
Dewi Anggarawati dongkol sampai ke ubun-ubun. Mendengar Sekarwati berniat mendekati Panji Watugunung
Di dalam kamar peristirahatan, dia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya.
Malam semakin larut, suasana di perjamuan sudah sepi. Semua orang sepertinya sudah ke tempat tidur.
Dewi Anggarawati akhirnya tak tahan, pelan pelan turun dari ranjang dan beringsut menuju pintu kamar. Dari celah daun pintu, dia mengintip keluar.
Merasa aman, gadis cantik itu membuka pintu kamar dan melangkah dengan berjinjit.
Pelan tapi pasti dia menuju tempat istirahat Panji Watugunung.
Tok tok tok
Tok tok tok
"Kakang Wugunung..."
Tidak ada jawaban
"Kakang Wugunung.."
Kriettttt.....
Pintu kamar terbuka, dan Panji Watugunung berdiri sambil menatap Dewi Anggarawati dengan mata sayu tanda mengantuk
"Ada apa Dinda? Kenapa malam malam membangunkan aku?"
"Aku tak bisa tidur kakang hiks" Dewi Anggarawati terisak lirih
"Lha kenapa? Bukan nya tadi di perjamuan Dinda bilang sudah mengantuk?" jawab Watugunung garuk garuk kepala yang tidak gatal
"Hiks hiks..." , Bukan menjawab tapi Dewi Anggarawati malah terus terisak-isak
"Ya sudah, maunya Dinda apa? Jangan menangis lagi.." Tangan kekar Watugunung menjulur ke wajah Dewi Anggarawati, mengusap air mata yang mengalir..
"Temani aku, melihat bulan kakang"pinta Dewi Anggarawati dengan suara memelas
Tanpa menunggu jawaban dari Watugunung, Dewi Anggarawati menarik tangan Watugunung menuju halaman samping tempat peristirahatan.
Di bawah pohon rindang, ada tempat duduk dari kayu. Dewi Anggarawati berhenti di sana dan mendorong tubuh Watugunung untuk duduk. Lalu dia menyandarkan kepalanya pada bahu lelaki itu
Bulan separuh tampak indah di langit malam yang bersih tanpa awan
Bintang berkelap-kelip seolah tersenyum menatap sepasang muda-mudi yang diam dalam tenang malam
Sekalipun kesal karna istirahat nya terganggu, Panji Watugunung tak bisa menolak keinginan Dewi Anggarawati.
Sebentar saja disitu, terdengar nafas teratur Dewi Anggarawati yang sudah terbang ke alam mimpi sambil tangannya memeluk tangan kiri Panji Watugunung
Hemmmmm
Panji Watugunung mendengus kesal
'Ngomongnya tak bisa tidur, sampai disini langsung mendengkur'
Sampai pagi tiba,
Semua pengawal kelimpungan mencari Gusti Putrinya yang menghilang.
Ki Saketi ikut mencari, namun setelah melihat Dewi Anggarawati dan Panji Watugunung tertidur di halaman samping, lelaki tua itu tersenyum simpul dan mengangkat telunjuknya di bibir. Tanda agar tidak berisik, dan menjauhi tempat itu.
Dewi Anggarawati terbangun lebih dulu, matanya silau terkena sinar matahari yang menembus dedaunan pohon rindang.
Dia mengucek matanya, lalu memandang sekitarnya. Tampak wajah lelaki tampan yang dicintainya masih menutup rapat. Teringat tadi malam dia menggelandang pria itu.
Senyum manis segera menghiasi bibir Anggarawati, seraya terus memandangi wajah Watugunung.
"Apa sudah cukup puas dinda memandangi wajah ku??"
Suara berat Panji Watugunung membuat wajah Dewi Anggarawati seketika terkejut, lalu tertunduk malu. Wajahnya merona merah seperti tomat matang.
Hehehehe
Terdengar tawa jahil Watugunung, tambah membuat wanita cantik itu semakin menunduk. Ingin rasanya dia masuk ke sebuah lubang yang dalam agar Watugunung tidak bisa melihat wajahnya
"Ihhhh, Kakang Watugunung jahat" ucap Dewi Anggarawati tanpa berani memandang kearah lelaki itu
"Salah Dinda sendiri, kenapa tidak segera membangunkan aku?"
"A-aku ah aku juga baru bangun kakang ihh" potong Dewi Anggarawati manyun lalu melepaskan tangannya yang memegang lengan kiri Panji Watugunung
Hehehehe
__ADS_1
"Ya sudah ayo kita membersihkan diri", Watugunung segera berdiri di ikuti Dewi Anggarawati.
Mereka bergegas menuju pemandian di belakang rumah Lurah Garbapati..
Dewi Anggarawati mandi lebih dulu, begitu selesai ganti Panji Watugunung yang membersihkan diri nya
Selesai berganti baju, mereka berkumpul di ruang perjamuan.
Pagi itu suasana perjamuan terasa nikmat.
Semua mendapat pelayanan istimewa dari keluarga Lurah Garbapati.
"Paman Saketi, apakah semua pengawal kadipaten Seloageng sudah bisa melanjutkan perjalanan?", tanya Dewi Anggarawati
"Luka luka 4 orang itu tidak terlalu parah Gusti Putri, hamba rasa tidak masalah melanjutkan perjalanan pulang ke kadipaten Seloageng" , jawab Ki Saketi
"Ki Bekel, apa tidak sebaiknya di tunda keberangkatannya? Hamba lihat para pengawal kadipaten Seloageng yang terluka, belum sembuh benar" , ujar Garbapati ramah
Ki Saketi menoleh ke arah Dewi Anggarawati, namun gelengan kepala halus dari Anggarawati sudah menjadi keputusan nya
"Maaf Ki Lurah, bukan nya kami tidak mau tapi kami sudah terlalu lama meninggalkan kadipaten Seloageng, takut nya Gusti Adipati marah besar" Ki Saketi beralasan
Dewi Anggarawati tersenyum puas, bukan karena mendengar alasan Ki Saketi tapi karena berhasil segera pergi dari tempat itu.
Dia tak mau Panji Watugunung di dekati tiga kembang desa ganjen itu.
Dewi Anggarawati tersenyum penuh kemenangan
Sementara itu raut muka ketiga putri Lurah Garbapati cemberut mendengar Panji Watugunung akan pergi. Tapi mereka juga tidak berdaya menahan kepergian sang pria tampan
Setelah selesai perjamuan, rombongan Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati segera undur diri untuk melakukan perjalanan.
Dari gerbang wanua Sanggur, mereka melepas kepergian tamu agung.
Panji Watugunung menggebrak kuda nya, di ikuti Ki Saketi dan pengawal kadipaten Seloageng di belakang. Debu beterbangan mengiringi langkah kaki kuda yang seakan melesat di atas jalan menuju kadipaten Seloageng..
Setelah satu hari berkuda, mereka sudah melewati tapal batas kadipaten Seloageng di tepi sungai Kanta yang menjadi batas alam kadipaten Seloageng.
Menjelang sore, mereka sudah sampai di Pakuwon Sata. Lalu bergegas mencari penginapan di kota itu.
Pakuwon Sata masuk wilayah tengah kadipaten Seloageng. Pakuwon besar itu dipimpin oleh Argamanik, bekas Senopati Kadipaten yang mengundurkan diri karna usia sepuh.
Begitu rombongan Panji Watugunung, seorang pelayan segera menghampiri
"Kami mau makan, tempatnya di sebelah mana??", jawab Ki Saketi
"Di sebelah sana kisanak. Mari saya antar"
Seusai mendapatkan meja, mereka duduk sambil menunggu pesanan
Seorang pemuda berpakaian mewah mendekati mereka. Wajah cantik Anggarawati menarik perhatian nya.
"Gadis cantik, ku lihat kau bukan penduduk daerah sini. Boleh aku berkenalan dengan mu?" tanya pemuda itu ramah
Anggarawati melengos tanpa berkata.
Pemuda itu tetap tak menyerah
"Namaku Jarasanda, semua orang di sini mengenal ku. Apa kau tetap tak mau bilang siapa namamu?"
Tangan Jarasanda menjulur, lalu memegang tangan Anggarawati
Wajah anggota rombongan pengawal kadipaten Seloageng merah padam melihat aksi tak sopan Jarasanda, namun tidak bertindak tanpa perintah
Dewi Anggarawati mengibaskan tangannya, melepaskan tangan Jarasanda. Dia memandang dengan mata merah pertanda marah.
"Kurang ajar sekali kau!
Apa orang tua mu tak pernah mengajari sopan santun ha??" teriak Anggarawati.
Semua orang di rumah makan itu memandang kearah mereka
Wajah Jarasanda merah. Dia malu. Selama ini tidak ada yang berani menghinanya.
"Kurang ajar! Aku sudah sopan padamu. Kau tau siapa aku ha? Aku putra Akuwu Argamanik"
Chuihhhh
"Aku tidak peduli siapa kau, orang kurang ajar seperti mu tidak pantas sombong di hadapan ku! " , geram Anggarawati langsung menampar pipi Jarasanda..
Plakkk
Jarasanda terhuyung mundur,
__ADS_1
Dua orang berbaju merah dan hitam berjalan mendekati Jarasanda.
"Keparat ! Kau harus mati", teriak Jarasanda sambil mengayunkan tangan nya hendak menampar Anggarawati
Belum sempat tangan Jarasanda menyentuh pipi Anggarawati, satu tangan menangkap tangan Jarasanda , mendorong nya.
"Kisanak, apa kau begitu hebat sehingga bisa memukul perempuan? Apa seperti itu cara orang tua mu mendidik mu?"
Panji Watugunung memandang tajam kearah Jarasanda
Jarasanda semakin murka..
"Ayo keluar, kita tunjukkan cara laki laki"
Jarasanda melompat keluar di ikuti oleh 2 orang berpakaian hitam dan merah.
Panji Watugunung mengikuti langkah Jarasanda.
Di halaman penginapan dua orang bersiap untuk adu ilmu. Jarasanda melompat melompat menyerang Panji Watugunung membabi-buta. Dalam tiga gebrakan saja, Jarasanda sudah terkena 2 kali pukulan di bahu dan wajahnya
Jarasanda mengusap darah di bibirnya lalu melirik dua orang di belakang nya.
Mereka maju menyerang setelah mencabut pedang. Panji Watugunung mencabut pedang Naga Api, menangkis sabetan pedang dua orang pengikut Jarasanda.
Tring..
Pedang dua orang pengikut Jarasanda hancur saat beradu dengan Pedang Naga Api milik Panji Watugunung.
Dua orang pengikut itu terkejut bukan main melihat senjata mereka hancur, berniat mundur namun satu tendangan keras dari Watugunung menyapu dada mereka berdua.
Mereka mengaduh merasakan sesak nafas dan terlempar mundur dua langkah.
Jarasanda pucat pasi.
Menyadari bahwa dirinya bukan lawan sepadan untuk pemuda itu..
Tak lama, puluhan pengawal Pakuwon Sata datang dan mengepung Panji Watugunung.
Hemmmmm
Panji Watugunung mendengus dingin
bersiap menghadapi situasi yang terjadi.
Jarasanda mengayunkan jarinya,
Puluhan pengawal Pakuwon Sata bergerak menyerang
"Berhenti! "
teriak nyaring Dewi Anggarawati
Jarasanda menyeringai, tersenyum sinis merasa sudah diatas angin
Tangan kanan Jarasanda terangkat keatas
Prajurit Pakuwon Sata berhenti bergerak
"Apa kau sudah bosan hidup Jarasanda?"
ucap Dewi Anggarawati
"Bukan aku yang mati, tapi kalian semua akan mampus" , tantang Jarasanda
"Baik, ku kabulkan keinginan mu,
Paman Saketi laporkan pada Ayahanda Adipati untuk menghukum mati Argamanik dan putranya", ucap Anggarawati keras
Jarasanda terkejut mendengar ucapan Anggarawati
"Tunggu dulu, siapa kalian sebenarnya?" tanya Jarasanda
"Aku adalah putri bungsu Adipati Seloageng, Tejo Sumirat. Sudah pernah dengar namaku?
Dewi Anggarawati tersenyum sinis memandang Jarasanda
Mendengar itu, kaki Jarasanda langsung lemas.
Dua orang pengikut Jarasanda juga pucat seakan tak memiliki darah.
"Ampuni hamba Gusti Putri"
*bersambung*
__ADS_1