowo Bengi segera menata puluhan jebakan dan rintangan di sepanjang jalan yang kiri kanan nya ditumbuhi pepohonan yang rindang.


Beberapa orang terlihat menggali lobang besar yang dalam, lalu memasang kayu lancip di dasar lobang. Di atasnya mereka menata kayu kecil yang di tutup dengan rumput kering dan daun yang berguguran.


Yang lain membuat lobang dalam lalu pada dasarnya mereka menaruh rumput kering dan sekuali minyak jarak. Jika pasukan bantuan Kadipaten Kembang Kuning masuk ke jebakan ini bisa di pastikan mereka akan terbakar karena para Pasukan Lowo Bengi sudah menyiapkan panah berapi mereka.


Ada pula yang menyiapkan jebakan dari balok kayu besar yang diikat kemudian mereka menata sedemikian rupa sehingga jika tali kecil yang menjadi kunci tersenggol maka akan terkena hantaman balok kayu besar.


Guwarsa sendiri dan beberapa orang kawannya naik ke tebing berbatu yang ada di sisi barat Kali Serang. Mereka mendorong beberapa batu besar hingga ke puncak tebing untuk mereka gelindingkan ke arah rombongan pasukan bantuan Kadipaten Kembang Kuning agar mereka masuk jebakan yang sudah di siapkan.


Mereka bahu membahu dalam bekerja hingga aneka jebakan mereka selesai dengan cepat.


Menjelang sore, para prajurit Panjalu mulai menempati posisi masing-masing seperti yang telah di tetapkan.


Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Landung yang baru hadir pun juga langsung berkumpul bersama para Pasukan Lowo Bengi.


Setidaknya sudah terkumpul sekitar 1000 orang prajurit Panjalu yang siap mengadu nyawa.


**


Sementara itu, di istana Kadipaten Kembang Kuning.


"Jadi Harjamukti yang menyuruhmu kemari untuk meminta tambahan prajurit?", tanya Adipati Mpu Pamadi di ruang pribadi adipati.


Pasukan Panjalu berjumlah 15 ribu prajurit Gusti Adipati, sedangkan pasukan kita di Pakuwon Semanding hanya 10 ribu prajurit.


Hamba yakin, dengan selisih itu, pasukan Kembang Kuning tak akan bisa bertahan lama menghadapi pasukan Panjalu yang jumlahnya lebih besar", ujar Demung Bulukumba sembari melaporkan keadaan terbaru di Pakuwon Semanding.


"Hemmmmmmm..


Kertawahana, jangan diam saja. Katakan pendapat mu mengenai masalah ini", Adipati Mpu Pamadi menatap ke arah Tumenggung Kertawahana yang duduk di dekatnya.


"Jika diijinkan untuk memberikan pendapat, hamba setuju dengan pendapat Patih Harjamukti, Gusti Adipati.


Percuma kita menumpuk prajurit di kota Kembang Kuning jika pertahanan kita di Semanding hancur oleh pasukan Panjalu.


Itu hanya pendapat hamba. Semua keputusan ada pada Gusti Adipati sendiri", ujar Tumenggung Kertawahana sambil menghormat pada Adipati Mpu Pamadi.


"Aku ikuti saran mu Tumenggung Kertawahana.


Lagipula aku sudah punya ilmu Wastra Mahesa dari Nyi Suhita, sekalipun prajurit pengawal pribadi ku sedikit tapi aku tidak perlu takut dengan Jayengrana lagi hahaha", tawa keras Adipati Mpu Pamadi pecah usai memberi persetujuan untuk bantuan kepada para prajurit Kembang Kuning di Pakuwon Semanding.


Senja mulai di gantikan oleh sang malam. Perlahan gelap mulai menyelimuti seluruh wilayah kota Kadipaten Kembang Kuning. Para penduduk sudah kembali berkumpul bersama keluarga di rumah usai mencari nafkah sehari penuh. Hanya satu dua warung yang masih buka di sekitar kota Kembang Kuning. Itupun hanya warung tuak dan arak yang merangkap sebagai tempat hiburan malam yang juga menyediakan perempuan pelacur bagi para pencari kenikmatan sesaat.


Dua pasang mata terus mengintip persiapan para prajurit Kembang Kuning yang di tata oleh Demung Bulukumba dan beberapa bekel prajurit dari atas tembok istana.


Usai yakin bahwa mereka akan bergerak malam ini juga, dua pasang mata itu segera bergerak meninggalkan tempat persembunyian mereka dengan menuruni batang pohon sawo. Dengan langkah pelan, mereka meninggalkan tempat itu menuju ke arah belakang rumah di tepi tapal batas kota Kadipaten Kembang Kuning yang menjadi tempat mereka menambatkan kuda mereka masing-masing.


Di kegelapan malam, dua orang berpakaian serba hitam itu segera memacu kudanya menuju ke arah persembunyian para anggota Pasukan Lowo Bengi di tepi Kali Serang dengan membawa obor sebagai penerang jalan.


Di ujung barat hutan kecil itu para telik sandi itu di cegat oleh dua orang berpakaian hitam-hitam.


"Kapulaga,


Kau kah itu?", tanya seorang lelaki bertubuh gempal pada dua orang itu segera. Maklum saja, cuaca malam itu gelap gulita sedangkan penerangan yang ada hanya obor yang di bawa mereka.


Yang di tanya tidak buru-buru menjawab melainkan mendekatkan obor ke tubuh mereka hingga orang yang mencegat tahu siapa mereka.


"Iya Kang Guwarsa, ini aku Kapulaga dan Warujayeng", jawab si lelaki yang baru datang dari kota Kadipaten Kembang Kuning itu segera. Mereka berdua segera melompat turun dari kuda mereka masing-masing.


"Mereka sudah bergerak menuju kemari Kakang. Kita harus bersiap untuk menghadapi mereka", timpal Warujayeng sambil mendekati Guwarsa.


Mendengar ucapan itu, Guwarsa segera mengajak mereka berdua untuk menemui Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Landung yang sudah bersiaga di tempat persembunyian mereka.

__ADS_1


Usai mendengar laporan dari kedua anggota Pasukan Lowo Bengi itu, Tumenggung Ludaka nampak memikirkan sesuatu.


"Yang jadi kekhawatiran ku adalah kita kalah jumlah dengan mereka. Dengan jumlah 5 ribu prajurit, sedangkan kita hanya 1000 prajurit maka sulit bagi kita untuk memenangkan pertempuran.


Lembuwana belum juga kembali kemari hingga aku belum tahu kesiapan Pasukan Garuda Panjalu", ujar Tumenggung Ludaka sembari menghela nafas panjang.


"Jika kita tak mampu mengalahkan mereka, setidaknya kita mengurangi jumlah mereka Tumenggung Ludaka..


Kita gunakan saja cara pancingan agar mereka masuk ke jebakan yang kita buat. Lalu saat mereka kebingungan, kita kejutkan dengan serangan diam-diam.


Bagaimana saudara ku?", usul Tumenggung Landung sembari tersenyum simpul.


Mendengar usulan itu, Tumenggung Ludaka mengangguk setuju karena mereka tidak mungkin menghadapi lawan secara terang-terangan.


Mereka segera kembali ke tempat tugas masing-masing dan bersiap untuk menghadapi pasukan pemberontak Kadipaten Kembang Kuning.


Dari arah barat, ribuan obor bergerak laksana ular api melewati jalan yang menuju ke Pakuwon Semanding. Dari tebing berbatu di barat Kali Serang, Tumenggung Ludaka yang melihat itu langsung membunyikan peluit yang mirip suara burung hantu.


Semakin rombongan pasukan Kadipaten Kembang Kuning semakin mendekat. Saat memasuki dekat hutan kecil itu, Bekel Prajurit Kembang Kuning melihat 4 orang berkuda yang bergerak cepat di depan nya.


"Hai, berhenti!!


Siapa kalian??", teriak Bekel Sempani yang membuat keempat orang berkuda itu langsung memutar arah.


Merasa curiga, Bekel Prajurit Kadipaten Kembang Kuning itu segera berteriak lantang.


"Ada penyusup!


Tangkap mereka! Cepat!!!", mendengar ucapan Bekel Sempani, para prajurit Kadipaten Kembang Kuning segera bergerak cepat mengejar keempat orang yang putar arah itu.


Di tengah hutan kecil, keempat orang berkuda itu segera memisahkan diri dan bersembunyi dibalik pepohonan hutan yang lebat.


Saat separuh lebih pasukan Kadipaten Kembang Kuning sudah memasuki hutan kecil tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang menakutkan. Kegelapan malam yang membuat pandangan terbatas turut menjadi pendukung serangan diam-diam Pasukan Lowo Bengi.


Aaaarrrgggggghhhhh!!


Terdengar jerit kesakitan yang membuat semua prajurit Kembang Kuning sadar bahwa suara gemuruh itu adalah suara batu besar yang menggelinding dari puncak tebing berbatu.


"Celaka!


Ini jebakan. Ayo cepat kita maju", teriak Demung Bulukumba yang memerintahkan kepada para prajurit Kembang Kuning untuk bergerak masuk ke dalam hutan.


Namun bukannya selamat dari hantaman batu besar yang menggelinding, para prajurit Kembang Kuning justru banyak yang terjatuh ke dalam perangkap yang sudah di siapkan.


Jerit kesakitan di tambah gemuruh suara batu menggelinding membuat para prajurit bantuan dari istana Kembang Kuning itu kocar-kacir.


Diantara kegelapan malam, para anggota Pasukan Lowo Bengi bergerak menghabisi nyawa para prajurit Kembang Kuning dengan gerakan cepat satu persatu. Jerit memilukan hati terdengar dari mereka yang di bantai para anggota Pasukan Lowo Bengi. Korban tewas terus berjatuhan di kalangan para prajurit Kembang Kuning.


Shrrriinnnggg shhhrriinggg!!


Puluhan anak panah berapi terlihat berseliweran menuju ke beberapa titik. Api seketika berkobar di tempat itu.


Sadar bahwa pasukannya menjadi mangsa empuk para prajurit Panjalu, Demung Bulukumba berusaha memimpin pasukan Kembang Kuning keluar dari hutan kecil itu menuju ke Kali Serang.


Namun alangkah terkejutnya Demung Bulukumba saat hampir mencapai bibir Kali Serang, dari seberang Kali Serang ribuan prajurit memegang obor menyerbu ke arah mereka.


"Bangsat!


Kita di kepung!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya 😁

__ADS_1


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁


Selamat membaca 😁😁


__ADS_2