
Usai berkata demikian, Mapanji Alanjung memimpin para kerabat dekat istana Kahuripan menuju ke wilayah timur untuk mengungsi. Rakryan Samarotsaha, Wulupaksi, Mpu Baratwana, beserta Ratu Manikmaya yang merupakan ibu kandung Mapanji Alanjung dan seluruh pangreh praja Jenggala mengikuti langkah Sang Putra Mahkota Kerajaan Jenggala meninggalkan Istana Kahuripan. Hanya ada beberapa pengawal istana dan beberapa dayang yang tetap tinggal untuk menjaga dan merawat istana yang menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Jenggala itu.
Malam yang sibuk itu segera berganti pagi. Saat fajar menyingsing di langit timur, istana Kahuripan telah sepi. Suara kokok ayam jantan bersahutan namun istana Kahuripan menjadi lengang tanpa ada kesibukan sama sekali.
Di selatan, kira kira sejauh 10 ribu depa dari istana Kahuripan, nampak jelas terlihat bahwa para prajurit Panjalu mulai melakukan persiapan untuk bergerak menuju ke arah istana Kahuripan.
Terlihat Demung Gumbreg memimpin pasukan perbekalan untuk mulai mengemasi barang-barang yang akan di bawa selama perjalanan mereka. Beberapa prajurit nampak mengemasi tikar daun pandan yang menjadi alas tidur mereka, beberapa sibuk menata barang di pedati. Weleng, Gubarja dan Widarba pun tak kalah sibuk mengatur pergerakan prajurit perbekalan yang sibuk pagi hari itu.
Panji Watugunung yang baru bangun tidur, menatap ke sekeliling nya. Dua istri nya, Sekar Mayang dan Dewi Naganingrum sedang sibuk berdandan ala prajurit wanita.
"Kakang sudah bangun?", ucap Sekar Mayang yang baru saja masuk ke dalam tenda besar yang menjadi tempat peristirahatan sang Yuwaraja Panjalu itu. Di tangan nya ada sebuah nampan yang membawa sebuah gendol berisi air cuci muka hangat yang di beri 2 lembar daun sirih. Dewi Srimpi mengekor di belakangnya dengan membawa nampan lain yang membawa sebuah cangkir wedang jahe dan beberapa makanan yang menjadi sarapan pagi sang suami.
Panji Watugunung segera mengucek matanya dan tersenyum tipis melihat istri istri nya. Segera putra Bupati Gelang-gelang itu bangun dari tempat tidur nya dan berjalan ke arah Sekar Mayang dan Dewi Srimpi. Pria gagah itu segera mencuci muka dengan air hangat yang disiapkan oleh Sekar Mayang.
Usai membasuh muka, Panji Watugunung duduk di kursi kayu yang ada di sudut tenda. Ratna Pitaloka segera membuka baju Panji Watugunung sedangkan Dewi Naganingrum mengambilkan baju ganti untuk sang suami dengan cepat.
"Naganingrum,
Tolong ambilkan baju Kakang Watugunung yang berwarna biru. Di sebelah sana", Ratna Pitaloka sambil menunjuk sudut tenda yang ada tumpukan peti kayu.
"Baik Teh", jawab Dewi Naganingrum sambil segera melangkah menuju ke arah yang ditunjuk Ratna Pitaloka. Permaisuri ketiga Panji Watugunung itu tampak membongkar tumpukan baju yang ada disana. Setelah menemukan yang di cari, perempuan cantik itu segera mendekati Panji Watugunung.
Sedangkan Sekar Mayang segera mengambil Pedang Naga Api yang tergantung di tiang dekat Panji Watugunung beristirahat. Dewi Srimpi pun tak mau kalah dengan mengambilkan beberapa perhiasan tubuh untuk Sang Yuwaraja Panjalu.
Di bantu oleh keempat istri nya, Panji Watugunung berdandan layaknya seorang bangsawan dengan baju kebesarannya. Dengan gelung kepala yang ditusuk dengan konde emas dan mahkota Yuwaraja nya, di tambah gelang bahu yang juga terbuat dari emas, Panji Watugunung semakin terlihat gagah dengan kain jarik berwarna kuning kemerahan yang bergambar parang. Kumis tipis yang menghiasi wajah tampan lelaki itu, semakin membuat Panji Watugunung terlihat berwibawa.
Sementara di dalam Panji Watugunung berdandan, para pemimpin prajurit Panjalu sibuk menata barisan pasukan.
Senopati Narapraja, Senopati Warigalit, Tumenggung Ludaka, Tumenggung Landung, Jarasanda, dan seluruh perwira tinggi prajurit Daha nampak melihat barisan para prajurit yang ada di bawah pimpinan nya.
Usai berdandan, Panji Watugunung melangkah keluar dari dalam tenda diikuti oleh para istri nya.
"Beri hormat kepada Gusti Pangeran Jayengrana", teriak Senopati Narapraja dengan keras.
Seluruh prajurit Daha yang ada langsung berlutut dihadapan Panji Watugunung dan keempat istri nya.
"Berdirilah wahai semua prajurit Panjalu", perintah Panji Watugunung yang segera membuat seluruh perwira tinggi dan para prajurit Panjalu kembali berdiri tegak.
"Hari ini, kita akan melakukan serangan ke istana Kahuripan.
Kita tidak boleh membuang waktu setelah gugur nya Prabu Garasakan. Mereka sedang dalam titik kekalahan. Mari kita tundukkan Kahuripan sebagai langkah awal untuk kedamaian di Tanah Jawadwipa ini", lanjut Panji Watugunung dengan penuh semangat.
"Hidup Gusti Pangeran Jayengrana..
Hidup Gusti Pangeran Jayengrana..
Kalahkan Kahuripan!
Kalahkan Kahuripan!..."
Terdengar suara teriakan dan pekik semangat prajurit Panjalu riuh rendah bersahutan membuat suasana pagi itu menjadi memanas. Dengan penuh semangat tinggi mereka mulai bergerak menuju ke arah kota Kahuripan setelah terompet tanduk kerbau berbunyi nyaring dua kali..
Thuuuuuuuuutttttthhhh..
Thuuuuuuuuutttttthhhh!!!
Sebanyak 12 ribu orang prajurit bergerak dalam barisan pasukan yang dipimpin oleh beberapa perwira tinggi. Sebanyak 5 ribu prajurit berkuda, diikuti oleh 6 ribu prajurit berjalan kaki dan yang paling belakang 1000 prajurit perbekalan yang di pimpin oleh Demung Gumbreg bergerak cepat menuju ke Utara.
500 tombak menjelang perbatasan kota Kahuripan, seorang prajurit pasukan Lowo Bengi yang bergerak lebih dulu memacu kudanya menuju ke arah Tumenggung Ludaka yang berkuda di depan pasukan Panjalu. Setelah menyampaikan pesan yang di bawanya, sang prajurit segera kembali meninggalkan pasukan untuk kembali melanjutkan tugasnya.
Tumenggung Ludaka segera memutar arah kuda tunggangan nya dan mendekati Panji Watugunung yang tengah berkuda di samping para istri nya.
"Mohon ampun Gusti Pangeran,
Sebentar lagi kita memasuki kota Kahuripan. Namun para prajurit Jenggala tidak terlihat di sekitar kota dan istana", lapor Tumenggung Ludaka setelah menjajarkan kudanya di samping sang Pemimpin tertinggi pasukan Panjalu itu.
"Hemmmm...
Tetap pada rencana semula. Jangan kurangi kewaspadaan", titah Panji Watugunung yang segera membuat Tumenggung Ludaka menyembah pada Panji Watugunung dan dengan cepat memimpin pasukan di depan.
Pasukan Panjalu terus bergerak menuju ke arah kota Kahuripan.
Begitu memasuki tapal batas kota, nampak para penduduk langsung berhamburan menyelamatkan diri setelah terdengar titir kentongan bertalu-talu yang di tabuh para prajurit yang menjaga tapal batas kota. Suasana kota Kahuripan menjadi lengang begitu pasukan Panjalu yang dipimpin oleh Panji Watugunung masuk ke kota.
"Ada apa ini Kakang Watugunung?
Kenapa para prajurit Jenggala sama sekali tidak melakukan perlawanan?
Ini aneh sekali", tanya Ratna Pitaloka yang berkuda di samping Panji Watugunung. Mata indah selir pertama Panji Watugunung itu terus menelisik setiap sudut jalan yang mereka lewati.
"Kita tidak boleh lengah, Dinda Pitaloka..
__ADS_1
Tetap waspada terhadap segala kemungkinan. Kita tidak boleh gegabah", jawab Panji Watugunung yang segera mendapat anggukan kepala dari keempat istri nya.
Dengan cepat, pasukan Panjalu sudah sampai di gerbang istana Kahuripan. Tumenggung Ludaka dan Landung yang ada di depan, langsung meloncat dari punggung kudanya kearah 8 prajurit Jenggala yang menjaga pintu gerbang.
Mendapat serangan, kedelapan prajurit Jenggala yang berjaga segera memberikan perlawanan.
Namun mereka bukan tandingan dua perwira tinggi prajurit Daha itu. Hanya dalam 5 jurus, ke delapan prajurit Jenggala itu sudah roboh terkapar di tanah.
Tumenggung Ludaka menggelandang seorang prajurit Jenggala yang bengkak wajah nya setelah mendapat pukulan keras tadi. Sambil meringis menahan sakit, lelaki bertubuh gempal itu hanya bisa pasrah dengan perlakuan Ludaka. Saat sampai di depan Panji Watugunung, Ludaka mendorong tubuh sang prajurit penjaga gerbang istana itu untuk berlutut dihadapan Panji Watugunung.
"Ini dia orang nya yang masih sadar, Gusti Pangeran", ucap Tumenggung Ludaka sambil menghormat.
Panji Watugunung mengangguk perlahan tanda dia mengerti.
"Ampuunnn..
Mohon ampuni nyawa hamba Gusti. Hamba hanya mengikuti perintah. Ampun beribu ampun Gusti Pangeran", sang prajurit penjaga gerbang istana Kahuripan itu menghiba di depan Panji Watugunung.
Hemmmm...
Terdengar suara dengusan nafas panjang dari Panji Watugunung. Sang prajurit penjaga gerbang istana pucat ketakutan.
"Katakan saja sejujurnya,
Kemana para prajurit Jenggala yang lain? Kalau tidak jangan salahkan aku jika bertindak kejam", ucap Panji Watugunung dengan tegas dan berwibawa.
"Anu Gusti Pangeran,
Anu itu mereka anu Gusti Pangeran", sang prajurit penjaga gerbang istana tergagap saat menjawab pertanyaan Panji Watugunung. Dia ketakutan untuk berbicara.
"Jawab pertanyaan Gusti Pangeran dengan benar!", bentak Tumenggung Ludaka sambil melotot matanya kearah sang prajurit penjaga gerbang istana.
"Anu Gusti Pangeran,
Gusti Pangeran Mapanji Alanjung dan para pembesar istana Kahuripan sudah pergi meninggalkan istana ini sejak tadi malam", sang prajurit penjaga gerbang menunduk tak berani mengangkat kepalanya.
Hemmmm...
"Rupanya mereka telah meninggalkan istana ini, pertanda mereka telah lebih dulu menyadari bahwa mereka tidak mampu mengalahkan kita.
Kakang Warigalit, Senopati Narapraja..
Perintahkan kepada para prajurit Panjalu untuk memasuki istana ini sebagai tanda bahwa kita sudah mengalahkan Jenggala", titah Panji Watugunung yang segera mendapat anggukan kepala dari Senopati Narapraja dan Warigalit.
Segera berita jatuhnya istana Kahuripan di tangan Panji Watugunung menyebar ke seluruh wilayah Panjalu dan Jenggala bahkan sampai di tanah Sunda.
Sang Maharaja Panjalu, Dyah Samarawijaya begitu gembira mendengar berita yang di kirim oleh Panji Watugunung lewat Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Landung.
Wajah sepuh penguasa Panjalu itu begitu sumringah usai membaca nawala itu.
"Tak salah aku memilih Watugunung sebagai penerus ku. Dia begitu mampu diandalkan untuk menghadapi setiap permasalahan.
Juru tulis,
Tuliskan balasan ku kepada Dhimas Pangeran Jayengrana. Juga langkah apa yang harus diambil usai Kahuripan jatuh", perintah Maharaja Samarawijaya pada seorang juru tulis yang segera melaksanakan tugas yang diberikan.
Usai mendapatkan balasan dari Sang Maharaja, dua tumenggung andalan Panji Watugunung itu segera mohon diri untuk kembali ke Kahuripan.
Lewat sepekan, Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Landung sudah sampai di istana Kahuripan. Usai menyerahkan nawala dari Maharaja Samarawijaya, dua perwira tinggi itu segera duduk bersila di lantai balai paseban agung Keraton Kahuripan.
Panji Watugunung segera membuka nawala yang baru dia terima. Usai membaca nawala itu, Putra Bupati Gelang-gelang itu tersenyum simpul.
"Aku sudah membaca nawala dari Gusti Prabu Samarawijaya.
Berdasarkan perintah dari Maharaja Panjalu, kita di perintahkan untuk kembali ke Panjalu. Untuk urusan istana Kahuripan, Senopati Narapraja yang akan mengurus tempat ini.
Gumbreg,
Persiapkan diri dan perbekalan kita untuk pulang ke Kadiri.
Kakang Warigalit,
Bagi jumlah pasukan Panjalu yang akan di tempatkan di istana ini.
Apa semua sudah mengerti tugas masing-masing?", Panji Watugunung mengedarkan pandangan ke seluruh perwira tinggi prajurit Daha yang hadir di balai paseban agung Keraton Kahuripan.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran Jayengrana", semua orang dengan kompak menyembah pada Panji Watugunung.
Dan demikianlah, selepas satu purnama berada di istana Kahuripan, Panji Watugunung beserta keempat istri nya dan para bawahannya meninggalkan istana Kahuripan untuk pulang ke Panjalu. Di kawal 5 ribu prajurit, Panji Watugunung diantar Senopati Narapraja yang menjadi pemangku istana Kahuripan hingga tapal batas kota Kahuripan. Sedangkan untuk membantu Senopati Narapraja di Kahuripan, sebanyak 7 ribu prajurit berjaga di tempat itu di pimpin oleh Tumenggung Wiguna dan beberapa perwira tinggi dari Lasem dan Anjuk Ladang.
Perlahan pasukan Panjalu yang dipimpin oleh Panji Watugunung meninggalkan kota Kahuripan menuju ke arah barat.
__ADS_1
Dua orang berbaju hitam seperti rakyat biasa dan memakai caping dari anyaman bambu terus menatap ke arah perginya para prajurit Panjalu. Setelah mereka menghilang di balik tikungan jalan, dua orang itu saling berpandangan sejenak. Kemudian mereka berdua bergegas menuju ke arah balik semak belukar tempat mereka menyembunyikan dua kuda mereka.
Tak berapa lama kemudian, dua orang itu melompat ke atas kuda mereka masing-masing dan menggebrak kudanya menuju ke arah timur. Ya, mereka berdua adalah telik sandi yang di pasang untuk mengawasi pergerakan prajurit Panjalu di istana Kahuripan.
**
Jauh di wilayah timur Jenggala, tampak beberapa orang sedang duduk bersama di sebuah rumah besar. Mereka adalah orang-orang istana Kahuripan yang melarikan diri sebelum para prajurit Panjalu menyerbu masuk ke kota Kahuripan.
"Apa yang aku minta sudah kau lakukan, Paman Samarotsaha?", ujar Mapanji Alanjung sambil menatap ke arah Rakryan Samarotsaha yang duduk bersila di samping kanannya.
"Sudah paman laksanakan, Gusti Pangeran. Tinggal menunggu kedatangan Wulupaksi dan orang yang Gusti Pangeran Mapanji Alanjung minta.
Kemudian mereka berdua datang hari ini", jawab Rakryan Samarotsaha sambil menghormat.
Hemmmm..
"Tak sabar aku rasanya. Ingin segera melaksanakan rencana pembalasan dendam ku pada Paman Samarawijaya", Mapanji Alanjung mendengus dingin sembari menatap langit selatan.
"Sabar Nakmas Pangeran,
Kita tidak boleh ceroboh dalam rencana ini. Perlu persiapan matang agar tidak gagal", ucap Rakryan Samarotsaha sambil tersenyum tipis.
Dari arah pintu rumah, Wulupaksi sang tangan kanan Rakryan Samarotsaha masuk ke dalam rumah. Di belakangnya dua orang berpakaian serba hitam nampak berjalan mengikuti langkah Wulupaksi. Meski terlihat berwajah menyeramkan dengan jenggot lebat dan wajah yang dingin, dua orang yang merupakan sepasang suami istri itu terlihat tenang.
Wulupaksi segera menyembah pada Mapanji Alanjung lalu duduk bersila di lantai rumah itu diikuti oleh dua orang yang datang bersamanya.
"Mohon ampun Gusti Pangeran jika kedatangan hamba lebih lama dari perkiraan.
Dua orang ini adalah pendekar yang hamba minta untuk melaksanakan tugas dari Gusti Pangeran. Mereka di kenal dengan sebutan Sepasang Iblis Hitam dari Mahameru.
Yang laki laki di kenal dunia persilatan sebagai Iblis Seribu Muka. Dan yang perempuan dijuluki sebagai Dewi Pedang Hitam", ucap Wulupaksi sambil menghormat pada Mapanji Alanjung.
Mapanji Alanjung menatap ke arah dua orang yang disebutkan oleh Wulupaksi itu bergantian. Pangeran muda itu nampak jelas ragu dengan ucapan Wulupaksi. Perlahan tangan kanannya terbuka dan mengepal. Wulupaksi yang paham isyarat itu segera menoleh ke lelaki bertubuh gempal yang berjuluk Iblis Seribu Muka itu.
Segera Iblis Seribu Muka mengangguk dan mulut lelaki paruh baya itu komat Kamit membaca mantra. Tak berapa lama kemudian, asap putih melingkupi seluruh tubuh Iblis Seribu Muka.
Cllliiiinnnnngggggghh!
Saat asap putih menghilang, wujud Iblis Seribu Muka sudah berubah menjadi Mapanji Alanjung lengkap dengan pakaian dan mahkota nya.
Mapanji Alanjung terkejut sesaat kemudian lalu tersenyum puas melihat kemampuan dari lelaki berjuluk Iblis Seribu Muka itu. Segera dia berdiri dari tempat duduknya dan berkata dengan lantang,
"Dengan ini, rencana balas dendam ku pada Paman Samarawijaya akan dimulai".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya 😁😁
__ADS_1
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah
Selamat membaca sahabat 😁😁😁😁