
Gumbreg hanya diam mendengar jawaban Warigalit. Mukanya ditekuk dalam.
Ludaka menyeret dua orang bertopeng yang masih sadar ke hadapan Panji Gunungsari dan Warigalit. Dua orang itu ketakutan setengah mati.
"Ampuni kami ampuni kami", teriak pria bertopeng itu bersujud kepada Panji Watugunung.
Warigalit menarik topeng salah satu pria bertopeng. Nampak ada sisa darah yang mengalir dari mulut nya
"Katakan siapa kalian? Jawab jujur atau ku bunuh kalian", teriak Warigalit sambil mendelik tajam.
Orang berbaju hitam itu pucat pasi. Dia sudah merasakan kekuatan Warigalit yang mampu meremukkan tulang nya hanya dengan sekali remas.
"Kami dari Lwaram. Kami kesini untuk membunuh putri Daha", jawabnya terbata-bata.
Plakkk
Tamparan keras dari Gumbreg membuat pria itu mimisan.
"Kenapa kau tampar dia?", tanya Ludaka pada Gumbreg.
"Ada nyamuk di pipinya", jawab pria gendut itu sambil menyeringai.
Semua orang mulai memenuhi tempat itu. Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang melompat kesamping Warigalit.
"Katakan siapa pimpinan mu? Kalau tidak jangan harap kau bisa melihat matahari lagi", ancam Warigalit.
"Pimpinan kami adalah orang yang di lawan pendekar itu", jawab orang berbaju hitam menunjuk ke arah Panji Watugunung.
"Bawa mereka ke penjara. Siksa jika tidak mau menjawab jujur", ucap Panji Watugunung yang segera di laksanakan oleh Bekel Setyaka dan prajurit Pakuwon Watugaluh.
Setelah kejadian itu semua prajurit bersiaga penuh, takut ada serangan susulan. Sementara di kamar Panji Watugunung semua istrinya berkumpul bersama sama.
"Jadi mereka mengincar ku Kangmas Panji?", tanya Ayu Galuh.
"Benar, mereka dari Lwaram. Kalau mengincar mu, berarti dia mengincar nyawa setiap keturunan Airlangga".
Mendengar jawaban Panji Watugunung, Ayu Galuh segera memeluk tangan kiri Watugunung.
"Eh cari kesempatan kau rupanya putri liar,
Mau jatah giliran mu di potong sama Si putri manja itu??", tanya Sekar Mayang di sambut tawa cekikikan para istri Panji Watugunung.
Ayu Galuh beringsut menjauh seketika, wajah nya memerah.
Dewi Srimpi datang membawa nampan berisi beberapa makanan dan minuman hangat.
"Contoh nih selir termuda. Sudah baik, pengertian lagi", puji Anggarawati yang membuat Dewi Srimpi menunduk malu.
Mereka tertawa kecil melihat tingkah Dewi Srimpi. Panji Watugunung tersenyum melihat semua wanita nya rukun.
Sementara itu di luar kota Pakuwon Watugaluh, Mpu Wurawirya berlari cepat menjauhi kota Pakuwon Watugaluh. Di ikuti oleh 4 orang anak buah nya yang tersisa, mereka berhenti di sebuah batu besar, di pinggir kali.
"Sepertinya kita sudah cukup jauh meninggalkan Pakuwon Watugaluh", Mpu Wurawirya menghela nafas lega.
"Mereka berdua sangat hebat Kakang, bahkan bisa mementahkan ajian andalan mu Kakang", ujar lelaki bertubuh kurus.
"Benar. Kita terlalu menganggap enteng mereka. Untuk beberapa hari ini, sebaiknya kita bersembunyi di Tamwelang dulu. Jangan menampakkan diri", Mpu Wurawirya memandang kearah langit yang mulai pagi.
Kelima orang itu segera melesat ke arah timur, ke perbatasan Panjalu dan Jenggala.
Keributan yang terjadi semalam, membuat Akuwu Watugaluh merasa malu. Serta merta dia meningkatkan penjaga menjadi 2 kali lipat.
**
Di wilayah Lewa , di kaki gunung Lawu.
Seorang pria muda berwajah tampan sedang duduk di kursi pemimpin. Dialah pemimpin tertinggi Perguruan Alas Larangan yang terkenal, Pangeran Alas Larangan. Meski masih kelihatan muda, pria itu sebenarnya sudah berusia 100 tahun lebih.
"Dewa Angin, bagaimana? Sudah ada berita dari Iblis Bukit Jerangkong?", tanya Pangeran Alas Larangan pada seorang kakek berbaju hijau.
Dewa Angin menghormat pada Pangeran Alas Larangan, kemudian menghela nafas panjang.
"Mohon ampun Kanjeng Pangeran, sampai saat ini belum ada kabar. Saya khawatir mereka tidak akan sampai kesini Kanjeng Pangeran", jawab Dewa Angin.
"Apa maksudmu Dewa Angin??
Bukankah mereka orang orang pilihan?", Pangeran Alas Larangan mendelik tajam.
__ADS_1
"Apa Kanjeng Pangeran lupa dengan Hantu Darah, murid Kakang Dewa Darah? Dia tewas di tangan salah satu pendekar muda dari Daha..
Setan Geni dan Setan Air juga tewas saat penyerbuan terhadap markas Padepokan Anggrek Bulan di Bukit Lanjar.
Itu yang menjadi kekhawatiran saya Kanjeng Pangeran", jawab Dewa Angin sambil mengenang dua murid kesayangannya.
Hemmmmm
"Dewa Angin, besok kau berangkat ke Bukit Jerangkong, tanyakan kepada Iblis tua itu. Kapan rencana besar Mapanji Garasakan di laksanakan", perintah Pangeran Alas Larangan.
Dewa Angin segera berdiri dan membungkuk hormat kepada Pangeran Alas Larangan.
Setelah kepergian Dewa Angin, Pangeran Alas Larangan tampak termenung sejenak. Pikiran nya terkenang dengan Panuda, Raja Lewa yang tewas di tangan pasukan Airlangga.
'Akan ku balaskan dendam mu Adik ku, biar keturunan Airlangga berkelahi dan saat mereka sudah lemah, akan ku bantai mereka'
**
"Kakang, kita harus cepat sampai ke pakuwon Watugaluh. Kita harus meminta pertolongan pada Akuwu. Ayo cepat", teriak seorang lelaki muda sambil berlari menyeret tubuh seorang pria setengah umur.
"Aku sudah tidak kuat lagi adik. Aku sudah tidak kuat lagi", ucap pria setengah umur itu dengan nafas tersengal-sengal.
Mereka terus berlari menuju kota Pakuwon Watugaluh.
Sementara itu jauh di belakang mereka, puluhan orang berbaju merah mengejar mereka.
"Sial, cepat sekali dua orang itu. Kemana mereka?", teriak seorang lelaki berwajah bopeng.
"Kakang, dari jejak yang ada, mereka menuju Pakuwon Watugaluh. Akan sangat berbahaya kalau mereka sampai di sana", jawab si pria berewok dengan mata buta sebelah.
"Makanya ayo cepat kejar mereka", teriak lelaki berwajah bopeng yang di ikuti oleh puluhan anak buah nya.
Mereka melesat cepat. Tak berapa lama, dari kejauhan nampak dua orang buruan mereka sudah mendekati gapura kota pakuwon Watugaluh.
"Itu mereka Kakang", ujar si berewok.
"Bedebah, ternyata mereka berencana meminta bantuan pada Akuwu.
Kajar, panah mereka!", teriak pria berwajah bopeng atau yang lebih di kenal dengan sebutan Setan Muka Bopeng.
"Baik Kakang", sahut Kajar segera membidikkan panahnya.
Creeepp
Aaarghhh..
Panah Kajar melesat cepat dan menembusnya punggung pria setengah umur.
Seorang prajurit penjaga gapura kota Pakuwon Watugaluh yang melihat kejadian itu segera mendekati kearah mereka.
"Ndoro prajurit, tolong kami", pria muda itu menghiba.
"Kawan kawan, kita bantu mereka", teriak sang prajurit memanggil kawan kawan nya.
Setan Muka Bopeng yang melihat para prajurit semakin banyak, memutuskan untuk pergi dari tempat itu di ikuti oleh semua pengikut nya.
"Kau jaga mereka, aku akan melapor ke pakuwon Watugaluh", ujar prajurit itu yang di balas anggukan kepala dari ketiga rekan nya.
Setelah beberapa lama kemudian, prajurit itu kembali bersama Bekel Setyaka.
"Mana kedua orang itu?", tanya Bekel Setyaka yang segera bergegas menuju ke arah 2 orang itu. Salah seorang yang terkena panah sudah tewas.
"Wanua kami di tepi Sungai Brantas di barat Pakuwon Watugaluh telah di kuasai oleh puluhan orang berbaju merah. Mereka membunuh semua warga desa, kecuali para wanita"
Usai berkata demikian, pria muda itu langsung pingsan.
"Kurang ajar!
Kalian rawat orang ini, aku akan ke istana Pakuwon Watugaluh", ujar Bekel Setyaka.
"Baik Ndoro Bekel", ujar keempat prajurit penjaga gapura kompak.
Bekel Setyaka segera melompat ke atas kuda nya dan memacu nya ke arah gerbang istana pakuwon Watugaluh. Penjaga segera membuka pintu gerbang.
Sampai di alun alun Pakuwon Watugaluh, Bekel Setyaka segera melompat turun dari kudanya dan berlari menuju paseban Pakuwon Watugaluh. Semua orang mulai Panji Watugunung, Ayu Galuh, Dewi Anggarawati, Sekar Mayang, Ratna Pitaloka, Dewi Srimpi, Ki Saketi, Dewi Tunjung Biru dan Akuwu Hangga Amarta ada di tempat itu. Warigalit dan Ratri juga hadir di sana.
"Ampuni saya Ki Kuwu, mengganggu acara pertemuan ini", Bekel Setyaka memberikan hormat.
__ADS_1
"Ada apa Setyaka? Kenapa wajahmu tegang sekali?", tanya Akuwu Watugaluh.
"Ada berita penting. Wanua Klakah di serang. Seluruh penduduk nya tewas", jawab bekel prajurit pakuwon Watugaluh itu.
"Apa?!! " , Hangga Amarta berdiri. Dia marah besar. Wanua Klakah adalah tempat asal ibunya, dan dia menghabiskan masa kecilnya di sana. Kakeknya adalah Resi di Pesanggrahan Siwa. Dengan demikian, hampir dipastikan bahwa semua orang di wanua itu adalah kerabat nya.
"Kurang ajar!
Siapa pelakunya Setyaka?".
"Orang orang berbaju merah Ki Kuwu", jawab Setyaka.
Hemmmm
"Maaf memotong pembicaraan Ki Kuwu. Sebaiknya masalah ini kita selidiki baik baik sebelum mengambil tindakan", sahut Panji Watugunung.
"Apa saran Gusti Pangeran?", tanya Akuwu Watugaluh kemudian.
"Biarkan saya dan Kakang Warigalit yang menyelidiki masalah ini. Untuk penunjuk jalan, mohon Ki Bekel Setyaka membantu. Sementara itu, paman Saketi akan memerintahkan kepada pengintai dari pasukan Garuda Panjalu untuk menyebar dan berkumpul setelah dua hari.
Bagaimana menurut Ki Kuwu?", Panji Watugunung memandang wajah Akuwu Watugaluh.
"Terimakasih atas bantuannya Gusti Pangeran. Maaf merepotkan", Akuwu Watugaluh tersenyum tipis.
"Paman Saketi, laksanakan perintah ku segera", ujar Panji Watugunung segera.
Ki Saketi segera mundur dari paseban Pakuwon Watugaluh usai menghormat pada Panji Watugunung.
Sementara itu, Panji Watugunung dan Warigalit segera melompat ke atas kuda mereka dan memacu kudanya melesat menuju Wanua Klakah di pandu Bekel Setyaka.
Dewi Anggarawati menatap kearah perginya suami nya dengan sendu.
"Ada apa Putri Manja? Wajah mu kusut begitu", Sekar Mayang menyelidik.
Wajah Dewi Anggarawati hanya tersenyum tipis, berbalik menuju kamar peristirahatan nya sambil berkata,
"Aku tidak enak badan Kangmbok"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
*Hayo ada apa ini?
Yang semangat ya sebentar lagi magrib nih 😁😁😁
Jangan lupa untuk dukung author menulis dengan like vote dan komentar nya.
Yang sudah tinggalkan jejak, author mengucapkan terima kasih.
Dan yang belum, segera deh tinggalkan jejak.
Itung2 amal di bulan puasa 😁😁😁
__ADS_1
Selamat membaca guys 🙏🙏*