
Sang caraka dari Pakuwon Lwaram yang bernama Sagopa itu langsung menghormat pada Raja Jenggala sembari menghormat.
"Mohon ampun Gusti Prabu..
Kedatangan kami kemari ingin menyampaikan permohonan persekutuan dengan pihak Kerajaan Jenggala. Kami sungguh tidak senang Lwaram di kuasai oleh Prabu Jayengrana.
Kami mohon agar Gusti Prabu sudi untuk menerima permohonan kami agar Lwaram terbebas dari pemerintah Panjalu", ujar Sagopa dengan penuh hormat kepada Mapanji Alanjung.
"Hemmmmmmm...
Aku mengerti apa yang kalian maksud kan. Tapi Jenggala terikat dengan ucapan Bibi Kilisuci untuk berdamai dengan Panjalu. Mereka sudah merelakan Kota Kahuripan kami ambil alih. Menerima permohonan kalian, bukankah sama dengan menabuh genderang perang melawan Jayengrana.
Aku tidak mau mengorbankan seluruh Jenggala hanya untuk menerima permohonan kalian", Mapanji Alanjung mengelus kumis tipis nya. Raja muda itu rupanya cukup berhati-hati dalam mengambil setiap kebijakan. Dia sadar bahwa kemampuan tempur Kerajaan Jenggala saat ini tidak mungkin mampu untuk menandai bala tentara Panjalu. Di samping itu dia juga sedang dalam masa berat karena menghadapi pemberontakan Adipati Menak Luhur dari Blambangan.
"Tapi Gusti Prabu,
Mohon di pertimbangkan sekali lagi. Saat ini kami bersekutu dengan Pangeran Dyah Wijayawarman dari Suwarnadwipa. Beliau juga meminta persetujuan untuk membuat persekutuan dengan pihak Jenggala.
Kami membawa surat dari beliau untuk Gusti Prabu Mapanji Alanjung", ujar Sagopa sambil menoleh ke arah Janasamba yang duduk di sampingnya.
Janasamba segera menghaturkan surat dari daun lontar yang terbungkus oleh kain merah kepada Mapanji Alanjung dengan kedua tangannya.
Rakryan Samarotsaha yang ikut mendampingi sang raja segera mengambil surat dari tangan Janasamba dan memberikan nya pada Prabu Mapanji Alanjung.
Dengan tergesa Raja Panjalu itu membuka bungkus surat lalu membaca barisan huruf Jawa Kuno yang tertera di lembaran daun lontar. Selesai membaca surat itu, Mapanji Alanjung terdiam beberapa saat lamanya.
"Aku akan merundingkan jawaban dari surat mu ini segera. Sementara menunggu, ku perkenankan kalian beristirahat di balai peristirahatan tamu Istana Kahuripan.
Prajurit,
Antar para utusan ini ke balai peristirahatan sekarang!", titah Mapanji Alanjung segera. Dua orang prajurit penjaga di depan ruang pribadi Raja langsung menyembah pada Prabu Mapanji Alanjung kemudian mengantar Janasamba, Sagopa dan dua orang kawan mereka ke balai peristirahatan tamu.
Usai mereka pergi, Rakryan Samarotsaha segera menyembah Mapanji Alanjung.
"Mohon ampun bila paman lancang Nakmas Prabu,
Apa sebenarnya isi dari surat itu? Kenapa Nakmas Prabu sampai begitu lama memikirkan jawaban nya", ujar Rakryan Samarotsaha dengan penuh hormat.
"Ini menyangkut hak Paman. Dyah Wijayawarman menuntut hak tahta kerajaan Mataram Lama dari keturunan wangsa Isyana.
Namun dia berkata bahwa akan memberikan seluruh tanah Jenggala kepada ku jika mau membantu nya mengambil kembali haknya sebagai raja. Artinya dia hanya ingin berkuasa di bekas wilayah Syailendra yang kini menjadi wilayah Panjalu.
Ini yang membuat aku bingung. Di satu sisi aku terikat dengan perjanjian dengan Bibi Kilisuci untuk berdamai dengan Panjalu, di sisi lain aku juga ingin menuntut balas kematian Kanjeng Romo Prabu Garasakan pada Jayengrana", ujar Mapanji Alanjung sambil memijat pelipisnya yang tiba tiba terasa sakit.
"Seharusnya Gusti Prabu bisa melakukan taktik lempar batu sembunyi tangan.
Kita bantu Dyah Wijayawarman diam diam tanpa kita menggerakkan pasukan Jenggala secara terang-terangan.
Ingat Gusti Prabu, dimana langit di junjung disitu bumi di pijak. Kita harus tau mana kawan dan mana lawan.
Saran Paman, sebaiknya Gusti Prabu terima tawaran persekutuan dengan Dyah Wijayawarman. Toh markas mereka ada di Lwaram, yang bukan merupakan wilayah Jenggala lagi. Cuma kita tidak bisa terang-terangan membantu mereka. Suruh para prajurit Jenggala untuk bergerak dalam rombongan kecil dan menyamar sebagai rakyat biasa untuk bergerak menuju ke Lwaram. Sementara untuk bantuan pangan, kita bisa menggunakan pelabuhan Hujung Galuh untuk mengirimkan bahan makanan lewat laut ke pelabuhan Kambang Putih", ucap Rakryan Samarotsaha dengan penuh keyakinan. Mendengar penuturan Rakryan Samarotsaha, Mapanji Alanjung sejenak menghela nafas panjang.
"Baiklah Paman, aku terima saran dari mu.
Kita buat balasan atas surat Dyah Wijayawarman dan kita jalankan rencana sesuai dengan omongan mu", ujar Mapanji Alanjung dengan cepat.
Demikianlah, Kerajaan Jenggala diam diam mulai menyusun rencana untuk membantu Dyah Wijayawarman untuk mendirikan kembali kekuasaan Wangsa Syailendra di Tanah Jawadwipa.
****
Sementara itu rombongan Panji Watugunung yang berbalik arah menuju ke Kadipaten Wengker terus bergerak cepat menuju ke arah barat daya.
Dengan dipandu oleh Singo Manggolo, rombongan itu memangkas jarak dengan melewati sisi Utara Kadipaten Tanggulangin tanpa memasuki wilayah Kota Kadipaten.
Saat senja menjelang mereka telah tiba di wilayah sisi perbatasan Kadipaten Tanggulangin dan Wengker. Karena hari semakin gelap, mereka memutuskan untuk bermalam di sebuah wanua kecil yang menjadi wilayah terakhir Kadipaten Tanggulangin.
Singo Manggolo membawa mereka pada rumah Lurah Wanua Klepu, Mpu Jonjing. Singo Manggolo pernah menyelamatkan nyawa Mpu Jonjing saat dia di serang gerombolan perampok yang menghadang perjalanan nya dari wilayah Tapan.
Dua orang penjaga rumah Ki Lurah Klepu langsung berlari menuju ke arah kediaman Lurah Mpu Jonjing saat melihat puluhan orang berpakaian rakyat biasa berhenti di depan kediaman sang pemimpin wanua.
Lurah Mpu Jonjing kemudian segera ke depan rumah kediamannya bersama dengan 4 orang penjaga keamanan rumah nya.
Namun melihat kedatangan Singo Manggolo diantara mereka, Mpu Jonjing menarik nafas lega.
"Maafkan aku Pendekar, penjaga keamanan ku baru saja menakuti ku dengan omongan yang tidak benar.
Mari silahkan masuk", ujar Mpu Jonjing dengan cepat.
"Tidak apa-apa Ki Lurah. Kedatangan ku ingin meminta bantuan Ki Lurah. Aku dan kawan kawan ku ini hendak ke Wengker tapi kami kemalaman di sini. Apa kami diijinkan untuk bermalam disini Ki?", tanya Singo Manggolo dengan sopan. Warok Surapati memang selalu mengajari anak anaknya untuk berlaku sopan kepada siapa saja.
Mendengar permintaan Singo Manggolo, Ki Lurah Wanua Klepu itu tersenyum tipis.
"Pendekar telah menyelamatkan nyawa tempo hari. Kalau sekedar bantuan kecil seperti ini aku tidak bisa, sungguh aku orang yang tidak tahu balas budi.
Mari pendekar kita masuk ", ajak Mpu Jonjing sambil melangkah menuju ke balai wanua Klepu. Singo Manggolo, Panji Watugunung, Dewi Srimpi, Cempluk Rara Sunti dan para prajurit pengawal pribadi Raja yang dipimpin oleh Tumenggung Ludaka bergerak mengikuti langkah sang Keraman.
Setelah semua duduk bersila di lantai balai wanua Klepu, Mpu Jonjing segera bergegas menuju ke arah dapur untuk meminta para abdi nya menyiapkan makanan kepada para tamu yang datang.
Sambil menunggu masakan, mereka bercakap-cakap di balai wanua Klepu.
__ADS_1
"Kalau boleh tahu, kalian ini darimana pendekar? Membawa orang sebanyak ini pasti ada sesuatu yang penting", tanya Mpu Jonjing pada Singo Manggolo sembari tersenyum tipis.
"Kami ini mau ke Pakuwon Tapan Ki Lurah, mereka bertiga ini adalah saudara saya. Bopo saya meminta agar saya menjemput mereka", jawab Singo Manggolo dengan sopan.
"Oh begitu ya..
Akhir akhir ini keamanan wilayah perbatasan dengan Wengker sering di ganggu oleh kawanan begal. Karena Adipati Suragati sibuk menghadapi kemelut melawan Akuwu Sunggingan, maka keamanan wilayah perbatasan Wengker jadi terabaikan.
Kalian beruntung tidak kemalaman di hutan jati Bedrug. Andai kemalaman disana pasti kalian di rampok oleh orang. Banyak penduduk Klepu yang menjadi korban keganasan para begal di Alas Bedrug", tutur Mpu Jonjing sambil menghela nafas panjang.
"Terimakasih atas peringatan nya Ki Lurah..
Kami bisa menjaga diri dengan baik. Ki Lurah tenang saja", ujar Singo Manggolo dengan cepat.
Lurah Wanua Klepu itu segera manggut-manggut mendengar omongan Singo Manggolo karena telah melihat sendiri kemampuan beladiri lelaki muda bertubuh gempal itu tempo hari.
Malam itu suguhan sederhana khas pedesaan tersaji di depan rombongan Panji Watugunung dan pengawal pribadi nya.
Malam segera berganti pagi. Cuaca cerah pagi hari itu di langit wilayah Kadipaten Wengker membuat semua orang bersemangat untuk melakukan pekerjaan mereka masing-masing.
Usai membersihkan diri dan di lanjut dengan sarapan pagi, Singo Manggolo berpamitan kepada Ki Lurah Mpu Jonjing sekaligus berterima kasih atas bantuan yang di berikan oleh pemimpin wanua Klepu itu.
"Kami mohon diri Ki Lurah..
Terimakasih atas semua bantuan yang Ki Lurah berikan kepada kami. Kami mohon diri", ujar Singo Manggolo berpamitan kepada Mpu Jonjing.
"Itu sudah menjadi kewajiban kita sebagai umat manusia, pendekar.
Berhati-hatilah dalam perjalanan. Semoga kalian semua selamat sampai tujuan", doa Mpu Jonjing sesaat sebelum Singo Manggolo melompat ke atas kuda nya. Panji Watugunung dan kedua istrinya yang sudah lebih dulu naik ke atas kuda mereka masing-masing segera mengikuti langkah kaki kuda Singo Manggolo menuju ke wilayah Pakuwon Tapan.
Usai melewati sebuah sungai kecil yang menjadi tapal batas wilayah Kadipaten Tanggulangin dan Wengker, mereka terus menggebrak kudanya melewati jalan yang membelah hutan Bedrug.
Tepat di tengah hutan itu, tiba tiba saja..
Krrrrraaaaaaakkkkkkkhhh...
Brrruuuaaaaakkkkh!!!
Sebatang pohon randu roboh melintang di jalan. Seluruh rombongan itu nampak terkejut melihatnya kecuali Panji Watugunung yang masih terlihat tenang. Dari arah semak belukar melesat dua anak panah kearah Singo Manggolo.
Shrrriinnnggg shhhrriinggg!
Putra Warok Surapati itu segera mengibas tangan kanannya ke arah anak panah yang mengincar nyawanya.
Whuuussshh!!
Dua anak panah itu langsung hancur berantakan di udara akibat kibasan angin tangan Singo Manggolo yang mengandung tenaga dalam tingkat tinggi.
Usai itu, sekitar seratus orang berpakaian serba hitam dengan mengenakan topeng kayu berwarna merah yang menutupi separuh wajah, mengepung rombongan Panji Watugunung.
"Siapa kalian? Ada maksud apa mengepung kami?", hardik Singo Manggolo dengan cepat.
Terdengar suara tawa menggema dari arah timur. Gendang telinga sampai berdenging sakit karena suara tawa itu mengandung tenaga dalam tingkat tinggi.
Hahahaha... hahahaha...!!
4 orang melesat dari balik rimbunnya pepohonan hutan Bedrug. Keempat orang itu memakai baju hitam dan jubah berwarna hijau. Mereka segera mendarat di depan Singo Manggolo.
"Kami penguasa Hutan Bedrug. Serahkan semua harta benda kalian jika ingin selamat. Jika tidak, jangan harap kau bisa melihat sinar matahari pagi lagi", ujar si lelaki bertubuh kekar namun terlihat sudah sepuh karena kumis dan jenggotnya sudah memutih.
"Begal keparat!
Berani kalian mengancam ku? Cari mati rupanya!", ucap Singo Manggolo yang langsung melompat ke atas mereka berempat.
Para prajurit pengawal pribadi Raja langsung melompat turun dari kudanya dan langsung bergerak kearah para begal Alas Bedrug. Tumenggung Ludaka pun langsung ikut menghambur ke arah Singo Manggolo yang tengah menghadapi 4 perampok itu.
Pertarungan sengit langsung terjadi di tengah hutan yang sepi itu. Mereka mengadu nyawa untuk mencapai tujuan mereka masing-masing.
Panji Watugunung, Dewi Srimpi dan Cempluk Rara Sunti hanya diam saja di atas kuda mereka masing-masing mengamati situasi.
"Denmas Prabu Jayengrana,
Apa sebaiknya kita membantu para pengawal kita?", tanya Dewi Srimpi sambil terus memperhatikan keadaan sekitar mereka.
"Jangan meremehkan kemampuan kanuragan para pengawal kita Dinda Srimpi..
Mereka telah menjalani serangkaian ujian dari Kakang Warigalit dan Ludaka untuk menjadi pengawal pribadi Raja. Pasti masing masing dari mereka memiliki kemampuan beladiri yang lumayan tinggi", jawab Panji Watugunung segera.
Dan benar saja apa kata Panji Watugunung. Satu persatu anggota begal Alas Bedrug berhasil di lumpuhkan oleh para pengawal pribadi mereka.
Di sisi lain, Singo Manggolo dengan cepat menghantamkan tangan kanannya ke arah salah satu dari dua begal yang menjadi lawannya.
Whhhuuuggghhhh...
Si begal bertopeng itu berusaha menghadang hantaman tangan kanan Singo Manggolo dengan menyilangkan kedua tangan nya di depan dada.
Blllaaaaaarrr!!!
Darah kehitaman muncrat keluar dari bibir lawan Singo Manggolo. Seorang kawannya langsung membabatkan goloknya ke arah leher Singo Manggolo dengan cepat.
__ADS_1
Shreeeeettttthhh!!
Putra Warok Surapati itu segera berkelit menghindari tebasan golok lawan yang di sertai angin dingin berbau tidak sedap. Dengan cepat ia merendahkan tubuhnya lalu siku tangan kiri nya menghantam dada lawan dengan keras.
Bhhhuuuuuuggggh..
Ouuuuggghhhh!!
Lawan terpental dan golok terlepas dari tangannya. Sebelum golok jatuh ke tanah, Singo Manggolo mengibaskan tangan kanannya ke golok itu yang segera melesat cepat kearah salah seorang dari 4 begal yang baru di jatuhkan nya.
Whuuussshh!
Golok melayang cepat kearah sang lawan dan...
Jleeeeppppph!!
Aaaarrrgggggghhhhh!!!
Salah satu dari keempat pemimpin begal Alas Bedrug itu melotot lebar saat merasakan perutnya terasa perih. Saat dia melihat ke bawah, sebuah golok menembus punggung hingga ke perutnya. Sekejap kemudian dia roboh dengan golok menancap di tubuhnya.
Melihat kawan nya tewas, sang pemilik golok langsung berteriak lantang sambil menghantamkan tangan kanannya ke arah Singo Manggolo.
"Mampus kau keparat!"
Selarik sinar merah redup berbau amis darah menerabas cepat kearah Singo Manggolo. Namun putra Warok Surapati itu bukan pendekar sembarangan. Dengan gerakan cepat dia menghindari sinar merah redup lantas melesat cepat kearah lawan yang mengincar nyawanya.
Tangan kanannya berubah warna menjadi merah menyala berhawa panas menyengat. Singo Manggolo dengan cepat menghantam dada lawannya yang terkejut setengah mati melihat kecepatan gerak Singo Manggolo.
Dhuuaaaaaaarrrrrr!!!
Ledakan keras terdengar. Tubuh lawan Singo Manggolo terpental jauh dan menabrak pohon kweni besar yang tumbuh di tepi jalan itu. Dia langsung tewas seketika dengan dada hancur dan gosong.
Tumenggung Ludaka baru saja menebas batang leher lawan saat seorang dari dua lawan nya mencoba membokong untuk menghabisi nyawa nya.
Saat yang genting itu, sebuah jarum kecil berwarna merah menyala melesat cepat kearah lawan yang hendak membokong Tumenggung Ludaka.
Shrrriinnnggg!!!
Chhreepppppph...
Aaauuuuggggghhhhh!!
Si pembokong langsung menghentikan gerakannya saat merasakan sesuatu menancap di lehernya. Rasa panas menyengat langsung menyebar ke seluruh tubuh nya. Belum sempat dia menyadari apa yang terjadi, tubuhnya limbung dan jatuh ke tanah. Pimpinan begal Alas Bedrug itu melotot sesaat sebelum tewas dengan mulut berbusa putih.
Tumenggung Ludaka yang melihat itu semua segera menghormat pada Dewi Srimpi.
"Terima kasih bantuannya Gusti Selir", ucap Tumenggung Ludaka sembari menghormat pada Dewi Srimpi.
Selir ketiga Panji Watugunung itu hanya mengangguk halus tanpa menjawab omongan Tumenggung Ludaka.
Dalam waktu singkat, para begal Alas Bedrug di lumpuhkan oleh para pengawal pribadi Panji Watugunung. Sisa 10 orang yang menyerah segera diikat dengan tali yang di bawa oleh mereka.
Para pengawal kemudian membagi tugas diantara mereka. Sebagian mencari kayu bakar untuk membakar mayat mayat perampok itu sedangkan sebagian lagi menyingkirkan kayu randu yang menghalangi jalan.
Dengan kerjasama yang baik, para pengawal pribadi Panji Watugunung segera menyelesaikan tugas mereka. Begitu rampung, Panji Watugunung dan para pengikutnya bergegas meninggalkan tempat itu.
Mereka bergerak cepat menuju ke arah Wanua Pulung, tempat kediaman Warok Surapati yang menjabat sebagai Lurah disana.
Begitu sampai di depan rumah besar yang ada di dekat jalan raya, seorang lelaki sepuh berkumis tebal berjenggot panjang hitam dengan badan besar yang baru saja menuruni tangga rumah menatap ke arah rombongan Panji Watugunung yang berhenti di depan halaman rumah nya. Cempluk Rara Sunti segera melompat turun dari kudanya dan berlari cepat kearah lelaki bertubuh gempal itu segera. Selir bungsu Panji Watugunung itu segera memeluk tubuh lelaki bertubuh gempal yang tak lain adalah Warok Surapati.
"Bopo, aku pulang!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tetap semangat walau hujan deras terus mengguyur tempat tinggal kita.
Yang mau berteman dengan author author atau sekedar tanya-tanya tentang BNL atau novel author yang lain, bisa lewat IG author : ebez2812
__ADS_1