
Pasukan Jenggala semakin putus asa melihat Tumenggung Wangkas tewas. Korban tewas terus berjatuhan dari kedua belah pihak, namun karena kalah jumlah, pasukan Jenggala yang tewas jauh lebih banyak dari pada prajurit Daha.
Bekel Kadru dari Tumapel berniat mati bersama dengan para prajurit Daha, langsung melesat cepat ke arah Senopati Narapraja yang sedang bertarung melawan para prajurit Jenggala.
Ayunan pedang Bekel Kadru mengincar leher sang senopati.
Mendapat serangan tiba-tiba dari belakang, Senopati Narapraja segera menjatuhkan tubuhnya sambil menebas kaki seorang prajurit Jenggala.
Crashhhh...
Aarrgghhh!!
Raungan kesakitan akibat putusnya kaki sang prajurit terdengar menyayat hati. Tubuh sang prajurit limbung dan dengan segenap tenaga, Senopati Narapraja menendang perut sang prajurit.
Bukkk...
Tubuh sang prajurit terpental ke arah Bekel Kadru yang menerjang maju. Bekel prajurit Tumapel itu langsung menebas pinggang sang prajurit yang menghalangi gerakan nya.
Crashhhh....
Pedang tajam sang bekel langsung memotong tubuh sang prajurit menjadi dua bagian. Dia tewas mengenaskan.
Karena gangguan dari prajurit tadi, Bekel Kadru tidak melihat saat Senopati Narapraja menjejak tanah dengan keras dan melompat cepat menuju ke arahnya sambil menebaskan pedangnya ke arah pinggang.
Sreeetttttt......
Bekel Kadru terlambat beberapa saat untuk menghindar dari sabetan pedang Senopati Narapraja.
Aughhhhh!
Tebasan pedang itu berhasil melukai pinggang sang Bekel. Pria itu terhuyung huyung ke belakang sambil membekap pinggang nya yang mulai mengeluarkan darah.
Bekel Kadru melompat mundur dua tombak, segera melepas baju dan mengikat lukanya. Sambil meringis menahan sakit, pria bertahi lalat besar di pipi kiri itu menatap tajam ke Senopati Narapraja.
Mulut Bekel Kadru komat kamit merapal mantra Ajian Padas Lintang andalan nya. Tubuh nya seketika menjadi sekeras batu.
Senopati Narapraja segera meloncat ke arah Bekel Kadru menebas leher nya.
Tranggg
Pedang Senopati Narapraja seperti menghantam batu dan patah menjadi dua. Saat Senopati muda itu terkejut karena pedangnya patah, Bekel Kadru melayangkan pukulan tangan kiri nya ke arah dada sang senopati.
Deshh
Senopati Narapraja terlempar mundur dari depan sang Bekel prajurit Tumapel dan jatuh terduduk di tanah. Dadanya sesak seperti baru di hantam balok kayu besar. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya.
Perlahan Senopati Narapraja segera berdiri.
"Ayo maju senopati Daha. Pilih bacok yang mana?', tantang Bekel Kadru sambil menyeringai lebar.
"Ilmu Padas Lintang...
Boleh juga kau pak tua. Tapi Narapraja tidak akan mundur selangkah pun dari medan laga", Senopati Narapraja mengusap darah di bibirnya dengan kasar.
Senopati Narapraja segera membuang pedang nya yang tinggal separuh. Kemudian mencabut keris pusaka Kyai Pamegat Nyawa.
Keris pusaka itu menebarkan aroma seram layaknya pasetran angker dengan cahaya merah darah.
Bekel Kadru terhenyak melihat kehebatan keris di tangan sang senopati Daha.
'Senopati bangsat ini rupanya punya pusaka ampuh. Kalau harus mati, akan kubawa dia bersama ku', batin Bekel Kadru.
Senopati Narapraja segera meloncat ke arah Bekel Kadru dan menusukkan kerisnya kearah leher. Bekel prajurit Tumapel itu langsung meloncat ke samping dan menebaskan pedangnya ke arah leher Senopati Narapraja.
Senopati muda itu segera menarik serangannya dan mundur selangkah lalu berputar cepat sambil menghantamkan tangan kiri nya yang dilambari Ajian Bledek Sewu andalan nya.
Bekel prajurit Pakuwon Tumapel itu segera menangkis dengan Ajian Padas Lintang andalan nya.
Blammmm!!
Ledakan keras terdengar dari benturan dua ajian. Bekel Kadru terhuyung mundur 2 langkah ke belakang dan Senopati Narapraja tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Segera keris pusaka Kyai Pamegat Nyawa dia hujamkan ke dada kiri Bekel Kadru.
Creppp...
Aughhhhh!
Bekel Kadru melotot mundur menahan sakit akibat tusukan keris Senopati Narapraja. Darah segar muncrat dari luka nya. Tak berapa lama kemudian Bekel Kadru tewas bersimbah darah.
Di lain pihak, Demung Sila yang sedang berhadapan dengan Tumenggung Gati dari Seloageng bukan lawan yang berat untuk sang jagoan kadipaten Seloageng.
Beberapa luka sayatan pedang sang Tumenggung Seloageng sudah mewarnai tubuh lelaki bertubuh gempal itu.
Dengan nafas ngos-ngosan, Demung Sila menatap tajam ke arah Tumenggung Seloageng itu.
"Apa masih pengen lanjut?", ejek Tumenggung Gati sambil memutar pedangnya di samping tubuhnya.
"Keparat!
Sombong sekali kau anjing tua. Demung Sila masih belum kalah", teriak sang Demung.
__ADS_1
Usai berkata demikian, segera tangan Demung Sila menangkup di depan dada. Sinar biru gelap segera melingkupi seluruh tangan Demung Sila. Dengan Ajian Tapak Peri Biru dia akan habis-habisan melawan Tumenggung Gati.
"Mampus kau anjing tua!!
Chiaattttt....
Sinar biru pekat itu segera meluncur ke arah Tumenggung Gati saat Bekel Kadru menghantamkan tapaknya.
Siuuuttttt..
Blarrrrr!!!
Serangan itu dengan cepat di hindari Tumenggung Gati dengan bersalto di udara. Serangan itu langsung menghajar seorang prajurit Jenggala yang ketiban sial. Dia tewas seketika.
Mendapati bahwa serangan nya gagal, Demung Sila dengan cepat mengayunkan tapak tangan kanan dan kiri nya kearah Tumenggung Gati.
Siuttttt...
Blarrrrr Blarrrrr!!!!
Tumenggung Gati dengan cepat terus menghindar. Pria sepuh itu lalu melesat dan mengayunkan pedangnya ke arah leher Demung Sila.
Jagoan Pamotan itu menjatuhkan diri ke tanah untuk menghindar dari sabetan pedang. Namun Tumenggung Gati segera mencabut kerisnya dengan tangan kiri dan segera menusuk perut Demung Sila.
Creppp....
Arrgghhhh!!!
Raungan keras dari mulut Demung Sila terdengar saat keris mencoblos perutnya. Tumenggung Gati melompat mundur 1 tombak ke belakang. Demung Sila tewas dengan usus terburai.
Pasukan Daha terus membantai lawan nya dengan cepat. Korban tewas dari pasukan Jenggala terus bertambah banyak. Sementara di seberang sungai, Senopati Socawarma hanya bisa pasrah melihat pasukannya di bantai pasukan Daha.
Di sisi lain pertempuran, banjir air bah membuat puluhan kapal pasukan Jenggala di bawah pimpinan Demung kembar, Kerpa dan Kerpi hancur dan tenggelam. Sebagian rusak dan tidak bisa di gunakan untuk maju.
Ratusan anak panah api terus menghujani perahu mereka. Saat air sungai kembali tenang, ratusan sampan kecil dan sebuah perahu besar mulai bergerak menuju pasukan Jenggala. Mereka adalah pasukan Daha yang berasal dari Karang Anom yang dipimpin oleh Tumenggung Juru.
Saat berhasil mendekati perahu pasukan Jenggala, pasukan dari Karang Anom langsung menyerang.
Pertarungan diatas kapal segera terjadi.
Perahu besar yang di tumpangi Tumenggung Juru langsung mendekat ke arah perahu paling besar yang di tumpangi Demung kembar Kerpa dan Kerpi.
"Besar sekali nyali mu, tumenggung tua.
Sudah bosan hidup kau rupanya", ujar Kerpa bengis.
"Aku hanya abdi Daha, tugas ku membantai perusuh seperti kalian yang mencoba mengganggu kedamaian di wilayah Panjalu", Tumenggung Juru menatap tajam ke arah Demung Kerpa.
Ku bunuh kau kakek tua".
Usai berkata demikian, Demung Kerpa segera melesat cepat sambil mengayunkan pedangnya ke arah Tumenggung Juru.
Tumenggung sepuh dari Karang Anom itu segera menangkis sabetan pedang dengan pedang pendek nya.
Tranggg!!!
Percikan bunga api tercipta dari benturan dua senjata itu. Tumenggung Juru langsung melayangkan tendangan keras ke arah perut Demung Kerpa.
Pimpinan pasukan Jenggala itu melompat mundur menghindari tendangan lalu menjejak tiang kapal itu dengan keras dan berputar cepat menuju ke arah Tumenggung Juru.
Sabetan pedang nya mengincar leher sang pemimpin pasukan dari Karang Anom.
Dengan gesit, Tumenggung Juru langsung melompat ke atas sambil menyabetkan pedang pendek nya kearah bahu kiri Demung Kerpa.
Sreeetttttt..
Demung Kerpa segera menjatuhkan tubuhnya ke lantai kapal, kemudian menendang peti kayu dengan keras.
Peti hancur berantakan dan dengan cepat serpihan peti itu yang masih melayang di tepuk oleh Demung Kerpa segera.
Sreet sreeetttttt...
Serpihan peti melayang cepat ke arah Tumenggung Juru, namun pemimpin pasukan Karang Anom itu dengan cepat memutar pedang pendek nya..
Trak traakkk!
Serpihan peti langsung hancur, namun Demung Kerpa rupanya memanfaatkan peluang ini.
Dengan cepat, Demung Kerpa segera melesat sambil mengayunkan pedangnya mengincar dada sang Tumenggung. Namun Tumenggung Juru bukan petarung kemarin sore yang kurang pengalaman.
Segera dia melompat tinggi ke udara, dan dengan cepat dia menghajar punggung Demung Kerpa dengan pukulan tangan kiri nya yang sudah di lambari ilmu tenaga dalam.
Deshhh
Aughhhhh
Jeritan keras terdengar. Demung Kerpa menyusruk lantai kapal dan muntah darah.
Demung Kerpi yang melihat kakaknya terluka langsung melesat cepat dan membokong Tumenggung Juru yang baru saja menjejak lantai kapal.
__ADS_1
Sreeetttttt
Arrgghhhh!
Tebasan pedang Demung Kerpi telak melukai punggung Tumenggung Juru. Demung Kerpi tersenyum sinis menatap wajah sang pemimpin pasukan Karang Anom yang terluka.
Namun sebuah anak panah melesat dengan kecepatan tinggi mengincar dada Demung Kerpi yang hendak menjejak lantai.
Sreeetttttt
Crepp
Aughhhhh!!
Panah Rajegwesi tepat menancap di dada kiri Demung Kerpi dan menembus jantung nya. Demung Kerpi terlempar ke pinggir kapal. Dari mulut nya darah segar mengalir keluar. Dia tewas kehabisan darah.
Demung Kerpa yang baru muntah darah, melihat adiknya tewas murka.
Dengan sedikit tertatih-tatih, dia bangkit hendak membunuh tumenggung sepuh Karang Anom yang terluka parah itu.
Namun lagi lagi, anak panah Rajegwesi kembali menghajar dada sang Demung.
Sreeetttttt
Creppp
Arghhh!!!
Walaupun terluka oleh panah, Demung Kerpa tetap bergerak maju. Rajegwesi yang ada di atas dahan pohon beringin besar di tepi sungai langsung mencabut 3 anak panah sekaligus dan membidik tubuh Demung Kerpa.
Sring sringggg sringgg..
Crep creeppp creppp
Arrgghhhh!!!
Tubuh Demung Kerpa terpelanting ke belakang dengan 4 panah menancap di tubuh nya. Dia tewas, dengan mata melotot menahan sakit.
Pasukan Daha yang di pimpin oleh Bekel Sampen, langsung melompat ke atas kapal besar. Melihat pemimpin mereka bersimbah darah, dengan cepat mereka berusaha menolongnya.
Keadaan Tumenggung Juru mengkhawatirkan.
Sementara itu, Panji Watugunung dan kedua selir nya menoleh ke arah Tumenggung Bayucandra dan Ratna Pitaloka yang baru datang.
Gumbreg yang baru datang dengan 50 prajurit Pakuwon Bedander langsung mendekat ke arah Panji Watugunung.
"Kenapa kita tidak sikat saja mereka semua Gusti?
Bukankah lebih cepat lebih baik??", Gumbreg menatap ke arah pertarungan Warigalit ditepi Kali Aksa.
"Perang itu perlu rencana Mbreg, tidak bisa main serang seenaknya.
Semua hal itu perlu perencanaan, agar hasilnya sesuai harapan", ujar Panji Watugunung segera sambil menatap ke seberang sungai.
"Oh begitu. Saya juga punya rencana besar Gusti Pangeran", ujar Gumbreg kumat sombongnya.
"Apa Mbreg?", Panji Watugunung segera menoleh ke arah Gumbreg.
Dengan penuh percaya diri, Gumbreg langsung berkata,
"Nanti, saya makan banyak dan tidur sepuasnya".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Temen nya sibuk membuat rencana perang, Gumbreg sibuk dengan rencana makan 🤦🤦
Author mengucapkan terima kasih banyak atas dukungannya kakak reader tersayang semuanya pada cerita ini ❤️❤️❤️
__ADS_1
Selamat membaca 😁😁😁