
Setan Jenggot Putih segera melompat ke arah Nyai Sati. Dengan penuh amarah, kakek tua itu mengibaskan tangannya.
Whussss
Angin dingin Ajian Tapak Setan Putih berdesir kencang mengincar nyawa Nyai Sati. Perempuan paruh baya itu melenting tinggi ke udara menghindari angin dingin tenaga dalam sehingga menghajar dinding kayu warung makan.
Bruakkk!!
Dinding rumah makan langsung jebol. Nyai Sati yang masih di udara melempar dua pisau kecil kearah Setan Jenggot Putih.
Sringggg sringgg!!
Pisau kecil berkecepatan tinggi menerabas cepat kearah Setan Jenggot Putih. Kakek tua itu segera menghantamkan kedua tangannya yang langsung mengeluarkan angin dingin.
Trakkk
Pisau kecil hancur berkeping-keping saat berbenturan dengan angin dingin dari Setan Jenggot Putih.
Begitu menjejak tanah, Nyai Sati melesat cepat kearah Setan Jenggot Putih sambil mencabut pedang nya. Pedang bergagang kepala burung dengan bilah baja putih itu mengayun cepat kearah leher Setan Jenggot Putih. Kakek tua itu segera mengeluarkan gelang baja yang dari tadi tersimpan di balik lengan bajunya. Segera dia menangkis sabetan pedang Nyai Sati.
Tringgg
Bunga api kecil tercipta dari benturan dua senjata andalan dua pendekar sepuh itu. Melihat lawan menangkis sabetan pedang nya, Nyai Sati dengan cepat melayangkan tendangan keras ke arah perut Setan Jenggot Putih.
Meski kakek tua itu sempat menahan tendangan Nyai Sati dengan lengan kiri yang terbungkus gelang baja, namun tendangan keras itu tetap membuat Setan Jenggot Putih terdorong mundur beberapa langkah.
Pemuda tampan berpakaian mewah itu langsung menahan tubuh kakek tua yang hendak menabraknya.
"Sungguh nama besar Pedang Elang Sakti dari Bukit Wadang benar benar luar biasa", ujar si pemuda tampan itu sambil bertepuk tangan setelah mendorong tubuh Setan Jenggot Putih ke belakang.
"Jangan terlalu memuji, Pangeran Rukmana.
Ucapan manis mu tak akan berpengaruh pada ku", Nyai Sati acuh tak acuh terhadap pemuda tampan yang tak lain adalah Pangeran Rukmana, adik Adipati Bojonegoro Rukmaseta.
"Hahahaha,
Rupanya Pendekar Pedang Elang Sakti juga mengenali ku. Aku sungguh beruntung.
Apakah tawaran kerjasama kita sudah kau pertimbangkan Nyai Sati?", Pangeran Rukmana menatap wajah Nyai Sati. Gurat gurat kecantikan wanita itu masih terlihat walaupun usianya sudah tidak muda lagi.
"Maaf Pangeran Rukmana,
Aku tidak bersedia untuk ikut membantu tujuan mu. Kami dari aliran putih, tidak bisa berbuat seperti itu", ujar Nyai Sati dengan tenang.
Mendengar jawaban Nyai Sati, Pangeran Rukmana menjadi geram. Dadanya kembang kempis menahan amarahnya.
"Nenek tua,
Dari tadi aku sudah bicara sopan kepada mu, tapi kau benar benar tidak tahu diuntung.
Sekali lagi aku tanya, mau tidak kau bergabung bersama kami?", tanya Pangeran Rukmana dengan kasar.
"Sekali tidak ya tidak. Meskipun harus mati, aku akan tetap bilang tidak", jawab Nyai Sati sambil tersenyum tipis.
"Kurang ajar, kalau kau tidak mau, maka kau tidak ada gunanya lagi hidup", teriak Pangeran Rukmana sambil melompat ke arah Nyai Sati sambil mengayunkan pedangnya.
Nyai Sati langsung menangkis sabetan pedang Pangeran Rukmana dengan Pedang Elang Sakti nya.
Tranggg
Usai serangan tertangkis, Pangeran Rukmana sambil menyapu kaki kanan Nyai Sati. Perempuan paruh baya itu segera mengangkat kaki kanan, lalu dengan cepat melompat mundur selangkah.
Melihat lawan mundur, Pangeran Rukmana langsung mengayunkan pedangnya mengincar kaki Nyai Sati.
Sreeetttttt
Nyai Sati melenting tinggi ke udara dan turun sambil menendang bahu kiri pangeran Bojonegoro itu. Merasa bahunya terancam, Pangeran Rukmana menghantam kaki Nyai Sati dengan tangan kiri nya.
Blarrrrr
Nyai Sati mendarat dengan satu kaki. Kaki kanan nya kebas saat berbenturan dengan dengan tangan kiri lawan nya. Sedangkan tangan kiri Pangeran Rukmana terasa ngilu setelah benturan itu. Rupanya tenaga dalam mereka berimbang.
Merasa tidak bisa mengalahkan Nyai Sati, Pangeran Rukmana langsung menoleh ke arah Sepasang Setan Putih yang menonton pertarungan mereka.
__ADS_1
Melihat itu, dua kakek tua itu segera bersiap mengeroyok Nyai Sati. Saat dua kakek tua melompat maju, dua bayangan langsung menghadang mereka dengan tendangan keras.
Deshhhhh
Dua kakek tua itu terkejut karena serangan cepat itu. Meski sempat menahan tendangan dengan gelang baja andalan mereka, namun mereka mereka tetap terlempar ke belakang dan menghantam meja warung makan.
Bruakkk..
Kembali meja warung makan yang ada di sudut ruangan hancur berantakan akibat tertimpa tubuh dua kakek tua itu. Mereka muntah darah segar seketika.
"Mengganggu orang makan juga jangan keterlaluan", ucap Ratna Pitaloka yang sedari tadi hanya berdiam diri di meja makan bersama Panji Watugunung.
"Benar Kangmbok, mereka benar-benar menyebalkan", timpal Dewi Srimpi.
Dua kakek tua itu segera berusaha berdiri. Dengan geram mereka mengusap darah yang mengalir dari sudut bibir mereka.
Mata Pangeran Rukmana langsung melotot melihat kalung tanduk rusa kecil di leher Ratna Pitaloka.
'Bukankah itu kalung Romo Ganendra? Mengapa pada perempuan itu?', batin Pangeran Rukmana.
Saat Sepasang Setan Putih hendak menyerang, terdengar teriakan keras dari Pangeran Rukmana.
"Tahan!!
Jangan maju dulu", Rukmana menatap wajah Ratna Pitaloka.
"Maaf nisanak, aku tidak akan mempermasalahkan kau ikut campur urusan ku jika kau menjawab pertanyaan ku dengan jujur", ujar Pangeran Rukmana sambil tersenyum.
"Mau apa kau?", tanya Ratna Pitaloka dengan ketus.
"Darimana kau dapat kalung tanduk rusa emas itu?", Pangeran Rukmana sambil menatap wajah Ratna Pitaloka.
"Ini pemberian ayahku. Apa urusannya dengan mu?", Ratna Pitaloka mulai gusar karena pertanyaan ini.
"Ayahmu? Siapa nama ayah mu?", Pangeran Rukmana semakin penasaran.
"Ayah ku adalah Mpu Gajendra dari Tapan. Sudah dengar bukan? Sekarang kau mau apa? Mau mengadu ilmu? Ayo sini maju, mumpung tangan ku gatal ingin menghajar orang", tantang Ratna Pitaloka yang keadaan jiwanya sedang labil akibat datang bulan.
Pangeran Rukmana langsung terkejut mendengar ucapan Ratna Pitaloka. Dia tau nama itu. Merasa tidak nyaman, Pangeran Rukmana segera berkata kepada Ratna Pitaloka.
Makanan pagi ini biarkan aku yang membayar untuk kalian. Kami mohon diri", ujar Pangeran Rukmana yang kemudian berbalik arah menuju kearah pemilik warung makan yang bersembunyi di sudut dapur. Setelah mengulurkan sekeping kepeng emas, Pangeran Rukmana segera melangkah keluar dari warung makan dengan diikuti oleh Sepasang Setan Putih pengawalnya.
"Kenapa kita mundur pangeran? Hamba masih sanggup menghadapi nenek tua", tanya Setan Kumis Putih setelah mereka berjalan menjauh dari rumah makan itu.
"Tutup mulutmu!
Jangan banyak bicara. Kau tau siapa perempuan yang baru menendang mu tadi ha?
Dia adalah kakak sepupuku. Kalau sampai Romo Ganendra tau aku menggangu nya, bisa bisa aku di bunuh oleh Kanjeng Romo", hardik Pangeran Rukmana sambil mendelik tajam kearah Setan Kumis Putih.
Sepasang Setan Putih itu langsung berpandangan satu sama lain. Setelah itu mereka diam dan mengikuti langkah Pangeran Rukmana ke istana Pakuwon Manik.
Sementara itu, Panji Watugunung dan ketiga istrinya juga Nyai Sati dan Rara Wulan menikmati makanan yang menjadi sarapan mereka pagi itu.
Nyai Sati terus memperhatikan Ratna Pitaloka. Dengan kejadian Pangeran Rukmana yang seperti ketakutan saat mendengar ucapan Ratna Pitaloka, membuat perempuan paruh baya itu penasaran dengan hubungan mereka berdua.
"Nimas Pitaloka,
Ada sesuatu yang menggangu pikiran ku dari tadi. Aku lihat si pangeran tengik itu ketakutan saat mendengar kau menyebut nama Mpu Gajendra, apa hubungan mu dengan dia?", tanya Nyai Sati.
Ratna Pitaloka menghela nafas panjang.
"Kalau benar dia adalah putra Adipati Ganendra, maka dia adalah sepupu ku Nyai", mendengar ucapan Ratna Pitaloka, Nyai Sati terkejut. Rara Wulan bahkan sampai tersedak.
"Jadi kau adalah sepupu Pangeran Rukmana?
Pantas saja dia tidak berani mengganggu mu", ujar Nyai Sati segera.
"Sudahlah Nyai,
Itu bukan hal penting. Lagi pula aku kesini hanya ingin berziarah ke makam orang tua ku di Tapan. Urusan Bojonegoro, bukan urusan ku", Ratna Pitaloka segera meneruskan makannya.
Seusai makan, mereka segera meninggalkan tempat itu setelah meminta maaf kepada pemilik warung makan atas kerusakan yang disebabkan oleh pertarungan tadi. Si pemilik warung hanya bisa berkata tidak apa-apa karena kerusakan warung makan sudah di bayar oleh Pangeran Rukmana.
__ADS_1
Setelah masing masing orang melompat ke atas kuda mereka, rombongan kecil itu bergegas menuju kearah Tapan.
Sepanjang perjalanan mereka, dua orang mengikuti mereka dari jarak yang tidak terlalu jauh.
Lepas dari Pakuwon Manik, mereka terus memacu kuda mereka menuju Pakuwon Wukir yang ada di sebelah barat kota Tapan.
Kota Tapan adalah salah satu dari sekian pelabuhan laut yang penting bagi kerajaan Jenggala setelah Hujung Galuh. Ratusan kapal besar dari mancanegara berlabuh di sini setiap hari. Hasil bumi dari Jenggala yang berupa beras dan jagung di angkut keluar negeri seperti Kutai Kartanegara, Tanjung Pura, dan negeri negeri manca lewat pelabuhan ini. Hampir setiap hari orang asing berdatangan untuk mencari dagangan di tempat itu.
Menjelang sore, rombongan Panji Watugunung sudah memasuki kota Tapan. Mereka memasuki sebuah penginapan yang ada di pinggir kota Tapan.
Setelah mendapat kamar untuk beristirahat, Dewi Naganingrum yang mendapat tugas memegang bekal perjalanan langsung membayar biaya menginap mereka. Mula nya Nyai Sati dan Rara Wulan merasa sungkan Naganingrum membayar biaya menginap mereka, tapi setelah Panji Watugunung mengatakan mereka memiliki bekal lebih maka mereka mau menerima kebaikan Naganingrum.
Melihat rombongan Panji Watugunung memasuki penginapan itu, dua orang itu segera berbalik arah menuju ke sebuah rumah di dekat gapura kota Tapan.
"Mereka menginap disana Lurah e,
Itu adalah perintah Sepasang Setan Putih. Mohon berhati-hati karena mereka berilmu tinggi", ujar seorang lelaki muda bertubuh kurus yang sedari tadi mengikuti perjalanan Panji Watugunung dan rombongannya. Rupanya mereka adalah orang orang suruhan Sepasang Setan Putih yang masih dendam dengan Nyai Sati yang sudah melukai mereka.
"Ah tidak peduli,
Asal biaya nya cocok mau orang berilmu tinggi atau pejabat istana Jenggala pun pasti ku bunuh", si lelaki paruh baya berbadan gempal dengan kumis tebal mendelik tajam.
Si lelaki kurus segera melempar sekantong besar kepeng perak ke arah lelaki gempal itu segera.
"Itu uang panjar untuk membunuh mereka. Jika berhasil, Sepasang Setan Putih akan menambah dua kali lipat dari itu Lurah e", ujar si lelaki kurus itu sambil tersenyum tipis.
Mata si lelaki gempal langsung melebar melihat tumpukan kepeng perak di dalam kantong kain itu.
"Kau tidak perlu khawatir, aku Ki Jara adalah orang yang bisa dipercaya. Besok pagi akan ku antar kepala mereka. Siapkan saja uang hadiahnya", ujar Ki Jara sambil menyeringai lebar.
Usai dua orang suruhan Sepasang Setan Putih itu pergi, enam orang berpakaian hitam dengan penutup wajah bersiap-siap untuk menjalankan tugas. Mereka di kenal dengan nama 6 Malaikat Maut yang dipimpin oleh Ki Jara. Ludra, Sambu, Gandring, Rengkong, dan Marasamba adalah anggota nya.
Ketenaran mereka di daerah Bojonegoro sangat ditakuti oleh warga sekitar. Aksi pembunuhan yang dilakukan nyaris tidak pernah gagal. Nama mereka menjadi momok bagi masyarakat Tapan.
Menjelang malam buta, mereka bergerak menuju ke arah penginapan tempat Panji Watugunung dan rombongannya menginap.
Panji Watugunung yang sedang bersama Dewi Srimpi, langsung bangun dari tempat tidur nya.
"Ada apa Denmas?", ujar Dewi Srimpi yang segera menutupi tubuhnya yang tanpa busana dengan selimut. Perempuan cantik itu segera duduk menjajari suaminya.
Panji Watugunung melihat kearah barat kemudian berkata dengan suara pelan.
"Ada beberapa orang yang sedang menuju kemari Dinda Srimpi,
Bersiaplah!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
__ADS_1
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya agar author terus semangat menulis yah 😁🙏😁
Selamat membaca 🙏😁🙏