
Panji Watugunung membelalakkan matanya. Dia tidak menduga bahwa Dewi Srimpi akan menagih janji nya malam ini.
Dengan sedikit bingung, Panji Watugunung menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.
"Srimpi,
Bukan maksudku untuk ingkar janji tapi kau kan tau sendiri kita sedang dalam perjalanan ke Watugaluh.
Apa tidak bisa setelah di Watugaluh?", ujar Watugunung sambil melirik ke arah Dewi Srimpi.
Wajah cantik Dewi Srimpi tiba tiba kembali muram. Air mata bening perlahan menetes dari mata Dewi Srimpi.
"Aku tau Denmas Panji pasti menolak ku, aku tau Denmas Panji tidak pernah menyukai Srimpi hiks..."
"Bukan begitu Srimpi,
Masalah nya..."
Belum sempat Panji Watugunung meyelesaikan ucapan nya, Dewi Srimpi sudah memotong ucapan nya.
"Aku sadar aku hanya gadis desa. Bukan keturunan bangsawan atau putri. Mana pantas aku bersama Denmas Panji".
"Srimpi dengar dulu..
Dengar ya, aku sudah berjanji pada ayahmu. Aku bukan orang yang suka ingkar janji. Kalau pun sekarang aku tidak bisa, bukan karena aku memandang derajat mu.
Apa pernah aku membedakan orang dengan derajat mereka?", Watugunung memandang kearah Dewi Srimpi.
Gadis bercadar hitam itu menggeleng cepat.
"Nah, kau sendiri juga tau. Sekarang kamu tenang saja. Janji ku pasti ku penuhi".
Tiba tiba..
Kriettttt
Pintu kamar terbuka dan Ratna Pitaloka serta Sekar Mayang yang membawa nampan berisi makanan masuk ke dalam.
Malam itu, karna khawatir dengan keadaan Dewi Srimpi, Sekar Mayang bermaksud menemani Dewi Srimpi. Ya, sejak Dewi Srimpi menyelamatkan nyawa Sekar Mayang, perempuan itu merasa berhutang nyawa padanya.
Saat berjalan di lorong kamar, Sekar Mayang bertemu Ratna Pitaloka yang bermaksud mengunjungi Dewi Srimpi.
Saat di depan kamar, mereka berdua mendengar suara Panji Watugunung dan bergegas membuka pintu kamar.
"Janji apa yang kalian bicarakan Kakang?", Ratna Pitaloka penasaran.
"Janji untuk menjadikan aku sebagai selir nya".
Belum sempat Panji Watugunung berkata, Dewi Srimpi sudah berdiri dan berbicara.
Mata Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang melotot mendengar kata-kata dari Dewi Srimpi.
"Kakang Watugunung, benar yang dia katakan?", tanya Sekar Mayang.
Panji Watugunung menghela nafas panjang. Setelah menoleh ke arah Dewi Srimpi, dia pun berkata,
"Benar,
Aku sudah berjanji pada Paman Kelabang Koro akan menjadikan Srimpi sebagai selir ku saat aku meminta bantuan menghadapi Gunung Kematian. Karna itu pula, Paman Kelabang Koro mengorbankan nyawa nya agar aku bisa menjaga Srimpi".
Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang saling berpandangan. Mereka berdua sadar, jika tanpa bantuan Kelabang Koro, mungkin penyerbuan ke markas Gunung Kematian akan gagal. Lagipula Kelabang Koro juga yang menyelamatkan nyawa Panji Watugunung. Jika mereka membiarkan Dewi Srimpi bersama Watugunung, mungkin bisa membuat semangat hidup nya kembali.
Setelah menarik napas dalam-dalam, Ratna Pitaloka memandang kearah Dewi Srimpi.
"Aku mengijinkan mu"
Sekar Mayang pun tersenyum simpul dan mengangguk tanda setuju dengan pendapat Ratna Pitaloka.
Panji Watugunung tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia begitu heran, dua selir nya yang biasanya paling keras menentang wanita lain, kini malah menyetujui nya.
"Tapi ingat Srimpi, tugas mu harus tetap kau jalankan seperti biasa.
Mengerti kau?", ucap Ratna Pitaloka.
"Srimpi mengerti Ndoro Selir", jawab Dewi Srimpi segera.
"Mulai sekarang, kau tidak boleh memanggil ku Ndoro lagi. Panggil saja Kangmbok Pitaloka", Ratna Pitaloka tersenyum manis.
"Terimakasih Ndoro Sel..... eh Kangmbok Pitaloka", Dewi Srimpi ikut tersenyum.
__ADS_1
Malam itu mereka berempat tertawa kecil di kamar Dewi Srimpi.
"Kangmbok Pitaloka,
Sebaiknya kau segera mengatur waktu untuk para istri. Kalau tidak bisa bisa kita berantem karna berebut tidur dengan Kakang Watugunung", seloroh Sekar Mayang yang di sambut tawa kecil dari mereka semua.
"Iya Mayang, kalau putri manja itu pengertian. Yang susah diatur putri liar itu saja", ucap Ratna Pitaloka.
"Ya sudah, untuk malam ini berikan kepada Srimpi Kangmbok, besok kita temui mereka", Sekar Mayang segera berdiri. Dewi Srimpi yang bingung, segera bertanya.
"Kangmbok Mayang, mau kemana?".
"Tentu saja keluar kamar, malam ini giliran mu Srimpi", Sekar Mayang tersenyum penuh arti.
Dua selir Panji Watugunung segera keluar dan menutup pintu kamar dari luar. Tawa cekikikan mereka terdengar saat membayangkan bagaimana Dewi Srimpi malam itu.
Dari ujung lorong, Ayu Galuh celingukan mencari Panji Watugunung. Sekar Mayang yang melihat nya, segera menjawil Ratna Pitaloka.
"Pengacau tuhh..", ucap Sekar Mayang sambil mencebikan bibirnya.
"Kita atasi. Jangan sampai mengganggu Srimpi", Ratna Pitaloka bergegas menuju ke Ayu Galuh.
"Mau apa kau??", tatapan mata Ratna Pitaloka menyelidik.
"Kangmas Panji kemana? Kog tidak kelihatan", tanya Ayu Galuh.
"Ada urusan penting dengan Akuwu dan para prajurit, jangan ganggu", ucap Sekar Mayang sambil mendelik tajam kearah Ayu Galuh.
Nyali Ayu Galuh seketika ciut melihat tatapan mata dari Sekar Mayang dan Ratna Pitaloka. Walaupun dia paling tinggi derajatnya di antara semua istri Watugunung, tapi ilmu kanuragan nya yang paling rendah. Ribut dengan mereka berdua sama dengan cari mati.
"Ya sudah kalau begitu, aku permisi"
Ayu Galuh segera bergegas menuju kamar peristirahatan nya, sementara Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang terkekeh geli melihat tingkah Ayu Galuh.
Panji Watugunung sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Dewi Srimpi masih berdiri mematung di tepi ranjang. Keringat dingin mulai membasahi pipinya.
"Kau mau berdiri terus semalaman?", ujar Watugunung dari atas ranjang.
"Anu tidak, eh iya... ",Dewi Srimpi gugup.
Tanpa banyak bicara, Panji Watugunung segera meraih tangan Dewi Srimpi dan menarik nya ke atas ranjang. Tubuh Dewi Srimpi segera menabrak Panji Watugunung.
Tangan Panji Watugunung segera meraih cadar hitam gadis itu. Pelan, Panji Watugunung mencium lembut bibir tipis Dewi Srimpi.
Malam begitu dingin, hujan akhir musim penghujan terasa lebih deras dari biasanya.
**
Matahari sepenggal naik di ufuk timur, meski masih mendung, tapi cuaca cukup cerah.
Warigalit dan Ratri terus menggebrak kuda mereka. Setelah melewati Pakuwon Lantir, mereka terus memacu kuda mereka ke barat.
Di persimpangan jalan, mereka berhenti. Mereka melompat turun dari kudanya, dan bertanya kepada seorang lelaki tua yang memimpin rombongan. Kelihatannya seperti rombongan pedagang dari jauh.
"Maaf Kisanak, kalau boleh tau, jalan ke kanan ini menuju kemana?", tanya Warigalit sopan.
Mata tua lelaki itu menyelidik. Kelihatannya seperti orang baik,batin lelaki tua.
"Yang ke kanan menuju ke Watugaluh, kalau yang kiri ke Kunjang".
"Terimakasih atas bantuannya kisanak", usai berkata Warigalit segera melompat ke atas kuda nya diikuti oleh Ratri.
"Kita akan kemana Kakang?", tanya Ratri.
"Watugaluh. Bukankah kau juga dengar, kalau Pasukan Garuda Panjalu menuju kesana Ratri?", Warigalit mulai menepuk pundak kudanya.
Ratri hanya mengangguk dan bergegas mengikuti langkah Warigalit yang memacu kudanya melesat kearah Pakuwon Watugaluh.
Menjelang sore, Warigalit dan Ratri sudah sampai di pinggir kota Pakuwon Watugaluh. Sambil berkuda pelan, mereka menikmati keramaian kota pakuwon itu.
Para pedagang yang sibuk mengumpulkan dagangan mereka, bercampur lalu lalang orang yang hendak bermalam atau pulang ke rumah masing-masing.
Semua nya tampak sibuk.
Dari kejauhan, serombongan orang berkuda tampak memasuki wilayah pakuwon. Melihat penampilan mereka, bisa di pastikan mereka adalah rombongan prajurit.
Semua orang langsung menepi tak terkecuali Warigalit dan Ratri.
"Bukankah dia Dewi Tunjung Biru?", gumam Warigalit yang memperhatikan rombongan itu.
__ADS_1
"Kenapa Kakang? Kakang kenal wanita berbaju biru itu?", tanya Ratri sambil melirik ke wanita cantik yang ada di tengah rombongan pasukan prajurit.
"Sepertinya dia adalah murid Paman Guru Wanabaya, Ratri", Warigalit terus memperhatikan mereka.
Seorang prajurit tampak menyelidik kearah Warigalit dan Ratri. Dengan tatapan curiga, dia berhenti di depan Warigalit dan Ratri.
"Hei kalian! Kenapa berbisik bisik? Kalian bukan orang Pakuwon Watugaluh ya", hardik sang prajurit.
Semua orang langsung memandang kearah Warigalit dan Ratri yang di hardik.
"Maafkan kami Ndoro Prajurit. Kami hanya pengelana yang kebetulan lewat.
Mohon maaf jika mengganggu", ujar Warigalit masih sopan.
"Alah alasan. Pasti kalian punya maksud jahat.
Teman teman, kepung mereka!", teriak sang prajurit. Seketika puluhan orang prajurit bergegas mengepung Warigalit dan Ratri.
Mendengar ribut ribut di belakang, Dewi Tunjung Biru segera menoleh. Dengan cepat, wanita cantik itu segera melompat turun dari kudanya.
"Tunggu dulu, jangan main kekerasan".
Suara Tunjung Biru segera menghentikan gerakan para prajurit yang siap menyerang.
Dewi Tunjung Biru segera mendekati Warigalit dan Ratri.
"Wajah mu tidak asing. Katakan kisanak, siapa namamu dan kemana tujuan mu?", Tunjung Biru memperhatikan mereka berdua.
"Baguslah jika masih ingat. Aku Warigalit, murid pertama Mpu Sakri dari Padepokan Padas Putih", sahut Warigalit sambil tersenyum.
"Kau kau Kakang Warigalit, saudara seperguruan Kakang Watugunung??", tanya Dewi Tunjung Biru seakan tak percaya.
Warigalit dan Ratri tersenyum tipis seraya mengangguk.
"Ah ternyata saudara sendiri. Maafkan kami Kakang, para prajurit memang sedang tegang. Jadi tolong maafkan mereka", Tunjung Biru menghormat.
"Sudahlah, kami ingin menemui Watugunung. Kudengar kabar, dia di Watugaluh", Warigalit tampak penasaran.
"Mereka belum sampai Kakang, mungkin besok atau lusa mereka tiba", jawab Tunjung Biru.
Selagi mereka asyik berbincang, seorang prajurit berteriak keras yang mengagetkan Warigalit, Ratri dan Dewi Tunjung Biru.
"Ada rombongan besar menuju kemari"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bagaimana kisah selanjutnya??
Ikuti terus kisah perjalanan Panji Watugunung.
Jangan lupa untuk dukung author menulis dengan like vote dan komentar nya 👍👍
__ADS_1
Selamat membaca 😁😁😁